Upacara Popanaung pada Masyarakat Kulawi

Kulawi adalah salah satu suku bangsa yang ada di daerah Sulawesi Tengah dan termasuk dalam kelompok Palu-Toraja. Mereka hidup tersebar di sekitar Danau Lindu, dataran Kulawi, dataran Gimpu, dan di sekitar aliran Sungai Koro1. Orang Kulawi masih mempertahankan berbagai macam upacara tradisional yang sangat erat kaitannya dengan daur hidup (lingkaran hidup), diantaranya Rakeho dan Popanaung. Rakeho adalah upacara masa peralihan bagi seorang laki-laki dari masa kanak-kanak menuju dewasa dengan prosesi meratakan gigi bagian depan atas dan bawah serata dengan gusi. Melalui upacara ini seorang laki-laki akan dianggap sebagai orang dewasa yang pada gilirannya akan mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama, sebagaimana anggota masyarakat lainnya.

Sementara Popanaung adalah upacara masa peralihan bagi seorang bayi dari masa dalam kandungan ke kehidupan nyata di dunia. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan sang bayi kepada dunia luar (fana) sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur orang tua atas karunia yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Dalam artikel ini akan diuraikan upacara Popanaung yang meliputi: waktu upacara, peralatan yang digunakan dalam upacara, tata laksana atau jalannya upacara, dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Waktu, Tempat, Pemimpin, dan Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara
Upacara Popanaung dilaksanakan pada saat bayi baru lahir hingga usianya mencapai lima hari. Adapun waktunya pada pagi hari dengan harapan agar kelak sang bayi akan memiliki masa depan cerah, secerah sinar mentari pagi. Tempat upacaranya dilaksanakan di dalam dan di teras rumah, bergantung dari tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh si bayi. Untuk tahap memandikan dan menyelimuti bayi dengan kain nunu diadakan di dalam rumah, sementara tahap penginjakan vatu pengaha berlangsung di depan tangga rumah.

Seluruh tahapan upacara tersebut dipimpin oleh sando mpoana atau dukun beranak. Dalam melaksanakan tugasnya sando mpoana dibantu oleh mobago yang akan menyiapkan berbagai macam peralatan serta perlengkapan upacara. Sedangkan pihak lain yang juga terlibat dalam penyelenggaraan upacara adalah para motivoi atau saksi yang terdiri atas ayah dan ibu si bayi beserta dengan sanak kerabat dan tetangga terdekatnya.

Peralatan Upacara
Peralatan dan perlengkapan yang perlu dipersiapkan dalam upacara Popanaung adalah: nunu (sejenis kain yang terbuat dari kulit kayu beringin), ide (tikar), tavala (tombak), guma (parang), kaliavo (perisai), kawipi (bakul tempat menimpan beras), kakar (bakul kecil), vatu pengaha (batu asah), dan pengikat kepala (halili)2. Masing-masing peralatan dan perlengkapan tersebut mengandung makna tersendiri, bergantung dari jenis kelamin bayi yang akan diupacarakan. Misalnya, bagi bayi perempuan tikar dan cangkul kecil mengandung makna agar kelak apabila ditinggal mati oleh suami dapat mencari nafkah sendiri dengan mengerjakan ladang dan atau sawah. Sedangkan bagi bayi laki-laki tombak, parang, dan perisai merupakan perlambang keberanian, kepahlawanan, dan keselamatan diri dalam menjaga harta bendanya.

Jalannya Upacara
Apabila waktu pelaksanaan upacara popanaung telah disepakati, pihak keluarga mulai mempersiapkan segala peralatan dan perlengkapannya, termasuk memasang beberapa benda di depan tangga atau halaman rumah sebagai penanda bahwa akan diadakan popanaung. Benda-benda ini juga merupakan simbol jenis kelamin si bayi yang akan diupacarakan. Misalnya, apabila bayi yang akan di popanaung berjenis kelamin perempuan, maka yang dipasang atau digantungkan secara melintang adalah tavala yang bagian tengahnya diikatkan sebuah higa (mahkota) yang biasa dikenakan oleh para perempuan Kulawi ketika sedang berpakaian adat. Sedangkan bila bayinya berjenis kelamin laki-laki, maka yang digantungkan berupa tavala (tombak), guma (parang), dan kaliavo (perisai).

Setelah segala perlengkapan dan peralatan siap, keesokan harinya Sando Mpoana bersama dengan mobago datang untuk memulai pelaksanaan upacara. Prosesinya sendiri diawali dengan memandikan bayi yang dilakukan oleh sang ibu. Setelah dimandikan, bayi diselimuti dengan kain nunu dan ditidurkan di atas tikar. Bila yang di popanaung adalah bayi perempuan, Sando Mpoana akan menggendong dan memasukkannya ke dalam kawipi untuk dibawa menuju tangga rumah. Namun bila bayinya berjenis kelamin laki-laki, Sando Mpoana langsung membawanya menuju tangga. Pada saat berjalan menuju tangga tersebut, di belakang Sando Mpoana diikuti oleh Mobago dan keluarga si bayi sambil membawa sube dan kararo.

Sesampainya di depan pintu Sando Mpoana berhenti sejenak dan menyerahkan si bayi pada Mobago. Kemudian, dia berjalan lagi menuruni tangga secara perlahan, sedangkan Mobago beserta keluarga si bayi tetap di pintu rumah. Mereka menunggu hingga Sando Mpoana berada di dekat vatu pengaha yang ditaruh di depan anak tangga pertama. Vatu pengaha itu selain nantinya akan diinjak oleh si bayi, juga sebagai penanda bahwa tangga akan digunakan untuk popanaung. Sebelum seluruh prosesi popanaung selesai, anggota keluarga atau orang lain yang ingin keluar-masuk rumah harus melalui tangga belakang yang umumnya berada di bagian dapur.

Ketika telah berada di depan vatu pengaha Sando Mpoana memberi isyarat kepada Mobago untuk mulai berjalan turun-naik tangga sebanyak tujuh kali. Pada hitungan yang ketujuh Sando Mpoana akan menerima si bayi dari Mobago lalu menurunkannya secara perlahan hingga kedua kakinya menyentuh atau menginjak vatu pengaha. Saat kaki si bayi akan menyentuh vatu pengaha Sando Mpoana akan nogane atau membaca sebuah mantera berbunyi "matua pa tanuana na ngana ei mai pade vatu" yang berarti "kepala anak ini hendaklah lebih keras dari batu."

Usai menginjakkan kaki si bayi pada vatu pengaha Sando Mpoana akan membawanya kembali ke dalam rumah. Acara kemudian dilanjutkan dengan makan bersama sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Makan bersama ini merupakan akhir dari serentetan rangkaian dalam upacara popanaung atau turun tanah pada masyarakat suku bangsa Kulawi.

Nilai Budaya
Ada beberapa nilai yang terkandung dalam upacara adat popanaung. Nilai-nilai itu antara lain adalah: kebersamaan, ketelitian, gotong royong, keselamatan, dan religius. Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian besar anggota masyarakat dalam suatu tempat untuk makan dan doa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan. Dalam hal ini, kebersamaan sebagai komunitas yang mempunyai wilayah, adat-istiadat dan budaya yang sama.

Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian.

Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, menjadi pemimpin upacara, dan lain sebagainya.

Nilai keselamatan tercermin dalam adanya kepercayaan bahwa peralihan kehidupan seorang individu dari satu masa ke masa yang lain penuh dengan ancaman (bahaya) dan tantangan. Untuk mengatasi krisis dalam daur kehidupan seorang manusia itu, maka perlu diadakan suatu upacara. Popanaung merupakan salah satu upacara yang bertujuan untuk mencari keselamatan pada tahap peralihan dari masa gadis menuju dewasa. (gufron)

Sumber:
1. "Suku Kulawi, Sulawesi", diakses dari http://protomalayans.blogspot.com/2012/10/suku-kulawi-sulawesi_12.html, tanggal 4 Januari 2015.
2. "Popanaung (Upacara Turun Tanah), diakses dari http://telukpalu.com/2007/11/popanaung-upacara-turun-tanah/, tanggal 5 Januari 2015.
hal
Dilihat: