Kampung Wisata Budaya Terbanggi Besar

Terbanggi Besar merupakan salah satu kampung/desa yang berada dalam Kecamatan Terbanggi Besar. Nama yang serupa dengan kecamatannya ini termasuk salah satu kampung tua di Kabupaten Lampung Tengah. Terbanggi Besar dahulu merupakan bagian dari Terbanggi Ilir atau Terbanggi Libo. Mengenai nama Terbanggi Besar sendiri konon berasal dari para tetua adat yang dapat terbang karena sakti mandraguna. Sementara kata besar (balak) berasal dari luas wilayahnya yang setelah pisah dengan Terbangi Ilir mendapat porsi paling luas atau besar.

Wilayah Terbanggi Besar dihuni oleh penduduk asli Lampung. Mereka terbagi ke dalam beberapa marga yang berasal sari Kebuwayan Subing. Marga-marga tersebut adalah Terbanggi Ilir (Terbanggi Libo), Terbanggi Besar (Terbanggi Balak), Terbanggi Subing, Terbanggi Agung, Terbanggi Marga, Indra Putra Subing, dan Terbanggi Labuhan (opantb.blogspot.com). Tiap marga cenderung tinggal berkelompok membentuk satuan adat tersendiri namun secara garis besar tetap mempertahankan adat pepadun dengan bentuk bangunan rumah adat yang disebut sebagai ‘Nuwo Sesat.’ Nuwo sendiri memiliki arti Lamban atau tempat tinggal, dan ada pula versi yang menyebutkan Nuwo memiliki arti tempat ibadah. Dan ‘sesat’ memiliki arti bangunan tempat berkumpul atau bermusyawarah dna menyimpan makanan.

Selain itu, dalam percakapan sehari-hari kebanyakan dari mereka menggunakan bahasa Lampung (Dialek O). Sebagai catatan, masyarakat Lampung memiliki dua rumpun dalam penggunaan dialek yaitu A dan O. Dialek A untuk masyarakat di daerah pesisir atau peminggi atauai saibatin dan dialek O biasa digunakan oleh masyarakat pepadun di bagian tengah dan utara lampung. Perbedaan dari dua dialek ini yang cukup terlihat adalah di penggunaan huruf ‘a’ dan ‘o’ di tiap katanya. Misal, dalam dialek ‘a’ kata apa menjadi ‘Api’dan dalam dialek ‘o’, kata apa menjadi ‘Nyo.’

Menurut Pytaloka (2016), penduduk Terbanggi Besar umumnya bermata pencaharian sebagai petani, baik lahan basah maupun kering. Kemudian ada pula yang bergerak dalam sektor perikanan sebagai nelayan di sepanjang sungai-sungai besar di sekitar daerahnya. Sementara bagi yang tinggal di sekitar oleh jalan lintas utama sumatera, banyak yang berwirausaha di pinggir jalan tersebut. Desa Terbanggi Besar sendiri cenderung menjorok ke dalam atau berada lebih rendah daripada jalan lintas Sumatera. Desa tersebut seolah-olah di lindungi oleh letaknya yang menjorok kebawah. Jadi jika dilihat dari jalan raya lintas sumatera, hanya bisa melihat atap dari rumah-rumah penduduk saja. Untuk masuk ke desa terdapat tiga akses yaitu melewati jembatan buatan Belanda, turunan di persimpangan jalan lintas Sumatera, dan melewati daerah perkebunan sawit. Desa ini juga di kelilingi oleh sungai, jadi saat musim hujan tiba kebanyakan daerah pinggir sungai akan ikut terendam air. Satu hal yang menarik dari desa ini adalah tiap jalan di desa tersebut memiliki pemakaman sendiri, seperti tiap gang atau jalan masih satu keluarga, jadi di tiap ujung jalan ada pemakaman keluarga sendiri.

Pada tahun 2016 Terbanggibesar ditetapkan sebagai kampung wisata oleh Bupati Lampung Tengah Mustafa. Adapun alasan penetapannya karena dianggap memiliki banyak nilai sejarah, adat istiadat, budaya, dan kesenian orang Lampung. Hal ini disebabkan Terbanggibesar merupakan pusat pemerintahan pertama di Lampung. Jejak peninggalan yang masih ada hingga sekarang adalah rumah adat nuwo balak yang dibangun sekitar tahun 1696 dan Nuwo Kattur (rumah Kantor) dibangun sekitar tahun 1832 (Pamungkas, 2016).

Penetapan Terbanggibesar sebagai kampung budaya merupakan salah satu implementasi program canangan Bupati Lampung Tengah yakni Terbagus (Terbanggibesar, Bandarjaya, dan Gunungsugih). Terbangi besar sebagai pusat budaya, Bandarjaya sebagai pusat ekonomi, dan Gunungsugih sebagai pusat pemerintahan. Dan, untuk mencitrakannya sebagai kampung wisata budaya, Terbanggibesar juga dilengkapi rumah tapis, rumah batik, rumah pemerintahan, rumah informasi, dan kantor pemerintahan kampung wisata.

Foto: https://www.kupastuntas.co/2016/11/02/kampung-wisata-adat-budaya-terbanggibe sar-menjadi-destinasi-wisata-baru-lampung-tengah/
Sumber:
Pytaloka, Marsha Dhita. 2016. "Sejarah Desa Terbanggi Besar Lampung Tengah", diakses dari http://marshadhita.blogspot.com/2016/10/sejarah-desa-terbanggi-besar-lampung.html, tanggal 7 Juni 2018.

Pamungkas, Wahyu. 2016. "Ada Rumah Adat Tahun 1696, Terbanggibesar Dijadikan Kampung Wisata". Diakses dari http://www.lampost.co/berita-ada-rumah-adat-tahun-1696-terbanggibesar-dijadikan-kampung-wisata-, tanggal 7 Juni 2018.

"Marga Terbanggi Besar", diakses dari http://opantb.blogspot.com/2009/04/marga-terbanggi-besar.html, tanggal 8 Juni 2018.
Dilihat: