Lagu Asyik Buat Ngopi Pinggir Sawah
Showing posts with label Cerita Rakyat Aceh. Show all posts
Showing posts with label Cerita Rakyat Aceh. Show all posts

Naga Sabang dan Raksasa Seulawah

(Cerita Rakyat Daerah Nanggroe Aceh Darussalam)

Alkisah, pada zaman dahulu Andalas masih berbentuk dua buah pulau (barat-timur) yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit yang dihuni oleh seekor naga besar bernama Sabang. Pulau bagian timur dikuasai oleh Kerajaan Daru dengan rajanya bernama Sultan Daru, sementara pulau bagian barat oleh Kerajaan Alam dengan rajanya bernama Sultan Alam. Kedua sultan mempunyai sifat bertolak belakang. Sultan Alam adalah raja yang adil dan bijaksana sehingga rakyat di wilayah kerajaannya menjadi maju, makmur, dan sejahtera. Sebaliknya, Sultan Daru adalah seorang kejam yang lalim pada rakyat sendiri serta serakah alias tamak dan tidak puas dengan apa yang telah dimiliki. Dia tidak segan-segan memerintahkan prajuritnya merompak perahu-perahu saudagar hanya untuk mendapatkan harta mereka. Bahkan, untuk memperluas daerah kekuasaan, berkali-kali dia berusaha menyerang Kerajaan Alam namun selalu gagal karena harus berhadapan dengan Naga Sabang yang menguasai selat.

Suatu hari, Sultan Daru memanggil penasihat kerajaan guna mencari orang sakti yang mampu mengalahkan Naga Sabang sehingga dia dapat menyerang Kerajaan Alam. Sang penasihat terkejut mendengar perintah Sultan Daru dan menjelaskan bahwa Naga Sabang adalah penyangga sekaligus perawat pulau yang apabila dibunuh dapat membuat selat menghilang dan kedua pulau menyatu.

Penjelasan dari penasihat tadi rupanya tidak diindahkan. Sultan Daru tetap memintanya mencari siapa saja yang mampu menaklukkan Naga Sabang. Oleh karena itu, Sang penasihat terpaksa memberitahu bahwa ada dua orang raksasa sangat sakti bernama Seulawah Agam dan Seulawah Inong. Dia menganggap kedua raksasa tadi mampu mengalahkan Naga Sabang karena ukuran mereka yang relatif sama.

Penjelasan Sang Penasihat langsung di “follow up” oleh Sultan Daru dengan memerintahkan beberapa orang pengawal memanggil Seulawah Agam dan Seulawah Inong. Setelah datang Sultan Daru membujuk mereka agar mau membunuh Naga Sabang dengan iming-iming imbalan sejumlah uang dan harta benda lainnya. Ketika mereka setuju, dikirimlah seorang utusan lagi menemui Naga Sabang menyampaikan tantangan bertarung melawan Seulawah Agam dan Seulawah Inong.

Naga Sabang tidak langsung menyambut tantangan tersebut. Dia meminta waktu selama beberapa hari untuk menjawabnya. Sebelum waktu yang diminta habis, Naga Sabang sempat menceritakan tantangan Seulawah Agam dan Seulawah Inong kepada Sultan Alam. Di hadapan Sultan dia menyatakan bahwa kedua raksasa itu sangatlah sakti dan mustahil dikalahkan. Sang Naga berpesan apabila nanti dia bertarung dan mati, rakyat Kerajaan Alam harus segera melarikan diri ke dataran tinggi. Sebab, bumi akan berguncang keras akibat bersatunya kedua pulau yang kemudian diikuti oleh surutnya air laut. Tidak lama setelah air laut surut datang gelombang sangat besar yang akan menyapu daratan.

Singkat cerita, tantangan pun disetujui. Pada hari yang telah ditentukan mereka bertarung disaksikan oleh seluruh penduduk Kerajaan Daru dan Alam. Dan benar saja, hanya dalam waktu tidak terlalu lama Naga Sabang dapat ditaklukkan. Seulawah Inong berhasil menebaskan pedangnya ke arah leher Sang Naga, sementara Seulawah Agam mengangkat dan melemparkannya ke laut lepas.

Sejurus setelah Naga Sabang mati, kedua pulau bergerak saling mendekat dan akhirnya berbenturan sehingga menimbulkan gempa hebat selama beberapa saat. Usai gempa air laut tiba-tiba menyurut dan ribuan ikan mulai menggelepar di sepanjang bibir pantai. Penduduk Kerajaan Daru yang tidak mendapat pesan Naga Sabang segera berebut menangkap ikan-ikan tersebut. Sementara rakyat Kerajaan Alam secara berbondong-bondong berlari menuju dataran tinggi.

Ketika penduduk Kerajaan Daru sedang asyik menangkap dan memasukkan ikan dalam wadah-wadah seadanya dari arah laut lepas tiba-tiba muncul gelombang sangat besar dengan kecepatan tinggi. Mereka langsung dihantam gelombang tanpa dapat menyelamatkan diri. Bahkan, gelombang itu juga menyapu seluruh rumah beserta hewan-hewan ternak sehingga Kerajaan Daru luluh lantak dan hampir tanpa bekas. Sedangkan penduduk Kerajaan Alam berhasil selamat karena berada di daerah yang tidak dapat dijangkau gelombang.

Setelah surut, dibawah komando Sultan Alam mereka kembali ke kerajaan yang juga hancur lebur diterjang gelombang. Sultan yang wilayah kekuasaannya menjadi luas kemudian memerintah sebagian rakyatnya membangun kerajaan baru di lokasi Naga Sabang bertarung. Ketika selesai kota diberi nama Koeta Radja dan pantai tepat naga tergeletak dinamakan Ulee Leue atau kepala ular. Selain itu, ada pula tempat lain yang diberi nama baru, yaitu Seulawah Agam dan Seulawah Inong sesuai dengan lokasi kedua raksasa Seulawah terkubur lumpur. Sedangkan lokasi terlemparnya Naga Sabang yang kemudian menjadi sebuah pulau dinamakan Weh sesuai dengan teriakan Seulawah Agam ketika melemparkan tubuh Naga Sabang ke tengah laut.

Diceritakan kembali oleh Gufron

Hikayat Cabe Rawit

(Cerita Rakyat Daerah Nanggroe Aceh Darussalam)

Alkisah, pada zaman dahulu hiduplah sepasang suami-isteri di sebuah kampung yang jauh dari kota. Keadaan suami-isteri tersebut sangatlah miskin. Rumah mereka beratap anyaman daun rumbia, lantai hanya berupa tanah yang diratakan, dan di dalamnya hanya ada selembar tikar terbuat dari anyaman daun pandan sebagai tempat untuk beristirahat.

Suatu hari terjadi suatu percakapan serius diantara kedua suami-isteri tersebut. “Isteriku, sebenarnya apa kesalahan kita hingga setua ini belum juga dikaruniai momongan. Padahal, aku tidak pernah berbuat jahat dengan menipu atau mencuri walau kita kadang tidak mempunyai beras untuk ditanak,” kata sang suami.

“Entahlah, suamiku. Aku juga tidak pernah berbuat jahat dan bahkan selalu rajin beribadah,” jawab sang isteri sambil menahan air mata.

“Mungkin kita kurang berserah diri dalam beribadah. Bagaimana kalau nanti malam kita sholat tahajud sambil memohon agar dikaruniai momongan?”

Tanpa mengiyakan lagi, sang isteri langsung berucap, “Kalau diberi anak, walau sebesar cabe rawit pun akan aku rawat dengan penuh kasih sayang.”

Singkat cerita, beberapa minggu kemudian sang isteri mulai merasakan mual dan sakit pada bagian perutnya karena hamil. Namun, pasangan ini tidak merasa curiga dan menganggap hanya sakit perut biasa. Dan, karena datangnya sakit tidak berlangsung secara terus-menerus serta kondisi perut yang tidak membengkak seperti layaknya orang hamil, maka sang isteri tetap bekerja seperti biasa membantu suaminya mencari nafkah.

Suatu ketika setelah sholat Subuh sang isteri merasakan sakit yang teramat sangat pada bagian perutnya. Hal ini membuat suaminya menjadi bingung sekaligus gelisah. Ia ingin segera membawa isterinya berobat ke tabib atau dukun terdekat, tetapi tidak mempunyai uang sepeser pun untuk membayarnya.

Tidak berapa lama kemudian sakit sang isteri mulai mereda karena telah berhasil melahirkan bayinya dengan selamat. Tetapi betapa terkejutnya mereka ketika melihat kondisi fisik bayi tersebut hanya sebesar cabe rawit. Sang isteri pun menjadi bersedih hati. Ia tidak mengira kalau bakal melahirkan dan mendapatkan bayi yang ukurannya super mungil.

Untuk menenangkan hati isterinya, sang suami lalu berkata, “Sudahlah isteriku, apapun kondisi bayi ini, dia adalah karunia Ilahi yang harus kita rawat dan jaga. Masih ingatkah engkau kalau dahulu pernah berkata akan menjaga dan merawat dengan penuh kasih sayang apabila dikaruniai anak walau hanya sebesar cabe rawit?”

Tanpa berkata sepatah pun, sang isteri hanya tersenyum. Sebuah senyum bahagia karena akhirnya dipercaya oleh Tuhan untuk memiliki momongan. Ia telah menjadi seorang ibu. Suatu hal yang selama ini selalu didambakan olehnya dan setiap wanita di dunia ini.

Mulai sejak saat itu, sang bayi yang berjenis kelamin perempuan dirawat dengan penuh kasih sayang hingga remaja. Namun, mungkin karena sudah suratan takdir, tubuhnya tidak tumbuh besar dan tetap seperti cabe rawit. Walau begitu, ia masih bisa membantu ayahnya bekerja sebagai kuli pengangkut barang di pasar untuk mendapatkan sedikit rezeki.

Suatu ketika, karena terlalu lelah bekerja sang ayah jatuh sakit dan tak lama kemudian meninggal dunia. Sementara sang ibu yang merasa sangat terpukul akan kepergian suami tercintanya, setiap hari kerjanya hanya menangis saja. Dia sedih sekaligus bingung karena sang suami adalah tulang punggung keluarga. Dia tidak tahu harus berbuat apa untuk menghidupi diri dan anaknya. Hal itu membuat tubuhnya yang sudah tua semakin rentan terhadap serangan berbagai macam penyakit.

Khawatir akan kesehatan ibunda tercintanya, sang anak yang diberi nama sesuai dengan ukuran tubuhnya yaitu “Cabai Rawit” berinisiatif untuk menggantikan posisi sang ayah sebagai kuli pengangkut barang di pasar. “Saya akan bekerja menggantikan Ayah, Bu,” katanya meminta izin.

“Jangan Nak, nanti kalau kau terpijak orang bagaimana?” sahut sang Ibu.

“Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa, Bu. Saya sudah biasa membantu Ayah di pasar,” jawab Cabe Rawit singkat.

“Anakku, hanya engkau sekarang satu-satunya orang yang Ibu sayangi. Ibu tidak mau kehilanganmu Nak,” kata sang Ibu.

“Yakinlah kalau semuanya akan baik-baik saja asalkan ibu mau mendoakan saya. Nanti kalau memang ternyata tidak sanggup, Saya akan langsung pulang,” desak Cabe Rawit.

Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Sang Ibu luluh hatinya. “Baiklah anakku, kalau engkau memaksa. Berhati-hatilah engkau selama bekerja dan jangan terlalu memaksakan diri. Ibu tidak mau hal serupa yang terjadi pada Ayahmu terulang kembali pada dirimu.”

Setelah mendapat restu dari Ibunya, tanpa bekal apapun Cabe Rawit segera berangkat ke pasar. Ketika sampai di sebuah perempatan jalan dia berpapasan dengan seorang pedagang pisang. Karena tubuhnya sangat kecil, sang pedagang tidak melihat sehingga raga pisangnya nyaris mengenai tubuh Cabe Rawit.

“Awas Pak, raga pisangmu hampir mengenai tubuhku,” teriak Cabe Rawit.

Sepontan sang pedagang pisang menghentikan langkahnya sambil celingak-celinguk melihat ke samping dan belakang.

“Awas Pak, raga pisangmu hampir mengenai tubuhku,” teriak Cabe Rawit lagi.

Sang pedagang pisang kembali celingak-celinguk untuk mencari sumber suara tadi. Tetapi tidak ada sesosok manusia pun dijumpainya.

“Raga pisangmu hampir menghimpit tubuhku,” teriak Cabe Rawit kesal.

Sang pedagang pisang yang tetap tidak dapat melihat siapa yang sedang berteriak akhirnya menjadi ketakutan. Tanpa berpikir panjang, dia langsung saja ambil langkah seribu dan meninggalkan dagangannya begitu saja karena mengira ada makhluk halus yang ingin mengganggunya.

Dagangan yang ditinggalkan itu lalu diambil oleh Cabe Rawit untuk dibawa pulang ke rumah. Pikirnya, daripada diambil orang atau dimakan hewan ternak, lebih baik pisang-pisang itu ia bawa ke rumah untuk dimakan bersama ibunya sebagai pengganti nasi.

Keesokan harinya ketika berjalan di tempat yang sama Cabe Rawit hampir dilindas oleh seseorang yang sedang bersepeda sambil membawa beras. Karena kaget, Si Cabe Rawit lalu berteriak, “Hati-hati, ban sepedamu dapat menggilas tubuhku!”

Sama seperti pedagang pisang kemarin, orang yang ternyata pedagang beras tersebut langsung menghentikan laju sepedanya sambil celingak-celinguk mencari sumber suara yang didengarnya. Namun, karena tidak ada orang disekitarnya sang pedagang beras langsung mengayuh sepedanya dengan meninggalkan beberapa karung berasnya agar lebih ringan.

Sepeninggal pedagang beras, Cabe Rawit langsung membawa beras yang ditinggalkan untuk dibawa pulang ke rumah. Sesampainya di rumah dia langsung menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya. “Tadi di perjalanan menuju pasar saya berpapasan dengan seorang pedagang beras. Waktu itu ban sepedanya hampir saja melindas. Tetapi ketika saya berteriak, dia malah melarikan diri dan meninggalkan berasnya begitu saja. Daripada diambil orang atau dimakan burung, sebagian beras itu saya bawa pulang. Bukankah kita sudah tidak memiliki beras lagi, Bu?”

Hal serupa juga terjadi pada keesokan harinya, namun kali ini dengan seorang pedagang ikan. Dan sama seperti pedagang pisang maupun beras, sang pedagang ikan juga lari tunggang langgang dengan meninggalkan dagangannya begitu saja. Ikan-ikan itu juga dibawa pulang oleh Cabe Rawit dengan alasan dari pada dimakan kucing atau binatang lain pemakan daging.

Begitulah, setiap hari Cabe Rawit selalu saja berpapasan dengan para pedagang, mulai dari pedagang makanan, pakaian, hingga perhiasan. Mereka semua ketakutan dan meninggalkan barang dagangannya, sehingga Cabe Rawit selalu membawa pulang berbagai macam barang tanpa harus bekerja sebagai kuli angkut di pasar.

Lama-kelamaan, karena Ibu Cabe Rawit semakin makmur hidupnya, para tetangga menjadi curiga. Mereka mengira kalau Ibu Cabe Rawit melakukan hal-hal yang dilarang agama sehingga membuat dirinya kaya tanpa harus bekerja membanting tulang. Oleh karena itu, diketuai oleh kepala kampung, para warga berbondong-bondong mendatangi rumah Ibu Cabe Rawit untuk meminta penjelasan.

Setelah bertemu dengan Ibu Cabe Rawit, Sang Kepala Kampung sebagai juru bicara langsung bertanya, “Dari mana engkau mendapatkan kekayaan, padahal tidak bekerja dan tidak ada orang yang memberimu nafkah lagi?”

Ibu Cabe Rawit hanya diam seribu bahasa sehingga Sang Kepala Kampung mengulangi pertanyaannya lagi, “Tolong jawab pertanyaanku agar warga desa di sini tidak curiga terhadapmu.”

Tiba-tiba dari dalah rumah terdengar suara, “Tolong jangan ganggu Ibuku. Kalau kalian ingin menyakiti, sakitilah aku. Ibuku tidak bersalah.”

Orang-orang yang mendengar suara itu sontak terkejut. Mereka hanya mendengar suara namun tidak melihat orangnya sehingga suasana menjadi tegang. Kecurigaan penduduk semakin bertambah besar sehingga Ibu Cabe Rawit akhirnya menjelaskan suara siapa yang keluar dari dalam rumahnya. Dia tidak hanya menjelaskan asal muasal Cabe Rawit, tetapi juga bagaimana ia bisa hidup sejahtera selama ini walau tidak bekerja.

Penjelasan itu akhirnya membuat seluruh penduduk mahfum dan berbalik menjadi simpatik. Mereka pun lalu sepakat untuk membuatkan rumah yang lebih layak bagi Cabe Rawit dan ibunya. Selain itu, mereka juga memberikan segala keperluan untuk hidup sehingga Cabe Rawit tidak perlu lagi pergi ke pasar dan menakuti para pedagang untuk mendapatkan makanan.

Diceritakan kembali oleh Gufron

Asal Usul Tari Guel

(Cerita Rakyat Daerah Nanggroe Aceh Darussalam)

Konon, tari Guel berasal daru dua orang putera Sultan Johor, Malaysia, bernama Muria dan adiknya yang bernama Segenda. Alkisah, pada suatu hari kedua kakak-beradik itu disuruh oleh orang tuanya menggembala itik di tepi laut. Sambil menggembala, untuk mengisi kebosanan, mereka bermain layang-layang. Suatu saat, datanglah angin kencang yang membuat layang-layang mereka putus. Secara spontan mereka berusaha sekuat tenaga mengejar layang-layangnya yang putus itu, sehingga lupa pada itik-itik yang harus mereka jaga. Karena kelengahan ini, itik-itik yang harus mereka jaga berenang dan akhirnya hilang di tengah laut. Sebagai catatan, versi lain dari cerita ini yang menyatakan bahwa, akibat hembusan angin yang sangat kencang itu mereka bersama layang-layangnya diterbangkan oleh angin hingga jatuh di Negeri Serule, Aceh Tengah yang dikuasai oleh Raja Cik Serule yang bergelar Muyang Kaya Lanang Bejeye.

Setelah lelah mengejar layang-layang yang putus, kembali lagi ke tepi laut untuk membawa itik-itiknya pulang. Namun sesampai di sana, mereka tidak mendapati satu ekor itik pun karena seluruhnya telah hilang di telah ombak lautan. Dengan perasaan takut karena lalai dalam menjalankan tugas yang diberikan, akhirnya mereka pulang untuk melaporkan kejadian itu pada orang tua mereka. Sesampai di rumah, mereka segera melapor. Mendengar laporan kedua anaknya tersebut, sang ayah menjadi murka dan menyuruh mereka mencari itik-itik itu sampai dapat dan sebelum dapat tidak boleh pulang ke rumah. Akhirnya kedua kakak-beradik itu pergi dengan sebuah sampan mengarungi lautan luas untuk mencari itik-itik yang hilang. Namun setelah berhari-hari mencari ke segala penjuru mata angin, akhirnya mereka tersesat dan terdampar di sebuah negeri yang bernama Surele.

Saat mereka sampai di Negeri Serule hari telah gelap gulita. Kemudian mereka menuju ke sebuah meunasah/langgar untuk beristirahat karena sekujur tubuh mereka basah serta lemah lunglai setelah berhari-hari berada di tengah lautan. Pada pagi harinya barulah rakyat Serule terkejut mendengar ada dua anak terdampar di negeri mereka. Rakyat Serule beramai-ramai menuju ke meunasah untuk membawa kedua anak itu ke istana Raja Cik Serule untuk diinterogasi. Setelah kedua anak itu menjelaskan asal usulnya, maka raja menjadi iba dan mengangkat mereka menjadi anak angkatnya. Kedua anak itu sangat disayangi oleh Raja Cik Serule.

Selama kedua anak itu berada di Negeri Serule, rakyat Serule makmur, aman dan sentosa. Hal ini terjadi karena kedua anak itu mempunyai tuah/kesaktian yang menakjubkan. Sebagai pertanda bahwa mereka memiliki tuah tersebut adalah tatkala menjelang senja hari selalu terlihat cahaya menyala-nyala di atas langit Negeri Serule.

Melihat kemakmuran Negeri Serule akibat kesaktian atau tuah dari kedua anak itu, maka raja Linge, yang berasal dari negeri tetangga merasa cemburu. Kemudian ia memerintahkan kepada para prajuritnya untuk membunuh kedua anak itu. Namun dalam usaha pembunuhan itu, yang terbunuh hanya Muria, kakak dari Segenda. Sedangkan Segenda berhasil diselamatkan oleh Raja Cik Serule dengan menyembunyikannya di suatu tempat diketahui oleh sembatang orang. Jasad Muria yang terbunuh itu dikuburkan di tepi sungai di Desa Samarkilang, Aceh Tengah.

Pada setiap akhir tahun raja-raja harus datang ke Kutaraja untuk mengantarkan atau mempersembahkan “cup usur” (upeti) kepada Sultan Aceh. Kebetulan pada tahun itu Raja Cik Serule membawa serta Segenda. Saat para raja mengadakan pertemuan dengan Sultan Aceh, si Segenda yang bukan seorang raja, menunggu di halaman istana. Sambil menunggi, ia mengisi waktunya dengan seekor gajah yang berwarna putih. Rupanya lukisan Sengeda itu menarik perhatian puteri Sultan. Sang puteri kemudian meminta ayahnya (Sultan Aceh) untuk mencarikan jenis binatang yang dilukis oleh Segenda.

Sultan Aceh enggan untuk menolak permintaan anaknya tersebut dan memerintahkan Raja Cik Serule bersama Segenda mencari dan menangkap gajah itu untuk dipersembahkan kepada Sultan Aceh. Raja Cik Serule sangat kebingungan menerima tugas yang berat itu, sebab ia tidak tahu bagaimana cara mencari dan menangkap gajah tersebut. Melihat kebinggungan ayah angkatnya itu, Segende kemudian bercerita bahwa beberapa malam sebelumnya ia didatangi oleh roh kakaknya (Muria) yang dibunuh dan dikubur di Desa Samarkilang. Roh kakaknya itu memberikan petunjuk dimana mereka dapat mencari gajah putih.

Keesokan harinya Raja Cik Serule, yang bergelar Muyang Kaya pergi bersama Segenda mencari gajah itu sesuai dengan petunjuk yang telah disampaikan roh Muria melalui mimpinya. Sesampainya mereka ke tempat gajah itu, yang ketika itu sedang berkubang, maka mereka segera memasangkan tali kulit ke leher gajah putih itu. Mulanya gajah putih itu hanya diam saja, tetapi tiba-tiba gajah itu berlari dengan sangat kencang. Gajah putih itu akhirnya baru berhenti di dekat kuburan Muria di Kampung Samarkilang. Walaupun segala macam cara telah dilakukan, tetapi sang gajah putih tetap tidak beranjak dati tempatnya. Akhirnya mereka menggunakan cara lain yaitu rayuan yang lemah lembut dan menari dengan meiluk-liukkan tubuh. Melihat tingkah polah kedua orang itu, sang gajah akhirnya terbujuk dan bersedia ikut menuju istana Sultan Aceh.

Gerakan-gerakan tubuh yang dilakukan oleh Raja Cik Serule dan Segenda itu akhirnya menjadi vikal bakal tari ugel yang menjadi tari tradisional khas rakyat Gayo.

Sumber:
Hakim, A.R. 1986. Bunga Rampai Cerita Rakyat Gayo, Seri IV. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.

Unok (Cerita Rakyat Gayo, Aceh)

Dele jema berpendepet, mumerinen apabile bur mubeltak mekesute lagu Bur Ni Telong so ke basa Indonesiae gunung merapi, mubeltak sara waktu tangkuh ari wan bur a, wih, rara, tanoh cempege, ledak, atu bene sana si ara wan tuke ni bur a tangkuh lagu jema peloahan. Bekase si taring nge mujadi keltung renyel wih pe mugenang, pemarine mujadi lut, lagu lut Tawar-te ni. Danau basa Indonesiae. Ike sinting beta asal usul ni lut atawa danai bewe ne, keta nge trang sengkiren Bur Ni Telong so mubeltak, meletus nge turah lo ari pe lut atawa danau. Buge entimi bur a mubeltak kuneh lo ari pe, ata meh mureh muremok lengas mujadi rata kase. Senuen, manuksie, koro, kude, kaming, bebiri, ume a bene rusak gere ne tehunei. Syukur ike gere sampe ku nyawa.

Keta kekeberan ni jema tetue tentang asal usul ni Danau Laut Tawar-te ni, cube keta ipengen, kadang te kase nguk gunei kin isi nate kin pengemasan, orop cerak-cerak berakah.

Pudaha, silun, sedenge beta kire-kire, ara sara jema ulama, jema malim ke kene pakea pudaha oyale si ulie. Si ulie ni si gatine keta beribedet i Mekkah, si nge terang tentu ike semiang Jemat. Nge mari muniri-niri renyelwe berangkat ku Mekkah. Ke bukeneh pe jarake, sejep we nge minter sawah, keta mari semiang kase ulakwe mien ku Gayo ni. Sana i genie, gere kubetih, gere ara seder jema kadang te begene burak lagu nabi mekraj, mi kadang ta betul pe, kadang te temerbang, oya pe gere ara seder jema, si mehate remalan we si ara mukeber.

Si ulie ni ne bedene kul, atas, anyong, langkahe pe pepien meteri, seger jangkang pe kadang te nge orap si pe, kekirentemi we munyawahne. Gere sidah pe atas ni bur si teridah kite engon ni, relem narul, kolak ni lut, nguk perin nise gere ara nyanya. Gere ara perasante si nguk mulintang langkahe ke kusih pe we male beluh. Betale kire-kire kul ni bedene, kolak ni jangkange, angong ni tubuhe buh jeme persine Unok.

Se ni pe kin pengalut ni jema ke ara jema bi bejangkang kolak, kul bedene, keta renyel rasi jema, kul ni beden pe lagu Unok, beta kedah.

Jadi ike munurut kekeber ni jema jemen, Danau Laut Tawar-te nipudaha gerele lagu besilo ni koleke, kucak we, lagu kulem. Wihe mujelobok mumata ter ari tuyuh, jernih pedi, sonele dirodari muneniri bersesangulen sesabi dirie, mari-mari niri ho ulak mien ku langit. Kene jema petere Bensu pe, yonele muniri, bepangir urum aka-akae I sagi-sagi ni karang so Malim Dewa munenep sesire beserune muguel bensi, mungantehi pateri Bensu. Nge mari muniri, keta ulak temerbang mien ku nenggeri Antara, beta kene jema.

I geniring ni kulem a ne ara sara batang ni kayu kul pedi. Ton ni benatang-benatang uten a belongoh porak le so, begegolahan kadang te gerahan keta minum ku wan kulem a. Manuk pe beta mumangani uah ni kayu a ne, gerahan-gerahan so keta ne renye minum kone. Batang kayu len pe dele ilen one ara seba mi, ara si muah ara si gere tempat ni manuk berdediang terbang ari ranting ku cabang memangani uah, mungenali iyok kin isi ni pogenge.

Jadi pede serlo ter bilangan si jeroh ketika si bise, turun ilham ku Unok ni ne bahwa kase sara masa male terjadi turun ni Tuhen cubeen ku makhluk atan denie ni munuji sahan-sahan si berimen, sahan si gere. Si berimen keta selamat kerna we mumengen manat, keta si gere nge terang mudepet ezeb kerna darohaka. Male geh kase wih kul, banjir kene basa besilo ni, bur si atas-atas pe meh apus buh wih kula, denie ni mugenang. Jadi turah tos sara perau kul kin tempat besilu. Atau perau a ne le berumah, i one mangan minum, imah perbekalan si genap dirie kin papien lo ni kadang te sawah pe ku ulen ku tun beta mulo. Perau kul a ne turah tir itos imungen, si nge turah ara bepari i sara tempat, si kire-kire murah berhubungan urum Mekkah.

Jadi, nge putus makripet ni Unok ne gere ara len pilihne, keta batang kayu kul si genering ni kulem a ne le si turah ijadin kin perau kul, ke nume oya keta gere sidah pe kase isie.

Tar bilangan si jeroh tar ketike si bise, putus makripet bulet ate tumung kekire ni Unok ni, kayu kul si genering ni nin a nepe ijerhutne. Mujergut urum uyet-uyete, tar one ieyate maran-aran renyel sawah ku serap ni lut Acih so tar one renyel ku Mekkah.

Ale bekas ni perdu ni kayu a ne, tanohe ke nge mubungker lagu kul nge mukelong mukultung, renyel mujadi kulem kul, kulem uyet ni kayu kul a ne nyap-nyapan relem sari ku wan tanoh se mupantik. Loloten kayu si sare Unok a ne oyale kebere mujadi arul kucak, meh kemokotne memakin relem memakin kolak, wihe pe renye memakin deras.

Oyale keta ne asal usu ni Dana Laut Tawar-te ni urum wih kul si bergeral Sungai Pesangan, si mujaril sawah ku Lut Acih so.

Uraian ringkas
Menceritakan makhluk halus atau aulia yang bertubuh tinggi, besar dan juga seorang ulama. Dia selalu bersembahyang di Mekkah dan sholat Jumat di daerah Gayo, sedangkan kendaraan yang dipakainya belum dapat dipastikan. Menurut wahyu yang diterima Unok itu dari dari Maha Pencipta bumi dan langit ini bahwa pada suatu masa akan terjadi malapetaka diturunkan Tuhan ke daerah Gayo ini, yaitu air bah yang akan menghancurkan harta benda dan raga manusia ini seluruhnya. Oleh karena itu, Unok berusaha membuat sebuah perahu besar dari kayu besar yang tumbuh di tepi Danau Laut Tawar yang terdapat di daerah Gayo. Perahu itu kelak akan dijadikannya untuk mengangkut orang-orang Gayo yang apabila terjadi air bah itu nanti. Konon kabarnya pula bahwa bekas pohon kayu dicabut inilah yang menjadikan Danau Laut Tawar itu semakin luas seperti keadaannya dewasa ini.

Dalam cerita itu juga disinggung bahwa Danau Laut Tawar itu adalah tempat puteri kayangan alias puteri tujuh, termasuk puteri Bungsu turun dari langit untuk mandi-mandi di sana, yang ada waktu itu diintai oleh seorang pemuda yang bernama Malim Dewa menurut cerita itu. Pohon besar itu tadi ditarik-tarik oleh Unok itu melalui lautan luas, yang akhirnya sampai ke Mekkah.

Sumber:
Hakim, A.R. 1986. Bunga Rampai Cerita Rakyat Gayo, Seri IV. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.

Jejok

(Cerita Rakyat Daerah Gayo, Aceh)

Si kedele ne manuk si peralai jema oyale kukur. Ike kukur galak keta nguk isabung, ijalu. Keta iaran taroh. Mera we raie taroh a ne ku sepuluh ribu, due puluh ribu, mera we koro atawa kude pe bun jema kin taroh. Dum kul nate, beta mulo ke dah. Menang kalahe keta terserah ku nasib, ara kukur galak gere lepas mah taroh, keta talu. Nguk perin kukur ijalu kin peme rah ni nepekah. Gere tubah lagu jema betaroh tekala pacu kude so, kude si musangka ke mujontor de lahe seneta, si betaroh keta mumangan sedep, mangan ku bajak rum kul ni kutep.

Si menang a keta nge tetnine ike si kalah a keta pukekucip, pupeperus gumis, nome kelam gere ne mis, pe ng wan beb nge meh titis.

Sara macam mi keta gere kin kukur sabung orop nge iperalai kin lelon kin dediangan, igegeneng, ipepanang, ipeperus, ipenirin dum galak nate.

Iyo soboh iengon-engon, ikerteken pumu kukur pe mungku, tuke mulape lagu si nge korong, osop gerahan basah gerngong. Ku si beluh oya kin temengen, beluh ku empus atawa ku rebe, si gere pu udah keta ku mersah atawa ku umesegit.

Sentan soboh dabuh mencer matan lo cap renyel iuetan rungang beranir-anir bergegiring, isantiren ku tetulok itatangan pora tetemas pecengan, ileweni lagu becerak urum budak. Ikumuren wih isempuren ku bedene, ipeperus sire we bejunte atan jejari pumu kiri, ikerteki kin pumu kuen. Kene pake a iejer mentalu.

Ke nge porak kase o ayon ku wan rungang igenengen isantiren ku cabang nasam, ku labang sagi rumah tuyuh ni teroto. Anak dirie pe kadang ipenirine sana kene jema banan. Lagu si gere ara lupen sejap pe, betale kul nate.

Kukur mentalu, ate galak, kukur mungku guke isimak, mangan sempat lupen, utang ku Tuhen gere ne beriro. Kelaman ara kin regge ni jagong pakan kukur penan ni kumpu barik enti mi.

Ulak ari empus atawa ari ume, cube mi ingetei kune kin cara ni pake si bekukur a. Dumna guree kadang te ara uah ni kupi ben kutip wan karung, keta katan ulu renye ijujung, kadang batang ni pete atawa cabang ni kayu kedah male kin utem atawa kin tersik kin tiang ni penjemur nupuh, keta katan kerlang dabuh iarang parang pe itemeng ike perlu anak pe iemen mien, keta ne kukur wan rungan mien itemeng kin pumu kiri. Sengkiren uren pe lo buet lagu noya gere muketapi. Kite mi we munengone lagu si nge sawah dehdohe. Kune kin kinen muniti atang mulengkahi atang, muneki kite ike dene jeral gere bike mukelset. Muniti petal pe gere mukekunah, sengkiren kedang male musentat, adik kukur a ne mukunah, lagu si nguken anak si wan nemen a ne mutuh. Beta se ba jema ari kul nate mununung galak, lupen we kin tengkeh ni jema, arok mupolok galak muselpak.

Kati kite paham kukur ni lagu si ara roa macam, pertama kukur si sedakala kite egon iperalai jema, kita sara mi kukur gunung. Lagu si ara ilen sara mi, si begeral merbuk kire-kire bensa ni kukur. Ke kukur gunung lagi si mupenilang pora jangute gere olok iperalai jema sebeb gere kita betih sanae si paral. Gere lagu kukur pedih ne betami kena, linge iparal, guke pane mentalu, keta kin pengantin bun jema ike munama aring, munama getah, munama katir. Kona ni kukur ari guke beta kene tengkeh.

Boh pengen gelah jeroh, keta ni kekeberni jejok. Jejok ni ara si bergeral jejok balu, jejok ines, jejok berbakan, nta jejok si gati kite egon terbang-terbang atau tamas, ari batang ni anar ku batang ni beke mengenal iyok mumangani uah. Entah si si jejok si tulu ni si peralai jema mal regee pe, lagu si jejok balu, lagu si berbakan ke die gere selese tu aku. Tapi ara, jelas jejok. Ke jejok umum a ne te, lagu si gere iroi jema, suket tukang letap. A biasae nantine lo uren mulo. Mari uren a nge sidang beta kedah baru beluh muletep munep-nep tuyuh munem muah.

Jejok si peralai jema ne ikekus delahe urum mas kati pane becerak, lepas itununge iuru-urue sana si gati pengewe cerak ni jema empu numah a. Misele berpepiulen, gure asal mumengewe, lagu tiung pe kene jema lepas lagu noya.

Jejok gere ara ijalu jema lagu kukur. Iperalai bis kin lelon we. Lenge iparal. Ike si galak a kedah tekala geh kite ho renyel we muling seulah-ulah kin pesalamanne. Senang atente. Pakene pe murah we, awal tasak, pertik tasak, lede pentek, nguk perin uah ni kayu. Cume citnalahe pengalut ni jejok ni oyale, awahe mumangan, keta cret crot teie pe renye tangkuh, lagu si redik di. Buh jema kin pengalutan enti lagu jejok, cret crot sesire mangan. Tah mumangan kuwih kul.

Jadi ke beta ya pede serlo, beluh mi we kami ku empus i Paya Tumpi. Nge beta bang peloh ni manuksie ni, uru-uru. Berempus jema berempus aku pe, bekupi jema bekupi kite pe. Ke makin tekala kupi murege, munengon jema si bekupi a mubeli gule ku kede sentan ulak so nge betemengen iken pedih mowa-owa atau hondae. Murip nesunte pe, bekupi mi bang kite pe dabuh mengas, gere ninget kune kin keberni bawal merges.

Jadi ni kami ne wan empus a ara kupi, ara asam kelele, ara awal, ara nangka, ara agur nguk perin lengkap. Uet ari umah bangun si nge sawah sunguhe sentan sawah pe ku empus negon kerpe nge sejenyong kita nge apus kupi, dabuh sabet.

Itebesle pora-pora irerampis. Kane ananmu, ni kite sibetule dele tu rangkamle buet ni, ujudne pemarine kebatangan. Gere ara buet si ucus bene mupuyuken. Le tu cabang ni buet. Gere tededik. Engon ku kerpe lagu lingku mulo ne nge apus kupi, cabang ni kupi gere beserlak nge mumah ni musangan. Opos umah nakalku, lagu si gere terkekiren naku ne si de si mali kumulon.

Dang-dang pubebeta nge atas pe lo, buet gere ilen murupe, gere ilen sanah pe mengonen.

Dosa lehe nge buet te ni, a kene ananmu. Kune dosae kenaku, lagi si nge malim di. Sana si gere dosa, reta gere itetahi iluah jaluhen pelin gere bertentu. Gere ubah, amanah ni Tuhen gere iperalai ke lagu ini sakit ni ling, lagu si nge daten mubazir. Ibarat ume lagu si nge beseje irohen, empus ni beta lagu si male italun.

Lo pe rerenyel ruhul tuke nge dabuh mulape. Tekediren ananmu nge mujerang. We sesire mujerangle becerak a ne ari wan jamur isutie lingku.

Koh kini mi keta mulo renye mangan, mutalu ananmu ari wan jamur. Jadi kami ne beluh ku empus gere tubah lagu minah mangan pelin we. Tekok di kite nguk sedep di mangan i empus ni mangan pelin we. Tekok di kite nguk sedep di mangan i empus ni. Gere dalih berpong kero. Rebusen rukut, pipisen lede, terasi tikik buh agur kemero anconge, cap celet ku legen a, lagu si gere tegilahine, gemok silente, sesara kemul ku was, lagu nege mnelgap, bet-bet lukup suepte. Meminter nge borehen. Pora muser e kunulte genyuren kiding dabuh poap-oap geh tunuh. Ike itunungen renyel munjadi.

Tengah kami mangan a ne, tenenge ling ni tung-tung i umah ni Pak Serun. Sana die mien oya. Kupene pe Pak Serun a munalu kurike iguel tung-tung, meh temabur bersangkanan kurik-kurik si bejamah wan empuse a ne ulak kumah. Kupen beta jep ruhul kurik a ulak mulo sejep iosah pakene jagong isempak atawa kacang kuning. Mari mangan a ulak mien dediang bejamaah mumerah pakan wan-wan kupi a iyok, kerudik, lompong, ketol, sanah-sanah. Yo kase muling mien pukul-pukul 5, a tene ulak lup ku wan kepuh nome demu mien mangan.

Si kin pikirenku nume sana nguk betihi korik a pe le ling ni tong-tong a ne hiren aku. Nge mengerti. Dup kurik kenatingku nguk kupen iejer mera taat. Sana kati manuksie mera wa cules gereke beta ya, semiang soboh so ingerti ko pe, jema azan nge jep sagi bertuken mantong sempat ilen, pora-pora mi petetowet singkih kuen balik kiri, upuh jebel pe ikelkupen mien. Arake patut. Olok Bantat manuksie ni. Lagu si nge patah ejer.

Nge mari semiang gere nasup ne mumebes. Nangkap asam mi we kin nemah ulak. Kemana uah nasam ne ara jarang-jarang. Aku munik, ananmu kukeni mungamul. Sesara keranyang beta nge engkip-engkip so kuturunen betali, lagu munebuk wih ari wan telege.

Nume tetine kupi nge royo buh kerpe, keta asam ni pe lagu nge jep cahang mukayu malu. Sesire munangkap uah nasam, enta ke kumulon munetuh. Munetuhi cabang nasam si mukayu nalue. Bengis ananmu dabuh mungelemeng, sana kati asam a itetuhi, sana kati cabang nasam a si tetah. Enta ke gere cube pe ipikiriko kune mununuh kayu nalu wa. We murip yone murum muyet ku cabang nasam a.

Ningkam a kati buet delen sie-sie, gere ningetke kam kin cabang oya tengah a muah dele ge mutetewah nge muselewan, enta se ni dabuh itetuh. Kena nge gere muah ne betake, a ling nananmu bangun si giging. Ke gere kune keta mununuhi kayu nalu ni kenaku, aku pe lagu si nge okeng, turuhen kam pe. Gere ara jelen len nge turah itetuh cabang a pe kunehen ara nguk. Tengah a we muah se ni gere ne, te nge pelin kayu nalu.

Salah di kam. Sa salah, kenaku mien. Kam salah, kite nile salah kena kite empu ni empus a kite empu nasam a. Tengah kucak kayu nalu a cube tetir renyel iunuhen ke gere dalih urum cecabang nasam a pe renye turah murelas. Cit ni reta gere berurus. Sileple kam oya, kenaku. Kite gere salah. Ipikiri gelah jeroh. Cube ingeti mulo ari sihen kin ralik ni kayu nalu ni. Sa munyuene. Sana kati dalih atas asamte a murip. Ku kayu len so mukune atawa katan bumi a lues ni denie.

Ke lagu oya kekire perin jema pe kite pekak. Say nyuen kayu nalu, selo ara besuen murip dirie. Ke gere tetine atan asamte ni, ni jema len so pe ke ara. So atan batang nangka, so, atan batang ni temung so gereke nge oya pelin. Gere ara pe ne nyaris ulung ni temung a teridah. Cume ni jema asame betetah, gere idaten mulumut lagu gere berempu. Pedehal empue jemamakal. Ike becerak urum dele ni cara, buet gere orop sih pe.

“Yah, kune ling a ya, lagu si mugeratak di le.”

“Enta gereke. Kita jema makal. Biak si remalan ter mulo, kunul ter uken. Si mungajin kenduri wan jema dele so. Ale lale munetahi jema dele empus diri pe gere ne beriro. Inget kamke didong ni Kebinet, lale aku beketor meh jongor selap sane oyale kite. Rere jantar pengate.”

“Ahal jejok nile si munos lagu.”

“Sana kati minter musalit ku jejok, sana nise.”

“Jejok nile si jahat gere medet gere mubetih kemel, gere betehe buet melarat ku jema, lagu si kenak diri pelin.”

“Sana pulang kati ku jejok mempas.”

“Ari we geh ni penyakit.”

“Arake patut, lagu si gere pan akal.”

“Kune gere, jejok nile si jahat. Wele munemah inih ni kayu nalu a ku jep-jep batang nasam a. Pikiri cuhe, gereke kase betul lingku ni. Jejok a mangan uah ni kayu nalu, bubunmi mulo i atan batang ni temung so. Nge mari mangan a ke nge korong nge engkip pogenge ku jep-jep batang nasam a. pikiri cuhe, gereke kase betul lingku ni. Jejok a mangan uah ni kayu nalu, bubunmi mulo i atan batanga ni temung so. Nge mari mangan a ke nge korong nge engkip pogenge, we temerbang. Com ku atan batang nasamte ni. Uang ni kayu nalu si pangane oya ne iecengne sone, lekat i cabang nasam a ne. Meh kemokot ne sawah masae renye murip. A macam buet buet ni kayu nal. Ralike ahal ari jejok micing, pikiriko kune male mungoa jejok kati enti micing katan batang nasamte. Selo bang lepas. Suket itos peger sawah ku langit.

“A kati kenaku ne ke tengah kucak kayu nalu a murah mununuhe gere dalih cabang nasam a pe kona tetuh.”

“Enta ini nge lepas pe mulo murip nge kul. Kunehen ne ara nguk. Suket jejok a itatar mulo kati enti micing ku si kenak gere betihe kenyanyan jema.”

“Si rerume si gere pangan akal sana si ucep. Manuk, selo bang ara kekiree si mujadine. Manuk gerale pe selo betihe wajib mutempat warus barang kapat. Ike manuksie ne lagu manuk a nguk perin lagu jejok a lague perangwew, mampat perlu itatar. Ke mepat bang tempat ni pericingen, gere nguk ku si kenak gere mupereturen. Si lagu-lagu nyale si turah mepat parie. Gere bang awa manuksie ni si rejen lagu jejok a.”

……………………………”Kul pengepak ne tei ni jejok ni ku kupen.”

Uraian ringkas
Jejok adalah burung yang salat satu jenisnya disenangi orang karena dapat diajar berbicara sepatah dua patah kata dan bunyinya amat merdu seperti halnya burung beo. Makanannya buah-buahan dan serangga. Jejok ini pulalah pembawa bibit/benih benalu yang dapat merusak tanaman keras lainnya, seperti jeruk dan sebagainya, yang dibawanya melalui kotoran dari pohon-pohon lain.

Jejok ini dipelihara orang untuk kesenangan belaka, lain halnya dengan burung balam yang dipelihara dan disenangi masyarakat pada zaman itu untuk disabung sambil bertaruh. Burung balam itu oleh sebagian kecil orang laki-laki Gayo sangat disayangi melebihi dari benda-benda yang lain, dirawat dan dibawa kemana pun mereka pergi.

Dewasa ini kebiasaan memelihara dan menyabung balam itu sudah tidak ada lagi, sedangkan pada waktu silam memelihara dan merawatnya sampai lupa makan dan pekerjaan lain.

Sumber:
Hakim, A.R. 1986. Bunga Rampai Cerita Rakyat Gayo, Seri IV. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.

Archive