Upacara Mongkariang pada Orang Pamona

Pamona merupakan salah satu etnik yang berdiam di Provinsi Sulawesi Tengah. Di kalangan mereka ada sebuah tradisi berupa upacara tradisional yang sangat erat kaitannya dengan daur hidup (lingkaran hidup individu), khususnya upacara masa peralihan bagi seseorang dari kehidupan di dunia menuju ke alam yang lain. Upacara ini disebut sebagai “Mongkariang” yang dalam bahasa Indonesianya adalah “menjaga mayat”. Maksud diadakannya upacara mongkariang adalah sebagai penghormatan terakhir kepada si mati sebelum dilakukan upacara penguburan. Selain itu, juga untuk memberi dukungan moril kepada keluarga yang ditinggalkannya agar tabah dalam menjalani kehidupan selanjutnya.

Waktu, Pemimpin dan Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara
Sebagaimana upacara pada umumnya, upacara mongkariang juga dilakukan secara bertahap. Tahap-tahap yang harus dilalui dalam upacara ini adalah sebagai berikut: (1) tahap penempatan jenazah ke dalam bilik; (2) tahap mongkariang atau menjaga mayat sekaligus menghibur keluarganya yang ditinggalkan; dan (3) tahap montambe (membuat peti jenazah). Sebagai catatan, tahap penempatan jenazah ke dalam bilik dilakukan sesaat setelah meninggal. Tahap mongkariang dilakukan pada hari ketiga, ketujuh, atau 40 malam secara berturut-turut. Dalam konteks ini bergantung dari kesanggupan pihak keluarga dan status sosial si mati. Sedangkan, tahap pembuatan peti jenazah dilakukan berbarengan dengan tahap mongkariang, namun waktunya siang hari.

Seluruh rentetan upacara ini dipimpin oleh vurake, yaitu seorang dukun perempuan yang mempunyai keahlian khusus dalam berhubungan dengan makhluk gaib. Keahlian dalam berhubungan dengan makhluk gaib yang dimiliki oleh seorang vurake biasanya diperoleh secara turun-temurun. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam upacara mongkariang adalah para tetua adat, anggota kerabat dari orang yang diupacarakan (si mati), dan para tetangga terdekat.

Peralatan
Peralatan yang perlu dipersiapkan dalam upacara mongkariang ini adalah: (1) seperangkat peralatan makan dan minum seperti: tabopangkoni (mangkuk), tabo (piring adat), dan tabopangi-nung (gelas); (2) peralatan perang seperti: penai (pedang) dan tawala (tombak). Peralatan perang ini berfungsi sebagai pengusir roh-roh jahat yang dapat mengganggu si mati dalam perjalanannya ke alam yang lain; (3) peralatan menginang yang terdiri dari: laumbe (sirih), mamongo (pinang), tembakau, kapur, gambir, dan pombajumamango (tempat menumbuk sirih); (4) renko (pakaian adat); (5) binatang ternak seperti babi, baula (kerbau), dan manu (ayam), yang jumlahnya antara puluhan hingga ratusan ekor, tergantung dari kesanggupan keluarga si mati; dan (6) bingka (bakul yang terbuat dari bambu), boru (tikar yang terbuat dari daun pandan), dan puya (kain yang terbuat dari kulit kayu); dan (7) peti jenazah yang berbentuk perahu. Peti ini dilambangkan sebagai alat atau kendaraan yang nantinya akan dipakai oleh si mati ketika mengarungi alam lain yang sama sekali belum dikenalnya.

Jalannya Upacara
Ketika vurake dan para tetua adat telah menganggap bahwa seseorang yang sedang sakit telah meninggal, maka anggota keluarganya mengadakan rapat dengan para kerabat terdekat untuk menentukan penyelenggaraan upacara mongkariang. Jika telah ada kesepakatan, mereka lalu mengundang para tetangga untuk menghadiri sekaligus membantu pelaksanaan upacara. Para tetangga yang diundang tersebut umumnya akan datang sambil membawa makanan, minuman dan atau binatang ternak yang akan diberikan kepada pihak keluarga yang sedang mengalami kemalangan. Setelah itu, jenazah akan dibawa ke suatu bilik lalu diletakkan di atas tikar dan di tutup dengan puya. Di sekitar jenazah itu kemudian diletakkan beberapa peralatan upacara, seperti: renko (pakaian adat), tabopangkoni (mangkuk), tabo (piring adat), tabopangi-nung (gelas), penai (pedang), tawala (tombak), laumbe (sirih), mamongo (pinang), tembakau, kapur, gambir, dan pombajumamango (tempat menumbuk sirih). Pengaturan peralatan-peralatan upacara tersebut tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang, melainkan oleh vurake yang dianggap sakti dan dapat menjadi penghubung antara dunia nyata dengan dunia gaib.

Selanjutnya, vurake akan mempersilahkan keluarga untuk duduk di sisi kiri dan kanan si mati. Posisi duduk para keluarga maupun kaum kerabat si mati ini bergantung dari status seseorang di dalam keluarga itu. Untuk isteri atau suami akan duduk di dekat kepala si mati, sementara anak-anaknya dan kerabat lainnya akan duduk sisi kiri dan kanan dari badan dan kaki si mati. Sebagai catatan, posisi duduk dari keluarga dan sanak kerabat si mati ini telah diatur sedemikian rupa oleh vurake agar seluruhnya mendapat giliran untuk duduk dan menjaga jenazah.

Penjagaan di sekitar jenazah ini dilakukan secara terus-menerus antara tiga, tujuh, hingga 40 hari, bergantung dari kesanggupan pihak keluarga maupun status sosialnya di dalam masyarakatnya. Tujuan dari penjagaan jenazah secara bergiliran adalah agar selama masa mongkariang jasadnya tidak diganggu oleh binatang seperti babi dan anjing. Selain itu, penjagaan juga dilakukan agar tanoana (roh orang yang mati tersebut) menjadi tenteram dan tidak diganggu oleh roh-roh jahat yang ada di sekitarnya.

Malam harinya diadakan acara untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan. Acara yang dipimpin oleh vurake ini diadakan di dalam rumah yang mempunyai ruangan cukup luas sehingga dapat diikuti oleh seluruh anggota keluarga dari si mati, para tetua adat, dan juga para tetangga. Di dalam ruangan itu mereka membentuk sebuah lingkaran mengelilingi vurake yang akan menceritakan riwayat hidup si mati dan memberikan nasihat kepada orang-orang yang ditinggalkannya. Nasihat yang diberikan adalah berupa pantun yang dinyanyikan yang disebut mondobi dan monjoava. Oleh karena nasihat yang diberikan berupa pantun, maka para peserta yang hadir akan membalas pantun tersebut dan atau menambahkan pantun-pantun lainnya yang berisi petuah atau nasihat kepada keluarga yang ditinggalkan. Sebagai catatan, selama acara mongkariang yang berlangsung hingga menjelang pagi, seluruh peserta upacara dilarang tidur dengan maksud selain untuk menghormati pihak keluarga si mati, juga agar jenazah tidak diganggu oleh binatang dan roh-roh jahat yang berkeliaran di sekitar rumah.

Siang harinya pihak keluarga bersama para tetangga mulai mempersiapkan bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat peti jenazah, tandu, ruangan tempat menyimpan peti jenazah, memperluas halaman rumah, dan memotong hewan ternak. Sebagai catatan, pemotongan hewan dilakukan pada hari pertama upacara mongkariang. Pada kesempatan itu darah hewan dioleskan pada dahi atau muka si mati sebagai simbol bahwa segala dosanya telah dilepasakan atau dihapuskan. Upacara mongkariang ini berlangsung terus-menerus selama 3, 7 atau 40 hari hingga tiba masanya dilakukan upacara penguburan.

Nilai Budaya
Upacara mongkariang, jika dicermati secara mendalam, mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain adalah: kebersamaan, ketelitian, gotong royong, dan keselamatan. Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian besar anggota masyarakat dalam suatu tempat, makan bersama dan doa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan. Dalam hal ini, kebersamaan sebagai komunitas yang mempunyai wilayah, adat-istiadat dan budaya yang sama.

Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian.

Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, menjadi pemimpin upacara, membantu pemimpin upacara, dan lain sebagainya.

Nilai keselamatan tercermin dalam adanya kepercayaan bahwa peralihan kehidupan seorang individu dari satu masa ke masa yang lain penuh dengan ancaman (bahaya) dan tantangan. Untuk mengatasi krisis dalam daur kehidupan seorang manusia itu, maka perlu diadakan suatu upacara. mongkariang merupakan salah satu upacara yang bertujuan untuk mencari keselamatan pada tahap peralihan dari masa kehidupan di dunia menuju ke kehidupan di alam yang lain. (ali gufron)

Sumber:
http://www.infokom-sulteng.go.id
http://www.disnakerpalu.com
http://www.beritapalu.com
hal
Dilihat: