Masjid Agung Demak


Masjid Agung Demak yang lebih terkenal dengan sebutan Masjid Agung, terletak di Kota Demak, Provinsi Jawa Tengah. Dari kota Semarang jaraknya kurang lebih sejauh 30 kilometer ke arah timurlaut. Masjid yang berukuran 31x31 meter dengan pintu utama di bagian timur ini sudah ada pada saat kerajaan Demak mulai dikenal pada abad ke-15 Masehi. Waktu itu Kota Demak telah menjadi pusat perdagangan yang besar yang memiliki banyak bangunan besar dan penting bagi kehidupan sehari-hari atau kepentingan pemerintahan kerajaan.

Menurut cerita dalam Babad Demak, Masjid Demak didirikan atas prakarsa Sultan Demak dan para Wali, yaitu: Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Geseng, Sunan Tembayat, Sunan Kudus, Sunan Giri, dan Sunan Ampel.

Data Bangunan
Bangunan Masjid Demak pada dasarnya berdiri pada empat tiang pokok atau disebut Soko Guru. Fungsi tiang-tiang ini adalah sebagai penyangga bangunan dari tanah sampai puncak masjid. Di antara empat tiang itu ada satu tiang yang sangat unik, dikenal sebagai “tiang tatal” yang letaknya di sebelah timur-laut. Tiang unik ini disebut tatal (serutan-serutan kayu), karena dibuat dari serpihan kayu yang ditata dan dipadatkan, kemudian diikat sehingga membentuk tiang yang rapi. Konon, keempat soko guru ini adalah buatan para Wali. Soko guru sebelah tenggara adalah buatan Sunan Ampel, sebelah baratdaya buatan Sunan Gunung Jati, sebelah baratlaut buatan Sunan Bonang, dan soko tatal adalah buatan Sunan Kalijaga.

Pada tiang-tiang penyangga masjid, termasuk soko guru, terdapat ukiran yang masih menampakkan corak ukiran gaya Hindu yang indah bentuknya. Selain ukiran pada tiang, terdapat pula ukiran-ukiran kayu yang ditempel pada dinding masjid yang berfungsi sebagai hiasan.

Di dalam bangunan utama terdapat ruang utama, mihrab dan serambi. Ruang utama yang berfungsi sebagai tempat sholat jamaah, letaknya di bagian tengah bangunan. Sedangkan, mihrab atau bangunan pengimaman berada di depan ruang utama, berbentuk sebuah ruang kecil dan mengarah ke arah kiblat (Mekkah). Di bagian belakang ruang utama terdapat serambi berukuran 31x15 meter yang tiang-tiang penyangganya disebut “tiang Majapahit”. Tiang Majapahit yang berjumlah delapan buah itu diperkirakan berasal dari kerajaan Majapahit yang ada di Jawa Timur. Bangunan serambi ini adalah merupakan bangunan tambahan yang dibangun pada masa Adipati Unus (Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor), menjadi Sultan demak II pada tahun 1520.

Atap Masjid Demak tertingkat tiga (atap tumpang tiga), menggunakan sirap (atap yang terbuat dari kayu) dan berpuncak mustaka. Dinding masjid terbuat dari batu dan kapur. Pintu masuk masjid diberi lukisan bercorak klasik. Dan, seperti masjid-masjid yang lain, Masjid Demak pun dilengkapi dengan sebuah bedug, gentong tempat berwudlu, kolam air, mimbar, dan keramik buatan cina. (gufron)

Foto: http://sulukku.files.wordpress.com
Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1992. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara III. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
http://id.wikipedia.org
http://www.hmetro.com.my
http://tembi.org
http://jibis.pnri.go.id
hal
Dilihat: