Disutradarai oleh Guy Hamilton, film ini mencoba mengawinkan elemen spionase klasik dengan tren budaya pop Asia Tenggara kala itu. Salah satu tren yang sangat menonjol dan coba dimasukkan ke dalam alur cerita adalah demam film bela diri.
Cerita bermula ketika markas besar MI6 menerima kiriman sebuah peluru emas misterius. Pada permukaan peluru tersebut, grafir angka "007" terpahat dengan sangat rapi dan jelas.
Peluru mewah itu diduga kuat berasal dari Francisco Scaramanga. Ia adalah seorang pembunuh bayaran termahal di dunia yang memiliki tarif fantastis, yaitu satu juta dolar untuk setiap peluru yang ia tembakkan.
Demi keselamatan agen terbaiknya, M selaku kepala MI6 memutuskan untuk membebastugaskan Bond. Padahal saat itu Bond sedang mengemban misi penting untuk mencari Solex Agitator, sebuah alat canggih pengubah energi surya yang sangat krusial di tengah krisis energi global.
Alih-alih bersembunyi dan menuruti perintah atasannya, Bond memilih untuk mengambil langkah berani. Ia memutuskan untuk melacak keberadaan sang pembunuh bayaran secara mandiri demi membersihkan namanya dari target.
Penyelidikan mandiri ini membawa petualangan Agen 007 melintasi berbagai wilayah eksotis di Asia. Bond harus bergerak cepat menyusuri gemerlap kasino di Macau, jalanan sibuk Hong Kong, hingga keindahan alam tersembunyi di Thailand.
Kekuatan utama dari film ini terletak pada performa luar biasa dari aktor gaek Christopher Lee. Penampilannya yang memerankan karakter Francisco Scaramanga dinilai sangat elegan, karismatik, sekaligus dingin.
Scaramanga digambarkan bukan sekadar penjahat biasa yang haus kekuasaan. Ia dihadirkan sebagai cerminan distorsi dari diri James Bond sendiri, di mana keduanya merupakan pembunuh profesional yang sama-sama memiliki keahlian menembak di atas rata-rata.
Dinamika persaingan ini menjadi semakin kaya berkat kehadiran tokoh Nick Nack yang diperankan Hervé Villechaize. Pelayan setianya yang bertubuh kecil namun cerdik ini berhasil menjadi salah satu asisten musuh paling ikonik dalam sejarah sinema.
Dari segi visual dan aksi, film ini berhasil mengukir sejarah lewat adegan laga praktis yang sangat berbahaya. Penonton disuguhi aksi lompatan mobil AMC Hornet yang berputar 360 derajat di udara secara real-time tanpa bantuan efek komputer.
Selain aksi mobilnya, pemilihan lokasi syuting di Teluk Phang Nga, Thailand, juga sangat memukau mata dunia. Begitu membekasnya lanskap tebing batu kapur tersebut, hingga pulau itu kini abadi dan dikenal secara internasional dengan nama "Pulau James Bond".
Kendati memiliki premis duel psikologis yang menjanjikan, film ini kerap dikritik karena ketidakjelasan arah tonalnya. Paruh akhir cerita dinilai terlalu condong ke arah komedi konyol (campy) yang merusak tensi ketegangan.
Salah satu contoh kegagalan tonal yang paling sering disorot adalah penyisipan efek suara peluit komikal. Suara tersebut mendadak muncul saat adegan lompatan mobil legendaris, yang seharusnya menjadi momen paling menegangkan bagi penonton.
Kelemahan lain juga terlihat pada penggambaran karakter Bond Girl bernama Mary Goodnight yang dimainkan Britt Ekland. Karakter agen lapangan MI6 ini ditulis dengan sangat lemah, ceroboh, dan kurang kompeten di medan laga.
Karakter Roger Moore sendiri terasa belum menemukan jati diri yang pas di film kedua ini. Naskah film masih memaksanya melakukan adegan interogasi fisik yang kasar ala Sean Connery, yang sebenarnya kontras dengan pesona flamboyan alami Moore.
Secara keseluruhan, The Man with the Golden Gun tetap menjadi sebuah tontonan klasik yang sangat menghibur. Film ini sukses menawarkan salah satu rivalitas musuh terbaik, meskipun eksekusi plotnya secara keseluruhan terasa kurang konsisten.
