Pancing

Pancing adalah alat untuk menangkap ikan yang secara umum terdiri dari beberapa bagian yaitu: mata pancing, tali pancing, umpan, gagang pancing atau joran, pelampung, pemberat, dan lain sebagainya. Namun, mengingat ada ribuan bahkan jutaan jenis ikan yang dapat ditangkap, maka terdapat variasi dari alat tangkap pancing yang digunakan. Misalnya, masyarakat di Kepulauan Seribu mengkategorikan alat tangkap pancing menjadi dua, yaitu alat tangkap pancing tanpa umpan dan alat pancing berumpan.

Alat tangkap pancing tanpa umpan terdiri dari:
(a) pancing tonda (troll line); (b) pancing huhate (pole and line); dan (c) pancing yang ditarik (drag line).

Sedangkan alat tangkap pancing berumpan dibagi lagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
a. Pancing tangan dan pancing ulur sederhana
Jenis pancing yang juga digunakan oleh sebagian besar nelayan di Indonesia ini ada yang memakai satu mata pancing dan ada juga yang memasang dua hingga empat mata pancing sekaligus. Pancing tangan (di tempat lain ada yang menamakan pancing usep, pancing jegog, pancing mungsing, pancing gambur, dan lain sebagainya) dapat digunakan di mana saja, seperti: tebing pantai, daerah bebatuan di tepi pantai, maupun diatas perahu. Sedangkan jenis-jenis ikan yang biasa dipancing menggunakan pancing tangan adalah ikan kakap merah, snapper, ekor kuning (ceasio sp.), Caranx sp., dan lain sebagainya.

b. Pancing bergagang
Pancing bergagang pancing pada prinsipnya sama dengan pancing tangan dan pancing ulur. Bedanya hanyalah pada penggunaan gagang yang terbuat dari kayu, besi, atau bambu yang panjangnya antara 2 hingga 3 meter. Jenis pancing bergagang diantaranya adalah pancing welwsan, pancing tiger, pancing dewel, pancing sumbal, pancing pemaphav dan lain sebagainya. Sedangkan ikan-ikan yang menjadi tujuan tangkapannya adalah ikan kakap merah, ekor kuning, dan ikan belanak.

c. Pancing dengan layang-layang (kite line)
Sesuai dengan namanya, kite line mengunakan layang-layang yang terbuat dari daun kiter (polypodium quercifollum). Sebagai ganti ekor layang-layang diikatkan tali pancing yang mata kailnya diganti dengan jerat berumpan. Sedangkan cara pengoperasiannya sama seperti orang yang sedang bermain layang-layang namun dilakukan di atas sebuah perahu atau kapal kecil. Layang-layang tersebut dinaikkan sedemikian rupa dan diusahakan agar ujung tali (yang berjerat dan berumpan) seakan-akan bermain di atas air sehingga ikan yang menjadi tujuan tangkapannya, yaitu ikan cendro (Tylosurus Melenotes blk.) mudah tertangkap.

d. Pancing gurita (octopus jigg)
Pancing gurita bukanlah alat pancing yang bentuknya menyerupai gurita, melainkan alat pancing yang khusus digunakan untuk menangkap gurita (octopus). Pancing gurita bentuknya unik karena pada bagian ujungnya terdapat banyak sekali mata kail yang melengkung dan mencuat ke atas. Melalui tali pancing yang panjang, puluhan mata kail tersebut diberi sedikit umpan lalu diturunkan pada lokasi yang diduga banyak dihuni gurita. Manakala gurita memakan umpan yang ada di mata kail, maka sang pemancing akan melakukan sentakan mendadak pada tali pancing sehingga mulut sang gurita akan tersangkut pada mata pancing.

e. Pancing rawai (long line).
Pancing rawai atau perawe atau prawe ini banyak digunakan oleh nelayan di Indonesia dengan berbagai macam bentuk, sesuai dengan lokasi penangkapan ikan (selasar benua maupun lautan lepas). Sedangkan ikan yang menjadi tujuan penangkapannya terutama adalah berbagai macam jenis ikan tuna dan beberapa ikan lainnya seperti: cucut, pari, layaran, setuhuk, ikan pedang atau ikan todak. Jadi, tidak mengherankan apabila ada nelayan menyebut pancing long line, maka yang diartikannya adalah pancing tuna long line.

Bentuk-bentuk pancing rawai dapat dikategorikan menjadi beberapa macam, baik berdasarkan ukuran, struktur maupun besar-kecilnya ikan yang akan ditangkap. Berdasarkan ukuran alat pancing Anonimous (1971) membedakan menjadi: (a) Onawa, yaitu long line besar yang ditujukan untuk menangkap jenis-jenis tuna besar (30-100 kilogram) seperti, tuna mata besar (bigeye tuna) dan madidihang (yellowfin tuna); (b) Tombonawa atau albacore long line yang khusus digunakan untuk menangkap ikan albakora dengan berat sekitar 10-20 kilogram; dan (c) Meijinawa (meiji long line) yang digunakan untuk menangkap tuna ukuran kecil dengan berat antara 3-10 kilogram.

Sementara Shapiro (1950) mengklasifikasikan long line berdasarkan faktor kedalaman perairan tempat mengoperasikannya, yaitu: (a) albacore type long line yang dioperasikan pada lapisan di bawah permukaan (sub-surface layer) atau di perairan dangkal; dan (b) black tuna type long line yang dioperasikan pada perairan dalam.

Hampir serupa dengan Shapiro, Sainbury (1968) juga membedakan pancing long line berdasarkan faktor kedalaman perairan tempat mengoperasikannya, yaitu: (a) sub surface long line yang dioperasikan menurut kedalaman renang ikan; dan (b) bottom long line yang dioperasikan dengan cara direntang dekat maupun di dasar perairan.

Menurut Sainsbury, kunci keberhasilan penangkapan ikan tidak hanya ditentukan oleh jenis alat pancing yang digunakan, melainkan juga oleh kemampuan dari sang nelayan sendiri. Skill atau kemampuan tersebut diantaranya adalah: (a) dapat menentukan daerah-daerah yang banyak didiami oleh ikan tujuan penangkapan; (b) mengetahui kapan waktunya ikan biasa makan; (c) mengetahui keadaan dan gradasi suhu maupun termoklin yang ada di daerah penangkapan; dan (d) dapat menentukan kapan mesin perahu atau kapal harus hidup atau mati karena kawanan ikan biasanya akan terganggu dan pergi apabila mendengar bunyi bising dari mesin perahu.

Penggolongan juga dilakukan oleh von Brandt (1972) yang mendasarkan pada daerah asal long line dibuat, yaitu: (a) long line eropa yang ditujukan untuk menangkat belut laut dan sidat; (b) long line Portugis yang cara pengoperasiannya diatur sedemikian rupa hingga posisinya terangkat dari dasar perairan; dan (c) long line dengan rangkaian lampu yang dipasang pada jarak tertentu.

Dan terakhir, ada pula yang mendasarkan jenis long line pada bagaimana cara pengoperasiannya, yaitu: (a) set long line yang dioperasikan dengan cara direntangkan atau dipasang pada saat perahu penambatkan jangkar ditengah lautan; dan (b) drift long line yang dioperasikan dengan cara dihanyutkan mengikuti arus air laut. (pepeng)

Sumber:
http://www.pulauseribu.net
http://kuliahitukeren.blogspot.com
http://pemancing.com
http://sains.kompas.com
hal
Dilihat: