Farid Anfasa Moeloek

Farid Anfasa Moeloek atau lebih lengkapnya Prof. Dr. H. Farid Anfasa Moeloek, Sp.O.G. bukanlah nama asing dalam dunia kesehatan di Indonesia. Pria kelahiran Liwa ini pernah menduduki posisi penting dalam pemerintahan Republik Indonesia sebagai Menteri Kesehatan pada era Presiden Soeharto (Kabinet Pembangunan VII) dan dalam Kabinet Reformasi masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie (23 Mei 1998-23 Oktober 1999)1.

Farid adalah anak dari Abdoel Moeloek, seorang dokter asal Padang Panjang, Sumatera Barat, yang namanya begitu lekat dengan masyarakat Lampung sehingga diabadikan sebagai Rumah Sakit Umum Daerah Bandarlampung. Kiprah Abdoel Moeloek di dunia kedokteran sendiri dimulai ketika dia merantau ke Batavia untuk melanjutkan pendidikan di Stovia, sekolah kedokteran yang didirikan Belanda2. Lulus dari Stovia Abdoel Muluk memutuskan hijrah ke Semarang dan bekerja sebagai tenaga medis di Rumah Sakit Dokter Karyadi. Namun, karena situasi politik dan keamanan waktu itu tidak mendukung, Abdul Moelok mengasingkan diri ke Desa Winong, Liwa, Lampung Barat2.

Di Liwa Abdoel Moelok Mengabdikan diri menjadi dokter bagi rakyat kecil yang berada di sekitar tempat tinggalnya, sementara isterinya Poeti Alam Naisjah bekerja sebagai guru. Saat menetap di Liwa inilah Farid lahir pada tanggal 28 Juni 1944. Tidak lama setelahnya (ketika bangsa Indonesia merdeka) Abdoel Moeloek beserta keluarga pindah ke Tanjung Karang untuk menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Tanjung Karang yang sebelumnya dikelola oleh Jepang.

Semasa kecil, Farid mengenyam pendidikan dasar hingga menengahnya di Tanjung Karang. Oleh karena ingin menjadi tukang insinyur, selepas SMA dia hijrah ke Bandung dan masuk ke Fakultas Teknis Sipil Institut Teknologi Bandung. Namun baru berjalan beberapa bulan (sekitar tiga bulan), menurut Pramudiarja (2012) Farid memutuskan pindah ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) karena ada sedikit "intervensi" dari keluarga yang kebanyakan berprofesi sebagai dokter. Sementara menurut Farid sendiri yang dilansir oleh pdpersi.co.id, ada dua alasan kepindahannya ke FKUI, yaitu: ingin tampil beda dari abangnya yang sudah lebih dahulu menjadi engineer dan terpengaruh oleh figur ayahnya terutama saat menghadapi Belanda. Waktu itu, sebagai Kepala Rumah Sakit Tanjung Karang Abdoel Moeloek bekerja siang malam menangani para korban perang. Dengan mengutamakan rasa kemanusiaannya, dia merawat seluruh korban yang datang ke rumah sakit tanpa membedakan apakah itu pejuang republik atau serdadu Belanda.

Lepas dari keterpaksaan atau tidaknya masuk FKUI yang jelas pada tahun 1970 Farid berhasil menamatkan pendidikannya dan memperoleh gelar dokter. Bahkan tidak hanya gelar yang diperoleh dari FKUI, melainkan juga pasangan hidup bernama Nila Juwita. Mereka menikah pada tahun 1972. Dari pernikahan itu mereka dikaruniai tiga orang anak, yaitu: Muhamad Reiza Moeloek, Puti Alifa Moeloek, dan Puti Annisa Moeloek. Ketiganya dididik secara demokratis, termasuk dalam menentukan jenis pendidikan yang akan ditempuh setelah tamat SMA. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila setelah dewasa tidak ada yang mengikuti jejak Farid menjadi dokter. Alasannya cukup sederhana, yaitu profesi dokter relatif sibuk dan tidak mengenal waktu5.

Empat tahun setelah menikah (1976) Farid yang tetap melanjutkan pendidikannya berhasil meraih gelar Sp.O.G (spesialis obgyn dan gynecologi atau kandungan dan kebidanan) di fakultas yang sama. Dan, tidak puas dengan gelar tersebut, Farid sekolah lagi hingga menyandang gelar Doktor Ilmu Kedokteran dengan predikat Cum Laude, juga dari fakultas yang sama.

Selain mendapat ijazah dari FKUI Farid juga sempat mengecap pendidikan di luar negeri, di antaranya: (a) The Course in Fertility Management and MCH Care (Perawatan Kesehatan Ibu dan Anak) yang diselenggarakan tahun 1977 oleh WHO di Singapura; (b) The Course in Infertility Management and Gynbaecologic Microsurgery di Universitas John Hopkins, Baltimore, USA (1979); dan (c) Advance Course in Operative Endoscopy in Fertility and Infertility di Elizabet Krankenhouse, Hamburg, Jerman (1980)5.

Sebelum mendapat gelar strata duanya Farid telah memulai karir di bidang kedokteran dengan menjadi staf pengajar di FK UI. Dia mengajar ilmu kebidanan dan ilmu lingkungan untuk mahasiswa strata satu dan Obstetri serta Ginekologi untuk Pascasarjana. Selanjutnya, dia sempat menjadi Direktur Pascasarjana UI dari tahun 1996-1998; Kepala Subbagian Kesehatan Reproduksi Klinik Raden Saleh; Deputi Direktur Bidang Akademik Program Pascasarjana Universitas Indonesia (1990-1996); menjadi anggota MPR RI (1999); Ketua Pengarah Tim Pemeriksaan Calon Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia (2004)6; dan Penasihat bidang Penanganan Masalah Musibah, Pelembagaan Pola Hidup Sehar, serta Pengembangan Generasi Muda HIPPRADA (Himpunan Pandu Pramuka Wreda)7.

Sementara dalam bidang keorganisasian Farid juga mengikuti sejumlah perkumpulan, diantaranya: Yayasan Koalisi Indonesia Sehat; Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI); Perkumpulan Kontrasepsi Mantap Indonesia (PKMI); Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI); Ikatan Dokter Indonesia (IDI); Medical Association of South East Asia Nation; Honorary Member of International Society on Human Reproduction; Honorary Member of Society on Fallopian Tube in Health and Disease5; dan General Chairman of the VIII World Congress on Human Reproduction and IV World Conference on Fallopian Tube in Health and Disease6.

Dari sekian banyak jabatan yang telah diemban oleh Farid tersebut, ada satu jabatan yang sangat prestisius yaitu sebagai Menteri Kesehatan. Pada saat Soeharto terpilih kembali sebagai presiden RI dan membentuk Kabinet Pembangunan VII, Farid dipercaya menduduki jabatan Menkes pada tanggal 16 Maret 1998. Jabatan ini juga tetap dia emban walau Soeharto dilengserkan dan diganti oleh BJ Habibie melalui Kabinet Reformasi Pembangunannya periode 1998-1999.

Setelah tidak menjabat sebagai menteri, pria yang dikukuhkan sebagai Guru Besar FKUI tahun 1994 ini tetap mengabdikan dirinya pada dunia kedokteran. Baginya, kesehatan merupakan hal fundamental yang dapat memutuskan rantai kemiskinan dan kebodohan di Indonesia2. Oleh karena itu, bersama para pakar dari berbagai disiplin ilmu (Prof Emil Salim, Sri Mulyani, Malik Fajar, Muladi) dia berusaha menanamkan paradigma sehat pada seluruh masyarakat Indonesia. Adapun wadahnya berupa yayasan yang diberi nama Koalisi Indonesia Sehat 2010.

Paradigma sehat yang digagas oleh Prof. Moeloek bermula dari konsepsi yang salah tentang kedokteran dan kesehatan di Indonesia. Menurutnya, saat ini konotasi kesehatan seolah-olah hanya terfokus pada pelayanan dasar, seperti puskesmas dan rumah sakit. Padahal, di dalam konsep kesehatan sejatinya ada problem kesehatan keluarga, air bersih, rumah sehat, lingkungan sehat, gizi, maupun olahraga. Jadi, harus ada korelasi yang erat antara kesehatan individu, keluarga, masyarakat, dan perilaku bangsa2.

Agar tercapai kondisi kesehatan yang menyeluruh bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia, maka para dokterlah yang sejatinya bisa menjadi agent of changenya. Oleh karena itu paradigma sehat perlu digalakkan bagi para dokter dan masyarakat agar terjadi perubahan cara berfikir dari yang semula diartikan sebagai "bagaimana menyembuhkan orang sakit" menjadi "bagaimana warga negara Indonesia sehat mental, fisik, spiritual, lingkungan, dan sebagainya"4.

Paradigma sehat harus didukung oleh beberapa faktor penting agar cepat terlaksana, yaitu: (a) konsep atau pemikiran yang harus dijalankan; (b) competense atau kemampuan melaksanakan konsep tersebut. Competence terdiri atas rencana strategi, kendala-kendala yang dihadapi, kelemahan, kekuatan, ancaman, dan lain sebagainya; dan (c) koneksi yang saling bekerja sama dan saling mendukung4.

Adapun contoh pengejawantahan dari paradigma sehat dapat berupa pemberian dana bagi Pertamina agar dapat menarik timbal dan plumbam yang ada dalam bahan bakar minyak yang mereka produksi. Tujuannya adalah untuk mengurangi polusi udara yang dapat menyebabkan otak kanak-kanak menjadi mengkerut dan kehilangan IQ point bila menghirupnya. Contoh pengejawantahan lainnya adalah dikembangkannya konsep dokter keluarga yang sewaktu-waktu dapat berkeliling ke rumah-rumah untuk memberikan penyuluhan, memeriksa kesehatan dan lain sebaginya4.

Foto: http://www.kalbe.co.id/AboutKalbe/KalbeinBrief/BoardofCommissioners.aspx
Sumber:
1. Heri Wardoyo, dkk. 2008. 100 Tokoh Terkemuka Lampung, 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Bandar Lampung: Lampung Post. Hlm. 186-189.

2. Andriyani, Titik. 2009. "Keluarga Moeloek, Salah Satu Dinasti Dokter Sukses di Indonesia", diakses dari https://suprizaltanjung.wordpress.com/2013/03/18/keluarga-moeloek-salah-satu-dinasti-dokter-sukses-di-indonesia/, tanggal 22 Juli 2016.

3. Pramudiarja, AN Uyung. 2012. "Prof Dr Farid A Moeloek, SpOG Jadi Dokter karena Terpaksa", diakses dari http://health.detik.com/read/2012/01/09/112831/1810124/1201/prof-dr-farid-a-moeloek-spog-jadi-dokter-karena-terpaksa, tanggal 4 Agustus 2016.

4. "Prof DR dr H Farid Anfasa Moeloek SpOG: Indonesia Sehat, Bila Menerapkan Paradigma Sehat, diakses dari http://www.pdpersi.co.id/?show=detailnews&kode=189&tbl= figur, tanggal 6 Agustus 2016.

5. Santoso, Teguh Budi. 2009. "Prof.Dr.dr.H. Farid Anfasa Moeloek, SpOG", diakses dari http:// health.detik.com/read/2009/07/06/123618/1159700/774/prof-dr-dr-h-farid-anfasa-moeloek-spog, tanggal 20 Juli 2016.

6. "Faried Anfasa Moeloek" diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Faried_Anfasa_ Moeloek, tanggal 22 Juli 2016.

7. "Demi Kesehatan Masyarakat Bentuk Yayasan Koalisi Indonesia Sehat 2010", diakses dari http://www. gemari.or.id/cetakartikel.php?id=933, tanggal 3 Agustus 2016.
hal
Dilihat: