Gang PU, Sentra Produksi Keripik Lampung

Bagi warga Bandarlampung, apabila mendengar nama Gang PU tentu yang terlintas di benak adalah sebuah jalan dengan sisi kiri dan kanannya dipenuhi oleh toko-toko penjual penganan tradisional berupa aneka keripik terbuat dari pisang, ketela, salak, tales, nangka, dan sukun dengan berbagai macam variasi rasa, seperti: asin, manis, jagung bakar, balado, sapi panggang, stroberry, melon, cokelat, vanila, asam manis, keju, moka, dan cokelat kacang.

Gang PU adalah sebutan lain dari Jalan Pagar Alam yang terletak di Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Kedaton, Kota Bandarlampung (Putranto, 2014). Untuk mencapainya, bila dari Tanjungkarang melalui Jalan Teuku Umar hingga tiba di sebuah pertigaan Jalur dua Sultan Agung. Sebagai identitas "Gang PU", terdapat gapura besar bertuliskan "Selamat Datang Di Kawasan Sentra Industri Keripik Kota Bandar Lampung" berikut logo Kota Bandarlampung dan PT Perkebunan Nasional VII (PTPN VII).

Awalnya, Gang PU hanyalah sebuah jalan kecil yang relatif sepi dan gelap gulita bila hari berganti malam. Adalah seorang bernama Sucipto Adi yang kemudian membuat gang ini menjadi sentra produksi keripik sekaligus lokasi belanja bagi wisatawan. Pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 25 Oktober 1966 ini dahulu hanyalah seorang buruh bangunan lepas dengan upah sebesar Rp.10.000,- per hari. Oleh karena desakan ekonomi, pada tahun 1996 dia berusaha mencari usaha lain agar dapat menghidupi keluarganya, yaitu dengan menjual keripik singkong (Oktavia, 2017).

Berbekal uang hasil tabungan sejumlah Rp.350.000,- Sucipto Adi membeli sebuah gerobak dorong serta bahan baku pembuat keripik. Dengan gerobak dorong tersebut dia berjualan di Pasar Bambu Kuning yang berjarak sekitar lima kilometer dari rumahnya. Apabila stok keripik masih tersisa, dalam perjalanan pulang dia juga menyusuri gang-gang kecil untuk mencari pembeli.

Dalam waktu tidak berapa lama, usaha Sucipto Adi berkembang pesat dengan memiliki sekitar 50 orang pelanggan. Agar dapat memenuhi kebutuhan para pelanggannya yang semakin hari bertambah banyak, dia lalu mengajak lima orang tetangganya mengembangkan usaha serupa. Bersama-sama mereka mengembangkan usaha keripik singkong tidak hanya untuk kebutuhan para pelanggan Sucipto Adi, melainkan juga dipasarkan ke sejumlah warung dan kantin terdekat.

Seiring waktu, timbullah inovasi dari para pedagang keripik Gang PU yaitu penggunaan bahan baku baru berupa pisang jenis kepok Manado. Menurut Prasetyo (2015), penggunaan pisang sebagai bahan baku berawal pada sekitar tahun 2003 ketika salah seorang penjaja bernama Harianto iseng-iseng membuat keripik pisang dengan rasa asin dan manis. Sementara menurut Oktavia (2017), Sucipto Adilah yang pertama kali memproduksinya sekitar tahun 2000. Walhasil, peminat pun semakin bertambah. Bahkan, mereka cenderung mencari keripik pisang ketimbang keripik singkong.

Pertambahan jumlah peminat diikuti pula oleh pertambahan jumlah produsen keripik. Oleh karena itu, atas prakarsa Sucipto Adi dibentuklah Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang diberi nama Telo Rejeki pada tahun 2006. Adapun tujuannya adalah agar kawasan Gang PU menjadi sentra keripik sehingga para produsen tidak perlu lagi berkeliling menjajakan dagangannya (Oktavia, 2017).

Satu tahun kemudian, atau tepatnya tanggal 2 Februari 2007 keberadaan KUB Telo Rezeki yang hanya berizin lurah dan camat, diakui dan diresmikan oleh Dinas Perindustrian Kota Bandarlampung dengan jumlah anggota 11 UMKM. Setelah mendapat legalitas formal tersebut, konsekuensi logisnya tentu saja anggota KUB Telo Rezeki mendapat pembinaan dari Dinas Perindustrian tentang pengelolaan usaha mikro, kecil, dan menengah, bagaimana cara produksi, pengemasan, bantuan permodalan, peralatan produksi, serta pelaksanaan sertifikasi produk.

Selain bekerja sama dengan Dinas Perindustrian, Sucipto Adi yang ditunjuk sebagai ketua KUB Telo Rezeki juga menjalin hubungan dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII, salah satu BUMN pembina program kemitraan dengan UMKM di Provinsi Lampung. Dari kerja sama ini KUB Telo Rezeki mendapat dukungan promosi berupa keikutsertaan dalam pameran-pameran baik di dalam maupun luar daerah Lampung. PTPN VII juga memberi pembinaan berupa peningkatan pengetahuan atau wawasan pengusaha terhadap pengelolaan manajerial, pengemasan yang baik, dan teknik produksi melalui pelatihan-pelatihan maupun seminar sehingga jumlah anggota KUB Telo Rezeki menjadi bertambah banyak.

Akhirnya, sebagai wujud dari berkembangnya Gang PU menjadi kawasan sentra industri keripik, Dinas Perindustrian dan PTPN VII membuat sebuah gapura dengan tujuan agar masyarakat mengenal gang ini (Jalan Pagar Alam) sebagai sentra penjualan sekaligus pusat pembuatan keripik di Kota Bandarlampung. Dan, semenjak berdirinya gapura jumlah produsen keripik kian bertambah. Tercatat, ada sekitar 200 orang yang bekerja sebagai karyawan di 48 kios anggota KUB Telo Rezeki. Sementara Sucipto Adi sendiri yang merupakan pelopor Telo Rezeki sempat mendapat beberapa penghargaan, di antaranya: Sidakarya dari Dinas Ketenagakerjaan Lampung tahun 2012 dan Ovop Bintang 3 dari Kementerian Perindustrian tahun 2013 dan 2015. (ali gufron)

Foto: http://tapisjakarta.blogspot.co.id/2015/12/sentra-panganan-keripik-kota-bandar.html
Sumber:
Oktavia, Vina. 2017. "Sucipto Adi Menyulap Gang Gelap menjadi Kampung Keripik", diakses dari http://regional.kompas.com/read/2017/01/18/11110051/sucipto.adi.menyulap. gang.gelap.menjadi.kampung.keripik, tanggal 28 April 2017.

Prasetyo, Heru. 2015. "Gang PU, Surganya Keripik Pisang Aneka Rasa Khas Lampung", diakses dari http://lampung.tribunnews.com/2015/06/16/gang-pu-surganya-keripik-pisang-aneka-rasa-khas-lampung?page=2, tanggal 28 April 2017.

Putranto, Angger. 2014. "Jangan Tersesat di Gang PU!", diakses dari http://travel.kompas. com/read/2014/08/01/101500227/Jangan.Tersesat.di.Gang.PU., tanggal 10 Mei 2017.
hal
Dilihat: