Warak Ngendog

Dugderan! Begitu istilah orang Semarang bagi sebuah tradisi berupa arak-arakan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Konon, asal usul nama dugderan merupakan perpaduan dari bunyi "dug" saat bedug dipukul yang diikuti oleh suara "der" ketika meriam disulut sebagai penanda akan datangnya bulan Ramadhan (Wibowo, 2015). Selain ditandai oleh pukulan bedug dan dentuman meriam, tradisi Dugderan juga dilengkapi dengan pasar malam dan arak-arakan atau kirab budaya yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat (wisatasemarang.wordpress.com).

Dalam tradisi ini ada sebuah benda yang selalu hadir berupa binatang rekaan berkaki empat dan berkepala mirip seekor naga yang disebut sebagai Warak Ngendhog/Ngendog/Ngendok (semarangkota.go.id). Ada beberapa versi mengenai asal usul binatang warak. Versi pertama menyatakan bahwa warak adalah hewan rekaan kreasi Kyai Saleh Darat dan atau Bupati KRMT Purbaningrat. Tujuan pembuatannya sebagai ikon yang dapat menarik perhatian masyarakat luas dengan fungsi setara dengan pengumuman awal puasa. Sedangkan versi lainnya dari dari Sahal (2011), yang menyatakan bahwa warak diciptakan oleh seorang seniman bernama Kyai Abdul Hadi sebagai gambaran nafsu yang harus dikalahkan dengan jalan berpuasa.

Adapun bentuknya, menurut Mawahib (2015) dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu: klasik, modifikasi, dan kontemporer. Warak klasik bergigi tajam, mata melotot, telinga tegak dan berjanggut lebat. Pada bagian badan, leher, dan keempat kakinya ditutupi bulu dengan warna berselang seling (merah, kuning, putih, hijau, dan biru). Sedangkan ekornya melengkung kaku berbulu serupa dengan badan dan berujung surai. Warak modifikasi berbentuk mirip kepala naga dengan moncong mirip buaya bergigi tajam, lidah bercabang, mata melotot, berkumis, berjanggut, bertanduk cabang, kulit bersisik, berambut surai di belakang kepala, dan kepala memakai mahkota. Sedangkan warak kontemporer secara struktur mirip dengan warak klasik, namun detail kepala dan bulu tidak sesuai. Ketiga tipe ini, sama-sama bisa "ngendok" (bertelur) karena di bagian perutnya dimasukkan sebuah telur rebus.

Foto: http://www.boombastis.com/warak-ngendog/82201
Sumber:
Wibowo, Galih. "Kebijakan Penyelenggaraan Dugderan Tradisi Kota Semarang Menyambut Bulan Ramadhan", diakses dari http://www.academia.edu/11716792/ KEBIJAKAN_PENYELENGGARAAN_DUGDERAN, tanggal 26 Desember 2015.

"Sejarah Dugderan", diakses dari https://wisatasemarang.wordpress.com/2010/04/11/se jarah-dugderan/, tanggal 24 Desember 2016.

Mawahib,Muhamad Zainal. 2015. "Kebudayaan Masyarakat Kota Semarang: Warak Ngendok sebagai Simbol Akulturasi dalam Dugderan", dalam http://jurnal.elsaonline. com/?p=75, diakses 26 Desember 2016.

"Dugderan", diakses dari http://semarangkota.go.id/main/menu/26/seni-dan-budaya/du gderan, tanggal 25 Desember 2016.

Sahal, Hamzah. 2011. "Ihwal Wrak Ngendok dan Dugderan", diakses dari http://www.nu.or.id/post/read/33261/ihwal-warak-ngendok-dan-dugderan, tanggal 4 April 2017.
hal
Dilihat: