Mak Yong

Mak yong adalah salah satu jenis kesenian Melayu yang menggabungkan unsur-unsur ritual, tari, nyanyi, dan musik dalam pementasannya. Dalam pertunjukkannya, Mak Yong mempertemukan antara pemain dan penonton. Dengan perkataan lain, pementasannya mempertemukan pemain dengan penonton dalam ruang, waktu, dan tempat yang sama. Kesenian ini berasal dari daerah, yang dari segi budaya, termasuk rumpun Melayu, yaitu daerah Nara Yala, Patani pada sekitar abad ke-17. Pudentia (2000), mengutip pendapat Sheppard, mengatakan bahwa Mak Yong kemudian menyebar ke daerah Kelantan (sekitar 200 tahun yang lalu), tetapi tanpa memakai topeng seperti di tempat asalnya. Dari Kelantan ini Mak Yong kemudian menyebar ke Indonesia, yaitu ke daerah Bintan dan Batam melalui Tanjung Kurau (Singapura).

Mak Yong di Indonesia mengalami kejayaannya pada masa keemasan kesultanan Riau-Lingga dan pada masa sekitar tahun 1950-an. Pada masa kejayaannya ini Mak Yong pernah dianggap sebagai kesenian istana. Akan tetapi, dewasa ini kesenian tersebut tidak hanya menjadi konsumsi kelompok tertentu saja, melainkan sudah menjadi pertunjukkan yang dapat dinikmati oleh masyarakat umum.

Di Kepulaun Riau Mak Yong menyebar ke berbagai tempat seperti: Mantang Arang dan Kijang (Bintan Timur), Rempang/Sembulang, Dompak, Kasu, Pulau Buluh, dan Cate (daerah pinggiran Pulau Batam). Untuk yang terakhir ini, mungkin saja merupakan persebaran dari Mak Yong yang berada di Batam.

Nyanyian yang sering dikumandangkan dalam pementasan antara lain: Bertabuh, Bertabik, Memanggil Awang, Gedobak, Gaduh Tuan Susah Mana, Selendang Awang, Kelantan, Ikan Kekek, Alip Dunia, Anak Tudung, O Oi, Selendang Mayang, Senandung, Timang Burung, Timang Anak, Bong Oi, dan lagu-lagu joged seperti: Dondang Sayang, Bertari Rawai, Melemang, Serampang Pantai, dan Tanjung Keling Tepi Laut.

Tari-tariannya meliputi tari: Betabik (pembukaan), Timang Welo Berjalan Jauh, Gembira, Perang, Hiburan, dan Cik Milik (tarian penutup). Sedangkan, ceritera yang dimainkan adalah: Tuan Puteri Ratna Mas, Nenek Gajah dan Daru, Gondang, Wak Peran Hutan, Gunung Intan, Dewa Muda, Raja Dua Serupa, Raja Muda Lembek, Gading Bertimbang, Megat Sakti, Mugat Muda, Megat Kiwi, Raja Besar, Wak Perambun, Raja Lak Kenarung, Tumenggung Era Wangsa, Puteri Mayang Emas, Raja Bijaksana, Selindung Bulan, serta ceritera-ceritera dari Mahabarata dan Ramayana.

Yang menarik sehubungan dengan keberadaan Mak Yong adalah perjalanan sebuah pertunjukkan tradisi lisan di dalam masyarakatnya yang masih mengandalkan kelisanan dan perjalanannya di luar masyarakat yang sudah memasuki dunia keberaksaraan. Secara umum tradisi lisan sering diartikan sebagai sastra rakyat dan tradisi tulis sebagai sastra istana. Tidaklah relevan disini mengartikan kelompok istana dengan tradisi tulisan dan sebaliknya. Justeru yang menarik adalah bagaimana sebuah karya yang tadinya dikatakan sebagai berasal dari istana lama-kelamaan menjadi tradisi rakyat, yang tidak hanya berfungsi sebagai pengesah adat-istiadat, tetapi juga kritik atau perlawanan terhadap istana, walaupun tidak sekeras seperti yang terjadi di daerah lain. Sikap dan perilaku ini antara lain tercermin dari salah satu adegan Dewa Muda, sebagaimana yang dilukiskan oleh Pudentia (2000: 2--4). Dikatakan oleh Pudentia bahwa ketika dalam satu adegan Raja datang ketempat Awang, Awang tidak mau keluar dari pondoknya. Ia bahkan, diceritakan, tidak mengenali rajanya sampai kemudian ia dipaksa oleh raja untuk mengenalinya. Adegan ini menggambarkan betapa raja begitu jauh dari rakyatnya, sampai orang terdekatnya pun tidak dapat mengenalinya.

Dalam ceritera Wak Perambun misalnya, perlawanan terhadap raja juga tampak. Dalam hal ini, tercermin ketika Wak Perambun dan pemburu istana diperintah oleh rajanya untuk mencari kijang sulung, dari turunan yang sulung, dan berada di hutan yang sulung pula, untuk memenuhi keinginan permaisuri yang sedang hamil. Wak Perambun tidak berhasil melaksanakan tugas itu, tetapi ia menemukan seorang puteri dari kayangan. Puteri tersebut bersedia menjadi anak angkat Wak Perambun. Oleh karena tidak berhasil mendapatkan kijang, maka Wak Perambun tidak berani menghadap raja. Akan tetapi, raja yang mendengar bahwa Wak Perambun menemukan puteri cantik di hutan meminta agar Wak Perambun menyerahkannya untuk kemudian dijadikan sebagai istri. Wak Perambun tidak bersedia menyerahkannya. Justeru Wak Perambun menyerahkan baju pelayang agar puteri tersebut dapat kembali ke ke kayangan.

Perlawanan yang dilakukan oleh Wak Perambun adalah perlawan khas tokoh-tokoh Melayu yang tidak mau melakukan serangan atau perlawan secara terbuka. Mereka menghindari pertikaian langsung atau menghindari sumber pertikaian. Perlawanan di atas bukan perlawanan dalam arti penentangan pada raja, tetapi berani meminta sesuatu yang dipikirkannya menjadi haknya, yaitu bekal. Syarat berupa bekal (uang) ini ditujukan kepada isterinya yang harus ditinggalkan karena harus memenuhi perintah raja. Ketika mendapat perintah, Wak Perambun berkomentar bahwa raja sesungguhnya hanya mencari-cari alasan saja untuk membunuhnya, seperti yang tampak dalam dialog berikut yang ditujukan kepada diri sendiri:

"…Kalau begitu, memang raje ini hendak membunuh saye. Begitu saje tentu payah, jadi disuruh saye pergi berburu mencari rusa putih bunting sulung…."

Meskipun tahu bahwa tugasnya tidak mungkin dilaksanakan dan ia memberi komentar kritis kepada titah raja, ia tetap pergi ke hutan karena ia sadar bahwa statusnya tidak memungkinkannya untuk menolak perintah raja. Kemudian, karena mekanisme perlawanan terhadap perintah yang muskil dilaksanakan ini sudah terbentuk, maka ia pun tidak menyerahkan hasil "buruannya" yang lain, yang didapatnya secara kebetulan di hutan.

Adegan-adegan di atas adalah sekedar menggambarkan bahwa melalui kesenian yang disebut sebagai Mak Yong tidak hanya sekedar pengesahan nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat pendukungnya, tetapi juga sekaligus kritik terhadap "penguasa". Namun demikian, secara keseluruhan pesan yang ingin disampaikan melalui kesenian ini adalah bahwa kebaikan akan selalu menang melawan kebatilan.

Tokoh-tokoh dalam seni pertunjukkan ini, selain seperti yang telah disebutkan diatas, adalah: Pak Yong, Mak Yong, Puteri, Awang, Inang Pengasuh, Inang Tua, Hulubalang, dan Mamak-mamak. Sedangkan, bahasa yang digunakan adalah bahasa sehari-hari Melayu Riau-Kepulauan yang dibumbui dengan penampilan yang jenaka. Berikut ini adalah dialog antara anak, ayah, dan inang dalam salah satu adegan pementasan Mak Yong.

Anak: "Ayah, ayah, sebab anakna datang menghadap ayah, anakda hendak bermain ke taman bunge".
Ayah: "Tak boleh nak, taman bunge-bange banyak duri, banyak ualar…. Inang!"
Inang: " Ya diri buk".
Ayah: " Antar ia balik!"
Inang: "Balik, balik, balik, nik balik… Mari balik!"
Anak: "Inang, Inang…. Cobalah Inang ajarkan saye, Inang!. Bolehkah anak pergi
ayah, saye pegi bukan lame, pegi…petang baliklah!"

Jumlah pemain Mak Yong sekurang-kurangnya 15 orang. Setiap orang terkadang memerankan peran rangkap dengan menukar topeng. Para pemain terdiri atas tokoh utama, seperti Pak Yong, Mak Yong, pangeran yang sering dipanggil dengan istilah Cik Wang, Mak Yong yang sering memerankan sebagai permaisuri yang juga sering dipanggil dengn istilah Mak Senik, Awang pengasuh, dan beberapa orang yang berperan sebagai peran pembantu, seperti: Inang Perempuan Bertopeng, Mamak Bertopeng, Pembatak Bertopeng, dan dayang-dayang. Selebihnya, adalah pemain musik.

Jika pada Bangsawan tidak ada orang yang bertugas sebagai sutradara, maka pada kesenian Mak Yong ada sutradaranya yang disebut sebagai Ketua Panjak atau Bomo. Pertunjukkannya membutuhkan panggung terbuka dalam bentuk "tapal kuda", dengan ukuran 8x8 meter, beratap, dan bertiang 6 buah sebagai penopang atap tersebut.

Seperangkat peralatan musiknya terdiri atas: gendang pengibu, gendang penganak, gedombak (dua buah), geduk, gong atau ketawak (dua buah, satu betina dan satunya jantan), mong (dua buah, satu betina dan satunya jantan), breng-breng, cecrek, rebab, anak ayam, dan biola bambu. Peralatan tersebut sering disebut dengan "musik kelantan". Sementara itu, kostum yang digunakan meliputi: baju lengan pendek, celana, kain samping atau dagang, alas dada atau elau, tanjak, selampai, bengkung, pending, sabuk dua helai (untuk Pak Yong Tua dan Muda), kebaya panjang, kain sarung, pending tiga buah (untuk Mak Yong, Puteri, dan dayang-dayang), baju kurung pendek, dan selendang untuk Mak Inang Pengasuh. Adapun perlengkapan pendukungnya adalah rotan pemukul atau bilai yang terbuat dari bambu yang dibelah tujuh, parang, keris, kapak, panah, tongkat kayu, canggai, sembilan kuku palsu, dan beberapa topeng, yaitu topeng: Nenek Betara Guru, Nenek Betara Siwa, Awang Pengasuh, Inang Tua, Inang Muda, Wak Perambun, Mamak-mamak, Wak Pakih Jenang, Wak Dukun, Pembatak, Raja Jin, Peran Hutan, Peran Agung, Apek Kotak, dan beberapa topeng binatang. Sedangkan, urut-urutan pementasannya adalah sebagi berikut: (1) upacara tolak bala dengan cara mengasapi peralatan musik dan perangkat pementasan, (2) upacara semah (buka tanah) atau buang bahasa dengan menanam ramuan khusus ke tanah. Tujuannya untuk menghindari gangguan makluk halus, (3) pementasan dimulai dengan keluarnya Pak Yong, dan (4) pementasan diakhiri dengan tarian Cik Milik. (pepeng)

Sumber:
Amanrisa, Ediruslan dan Hasan Junus. t.t. Seni pertunjukan Tradisional (Teater Rakyat) Daerah Riau.

Galba, Sindu dan Siti Rohana. 2002. Peta Kesenian Rakyat Melayu Kebupaten kepulauan Riau, Tanjungpinang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Marden, William. 1999. Sejarah Sumatera. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Suparlan, Parsudi dan S. Boedhisantoso. Masyarakat Melayu dan Kebudayaan. Pekanbaru: Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Riau. 1986.
hal
Dilihat: