Sang Kancil dan Sang Katak

(Cerita Rakyat Daerah Lampung)
 
Alkisah, ada dua sahabat yaitu Kancil dan Katak yang selalu bersama bila mereka pergi. Sang Kancil adalah seekor binatang cerdik yang sering memanfaatkan Katak ketika mendapatkan kesulitan. Sementara, Sang Katak memiliki sifat penurut yang selalu bersedia menjalankan segala perintah Sang Kancil. Sang Katak tetap sabar walau sebenarnya tahu kalau dia hanya sekadar dipermainkan dan atau dimanfaatkan saja.

Tetapi kesabaran tentu ada batasnya. Hal ini bermula ketika mereka sepakat untuk mencari mentimun di ladang yang berbatasan langsung dengan hutan. Sesampainya di areal perladangan, Sang Kancil melihat sekumpulan buah mentimun matang yang tergeletak begitu saja di atas sebuah gundukan. Tanpa berpikir panjang, dia langsung berlari menuju sekumpulan mentimun tersebut dan meninggalkan Katak di tepi ladang. Dia tidak mengetahui kalau mentimun-mentimun itu berada di atas sebuah perangkap yang sengaja dipasang oleh pemilik ladang. Saat berada di atas gundukan dan hendak mengambil buah mentimun tiba-tiba tubuhnya terperosok masuk perangkap. Sang Katak yang datang kemudian tidak dapat berbuat apa-apa karena perangkap dibuat sedemikian rupa sehingga sulit untuk dibongkar.

Agar dapat terbebas dari perangkap, Sang Kancil lalu memutar otak. Tidak lama kemudian dia menyuruh Katak mencari kembang alang-alang untuk menutupi seluruh tubuhnya. Rencananya, kembang alang-alang itu akan dijadikan sebagai kamuflase agar tubuhnya terlihat seakan telah mati dan membusuk. Kembang alang-alang adalah sejenis tumbuhan yang dapat menarik serangga terutama lalat hinggap untuk mencari makan atau bertelur.

Beberapa jam kemudian, pemilik ladang datang memeriksa perangkapnya. Saat itu dia mendapati ada seekor kancil yang tidak bergerak dan telah dikerubuti lalat. Dia mengira kalau binatang itu telah mati. Namun, ketika pemilik ladang membuka pintu perangkap untuk mengeluarkannya, Kancil langsung bangun dan melarikan diri. Kancil pergi begitu saja meninggalkan katak yang masih berada di ladang.

Satu minggu kemudian Sang Kancil mengajak Katak mencari mentimun lagi di ladang yang berbeda. Tetapi kejadian serupa terulang kembali. Sang Kancil masuk perangkap dan menyuruh Katak mencari kembang alang-alang untuk mengelabui pemilik ladang. Saat pemilik ladang terpedaya, kancil segera melarikan diri meninggalkan katak.

Oleh karena selalu berhasil lolos, Sang Kancil menjadi ketagihan. Untuk ketiga kalinya dia mengajak Katak mencari mentimun di perladangan lain. Di sinilah Sang Katak mulai kesal karena makanannya bukanlah mentimun melainkan binatang-binatang kecil dan serangga. Dia merasa hanya dimanfaatkan Kancil untuk menolongnya bila terjebak dalam perangkap. Tetapi karena Kancil agak memaksa, terpaksa dia menurutinya.

Singkat cerita, sesampainya di ladang Kancil mulai beraksi tanpa perasaan khawatir masuk perangkap karena ada katak yang selalu menuruti segala perintahnya. Dia pun terkena perangkap dan menyuruh Katak mencari kembang alang-alang lagi. Sang Katak masih menurut mencari dan membawa kembang alang-alang untuk menutupi tubuh kancil.

Tidak lama kemudian pemilik ladang datang dan mendapati perangkapnya telah berisi binatang yang tergolek dengan tubuh dikerubuti lalat. "Wah, buyuk kupak iko pelanduk (sudah busuk pelanduk ini)," katanya sambil berusaha membuka pintu perangkap.

Saat pintu perangkap mulai terbuka sedikit, dari balik semak terdengarlah teriakan Sang Katak, "tangkah hidung, tangkah hidung, tangkah hidung (pukullah hidungnya)!"

Terkejut mendengar teriakan itu, pemilik ladang segera menutup kembali pintu perangkapnya. Dia lalu melihat sekeliling, namun tidak ada seorang pun yang berada di sekitar ladangnya. Dengan perasaan takut, curiga, sekaligus waspada, pemilik ladang kembali membuka perangkapnya secara perlahan. Setelah agak terbuka dia langsung menendang hidung Sang Kancil hingga mengaduh kesakitan. Pintu perangkap pun cepat-cepat ditutup lalu dibawa ke rumah. Sang Kancil yang masih berada di dalam perangkap akhirnya dijadikan sebagai menu santap malam bagi seisi keluarga pemilik ladang.

Sumber:
Diceritakan oleh Isa Syahri bergelar Sutan Turunan Mego (55 tahun)
Desa Peraduan Waras, Kecamatan Abung Timur, Kabupaten Lampung Utara
hal
Dilihat: