Dayang Kumunah

(Cerita Rakyat Daerah Riau)

Alkisah, pada zaman dahulu kala hidup seorang laki-laki tua sebatang kara bernama Awang Gading. Untuk menghidupi dirinya Awang Gading bekerja menangkap ikan di sungai. Apabila hasil tangkapan berlimpah, sebagian dia bungkus dan bawa ke pasar untuk ditukar dengan beras atau barang kebutuhan pokok lain. Kegiatan ini (menangkap ikan) dilakukannya setiap hari dengan hati gembira tanpa pernah mengeluh.

Suatu hari, ketika dia sedang mencari ikan Awang Gading mendengar tangis seorang bayi. Oleh karena hari itu dia sedang sial dengan tidak mendapatkan seekor ikan pun, maka tangisan sang bayi tadi menjadi perhatiannya. Setelah mengemasi peralatan memancingnya dia lalu mencari sumber suara tangisan itu. Tak berapa lama berselang, dia mendapati seorang bayi masih merah tergeletak di bawah sebuah pohon rindang di tepi sungai.

Awang Gading segera mendatangi sang bayi untuk menenangkannya. Pikirnya, mungkin ibunya sedang mencuci pakaian atau mandi di sungai. Dia bermaksud menjaga sang bayi dari hal-hal yang tidak diinginkan hingga sang ibu kembali. Namun, setelah ditunggu hingga menjelang senja ternyata ibu sang bayi tidak juga muncul. Entah mengapa, dia memang sengaja ditinggalkan di tempat itu. Awang Gading memutuskan untuk membawa sang bayi pulang ke rumah. Dia menamainya Dayang Kumunah.

Kehadiran Dayang Kumunah di rumah Awang Gading ternyata menarik perhatian para tetangga. Beberapa di antara mereka, terutama kepala kampung, menganggap bahwa Dayang Kumunah sebagai bayi titipan raja penguasa sungai. Anggapan inilah yang membuat para warga menyarankan agar Awang Gading merawat dan memelihara Dayang Kumunah dengan baik.

Belasan tahun kemudian, Dayang Kumunah tumbuh menjadi gadis yang bertingkah laku sopan dan berbudi luhur. Ketika dewasa, dia menjelma menjadi seorang yang cantik jelita dengan tetap mempertahankan sifat yang sama. Sayangnya, dia memiliki satu kekurangan yaitu tidak pernah tertawa. Sedari bayi hingga menjadi gadis cantik, tak ada seorang pun yang pernah melihatnya tertawa, termasuk Awang Gading sendiri.

Namun, kekurangan itu tertutup oleh kecantikan, kemolekan serta kesintalan tubuh Dayang Kumunah. Oleh sebab itu, selalu saja ada pria yang penasaran dan ingin bertemu dengannya. Salah satunya adalah Awangku Usop, seorang pemuda kaya raya dari kampung sebelah. Ketika mereka bertemu muka, Awangku Usop langsung jatuh cinta dan mengajak Dayang Kumunah menikah.

Mendengar lamaran Awangku Usop, Dayang Kumunah berusaha memberi penjelasan bahwa dia bukanlah manusia biasa melainkan "anak penghuni sungai". Selain itu, dia juga tidak boleh tertawa. Jadi, Awangku Usop tidak boleh memintanya untuk tertawa. Apabila Awangku Usop bersedia menerima "perbedaan" tersebut, maka Dayang Kumunah siap menjadi isterinya.

Terpesona oleh kecantikan, kemolekan, serta kesintalan tubuh Dayang Kumunah, tanpa berpikir panjang Awangku Usop langsung menyanggupinya. Mereka pun akhirnya menikah dalam sebuah pesta yang sangat meriah. Hampir seluruh warga masyarakat yang tinggal di sekitar dusun tempat tinggal Dayang Kumunah maupun Awangku Usop menghadiri prosesi pernikahan.

Pernikahan mereka berlangsung bahagia dengan dikaruniai lima orang anak. Dayang Kumunah melaksanakan tugasnya dengan penuh keikhlasan walaupun hanya berada pada sektor domestik alias mencuci, masak, membersihkan rumah, meladeni suami, merawat anak-anak, dan lain sebagainya. Dia tampak bahagia walau tidak pernah sekalipun tertawa dan hanya tersenyum saja.

Suatu ketika, karena telah lanjut usia Awang Gading meninggal dunia. Hal ini membuat Dayang Kumunah menjadi sedih. Raut mukanya terlihat murung dan seakan tidak memiliki gairah hidup. Sang suami yang melihat hal itu berusaha menghiburnya dengan segala macam cara sehingga perlahan-lahan Dayang Kumunah kembali gembira dan dapat merelakan kepergian Awang Gading yang telah mengasuhnya sejak bayi.

Sukses dalam mengembalikan keceriaan Dayang Kumunah, membuat Awangku Usop lupa akan janjinya. Dia malah berusaha membuat isterinya tidak hanya tersenyum, tetapi juga tertawa. Tepat saat anak bungsu mereka mulai dapat berjalan, Awangku Usop mengerahkan anak-anaknya untuk menggoda si bungsu sehingga mereka pun (termasuk si bungsu) tertawa terkekeh-kekeh.

Agar tidak kehilangan moment, Awangku Usop segera berteriak memanggil sang isteri yang sedang menanak nasi di dapur. Ketika Dayang Kumunah datang, mereka mengajaknya tertawa bersama menyaksikan tingkah polah si bungsu yang memang sangat lucu. Walhasil, Dayang Kumunah lepas kendali dan akhirnya tertawa terbahak menyaksikan si bungsu berusaha berdiri di atas kedua kakinya yang gemuk dan menggemaskan. Sebaliknya, Awangku Usop dan keempat anaknya menjadi tertegun karena melihat insang di dalam rongga mulut Dayang Kumunah.

Tidak berapa lama setelahnya, sadar akan kesalahan, Dayang Kumunah langsung terdiam. Tanpa berkata sepatah pun, dia segera berlari menuju sungai meninggalkan suami dan anak-anaknya. Sesampainya di sungai, dia menceburkan diri dan seketika itu juga tubuhnya beralih ujud menjadi seekor ikan. Awangku Usop yang mengejar di belakangnya tidak dapat berbuat apa-apa. Dia hanya diam terpaku ketika sang ikan jelmaan Dayang Kumunah berputar di sekelilingnya dan kemudian pergi menjauh. Yang ada di benaknya hanyalah kesedihan serta penyesalan karena telah melanggar janji untuk tidak membuat sang isteri tertawa.

Namun ibarat pepatah, nasi telah menjadi bubur. Dayang Kumunah telah menjelma menjadi ikan bersisik mengkilat dan berekor layaknya sepasang kaki perempuan yang disilangkan. Oleh masyarakat setempat ikan itu kemudian dinamakan sebagai patin. Dahulu mereka pantang memakan ikan patin karena dianggap sebagai jelmaan Dayang Kumunah.

Diceritakan kembali oleh ali gufron
hal
Dilihat: