Permainan Bleduran

Bleduran atau meriam sundut konon sudah dimainkan oleh orang Betawi sejak zaman penjajahan karena terinspirasi oleh meriam-meriam tempur milik Belanda. Permainan ini umumnya dilakukan oleh kaum laki-laki remaja hingga dewasa karena memiliki tingkat risiko yang relatif tinggi. Sedangkan waktu bermainnya biasanya malam hari (antara magrib hingga menjelang subuh) pada saat bulan puasa. Namun dalam perkembangannya saat ini, keberadaan bleduran atau meriam sundut sudah mulai tergeser oleh permainan petasan yang dianggap lebih praktis.

Untuk dapat bermain bleduran diperlukan beberapa peralatan, yaitu: (1) sebatang bambo petung tua berdiameter 10--17 sentimenter dan panjang sekitar 1 meter dengan beberapa ruas. Ruas pertama sengaja tidak dibuat lubang, sedangkan ruas kedua dan ketiga diberi dua lubang berbentuk laras selebar 10 sentimeter dan 1 sentimeter sebagai tempat untuk menyundut; dan (2) bahan peledak berupa campuran karbit dan air atau minyak tanah.

Sedangkan cara bermainnya diawali dengan memasukan bahan peledak ke pangkal bleduran yang dipasang miring sekitar 10--20 sentimeter di atas tanah. Setelah itu ujung laras bleduran ditutup dengan kain basah agar uap karbit atau minyak tanah tidak keluar. Dan, agar bunyinya nyaring, lubang sundut ditutup dengan jari atau alat penutup lain selama satu hingga lima menit sebelum disundut dengan api. (gufron)
hal
Dilihat: