Mopahiva: Ulang Tahun ala Orang Kulawi

Setiap manusia dalam kehidupannya selalu diiringi oleh masa-masa kritis, yaitu suatu masa yang penuh dengan ancaman dan bahaya (Koentjaraningrat, 1985 dan Keesing, 1992). Masa-masa itu adalah peralihan dari tingkat kehidupan yang satu ke tingkat kehidupan lainnya (dari manusia masih berupa janin sampai meninggal dunia). Oleh karena masa-masa tersebut dianggap sebagai masa yang penuh dengan ancaman dan bahaya, maka diperlukan adanya suatu usaha untuk menetralkannya, sehingga dapat dilalui dengan selamat. Usaha tersebut diwujudkan dalam bentuk upacara yang kemudian dikenal sebagai upacara lingkaran hidup individu yang meliputi: kehamilan, kelahiran, khitanan, perkawinan, dan kematian. Tulisan ini terfokus pada upacara di seputar kelahiran, yaitu upacara memperingati hari kelahiran atau ulang tahun pada masyarakat Kulawi di Pulau Sulawesi.

Waktu, Tempat, Pemimpin, dan Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara
Hari kelahiran atau biasa disebut oleh masyarakat Kulawi dengan mopahiva ini hanya dirayakan ketika seseorang telah berumur satu hingga lima tahun dengan berbagai macam tujuan, di antaranya: sebagai ungkapan rasa syukur karena telah diberikan kehidupan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa; ungkapan rasa syukur karena telah diberikan kesembuhan dari suatu penyakit; dan atau sebagai syarat bagi seorang perempuan bila akan melangsungkan perkawinan1.

Prosesinya sendiri diadakan di dalam rumah orang yang diupacarakan dan dipimpin oleh seorang tobelia (dukun) yang memiliki keahlian khusus sebagai penyembuh orang sakit (telukpalu.com). Dalam melaksanakan tugasnya tobelia dibantu oleh: (1) topopolibuka, bertugas sebagai penterjemah setiap ucapan dan atau isyarat (tangan, mata, raut muka dan lain sebagainya) ketika tobelia sedang mengalami trance.; (2) sekelompok laki-laki dan perempuan tua (disebut balailo dan bangkele) yang bertugas menyanyikan syair-syair berisi mantera (rego); (3) topogima, bertugas mengiringi para balailo dan bangkele menggunakan gima (gendang) dan lengtoa (semacam tambur kecil terbuat dari kayu cempaka dengan resonatur dari kulit anoa); (4) topejunu, bertugas memandikan nihive (anak yang akan diupacarakan); dan (5) sando mpoana (dukun beranak), totua nuada (tetua adat), serta totu ngata (tetua kampung) yang bertindak sebagai saksi sekaligus pengawas jalannya upacara.

Peralatan Upacara
Peralatan dan perlengkapan yang perlu dipersiapkan dalam upacara mopahiva adalah: (1) seekor bengga (kerbau); (2) seekor manu (ayam); (3) pohampe (tenda) dari bambu berbentuk menyerupai tangga yang dijalin saling melintang dan membujur dengan panjang sekitar tiga meter. Di tengahnya terdapat empat buah kaso yang diikat dengan rotan dan dipasangi sejumlah delapan santei (buah pinang), sementara di bagian atasnya ditutup dengan kain mbesa. Pohampe ini nantinya akan digantungkan di atas ruangan upacara; (4) dulang palangka (dulang berkaki) sebagai alat menaruh makanan; (5) here (cerek); (6) segenggam ohe mputi (beras) guna menabur kepala kerbau sebelum dipotong; (7) tujuh lembar daun pisang; (8) pegia dan ncala (sejenis rerumputan); dan (8) sagu yang dimasukkan dalam ruas bambu dan dimasak hingga kental lalu dibungkus dalam sigar. Sagu merupakan lambang ikatan kekeluargaan di antara peserta upacara.

Jalannya Upacara
Menjelang pelaksanaan upacara, orang tua nihive akan mengadakan pergelaran selama dua hari berturut-turut dimulai dari pukul 21.00 WIT hingga pukul 06.00 atau pukul 07.00 WIT. pergelarannya sendiri berupa tarian dan nyanyian (morego) yang dibawakan oleh penari sekaligus penyanyi laki-laki (balailo) dan perempuan (bangkele). Mereka menyanyikan mantera-mantera yang mengandung suatu permintaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar anak yang akan diupacarakan (nihive) mendapat keselamatan.

Usai pergelaran, keesokan harinya nihive beserta keluarga dan tobelia pergi menuju sungai terdekat. Sesampainya di tepi sungai, sang ibu akan langsung memandikan nihive sebagai simbol pensucian diri sekaligus peluruhan berbagai macam penyakit dari tubuh. Selanjutnya, dia didudukkan di atas tujuh lembar tava mpangana (daun pinang) untuk dikenakan pakaian adat lengkap dengan ikat kepala yang diberi nama bai2. Selesai pemasangan bai, secara bergantian rombongan menginjakkan kaki mereka ke daun pisang bekas tempat mendudukkan nihive. Kemudian, rombongan kembali lagi ke rumah untuk melaksanakan tahapan upacara selanjutnya. Sebagai catatan, selama perjalanan pulang nihive (anak yang diupacarakan) tidak boleh menyentuh tanah dan harus digendong oleh ibunya. Bila sampai menyentuh tanah, maka dipercaya dapat mendatangkan kemalangan berupa masuknya roh jahat yang akan membuat terganggunya kesehatan jasmani dan rohaninya.

Ketika berada di halaman rumah, topejunu yang telah menunggu akan menyiramkan sedikit air dari dalam here yang telah dicampur dengan serpihan-serpihan kecil kayu pegia dan ncala pada tubuh anak yang dupacarakan. Acara kemudian dilanjutkan dengan lantunan rego selama sekitar setengah jam hingga tiba waktunya untuk memotong bengga (kerbau). Beberapa saat sebelum dipotong, sekujur tubuh (kepala hingga ekor) bengga ditaburi beras sebagai simbol kesucian hati dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Kemudian, tobalia akan mengajak si anak bersama ibunya mendekati bengga. Setelah berada di dekat kepala bengga, sambil memegang tono lampa (parang panjang) tobalia akan meraih tangan kanan si anak mulai membaca mantera (gane): " Sipuro-puramo kita hi mantimbemo bengga, domo maria kita ma dua-dua, maka puramu buka madea rahi rasampamo bengga ". Artinya, semua hadir turut menyaksikan pemotongan kerbau sehingga si anak dapat terbebas dari segala macam penyakit dan kelak memiliki banyak rezeki. Selesai gane, tobalia langsung mengayunkan tono lampanya ke arah leher bengga.

Setelah bengga mati dagingnya dipotong-potong dan (ditibo) dibagikan kepada peserta berdasarkan peranannya dalam upacara, yaitu: tobalia mendapat paha bagian kanan; topo polibuka mendapat leher bengga; sando mpoana, totua nuada, topodede, dan tina nggadea (orang yang membawa makanan) mandapatkan daging sejumlah satu kilogram; topogima, topolento, dan topojunu mendapatkan 1/4 kilogram daging; sedangkan sisanya digunakan sebagai sajian dalam acara makan bersama.

Selesai pembagian daging bengga para peserta upacara kembali lagi ke dalam rumah menunggu daging sisa pembagian serta makanan lain dimasak untuk acara makan bersama. Sambil menunggu tersebut, dinyanyikan kembali rego sebagai hiburan sekaligus pengingat akan makna dari upacara yang sedang dijalankan. Ketika seluruhnya telah matang, makanan pun dibagikan kepada seluruh peserta upacara. Khusus untuk nihive (anak yang diupacarakan), tobalia, madika (raja), totua ngata (tetua kampung), dan totua nuada (tetua adat), makanan disajikan dalam dulang palangka (berisi daging, hati, jantung, dan paru-paru bengga) dan santi maka/ tempurung kelapa yang berisi sayuran. Sementara tamu lainnya cukup dengan memakai piring dan gelas biasa. Selesai makan bersama mereka pulang ke rumah masing-masing.

Keesokan harinya, tobalia datang kembali untuk memandikan nihive. Adapun lokasinya bukan lagi di sungai, melainkan hanya di depan pintu rumah dengan menggunakan air dalam here yang telah dicampur dengan serutan kayu pegea serta ncela. Pada saat menyiramkan air ke tubuh si anak untuk yang ketujuh kalinya tobalia membaca mantera (gane): “Karampua ri langi, karampua mataeo, mata vula maporahika moto no pahaga gika moto, hi mulina hampe tupuna“. Artinya, yang di langit, di matahari, dan di bulan agar memberikan rezeki dan kekuatan kepada seluruh keturunannya sampai kepada anak cucunya. Dan, dengan selesainya prosesi memandikan nihive tersebut, maka berakhir pulalah seluruh rentetan rangkaian dalam upacara mopahiva pada masyarakat suku bangsa Kulawi.

Nilai Budaya
Ada beberapa nilai yang terkandung dalam upacara mopahiva. Nilai-nilai itu antara lain adalah: kebersamaan, ketelitian, gotong royong, keselamatan, dan religius. Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian sanak kerabat untuk berdoa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan.

Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian.

Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, menjadi pemimpin upacara, membantu pemimpin upacara, dan lain sebagainya.

Nilai keselamatan tercermin dalam adanya kepercayaan bahwa peralihan kehidupan seorang individu dari satu masa ke masa yang lain penuh dengan ancaman (bahaya) dan tantangan. Untuk mengatasi krisis dalam daur kehidupan seorang manusia itu, maka perlu diadakan suatu upacara. Mopahiva merupakan salah satu upacara yang bertujuan untuk mencari keselamatan pada masa kanak-kanak. (ali gufron)

Sumber:
Keesing, Roger. 1992. Antropologi Budaya Edisi ke dua. Jakarta: Erlangga.
Koentjaraningrat. 1985. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian Rakyat.
"Mopahiva/Ulang Tahun", diakses dari http://telukpalu.com/2007/10/mopahiva-ulang-tahun/, tanggal 5 Februari 2015.
__________________________________________
1. Pada masyarakat Kulawi bila akan melangsungkan pernikahan, maka saat perhitungan mahar pihak calon mempelai laki-laki umumnya menanyakan jumlah mopahiva yang telah dilakukan oleh calon memelai perempuan.

2. Bai terbuat dari sagu yang dimasak dalam ruas bambu hingga kental lalu dibentuk sedemikian rupa menjadi seperti lingkaran. Agar lebih menarik, sagu matang itu dibungkus lagi dengan sigar/higa berwarna merah dan ditetesi minyak kelapa sehingga menimbulkan bercak-bercak kecil pada permukaannya.
hal
Dilihat: