Becky Mardani

Becky Mardani adalah intelektual muda Betawi yang menjadi praktisi pertelevisian (produser eksekutif SCTV). Anak ketiga dari tujuh bersaudara ini lahir di Jakarta pada tanggal 3 Juli 1965. Ayahnya bernama H. Nasir Nissin dan ibu Hj. Samaah bintin Asim (jakarta.go.id). Masa kecil Becky dihabiskan di wilayah Jakarta Barat dengan bersekolah di SDN Meruya Ilir 05 Pagi, lalu ke SMPN 105 Jakarta Barat, dan SMA Palmerah. Lulus SMA Becky meneruskan pendidikan formalnya di Universitas Indonesia.

Setelah memperoleh gelar sarjana Becky mulai meniti karier di dunia kewartawanan dengan menjadi karyawan PT. Surya Citra Televisi (SCTV). Awalnya dia bekerja meliput berita di lapangan. Sebagai peliput tentu Becky harus pergi ke berbagai tempat untuk mencari berita, seperti Arab Saudi, China, Malaysia, Thailand, Hongkong, hingga Belanda. Berkat keuletannya dalam bekerja tersebut Becky kemudian "naik pangkat" menjadi pembaca naskah berita, dan akhirnya sebagai produser eksekutif sejak tahun 1996 hingga sekarang.

Salah satu kiprahnya dalam bidang penyiaran adalah sebagai bagian dari tim seleksi calon komisioner Komisi Penyiaran Indonedia Daerah (KIPD) DKI Jakarta. KPID merupakan lembaga independen pengawas penyiaran stasiun televisi dan radio lokal. Lembaga ini didirikan karena sejak berlakunya UU Penyiaran konsep Sistem Stasiun Jaringan (SSJ) belum berjalan maksimal. Publik masih bisa menonton stasiun televisi swasta Jakarta bersiaran secara nasional sehingga TV lokal menjadi kehilangan potensi ekonomi yang berdampak pada penurunan mutu siaran dan produksi informasinya (Thaniago, 2014).

Agar terjadi keseimbangan dalam pelaksanaan penyiaran berjaringan, KPID selaku otoritas pemberi izin harus memiliki orang-orang yang tangguh untuk mengawalnya. Oleh karena itu, pemilihan komisioner diharapkan dapat mengakomodir kepentingan banyak pihak, termasuk pelaku industri TV. Adapun tim penyeleksinya sendiri berdasarkan Pedoman Rekrutmen Komisi Penyiaran Indonesia Pasa4 Ayat 4 berasal dari unsur tokoh masyarakat, akademisi, dan pemerintahan provinsi. Unsur akademisi ditempati oleh Yasmine Zaki Shahab yang berlatar belakang belakang Guru Besar Antropologi UI dan Sunu Budiharjo (pengajar di Universitas Bina Nusantara), unsur pemerintahan oleh Made Suarjaya (Kominfo), dan unsur tokoh oleh Yoyo Muchtar (tokoh Betawi) dan Becky Mardani, yang walau berasal dari industri (SCTV) tetapi diposisikan sebagai tokoh masyarakat Betawi.

Menurut Thaniago (2014), tim yang diketuai oleh Yasmine Zaki Shahab menyeleksi 26 calon komisioner KPID DKI Jakarta melalui proses administratif, wawancara, ujian tertulis, dan ujian psikotes. Dari ke-26 calon tadi nantinya akan disaring minimal menjadi 14 nama calon untuk selanjutnya diserahkan kepada DPRD DKI Jakarta agar menjalani uji kepatutan dan kelayakan.

Berkaitan dengan posisi Becky sebagai tokoh masyarakat Betawi di tim seleksi komisioner KPID DKI Jakarta, sebenarnya bukanlah "barang baru". Semasa kuliah suami Hj. Inna dan ayah dari Muhammad Hafidz Maulana serta Aledyl D Akbari ini telah aktif di organisasi Betawi dalam wadah KMB (Keluarga Mahasiswa Betawi) UI bersama Prof. Hasbullah Thabrani (mantan dekan FKM UI), Prof. Dr. Hj. Sylviana Muni (Kasatpol PP DKI), dan Dr. Firdaus Djaelani (komisioner OJK) (wartakota.tribunnews.com). Bersama KMB Becky pernah sukses melakukan tur lenong mahasiswa ke beberapa daerah di Indonesia (jakarta.go.id).

Selepas dari KMB, dia aktif di beberapa organisasi lain, seperti: KNPI, PMI, AMPI, MABIN, LKB, dan Bamus Betawi. Selama aktif di Bamus Betawi Becky pernah menjadi salah seorang ketua yang membidangi masalah dan kemahasiswaan (jakarta.go.id). Selain itu, dia juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Bamus periode 2008-2013 (gemaindonesia.wordpress.com). Menurut Becky yang dikutip oleh wartakota.tribunnews.com, Bamus Betawi harus menjadi organisasi yang dapat menampung semua potensi dan mengangkat budaya Betawi (terbuka, egaliter, demokratis, dan agamis) sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

Belakangan, karena kegelisahan terhadap citra Betawi yang kadang mendapat stigma negatif, bersama sejarawan JJ. Rizal dan kawan-kawan Becky mendirikan sebuah yayasan yang diberi nama Betawi Foundation. Betawi Foundation berfokus pada wilayah intelektual yang memotret Betawi secara lebih akademis. Dan, bekerja sama dengan Masup Jakarta, Betawi Foundation telah menerbitkan ulang buku-buku Betawi yang berkualitas dan banyak dicari orang, seperti Kamus Dialek Jakarta, Terang Bulan Terang di Kali, dan Gambang Jakarte (karya Firman Muntaco) (jakarta.go.id). (ali gufron)

Foto: https://www.facebook.com/beky.mardani.12
Sumber:
"Becky Mardani, Drs. H", diakses dari http://www.jakarta.go.id/v2/dbbetawi/detail/97/ Becky-Mardani-Drs.-H, tanggal 1 September 2017.

Thaniago, Roy. 2014. "Mencari Punggawa Penyiar Lokal", diakses dari http://www.remotivi. or.id/kabar/93/Mencari-Punggawa-Penyiaran-Lokal, tanggal 1 September 2017.

"Mubes 6 Bamus Betawi Songsong Kehidupan yang Lebih Sejahtera", diakses dari https://gemaindonesia.wordpress.com/2013/03/05/mubes-6-bamus-betawi-songsong-kehidupan-yang-lebih-sejahtera/, tanggal 1 September 2017.

"Unsur Betawi Harus Tata Kembali Budaya", diakses dari http://wartakota.tribunnews.com/ 2013/02/26/unsur-betawi-harus-tata-kembali-budaya, tanggal 2 September 2017.
Dilihat: