Zulhaidar

Bila berbicara mengenai orkes Melayu di daerah Pesisir Barat, Lampung, nama Zulhaidar pasti akan selalu menjadi "trending topic" pembahasan. Dia adalah salah seorang seniman orkes Melayu yang tenar di awal tahun 1980 hingga 1990an. Orkes melayu adalah kelompok pemusik yang memainkan musik Melayu khas Pantai Timur Sumatera hingga semenanjung Melaka menggunakan alat musik berupa rebana, gambus, serunai, rebab, akordenon, gitar, bass, keyboard, drum, dan lain sebagainya.

Zulhaidar lahir pada tanggal 10 Februari 1969 di Way Suluh yang dahulu masih berada dalam wilayah Kabupaten Lampung Utara (sebelum dimekarkan menjadi Kabupaten Lampung Barat dan sekarang Kabupaten Pesisir Barat). Anak ketiga dari tujuh bersaudara ini lahir dari pasangan Maskur dan Maisuri. Saudara-saudara kandungnya adalah Yuzzir Riza, H. Herawati, Endi Mulyadi, Edwinsyah, Syahrianto, dan Yon Maryono.

Ayah Zulhaidar berprofesi sebagai seniman yang juga menjadi pemimpin Orkes Melayu Sinar Remaja. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila dalam diri Zulhaidar juga mengalir darah seni. Semenjak kecil, mungkin terbiasa melihat Sang ayah pentas bersama grup Sinar Remaja, Zulhaidar telah menunjukkan kreativitas seni dengan mengajak teman-teman di sekitar rumahnya membuat "grup tandingan".

"Grup tandingan" yang tidak diberi nama ini hampir secara rutin berlatih tiap pulang sekolah. Zulhaidar yang waktu itu bersekolah di Sekolah Dasar Negeri Way Suluh Lampung Utara ditunjuk oleh teman-temannya sebagai koordinator "grup tandingan". Berbekal kaleng dencis (kaleng bekas tiner, cat, atau susu), ember, panci yang diberi senar, dan sejumlah peralatan dapur lainnya sebagai instrumen, mereka berlatih di halaman belakang rumah Zulhaidar. Hasil latihan tentulah bukan sebuah ensembel musik yang enak didengar, melainkan ocehan ibu Zulhaidar (Maisuri) karena peralatan masaknya banyak yang rusak.

Merasa kasihan melihat Zulhaidar sering dimarahi oleh Maisuri, Maskur kemudian memberi sebuah gitar akustik agar bakat bermusiknya menjadi terarah. Tetapi, sebagaimana layaknya seniman tradisional, dia tidak memberi latihan khusus kepada Zulhaidar mengenai teknik bermain gitar. Zulhaidar diajari dengan cara mengajak ke berbagai pentas Grup Sinar Remaja di sekitar Pesisir Barat. Hasilnya, tentu saja dia dapat cepat menguasai sebagian instrumen musik yang dimainkan oleh personil Sinar Remaja.

Agar tidak terlihat "tradisional" dia "meng-upgrade" diri dengan membeli sejumlah buku panduan bermain gitar yang berisi sejumlah kunci grip dan tanda baca (not balok). Namun, hal ini tidak berpengaruh banyak karena ketika dianggap layak pentas oleh Sang ayah diberikan gitar jenis lain, yaitu gitar gambus Lampung. Gitar ini mirip seperti gambus dari daerah Timur Tengah, yaitu: (1) bersenar dobel (12 senar); (2) tidak memiliki fret atau garis tekan terbuat dari logam yang berfungsi sebagai kunci not; (3) gagang beserta resonatornya terbuat dari batang pohon nangka; dan (4) resonator dilapis kulit kambing muda agar suara yang dikeluarkan terdengar lebih lembut.

Bagi Zulhaidar yang waktu itu masih duduk di bangku kelas V SD, bermain gitar gambus jauh lebih sulit ketimbang gitar akustik. Sebab, gambus tidak memiliki fret sebagai tempat meletakkan jari-jemari pengatur nada. Dia harus mengandalkan "feeling" saat jari-jemarinya menyentuh string gambus. Kesulitan mendapatkan "feeling" yang pas inilah yang membuatnya beralih ke alat musik tabuh, yaitu gendang. Gendang relatif lebih mudah karena hanya sebagai alat pengatur tempo irama musik.

Minat Zulhaidar untuk kembali menekuni alat musik gitar terjadi ketika Sang ayah membeli sebuah gitar elektrik agar mendokrak penampilan Grup Sinar Remaja. Gitar yang lebih kaya nada dan distorsi ketimbang gitar akustik ini segera menyita perhatiannya. Setiap hari dia berlatih hingga mahir dan akhirnya ditunjuk sebagai pemain gitar melodi dalam Grup Sinar Remaja. Sebagai catatan, gitar melodi menempati posisi paling penting dalam orkes Melayu. Ia berperan sebagai pengatur tempo instrumen musik lain dan jalannya permainan. Jadi, apabila seseorang bertindak sebagai pemain gitar melodi, maka dia akan menjadi primadona panggung yang setara dengan penyanyinya.

Semenjak menggunakan gitar elektrik tersebut Grup Sinar Remaja mencapai puncak kejayaan. Jadwal pentas pun semakin bertambah padat. Menurut penuturan Zulhaidar, pada bulan-bulan tertentu Sinar Remaja pernah melakukan pentas selama 30 hari berturut-turut. Berbekal dua buah gerobak yang ditarik sapi untuk membawa peralatan (amplifier, accu, instrumen musik, toa, kabel) dan personel, Sinar Remaja tampil dari satu pekon ke pekon lainnya. Bahkan, tidak jarang mereka terpaksa menggunakan rakit untuk mencapai pekon-pekon yang belum dibuhungkan melalui jembatan.

Adapun durasi untuk sekali pentas dapat berlangsung antara 9 hingga 10 jam (mulai pukul 19.00--05.00 atau 06.00 WIB). Jumlah lagu yang dibawakan dapat mencapai puluhan buah bergantung pesanan penonton. Jenis lagunya bermacam-macam, mulai dari lagu-lagu berbahasa Lampung, dangdut Melayu, hingga lagu-lagu Sunda. Seluruhnya dibawakan non-stop segera setelah si empunya hajat (orang yang mengundang) menyampaikan sambutan pembuka.

Konsekuensi dari padat dan lama waktu pentas bagi Zulhaidar adalah terganggunya aktivitas bersekolah. Apabila jadwal pentas Sinar Remaja sangat padat misalnya, dia terpaksa membawa beberapa helai seragam sekolah karena setelah pentas harus pergi ke sekolah. Agar tidak mengantuk di kelas, sebelum berangkat Sang ayah "meracuni" dengan memberikan air kopi yang dicampur dengan garam. Begitu seterusnya hingga dia berhasil menamatkan pendidikan di SDN Way Wuluh, SMP Pembangunan Way Suluh, dan SMEA Lampung Utara (sekarang SMEA Muhammadiyah Krui).

Tamat dari SMEA Muhammadiyah Krui jurusan perdagangan sekitar awal tahun 1990 Zulhaidar mencoba menerapkan ilmu dengan berjualan gorengan. Hal ini dilakukan karena pamor Sinar Remaja mulai meredup dengan munculnya grup-grup orkes Melayu baru dan organ tunggal. Mereka umumnya menggunakan peralatan yang lebih canggih sehingga banyak dilirik orang. Selain itu, lagu-lagu yang ditampilkan bergenre lebih luas yaitu pop dan rock.

Untuk mensiasati agar tidak kalah bersaing dan tetap "dilirik" orang asli Lampung, Maskur mengubah nama Sinar Remaja menjadi Orkes Lampung Andah Muakhi. Andah berarti keinginan, sedangkan muakhi berarti persaudaraan. Jadi Andah Muakhi dapat diartikan sebagai "keinginan untuk menjalin ikatan persaudaraan antarorang Lampung". Namun, kata-kata yang agak etnosentris ini ternyata tidak dapat menolong eksistensi grup. Sinar Remaja atau Andah Muakhi akhirnya bubar. Setiap personel mencari jalan hidupnya masing-masing.

Zulhaidar memilih merantau mencari peruntungan di Tanah Jawa. Awalnya dia pergi ke daerah Ciwidey di Kabupaten Bandung. Kemudian pindah ke daerah Jelambar, Jakarta Barat, untuk bekerja sebagai karyawan di PT Dynaplast. PT Dynaplast merupakan perusahaan berskala multinasional yang memproduksi dan mendistribusikan plastik berkualitas tinggi untuk kemasan makanan, kosmetik, produk farmasi, bahan kimia dan pelupas, serta komponen plastik presisi bagi peralatan listrik rumah tangga, barang konsumsi, elektronik dan industri otomotif.

Selama menjadi karyawan Dynaplast praktis kegiatan bermusik Zulhaidar terhenti total. Tetapi dia mendapatkan pengalaman lain yang bakal dikenangnya sepanjang hidup. Pengalaman tersebut berkaitan dengan kisah cinta dengan dua orang gadis. Gadis pertama beretnis campuran Tionghoa-Jawa yang dipacari selama kurang lebih tiga tahun namun tidak berakhir dalam pelaminan. Sang gadis didesak oleh orang tuanya untuk segera menikah, sementara Zulhaidar belum siap dan masih ingin menikmati masa lajang.

Kisah cinta berikutnya terjadi setelah lepas dari gadis pertama. Waktu itu ada karyawati baru bernama May yang kebetulan satu sift (giliran kerja) dengan Zulhaidar. Oleh karena paras May alias Maemunah lumayan manis dan berasal dari sukubangsa yang sama (ulun Lampung Saibatin), timbullah ketertarikan Zulhaidar. Singkat cerita, mereka pun berpacaran dan akhirnya menikah. Buah dari pernikahan yang dilaksanakan sekitar tahun 1996 tersebut melahirkan seorang puteri dan dua orang putera, bernama: Riska Setiana, Reynaldi, dan Rama Yulian.

Sebelum menikah dengan Maemunah, sebenarnya Zulhaidar juga mendapat "pengalaman berharga" lain. "Pengalaman berharga" tersebut terjadi pada bulan Ramadhan tahun 1994. Waktu itu, mungkin karena kekurangan cairan akibat berpuasa Zulhaidar mengalami kondisi "blank" (pinjam istilah iklan air mineral Aqua) yang menyebabkan dirinya kurang berkonsentrasi. Akibatnya, ayunan cutter mesin pemotong plastik pun mengenai wajah terutama mata bagian kanan.

Zulhaidar langsung dilarikan ke ruang UGD Rumah Sakit Mata Aini di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Setelah didiagnosis, dokter menyatakan bahwa mata kanan Zulhaidar mengalami cedera yang cukup parah dan mengarah pada kebutaan sehingga harus segera dilakukan operasi. Adapun biayanya ditanggung oleh asuransi dari perusahaan karena kecelakaan terjadi pada saat Zulhaidar sedang melaksanakan tugas.

Selesai operasi yang berlangsung sekitar empat jam, Zulhaidar segera dibawa ke ruang perawatan. Di ruang perawatan tersebutlah dia merasa seperti "dipenjara". Selama kurang lebih 16 hari dia tidak boleh meninggalkan tempat tidurnya, walau hanya untuk membasuh muka. Jadi, selama kurun waktu tersebut segalanya dilakukan di atas tempat tidur, termasuk buang air kecil dan besar. Dokter yang merawat memaksa agar tidak banyak bergerak karena mata kanan yang terluka berhubungan langsung dengan bagian syaraf. Apabila banyak bergerak dikhawatirkan syaraf besar yang berada di belakang kepala akan mengalami gangguan.

Pulang dari rumah sakit dengan kondisi pengelihatan mata kanan hanya sekitar 70% Zulhaidar tetap melanjutkan pekerjaannya di PT. Dynaplast hingga menduduki jabatan sebagai Asisten Leadership (wakil mandor) serta menikahi Maemunah. Namun, jalan hidup memang sulit ditebak. Pada tahun 1998 ketika terjadi reformasi di Indonesia kehidupan masyarakat menjadi lebih sulit. Banyak orang terdampak dengan kenaikan harga kebutuhan pokok akibat krisis moneter (merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar). Sebagai rakyat kecil, Zulhaidar pun tidak luput dari dampaknya. Gaji yang hanya pas-pasan dirasa sudah tidak cukup lagi memenuhi kebutuhan hidup di Jakarta.

Setelah berpikir matang, Zulhaidar bersama Maemunah akhirnya memutuskan kembali ke kampung halaman dengan harapan dapat menyambung hidup dengan sokongan dari para kerabat. Singkat cerita, mereka pun pulang ke kampung halaman. Tiba di Pesisir Barat, mereka menuju rumah salah seorang kerabat di daerah Pugung karena tidak mendapat harta warisan dari orang tua. Dalam siitem kekerabatan masyarakat Saibatin Krui yang patrilineal-primogenitur, orang yang berhak mendapatkan harta waris adalah anak laki-laki pertama dalam keluarga. Zulhaidar adalah adak keempat dari tujuh bersaudara sehingga harta warisan sepenuhnya dikuasai oleh kakak sulungnya. Zulhaidar lebih memilih bergantung pada kerabat daripada meminta bagian yang secara adat dikuasai oleh kakak sulungnya.

Di pugung dia bekerja mengurus perkebunan kopi milik kerabat. Selain itu, dengan bekal sebuah pesawat televisi, pemutar video campact disc, dan puluhan video compact disc yang dibawa dari Jelambar diusahakannya sebagai ladang usaha. Setiap malam dia membuka "bioskop kecil" di rumah dengan mematof tarif sebesar Rp. 150,00 bagi orang yang ingin menonton film. Sementara Maemunah membuka warung kecil-kecilan untuk mensuplai kebutuhan para penonton.

Pekerjaan sebagai petani dan warungan dilakukannya hingga sekarang (kecuali membuka biskop kecil). Dia juga sesekali menggeluti profesi lamanya sebagai seniman dengan mengiringi Mamak Lawok pentas. Mamak Lawok adalah salah seorang seniman tradisi yang cukup ternama di Pesisir Barat. Tempat tinggal Mamak Lawok tidak begitu jauh dari rumah Zulhaidar sehingga keduanya sering berkolaborasi mementaskan sejumlah kesenian tradisional khas Pesisir Barat. Saat wawancara ini dilakukan Zulhaidar dan Mamak Lawok sedang berkolaborasi menciptakan sebuah lagu untuk dilombakan dalam Festival Cipta Lagu Pesisir Barat. (pepeng)

Foto: Basuki Indratno

Kampung Seni dan Wisata Manglayang

Di kaki Gunung Manglayang, tepatnya di Komplek Bumi Cinunuk Indah, Desa Cinunuk, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, ada sebuah obyek wisata bernama Kampung Seni dan Wisata Manglayang. Untuk mencapainya relatif mudah karena hanya berjarak sekitar beberapa kilometer dari Jalan Raya Cinunuk. Bagi pengunjung yang datang dari arah Bandung atau Jakarta, agar tidak terhalang macet di bundaran Cibiru, dapat menggunakan jalan tol hingga keluar di gerbang tol Cileunyi lalu menuju Jalan Raya Cinunuk. Sesampai di Jalan Raya Cinunuk (setelah toserba Griya) berbelok ke kanan menuju Jalan Cijambe. Sekitar tiga kilometer menyusuri jalanan menanjak Cijambe inilah lokasi Kampung Seni dan Wisata Manglayang berada.

Sesuai dengan namanya, obyek wisata ini merupakan tempat untuk menikmati seni dan budaya Sunda dalam nuansa alam dan tradisi bersahaja (destinasibandung.co.id). Adalah H. Kawi dan isteri (Ria Dewi Fajaria) sebagai penggagasnya. Adapun tujuannya sebagai wadah bagi warga masyarakat sekitar dalam menyalurkan kemampuan berkesenian, khususnya kesenian Sunda (antarajabar.com).

Menurut citizenmagz.com, kehadiran Kampung Seni dan Wisata Manglayang Mandala Kasundaan Sarakan Paduritan bermula dari kecintaan Kawi pada seni tari Sunda. Kawi yang berprofesi sebagai Dosen Seni Tari di ISBI Bandung kemudian membangun sebuah panggung kecil di kebun miliknya untuk mengajarkan tarian pada anak-anak yang tinggal di sekitarnya. Lambat laun, karena digunakan juga untuk pertunjukan rutin yang menyedot penonton, pada tahun 2005 Kawi menyulap kebunnya menjadi obyek wisata.

Waktu itu, agar lebih "mengena" di hati masyarakat sekitar, sebagian besar pementasan diisi oleh alunan musik dangdut. Di sela-sela penampilan para pedangdut itulah Kawi menyisipkan kesenian Sunda (antarajabar.com). Secara perlahan namun pasti kesenian Sunda akhirnya menggantikan pentas musik dangdut. Adapun pementasannya sendiri menurut citizenmagz.com, dilakukan setiap pekan (malam minggu) dari pukul 20.00 WIB hingga tengah malam, dengan agenda: pekan pertama diisi oleh pertunjukan wayang golek, pekan kedua seni benjang; pekan ketiga ketuk tilu; dan pekan keempat menampilkan seni tradisional dan modern (pop Sunda).

Kegigihan Kawi dan isterinya dalam mewadahi, menghimpun, dan mengelola potensi seni dan budaya Sunda berujung manis. Dua tahun setelah dibuka, tepatnya pada 29 Agustus 2007 Kampung Seni dan Wisata Manglayang diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat kala itu, Danny Setiawan (tempointeraktif.com). Dan, karena diorganisir secara baik, tiga tahun setelah diresmikan langsung mendapat penghargaan dari Gubernur Jawa Barat sebagai kampung seni terbaik, sehingga ditetapkan sebagai Dewa Wisata Kabupaten Bandung pada 9 Februari 2011 (citizenmagz.com). Selain itu, mendapat penghargaan pula dari Museum Rekor Indonesia karena memiliki sekitar 500 buah permainan khas Indonesia (hellobandungku.com).

Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila setelah mendapat predikat sebagai kampung seni terbaik, Kampung Seni dan Wisata Manglayang banyak dikunjungi orang. Mereka tidak hanya berasal dari warga masyarakat sekitar, tetapi juga dari daerah lain di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera, Kalimantan, dan bahkan mancanegara (Afrika, Jepang, Amerika, Cina, Singapura, dan Malaysia) (pikiran-rakyat.com).

Fasilitas Kampung Seni dan Wisata Manglayang
Sebagai sebuah obyek wisata budaya yang berhasil mendapat sejumlah penghargaan, tentu saja memiliki beragam fasilitas yang cukup memadai. Fasilitas-fasilitas tersebut dibagi dalam empat bagian, yaitu religi dan agraris pada bagian atas, tempat berlatih kesenian pada bagian tengah, alam pada bagian samping, dan anak-anak pada bagian depan bawah (jalanjalanyuk.com). Seluruh fasilitas berupa balong atau kolam pemancingan, bangunan khusus untuk memelihara burung, kandang domba, sawah, tajug (mushola), leleson (tempat istirahat), leuit (lumbung padi), kamar kecil, panggung terbuka, dan saung berada dalam areal seluas 1,8 hektar yang dipenuhi oleh beragam tumbuhan (tangkil, lengkeng, bambu tali, asam, peuteuy, dan lain sebagainya) sehingga terlihat asri.

Khusus untuk bangunan saung, Kampung Seni dan Wisata Manglayang memiliki beberapa buah saung yang diberi nama sesuai dengan fungsinya. Saung-saung tersebut adalah: (1) Saung Binangkit, digunakan untuk menikmati hamparan padi di sawah; (2) Saung Wreti, berfungsi sebagai tempat penyimpan peralatan rumah tangga (gentong, kentongan, caping, boboko); (3) Saung Lisung, berfungsi sebagai tempat penyimpanan lisung atau alat penumbuk padi menjadi beras; (4) Saung Kamonesan, berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda budaya (topeng, wayang golek, lukisan); (5) Saung Riung, berfungsi sebagai tempat berkumpul para pengunjung; (6) Saung Lodang, berfungsi sebagai tempat penyimpanan peralatan kesenian; dan (7) Saung Tamba Hanaang, berfungsi sebagai tempat beristirahat yang menyediakan beragam makanan dan minuman seperti keripik singkong, ranginang, peuyeum, bengkerok hingga mie instan.

Sebagian fasilitas diperuntukkan bagi pertunjukan dan pelatihan kesenian serta arena permainan bagi pengunjung. Jadi, apabila ada pengunjung yang ingin melihat pertunjukan seni, tinggal menuju panggung terbuka di bagian tengah kampung wisata. Apabila ada yang ingin berlatih seni, juga dapat menuju ke bagian tengah atau ke saung-saung yang sedang mengadakan pelatihan benjang, pencak silat, gamelan, tari-tarian, dan karawitan. Begitu juga bila membawa anak untuk bermain, dapat menuju ke bagian tengah atau saung-saung yang menyimpan peralatan permainan. Adapun permainan yang ada di Kampung Seni dan Wisata Manglayang di antaranya adalah: egrang (berjalan menaiki potongan bambu), congklak, bebedilan, gasing kayu, lompat karet, sorodot gaplok, bebelotakan, dan lain sebagainya (destinasibandung.co.id).

Sebagai catatan, untuk dapat menikmati berbagai fasilitas tersebut pihak pengelola tidak mematok biaya apa pun alias gratis bagi pengunjung yang datang secara perorangan. Namun, bagi pengunjung yang datang dalam bentuk rombongan akan dikenakan sejumlah biaya berkenaan dengan materi yang akan ditampilkan, bergantung permintaan atau paket yang sudah ditetapkan pihak pengelola.

Kondisi Sekarang
Deskripsi di atas merupakan potret Kampung Seni dan Wisata Manglayang saat mencapai puncak "kejayaannya". Kondisinya sekarang cukup memprihatinkan (tidak terawat, kotor, dan beberapa saung telah dibongkar). Kampung seni ini hanya beroperasi selama lima tahun (sejak diresmikan oleh Danny Setiawan) sebelum ditutup oleh pemilik lahan pada akhir 2012 (jabar.tribunnews.com). Adapun penyebabnya, menurut citizenmagz.com dan jabar.tribunnews.com adalah karena kesibukan sang pemilik dalam bidang pendidikan seni tari serta melanjutkan pendidikan Strata 3 di Yogyakarta. Sementara menurut pesona-bandung.blogspot.co.id, disebabkan oleh tidak adanya agenda rutin pertunjukan. Hal inilah yang menyebabkan pengunjung rombongan harus melakukan reservasi terlebih dahulu agar pengelola dapat mempersiapkan jenis kesenian yang diminta. (ali gufron)


Foto: Pepeng
Sumber:
"Kampung Seni Wisata Manglayang Hadirkan Beragam Pertunjukan" diakses dari http://www. destinasibandung.co.id/kampung-seni-wisata-manglayang-hadirkan-beragam-pertunjukan.html, tanggal 27 Juni 2017.

"Kampung Seni Dan Wisata Manglayang Untuk Kesundaan", diakses dari http://www. antarajabar.com/berita/23159/kampung-seni-dan-wisata-manglayang-untuk-kesundaan, tanggal 27 Juni 2017.

"Kampung Seni Manglayang, Objek Wisata Seni yang Mulai Terabaikan", diakses dari http://citizenmagz. com/?p=4926, tanggal 27 Juni 2017.

"Wisata Masa Silam di Manglayang" diakses dari http://www.tempointeraktif.com/hg/per jalanan/2008/11/24/brk,20081124-147685,id.html, tanggal 28 Juni 2017.

"Desa Wisata Manglayang Cinunuk, Harta Karun Di Sudut Bandung", diakses dari http://hellobandungku.com/desa-wisata-manglayang-cinunuk-harta-karun-di-sudut-bandung/, tanggal 28 Juni 2017.

"Kampung Seni Dan Wisata Manglayang", diakses dari http://www.jalanjalanyuk.com/ kampung-seni-dan-wisata-manglayang/, tanggal 28 Juni 2017.

"Kampung Seni Manglayang Menarik Wisatawan Asing", diakses dari http://www.pikiran-rakyat.com/wisata/2012/02/29/178815/kampung-seni-manglayang-menarik-wisatawan-asing, tanggal 28 Juni 2017.

"Kampung Seni Manglayang", diakses dari http://pesona-bandung.blogspot.co.id/2012/04/ kampung-seni-manglayang.html, tanggal 29 Juni 2017.

"Kampung Seni dan Wisata Manglayang Sudah Lama Ditutup", diakses dari http://jabar. tribunnews.com/2015/02/27/kampung-seni-dan-wisata-manglayang-sudah-lama-ditutup, tanggal 1 Juli 2017.

Pudak Bebai

Pudak Bebai adalah satu dari 12 tupping Keratuan Darah Putih di Kabupaten Lampung Selatan. Sebelum menjadi bagian dari kesenian, Pudak Bebai dan sebelas tupping lainnya (yang masih asli) hanya boleh dikenakan oleh keturunan dari duabelas punggawa Keratuan Darah Putih karena dianggap sakral dan mempunyai kekuatan gaib tertentu. Adapun bentuk Pudak Bebai sendiri menyerupai muka seorang perempuan yang bertugas di Tanjung Selaki dan dikenakan oleh Kakhya Bangsa Saka (Desa Ruang Tengah).

Sedangkan ke-sebelas tupping lainnya, adalah: (1) Ikhung Cungak atau berhidung mendongak yang bertugas di Tanjung Tua (Tupai Tanoh) dan dikenakan oleh Kakhya Khadin Patih (Desa Kuripan); (2) Ikhung Tebak atau berhidung melintang yang bertugas di Gunung Rajabasa (Buai Tambal) dan dikenakan oleh Kakhya Jaksa (Desa Kuripan); (3) Luakh Takhing bertugas di Anjak Kekhatuan Mit Matakhani dan dikenakan oleh Kakhya Menanti Khatu (Desa Kuripan); (4) Jangguk Khawing atau berjanggut pankang, bertugas di Seragi sampai Way Sekampung dan dikenakan oleh Kakhya Jaga Pati (Desa Kekiling); (5) banguk Khabit atau bermulut sompel, bertugas di Gunung Cukkih Selat Sunda dan dikenakan oleh Kakhya Yuda Negara (Desa Kekiling); (6) Bekhak Banguk atau bermulut lebar, bertugas di Kekiling Gunung dan dikenakan oleh Kakhya Jaga Pamuk (Desa Ruang Tengah); (7) Mata Sipit, bertugas di Batu Payung dan dikenakan oleh Temunggung Agung Khaja (Desa Ruang Tengah); (8) Banguk Kicut atau bermulut mengot, dipakai oleh Ngabihi Paksi (Desa Ruang Tengah); (9) Mata Kadugok atau mata mengantuk, bertugas di Anjak Kekhautan Tugok Matahani Minjak dan dikenakan oleh Kakhya Sangunda (Desa Tetaan); (10) Matta Kiccong, betugas di Tuku Tiga dan dikenakan oleh Kakhya Kiyai Sebuah (Desa Tetaan); dan Ikhung Pisek atau hidung pesek, bertugas di Sumokh Kucing dan dikenakan oleh Khaja Temunggung (Desa Tetaan).

Berikut adalah rupa tupping Pudak Bebai dalam bentuk tugu atau monumen yang di buat dalam rangka ikut memeriahkan Festival Krakatau 2016. Dalam rangkaian festival tersebut Kabupaten Lampung Selatan mengusung 12 tupping Keratuan Darah Putih pada parade budaya adat.






Nayuh

Nayuh adalah acara adat yang umumnya dilakukan oleh suatu keluarga besar ulun Lampung Saibatin ketika akan mengadakan khitanan, mendirikan rumah, pernikahan, dan lain sebagainya. Tujuan nayuh adalah untuk merundingkan dan mempersiapkan segala keperluan guna melangsungkan suatu upacara secara bersama-sama dalam sebuah keluarga besar. Jadi, sebelum upacara dilangsungkan seperti khitanan atau pernikahan, pihak keluarga besar akan bermusyawarah menyiapkan berbagai peralatan dan perlengkapannya, seperti: tandang bulung, kecambi, nyami buek, nyekhallai siwok, khambah babukha sappai di begalai, setukhuk (bahan-bahan mentah untuk dibuat penganan dan makanan), ngejappang (makanan yang sudah dimasak dan siap untuk dihidangkan), dan lain sebagainya.

Khusus untuk upacara pernikahan, selain barang-barang tersebut di atas, pihak keluarga besar juga akan memusyawarahkan barang-barang yang harus disediakan oleh calon mempelai laki-laki yang oleh orang Lampung Saibatin disebut himpun. Himpun ini nantinya akan dipertunjukan bersama dengan perangkat adat lain seperti pakaian adat di lamban dan di bah (arak-arakan) yang disesuaikan dengan adok atau status sosialnya dalam masyarakat.

Aksara Lampung

Bahasa Lampung termasuk dalam cabang Sundik dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia. Adapun penuturnya adalah Ulun Lampung yang mendiami Provinsi Lampung dan sebagian di selatan Palembang serta pantai Barat Provinsi Banten. Menurut adatistiadatlpg.blogspot.co.id, rumpun bahasa Lampung dibagi menjadi tiga, yaitu: bahasa Komering, bahasa Lampung dialek Belalau (Api), dan bahasa Lampung dialek abung (Nyo).

Dialek Belalau, Abung, maupun Komering sama-sama memiliki aksara yang ada hubungannya dengan aksara Palawa atau Dewdatt Deva Nagari dari India Selatan yang diperkirakan masuk ke Pulau Sumatera semasa kejayaan Kerajaan Sriwijaya (700-1300). Selain dengan aksara Palawa, bentuk aksara (had) Lampung juga mirip dengan aksara Reuncong (Aceh), Rejang (Bengkulu), dan aksara Bugis. Aksara ini terdiri dari huruf induk, anak huruf, anak huruf ganda, gugusan konsonan, lambang, angka, dan tanda baca. Aksara Lampung disebut dengan istilah Ka-Ga-Nga serta ditulis dan dibaca dari kiri ke kanan. Jumlahnya ada 20 buah, yaitu: ka–ga–nga–pa–ba–ma–ta–da–na–ca–ja–nya–ya–a –la–ra–sa–wa–ha–gha (http://indahlampungku.blogspot.co.id).

Menurut irfanmovick.blogspot.com, istilah kaganga diciptakan untuk mengelompokkan aksara Rejang, Lampung, dan Rencong (Kerinci). Istilah ini pertama kali dikemukakan oleh Mervyin A. Jaspan, antropolog dari University of Hull (Inggris) dalam buku Folk Literature of South Sumatra, Redjang Ka-Ga-Nga Texts. Sementara masyarakat Lampung sendiri menggunakan Surat Ulu atau Surat Ogan untuk mengistilahkan had Lampung.

Struktur fonetiknya (vokal dan diftong) merupakan huruf hidup seperti dalam aksara Arab, dengan menggunakan tanda-tanda fathah di baris atas dan tanda-tanda kasrah di baris bawah, tetapi tidak memakai tanda dammah di baris depan, melainkan menggunakan tanda di belakang (adatistiadatlpg.blogspot.co.id). Masing-masing tanda (anak huruf) mempunyai nama tersendiri yang jumlahnya ada 12 buah. Anak huruf yang terletak di bagian atas terdiri atas ulan, bicek, tekelubang (ang), rerenjung (ar), datas (an). Anak huruf di bagian bawah terdiri atas bitan dan tekelungau (au). Dan, anak huruf yang terletak di belakang huruf induk terdiri atas tekelingai (ai), keleniah (ah), dan nengen (tanda huruf mati).

Anak huruf yang terletak dibagian atas yaitu ulan berbentuk setengah lingkaran kecil yang terletak di atas huruf induk. Ulan terdiri dari dua macam: ulan yang menghadap ke atas melambangkan bunyi [i], sedangkan ulan yang menghadap ke bawah melambangkan bunyi [e]. Anak huruf bicek berbentuk garis tegak yang terletak di atas induh huruf. Bicek melambangkan bunyi [e]. Anak huruf terkelubang berbentuk garis mendatar (seperti tanda hubung dalam ejaan bahasa Indonesia) yang melambangkan bunyi [ng]. Anak huruf rejenjung berbentuk menyerupai angka empat dan melambangkan huruf [r]. Anak huruf datas berbentuk mirip seperti tanda hubung dalam ejaan bahasa Indonesia yang melambangkan bunyi [n] (www.kotametro.com).

Sementara anak huruf yang terletak di bawah huruf yaitu bintan yang berbentuk garis pendek mendatar melambangkan bunyi [u] dan garis tegak melambangkan bunyi [o]; serta tekelungau berbentuk setengah lingkaran kecil yang melambangkan bunyi [au]. Sedangkan anak huruf yang terletak di kanan induk huruf adalah anak huruf tekelingan yang berbentuk tegak lurus dan melambangkan bunyi [ai]; anak huruf keleniah yang berbentuk seperti huruf ha dan melambangkan bunyi [h]; serta anak huruf nengen berbentuk garis miring yang melambangkan sebagai huruf mati (www.kotametro.com).

Mengenai huruf "r" [ra], ada perbedaan pendapat di antara orang Lampung sendiri. Perbedaan ini umumnya dikaitkan dengan masalah penulisan huruf 'r' menjadi 'kh' atau 'gh'. Udo Z. Karzi (2008), seorang penyair terkenal asal Liwa, menyatakan bahwa ada beberapa literatur yang memakai 'r' dan bukan 'ch', 'kh', atau 'gh' diantaranya: (1) H. N. van der Tuuk, “Het Lampongsch en Zijne Tongvallen”, TBG (Tijdschrift Bataviaasch Genootschap), deel 18, 1872, pp. 118-156; C. A. van Ophuijsen, “Lampongsche Dwerghert-Verhalen”, BKI (Bijdragen Koninklijk Instituut), deel 46, 1896, pp. 109-142; (2) Dale Franklin Walker, “A Grammar of the Lampung Language”, Ph.D. Thesis, Cornell University, 1973; (3) Junaiyah H.M. dkk dalam Pedahuluan untuk Kamus Bahasa Lampung-Indonesia(diterbitkan Balai Pustaka, Jakarta, 2001, hlm. 3) menulis: "... huruf gh dibaca seperti huruf ghain dalam bahasa Arab ditandai dengan penanda bunyi /R/. Hal ini dilakukan demi kemudahan penulisan, misalnya, ghedak /Reda'/."; (4) Aksara Lampung yang 19 huruf, dari ka-ga-nga sampai ra-sa-wa-ha, dibahas oleh Prof. Karel Frederik Holle, Tabel van Oud en Nieuw Indische Alphabetten (Batavia, 1882), dan meskipun selintas disinggung juga oleh Prof. Johannes Gijsbertus de Casparis, Indonesian Palaeography: A History of Writing in Indonesia (Leiden, 1975); (5) William Marsden dalam buku Sejarah Sumatra terbitan Komunitas Bambu, 2008 hlm. 190, menyebutkan susunan alfabet Lampung, yaitu ka ga nga pa ba ma ta da na cha ja nya ya a la ra sa waha (19 huruf); dan (6) Moehamad Noeh dalam buku Pelajaran Membaca dan Menulis Huruf Lampung (Dinas Pendidikan danKebudayaan Lampung, 1971) hlm. 4 menyebutkan banyak huruf kuno Lampung—disebut huruf Basaja karena kalau huruf itu berdiri sendiri dia mengandung bunyi a—ada19 buah. Banyak huruf tulisan sekarang ada 19 buah ditambah dengan huruf gha jadi 20 buah. Urutan huruf Lampung adalah ka ga nga pa ba ma ta da na ca ja nyaya a la ra sa wa ha gha.

Pendapat Udo Z. Karzi mengenai pemakaian ejaan 'r' yang argumennya didasarkan oleh beberapa akademisi ini disanggah oleh Natakembahang (2014). Menurutnya, Udo justru terjebak pada klaim sepihak tentang pembenaran penggunaan huruf 'r' sebagai satu-satunya yang sah dalam penulisan huruf Lampung pada kosakata berlafal 'kh' dan 'gh'. Padahal, sejak era kolonial yang berarti sebelum EYD digunakan pada medio 1972, justru telah dikenal penggunaan 'ch' sebagai penulisan kosakata yang berlafal 'kh'.

Selanjutnya, Natakembahang (2014) juga mengemukakan beberapa alasan mengapa huruf 'r' tidak bisa menggantikan kosakatan Lampung yang berlafal 'kh' atau 'gh'. Pertama, huruf Lampung saat ini terdiri dari dua puluh buah (ka, ga, nga, pa, ba, ma, ta, da, na, ca, ja, nya, ya, a, la, ra, sa, wa, ha, gha/kha) sehingga jelas bahwa ra dan gha/kha adalah dua huruf yang berbeda dan peruntukannya disesuaikan dengan kosakata yang akan ditulis, karena jika tidak dibedakan maka pembaca khususnya yang bukan penutur bahasa Lampung akan mengalami kegalatan dalam membedakan huruf 'r' yang dibaca 'r' dengan huruf 'r' yang dibaca 'kh/gh'.

Kedua, komparasi yang tepat dan ideal dalam menggambarkan penggunaan lafal kh dan gh adalah seperti kho dan ghin dalam huruf Arab. Dalam penulisan aksara Arab juga dalam penulisan latinnya, kosakata yang menggunakan huruf 'kho' atau 'ghin' tidak lantas ditulis atau diganti dengan huruf 'r' [ra] karena arti dan maknanya berbeda, hal yang tentunya berlaku juga dalam penulisan kosakata Lampung. Sebab, pelafalan 'kho' dalam huruf Arab sama persis seperti pelafalan 'kh' pada mayoritas penutur bahasa Lampung yang berdialek Belalau (api), sementara pelafalan 'ghin' persis sama seperti pelafalan 'gh' pada penutur bahasa Lampung berdialek Abung (nyo).

Ketiga, penulisan 'kh/gh' yang berlafal sama lebih lazim digunakan ketimbang digantikan atau ditulis dengan huruf 'r'. Berbagai media penulisan teks berbahasa Lampung menggunakan penulisan kh/gh, mulai dari kehidupan sehari-hari seperti saat menulis di sms dan media sosial hingga yang relatif formal dan baku seperti penulisan naskah pidato di pemerintah daerah, hingga buku-buku pelajaran bahasa Lampung dan kamus bahasa Lampung. Hal tersebut membuktikan bahwa secara empiris penulisan kh/gh jauh lebih lazim digunakan sehari-hari hingga untuk kebutuhan yang lebih formal oleh penutur bahasa Lampung secara de facto ketimbang ditulis dengan huruf 'r'.

Keempat, dalam bahasa Indonesia dikenal beberapa konsonan atau gabungn huruf, masing-masing adalah ng, ny, sy, dan hk. Hal ini jelas membuktikan bahwa penggunaan kh adalah sesuai dengan tata bahasa Indonesia. Bahkan, pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terdapat beberapa kosakata yang menggunakan konsonan kh. Ini menjelaskan bahwa KBBI juga mengakomodir penulisan kh dalam kosakata yang berlafal sama dan tidak menuliskannya dengan huruf r, h, k, atau g. Pelafalan kh seperti pada kosakata yang terdapat dalam KBBI adalah persis sama dengan pelafalan kh pada sebagian besar penutur dialek Belalau (Api).

Sumber:
"Bahasa Lampung", diakses dari http://indahlampungku.blogspot.co.id/p/bahasa_11.html, tanggal 9 Mei 2016.

"Bahasa Lampung dan Aksara Lampung", diakses dari http://adatistiadatlpg. blogspot.co.id/2015/05/bahasa-lampung-dan-aksara-lampung.html, tanggal 9 Mei 2016.

"Mengenal Huruf Sunda Kaganga", diakses dari http://irfanimovick.blogspot.com/2009 /10/mengenal-huruf-sunda-kaganga.html, tanggal 20 Mei 2016.

"Aksara Lampung dan Tanda Bacanya (Huruf Induk dan Anak Huruf)", diakses dari http://www.kotametro.com/aksara-lampung-dan-tanda-bacanya-huruf-induk-dan-anak-huruf.html, tanggal 21 Mei 2016.

Karzi, Udo. Z. 2008. "Bingkai: Peta Bahasa- Budaya Lampung. Lampung Post, Minggu 23 Maret 2008.

Natakembahang, Diandra. 2014. Perdebatan Penggunaan Kh dan Gh dalam Penulisan Kota Kata Lampung. Lampung Ekspres Plus 15 Januari 2014.

Gang PU, Sentra Produksi Keripik Lampung

Bagi warga Bandarlampung, apabila mendengar nama Gang PU tentu yang terlintas di benak adalah sebuah jalan dengan sisi kiri dan kanannya dipenuhi oleh toko-toko penjual penganan tradisional berupa aneka keripik terbuat dari pisang, ketela, salak, tales, nangka, dan sukun dengan berbagai macam variasi rasa, seperti: asin, manis, jagung bakar, balado, sapi panggang, stroberry, melon, cokelat, vanila, asam manis, keju, moka, dan cokelat kacang.

Gang PU adalah sebutan lain dari Jalan Pagar Alam yang terletak di Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Kedaton, Kota Bandarlampung (Putranto, 2014). Untuk mencapainya, bila dari Tanjungkarang melalui Jalan Teuku Umar hingga tiba di sebuah pertigaan Jalur dua Sultan Agung. Sebagai identitas "Gang PU", terdapat gapura besar bertuliskan "Selamat Datang Di Kawasan Sentra Industri Keripik Kota Bandar Lampung" berikut logo Kota Bandarlampung dan PT Perkebunan Nasional VII (PTPN VII).

Awalnya, Gang PU hanyalah sebuah jalan kecil yang relatif sepi dan gelap gulita bila hari berganti malam. Adalah seorang bernama Sucipto Adi yang kemudian membuat gang ini menjadi sentra produksi keripik sekaligus lokasi belanja bagi wisatawan. Pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 25 Oktober 1966 ini dahulu hanyalah seorang buruh bangunan lepas dengan upah sebesar Rp.10.000,- per hari. Oleh karena desakan ekonomi, pada tahun 1996 dia berusaha mencari usaha lain agar dapat menghidupi keluarganya, yaitu dengan menjual keripik singkong (Oktavia, 2017).

Berbekal uang hasil tabungan sejumlah Rp.350.000,- Sucipto Adi membeli sebuah gerobak dorong serta bahan baku pembuat keripik. Dengan gerobak dorong tersebut dia berjualan di Pasar Bambu Kuning yang berjarak sekitar lima kilometer dari rumahnya. Apabila stok keripik masih tersisa, dalam perjalanan pulang dia juga menyusuri gang-gang kecil untuk mencari pembeli.

Dalam waktu tidak berapa lama, usaha Sucipto Adi berkembang pesat dengan memiliki sekitar 50 orang pelanggan. Agar dapat memenuhi kebutuhan para pelanggannya yang semakin hari bertambah banyak, dia lalu mengajak lima orang tetangganya mengembangkan usaha serupa. Bersama-sama mereka mengembangkan usaha keripik singkong tidak hanya untuk kebutuhan para pelanggan Sucipto Adi, melainkan juga dipasarkan ke sejumlah warung dan kantin terdekat.

Seiring waktu, timbullah inovasi dari para pedagang keripik Gang PU yaitu penggunaan bahan baku baru berupa pisang jenis kepok Manado. Menurut Prasetyo (2015), penggunaan pisang sebagai bahan baku berawal pada sekitar tahun 2003 ketika salah seorang penjaja bernama Harianto iseng-iseng membuat keripik pisang dengan rasa asin dan manis. Sementara menurut Oktavia (2017), Sucipto Adilah yang pertama kali memproduksinya sekitar tahun 2000. Walhasil, peminat pun semakin bertambah. Bahkan, mereka cenderung mencari keripik pisang ketimbang keripik singkong.

Pertambahan jumlah peminat diikuti pula oleh pertambahan jumlah produsen keripik. Oleh karena itu, atas prakarsa Sucipto Adi dibentuklah Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang diberi nama Telo Rejeki pada tahun 2006. Adapun tujuannya adalah agar kawasan Gang PU menjadi sentra keripik sehingga para produsen tidak perlu lagi berkeliling menjajakan dagangannya (Oktavia, 2017).

Satu tahun kemudian, atau tepatnya tanggal 2 Februari 2007 keberadaan KUB Telo Rezeki yang hanya berizin lurah dan camat, diakui dan diresmikan oleh Dinas Perindustrian Kota Bandarlampung dengan jumlah anggota 11 UMKM. Setelah mendapat legalitas formal tersebut, konsekuensi logisnya tentu saja anggota KUB Telo Rezeki mendapat pembinaan dari Dinas Perindustrian tentang pengelolaan usaha mikro, kecil, dan menengah, bagaimana cara produksi, pengemasan, bantuan permodalan, peralatan produksi, serta pelaksanaan sertifikasi produk.

Selain bekerja sama dengan Dinas Perindustrian, Sucipto Adi yang ditunjuk sebagai ketua KUB Telo Rezeki juga menjalin hubungan dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII, salah satu BUMN pembina program kemitraan dengan UMKM di Provinsi Lampung. Dari kerja sama ini KUB Telo Rezeki mendapat dukungan promosi berupa keikutsertaan dalam pameran-pameran baik di dalam maupun luar daerah Lampung. PTPN VII juga memberi pembinaan berupa peningkatan pengetahuan atau wawasan pengusaha terhadap pengelolaan manajerial, pengemasan yang baik, dan teknik produksi melalui pelatihan-pelatihan maupun seminar sehingga jumlah anggota KUB Telo Rezeki menjadi bertambah banyak.

Akhirnya, sebagai wujud dari berkembangnya Gang PU menjadi kawasan sentra industri keripik, Dinas Perindustrian dan PTPN VII membuat sebuah gapura dengan tujuan agar masyarakat mengenal gang ini (Jalan Pagar Alam) sebagai sentra penjualan sekaligus pusat pembuatan keripik di Kota Bandarlampung. Dan, semenjak berdirinya gapura jumlah produsen keripik kian bertambah. Tercatat, ada sekitar 200 orang yang bekerja sebagai karyawan di 48 kios anggota KUB Telo Rezeki. Sementara Sucipto Adi sendiri yang merupakan pelopor Telo Rezeki sempat mendapat beberapa penghargaan, di antaranya: Sidakarya dari Dinas Ketenagakerjaan Lampung tahun 2012 dan Ovop Bintang 3 dari Kementerian Perindustrian tahun 2013 dan 2015. (ali gufron)

Foto: http://tapisjakarta.blogspot.co.id/2015/12/sentra-panganan-keripik-kota-bandar.html
Sumber:
Oktavia, Vina. 2017. "Sucipto Adi Menyulap Gang Gelap menjadi Kampung Keripik", diakses dari http://regional.kompas.com/read/2017/01/18/11110051/sucipto.adi.menyulap. gang.gelap.menjadi.kampung.keripik, tanggal 28 April 2017.

Prasetyo, Heru. 2015. "Gang PU, Surganya Keripik Pisang Aneka Rasa Khas Lampung", diakses dari http://lampung.tribunnews.com/2015/06/16/gang-pu-surganya-keripik-pisang-aneka-rasa-khas-lampung?page=2, tanggal 28 April 2017.

Putranto, Angger. 2014. "Jangan Tersesat di Gang PU!", diakses dari http://travel.kompas. com/read/2014/08/01/101500227/Jangan.Tersesat.di.Gang.PU., tanggal 10 Mei 2017.

Kabing Enau dan Rotan Muda

Batang rotan tidak hanya digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan suatu kerajinan, seperti kursi, meja, keranjang, piring, nampan, tudung saji, penggebuk kasur, tas, mainan anak dan lain sebagainya. Di daerah Lampung Barat misalnya, batang rotan atau biasa disebut kabing rotan juga digunakan sebagai bahan pembuat sayuran. Bersama dengan kabin enau, kabin rotan yang masih muda diolah sedemikian rupa untuk disajikan sebagai makanan dalam berbagai upacara adat.

Adapun cara membuatnya, mula-mula dengan mencari kabing rotan yang masih muda serta kabing enau yang sudah tua. Selanjutnya, kabing rotan dan enau yang telah dipilih diiris tipis lalu direndam dalam air selama satu hingga dua jam. Tujuan perendaman adalah agar getah dari kedua kabing atau batang tersebut menjadi luntur dan larut dalam air.

Bila getah telah larut, irisan kabing dibilas hingga bersih kemudian dicampur dengan santan kelapa dan berbagai macam bumbu dapur untuk dijadikan sebagai masakan. Konon, masakan yang berupa sayuran ini telah ada sejak zaman penjajahan Belanda dan diyakini dapat mengobati berbagai macam penyakit. (gufron)

Bahasa Lampung

Bahasa Lampung termasuk dalam cabang Sundik dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia yang masih dekat dengan bahasa Sunda, Batak, Jawa, Bali, Melayu, dan beberapa bahasa lainnya di Indonesia (indahlampungku.blogspot.co.id). Penutur rumpun bahasa Lampung adalah Ulun Lampung yang mendiami Provinsi Lampung dan sebagian di selatan Palembang serta pantai Barat Provinsi Banten.

Menurut adatistiadatlpg.blogspot.co.id, rumpun bahasa Lampung dibagi menjadi tiga, yaitu: bahasa Komering, bahasa Lampung Api, dan bahasa Lampung Nyo. Ketiga rumpun ini dibagi lagi dalam dialek "A" dan dialek "O". Dialek "A" sebagian besar dituturkan oleh ulun beradat Peminggir atau Saibatin, yaitu: Melinting-Meranggai, Pesisir Rajabasa, Pesisir Teluk, Pesisir Semaka, Pesisir Krui, Belalau dan Ranau, Komering, Kayu Agung, dan ulun beradat Pepadun (Way Kanan, Sungkai, dan Pubian). Sedangkan dialek "O" hanya dituturkan oleh ulun beradat pepadun, yaitu Abung dan Menggala/Tulangbawang.

Sementara menurut Dr van Royen yang dikutip oleh id.wikipedia.org, mengklasifikasikan rumpun bahasa Lampung ke dalam dua subdialek, yaitu dialek Belalau atau Api dan dialek Abung atau Nyo. Dialek Belalau (Api) dibagi menjadi: (1) Logat Belalau dipertuturkan oleh ulun Lampung yang berdomisili di Kabupaten Lampung Barat (Kecamatan Balik Bukit, Belalau, Suoh, Sukai, Ranau, Sekincau, Gedung Surian, Way Tenong, dan Sumber Jaya), Kabupaten Lampung Selatan (Kecamatan Kalianda, Penengahan, Palas, Pedada, Katibung, Way Lima, Padangcermin, Kedondong, dan Gedongtataan), Kabupaten Tanggamus (Kecamatan Kotaagung, Semaka, Talangpadang, Pagelaran, Pardasuka, Hulu Semuong, Cukuhbalak, dan Pulau Panggung), Kota Bandarlampung (Teluk Betung Barat, Teluk Betung Selatan, Teluk Betung Utara, Panjang, Kemiling, dan Rajabasa), dan Provinsi Banten (Cikoneng, Bojong, Salatuhur, Tegal, Anyer, dan Serang); (2) Logat Krui dipertuturkan oleh ulun Lampung yang berdomisili di Kabupaten Pesisir Barat, yaitu di Kecamatan Pesisir Tengah, Pesisir Utara, Pesisir Selatan, Karya Penggawa, Lemong, Bengkunat, dan Ngaras; (3) Logat Melinting dipertuturkan oleh ulun Lampung di Kabupaten Lampung Timur (Kecamatan Labuhan Maringgai, Kecamatan Jabung, Kecamatan Pugung, dan Kecamatan Way Jepara; (4) Logat Way Kanan dipertuturkan oleh ulun Lampung di Kabupaten Way Kanan (Kecamatan Blambangan Umpu, Baradatu, Bahuga, dan Paku Ratu); (5) Logat Pubian dipertuturkan oleh ulun Lampung di Kabupaten Lampung Selatan (Natar, Gedung Tataan, dan Tegineneng), Kabupaten Lampung Tengah (Kecamatan Pubian dan Kecamatan Padangratu), dan Kota Bandarlampung (Kecamatan Kedaton, Sukarame, dan Tanjung Karang Barat); (6)Logat Sungkay dipertuturkan oleh ulun Lampung di Kabupaten Lampung Utara (Kecamatan Sungkay Selatan, Sungkau Utara, dan Sungkay Jaya); dan (7) Logat Jelema Daya atau Logat Komering dipertuturkan oleh ulun Lampung yang berdomisili di Provinsi Sumatera Selatan (Muaradua, Martapura, Belitang, Cempaka, Buay Madang, Lengkiti, Ranau, dan Kayuagung).

Dialek Abung (Nyo) dibagi menjadi: (1)Logat Abung dipertuturkan oleh ulun Lampung di Kabupaten Lampung Utara (Kecamatan Kotabumi, Abung Barat, Abung Timur, dan Abung Selatan), Kabupaten Lampung Tengah (Kecamatan Gunung Sugih, Punggur, Terbanggi Besar, Seputih Raman, Seputih Banyak, Seputih Mataram, dan Rumia), Kabupaten Lampung Timur (Kecamatan Sukadana, Metro, Kibang, Batanghari, Sekampung dan Way Jepara), Kabupaten Lampung Selatan (Desa Muaraputih dan Negararatu), Kota Metro (Kecamatan Metro Raya dan Bantul), Kota Bandarlampung (Kelurahan Labuhanratu, Gedungmeneng, Rajabasa, Jagabaya, Langkapura, dan Gunungagung/Segalamider); dan (2) Logat Menggala dipertuturkan oleh ulun Lampung yang berdomisili di Kabupaten Tulang Bawang (Kecamatan Menggala, Tulang Bawang Udik, Tulang Bawang Tengah, Gunung Terang, dan Gedung Aji).

Dari klasifikasi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagian besar etnis Lampung yang berada di Kabupaten Lampung Selatan menggunakan bahasa Lampung dialek Belalau (Api) dan sisanya dialek Abung (Nyo). Dialek Belalau dipertuturkan oleh ulun Lampung yang berdomisili di Kalianda, Penengahan, Palas, Pedada, Katibung, Way Lima, Padangcermin, Kedondong, Gedongtataan, Natar, dan Tegineneng. Sedangkan dialek Abung (Nyo) hanya dipertuturkan di dua desa yaitu Muaraputih dan Negararatu.

Ulun Lampung yang ada di Kabupaten Lampung Selatan penutur dialek Belalau dan Abung tersebut dapat dikategorikan sebagai beradat Saibatin atau Peminggir. Masyarakat adat Peminggir terdiri atas: Peminggir Paksi Pak (Ratu Tundunan, Ratu Belunguh, Ratu Nyerupa, Ratu Bejalan di Way) dan Komering-Kayuagung yang sekarang termasuk dalam Provinsi Sumatera Selatan. Masyarakat adat peminggir ini mendiami sebelas wilayah adat yang berada di sepanjang pantai barat dan selatan, yaitu: Kalianda, Teluk Betung, Padang Cermin, Cukuh Balak, Way Lima, Talang Padang, Kota Agung, Semangka, Belalau, Liwa, dan Ranau (indahlampungku.blogspot.co.id).

Bagi masyarakat saibatin bahasa Lampung dialek Belalau (Api) mempunyai beberapa fungsi, yaitu komunikasi dan simbol identitas. Sebagai komunikasi ia digunakan untuk: (a) komunikasi sosial sebagai sarana membangun konsep diri, aktualisasi, kelangsungan hidup diantara anggota masyarakat; (b) komunikasi ekspresif yang tidak bertujuan mempengaruhi orang lain, namun untuk menyampaikan perasaan-perasaan (emosi); (c) komunikasi ritual untuk menjaga tradisi, komunitas, suku bangsa, dan ideologi; dan (d) komunikasi instrumental guna menginformasikan, mengajak, mengubah sikap dan keyakinan masyarakat. Sedangkan sebagai simbol identitas, dimanfaatkan untuk mengekspresikan segala bentuk ide oleh manusia Lampung guna menjaga dan melestarikan kebudayaannya.

Namun, walau memiliki fungsi yang sangat penting, dewasa ini penggunaannya agak memudar dan mulai tergantikan oleh bahasa Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari beberapa gejala yang tampak, seperti: penurunan jumlah penutur aktif; semakin berkurangnya ranah penggunaan bahasa; pengabaian bahasa ibu oleh penutur usia muda; usaha merawat identitas etnik tanpa menggunakan bahasa ibu; penutur generasi terakhir sudah tidak cakap lagi menggunakan bahasa ibu; dan terancam punahnya bahasa kreol dan bahasa sandi.

Menurut Tondo (2009) yang dikutip oleh id.wikipedia.org, paling tidak ada 10 faktor yang menyebabkan pudarnya bahasa daerah, termasuk bahasa Lampung. Adapun faktor-faktor tersebut adalah: (1) Pengaruh bahasa mayoritas dimana bahasa daerah itu digunakan; (2) Kondisi masyarakat yang penuturnya yang bilingual atau bahkan multilingual; (3) Faktor Globalisasi; (4) Faktor migrasi; (5) Perkawinan antar etnik; (6) Bencana alam dan musibah; (7) Kurangnya penghargaan terhadap bahasa etnik sendiri; (8) Kurangnya intensitas komunikasi berbahasa daerah dalam keluarga; (9) Faktor ekonomi; dan (10) Faktor bahasa Indonesia.

Dalam pergaulan sehari-hari misalnya, bahasa Lampung hanya dipergunakan dalam berkomunikasi di lingkungan keluarga, sesama suku bangsa Lampung, dan pada saat diselenggarakan upacara adat. Sementara dalam berkomunikasi dengan masyarakat pendatang, orang Lampung menggunakan bahasa Indonesia. Apabila hal ini terus terjadi, bukan tidak mungkin bahasa Lampung akan ditinggalkan oleh penuturnya.

Hal ini diperkuat oleh penuturan salah seorang informan yang berdomisili di Kalianda dan berprofesi sebagai nelayan. Menurutnya, generasi muda Lampung sekarang hanya mengetahui bahasa Lampung tanpa mampu menuturkannya dengan benar. Mereka lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia yang mudah untuk digunakan, khususnya jika teman sebaya terdiri dari berbagai suku. Mereka tidak berusaha mengenalkan budayanya kepada remaja pendatang, melainkan menyesuaikan diri dengan menggunakan bahasa Indonesia. Selain itu, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dalam dunia pendidikan, juga turut "membantu" para remaja Lampung melokalitas bahasa ibu mereka.

Pada skup yang lebih besar lagi, heterogenitas masyarakat Lampung Selatan sedikit banyak juga membuat bahasa Lampung menjadi terpinggirkan. Heterogenitas masyarakat Lampung Selatan ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu migrasi dan amalgamasi. Migrasi mulai terjadi sekitar tahun 1965 ketika pemerintah mengadakan program transmigrasi penduduk dari Pulau Jawa ke Lampung agar terjadi pemerataan. Sedangkan amalgamasi atau perkawinan campuran antara suku bangsa Lampung dengan suku-suku bangsa lainnya menyebabkan anak-anak yang dihasilkan lebih banyak menggunakan bahasa lain (bahasa Indonesia) ketimbang bahasa orang tua dalam berkomunikasi dalam keluarga. (gufron)

Sumber:
"Bahasa Lampung", diakses dari http://indahlampungku.blogspot.co.id/p/bahasa_11.html, tanggal 9 Mei 2016.

"Bahasa Lampung dan Aksara Lampung", diakses dari http://adatistiadatlpg. blogspot.co.id/2015/05/bahasa-lampung-dan-aksara-lampung.html, tanggal 9 Mei 2016.

"Rumpun Bahasa Lampung", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Rumpun_bahasa _Lampung, tanggal 12 Mei 2016.

"Budaya Lampung", diakses dari http://indahlampungku.blogspot.co.id/p/budaya.html, tanggal 12 Mei 2016.

"Suku Lampung", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Lampung, tanggal 15 Mei 2016.

Permainan Ucing-ucingan

Di Kabupaten Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta, ada sebuah permainan tradisional yang dinamakan sebagai ucing-ucingan. Sesuai dengan namanya, permainan ini menggambarkan perburuan anjing mengejar kucing dalam sebuah lingkaran yang dipagari oleh tangan-tangan para pemainnya yang saling berpegangan. Permainan ucing-ucingan umumnya dimainkan anak laki-laki dan perempuan yang berusia antara 9-12 tahun. Jumlah pemainnya sekitar 10 orang yang nantinya akan menjadi kelompok kucing, kelompok anjing dan seorang wasit atau pemberi komando.

Untuk bermain ucing-ucingan yang biasanya dilakukan di halaman rumah atau tepi pantai, para pemain harus menentukan terlebih dahulu siapa yang menjadi kucing, anjing, dan pagar tangan. Caranya, wasit (yang telah ditunjuk sebelumnya) akan merentangan telapak tangan kanannya, sedangkan para pemain akan menaruh jari telunjuk di atasnya sambil diiringin pantun:

Wer…wer... tak
Ting lipiot tulang bawang
Siapa kejepit masuk lubang

Pada saat selesai diucapkan, para pemain harus berusaha menarik jari telunjukkan secepat mungkin agar tidak terjepit. Apabila jari telunjuknya tercepit berarti ia harus menjadi kucing atau anjing. Namun apabila 2-3 jari telunjuk yang tertangkap, maka undian dimulai lagi sampai yang tertangkap hanya satu jari telunjuk saja.

Selanjutnya, orang yang terpilih menjadi kucing akan berada di dalam lingkaran dan yang menjadi anjing di luar lingkaran. Apabila wasit telah memberi aba-aba, maka mulailah si anjing berusaha menerobos pagar untuk menangkap kucing dengan melepaskan pegangan tangan para pemain yang menjadi pagar. Dan, apabila si pemain berhasil menerobos pagar dan berhasil menangkap pemain yang berperan menjadi kucing, maka mereka akan digantikan oleh pemain lain yang tadinya berperan sebagai pagar. Begitu seterusnya hingga mereka lelah dan berhenti bermain.

Warak Ngendog

Dugderan! Begitu istilah orang Semarang bagi sebuah tradisi berupa arak-arakan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Konon, asal usul nama dugderan merupakan perpaduan dari bunyi "dug" saat bedug dipukul yang diikuti oleh suara "der" ketika meriam disulut sebagai penanda akan datangnya bulan Ramadhan (Wibowo, 2015). Selain ditandai oleh pukulan bedug dan dentuman meriam, tradisi Dugderan juga dilengkapi dengan pasar malam dan arak-arakan atau kirab budaya yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat (wisatasemarang.wordpress.com).

Dalam tradisi ini ada sebuah benda yang selalu hadir berupa binatang rekaan berkaki empat dan berkepala mirip seekor naga yang disebut sebagai Warak Ngendhog/Ngendog/Ngendok (semarangkota.go.id). Ada beberapa versi mengenai asal usul binatang warak. Versi pertama menyatakan bahwa warak adalah hewan rekaan kreasi Kyai Saleh Darat dan atau Bupati KRMT Purbaningrat. Tujuan pembuatannya sebagai ikon yang dapat menarik perhatian masyarakat luas dengan fungsi setara dengan pengumuman awal puasa. Sedangkan versi lainnya dari dari Sahal (2011), yang menyatakan bahwa warak diciptakan oleh seorang seniman bernama Kyai Abdul Hadi sebagai gambaran nafsu yang harus dikalahkan dengan jalan berpuasa.

Adapun bentuknya, menurut Mawahib (2015) dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu: klasik, modifikasi, dan kontemporer. Warak klasik bergigi tajam, mata melotot, telinga tegak dan berjanggut lebat. Pada bagian badan, leher, dan keempat kakinya ditutupi bulu dengan warna berselang seling (merah, kuning, putih, hijau, dan biru). Sedangkan ekornya melengkung kaku berbulu serupa dengan badan dan berujung surai. Warak modifikasi berbentuk mirip kepala naga dengan moncong mirip buaya bergigi tajam, lidah bercabang, mata melotot, berkumis, berjanggut, bertanduk cabang, kulit bersisik, berambut surai di belakang kepala, dan kepala memakai mahkota. Sedangkan warak kontemporer secara struktur mirip dengan warak klasik, namun detail kepala dan bulu tidak sesuai. Ketiga tipe ini, sama-sama bisa "ngendok" (bertelur) karena di bagian perutnya dimasukkan sebuah telur rebus.

Foto: http://www.boombastis.com/warak-ngendog/82201
Sumber:
Wibowo, Galih. "Kebijakan Penyelenggaraan Dugderan Tradisi Kota Semarang Menyambut Bulan Ramadhan", diakses dari http://www.academia.edu/11716792/ KEBIJAKAN_PENYELENGGARAAN_DUGDERAN, tanggal 26 Desember 2015.

"Sejarah Dugderan", diakses dari https://wisatasemarang.wordpress.com/2010/04/11/se jarah-dugderan/, tanggal 24 Desember 2016.

Mawahib,Muhamad Zainal. 2015. "Kebudayaan Masyarakat Kota Semarang: Warak Ngendok sebagai Simbol Akulturasi dalam Dugderan", dalam http://jurnal.elsaonline. com/?p=75, diakses 26 Desember 2016.

"Dugderan", diakses dari http://semarangkota.go.id/main/menu/26/seni-dan-budaya/du gderan, tanggal 25 Desember 2016.

Sahal, Hamzah. 2011. "Ihwal Wrak Ngendok dan Dugderan", diakses dari http://www.nu.or.id/post/read/33261/ihwal-warak-ngendok-dan-dugderan, tanggal 4 April 2017.

Sesajen

Kehidupan bagi suatu masyarakat (yang masih tradisional) merupakan suatu hal yang penuh lika-liku dan tidak dapat diprediksi. Oleh karena itu, dibuatlah upacara-upacara tertentu agar kehidupan dapat dilalui secara lancar. Suatu upacara dapat berbentuk sederhana dan dapat pula rumit serta memakan waktu lama, bergantung dari sifatnya. Namun, dalam berbagai ritual upacara tersebut (bentuk sederhana maupun rumit), umumnya tersusun atas sejumlah aturan tertentu yang berkaitan dengan waktu, tempat, peralatan dan perlengkapan, pemimpin, serta pihak-pihak yang terlibat dalam upacara.

Berkenaan dengan peralatan dan perlengkapan upacara, ada sebuah atau susunan barang/makanan yang sering muncul yang disebut sesajan atau sajen. Ada beberapa definisi mengenai kata sajen atau sesajen ini. Pertama, sajen dapat didefiniskan sebagai makanan, bunga-bungaan dan sebagainya yang disajikan kepada orang halus dan sebagainya (kbbi.web.id). Sementara menurut wikipedia.org, sesajen adalah sejenis persembahan kepada dewa atau arwah nenek moyang pada upacara adat di kalangan penganut kepercayaan kuno di Indonesia.

Masih menurut wikipedia.org, berbeda dengan benda persembahan, kurban atau tumbal, sesajen lebih untuk kepentingan ritual berskala kecil. Adapun isinya haruslah lengkap karena setiap perangkat mewakili makna tertentu. Sebab, sesajen merupakan simbol dari pengakuan akan adanya kuasa yang harus dipuaskan agar memberi keamanan dan ketenangan hidup (kangsamad, 2010). Isi sesajen tersebut di antaranya adalah: parukuyan atau tempat arang yang terbuat dari tanah liat, kemenyan, kembang tujuh rupa, rurujakan atau rujak tujuh rupa, kopi pahit, kopi manis, telur, pisang, sangu tumpeng, bekakak hayam, puncak manik, lemareun atau seupaheun, jajanan pasar, rokok kretek, cerutu, dan lain sebagainya.
Sumber:
"Sajen", diakses dari http://kbbi.web.id/sajen, tanggal 20 Maret 2017.

"Sesajen", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Sesajen, tanggal 20 Maret 2017.

Kangsamad. 2010. "Sesajen", diakses dari http://www.kompasiana.com/kangsamad/sesajen _55001e34813311491bfa715e, tanggal 25 Maret 2017.

Sumur Bawang

Di Pulau Tidung Kecil, Kepulauan Seribu Selatan, ada tiga buah sumur yang airnya dipercaya oleh masyarakat setempat dapat mengobati berbagai macam penyakit. Salah satu dari ketiga sumur itu adalah Sumur Bawang yang baru ditemukan pada pertengahan tahun 2007 karena letaknya tersembunyi di tengah pulau, sekitar 25 meter dari makam Ratu Pangeran Badui atau Panglima Hitam.

Konon, Sumur Bawang telah pada zaman Syekh Maulana Malik Ibrahim, sekitar tahun 1881. Sumur Bawang dipercaya memiliki keistimewaan, yaitu dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, khususnya penyakit kulit. Namun, untuk dapat mengambil dan membawa pulang air dari sumur ini harus memenuhi beberapa syarat tertentu agar air yang diambil dapat berkhasiat sebagaimana mestinya.

Festival Teluk Stabas

Teluk Stabas berada di sekitar Krui, Kabupaten Pesisir Barat. Konon, nama teluk ini berasal dari kata Sebastian, seorang nakhoda kapal dagang bangsa Belanda. Waktu itu Sebastian bersama anak buahnya berlabuh di sekitar teluk untuk berdagang. Oleh karena tidak terbiasa menyebut kata Sebastian, masyarakat setempat menyapanya dengan sebutan “Stabas”. Dan, teluk tempat kapal Sang Stabas berlabuh lama-kelamaan pun dinamakan menjadi Teluk Stabas.

Oleh pemda setempat, di teluk itu setiap bulan Juli diadakan event kepariwisataan tahuan bertajuk Festival Teluk Stabas. Adapun tujuannya, antara lain: (1) sebagai wahana prestasi budaya dan olahraga masyarakat; (3) sarana hiburan bagi masyarakat; (3) untuk menggali, mengembangkan, dan melestarikan potensi alam, seni, dan budaya di Lampung barat; dan (4) sebagai wahana untuk mempromosikan daya tarik wisata, seni, dan budaya dalam rangka menarik kunjungan wisatawan, baik mancanegara maupun domestik yang pada akhirnya akan memberikan pendapatan dan peningkatan serta mobilitas perekonomian masyarakat.

Sesuai dengan tujuannya, maka dalam festival yang diadakan di Teluk Stabas ini digelar berbagai macam kesenian dan perlombaan. Pesertanya berasal dari seluruh kecamatan yang ada di Lampung Barat, sanggar seni budaya, Dewan Kesenian Lampung, utusan kabupaten/kota diluar Lampung Barat, para budayawan, dan pelaku dunia usaha wisata.

Adapun kegiatannya sendiri diadakan di tiga tempat, yaitu Liwa, Krui, dan Kecamatan Sumberjaya. Kegiatan di Liwa dipusatkan di Lapangan Merdeka dengan menampilkan atraksi Sekura, tarian masal, Pelangi Budaya Nusantara (penampilan kesenian dari berbagai macam etnis yang ada di Pesisir Barat dan Lampung Barat), kesenian tradisional, lomba foto pariwisata dan budaya, kontes burung berkicau, lomba bedikikh, lomba butetah, lomba tari kreasi Lampung, lomba gambus tunggal, lomba lagu daerah, lomba lagu pop, pemilihan Muli Mekhanai (Bujang-Gadis), lomba jelajah alam di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), dan pasar malam. Kegiatan yang diadakan di Krui meliputi atraksi panjat damar, bola volly pantai, olahraga tradisional, lomba pacu kambing, lomba Muli Mekhanai, lomba hahiwang, olahraga kuda buta, upih ngesot, lomba nghahaddo, dan lomba layang-layang. Dan terakhir, perlombaan arum jeram yang dilakukan di Sungai Way Besi, Kecamatan Sumberjaya.

Foto:
http://lenteraswaralampung.com/berita-1300-festival-teluk-stabas-ramaikan-hut-.html

Perkebunan Kopi AEKI

AEKI adalah singkatan dari Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia. Mereka memiliki sebuah perkebunan seluas sekitar 10 hektar di daerah Pekon Hanakau, Kecamatan Sukau, sekitar 250 kilometer dari Kota Bandarlampung. Awal pendirian perkebunan yang didirikan oleh AEKI ini selain bertujuan memproduksi kopi, juga sebagai pusat penyuluhan dan pengembangan berbagai varietas kopi.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, pihak AEKI pun mengembangkannya menjadi kawasan industri terpadu berbasis kopi dan agrowisata guna menarik minat kunjungan wisatawan. Untuk itu, mereka melengkapinya dengan ruang pertemuan, penginapan, dan fasilitas penunjang yang diperlukan bagi pengembangan kegiatan pelatihan dan seminar. Gagasan pengembangannya sendiri dicetuskan oleh Warsono, Direktur Minuman dan Tembakau Kementerian Peridustrian, pada saat melakukan kunjungan kerja ke Liwa pada tahun 2008.

Hasilnya, saat ini perkebunan kopi AEKI menjadi salah satu daerah kunjungan wisata di Lampung Barat. Umumnya wisatawan datang untuk menikmati kopi sambil melihat indahnya hamparan kebun kopi yang tertata rapi di atas tanah yang terletak di ketinggan sekitar 800 meter dari permukaan air laut. Selain itu, ada pula yang datang untuk mempelajari kopi-kopi baru hasil penelitian AEKI.

Sementara bagi masyarakat sekitar sendiri, adanya kawasan industri terpadu dan agrowisata perkebunan kopi, secara tidak langsung juga sangat membantu meningkatkan perekonomian. Pasalnya, sebagian besar dari mereka dilibatkan sebagai pekerja, baik di kantor maupun di perkebunan milik AEKI.

Foto: 
http://vovworld.vn/id-ID/Kotak-Surat-Anda/Perkenalan-tentang-usaha-penanaman-kopi-di-Vietnam/211742.vov

Kecamatan Cipayung

Letak dan Keadaan Alam
Cipayung merupakan salah satu dari sepuluh kecamatan yang secara administratif termasuk dalam Kota Administratif Jakarta Timur dengan batas geografis sebelah utara dengan Kecamatan Makasar, sebelah timur dengan Kecamatan Pondok Gede (Kota Bekasi), sebelah selatan dengan Kecamatan Cibinong di Kabupaten Bogor, dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Ciracas. Kecamatan yang luas wilayahnya sekitar 28,45 kilomter persegi dengan titik koordinat 106°49'35" Bujur Timur dan 6°10'37" Lintang Selatan ini terdiri atas 8 kelurahan, 56 Rukun Warga, dan 502 Rukun tetangga dengan jumlah penduduk 260.578 jiwa. Ke-8 kelurahan itu adalah: Lubang Buaya seluas 3,72 kilomter persegi, Ceger seluas 3,63 kilometer persegi, Cipayung seluas 3,09 kilometer persegi, Munjul seluas 1,90 kilomter persegi, Pondok Rangon dengan luas 3,66 kilometer persegi, Cilangkap seluas 6,03 kilometer persegi, Setu dengan luas 3,25 kilometer persegi, dan Bambu Apus dengan luas 3,17 kilometer persegi (id.wikipedia.org).

Topografi Kecamatan Cipayung sebagian besar berada pada dataran rendah dengan kemiringan antara 0-2% dan ketinggian antara 11-81 meter di atas permukaan air laut. Adapun iklim yang menyelimutinya sama seperti daerah lainnya di Indonesia, yaitu tropis yang ditandai oleh adanya dua musim, penghujan dan kemarau. Musim penghujan biasanya dimulai pada Oktober-Maret, sedangkan musim kemarau biasanya dimulai pada bulan April--September. Curah hujannya rata-rata 66 milimeter perbulan. Temperaturnya rata-rata berkisar 23,5-33,0 Celcius. Tekanan udara sekitar 1.009,5 mb dan kelembaban udara rata-rata 79,3 persen.

Sesuai dengan iklimnya yang tropis maka flora yang ada di sana pada umumnya sama dengan daerah-daerah lain di Indonesia, seperti: kelapa, bambu, tanaman buah (rambutan, manggis, durian, dan lain sebagainya), padi, dan tanaman palawija (jagung, kedelai, mentimun, kacang panjang, dan lain sebagainya). Fauna yang ada di sana juga pada umumnya sama dengan daerah lain di Indonesia, yaitu: sapi, kerbau, kambing, dan ayam.

Organisasi Pemerintahan
Struktur organisasi pemerintahan tertinggi di Kecamatan Cipayung dipegang oleh seorang Camat. Sesuai dengan Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 146 Tahun 2009, dalam menjalankan tugasnya Camat dibantu oleh Wakil Camat, Sekretaris Kecamatan, Kelompok Jabatan Fungsional, Seksi Pemerintahan dan Trantib, Seksi Perekonomian, Seksi Pembangunan dan Lingkungan Hidup, Seksi Kesejahteraan Masyarakat, Seksi Pelayanan umum, Lurah Lubang Buaya, Lurah Ceger, Lurah Cipayung, Lurah Munjuk, Lurah Pondok Rangon, Lurah Cilangkap, Lurah Setu, dan Lurah Bambu Apus. Untuk melaksanakan tugasnya, bagian sekretariat dibantu lagi oleh Sub Bagian Umum, Sub Bagian Keuangan, serta Sub Bagian Program dan Anggaran.

Para aparatur kecamatan tersebut bekerja dalam satu kerangka visi dan misi yang sama untuk kemajuan Kecamatan Cipayung. Visi tersebut adalah "Mewujudkan wilayah Kecamatan Cipayung yang tertata rapi, bersih, sehat, dan aman didukung oleh partisipasi dan kepedulian masyarakat dengan kinerja perangkat Kecamatan dan Kelurahan yang berorientasi pelayanan publik". visi itu dijadikan sebuah misi yang harus dilaksanakan atau diemban agar seluruh anggota organisasi dan pihak yang berwenang dapat mengetahui dan mengenal keberadaan serta peran Kecamatan Cipayung dalam menyelenggarakan Pemerintahan. Adapun misi dari kecamatan yang memiliki slogan CBSA (Cipayung Bersih, Sehat, dan Aman) ini adalah: (a) Meningkatkan motivasi dan kinerja pegawai; (b) Mewujudkan pelayanan prima; (c) Meningkatkan partisipasi swadaya dan pemberdayaan masyarakat dalam memelihara lingkungan serta kegiatan kemasyarakatan; dan (d) Menggerakkan seluruh potensi untuk mewujudkan wilayah Kecamatan Cipayung yang bersih, sehat, dan aman dengan sarana prasarana yang memadai (kecamatancipayung.blogspot.co.id).

Kependudukan
Penduduk Kecamatan Cipayung Berjumlah 247.123 jiwa, dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) 75.148. Jika dilihat berdasarkan jenis kelaminnya, maka jumlah penduduk laki-lakinya mencapai 125.483 jiwa dan penduduk berjenis kelamin perempuan mencapai 121.640 jiwa. Para penduduk ini tersebar di 8 kelurahan, yaitu Pondok Rangon dihuni oleh 26.513 jiwa (10,73%), Cilangkap dihuni oleh 28.614 jiwa (11,58%), Munjul 25.679 jiwa (10,39%), Cipayung 27.187 jiwa (11,00%), Setu 21.027 jiwa (8,51%), Bambu Apus 27.912 jiwa (11,29%), Ceger 20.400 jiwa (8,25%), dan Kelurahan Lubang Buaya dihuni oleh 69 791 jiwa (28,24%).

Jika dilihat berdasarkan golongan usia, penduduk yang berusia 0-4 tahun ada 20.067 jiwa, kemudian yang berusia 5-9 tahun ada 22.002 jiwa, berusia 10-14 tahun ada 22.052 jiwa, berusia 15-19 tahun ada 18.730 jiwa, berusia 20-24 tahun ada 18.982 jiwa, berusia 25-29 tahun ada 19.754 jiwa, berusia 30-34 tahun ada 22.925 jiwa, berusia 35-39 tahun ada 21.959, berusia 40-44 tahun ada 19.247 jiwa, berusia 45-49 tahun ada 16.645 jiwa, berusia 50-54 tahun ada 12.849 jiwa, berusia 55-59 tahun ada 9.206 jiwa, berusia 60-64 tahun ada 6.027 jiwa, berusia 65-69 ada 3.025 jiwa, berusia 70-74 ada 2.120 jiwa, dan yang berusia 75 tahun ke atas ada 1.071 jiwa. Ini menunjukkan bahwa penduduk Kecamatan Cipayung sebagian besar berusia produktif.

Perekonomian
Letak Kecamatan Cipayung yang menjadi bagian dari Kota Administratif Jakarta Timur membuatnya mengalami kemajuan relatif pesat karena adanya perkembangan dalam bidang industri, terutama industri pengolahan, perdagangan, hotel, dan restoran. Hal ini membuat mata pencaharian penduduknya pun semakin beragam dan tidak hanya bertumpu pada sektor pertanian. Menurut data dari BPS Kota Administratif Jakarta Timur tahun 2015, dari luas wilayah secara keseluruhan, hanya sebagian kecil saja yang saat ini masih digunakan sebagai lahan pertanian yaitu sekitar 104 ha. Selebihnya, merupakan lahan kering yang digunakan untuk kandang dan halaman (1.209 ha).

Dengan lahan yang relatif kecil tersebut, tanaman yang dihasilkan hanyalah berupa padi, sayur mayur, tanaman lingkungan, tanaman hias ornamen, dan tanaman olahan. Sedangkan sisanya digunakan sebagai peternakan sapi potong (261 ekor), sapi perah (1.228 ekor), kerbau (6 ekor), kambing (1.045 ekor), domba (413 ekor), dan unggas (ayam, itik).

Pendidikan dan Kesehatan
Sebagai sebuah kecamatan yang berada dalam wilayah pusat pemerintahan Republik Indonesia (DKI Jakarta), tentu saja Cipayung memiliki sarana pendidikan dan kesehatan yang memadai bagi masyarakatnya. Adapun sarana pendidikan yang terdapat di kabupaten ini, diantaranya adalah: 69 buah taman kanak-kanak dengan jumlah siswa sebanyak 1.876 orang dan 248 tenaga pengajar; 59 buah Sekolah Dasar dengan jumlah siswa sebanyak 22.935 orang dan 1507 orang tenaga pengajar; 23 buah Sekolah Menengah Pertama dengan jumlah siswa sebanyak 11.139 orang dan 659 tenaga pengajar; 13 buah sekolah menengah atas dengan jumlah siswa sebanyak 2.733 orang dan 275 tenaga pengajar; 9 buah Sekolah Menengah Kejuruan dengan jumlah siswa sebanyak 5.917 orang dan 574 tenaga pengajar; dan sebuah perguruan tinggi dengan jumlah mahasiswa sebanyak 1.872 orang dan 98 tenaga pengajar.

Sementara untuk sarana kesehatan Kecamatan Cipayung memiliki 11 buah rumah sakit bersalin, 10 buah puskesmas, 19 buah apotek, 25 buah klinik, dan 128 buah posyandu dengan tenaga medis sebanyak 137 orang, terdiri atas: 46 orang dokter umum, 16 orang dokter gigi, 69 orang bidan, 69 apoteker (BPS Kecamatan Cipayung 2015).

Pola Pemukiman
Pola pemukiman penduduk Cipayung umumnya berada di sekitar jalan dengan arah hadap ke jalan (pola pita/ribbon). Arah rumah yang berada bukan di pinggir jalan pun arahnya mengikuti yang ada di pinggir jalan. Berdasarkan data dari Dinas Kantor Kecamatan CIpayung tahun 2015, jumlah rumah yang ada di kecamatan tersebut ada 26.909 buah. Dari ke 26.909 buah rumah tersebut, 17.606 buah diantaranya telah bersifat permanen (beratap genting, bedinding tembok, dan berlantai keramik), 5.394 buah semi permanen, dan 3.909 buah sisanya masih berbentuk bangunan sementara.

Agama dan Kepercayaan
Agama yang dianut oleh Masyarakat Kecamatan Cipayung sangat beragam, yaitu: Islam 193.807 jiwa, Kristen 19.147 jiwa, Katolik 15.031 jiwa, Hindu 6.109 jiwa, Budha 2.567 jiwa, dan aliran Kepercayaan. Ada korelasi positif antara jumlah pemeluk suatu agama dengan jumlah sarana peribadatan. Hal itu tercermin dari banyaknya sarana peribadatan yang berkaitan dengan agama Islam (mesjid, musholla dan langar). Berdasarkan data yang tertera pada Badan Pusat Statistik Jakarta Timur, jumlah mesjid yang ada di sana mencapai 98 buah dan musholla/langgar/surau mencapai 220 buah. Sarana peribadatan yang berkenaan dengan penganut agama Kristen dan Katolik mencapai 18 buah, agama Hindu hanya 1 buah gereja, agama Budha hanya ada 1 buah vihara atau kelenteng. Sementara data yang berkaitan dengan sarana peribadatan atau gedung pertemuan maupun jumlah penganut aliran kepercayaan belum ada, walau sebenarnya di Kelurahan Lubang Buaya telah lama ada sebuah bangunan pasewakan tempat berkumpulnya para penganut aliran Kebatinan Perjalanan. (gufron)

Sumber:
"Bincang Pagi di Studio Gotree FM", diakses dari http://kecamatancipayung.blogspot.co.id/2016 /11/bincang-pagi-di-studio-gotree-fm.html, tanggal 17 Maret 2017.

"Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Cipayung,_Jakarta_Timur, tanggal 20 Maret 2017.

Wahyudi, Agus, dkk,. 2015. Cipayung Dalam Angka 2015. Jakarta: Badan Pusat Statistik Kota Administratif Jakarta Timur.

Popular Posts

-