Gang PU, Sentra Produksi Keripik Lampung

Bagi warga Bandarlampung, apabila mendengar nama Gang PU tentu yang terlintas di benak adalah sebuah jalan dengan sisi kiri dan kanannya dipenuhi oleh toko-toko penjual penganan tradisional berupa aneka keripik terbuat dari pisang, ketela, salak, tales, nangka, dan sukun dengan berbagai macam variasi rasa, seperti: asin, manis, jagung bakar, balado, sapi panggang, stroberry, melon, cokelat, vanila, asam manis, keju, moka, dan cokelat kacang.

Gang PU adalah sebutan lain dari Jalan Pagar Alam yang terletak di Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Kedaton, Kota Bandarlampung (Putranto, 2014). Untuk mencapainya, bila dari Tanjungkarang melalui Jalan Teuku Umar hingga tiba di sebuah pertigaan Jalur dua Sultan Agung. Sebagai identitas "Gang PU", terdapat gapura besar bertuliskan "Selamat Datang Di Kawasan Sentra Industri Keripik Kota Bandar Lampung" berikut logo Kota Bandarlampung dan PT Perkebunan Nasional VII (PTPN VII).

Awalnya, Gang PU hanyalah sebuah jalan kecil yang relatif sepi dan gelap gulita bila hari berganti malam. Adalah seorang bernama Sucipto Adi yang kemudian membuat gang ini menjadi sentra produksi keripik sekaligus lokasi belanja bagi wisatawan. Pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 25 Oktober 1966 ini dahulu hanyalah seorang buruh bangunan lepas dengan upah sebesar Rp.10.000,- per hari. Oleh karena desakan ekonomi, pada tahun 1996 dia berusaha mencari usaha lain agar dapat menghidupi keluarganya, yaitu dengan menjual keripik singkong (Oktavia, 2017).

Berbekal uang hasil tabungan sejumlah Rp.350.000,- Sucipto Adi membeli sebuah gerobak dorong serta bahan baku pembuat keripik. Dengan gerobak dorong tersebut dia berjualan di Pasar Bambu Kuning yang berjarak sekitar lima kilometer dari rumahnya. Apabila stok keripik masih tersisa, dalam perjalanan pulang dia juga menyusuri gang-gang kecil untuk mencari pembeli.

Dalam waktu tidak berapa lama, usaha Sucipto Adi berkembang pesat dengan memiliki sekitar 50 orang pelanggan. Agar dapat memenuhi kebutuhan para pelanggannya yang semakin hari bertambah banyak, dia lalu mengajak lima orang tetangganya mengembangkan usaha serupa. Bersama-sama mereka mengembangkan usaha keripik singkong tidak hanya untuk kebutuhan para pelanggan Sucipto Adi, melainkan juga dipasarkan ke sejumlah warung dan kantin terdekat.

Seiring waktu, timbullah inovasi dari para pedagang keripik Gang PU yaitu penggunaan bahan baku baru berupa pisang jenis kepok Manado. Menurut Prasetyo (2015), penggunaan pisang sebagai bahan baku berawal pada sekitar tahun 2003 ketika salah seorang penjaja bernama Harianto iseng-iseng membuat keripik pisang dengan rasa asin dan manis. Sementara menurut Oktavia (2017), Sucipto Adilah yang pertama kali memproduksinya sekitar tahun 2000. Walhasil, peminat pun semakin bertambah. Bahkan, mereka cenderung mencari keripik pisang ketimbang keripik singkong.

Pertambahan jumlah peminat diikuti pula oleh pertambahan jumlah produsen keripik. Oleh karena itu, atas prakarsa Sucipto Adi dibentuklah Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang diberi nama Telo Rejeki pada tahun 2006. Adapun tujuannya adalah agar kawasan Gang PU menjadi sentra keripik sehingga para produsen tidak perlu lagi berkeliling menjajakan dagangannya (Oktavia, 2017).

Satu tahun kemudian, atau tepatnya tanggal 2 Februari 2007 keberadaan KUB Telo Rezeki yang hanya berizin lurah dan camat, diakui dan diresmikan oleh Dinas Perindustrian Kota Bandarlampung dengan jumlah anggota 11 UMKM. Setelah mendapat legalitas formal tersebut, konsekuensi logisnya tentu saja anggota KUB Telo Rezeki mendapat pembinaan dari Dinas Perindustrian tentang pengelolaan usaha mikro, kecil, dan menengah, bagaimana cara produksi, pengemasan, bantuan permodalan, peralatan produksi, serta pelaksanaan sertifikasi produk.

Selain bekerja sama dengan Dinas Perindustrian, Sucipto Adi yang ditunjuk sebagai ketua KUB Telo Rezeki juga menjalin hubungan dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII, salah satu BUMN pembina program kemitraan dengan UMKM di Provinsi Lampung. Dari kerja sama ini KUB Telo Rezeki mendapat dukungan promosi berupa keikutsertaan dalam pameran-pameran baik di dalam maupun luar daerah Lampung. PTPN VII juga memberi pembinaan berupa peningkatan pengetahuan atau wawasan pengusaha terhadap pengelolaan manajerial, pengemasan yang baik, dan teknik produksi melalui pelatihan-pelatihan maupun seminar sehingga jumlah anggota KUB Telo Rezeki menjadi bertambah banyak.

Akhirnya, sebagai wujud dari berkembangnya Gang PU menjadi kawasan sentra industri keripik, Dinas Perindustrian dan PTPN VII membuat sebuah gapura dengan tujuan agar masyarakat mengenal gang ini (Jalan Pagar Alam) sebagai sentra penjualan sekaligus pusat pembuatan keripik di Kota Bandarlampung. Dan, semenjak berdirinya gapura jumlah produsen keripik kian bertambah. Tercatat, ada sekitar 200 orang yang bekerja sebagai karyawan di 48 kios anggota KUB Telo Rezeki. Sementara Sucipto Adi sendiri yang merupakan pelopor Telo Rezeki sempat mendapat beberapa penghargaan, di antaranya: Sidakarya dari Dinas Ketenagakerjaan Lampung tahun 2012 dan Ovop Bintang 3 dari Kementerian Perindustrian tahun 2013 dan 2015. (ali gufron)

Foto: http://tapisjakarta.blogspot.co.id/2015/12/sentra-panganan-keripik-kota-bandar.html
Sumber:
Oktavia, Vina. 2017. "Sucipto Adi Menyulap Gang Gelap menjadi Kampung Keripik", diakses dari http://regional.kompas.com/read/2017/01/18/11110051/sucipto.adi.menyulap. gang.gelap.menjadi.kampung.keripik, tanggal 28 April 2017.

Prasetyo, Heru. 2015. "Gang PU, Surganya Keripik Pisang Aneka Rasa Khas Lampung", diakses dari http://lampung.tribunnews.com/2015/06/16/gang-pu-surganya-keripik-pisang-aneka-rasa-khas-lampung?page=2, tanggal 28 April 2017.

Putranto, Angger. 2014. "Jangan Tersesat di Gang PU!", diakses dari http://travel.kompas. com/read/2014/08/01/101500227/Jangan.Tersesat.di.Gang.PU., tanggal 10 Mei 2017.

Kabing Enau dan Rotan Muda

Batang rotan tidak hanya digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan suatu kerajinan, seperti kursi, meja, keranjang, piring, nampan, tudung saji, penggebuk kasur, tas, mainan anak dan lain sebagainya. Di daerah Lampung Barat misalnya, batang rotan atau biasa disebut kabing rotan juga digunakan sebagai bahan pembuat sayuran. Bersama dengan kabin enau, kabin rotan yang masih muda diolah sedemikian rupa untuk disajikan sebagai makanan dalam berbagai upacara adat.

Adapun cara membuatnya, mula-mula dengan mencari kabing rotan yang masih muda serta kabing enau yang sudah tua. Selanjutnya, kabing rotan dan enau yang telah dipilih diiris tipis lalu direndam dalam air selama satu hingga dua jam. Tujuan perendaman adalah agar getah dari kedua kabing atau batang tersebut menjadi luntur dan larut dalam air.

Bila getah telah larut, irisan kabing dibilas hingga bersih kemudian dicampur dengan santan kelapa dan berbagai macam bumbu dapur untuk dijadikan sebagai masakan. Konon, masakan yang berupa sayuran ini telah ada sejak zaman penjajahan Belanda dan diyakini dapat mengobati berbagai macam penyakit. (gufron)

Permainan Ucing-ucingan

Di Kabupaten Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta, ada sebuah permainan tradisional yang dinamakan sebagai ucing-ucingan. Sesuai dengan namanya, permainan ini menggambarkan perburuan anjing mengejar kucing dalam sebuah lingkaran yang dipagari oleh tangan-tangan para pemainnya yang saling berpegangan. Permainan ucing-ucingan umumnya dimainkan anak laki-laki dan perempuan yang berusia antara 9-12 tahun. Jumlah pemainnya sekitar 10 orang yang nantinya akan menjadi kelompok kucing, kelompok anjing dan seorang wasit atau pemberi komando.

Untuk bermain ucing-ucingan yang biasanya dilakukan di halaman rumah atau tepi pantai, para pemain harus menentukan terlebih dahulu siapa yang menjadi kucing, anjing, dan pagar tangan. Caranya, wasit (yang telah ditunjuk sebelumnya) akan merentangan telapak tangan kanannya, sedangkan para pemain akan menaruh jari telunjuk di atasnya sambil diiringin pantun:

Wer…wer... tak
Ting lipiot tulang bawang
Siapa kejepit masuk lubang

Pada saat selesai diucapkan, para pemain harus berusaha menarik jari telunjukkan secepat mungkin agar tidak terjepit. Apabila jari telunjuknya tercepit berarti ia harus menjadi kucing atau anjing. Namun apabila 2-3 jari telunjuk yang tertangkap, maka undian dimulai lagi sampai yang tertangkap hanya satu jari telunjuk saja.

Selanjutnya, orang yang terpilih menjadi kucing akan berada di dalam lingkaran dan yang menjadi anjing di luar lingkaran. Apabila wasit telah memberi aba-aba, maka mulailah si anjing berusaha menerobos pagar untuk menangkap kucing dengan melepaskan pegangan tangan para pemain yang menjadi pagar. Dan, apabila si pemain berhasil menerobos pagar dan berhasil menangkap pemain yang berperan menjadi kucing, maka mereka akan digantikan oleh pemain lain yang tadinya berperan sebagai pagar. Begitu seterusnya hingga mereka lelah dan berhenti bermain.

Warak Ngendog

Dugderan! Begitu istilah orang Semarang bagi sebuah tradisi berupa arak-arakan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Konon, asal usul nama dugderan merupakan perpaduan dari bunyi "dug" saat bedug dipukul yang diikuti oleh suara "der" ketika meriam disulut sebagai penanda akan datangnya bulan Ramadhan (Wibowo, 2015). Selain ditandai oleh pukulan bedug dan dentuman meriam, tradisi Dugderan juga dilengkapi dengan pasar malam dan arak-arakan atau kirab budaya yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat (wisatasemarang.wordpress.com).

Dalam tradisi ini ada sebuah benda yang selalu hadir berupa binatang rekaan berkaki empat dan berkepala mirip seekor naga yang disebut sebagai Warak Ngendhog/Ngendog/Ngendok (semarangkota.go.id). Ada beberapa versi mengenai asal usul binatang warak. Versi pertama menyatakan bahwa warak adalah hewan rekaan kreasi Kyai Saleh Darat dan atau Bupati KRMT Purbaningrat. Tujuan pembuatannya sebagai ikon yang dapat menarik perhatian masyarakat luas dengan fungsi setara dengan pengumuman awal puasa. Sedangkan versi lainnya dari dari Sahal (2011), yang menyatakan bahwa warak diciptakan oleh seorang seniman bernama Kyai Abdul Hadi sebagai gambaran nafsu yang harus dikalahkan dengan jalan berpuasa.

Adapun bentuknya, menurut Mawahib (2015) dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu: klasik, modifikasi, dan kontemporer. Warak klasik bergigi tajam, mata melotot, telinga tegak dan berjanggut lebat. Pada bagian badan, leher, dan keempat kakinya ditutupi bulu dengan warna berselang seling (merah, kuning, putih, hijau, dan biru). Sedangkan ekornya melengkung kaku berbulu serupa dengan badan dan berujung surai. Warak modifikasi berbentuk mirip kepala naga dengan moncong mirip buaya bergigi tajam, lidah bercabang, mata melotot, berkumis, berjanggut, bertanduk cabang, kulit bersisik, berambut surai di belakang kepala, dan kepala memakai mahkota. Sedangkan warak kontemporer secara struktur mirip dengan warak klasik, namun detail kepala dan bulu tidak sesuai. Ketiga tipe ini, sama-sama bisa "ngendok" (bertelur) karena di bagian perutnya dimasukkan sebuah telur rebus.

Foto: http://www.boombastis.com/warak-ngendog/82201
Sumber:
Wibowo, Galih. "Kebijakan Penyelenggaraan Dugderan Tradisi Kota Semarang Menyambut Bulan Ramadhan", diakses dari http://www.academia.edu/11716792/ KEBIJAKAN_PENYELENGGARAAN_DUGDERAN, tanggal 26 Desember 2015.

"Sejarah Dugderan", diakses dari https://wisatasemarang.wordpress.com/2010/04/11/se jarah-dugderan/, tanggal 24 Desember 2016.

Mawahib,Muhamad Zainal. 2015. "Kebudayaan Masyarakat Kota Semarang: Warak Ngendok sebagai Simbol Akulturasi dalam Dugderan", dalam http://jurnal.elsaonline. com/?p=75, diakses 26 Desember 2016.

"Dugderan", diakses dari http://semarangkota.go.id/main/menu/26/seni-dan-budaya/du gderan, tanggal 25 Desember 2016.

Sahal, Hamzah. 2011. "Ihwal Wrak Ngendok dan Dugderan", diakses dari http://www.nu.or.id/post/read/33261/ihwal-warak-ngendok-dan-dugderan, tanggal 4 April 2017.

Sesajen

Kehidupan bagi suatu masyarakat (yang masih tradisional) merupakan suatu hal yang penuh lika-liku dan tidak dapat diprediksi. Oleh karena itu, dibuatlah upacara-upacara tertentu agar kehidupan dapat dilalui secara lancar. Suatu upacara dapat berbentuk sederhana dan dapat pula rumit serta memakan waktu lama, bergantung dari sifatnya. Namun, dalam berbagai ritual upacara tersebut (bentuk sederhana maupun rumit), umumnya tersusun atas sejumlah aturan tertentu yang berkaitan dengan waktu, tempat, peralatan dan perlengkapan, pemimpin, serta pihak-pihak yang terlibat dalam upacara.

Berkenaan dengan peralatan dan perlengkapan upacara, ada sebuah atau susunan barang/makanan yang sering muncul yang disebut sesajan atau sajen. Ada beberapa definisi mengenai kata sajen atau sesajen ini. Pertama, sajen dapat didefiniskan sebagai makanan, bunga-bungaan dan sebagainya yang disajikan kepada orang halus dan sebagainya (kbbi.web.id). Sementara menurut wikipedia.org, sesajen adalah sejenis persembahan kepada dewa atau arwah nenek moyang pada upacara adat di kalangan penganut kepercayaan kuno di Indonesia.

Masih menurut wikipedia.org, berbeda dengan benda persembahan, kurban atau tumbal, sesajen lebih untuk kepentingan ritual berskala kecil. Adapun isinya haruslah lengkap karena setiap perangkat mewakili makna tertentu. Sebab, sesajen merupakan simbol dari pengakuan akan adanya kuasa yang harus dipuaskan agar memberi keamanan dan ketenangan hidup (kangsamad, 2010). Isi sesajen tersebut di antaranya adalah: parukuyan atau tempat arang yang terbuat dari tanah liat, kemenyan, kembang tujuh rupa, rurujakan atau rujak tujuh rupa, kopi pahit, kopi manis, telur, pisang, sangu tumpeng, bekakak hayam, puncak manik, lemareun atau seupaheun, jajanan pasar, rokok kretek, cerutu, dan lain sebagainya.
Sumber:
"Sajen", diakses dari http://kbbi.web.id/sajen, tanggal 20 Maret 2017.

"Sesajen", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Sesajen, tanggal 20 Maret 2017.

Kangsamad. 2010. "Sesajen", diakses dari http://www.kompasiana.com/kangsamad/sesajen _55001e34813311491bfa715e, tanggal 25 Maret 2017.

Sumur Bawang

Di Pulau Tidung Kecil, Kepulauan Seribu Selatan, ada tiga buah sumur yang airnya dipercaya oleh masyarakat setempat dapat mengobati berbagai macam penyakit. Salah satu dari ketiga sumur itu adalah Sumur Bawang yang baru ditemukan pada pertengahan tahun 2007 karena letaknya tersembunyi di tengah pulau, sekitar 25 meter dari makam Ratu Pangeran Badui atau Panglima Hitam.

Konon, Sumur Bawang telah pada zaman Syekh Maulana Malik Ibrahim, sekitar tahun 1881. Sumur Bawang dipercaya memiliki keistimewaan, yaitu dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, khususnya penyakit kulit. Namun, untuk dapat mengambil dan membawa pulang air dari sumur ini harus memenuhi beberapa syarat tertentu agar air yang diambil dapat berkhasiat sebagaimana mestinya.

Festival Teluk Stabas

Teluk Stabas berada di sekitar Krui, Kabupaten Pesisir Barat. Konon, nama teluk ini berasal dari kata Sebastian, seorang nakhoda kapal dagang bangsa Belanda. Waktu itu Sebastian bersama anak buahnya berlabuh di sekitar teluk untuk berdagang. Oleh karena tidak terbiasa menyebut kata Sebastian, masyarakat setempat menyapanya dengan sebutan “Stabas”. Dan, teluk tempat kapal Sang Stabas berlabuh lama-kelamaan pun dinamakan menjadi Teluk Stabas.

Oleh pemda setempat, di teluk itu setiap bulan Juli diadakan event kepariwisataan tahuan bertajuk Festival Teluk Stabas. Adapun tujuannya, antara lain: (1) sebagai wahana prestasi budaya dan olahraga masyarakat; (3) sarana hiburan bagi masyarakat; (3) untuk menggali, mengembangkan, dan melestarikan potensi alam, seni, dan budaya di Lampung barat; dan (4) sebagai wahana untuk mempromosikan daya tarik wisata, seni, dan budaya dalam rangka menarik kunjungan wisatawan, baik mancanegara maupun domestik yang pada akhirnya akan memberikan pendapatan dan peningkatan serta mobilitas perekonomian masyarakat.

Sesuai dengan tujuannya, maka dalam festival yang diadakan di Teluk Stabas ini digelar berbagai macam kesenian dan perlombaan. Pesertanya berasal dari seluruh kecamatan yang ada di Lampung Barat, sanggar seni budaya, Dewan Kesenian Lampung, utusan kabupaten/kota diluar Lampung Barat, para budayawan, dan pelaku dunia usaha wisata.

Adapun kegiatannya sendiri diadakan di tiga tempat, yaitu Liwa, Krui, dan Kecamatan Sumberjaya. Kegiatan di Liwa dipusatkan di Lapangan Merdeka dengan menampilkan atraksi Sekura, tarian masal, Pelangi Budaya Nusantara (penampilan kesenian dari berbagai macam etnis yang ada di Pesisir Barat dan Lampung Barat), kesenian tradisional, lomba foto pariwisata dan budaya, kontes burung berkicau, lomba bedikikh, lomba butetah, lomba tari kreasi Lampung, lomba gambus tunggal, lomba lagu daerah, lomba lagu pop, pemilihan Muli Mekhanai (Bujang-Gadis), lomba jelajah alam di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), dan pasar malam. Kegiatan yang diadakan di Krui meliputi atraksi panjat damar, bola volly pantai, olahraga tradisional, lomba pacu kambing, lomba Muli Mekhanai, lomba hahiwang, olahraga kuda buta, upih ngesot, lomba nghahaddo, dan lomba layang-layang. Dan terakhir, perlombaan arum jeram yang dilakukan di Sungai Way Besi, Kecamatan Sumberjaya.

Foto:
http://lenteraswaralampung.com/berita-1300-festival-teluk-stabas-ramaikan-hut-.html

Perkebunan Kopi AEKI

AEKI adalah singkatan dari Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia. Mereka memiliki sebuah perkebunan seluas sekitar 10 hektar di daerah Pekon Hanakau, Kecamatan Sukau, sekitar 250 kilometer dari Kota Bandarlampung. Awal pendirian perkebunan yang didirikan oleh AEKI ini selain bertujuan memproduksi kopi, juga sebagai pusat penyuluhan dan pengembangan berbagai varietas kopi.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, pihak AEKI pun mengembangkannya menjadi kawasan industri terpadu berbasis kopi dan agrowisata guna menarik minat kunjungan wisatawan. Untuk itu, mereka melengkapinya dengan ruang pertemuan, penginapan, dan fasilitas penunjang yang diperlukan bagi pengembangan kegiatan pelatihan dan seminar. Gagasan pengembangannya sendiri dicetuskan oleh Warsono, Direktur Minuman dan Tembakau Kementerian Peridustrian, pada saat melakukan kunjungan kerja ke Liwa pada tahun 2008.

Hasilnya, saat ini perkebunan kopi AEKI menjadi salah satu daerah kunjungan wisata di Lampung Barat. Umumnya wisatawan datang untuk menikmati kopi sambil melihat indahnya hamparan kebun kopi yang tertata rapi di atas tanah yang terletak di ketinggan sekitar 800 meter dari permukaan air laut. Selain itu, ada pula yang datang untuk mempelajari kopi-kopi baru hasil penelitian AEKI.

Sementara bagi masyarakat sekitar sendiri, adanya kawasan industri terpadu dan agrowisata perkebunan kopi, secara tidak langsung juga sangat membantu meningkatkan perekonomian. Pasalnya, sebagian besar dari mereka dilibatkan sebagai pekerja, baik di kantor maupun di perkebunan milik AEKI.

Foto: 
http://vovworld.vn/id-ID/Kotak-Surat-Anda/Perkenalan-tentang-usaha-penanaman-kopi-di-Vietnam/211742.vov

Kecamatan Cipayung

Letak dan Keadaan Alam
Cipayung merupakan salah satu dari sepuluh kecamatan yang secara administratif termasuk dalam Kota Administratif Jakarta Timur dengan batas geografis sebelah utara dengan Kecamatan Makasar, sebelah timur dengan Kecamatan Pondok Gede (Kota Bekasi), sebelah selatan dengan Kecamatan Cibinong di Kabupaten Bogor, dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Ciracas. Kecamatan yang luas wilayahnya sekitar 28,45 kilomter persegi dengan titik koordinat 106°49'35" Bujur Timur dan 6°10'37" Lintang Selatan ini terdiri atas 8 kelurahan, 56 Rukun Warga, dan 502 Rukun tetangga dengan jumlah penduduk 260.578 jiwa. Ke-8 kelurahan itu adalah: Lubang Buaya seluas 3,72 kilomter persegi, Ceger seluas 3,63 kilometer persegi, Cipayung seluas 3,09 kilometer persegi, Munjul seluas 1,90 kilomter persegi, Pondok Rangon dengan luas 3,66 kilometer persegi, Cilangkap seluas 6,03 kilometer persegi, Setu dengan luas 3,25 kilometer persegi, dan Bambu Apus dengan luas 3,17 kilometer persegi (id.wikipedia.org).

Topografi Kecamatan Cipayung sebagian besar berada pada dataran rendah dengan kemiringan antara 0-2% dan ketinggian antara 11-81 meter di atas permukaan air laut. Adapun iklim yang menyelimutinya sama seperti daerah lainnya di Indonesia, yaitu tropis yang ditandai oleh adanya dua musim, penghujan dan kemarau. Musim penghujan biasanya dimulai pada Oktober-Maret, sedangkan musim kemarau biasanya dimulai pada bulan April--September. Curah hujannya rata-rata 66 milimeter perbulan. Temperaturnya rata-rata berkisar 23,5-33,0 Celcius. Tekanan udara sekitar 1.009,5 mb dan kelembaban udara rata-rata 79,3 persen.

Sesuai dengan iklimnya yang tropis maka flora yang ada di sana pada umumnya sama dengan daerah-daerah lain di Indonesia, seperti: kelapa, bambu, tanaman buah (rambutan, manggis, durian, dan lain sebagainya), padi, dan tanaman palawija (jagung, kedelai, mentimun, kacang panjang, dan lain sebagainya). Fauna yang ada di sana juga pada umumnya sama dengan daerah lain di Indonesia, yaitu: sapi, kerbau, kambing, dan ayam.

Organisasi Pemerintahan
Struktur organisasi pemerintahan tertinggi di Kecamatan Cipayung dipegang oleh seorang Camat. Sesuai dengan Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 146 Tahun 2009, dalam menjalankan tugasnya Camat dibantu oleh Wakil Camat, Sekretaris Kecamatan, Kelompok Jabatan Fungsional, Seksi Pemerintahan dan Trantib, Seksi Perekonomian, Seksi Pembangunan dan Lingkungan Hidup, Seksi Kesejahteraan Masyarakat, Seksi Pelayanan umum, Lurah Lubang Buaya, Lurah Ceger, Lurah Cipayung, Lurah Munjuk, Lurah Pondok Rangon, Lurah Cilangkap, Lurah Setu, dan Lurah Bambu Apus. Untuk melaksanakan tugasnya, bagian sekretariat dibantu lagi oleh Sub Bagian Umum, Sub Bagian Keuangan, serta Sub Bagian Program dan Anggaran.

Para aparatur kecamatan tersebut bekerja dalam satu kerangka visi dan misi yang sama untuk kemajuan Kecamatan Cipayung. Visi tersebut adalah "Mewujudkan wilayah Kecamatan Cipayung yang tertata rapi, bersih, sehat, dan aman didukung oleh partisipasi dan kepedulian masyarakat dengan kinerja perangkat Kecamatan dan Kelurahan yang berorientasi pelayanan publik". visi itu dijadikan sebuah misi yang harus dilaksanakan atau diemban agar seluruh anggota organisasi dan pihak yang berwenang dapat mengetahui dan mengenal keberadaan serta peran Kecamatan Cipayung dalam menyelenggarakan Pemerintahan. Adapun misi dari kecamatan yang memiliki slogan CBSA (Cipayung Bersih, Sehat, dan Aman) ini adalah: (a) Meningkatkan motivasi dan kinerja pegawai; (b) Mewujudkan pelayanan prima; (c) Meningkatkan partisipasi swadaya dan pemberdayaan masyarakat dalam memelihara lingkungan serta kegiatan kemasyarakatan; dan (d) Menggerakkan seluruh potensi untuk mewujudkan wilayah Kecamatan Cipayung yang bersih, sehat, dan aman dengan sarana prasarana yang memadai (kecamatancipayung.blogspot.co.id).

Kependudukan
Penduduk Kecamatan Cipayung Berjumlah 247.123 jiwa, dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) 75.148. Jika dilihat berdasarkan jenis kelaminnya, maka jumlah penduduk laki-lakinya mencapai 125.483 jiwa dan penduduk berjenis kelamin perempuan mencapai 121.640 jiwa. Para penduduk ini tersebar di 8 kelurahan, yaitu Pondok Rangon dihuni oleh 26.513 jiwa (10,73%), Cilangkap dihuni oleh 28.614 jiwa (11,58%), Munjul 25.679 jiwa (10,39%), Cipayung 27.187 jiwa (11,00%), Setu 21.027 jiwa (8,51%), Bambu Apus 27.912 jiwa (11,29%), Ceger 20.400 jiwa (8,25%), dan Kelurahan Lubang Buaya dihuni oleh 69 791 jiwa (28,24%).

Jika dilihat berdasarkan golongan usia, penduduk yang berusia 0-4 tahun ada 20.067 jiwa, kemudian yang berusia 5-9 tahun ada 22.002 jiwa, berusia 10-14 tahun ada 22.052 jiwa, berusia 15-19 tahun ada 18.730 jiwa, berusia 20-24 tahun ada 18.982 jiwa, berusia 25-29 tahun ada 19.754 jiwa, berusia 30-34 tahun ada 22.925 jiwa, berusia 35-39 tahun ada 21.959, berusia 40-44 tahun ada 19.247 jiwa, berusia 45-49 tahun ada 16.645 jiwa, berusia 50-54 tahun ada 12.849 jiwa, berusia 55-59 tahun ada 9.206 jiwa, berusia 60-64 tahun ada 6.027 jiwa, berusia 65-69 ada 3.025 jiwa, berusia 70-74 ada 2.120 jiwa, dan yang berusia 75 tahun ke atas ada 1.071 jiwa. Ini menunjukkan bahwa penduduk Kecamatan Cipayung sebagian besar berusia produktif.

Perekonomian
Letak Kecamatan Cipayung yang menjadi bagian dari Kota Administratif Jakarta Timur membuatnya mengalami kemajuan relatif pesat karena adanya perkembangan dalam bidang industri, terutama industri pengolahan, perdagangan, hotel, dan restoran. Hal ini membuat mata pencaharian penduduknya pun semakin beragam dan tidak hanya bertumpu pada sektor pertanian. Menurut data dari BPS Kota Administratif Jakarta Timur tahun 2015, dari luas wilayah secara keseluruhan, hanya sebagian kecil saja yang saat ini masih digunakan sebagai lahan pertanian yaitu sekitar 104 ha. Selebihnya, merupakan lahan kering yang digunakan untuk kandang dan halaman (1.209 ha).

Dengan lahan yang relatif kecil tersebut, tanaman yang dihasilkan hanyalah berupa padi, sayur mayur, tanaman lingkungan, tanaman hias ornamen, dan tanaman olahan. Sedangkan sisanya digunakan sebagai peternakan sapi potong (261 ekor), sapi perah (1.228 ekor), kerbau (6 ekor), kambing (1.045 ekor), domba (413 ekor), dan unggas (ayam, itik).

Pendidikan dan Kesehatan
Sebagai sebuah kecamatan yang berada dalam wilayah pusat pemerintahan Republik Indonesia (DKI Jakarta), tentu saja Cipayung memiliki sarana pendidikan dan kesehatan yang memadai bagi masyarakatnya. Adapun sarana pendidikan yang terdapat di kabupaten ini, diantaranya adalah: 69 buah taman kanak-kanak dengan jumlah siswa sebanyak 1.876 orang dan 248 tenaga pengajar; 59 buah Sekolah Dasar dengan jumlah siswa sebanyak 22.935 orang dan 1507 orang tenaga pengajar; 23 buah Sekolah Menengah Pertama dengan jumlah siswa sebanyak 11.139 orang dan 659 tenaga pengajar; 13 buah sekolah menengah atas dengan jumlah siswa sebanyak 2.733 orang dan 275 tenaga pengajar; 9 buah Sekolah Menengah Kejuruan dengan jumlah siswa sebanyak 5.917 orang dan 574 tenaga pengajar; dan sebuah perguruan tinggi dengan jumlah mahasiswa sebanyak 1.872 orang dan 98 tenaga pengajar.

Sementara untuk sarana kesehatan Kecamatan Cipayung memiliki 11 buah rumah sakit bersalin, 10 buah puskesmas, 19 buah apotek, 25 buah klinik, dan 128 buah posyandu dengan tenaga medis sebanyak 137 orang, terdiri atas: 46 orang dokter umum, 16 orang dokter gigi, 69 orang bidan, 69 apoteker (BPS Kecamatan Cipayung 2015).

Pola Pemukiman
Pola pemukiman penduduk Cipayung umumnya berada di sekitar jalan dengan arah hadap ke jalan (pola pita/ribbon). Arah rumah yang berada bukan di pinggir jalan pun arahnya mengikuti yang ada di pinggir jalan. Berdasarkan data dari Dinas Kantor Kecamatan CIpayung tahun 2015, jumlah rumah yang ada di kecamatan tersebut ada 26.909 buah. Dari ke 26.909 buah rumah tersebut, 17.606 buah diantaranya telah bersifat permanen (beratap genting, bedinding tembok, dan berlantai keramik), 5.394 buah semi permanen, dan 3.909 buah sisanya masih berbentuk bangunan sementara.

Agama dan Kepercayaan
Agama yang dianut oleh Masyarakat Kecamatan Cipayung sangat beragam, yaitu: Islam 193.807 jiwa, Kristen 19.147 jiwa, Katolik 15.031 jiwa, Hindu 6.109 jiwa, Budha 2.567 jiwa, dan aliran Kepercayaan. Ada korelasi positif antara jumlah pemeluk suatu agama dengan jumlah sarana peribadatan. Hal itu tercermin dari banyaknya sarana peribadatan yang berkaitan dengan agama Islam (mesjid, musholla dan langar). Berdasarkan data yang tertera pada Badan Pusat Statistik Jakarta Timur, jumlah mesjid yang ada di sana mencapai 98 buah dan musholla/langgar/surau mencapai 220 buah. Sarana peribadatan yang berkenaan dengan penganut agama Kristen dan Katolik mencapai 18 buah, agama Hindu hanya 1 buah gereja, agama Budha hanya ada 1 buah vihara atau kelenteng. Sementara data yang berkaitan dengan sarana peribadatan atau gedung pertemuan maupun jumlah penganut aliran kepercayaan belum ada, walau sebenarnya di Kelurahan Lubang Buaya telah lama ada sebuah bangunan pasewakan tempat berkumpulnya para penganut aliran Kebatinan Perjalanan. (gufron)

Sumber:
"Bincang Pagi di Studio Gotree FM", diakses dari http://kecamatancipayung.blogspot.co.id/2016 /11/bincang-pagi-di-studio-gotree-fm.html, tanggal 17 Maret 2017.

"Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Cipayung,_Jakarta_Timur, tanggal 20 Maret 2017.

Wahyudi, Agus, dkk,. 2015. Cipayung Dalam Angka 2015. Jakarta: Badan Pusat Statistik Kota Administratif Jakarta Timur.

Pontondate

Pontondate adalah istilah masyarakat Sulawesi Tengah bagi sebuah gelang panjang (dari pergelangan hingga batas siku) terbuat dari emas atau perak sepuhan yang awalnya digunakan sebagai perhiasan kebesaran oleh para perempuan bangsawan yang tinggal di istana ketika sedang menarikan Pajoge Maradika. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, pontondate hampir digunakan dalam semua jenis tarian tradisional di daerah Sulawesi Selatan.

Perhiasan ini berukuran antara 15-18 centimeter. Bagian atasnya berbentuk bulat dengan diameter antara 7 hingga 8 centimeter, sementara bagian bawahnya sebagai batas pergelangan berdiameter sekitar 6 centimeter. Adapun cara membuatnya adalah dengan menggunakan cetakan. Panday besi yang membuat pontondate biasanya akan terlebih dahulu memasang semacam kawat di dalam cetakan yang berguna sebagai penahan agar cairan logam yang akan dicetak lebih kuat setelah terbentuk.

Kabupaten Pesisir Barat

Letak dan Keadaan Alam
Pesisir Barat adalah salah satu kabupaten yang secara administratif termasuk dalam provinsi Lampung dengan batas geografis sebelah utara dengan Kabupaten Lampung Barat (Kecamatan Balik Bukit, Kecamatan Batu Brak, Kecamatan Suoh, Kecamatan Bandar Negeri Suoh) dan Kabupaten Ogan Komering Ulu (Provinsi Sumatera Selatan); sebelah timur dengan Kecamatan Pematang Sawah dan Kecamatan Semaka; sebelah selatan dengan Samudera Hindia; dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Kaur (Provinsi Bengkulu). Kabupaten yang dibentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2012 (lembaran Negara Nomor 231, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5364) yang diundangkan tanggal 17 November 2012 ini memiliki luas wilayah sekitar 2.907,23 km² atau 495.04 ha dengan titik koordinat 4° 40’ 0” – 6° 0’ 0” Lintang Selatan dan 103° 30’ 0” – 104° 50’ 0” Bujur Timur (id.wikipedia.org).

Kabupaten Pesisir Barat terdiri atas 11 Kecamatan yang mencakup 2 kelurahan serta 116 pekon (desa). Ke-11 kecamatan itu beserta luasnya adalah sebagai berikut: (1) Kecamatan Bengkunat Belimbing beribukota di Kota Jawa terdiri atas 14 pekon seluas 943,70 km2 (32,69%); (2) Kecamatan Bengkunat beribukota di Pardasuka terdiri atas 9 pekon seluas 215,03 km2 (7,45%); (3) Kecamatan Ngambur beribukota di Negeri Ratu Ngambur terdiri atas 9 pekon seluas 327,17 km2 (11,33%); (4) Kecamatan Pesisir Selatan beribukota di Biha terdiri atas 15 pekon seluas 409,17 km2 (14,17%); (5) Kecamatan Krui Selatan beribukota di Way Napal terdiri atas 10 pekon seluas 36,25 km2 (1,26%) (6) Kecamatan Pesisir Tengah beribukota di Pasar Krui terdiri atas 2 kelurahan dan 6 pekon seluas 120,64 km2 (4,18%); (7) Kecamatan Way Krui beribukota di Gunung Kemala terdiri atas 10 pekon seluas 40,92 km2 (1,42%); (8) Kecamatan Karya Penggawa beribukota di Kebuayan terdiri atas 12 pekon seluas 211,11 km2 (7,31%) (9) Kecamatan Pesisir Utara beribukota di Kuripan terdiri atas 12 pekon seluas 84,27 km2 (2,92%); (10) Kecamatan Lemong beribukota di Lemong terdiri atas 13 pekon seluas 454,97 km2 (15,76%); dan (11) Kecamatan Pulau Pisang beribukota di Pulau Pisang terdiri atas 6 pekon seluas 64,00 km2 (1,51%) (BPS Kabupaten Pesisir Barat, 2013).

Topografi Kabupaten Pesisir Barat bervariasi mulai dari dataran rendah hingga tinggi (perbukitan dan pegunungan). Dataran rendah yang ketinggiannya 0,1-600 meter dari permukaan air laut hanya sekitar 27,2% dari seluruh wilayah Pesisir Barat. Demikian pula dengan dataran di atas 1.001 meter dari permukaan air laut hanya sekitar 25,9% yang seluruhnya merupakan wilayah pegunungan (Gunung Pugung, Sebayan, Telalawan, dan Tampak Tunggak). Sedangkan porsi yang paling besar (46,9%) adalah berupa dataran yang berketinggian antara 601-1.000 meter di atas permukaan air laut dengan kemiringan berkisar antara 3%-5%.

Sebagaimana daerah Sumatera yang berada di rantai pegunungan Bukit Barisan pada umumnya, Kabupaten Pesisir Barat beriklim tropis yang ditandai oleh adanya dua zona iklim, yakni zona A dan zona B. Zona A yang memiliki jumlah bulan basah lebih dari bulan berada di bagian barat Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), termasuk daerah Krui dan Bintuhan. Sedangkan, zona B yang memiliki jumlah bulan basah antara 7-9 bulan berada di bagian timur TNBBS. Curah hujannya rata-rata 2.500-3.000 (zona A) dan 3.000-4.000 (Zona B) milimeter per tahun. Sementara itu, suhu udaranya berkisar dari 20° Celcius sampai dengan 28° Celcius.

Oleh karena sebagian wilayahnya berada dalam lingkup TNBBS yang merupakan salah satu perwakilan ekosistem hutan hujan dataran rendah di Pulau Sumatera, maka memiliki formasi vegetasi yang cukup lengkap, yaitu vegetasi pantai, payau, rawa, hutan tanaman, hutan bambu dan hutan hujan hujan tropika. Jenis-jenis tumbuhan yang banyak dijumpai di dalam vegetasi ini diantaranya adalah pidada (Sonneratia sp.), nipah (Nypa fruticans), cemara laut (Casuarina equisetifolia), pandan (Pandanus sp.), cempaka (Michelia champaka), meranti (Shorea sp.), mersawa (Anisoptera curtisii), ramin (Gonystylus bancanus), keruing (Dipterocarpus sp.), damar (Agathis sp.), rotan (Calamus sp.), bunga raflesia (Rafflesia arnoldi), bunga bangkai jangkung (Amorphophallus decus-silvae), bunga bangkai raksasa (A. titanum), anggrek raksasa/tebu (Grammatophylum speciosum), dan lain sebagainya (sekitar 10.000 jenis tumbuhan yang 17 diantaranya termasuk marga endemik).

Vegetasi-vegetasi tersebut sampai saat ini kondisinya relatif masih lengkap dan asli, sehingga memungkinkan beraneka ragam jenis fauna hidup dan berkembang di dalamnya. Menurut situs resmi Balai TNBBS (tnbbs.org), di taman nasional ini memiliki beragam jenis satwa yang terdiri dari 201 spesies mamalia (22 spesies diantaranya dilindungi undang-undang), 582 spesies burung (21 dilindungi), 270 spesies ikan air tawar, dan 30 jenis amfibi dan repilia yang beberapa diantaranya dilindungi undang-undang. Jenis-jenis satwa itu diantaranya adalah: beruang madu (Helarctos malayanus malayanus), badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis sumatrensis) berjumlah sekitar 300 ekor, harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) berjumlah kurang dari 400 ekor, gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) berjumlah kurang dari 2000 ekor, tapir (Tapirus indicus), ungko (Hylobates agilis), siamang (H. syndactylus syndactylus), simpai (Presbytis melalophos fuscamurina), kancil (Tragulus javanicus kanchil), penyu sisik (Eretmochelys imbracata), kelinci belang sumatera, sekitar 22 jenis kelelawar (Balionyctres maculata, Cynopterus branchyotis, Cynopterus minutus, Hipposideros bicolor, Hipposideros cervinus, Hipposideros cineraceus, Hipposideros diadema, Hipposideros larvatus, Kerivoula hardwickii, kerivoula intermedia, Kerivoula papillosa, Kerivoula pellucida, Megaderma spasma, Murina cyclotis, Murina Suilla, Nycteris javanica, Phonisscus atrox, Rhinolopus affinis, Rhinolopus bornensis, Rhinolopus lepidus, dan Rhiolopus trifoliatus), dan lain sebagainya.

Pemerintahan
Perintahan Kabupaten Pesisir Barat memiliki sejarah yang relatif masih baru karena merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Lampung Barat. Kabupaten Lampung Barat sendiri terbentuk pada tahun 1991 karena adanya pemekaran Kabupaten Lampung Utara yang awalnya memiliki luas sekitar 58% dari luas Provinsi Lampung. Pemekaran Kabupaten Lampung Utara selanjutnya membentuk sebuah kabupaten baru lagi bernama Tulang Bawang berdasarkan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1997. Dan, pemekaran terakhir berdasarkan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1999 membentuk Kabupaten Way Kanan.

Pembentukan Pesisir Barat menjadi kabupaten yang otonom ditetapkan melalui Undang-undang Nomor 22 Tahun 2012 tentang Pemekaran Daerah Otonom Pesisir Barat (Lembaran Negara Nomor 231 tahun 2012, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5364 tahun 2012) tanggal 17 November 2012 (Buku Putih Sanitasi (PBS) Tahun 2014). Adapun bentuk lambang daerahnya, berdasarkan peraturan upati Pesisir Barat Nomor 04 tahun 2013, adalah menyerupai perisai/tameng bersudut lima yang menggambarkan bahwa pemerintah setempat menjamin keamanan dan ketertiban wilayahnya. Di dalam lambang tersebut terdapat aksara serta gambar-gambar atau lukisan-lukisan sebagai berikut: (a) aksara Lampung berbunyi "Helauni Kibakhong" berwarna hitam dengan dasar kuning emas memiliki arti "kebersamaan" yang bermakna terbentuk dan keberadaan Kabupaten Pesisir Barat atas dasar semangat dan gotong royong masyarakatnya; (b) bidang persegi panjang vertikal berwarna putih di tengah dasar melambangkan pemerintahan yang lurus, bersih, dan berwibawa dengan mengutamakan transparansi; (c) garis berkelok berwarna putih dan biru muda representasi dari air laut melambangkan Kabupaten Pesisir Barat kaya akan sumber daya kealutan. Selain itu air laut juga dapat pula diartikan sebagai gerakan dinamis masyarakat dalam membangun daerahnya; (d) perahu berwarna merah melambangkan ketangguhan masyarakat menghadapi segala bentuk rintangan serta hambatan dalam mengarui kehidupan; (e) pohon damar berwarna hijau muda yang membentuk stilasi siger melambangkan kekayaan potensi hasil hutan serta simbol masyarakat Pesisir Barat yang menjunjung tinggi kehormatan dan martabat daerah dan negara; (f) pegunungan berwarna hitam melambangkan kesuburan dalam bidang pertanian dan perkebunan di wilayah Pesisir Barat; dan (g) payung agung berwarna kuning emas sebagai simbol melindungi, mengayomi, dan menjunjung tinggi.
Selain itu, kabupaten ini juga memiliki visi yaitu menuju kota modern berbasis lingkungan. Sedangkan misinya adalah: meningkatkan pemanfaatan potensi perikanan dan pertanian; meningkatkan pengelolaan pariwisata dan budaya daerah; meningkatkan perekonomian masyarakat dari sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan; meningkatkan kualitas pelayanan umum, jaringan transportasi dan komunikasi; meningkatkan pelayanan pendidikan berkualitas dan terjangkau; meningkatkan pelayanan kesehatan berkualitan dan terjangkau; dan meningkatkan kesadaran pembangunan berwawasan lingkungan (pesisirbaratkab.go.id).

Sedangkan organisasi pemerintahan awalnya berdasar pada Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2007 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741), sehingga Bupati mengeluarkan Peraturan Pejabat Bupati Nomor 01 tahun 2013 tentang Pembentukan, Organisasi, dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Pesisir Barat yang sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 138/2051/SJ/ tanggal 31 Agustus 2007. Namun, untuk lebih merampingkan struktur organisasinya agar bekerja lebih efektif, Bupati mengeluarkan lagi Peraturan Nomor 01 tahun 2013 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Pesisir Barat yang terdiri atas: PLT Bupati, DPRD. Sekretarian DPRD, Sekretarian Daerah, Staf Ahli (Pemerintahan, Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan), Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Bagian Tata Pemerintahan, Bagian Hukum dan Organisasi, Bagian Kesejahteraan Rakyat), Asisten Bidang Administrasi Umum (Bagian Umum, Bagian Hubungan Masyarakat dan Protokol), Kecamatan, Dinas Daerah (Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga; Kesehatan; Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi; Pekerjaan Umum; Perhubungan dan Kominfo; Pertambangan dan Energi; Kependudukan dan Pencatatan Sipil; Perinsudtrian, Perdagangan, Koperasi, dan Pasar; Pertanian), Lembaga Teknis Daerah (Inspektorat Kabupaten; Badan Perencanaan Pembangunan Daerah; Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Pekon; Badan Kepegawaian Daerah; Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana; Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan; Badan Penanggulangan Bencana Daerah; Badan Penyuluh Pertanian, Perkebunan, Peternakan, dan Kehutanan; Kantor Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat; Perpustakaan Dokumentasi dan Arsip Daerah; Rumah Sakit Umum Daerah; Kantor Ketahanan Pangan), dan Asisten Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan.

Dari struktur di atas dapat diketahui bahwa tampuk pimpinan tertinggi kabupaten dipegang oleh seorang Bupati. Pengangkatannya dipilih oleh masyarakat untuk periode lima tahun. Dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh Sekretariat Daerah yang menyusun kebijakan dan mengoordinasikan dinas daerah dan Lembaga Teknis Daerah. Untuk melaksanakan tugas Sekretariat Daerah memiliki struktur organisasi yang terdiri atas: Sekretaris Daerah; Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (membawahi Bagian Tata Pemerintahan, Bagian Hukum dan Organisasi, Bagian Kesejahteraan Rakyat); Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan; Asisten Bidang Administrasi Umum, dan Kelompok Jabatan Fungsional.

Selain Sekretariat Daerah, Sekretaris Daerah juga membawahi sejumlah Dinas Daerah, Lembaga Teknis Daerah, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, dan Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Pekon. Lembaga-lembaga tersebut merupakan unsur pelaksana otonomi daerah yang memiliki fungsi: (a) perumusan kebijakan teknis sesuai dengan lingkup tugasnya; (b) penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum; (c) pembinaan dan pelaksanaan tugas; (d) pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati; dan (e) pengelolaan administratif.

Kependudukan
Penduduk Kabupaten Pesisir Barat Berjumlah 144.763 jiwa, dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) 33.292. Jika dilihat berdasarkan jenis kelaminnya, maka jumlah penduduk laki-lakinya mencapai 76.240 jiwa dan penduduk berjenis kelamin perempuan mencapai 68.523 jiwa. Para penduduk ini tersebar di 11 kecamatan, yaitu Pesisir Selatan dihuni oleh 21.762 jiwa (5,09%), Bengkunat dihuni oleh 7.620 jiwa (5,61%), Bengkunat Belimbing 24.009 jiwa (5,61%), Ngambur 17.953 jiwa 4,20%, Pesisir Tengah 18.358 jiwa (4,29%), Karya Penggawa 14.292 jiwa (3,34%), Way Krui 8.328 jiwa 1,95%, Krui Selatan 8.531 jiwa 1,99%, Pesisir Utara 8.202 jiwa 1,92%, Lemong 14.365 jiwa 3,36%, dan Pulau Pisang dihuni oleh 1.343 jiwa (0,31%). Jika dilihat berdasarkan golongan usia, maka penduduk yang berusia 0-14 tahun ada 54.825 jiwa (34,44%), kemudian yang berusia 15—54 tahun ada 76.632 jiwa (50,83%), dan yang berusia 55 tahun ke atas 12.559 jiwa (14,73%). Ini menunjukkan bahwa penduduk Pesisir Barat sebagian besar berusia produktif.

Pola Pemukiman
Dari segi luas, pemukiman menempati urutan keempat setelah setelah hutan, persawahan dan perkebunan. Pemukiman yang tentunya berada di luar hutan, perladangan dan persawahan ini semakin mendekati jalan semakin padat. Umumnya perumahan berada di sekitar jalan, baik itu jalan kabupaten, kecamatan, maupun desa, berjajar dengan arah menghadap ke jalan (pola pita/ribbon). Arah rumah yang berada bukan di pinggir jalan pun arahnya mengikuti yang ada di pinggir jalan.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Pesisir Barat tahun 2014, jumlah rumah yang ada di kecamatan tersebut ada 34.196 buah. Dari ke 34.196 buah rumah tersebut, 7.217 buah diantaranya berada di Kecamatan Pesisir tengah. Sisanya, (berdasarkan jumlah) berada di Kecamatan Pesisir Selatan 5.563 buah, Bengkunat Belimbing 5.338 buah, Ngambur 4.344 buah, Lemong 3.229 buah, Pesisir Utara 2.556 buah, Bengkunat 2.466 buah, Karya Penggawa 1.445 buah, Way Krui 826 buah, Krui Selatan 783 buah, dan Kecamatan Pulau Pisang 429 buah.

Sebagian besar rumah yang berada di Pesisir Barat masih bersifat tradisional yang mengelompok dan tersebar secara sporadis. Adapun cirinya berupa bangunan semi permanen berbentuk panggung, tingkat KDB rendah, MCK di luar rumah, menggunakan sumur (air tanah) sebagai sumber air minum, dan kurang atau belum mendapat pasokan listrik. Khusus untuk pasokan listrik, kabupaten baru ini relatif masih kurang. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila sering terjadi pemadaman listrik secara bergilir. Bahkan, pemadaman hampir terjadi setiap hari dengan jangka waktu antara beberapa jam hingga beberapa hari. Oleh karena itu, untuk mensiasatinya hampir di setiap rumah memasang genset berbahan bakar solar agar dapat tetap menikmati listrik.

Perekonomian
Letak Kabupaten Lampung Barat yang relatif jauh dari ibukota provinsi (Bandarlampung) membuat perekonomian mayoritas penduduknya masih mengandalkan sektor pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidup. Menurut data dari BPS Kabupaten Pesisir Barat tahun 2013, hanya sebagian kecil lahan saja yang digunakan sebagai areal perumahan. Selebihnya, merupakan lahan pertanian, dan perladangan/perkebunan, dengan rincian: padi sawah seluas 8.683 ha dengan produksi sejumlah 67.663 ton, padi irigasi non teknis seluas 3.894 ha dengan produksi sejumlah 9.755 ton, Jagung seluas 1.543 ha 15.005 ton, ubi kayu seluas 169 ha 5.455 ton, ubi jalar seluas 90 ha 770 ton, kedelai seluas 158 ha 61 ton, kacang hijau seluas 152 ha 82 ton, kacang tanah seluas 246 ha 204 ton, mentimun seluas 176 ha 24.113 ton, bawang daun seluas 2 ha 2.072 ton, bawang merah seluas 5 ha 350 ton, buncis seluas 247 ha 20.838 ton, kacang panjang seluas 261 ha 20.819 ton, kentang seluas 40 ha 4.966 ton, kubis seluas 406 ha 104.010 ton, sawi seluas 369 ha 4.747 ton, terung seluas 240 ha 10.460 ton, cabe seluas 323 ha 39.885 ton, tomat 315 ha 75.432 ton, wortel 244 ha 48.527 ton, bayam 138 ha 8.21 ton, kangkung 151 ha 9.283 ton, labu siam 61 ha 58.958 ton, nenas 566 ha 1.770 ton, sawo 366 ha 4.188 ton, rambutan 744 ha 2.539 ton, alpokat 965 ha 8.952 ton, duku 15.323 ha menghasilkan buah sejumlah 11.460 ton, nilai 4,7 ton, pinang 95,8 ton, fanili 0,8 ton, aren 87, ton, cengkeh 252 ton, kakao 1.002 ton, kayu manis 212, ton, kelapa 7.100 ton, karet 24, ton, kelapa sawit 58.680 ton, kemiri 50 ton, robusta 4.470 ton, dan lada menghasilkan panen sejumlah 1.873 ton.

Selain pertanian ada banyak lagi sektor yang menunjang perekonomian. Menurut data dari PDRB Kabupaten Pesisir Barat yang mengutip dari BPS Lampung Barat (Kabupaten Induk), aktivitas perekonomian yang mencapai 2,9 triliun dibagi menjadi beberapa kategori lapangan usaha, yaitu: pertanian, kehutanan dan perikanan 52,90%; pertambangan dan penggalian 5,15%; industri pengolahan 5,37%; pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang 0,06%; konstruksi 5,09%; perdagangan besar/eceran, reparasi mobil, dan sepeda motor 11,23%; transportasi dan pergudangan 0,9%; penyedia akomodasi dan makan minum 1,55%; informasi dan komunikasi 1,56%; jasa keuangan dan asuransi 1,64%; real estate 3,55%; jasa perumahan 0.14%; dan administrasi pemerintahan, pertanahan dan jaminan sosial 5,17%.

Pendidikan dan Kesehatan
Sebagai sebuah kabupaten, Pesisir Barat tentu saja memiliki sarana pendidikan dan kesehatan yang cukup memadai bagi masyarakatnya. Adapun sarana pendidikan yang terdapat di kabupaten ini, diantaranya adalah: 53 buah Taman Kanak-kanak dengan jumlah siswa sebanyak 1.503 orang dan 163 tenaga pengajar; 109 buah Sekolah Dasar dengan jumlah siswa sebanyak 18.808 orang dan 1.157 tenaga pengajar; 31 buah Sekolah Menengah Pertama dengan jumlah siswa sebanyak 30.414 orang dan 5.649 orang tenaga pengajar; 14 buah Sekolah Menangah Atas dengan jumlah siswa sebanyak 5336 dan 219 tenaga pengajar; 26 buah Madrasah Ibtidaiyah dengan jumlah siswa sebanyak 2.780 orang dan 332 orang tenaga pengajar; 40 buah Madrasah Tsanawiyah dengan jumlah siswa sebanyak 4.000 orang dan 332 orang tenaga pengajar; dan 8 buah Madrasah Aliyah dengan jumlah siswa sebanyak 936 orang dan 156 orang tenaga pengajar.

Sedangkan untuk sarana kesehatan terdapat 1 buah rumah sakit, 5 buah puskesmas, 17 buah posyandu, dan 18 buah Polindes. Berdasarkan data yang tercatat pada Balap Pusat Statistik Kabupaten Lampung Barat tahun 2013 tercatat 253 orang tenaga kesehatan, diantaranya adalah: 2 dokter umum, 196 orang bidan/perawat, dan 55 orang tenaga kesehatan lainnya (BPS Kabupaten Lampung Barat, 2013).

Agama dan Kepercayaan
Agama yang dianut oleh Masyarakat Kabupaten Lampung Barat sangat beragam, yaitu: Islam (144.493 jiwa), Kristen, Katolik, Hindu (270 jiwa), Budha, dan aliran Kepercayaan. Ada korelasi positif antara jumlah pemeluk suatu agama dengan jumlah sarana peribadatan. Hal itu tercermin dari banyaknya sarana peribadatan yang berkaitan dengan agama Islam (mesjid, musholla dan langar). Berdasarkan data yang tertera pada Badan Pusat Statistik Kabupaten Pesisir Barat, jumlah mesjid yang ada di sana mencapai 250 buah dan musholla/langgar/surau mencapai 222 buah. Sarana peribadatan yang berkenaan dengan penganut agama Kristen dan Katolik mencapai 13 buah. Sementara data yang berkaitan dengan sarana peribadatan penganut Hindu, Budha, dan atau gedung pertemuan maupun jumlah penganut aliran kepercayaan belum ada. (Ali Gufron)

Sumber:
"Visi dan Misi", diakses dari http://www.pesisirbaratkab.go.id/?page_id=68, tanggal Februari 2017.

Lampung Barat Dalam Angka 2013. 2013. Badan Pusat Statistik Kabupaten Lampung Barat.

PDRB Kabupaten Pesisir Barat Tahun 2015. 2015.Badan Pusat Statistik Kabupaten Lampung Barat.

Buku Putih Sanitasi (PBS) Tahun 2014. 2014. Pokja Sanitasi Kabupaten Pesisir Barat.

"Kondisi Umum", diakses dari http://tnbbs.org/Profile/Kondisi-Umum.aspx, tanggal 19 Februari 2017.

"Kabupaten Pesisir Barat", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Pesisir_Barat, tanggal 19 Februari 2017.

Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM)

Sesuai dengan namanya, ATBM adalah alat pembuat kain dasar untuk dijadikan sebagai kain tenun tradisional. ATBM terdiri dari rangka kayu yang gerakan mekaniknya dilakukan oleh tenaga manusia. Adapun bagian-bagian dari ATBM di antaranya adalah: (1) Gulungan lusi, sebagai penjaga tepian lusi yang telah dihani. Alat ini berupa kayu bulat panjang dengan jari-jari sekitar 7 centimeter dan pada kedua sisinya terdapat piringan kayu; (2) Gandar gosok, berfungsi sebagai jalan lusi; (3) Kayu silang, berfungsi menjaga agar benang lusi selalu dalam keadaan sejajar agar memudahkan mencari benang yang putus dan mencucuknya kembali dalam mata gun sehingga benang lusi tidak saling tertukar; (4) Gun atau sering disebut kamran terdiri dari dua buah kayu bingkai yang dihubungkan dengan dua buah besi. Fungsi gun adalah sebagai pembagi benang lusi yang dinaik-turunkan menjadi mulut lusi. Di dalam mulut lusi inilah benang pakan diluncurkan untuk kemudian bersilang dengan benang-benang lusi yang akhirnya menjadi sehelai kain; (5) Kerekan, terbuat dari kayu panjang dengan jari-jari 4 centimeter berfungsi untuk menggantungkan gun; (6) Sisir, berfungsi untuk mengetak benang pakan yang telah diluncurkan dalam mulut lusi pada proses menenun serta untuk mengatur kekerapan benang lusi yang disesuaikan dengan halus/kasarnya kain yang dibuat; (7) Laci tenun untuk memegang sisir berbentuk suatu kerangkat terbuat dari kayu. Pada kedua sisi alat ini ada sebuah kotak teropong yang di dalamnya terdapat picker atau alat untuk melontarkan teropong dari kotak yang satu ke kotak yang lain; (8) Gandar dada, berfungsi sebagai jalan kain sebelum digulung; (9) Gulungan kain, terletak di bagian depan di bawah gandar dada namun agak masuk ke dalam alat tenun. Alat ini terbuat dari kayu bundar panjang berjari-jari sama dengan gulungan lusi. Pada salah satu ujung gulungan diberi roda gigi walang dan dilengkapi dengan pal penahan agar gulungan lusi tidak dapat berputar lagi. Satu pal lagi menggunakan pegangan yang berfungsi untuk memutar gulungan pada waktu menggulung kain yang baru ditenun; (10) Gandar rem untuk mengendurkan lusi apabila kain harus dimajukan karena sebagian sudah ditenun; (11) Injakan, berupa dua buah kayu panjang yang terletak di bawah alat tenun dan mempunyai titik putar di bagian belakangny; dan (12) Alat pemukul, berupa beberapa buah tongkat yang dihubungkan dengan tali. Apabila salah satu tongkat digerakkan dengan mendorong laci tenun ke belakang, semua tongkat bergerak dan tongkat terakhir akan menarik tali picker hingga tersentak untuk melontarkan teropong.






Keteng

Keteng atau penghanian atau pihanean adalah sebutan orang Lampung bagi alat perentang (pengeteng) benang tenun (kelosan). Benang kelosan atau disebut juga benang strengan atau benang lusi itu diletakkan pada kreel, yaitu rangka kayu untuk mencucukkan kelosan. Selanjutnya, ujung-ujung benang pada kelosan tadi diambil secara berurutan dari kreel nomor 1, 2, 3, dan seterusnya lalu dimasukkan atau dicucukkan secara berurutan pula pada besi silang, sisir silang (untuk satu lubang sisir hanya boleh satu helai benang), dan sisir hani. Setelah seluruh benang telah dicucukkan, maka bagian ujung-ujungnya disatukan lalu diikat pada kaitan yang terdapat pada tambur. Penghanian bisa dimulai dengan memutar tambur hingga benang tergulung dalam boom tenun dengan jumlah sebanyak yang diperlukan (maksimal hingga 200 meter).

Pada saat melakukan penghanian ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu: (a) benang yang digulung panjangnya harus sama; (b) letak benang yang digulung pada boom tenun harus dalam keadaan sejajar; (c) benang yang digulung pada boom tenun bisa penuh atau sesuai keperluan; (d) lebar benang yang digulung pada boom tenun harus sedikit lebih besar dari sisir; (e) benang yang digulung harus lebih panjang dari kain yang akan dibuat; dan (f) permukaan benang pada boom tenun harus rata.






Pengelosan

Pengelosan/kelosan/gelosan adalah alat untuk mengelos atau menggulung/memintal benang yang akan dijadikan sebagai kain tenun. Adapun benang yang dipintal bukanlah benang siap pakai, melainkan benang jenis masres dan sunwash yang warnanya hanya putih polos. Wujud awal benangnya sendiri masih dalam bentuk pak-pakan atau ball-ballan sehingga harus dicuci, kemudian direndam selama lebih kurang satu malam lalu dijemur hingga kering selama lebih kurang satu hari, bergantung ada atau tidaknya sinar matahari.

Kelosan ada yang menggunakan penggerak mesin dan ada pula yang menggunakan tenaga manusia. Kelosan bertenaga mesin berbentuk persegi pajang terbuat dari bahan besi bulat yang bagian atasnya terdapat beberapa buah roda penggulungan berukuran besar dan kecil. Roda berukuran besar berfungsi untuk memintal benang hasil jemuran, sedangkan roda berukuran kecil untuk memindahkan benang dari roda besar menjadi kelosan-kelosan kecil. Sementara kelosan bertenaga manusia bentuknya lebih sederhana dan terbuat dari bahan kayu dan sebuah velg sepeda beserta pedal kayuhannya. Adapun prosesnya sama seperti kelosan mesin, hanya hasilnya lebih sedikit dan waktu pengerjaannya relatif lebih lama.









Lalipak

Lalipak adalah istilah orang Lampung untuk menyebut alat sederhana pengangkut/transportasi barang dan manusia. Bahan pembuah lalipak adalah kayu bulat dari sebatang pohon tua yang dibelah dua. Salah satu bagian dari kayu yang telah dibelah kemudian dibuang bagian dalamnya sehingga membentuk perahu menyerupai lesung. Agar dapat imbang (tidak terbalik) ketika berada di air Lalipak dilengkapi cadik yang terbuat dari bambu. Dan, sebagai alat penggeraknya dilengkapi oleh pengayuh berupa dayung. Sampai saat ini lalipak masih banyak digunakan orang, terutama mereka yang tinggal di tepian Danau Ranau.

Asal Mula Batu Rantai

(Cerita Rakyat Daerah Kepulauan Riau)

Alkisah, ada seorang raja bernama Paduka Seri Maharaja. Raja yang memerintah Negeri Tumasik ini dikenal mempunyai perangai buruk. Dia memiliki sifat tamak, iri hati, kejam, dan sering berperilaku sewenang-wenang pada rakyatnya. Suatu ketika rakyat Negeri Tumasik mendapat serangan mendadak dari ratusan ribu ikan todak. Mereka tidak hanya menyerang warga di sepanjang pantai, tetapi juga yang tinggal agak jauh dari laut (pedalaman).

Agar tidak menimbulkan banyak korban jiwa, terutama dari kalangan perempuan dan anak-anak, Paduka Seri Maharaja memerintahkan penduduk laki-laki membuat pagar betis. Namun, strategi itu tidak efektif. Ikan-ikan todak mampu menembus barisan pagar betis sehingga menimbulkan banyak lebih korban. Rakyat tidak sanggup menahan keganasan mereka.

Di tengah kebingungan menghadapi kawanan ikan tersebut, tiba-tiba ada seorang anak kecil datang menghadap Paduka Seri Maharaja. Sang anak kecil berujar bahwa usaha Baginda Maharaja mengerahkan penduduk membuat pagar betis hanyalah sia-sia belaka. Moncong ikan todak yang bagaikan pedang akan dengan mudah menembus barisan pagar manusia.

Paduka Seri Maharaja tentu saja tidak terima pendapat anak kecil yang dianggap sok tahu dan masih ingusan. Bagaimana mungkin anak ingusan dapat memberikan solusi tepat bagi sebuah masalah besar yang melanda kerajaan. Oleh karena itu, dia langsung menghardik sang anak kecil yang tiba-tiba "nongol" dan tidak jelas asal usulnya.

"Hamba Kabil dari Bintan Penaungan, Baginda Raja," jawabnya tegas. "Hamba telah berpengalaman menghadapi ikan todak. Seluruh perilaku ikan tersebut sudah hamba hafal. Jadi, hamba sedikit tahu bagaimana cara mengatasinya," lanjutnya.

Walau jengkel atas kelancangan sang bocah, tetapi Paduka Seri Maharaja tidak mempunyai opsi lain. Dia terpaksa menuruti anjuran Kabil. Oleh karena itu, dia lalu memerintahkan segenap rakyatnya menebang pohon-pohon pisang di seluruh negeri untuk dijejerkan rapat menyerupai pagar. Tujuannya, agar moncong para ikan todak tersangkut atau tertancap pada batang pisang.

Keesokan harinya, ketika kawanan ikan todak menyerang lagi, satu per satu mulut mereka menancap pada batang pisang. Rakyat pun beramai-ramai menangkapnya. Sebagian mereka ada yang langsung mencincang tubuh ikan-ikan sebagai balas dendam atas terlukanya sanak kerabat mereka. Sedangkan sebagian lagi ada yang memotong-motongnya untuk selanjutnya dimasak dengan berbagai macam cara.

Euforia dapat mengalahkan kawanan ikan todak dirasakan oleh hampir seluruh penduduk kerajaan, terutama rakyat kecil. Mereka tidak hanya terbebas dari serangan ikan todak, melainkan juga tidak perlu pergi melaut. Daging kawanan ikan todak yang tertancap di batang-batang pisang dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka selama beberapa bulan.

Namun sebaliknya, para pembesar kerajaan tidak begitu senang sebab kemenangan tersebut berasal dari kalangan orang kebanyakan yang bernama Kabil. Mereka khawatir, dukungan rakyat pada Kabil akan sangat besar sehingga sewaktu-waktu dapat menggulingkan kekuasaan Paduka Seri Maharaja. Apabila hal itu terjadi, kedudukan mereka selaku pejabat dan pembesar istana juga terancam.

Melalui salah seorang perwakilannya, para pembesar mengungkapkan kekhawatiran mereka pada Paduka Seri Maharaja. Selain itu, mereka juga berusaha mempengaruhi agar Paduka Seri Maharaja panas hati dan menyingkirkan Kabil. Adapun caranya, perlu dibuat sedemikian rupa agar dia tidak dapat kembali lagi. Sebab, apabila kembali dikhawatirkan akan menggalang kekuatan untuk melengserkan Paduka Seri Maharaja.

Untuk mengakomodir kekhawatiran para pembesar, Paduka Seri Maharaja memerintahkan pada para pengawal menangkap Kabil. Setelah tertangkap, perintah selanjutnya adalah memasukkannya ke dalam kerangkeng besi dengan tubuh terbalut rantai besi. Dan apbila telah seluruh tubuh telah terikat rantai, maka perintah berikutnya adalah menenggelamkannya di perairan Pulau Segantang Lada. Dengan cara demikian, Paduka Seri Maharaja yakin Kabil tidak akan dapat menggoyangkan kekuasaannya di Kerajaan Tumasik.

Tidak berapa lama setelah perintah diberikan, para prajurit datang menghadap sambil membawa Kabil. Selanjutnya, Paduka Seri Maharaja bersama para prajurit yang membawa kabil dalam kerangkeng ke pelabuhan untuk berlayar menuju perairan Pulau Segantang Lada yang relatif tenang. Ketika sauh diturunkan di tengah laut dan Kabil hendak ditenggelamkan, dia sempat melakukan protes. Dia mempertanyakan mengapa raja menghukumnya, padahal telah memberi saran bijak yang dapat membuat kawanan ikan todak tidak menyerang lagi.

Pertanyaan keberatan itu tidak dipedulikan Paduka Seri Maharaja. Dia tetap memerintahkan beberapa prajurit untuk membuang kerangkeng berisi Kabil ke dalam laut. Kabil pun akhirnya tenggelam dan mati mengenaskan. Tidak lama kemudian, entah mengapa, air laut di lokasi tewasnya Kabil mendadak menjadi sebuah pusaran berbahaya. Penduduk setempat menamainya sebagai Batu Rantai. Para nakhoda yang melintasi perairan itu harus ekstra hati-hati apabila melintasinya.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Asal Mula Tanjung Lesung

(Cerita Rakyat Daerah Banten)

Alkisah, ada seorang pengelana dari daerah Laut Selatan bernama Raden Budog. Suatu hari dia bermimpi bertemu seorang gadis yang cantik jelita. Mimpi itu selalu membayang di pikiran sehingga pengelanaannya pun diarahkan untuk mencari si gadis. Keyakinannya menyatakan bahwa si gadis pasti mewujud di suatu tempat entah di mana.

Berbekal makanan secukupnya serta sebilah golok dan batu asah Raden Budog mulai berkelana bersama kuda dan anjingnya mencari keberadaan sang gadis impian. Namun setelah beberapa hari menempuh perjalanan tanpa henti, dia belum juga memperoleh petunjuk keberadaan sang gadis. Semakin penasaran, dia tetap melanjukan perjalanan walaupun kedua hewan kesayangannya telah kelelahan.

Oleh karena perjalanan harus menyusuri tanah berbatu serta serta menanjak, ketika berada di Gunung Walang kuda yang ditunggangi Raden Budog terperosok. Mereka jatuh berguling hingga ke lereng gunung. Raden Budog menderita luka lecet di sekujur tubuh. Demikian pula dengan kuda tunggangannya. Bahkan, pelana yang berada di atas punggungnya sampai rusak dan tidak dapat digunakan lagi.

Sadar akan kondisi kuda tunggangannya yang kelelahan Raden Budog memutuskan beristirahat sejenak. Beberapa jam kemudian dia melanjutkan lagi perjalanan. Kali ini dia tidak lagi duduk di pelana, melainkan berjalan bersama dengan kuda dan anjingnya ke daerah Tali Alas hingga tiba di Pantai Cawar. Sesampai di tepi pantai dia langsung menceburkan diri ke air laut untuk menyegarkan diri, sementara kuda dan anjingnya menunggu di bawah sebuah pohon kelapa yang agak teduh.

Puas berendam di air, Raden Budog berniat melanjutkan perjalanan. Namun, entah mengapa kedua hewan itu tidak beranjak ketika diperintah. Bahkan, mereka tetap tidak bergeming walau telah ditarik-tarik dan didorong agar mau beranjang pergi. Raden Budog pun menyerah dan memutuskan untuk meneruskan perjalanan seorang diri menuju arah Legon Waru. Padahal, dia sebenarnya sangat sedih karena kedua hewan itu telah menemani di sepanjang penjalanan. Tetapi karena hasrat ingin berjumpa dengan gadis impian lebih kuat, dia terpaksa merelakan anjing dan kuda kesayangannya.

Setiba di daerah Legon Waru Raden Budog lantas beristirahat di suatu tempat. Badannya, terutama bagian pundak, terasa ngilu karena membawa batu asah yang tadinya dibawa oleh sang kuda. Saat hendak melanjutkan perjalanan kembali, ditinggalkanlah batu asah yang membuat pundaknya terasa ngilu dan nyeri. Konon, batu asah tadi menjelma menjadi sebuah karang. Oleh masyarakat setempat, karang jelmaan batu asah milik Raden Budog itu dinamakan sebagai Karang Pangasahan.

Di tengah perjalanan menyusuri pantai, tiba-tiba turun hujan lebat sehingga dia terpaksa berhenti dan mencari tempat berteduh. Bersamaan dengan basahnya pasir akibat guyuran air hujan, secara perlahan-lahan muncullah ratusan ekor anak penyu yang beramai-ramai berjalan menuju pantai. Oleh masyarakat setempat, lokasi kemunculan para penyu itu kemudian dinamakan sebagai Cipenyu.

Tetapi setelah ditunggu sekian lama hujan tidak juga reda, Raden Budog nekat melanjutkan perjalanan berbekal selembar daun sebagai penutup kepala. Dalam kondisi cuaca buruk tersebut dia melangkahkan kaki menyusuri pantai hingga tiba di mulut sebuah goa karang. Oleh karena pakaian yang dikenakan telah basah kuyup, sementara hujan tidak juga reda dan langit malah bertambah gelap dengan kilatan petir yang menyambar-nyambar, maka dia memutuskan berteduh di dalam goa. Agar tidak kecipratan air hujan, ditutupnya mulut goa itu dengan daun yang digunakan sebagai penutup kepala tadi. Setelah hujan reda, dia bergegas keluar untuk melanjutkan pencariannya. Entah kenapa, daun yang digunakan sebagai penutup goa tadi tetap menempel dan menjadi keras. Oleh masyarakat setempat, goa itu kemudian dinamakan sebagai Karang Meumpeuk.

Langkah kaki Raden Budog membawanya ke sebuah muara sungai yang sedang meluap. Untuk mencapai ke seberang tentu saja tidak mudah karena arus air sangat deras. Dia terpaksa menunggu hingga air sungai surut baru dapat menyeberang. Selanjutnya, sungai meluap itu diberi nama juga oleh masyarakat setempat sebagai "Kali Caah" yang berarti "sungai yang sedang banjir".

Sesampai di seberang, dia melihat ada sebuah desa yang relatif padat namun asri. Dari arah lumbung desa itu sayup-sayup terdengar alunan merdu tumbukan lesung. Setelah didekati, ternyata ada sekelompok gadis sedang ngagondang, sebuah permainan sambil menumbuk padi dengan cara tertentu agar terdengar merdu dan indah. Permainan ini dianggap sakral dan tidak diperkenankan dimainkan pada hari Jumat. Bagi orang yang melanggar akan berakibat buruk pada dirinya sendiri.

Salah seorang diantara gadis yang sedang ngagondang itu berparas cantik, sintal, dan menggairahkan. Dia adalah Sri Po Haci, anak seorang janda bernama Nyi Siti. Dialah gadis yang hadir dalam mimpi Raden Budog yang membuatnya bertekad melakukan pencarian ke seluruh pelosok negeri. Melihat sang gadis impian ada di depan mata, tentu saja jantung Raden Budog berdebar-debar.

Usai ngagondang, sang gadis kembali ke rumah. Dia diikuti oleh Raden Budog. Tiba di rumah Sri Po Haci, Raden Budog meminta izin bermalam. Tetapi karena di rumah hanya ada seorang janda dan anak gadisnya, tentu permintaan tersebut segera di tolak. Tidak hilang akal, Raden Budog lalu menuju ke dipan bambu yang terletak tidak jauh dari rumah Nyi Siti. Dia beristirahat di dipan itu.

Singkat cerita, Raden Budog pun berkenalan dengan Nyi Po Haci. Mereka menjadi dekat, berpacaran, dan akhirnya menikah, walau awalnya ditentang oleh Nyi Siti karena tidak mengetahui asal usul Raden Budog. Setelah menikah Raden Budog tidak megekang kebiasaan Nyi Po Haci. Salah satu di antaranya adalah kebiasaan ngagondang bersama para tetangga. Bahkan, dia justru ikut-ikutan ngagodang. Saking senangnya ngagondang, dia lupa kalau ada larangan bermain setiap hari Jumat. Walhasil, tanpa disadari, ketika sedang membunyikan lesung tiba-tiba tubuhnya beralih ujud menjadi seekor lutung.

Warga desa yang tadinya telah memperingatkan akan larangan tersebut sontak menjadi tertawa geli melihat Raden Budog menjadi lutung yang melompat-lompat sambil bermain lesung. Sadar kalau dirinya sedang ditertawakan, Raden Budog segera menghentikan permainannya. Saat akan meletakkan alu di atas lesung, dia melihat tangannya telah ditumbuhi bulu lebat dan panjang. Selain itu, bagian tubuh belakangnya juga telah keluar sebuah ekor lumayan panjang.

Malu kalau sekarang telah berubah menjadi seekor lutung, tanpa berkata lagi dia langsung melompat menuju hutan di pinggiran desa. Dia menyesal telah melanggar aturan adat sehingga menjadi lutung. Tetapi nasi telah menjadi bubur. Raden Budog telah menjadi lutung selamanya yang harus hidup di dalam hutan. Dan semenjak kejadian itu, nama desa yang berada di dekat tanjung tersebut diubah menjadi Tanjung Lesung.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Dayang Kumunah

(Cerita Rakyat Daerah Riau)

Alkisah, pada zaman dahulu kala hidup seorang laki-laki tua sebatang kara bernama Awang Gading. Untuk menghidupi dirinya Awang Gading bekerja menangkap ikan di sungai. Apabila hasil tangkapan berlimpah, sebagian dia bungkus dan bawa ke pasar untuk ditukar dengan beras atau barang kebutuhan pokok lain. Kegiatan ini (menangkap ikan) dilakukannya setiap hari dengan hati gembira tanpa pernah mengeluh.

Suatu hari, ketika dia sedang mencari ikan Awang Gading mendengar tangis seorang bayi. Oleh karena hari itu dia sedang sial dengan tidak mendapatkan seekor ikan pun, maka tangisan sang bayi tadi menjadi perhatiannya. Setelah mengemasi peralatan memancingnya dia lalu mencari sumber suara tangisan itu. Tak berapa lama berselang, dia mendapati seorang bayi masih merah tergeletak di bawah sebuah pohon rindang di tepi sungai.

Awang Gading segera mendatangi sang bayi untuk menenangkannya. Pikirnya, mungkin ibunya sedang mencuci pakaian atau mandi di sungai. Dia bermaksud menjaga sang bayi dari hal-hal yang tidak diinginkan hingga sang ibu kembali. Namun, setelah ditunggu hingga menjelang senja ternyata ibu sang bayi tidak juga muncul. Entah mengapa, dia memang sengaja ditinggalkan di tempat itu. Awang Gading memutuskan untuk membawa sang bayi pulang ke rumah. Dia menamainya Dayang Kumunah.

Kehadiran Dayang Kumunah di rumah Awang Gading ternyata menarik perhatian para tetangga. Beberapa di antara mereka, terutama kepala kampung, menganggap bahwa Dayang Kumunah sebagai bayi titipan raja penguasa sungai. Anggapan inilah yang membuat para warga menyarankan agar Awang Gading merawat dan memelihara Dayang Kumunah dengan baik.

Belasan tahun kemudian, Dayang Kumunah tumbuh menjadi gadis yang bertingkah laku sopan dan berbudi luhur. Ketika dewasa, dia menjelma menjadi seorang yang cantik jelita dengan tetap mempertahankan sifat yang sama. Sayangnya, dia memiliki satu kekurangan yaitu tidak pernah tertawa. Sedari bayi hingga menjadi gadis cantik, tak ada seorang pun yang pernah melihatnya tertawa, termasuk Awang Gading sendiri.

Namun, kekurangan itu tertutup oleh kecantikan, kemolekan serta kesintalan tubuh Dayang Kumunah. Oleh sebab itu, selalu saja ada pria yang penasaran dan ingin bertemu dengannya. Salah satunya adalah Awangku Usop, seorang pemuda kaya raya dari kampung sebelah. Ketika mereka bertemu muka, Awangku Usop langsung jatuh cinta dan mengajak Dayang Kumunah menikah.

Mendengar lamaran Awangku Usop, Dayang Kumunah berusaha memberi penjelasan bahwa dia bukanlah manusia biasa melainkan "anak penghuni sungai". Selain itu, dia juga tidak boleh tertawa. Jadi, Awangku Usop tidak boleh memintanya untuk tertawa. Apabila Awangku Usop bersedia menerima "perbedaan" tersebut, maka Dayang Kumunah siap menjadi isterinya.

Terpesona oleh kecantikan, kemolekan, serta kesintalan tubuh Dayang Kumunah, tanpa berpikir panjang Awangku Usop langsung menyanggupinya. Mereka pun akhirnya menikah dalam sebuah pesta yang sangat meriah. Hampir seluruh warga masyarakat yang tinggal di sekitar dusun tempat tinggal Dayang Kumunah maupun Awangku Usop menghadiri prosesi pernikahan.

Pernikahan mereka berlangsung bahagia dengan dikaruniai lima orang anak. Dayang Kumunah melaksanakan tugasnya dengan penuh keikhlasan walaupun hanya berada pada sektor domestik alias mencuci, masak, membersihkan rumah, meladeni suami, merawat anak-anak, dan lain sebagainya. Dia tampak bahagia walau tidak pernah sekalipun tertawa dan hanya tersenyum saja.

Suatu ketika, karena telah lanjut usia Awang Gading meninggal dunia. Hal ini membuat Dayang Kumunah menjadi sedih. Raut mukanya terlihat murung dan seakan tidak memiliki gairah hidup. Sang suami yang melihat hal itu berusaha menghiburnya dengan segala macam cara sehingga perlahan-lahan Dayang Kumunah kembali gembira dan dapat merelakan kepergian Awang Gading yang telah mengasuhnya sejak bayi.

Sukses dalam mengembalikan keceriaan Dayang Kumunah, membuat Awangku Usop lupa akan janjinya. Dia malah berusaha membuat isterinya tidak hanya tersenyum, tetapi juga tertawa. Tepat saat anak bungsu mereka mulai dapat berjalan, Awangku Usop mengerahkan anak-anaknya untuk menggoda si bungsu sehingga mereka pun (termasuk si bungsu) tertawa terkekeh-kekeh.

Agar tidak kehilangan moment, Awangku Usop segera berteriak memanggil sang isteri yang sedang menanak nasi di dapur. Ketika Dayang Kumunah datang, mereka mengajaknya tertawa bersama menyaksikan tingkah polah si bungsu yang memang sangat lucu. Walhasil, Dayang Kumunah lepas kendali dan akhirnya tertawa terbahak menyaksikan si bungsu berusaha berdiri di atas kedua kakinya yang gemuk dan menggemaskan. Sebaliknya, Awangku Usop dan keempat anaknya menjadi tertegun karena melihat insang di dalam rongga mulut Dayang Kumunah.

Tidak berapa lama setelahnya, sadar akan kesalahan, Dayang Kumunah langsung terdiam. Tanpa berkata sepatah pun, dia segera berlari menuju sungai meninggalkan suami dan anak-anaknya. Sesampainya di sungai, dia menceburkan diri dan seketika itu juga tubuhnya beralih ujud menjadi seekor ikan. Awangku Usop yang mengejar di belakangnya tidak dapat berbuat apa-apa. Dia hanya diam terpaku ketika sang ikan jelmaan Dayang Kumunah berputar di sekelilingnya dan kemudian pergi menjauh. Yang ada di benaknya hanyalah kesedihan serta penyesalan karena telah melanggar janji untuk tidak membuat sang isteri tertawa.

Namun ibarat pepatah, nasi telah menjadi bubur. Dayang Kumunah telah menjelma menjadi ikan bersisik mengkilat dan berekor layaknya sepasang kaki perempuan yang disilangkan. Oleh masyarakat setempat ikan itu kemudian dinamakan sebagai patin. Dahulu mereka pantang memakan ikan patin karena dianggap sebagai jelmaan Dayang Kumunah.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Popular Posts

-