Fifi Firman Muntaco

Bila mendengar nama Firman Muntaco yang ada di belakang nama Fifi, maka terbayang di benak sebagian kita seorang sastrawan handal yang telah menelurkan ribuan karya sastra. Sebagai seorang sastrawan asli Betawi, hampir seluruh hidup Firman Muntaco didedikasikan untuk memajukan etnisnya dengan cara membuat cerpen berdialek Betawi. Menurut majalahbetawi.com, karya sastra Firman mencapai sekitar 5.000 buah. Namun yang sempat tercatat di pusat dokumentasi HB Jassin hanya sekitar 499 buah.

Fifi adalah salah seorang anak Firman Muntaco yang secara permanen menggunakan nama sang Ayah dibelakang namanya sendiri. Namun Fifi tidak hanya sekadar menyandang nama besar tersebut. Perempuan yang lahir di Jakarta pada tanggal 19 Agustus tahun 1966 ini ternyata juga mewarisi bakat seni sang Ayah. Dia sekarang menjadi pegiat budaya Betawi sekaligus sebagai pimpinan Sanggar Firman Muntaco.

Masa kecil perempuan yang kini tinggal di Gang Kayu Manis, Bale Kambang, Kramat Jati, dihabiskan di wilayah Jakarta Barat. Fifi mengawali pendidikan formalnya di Sekolah Dasar Pembangunan, Slipi. Lulus dari SD Pembangunan dia melanjutkan ke SMPN 61 Jakarta Barat dan SMA 65. Setelah menamatkan SMA dia melanjutkan pendidikan ke Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia (jakarta.go.id).

Bakat seni Fifi mulai muncul ketika sering diajak Firman Muntaco mengikuti gelaran seni Betawi di seantero Jakarta. Selain itu, semasa masih remaja (sekitar tahun 1960-an) di rumahnya sendiri juga membuka Sanggar yang melatih bermacam kesenian khas Betawi, seperti lenong, tanjidor, ondel-ondel, dan lain sebagainya. Kebersinggungan dengan dunia seni khususnya seni budaya Betawi inilah yang membuatnya memilih jalur seni sebagai jalan hidup sekaligus untuk memajukan etnisnya.

Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila setelah menikah (dengan Ruseno) dan dikaruniai dua orang anak Fifi tetap aktif di berbagai organisasi kebetawian, seperti: pengurus DPP Forkabi tahun 2006-2011; aktif dalam Persatuan Wanita Betawi pimpinan Hj. Ema Agus Bisrie; pengurus budang kebudayaan di Badan Musyawarah Masyarakat Betawi (Bamus Betawi) tahun 2008-2013; penasihat Rumpun Masyarakat Betawi tahun 2008-2013; dan mesuk dalam kepengurusan Laskar Merah Putih bidang peranan wanita tahun 2009 (jakarta.go.id).

Sementara di rumah pun dia tetap meneruskan sanggar yang didirikan oleh ayahnya yang diberi nama Sanggar Betawi Firman Muntaco. Menurut kicaunews.com, kesanggupan Fifi mempertahankan keberadaan sanggar hingga sekarang tidak lepas dari dukungan keluarga serta ingin mewujudkan impian Sang Ayah melestarian kesenian betawi. Selepas wafatnya Firman Muntaco Januari 1993, melalui bantuan sang adik (Ahmad Fanfani), Fifi berusaha mengembangkan sanggar. Ahmad Fanfani mengajarkan kesenian Betawi, sementara Fifi sebagai manager yang bertugas dari mulai mencari order hingga mengatur keuangan dan kebutuhan sanggar.

Berkat kerja sama dua bersaudara tersebut Sanggar Betawi Firman Muntaco berkembang pesat. Sejumlah kegiatan dan penghargaan berhasil mereka raih, diantaranya: (1) Penghargaan Hut Orari DKI (2006); (2) pengiring acara Gubernur Kita Jak TV Live setiap minggu selama 6 bulan (2007); (3) narasumber pada acara OASIS (2011); (4) juara harapan I Lomba Perkusi Tingkat DKI Jakarta (2011); (5) pimpinan sanggar meraih juara pertama pada Lomba Penulis Cerpen Betawi Tingkat DKI Jakarta dengan judul "Penyanyi Samrah" (2011); (6) pengisi panggung rutin di Pekan Raya Jakarta; dan (7) partner dalam acara "Sehari Bersama Band Cokelat" (2012) (sanggarbetawifm.blogspot.co.id).

Dalam aktivitasnya sanggar ini juga melatih orang-orang yang berminat mendalami kesenian betawi, seperti: (1) musik samrah. Samrah adalah kelompok pemusik yang memainkan musik Melayu Betawi menggunakan alat musik berupa harmonium, biola, gitar, tamborin, rebana, dan gendang untuk mengiringi nyanyian dan tarian. Para pemainnya mengenakan dua macam kostum. Kostum pertama terdiri atas peci, jas, dan kain pelekat, sedangkan kostum kedua terdiri atas peci, baju sadariah, dan celana batik (jakarta.go.id). Adapun lagu-lagu yang dimainkan diantaranya adalah Burung Putih, Pulau Angsa Dua, Cik Minah Sayang, Sirih Kuning, Masmura, Kicir-kicir, Jali-jali, Lenggang-lenggang Kangkung, dan sebagainya (id.wikipedia.org); (2) lenong (dewasa dan bocah). Lenong adalah teater tradisional berdialek Melayu Betawi yang pementasannya diiringi musik gambang kromong. Konon lenong mulai berkembang sejak akhir abad ke-19, hasil adaptasi dari komedi bangsawan dan teater stambul (id.wikipedia.org). Berdasarkan tema cerita yang dipentaskan, lenong dibagi menjadi dua jenis yaitu lenong preman dan denes. Lenong preman umumnya mengangkat tema keseharian masyarakat dengan pemain mengenakan busana sehari-hari. Sedangkan lenong denes (berasal dari kata dinas atau formal) mengangkat tema kerajaan atau bangsawan sehingga para pemainnya menggunakan busana resmi sesuai tema (negerikuindonesia.com); (3) tari betawi; (4) palang pintu. Palang pintu merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat Betawi, seperti pernikahan, khitanan, atau penyambutan tamu kehormatan. Sesuai dengan namanya, prosesi ini berbentuk penghadangan seseorang atau rombongan yang ingin masuk sebelum memenuhi persyaratan yang diminta tuan rumah (bermain silat, mengaji, dan berpantun); dan (5) Marawis. Marawis adalah kelompok pemusik yang memainkan musik Melayu Betawi menggunakan alat musik tabuh berupa marawis, hajir (gendang besar), dumbuk (jimbe) pinggang, dumbuk batu, darbuka (cantiq), tamborin, dan kecrek. Marawis merupakan jenis kolaborasi antara kesenian Timur Tengah dan Betawi yang kental unsur keagamaan. Ia dimainkan oleh minimal sembilan atau sepuluh orang yang masing-masing memegang sebuah alat musik sambil bernyanyi.

Keseriusan perempuan yang juga aktif menulis cerpen ini menjadi pegiat dalam melestarikan budaya Betawi menurut jakarta.go.id adalah karena kekhawatiran akan kondisi kesenian Betawi yang kian terpuruk di daerahnya sendiri. Banyak di antara kesenian tersebut mulai ditinggalkan orang karena dianggap tidak sesuai lagi dengan zamannya. Baginya hal ini tak ubahnya buah simalakama. Jika dirombak akan kehilangan unsur keasliannya, tetapi bila tetap mempertahankan pakem yang telah ada akan kurang menarik bagi penonton masa kini. Oleh karena itu, perlu adanya perhatian khusus agar generasi muda mau mengenalnya. (ali gufron)

Foto: http://www.majalahbetawi.com/2015/03/gelar-tiker-ala-betawi-episode-1.html
Sumber:
"Gelar Tiker Ala Betawi Episode 1: Firman Muntaco Pejuang Budaya Betawi", diakses dari http://www.majalahbetawi.com/2015/03/gelar-tiker-ala-betawi-episode-1.html, tanggal 10 Agustus 2017.

"Fifi Firman Muntaco", diakses dari http://www.jakarta.go.id/v2/dbbetawi/detail/148/Fifi-Firman-Muntaco, tanggal 20 Agustus 2017.

"Pertahankan Sejarah, Fifi Firman Muntaco Menjaga Asa Sanggar Betawi", diakses dari https://kicaunews.com/2017/07/28/pertahankan-sejarah-fifi-firman-muntaco-menjaga-asa-sanggar-betawi/, tanggal 20 Agustus 2017.

"Our Port Folio" diakses dari http://sanggarbetawifm.blogspot.co.id/2013/06/our-port-folio.html, tanggal 20 Agustus 2017.

"Samarah, Musik", diakses dari http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/2656/ Samrah-Musik, tanggal 2 September 2017.

"Samrah", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Samrah, tanggal 2 September 2017.

"Lenong", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Lenong, tanggal 2 September 2017.

"Kesenian Nusantara - Lenong", diakses dari http://www.negerikuindonesia.com/2015/03/ kesenian-nusantara-lenong.html, tanggal 4 September 2017.
hal
Dilihat: