Si Panjang

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Pada sekitar abad ke-18 VOC Belanda yang waktu itu telah menguasai Batavia mulai menghadapi masalah dalam perdagangan karena kalah bersaing dengan para pedagang keturunan Tionghoa. Para tauke berhasil mengatasi monopoli Belanda karena organisasi mereka sangat rapih dan solid sehingga dapat menyusup ke daerah-daerah yang sebelumnya telah dikuasai oleh Belanda.

Mengantisipasi agar tidak diganggu oleh Belanda yang bila tersaingi biasanya akan menurunkan antek-anteknya, para tauke sepakat mendatangkan seorang guru silat dari seberang lautan. Setelah sang guru silat datang, mereka memintanya mengajari ilmu silat dengan alasan kebugaran jasmani. Mereka berlatih secara sembunyi-sembunyi di Gading Melati pada malam hari agar tidak dicurigai. Apabila ada prajurit kompeni berpatroli, mereka langsung berpura-pura berlatih barongsai sebagai kamuflase.

Kegiatan ini tentu saja tidak disukai oleh para pejabat Kumpeni. Mereka curiga kalau latihan barongsai hanyalah akal-akalan para tauke agar lebih memperkuat barisan. Oleh karena itu, mereka pun mengadakan rapat agar dapat menghadapi para "pemain" barongsai bila sewaktu-waktu beralih ujud menjadi "pasukan" para tauke. Hasil rapat memutuskan bahwa selain para antek, mereka juga akan mengerahkan ribuan budak belian yang akan dilatih menjadi pengawal handal dan siap mati.

Namun, dalam kenyataannya bukan para tauke yang memicu keributan melainkan para budak belian. Mereka yang mayoritas didatangkan dari tempat jauh tidak berlaku sebagaimana mestinya. Di hadapan para tauke, mereka menyombongkan diri dan bahkan lebih semena-mena ketimbang tuannya. Hal ini menimbulkan ketegangan hingga sempat terjadi keributan antara para budak belian dengan pedagang kelontong di beberapa tempat. Anehnya, ketika dibawa ke pengadilan mereka dibela dan akhirnya dibebaskan begitu saja.

Melihat para budak dibebaskan, ada salah seorang tauke yang merasa tidak puas. Dia bernama Si Panjang. Si Panjang adalah tauke muda berusia sekitar 30 tahun yang sangat rajin berlatih silat di Gading Melati, dekat Gandaria. Oleh karena itu, dia cepat sekali mengusai jurus-jurus yang diberikan oleh guru silat dari seberang lautan. Dan, ketika sang guru kembali lagi ke seberang lautan, secara aklamasi Si Panjang kemudian diangkat untuk menggantikannya.

Ketika sedang berkumpul bersama teman-temannya Si Panjang menyatakan bahwa perlakuan orang-orang Belanda yang membela para budaknya itu sangat tidak adil. Si Panjang berpendapat apabila lebih giat berlatih dengan memperdalam penyerangan menggunakan tangan kosong, niscaya mereka dapat melumpuhkan lawan hanya dengan sedikit tenaga. Dengan demikian, orang lain akan menjadi segan dan tidak berani berbuat semena-mena.

Di lain pihak, Penguasa Batavia waktu itu Gubernur Jenderal Baron van Imhoff yang sangat ahli dalam membaca gerak-gerik lawan, segera memerintahkan ageng-agennya berbaur dengan masyarakat sekitar untuk mencari informasi tentang kegiatan para tauke selain berdagang. Dia sadar benar bahwa dengan dimenangkannya para budak pasti akan menimbulkan rasa ketidakpuasan pada pihak tauke. Dua diantara para agen van Imhoff yang paling diandalkan adalah Jacob dan orang Tionghoa sendiri bernama Liu Chu. Bersama dengan Jacob, Liu Chu dapat masuk dan berkumpul dengan orang-orang Tionghoa di Gading Melati.

Dari laporan mereka diketahui bahwa Gading Melati dijadikan sebagai tempat menimbun candu yang ditutupi rempah-rempah agar tidak terlihat. Selain itu, juga digunakan sebagai tempat menimbun senjata dan berlatih barongsai. Tetapi suasana latihannya tidak banyak menunjukkan gerakan-gerakan guna mengangkat barongsai, melainkan seperti gerakan-gerakan yang sering diperagakan oleh para pesilat ketika mereka sedang berlaga.

Setelah Liu Chu memberikan laporan, Gubernur Jenderal Baron van Imhoff langsung mengadakan rapat yang mmbicarakan peningkatan keamanan. Salah satu hasil rapat menyatakan bahwa apabila para tauke tetap berlatih di Gading Melati dan tidak dapat lagi dikendalikan, maka mereka akan dibuang ke Ceylon (sekarang Sri Lanka). Van Imhoff lalu memerintahkan anteknya bernama Kapten Swa Beng Kong menyampaikan hasil keputusan VOC pada para tauke.

Keputusan yang dikeluarkan VOC itu tentu saja membuat Si Panjang dan kawan-kawannya gerah. Lebih-lebih ketika Kapten Cina Swa Beng Kong terus-menerus meminta Si Panjang dan kawan-kawannya membubarkan diri dan tidak lagi berlatih silat, barongsai atau kegiatan lain yang dapat menyulut keributan. Si Panjang menjadi sangat marah dan dengan terang-terangan menentang Swa Beng Kong di depan umum.

Agar "masalah" cepat teratasi, atas usul Jacob orang-orang yang berpakaian pangsi hitam atau biru sebaiknya ditangkap. Selanjutnya, mereka digiring ke balai kota lalu diangkut menuju muara Sungai Ciliwung. Sesampai di muara mereka digiring lagi masuk ke dalam kapal perang untuk dibawa ke Ceylon. Dari ratusan orang yang diangkut ke kapal, beberapa diantaranya ada yang berhasil lolos dengan cara menceburkan diri ke laut.

Sesampai di pantai, mereka langsung berlari ke arah Gading Melati menemui Si Panjang. Singkat cerita, Si Panjang pun marah lalu mengumpulkan teman-teman sesama pesilat Gading Melati. Berbekal senjata selundupan yang telah lama disimpan mereka menuju balai kota. Tetapi karena pasukan Baron van Imhoff lebih terlatih dalam mempergunakan senjata api, kelompok Si Panjang terpaksa mundur sampai ke Peninggaran. Di daerah itu Si Panjang akhirnya tewas terkena peluru salah seorang serdadu Belanda.

Diceritakan kembali oleh gufron
hal
Dilihat: