Tugu Pensil

Wikipedia.org mendifinisikan "tugu" sebagai bangunan menjulang besar/tinggi yang terbuat dari batu/batu bata atau bahan lain yang tahan rusak. Tugu dapat berfungsi sebagai: (a) peringatan suatu peristiwa bersejarah; (b) marka navigasi; (c) penanda kawasan, dan (d) peringatan untuk mengenang tokoh tertentu. Definsi ini senada dengan kbbi.web.id yang menyatakan bahwa "tugu" adalah tiang besar yang dibuat dari batu, bata, dan sebagainya untuk memperingati pahlawan (tugu pahlawan), menghormati orang yang berjasa atau pengingat peristiwa bersejarah (tugu peringatan).

Di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, ada sebuah tugu tinggi-runcing menyerupai pensil (alat tulis berupa kayu bulat berisi arang) yang alasnya berbentuk segitiga terbalik bertuliskan "Bebas dari Buta Huruf Latin, Kewedanaan Tanjung Pinang". Oleh masyarakat setempat tugu yang berada di tepi laut (Jalan Agus Salim) tersebut diberi nama sebagai Tugu Pensil. Tugu hasil rancangan Ir. Nizar Nasir ini merupakan simbol prestasi Kewedanaan Tanjungpinang yang berhasil memberantas buta aksara melalui program Pemberantasan Buta Huruf (PBH) pada sekitar tahun 1960-an (kompasiana.com). Adapun pembangunannya menurut paud-dikmas.kemdikbud.go.id, dilaksanakan pada pertengahan tahun 1962 dengan ditandai peletakan batu pertama oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan waktu itu, Prof. Prijono.

Selesai dibangun, sama seperti kebanyakan tugu di Indonesia, Tugu Pensil dibiarkan begitu saja sehingga seolah-olah tidak terawat (hasil pengamatan saya dari tahun 1992-2005 ^_^). Ia baru mulai dilirik kembali setelah Kepulauan Riau beralih status dari kabupaten menjadi provinsi. Oleh pemerintah setempat Tugu Pensil dijadikan sebagai objek wisata dengan memberi sentuhan baru berupa taman dan beberapa faslitas penunjangnya, seperti: lapangan voli, jogging track, double seat pulling, double air walker, four post waist twitter, double bar leg lifter, double moon walker, ayunan dan sejumlah permainan lain, serta hotspot internet gratis (ksmtour.com).

Selain itu, agar telihat lebih menarik bagian taman yang berada di bibir pantai diberi tulisan besar "TUGU PENSIL", sebuah kecenderungan penanda area yang sedang "ngetren" di tanah air layaknya landmark "Hollywood" California ^_^. Pada bagian bawah tulisan dipahatkan sejumlah 12 buah prasasti berisi pasal-pasal dalam Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji yang diselesaikan di Pulau Penyengat pada tanggal 23 Rajab 1264 Hijriyah atau 1847 Masehi (id.wikipedia.org).

Hasilnya, saat ini Tugu Pensil menjadi salah satu kawasan yang banyak dikunjungi warga masyarakat Tanjungpinang dan sekitarnya. Pada pagi hari umumnya mereka ber-jogging sambil menikmati matahari terbit. Sedangkan sore harinya difungsikan sebagai: sarana berkumpul sembari melihat atlet voli lokal memperagakan keahliannya; berolahraga menggunakan fasilitas taman; menikmati indahnya pantai dan menunggu matahari terbenam di kejauhan; atau hanya sekadar berburu internet gratisan melalui sarana hotspot yang disediakan pengelola taman (bagi "fakir Wi-Fi") ^_^. (Ali Gufron)

Foto: https://id.wikipedia.org/wiki/Gurindam_Dua_Belas
Sumber:
"Tugu", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Tugu, tanggal 5 Desember 2017.

"Tugu", diakses dari https://kbbi.web.id/tugu, tanggal 5 Desember 2017.

"Tugu Pensil, Simbol Buta Huruf Kepulauan Riau", diakses dari https://www.kompasiana.com/lian_gayo/tugu-pensil-simbol-buta-huruf-kepulauan-riau_552cc03e6ea834c07e8b4595, tanggal 6 Desember 2017.

"Tugu Pensil, Simbol Bebas Buta Aksara Kepulauan Riau", diakses dari https://www.paud-dikmas.kemdikbud.go.id/berita/2079.html, tanggal 6 Desember 2017.

"Tugu Pensil Wisata Pantai Bersejarah di Tanjung Pinang Kep. Riau", diakses dari https://ksmtour.com/informasi/tempat-wisata/kepulauan-riau/tugu-pensil-wisata-pantai-bersejarah-di-tanjung-pinang-kep-riau.html, tanggal 7 Desember 2017.

"Gurindam Dua Belas", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Gurindam_Dua_Belas, tanggal 8 Desember 2017.

Gedung Gonggong

Gonggong atau Canarium Stroumbus adalah biodata endemik sejenis siput pemakan alga dan plankton. Menurut Prie (2013), gonggong merupakan spesies indo-pasifik yang hidup pada lumpur dan pasir di sekitar perairan Kepulauan Riau, khususnya Pulau Bintan. Binatang bertekstur kenyal ini sejak dahulu telah menjadi makanan sehari-hari karena mudah didapat serta memiliki kandungan protein tinggi bagi pelengkap kebutuhan gizi anak dan ibu hamil. Adapun cara memasaknya cukup direbus dan ditambah sambal sebagai pelengkap (Maharani, 2016).

Oleh karena endemik di perairan Pulau Bintan, pemerintah setempat menjadikan binatang gonggong ikon penanda Kota Tanjungpinang dalam bentuk sebuah tugu kecil di Tepi Laut (Jalan Hang Tuah). Beberapa tahun ke belakang, mereka membuat lagi sebuah "gonggong besar" yang bukan berbentuk tugu, melainkan bangunan menyerupai gonggong, berlantai dua, berwarna emas, dan sebagian besar dinding terbuat dari kaca (Movanita, 2017).

Sesuai dengan bentuknya, bangunan menyerupai gonggong ini dinamakan Gedung Gonggong. Letaknya di Tepi Laut, tidak begitu jauh dari Tugu Gonggong, Gedung Daerah dan Pelabuhan Sri Bintan Pura. Jadi, bagi wisatawan yang menggunakan perahu dari Batam, sebelum bersandar dari kejauhan akan melihat Masjid Raya Sultan Riau di Pulau Penyengat (sebelah kiri) dan Gedung Gonggong di bagian kanan perahu.

Pembuatan Gedung Gonggong dilaksanakan oleh PT. Findomuda Desaincipta selaku pemenang tender. Adapun proses pengerjaannya berlangsung selama kurang lebih empat tahun dengan biaya sebesar Rp. 14,3 miliar. Selesai dibangun, gedung diresmikan oleh Menteri Pariwisata Republik Dr. Ir. Arief Yahya, M.Sc pada tanggal 29 Oktober 2016. Peresmian yang juga dihadiri oleh Gubernur Kepulauan Riau dan Walikota Tanjungpinang itu menandai Gedung Gonggong sebagai tempat tujuan wisata nonbahari sekaligus Tourist Information Center (TIC) atau pusat informasi pariwisata Tanjungpinang (Puputyuhara, 2016).

Agar sesuai dengan tujuannya, Gedung Gonggong dilengkapi dengan beberapa fasilitas penunjang TIC. Puputyuhara (2016) mencatat sedikitnya ada lima fasilitas penunjang kepariwisataan yang ada di dalam gedung, yaitu: (1) ruang resepsionis; (2) display informasi pariwisata Tanjungpinang dan sejumlah lukisan; (3) ruang ekspose bagi wisatawan yang dilengkapi dengan tempat duduk serta televisi layar lebar; (4) kantor manajemen; dan (5) basement.

Selain itu, menurut Wahyudi (2017) Gedung Gonggong juga berfungsi sebagai pusat penawaran investasi dan pengembangan di Kota Tanjungpinang. Oleh karena itu, gedung dilengkapi dengan ruang rapat VIP bagi para pengusaha (berkapasitas 12 orang) serta ruang semi pusat bisnis (pameran produk lokal dan kuliner). Kedua ruang tadi dapat dijadikan "ladang usaha" bagi pengelola guna menunjang biaya operasional gedung sehingga tidak terlalu membebankan APBD.

Saat ini, lepas dari letak yang strategis dan fungsinya sebagai pusat bisnis dan informasi kepariwisataan, Gedung Gonggong menjadi salah satu kawasan yang banyak dikunjungi warga masyarakat Tanjungpinang dan sekitarnya. Pada pagi hari umumnya mereka berolahraga sambil menanti matahari terbit. Sedangkan sore harinya menjadi sarana berkumpul sembari menunggu matahari terbenam di balik Pulau Penyengat. (ali gufron)

Foto: https://www.youtube.com/watch?v=YzAUaeiuvjQ
Sumber:
Prie, Mas. 2013. "Mungkin Gonggong adalah Salah Satu Ikon Batam", diakses dari http://gonggongbatam.blogspot.co.id/2013/06/apa-gonggong-canarium-stroumbus.html, tanggal 10 Desember 2017.

Maharani, Dian. 2016. "Gonggong, Makanan Laut Tinggi Kolesterol", diakses dari http://lifestyle.kompas.com/read/2016/04/25/180000823/Gonggong.Makanan.Laut.Tinggi.Kolesterol, tanggal 10 Desember 2017.

Movanita, Ambaranie Nadia Kemala. 2017. "Gedung Gonggong akan Dibuat Mirip Opera House di Australia", diakses dari http://travel.kompas.com/read/2017/05/17/100800927/ gedung.gonggong.akan.dibuat.mirip.opera.house.di.australia, tanggal 11 Desember 2017.

Puputyuhara. 2016. "Potret Gedung Gonggong di Laman Boenda Tanjungpinang", diakses dari https://puputyuhara.wordpress.com/2016/11/10/potret-gedung-gonggong-di-laman-boen da-tanjungpinang/, tanggal 11 Desember 2017.

Wahyudi, Sri. 2017. "Gedung Gonggong Ikon Wisata Tanjung Pinang", diakses dari https:// hangtuahnews.co.id/gedung-gonggong-ikon-wisata-tanjung-pinang/, tanggal 12 Desember 2017.

Mini Zoo Kijang

Di Pulau Bintan, Kepulauan Riau, kata "Kijang" tidak selalu dikaitkan dengan binatang yang oleh kbbi.web.id didefinisikan sebagai menyusui, sebangsa rusa kecil, cepat larinya, dan bertanduk pendek. Kata "Kijang" juga merupakan ibu kota Kecamatan Bintan Timur, Kabupaten Bintan. Di Kijang ada sebuah kebun binatang kecil (mini zoo) yang berlokasi di Jalan Tengiri, Kota Kijang (wartakepri.co.id). Untuk mencapainya (menggunakan kendaraan pribadi), baik dari Kota Tanjungpinang (ibu kota Provinsi Kepulauan Riau) mapun Tanjunguban (kecamatan Bintan Utara) relatif mudah karena kondisi jalan relatif baik.

Sesuai dengan namanya (mini zoo), objek wisata ini merupakan tempat untuk mempertunjukkan satwa liar yang dipelihara dalam lingkungan buatan berskala kecil. Adapun tujuannya, bagi masyarakat dapat sebagai tempat rekreasi maupun sarana pendidikan, riset, atau konservasi satwa yang terancam punah. Sementara menurut wisatastevenly.blogspot.co.id, oleh Pemerintah Kabupaten Bintan mini zoo ditujukan sebagai "aksesoris" kota di bawah pengawasan Dinas Kebersihan, Pertamanan, dan Pemakaman (DKPP). Sedangkan versi lain berada di bawah Dinas Kehutanan dan Pertanian Bintan (batam.tribunnews.com).

Kebun binatang mini yang diresmikan pada tahun 2011 ini memiliki luas sekitar satu hektar. Walau berukuran relatif kecil Mini Zoo Kijang mengkoleksi beraneka macam satwa yang dipelihara dalam kandang atau sangkar, di antaranya: orang utan, tupai, ular, buaya, beruang, iguana, kakak tua, cendrawasih, elang, beruang madu, rusa tanduk cabang, elang laut, ikan, elang kepala putih, merak, kelinci, kelelawar, musang, tupai, dan kupu-kupu (sarahjalan.com).

Fasilitas Mini Zoo Kijang
Fasilitas penunjang objek wisata Mini Zoo Kijang tergolong lengkap, yaitu: toilet, tempat parkir yang relatif luas, mushola, ruang khusus bagi ibu menyusui, kantin, wahana permainan anak (ayudan dan perosotan), dan pondok-pondok sederhana (gazebo) yang berada di tepian danau (tempat.co.id).

Bagaimana? Anda berminat membawa keluarga berekreasi ke Mini Zoo Kijang sembari mengajari sang buah hati tetang keanekaragaman fauna dalam suasana yang nyaman dan menyenangkan? Apabila berminat Mini Zoo Kijang dibuka gratis untuk umum dari hari Senin-Minggu mulai pukul 09.00-16.00 WIB. Pengunjung hanya dikenakan biaya parkir, bergantung dari kendaraan yang dibawa (roda dua atau empat).

Sebagai catatan, apabila belum puas, tidak berapa jauh dari mini zoo ada Kijang City Walk yang dibangun sekitar tahun 2015 sebagai area rekreasi bagi warga Kijang dan sekitarnya. Di kawasan ini, selain terdapat sebuah jembatan panjang yang dapat digunakan sebagai tempat"nongkrong", juga wahana permainan anak serta sarana berolahraga. (ali gufron)

Foto: http://wartakepri.co.id/2016/01/03/liburan-ke-bintan-lebih-lengkap-jika-bisa-berkunjung-ke-mini-zoo-kijang/
Sumber:
"Kijang", diakses dari https://kbbi.web.id/kijang, tanggal 23 November 2017.

"Kijang City Walk dan Mini Zoo Di Kijang Bintan - Kepulauan Riau", diakses dari http://www.sarahjalan.com/2017/02/kijang-city-walk-dan-mini-zoo-di-kijang.html, tanggal 25 November 2017.

"Mini Zoo Kijang", diakses dari https://www.tempat.co.id/wisata/Mini-Zoo-Kijang, tanggal 25 November 2017.

"Liburan ke Bintan Lebih Lengkap Jika Bisa Berkunjung ke Mini Zoo Kijang", diakses dari http://wartakepri.co.id/2016/01/03/liburan-ke-bintan-lebih-lengkap-jika-bisa-berkunjung-ke-mini-zoo-kijang/, tanggal 26 November 2017.

"Kebun Binatang Mini Zoo Kijang", diakses dari http://wisatastevenly.blogspot.co.id/2014/06/kebun-binatang-mini-zoo-kijang.html, tanggal 26 November 2017.

"Banyak Koleksi Satwa di Mini Zoo Kijang Berkurang, Ini Jawaban Kepala Dinas Bintan", diakses dari http://batam.tribunnews.com/2016/09/19/banyak-koleksi-satwa-di-mini-zoo-kijang-berkurang-ini-jawaban-kepala-dinas-bintan, tanggal 26 November 2017.

Raja Haji Fisabilillah

Tanah Melayu tidak hanya melahirkan pujangga sekaligus sejarawan setaraf Raja Ali Haji yang terkenal melalui Gurindam Dua Belas dan Tuhfat al Nafis-nya, melainkan juga para pejuang yang gigih berani melawan penjajah demi kemuliaan Islam dan bangsa Melayu. Salah seorang di antaranya, adalah kakek Raja Ali Haji sendiri yaitu Raja Haji Fisabilillah yang lahir di Kota Lama, Ulusungai, Riau, pada tahun 1725 (id.wikipedia.org).

Raja Haji Fisabilillah adalah "blasteran" Bugis-Melayu. Ayahnya (Opu Daeng Celak atau Engku Haji) mewarisi garis keturunan raja-raja Bugis di negeri Luwuk, sementara Sang ibu (Tengku Mandak) merupakan keturunan raja-raja Melayu (Abdullah, 2006). Menurut Isnaeni (2016), setelah bermigrasi ke tanah Melayu Opu Daeng Celak memperoleh gelar Yang Dipertuan Agung dari Kerajaan Riau-Johor.

Setelah Opu Daeng Celak wafat tahun 1744, Raja Haji yang waktu itu baru berusia 19 tahun diangkat menjadi Engku Kelana. Adapun tugasnya selain mengatur pemerintahan, juga menjaga keamanan seluruh wilayah kekuasaan Kerajaan Riau-Johor (Isnaeni, 2016). Pada masa kejayaannya, kerajaan ini memiliki cakupan wilayah cukup luas, meliputi: Johor, Pahan, Singapura, Kepulauan Riau dan beberapa daerah-daerah di Pulau Sumatera (Riau Daratan dan Jambi) (Dediarman, 2014).

Tiga dasawarsa kemudian, atau tepatnya tahun 1777 Raja Haji diangkat menjadi Yang Dipertuan Muda IV. Isnaeni (2016), mengutip buku Jejak Pahlawan dalam Aksara terbitan Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia dan Departemen Sosial Republik Indonesia, mengatakan bahwa sejak menjadi Yang Dipertuan Muda IV Kerajaan Riau-Johor mengalami kemajuan pesat dalam bidang ekonomi, pertahanan, sosial-budaya, dan spiritual.

Khusus dalam bidang pertahanan dan keamanan, perjuangan-perjuangan Raja Haji dilakukan hingga titik darah penghabisan. Adapun perjuangan setelah menjadi Yang Dipertuan Muda IV, antara lain adalah: (1) membantu Syarif Abdur Rahman al-Qadri memerangi Sanggau dari 24 Februari 1778 hingga 1 Maret 1778. Setelah berhasil, dia lalu melantik Syarif Abdur Rahman al-Qadri sebagai sultan pertama Kerajaan Pontianak (Abdullah, 2006); dan (2) mengadakan perjanjian-perjanjian dengan Belanda yang salah satu isinya berupa pembagian kapal asing hasil sitaan (Isnaeni. 2016).

Namun perjanjian-perjanjian tersebut tidak berjalan baik sehingga peperangan di antara keduanya tidak terhindarkan (Margana, 2016). Peperangan diawali 6 Januari 1784 ketika pasukan Belanda mendarat dan ingin menguasai Pulau Penyengat. Raja Haji berhasil menghalau sehingga Belanda terpaksa mundur ke Melaka tanggal 27 Januari 1784 (Isnaeni 2016). Tidak puas dengan kemenangan itu, pada 13 Februari 1784 Raja Haji bekerja sama dengan Sultan Selangor balik menggempur pasukan Belanda di Melaka.

Terdesak oleh pasukan gabungan tersebut pasukan Belanda segera meminta bantuan. Ada beberapa versi mengenai bala bantuan pasukan Belanda ketika diserang oleh Raja Haji dan Sultan Selangor. Versi pertama berasal dari Isnaeni (2016) dan Abdullah (2006), yang mengatakan bahwa pasukan Belanda di Malaka mendapat bantuan dari armana Jacob Pieter van Braam yang sedianya akan berlayar ke Maluku. Sedangkan versi lainnya dari Fathurrohman (2014) dan merdeka.com, mengatakan bahwa Belanda mendatangkan pasukan dari Pulau Jawa dalam jumlah besar.

Lepas dari berbagai versi di atas, dalam pertempuran yang meletus pada 18 Juni 1784, Raja Haji gugur bersama kurang lebih 500 orang pasukanya saat melakukan peperangan maritim di Teluk Ketapang (merdeka.com). Jenazahnya dimakamkan di Melaka. Beberapa dekade setelahnya, saat Raja Ja'afar (putera mahkota) diangkat sebagai Yang Dipertuan Muda, jenazah Raja Haji dipindahkan dari Melaka untuk selanjutnya dikebumikan di Pulau Penyengat Indrasakti (Sudrajat, 2016).

Sebagai catatan, semasa hidupnya Raja Haji banyak mendapat julukan atau gelaran, seperti: Engku Kelana (1747M-1777M), Pangeran Sutawijaya, Yang Dipertuan Muda Riau-Johor IV (177M-1784M), Raja Api1, Marhum Teluk Ketapang, Marhum Asy-Syahid Fisabilillah, dan yang terakhir sebagai Pahlawan Nasional Indonesia (memperoleh Bintang Mahaputera Adipradana tanggal 11 Agustus 1997) berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 72/TK/1997.

Untuk mengenang jasa, pihak pemerintah setempat (Provinsi Kepulauan Riau) mengabadikan namanya sebagai bandar udara di Tanjungpinang (Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah), serta membuatkan monumen setinggi sekitar 28 meter di daerah Tepi Laut yang berhadapan langsung dengan Pulau Penyengat. Selain itu, kemenangan Raja Haji Fisabililah atas Belanda di Pulau Penyengat (6 Januari 1784) ditetapkan pula menjadi hari jadi Kota Tanjungpinang. (ali gufron)

Foto: https://pahlawancenter.com/raja-haji-fisabilillah/
Sumber:
"Raja Haji Fisabilillah", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Raja_Haji_Fisabilillah, tanggal 19 Desember 2017.

Abdullah, Wan Mohd. Shaghir. 2006. "Raja Haji Pahlawan Teragung Nusantara", diakses dari http://ww1.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2006&dt=0612&pub=Utusan_Malaysia&sec=Bicara_Agama&pg=ba_01.htm, tanggal 19 Desember 2017.

Isnaini, Hendri. 2016. "Cerita Kumis Pahlawan Nasional Raja Haji Fisabilillah", diakses dari http://historia.id/persona/cerita-kumis-pahlawan-nasional-raja-haji-fisabilillah, tanggal 20 Desember 2017.

Dediarman. 2014. "Sejarah Kerajaan Riau-Lingga Kepulauan Riau", diakses dari https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbkepri/2014/06/08/sejarah-kerajaan-riau-lingga-kepulauan-riau/, tanggal 20 Desember 2017.

Margana, Panjaitan. 2016. "Raja Haji Fisabilillah - Raja Kerajaan Melayu Riau", diakses dari http://sosok-tokoh.blogspot.co.id/2016/05/biografi-singkat-raja-haji-fisabilillah.html, tanggal 20 Desember 2017.

Fathurrohman, Muhamad Nurdin. 2014. "Biografi Raja Haji Fisabilillah - Pahlawan Nasional Indonesia", diakses dari https://biografi-tokoh-ternama.blogspot.co.id/2014/02/Biografi-Raja-Haji-Fisabilillah-Pahlawan-Nasional-Indonesia.html, tanggal 20 Desember 2017.

"Raja Haji Fisabilillah", diakses dari https://www.merdeka.com/raja-haji-fisabilillah/profil/, tanggal 20 Desember 2017.

Sudrajat, Ajat. 2016. "Raja Haji Fisabilillah", diakses dari http://biografi-pahlawan-nasional-indonesia.blogspot.co.id/2016/01/raja-haji-fisabilillah.html, tanggal 20 Desember 2017.

1. Abdullah (2006), mengutip Tuhfat an-Nafis (Naskah Terengganu, hlm. 151) karangan Raja Ali Haji, menyatakan bahwa riwayat gelaran Raja Api diberikan oleh Belanda atas dasar kejadian aneh pada peti jenazah Raja Haji yang semula akan dibawa ke Betawi. Malam sebelum keberangkatan peti jenazah memancarkan cahaya menyerupai api yang membuat gaduh banyak orang. Di tengah kegaduhan, perahu yang sedianya akan membawa peti jenazah terbakar. Niat untuk membawa jenazah Raja Haji pun terpaksa diurungkan.

Air Terjun Gunung Lengkuas

Di antara Kota Tanjungpinang dan Kota Kijang terdapat sebuah gunung atau lebih tepatnya bukit yang puncaknya berketinggian sekitar 200 meter di atas permukaan air laut. Oleh masyarakat setempat gunung itu disebut sebagai Lengkuas dan menjadi wilayah dari Kelurahan Gunung Lengkuas, Kecamatan Bintan Timur, Kepulauan Riau. Walau berukuran relatif kecil, gunung ini memiliki daya tarik tersendiri berupa air terjun yang diberi nama sesuai dengan lokasinya, yaitu Air Terjun Gunung Lengkuas.

Untuk mencapainya, dari Kota Tanjungping relatif mudah karena berjarak hanya sekitar 22 kilometer. Adapun rutenya, bila telah berada di batu (kilometer) 10 mengambil arah kanan menuju Kijang. Setelah sampai di pertigaan dekat Masjid Nurul Huda belok kanan menuju Gang Wisata sejauh sekitar 500 meter ke sebuah pondok kecil di tengah ladang guna memarkirkan kendaraan bermotor (tanpa dipungut biaya). Dan, dari pondok tersebut dilanjut dengan berjalan kaki menyusur jalan setapak sejauh satu kilometer atau sekitar 30 menit menuju lokasi air terjun. Di sepanjang perjalanan tidak akan menemui warung atau toko, melainkan hanya lahan perkebunan serta hamparan tetumbuhan khas hutan.

Sesampai di lokasi, akan terlihat sebuah air terjun berketinggian sekitar 20 meter dengan debit air bergantung musim. Apabila musim penghujan, air yang berasal dari perbukitan di sekitarnya akan mengalir deras melalui sungai-sungai kecil menuju ke air terjun. Namun bila musim kemarau tiba, debit airnya relatif kecil.

Di lokasi ini pengunjung dapat menikmati indahnya curahan air yang terjun dan membentuk sebuah kolam kecil berukuran sekitar 6x10 meter dengan kedalaman hingga satu meter. Selain itu, di sekitar kolam dapat juga dijadikan sebagai tempat berkemah, berpetualang, atau hanya sekadar menikmati keindahan alam. Namun, karena lokasi air terjun yang cukup terpencil dan relatif sulit diakses, fasilitas penunjangnya tidak terawat baik, berupa dua buah balai beton dan sebuah toilet. (ali gufron)

Foto: https://www.tempat.co.id/wisata/Air-Terjun-Gunung-Lengkuas

Anjung Cahaya

Bagi masyarakat Tanjungpinang, Kepulauan Riau, walau daerahnya dikelilingi oleh laut, kata "tepi laut" secara umum ditujukan pada sebuah kawasan antara Jalan Agus Salim dan berakhir di ujung Jalan Hang Tuah yaitu di Pelabuhan Sri Bintan Pura. Semasa masih berstatus kabupaten, tepi laut hanyalah sebuah jalan yang berbatasan langsung dengan laut (pantai). Keramaian terpusat di ujung Jalan Hang Tuah dengan adanya akau yang beroperasi dari sore hingga tengah malam di dalam area Pelabuhan Sri Bintan Pura.

Setelah berpisah dengan Riau dan menjadi provinsi sendiri, aparat pemerintahan Kepulauan Riau segera membangun untuk mengejar ketertinggalan sekaligus menggali potensi guna dijadikan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Salah satunya adalah melakukan pelebaran kawasan tepi laut dan membangun Anjung Cahaya yang difungsikan sebagai pusat oleh-oleh bagi wisatawan saat berkunjung ke Tanjungpinang.

Di tempat ini, selain dijual bermacam jenis souvenir juga jajanan berupa makanan dan minuman. Adapun pendiriannya konon bermula dari keluhan wisatawan yang mengalami kesulitan ketika mencari oleh-oleh khas Tanjungpinang (tempat.co.id). Keluhan-keluhan tersebut diakomodir Pemko Tanjungpinang dengan membangun 12 buah kios berdempet menghadap laut yang dilengkapi dengan area parkir, arena bermain anak-anak, dan taman (haluankepri.com).

Menurut tanjungpinangpos.co.id, pengisi kios adalah para pedagang kaki lima yang terdampak proyek perluasan atau pelebaran tepi laut. Sebelum direlokasi mereka terancam tak bisa mengais rezeki karena lokasi berdagang dipenuhi tumpukan material pelebaran. Sebagai solusinya, Pemko Tanjungpinang melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang menggandeng Himpunan Pedagang Kaki Lima Tepi Laut (HPKLTL) memberikan izin sementara pada sejumlah 26 pedagang kaki lima tepi laut berdagang di Anjung Cahaya.

Hasilnya, saat ini Anjung Cahaya tidak hanya dijadikan sebagai pusat penjualan souvenir khas, melainkan juga tempat "nongkrong" warga Kota Tanjungpinang, terutama kawula mudanya. Para "penongkrong" ada yang datang untuk menikmati suasana senja khas tepi laut dan ada pula yang memang ingin menikmati sajian kopi o, teh obeng, atau nasi goreng sembari berdikusi segala macam hal hingga larut malam. (ali gufron)

Foto: https://www.tempat.co.id/wisata/Taman-Anjung-Cahaya-Kepulauan-Riau
Sumber:
"Anjung Cahaya Segera Grand Opening", diakses dari http://www.haluankepri.com/ekonomi-bisnis/bisnis/1864-anjung-cahaya-segera-grand-opening.html, tanggal 10 Desember 2017.

"Pedagang Digeser ke Anjung Cahaya", diakses dari http://www.tanjungpinangpos.co.id/pedagang-digeser-ke-anjung-cahaya/, tanggal 10 Desember 2017.

"Taman Anjung Cahaya, Nikmati Bersantai Ditemani Semilir Angin Laut", diakses dari https://www.tempat.co.id/wisata/Taman-Anjung-Cahaya-Kepulauan-Riau, tanggal 10 Desember 2017.

Bangau Tongtong

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Alkisah, suatu hari ada seekor Bangau Tongtong tua sedang bertengger di pohon rindang dekat sebuah telaga yang jernih airnya. Di dalam telaga terdapat ikan yang berenang bergerombol mencari makan. Maksud hati Sang Bangau ingin menyantap satu atau beberapa ikan tersebut, namun karena sudah tua dan kurang bertenaga lagi dia hanya dapat menatap sembari meneteskan air liur.

Tidak berapa lama kemudian dia menemukan sebuah ide licik untuk mendapatkan ikan tanpa harus bersusah payah menangkapnya. Adapun caranya adalah dengan mengumpulkan binatang-binatang yang tinggal dan menggantungkan hidup di telaga. Setelah mereka berkumpul, Bangau Tongtong berkata bahwa telaga akan segera mengering karena musim kemarau berlangsung panjang.

Perkataan Bangau tongtong rupanya dapat mempengaruhi penghuni telaga. Mereka ada yang menangis ketakutan, ada yang mondar-mandir tak tentu arah, serta ada pula yang panik dan mengumpulkan anggota keluarganya. Untuk meredakannya Bangau tongtong menghimbau agar tidak panik karena di balik bukit ada telaga yang lebih luas lagi. Mereka dapat pindah ke telaga yang menurutnya tidak pernah mengalami kekeringan.

Bagi binatang air, berpindah ke telaga di balik bukit merupakan hal yang mustahil. Mereka hanya bisa berenang dan bukan berjalan atau terbang untuk dapat mencapainya. Oleh karena itu, dengan akal bulusnya, Bangau Tongtong menawarkan jasa mengantar dengan cara menaruh mereka di paruh dan membawa terbang menuju lokasi.

Tawaran Bangau Tongtong rupanya menarik minat binatang air. Mereka tidak perpikir panjang. Yang ada di benak adalah dapat mencapai telaga yang baru, sehingga tawaran yang tidak lain hanyalah akal bulus disambut dengan gembira. Secara bergiliran satu per satu ikan dibawa terbang oleh Bangau Tongtong.

Bagi ikan yang belum mendapat giliran percaya bahwa Bangau Tongtong akan membawa terbang ke danau di balik bukit. Sementara yang sudah dibawa menjadi sangat kecewa setelah dilemparkan ke sebuah kubangan kecil yang dangkal. Oleh Bangau Tongtong kubangan itu dijadikan sebagai tempat penyimpanan. Tujuannya, apabila dia lapar dapat dengan mudah mengambil beberapa ekor untuk disantap.

Menjelang senja seluruh ikan dan binatang air lain telah terangkat, kecuali seekor ketam yang dalam antrian berada pada posisi buncit. Bangau Tongtong yang sebenarnya sudah lelah tetap mendatanginya. Pikir Sang Bangau daging ketam sangat lezat dan sayang apabila dibiarkan lepas begitu saja.

Dia lalu mendekat dan membawa ketam menggunakan paruhnya. Di perjalanan Ketam mulai curiga karena Sang Bangau terbang bukan ke arah bukit melainkan menyusur danau menuju sebuah kubangan. Di sana teman-temannya berenang berdesakan dalam ruang yang relatif sempit. Sadar kalau dia dan teman-temannya telah ditipu oleh Bangau Tongtong, Ketam menjadi marah. Dengan capitnya yang besar dan tajam dicekiknya Bangau Tongtong hingga tewas. Ketamakan Sang Bangau akhirnya membawa malapetaka bagi diri sendiri.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Popular Posts