Traktor

Traktor adalah kendaraan yang dijalankan dengan bensin atau motor diesel, dipakai untuk menarik benda yang berat atau membajak (meratakan) tanah (kbbi.web.id). Istilah tractor sendiri berasal dari bahasa Latin “trahere” atau “menarik/menghela” yang awalnya dipakai untuk mendefinisikan suatu mesin atau kendaraan beroda empat (roda belakang lebih besar ketimbang roda depan) yang dilengkapi sebuah sambungan khusus sebagai penarik atau pendorong gerbong. Oleh karena itu, jenis mesinnya pun umumnya didesain secara spesifik untuk keperluan traksi tinggi pada kecepatan rendah dengan rasio kecepatan antara 3 hingga 6 persneling. Apabila mesin dirancang berkecepatan tinggi, maka traktor disebut dengan istilah unit-tractor, semi-trailer atau truk tractor1  dan penggunaannya khusus untuk jalan beraspal.

Traktor pertama kali digunakan di Benua Eropa (Inggris, Irlandia, Spanyol, Jerman) dan Amerika (Argentina) sebagai mesin pembajak tanah pada sekitar tahun 1800-an dengan teknologi masih menggunakan mesin uap. Sedangkan di Amerika Serikat dan Kanada traktor digunakan sebagai kendaraan penarik trailer sehingga dinamai juga sebagai “truk semi-trailer”. Adapun tujuan penggunaanya adalah untuk menggantikan tenaga hewan yang biasa menghela atau menarik beban. Traktor dinilai jauh lebih kuat dalam menarik beban dibandingkan dengan tenaga puluhan hewan atau bahkan ratusan manusia.

Satu setengah abad kemudian (awal abad ke-20) pengunaan teknologi baru mulai diterapkan dengan penggantian bahan bakar batu bara menjadi bensin sebagai bahan bakar utama dan minyak tanah serta etanol sebagai alternatifnya. Dan, puncak pembaruan mesin traktor terjadi sekitar tahun 1960-an dengan menggunakan mesin diesel berbahan bakar solar dan penggunaan sistem hidrolik2  pada stir, rem serta persneling. Pembaruan juga terjadi pada komponen-komponen traktor lain yang oleh Zulfahrizal dan Purwana Satriyo (2007) dibedakan menjadi 5 bagian, yaitu: (1) penggerak (engine) berupa motor diesel; (2) rangka (chasis) terbuat dari bahan yang kuat dan tahan korosi; (3) penutup (canopy) sebagai pelindung operator; (4) roda penggerak yang dapat berupa karet, rantai, dan besi; dan (5) instrumen-isntrumen yang berfungsi sebagai kendali dalam pengoperasian (stir, pedal gas, rem, lampu, dll) serta alat ukur untuk mengetahui kondisi kerja traktor (penduga tekanan oli, penduga jumlah bahan bakar, speedometer, dll).

Selain pembaruan mesin, fungsi traktor dalam bidang pertanian juga mengalami perkembangan. Saat ini, traktor tidak hanya digunakan untuk membajak sawah, melainkan juga menanam, memelihara tanaman, memutar pompa irigasi, memanen (menggunakan pisau reaper), perontok padi, serta untuk mengangkut (bibit, pupuk, peralatan hingga hasil panen) dengan mesin yang umumnya didominasi oleh diesel dan memiliki output power antara 18 hingga 575 tenaga kuda (15-480 kW).

Oleh karena fungsi atau kegunaannya sudah bermacam-macam, maka traktor pun akhirnya dibedakan menjadi lima macam, yaitu: (1) general purpose tractor yang memiliki poros roda relatif rendah dan dirancang untuk melaksanakan pekerjaan yang bersifat umum; (2) special purpose tractor yang dirancang khusus dalam bidang pertanian dengan karakteristik poros roda (ground clearance) tinggi, jarak roda kiri dan kanan (wheelbase) dapat diatur dan dapat dirangkaikan dengan alat-alat untuk pengolah tanah, pemeliharaan tanaman, dan pemanenan; (3) industrial tractor, dirancang khusus untuk keperluan industri dan pembangunan dengan karakteristik roda depan dan belakang hampir sama dan bergardan ganda sehingga memiliki tenaga besar; (4) plantation tractor, dirancang dengan konstruksi pusat titik berat rendah, berdaya besar dan dilengkapi dengan pelindung agar mudah dan aman digunakan pada lahan yang banyak tanamannya dan lahan yang mempunyai kemiringan tinggi; dan (5) garden tractor, dirancang khusus untuk pekerjaan-pekerjaan yang bersifat ringan. (Putri: 2011)

Sementara menurut Sutantra sebagaimana dikutip Putri (2011), berdasarkan bentuk dan ukurannya secara garis besar traktor dibagi menjadi tiga macam, yaitu: traktor besar, traktor mini, dan traktor tangan. Traktor besar adalah traktor yang mempunyai minimal dua poros roda (beroda empat atau lebih) dengan panjang berkisar antara 2.650-3.910 mm, lebar 1.740-2.010 mm dan daya 20-120 hp (tenaga kuda).

Traktor mini adalah traktor yang mempunyai dua poros roda (beroda empat) dengan panjang berkisar antara 1.790-2.070 mm, lebar 995-1.020 mm, daya 12,5-20 hp (tenaga kuda), dan dilengkapi dengan sumbu PTO (power take off)3  serta three point hitch (tiga titik penggandengan/mounted system). Mesinnya bermotor diesel dua silinder atau lebih dengan transmisi (versneling) 6 kecepatan maju dan 2 mundur (4 kecepatan rendah dan 4 kecepatan tinggi). Traktor yang hanya berbeda pada kekuatan daya dengan traktor besar ini dapat bekerja pada kisaran 0.94-4,79 km/jam dengan kecepatan transport antara 7,54-13,31 km/jam.

Jenis traktor terakhir adalah traktor tangan yang hanya mempunyai sebuah poros roda (beroda dua) dengan panjang berkisar 1.740-2.290 mm, lebar 710-880 mm, dan daya 6-10 hp (tenaga kuda). Berdasarkan jenis bahan bakar yang digunakannya, traktor tangan dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: traktor berbahan bakar solar, bensin, dan minyak tanah atau kerosin. Sedangkan apabila dilihat berdasarkan besarnya daya motor, traktor tangan dapat dibagi lagi menjadi tiga juga, yaitu: traktor tangan berukuran kecil dengan tenaga penggerak kurang dari 5 hp, traktor tangan berukuran sedang dengan tenaga penggerak antara 5-7 hp, dan traktor tangan berukuran besar dengan tenaga antara 7 hingga 12 hp (horse power/tenaga kuda).

Baik traktor tangan berukuran kecil, sedang, dan besar yang berbahan bakar solar, bensin atau kerosin memiliki komponen-komponen utama yang sama, yaitu: tenaga penggerak (mesin), kerangka dan transmisi (penerus tenaga), tuas kendali, roda, dan peralatan pengolah tanah (implements) (Hardjosentono, dkk: 2002). Jenis tenaga penggerak traktor tangan didominasi oleh mesin diesel satu silinder berbahan bakar solar, berdaya antara 5 hingga 12 tenaga kuda dengan pengoperasian engkol. Mesin tersebut terdiri dari komponen-komponen yang saling berhubungan satu sama lain, yaitu: free wheel (roda angin) untuk menstabilkan putaran mesin, radiator sebagai pendingin mesin, saringan udara untuk menyaring udara sebelum masuk ke ruang bakar mesin, tangki tempat pengisian bahan bakar, gardan sebagai penyalur putaran dari perseling ke as roda, pully sebagai motor penggerak, persneling yang berhubungan dengan tuas transmisi, kipas pendingin radiator, sabuk v-belt, knalpot sebagai saluran pembuangan hasil pembakaran, pull persneling, dan lain sebagainya. Motor atau mesin penggerak ini dipasang pada kerangka (sasis) dengan empat buah baut pengencang yang lubangnya (drat) dibuat memanjang agar posisi motor dapat digerakkan maju mundur dan memperoleh keseimbangan dengan ukuran v-belt yang digunakan. Sementara jenis yang lainnya adalah motor bermesin minyak tanah dan bensin dengan pengoperasian menggunakan tali starter.

Komponen selanjutnya adalah kerangka (sasis) dan transmisi (penerus tenaga). Kerangka traktor tangan berfungsi sebagai tempat kedudukan motor penggerak, transmisi, dan bagian-bagian traktor lainnya yang dikaitkan dengan beberapa buah baut pengencang. Sedangkan transmisi (berbagai macam bentuk4) adalah penerus atau penyalur tenaga dari motor penggerak menuju ke kopling utama untuk menggerakkan serta mengatur kecepatan putaran poros roda dan poros PTO. Selanjutnya, dari PTO tenaga disalurkan lagi melalui gigi dan rantai ke mesin rotari sehingga traktor dapat bergerak maju, mundur atau berbelok. Transmisi pada traktor tangan umumnya berjumlah 8 kecepatan (6 maju dan 2 mundur) untuk digunakan sesuai dengan jenis pekerjaan yang sedang dilaksanakan, seperti: kecepatan satu untuk membajak tanah dengan mesin rotary, kecepatan dua untuk membajak tanah dengan bajak singkal/piringan, kecepatan tiga untuk membajak sawah yang tergenang, kecepatan empat untuk berjalan di jalan biasa, kecepatan lima dan enam untuk menarik trailer atau gerobak, kecematan mundur satu digunakan pada saat operator berjalan, dan kecepatan mundur dua digunakan saat operator naik di trailer atau gerobak.

Setelah kerangka dan transmisi ada pula komponen tuas kendali untuk mempermudah operasionalisasi traktor. Sebuah traktor umumnya dilengkapi beberapa macam tuas kendali untuk mengendalikan pergerakannya, yaitu: (1) tuas persnileng utama, berfungsi untuk memindahkan susunan gigi pada persnileng sehingga perbandingan kecepatan putar poros motor penggerak dan poros roda dapat diatur; (2) tuas persnileng cepat-lambat, berfungsi untuk memisahkan antara pekerjaan mengolah tanah dengan menarik trailer atau gerobak; (3) tuas kopling utama, berfungsi untuk mengoperasikan kopling utama yang bila dilepas pada posisi pasang/on akan menyambungkan gigi persnileng ke tenaga motor dan apabila ditarik ke posisi netral/off maka tenaga tidak akan disalurkan dan langsung tersambung dengan rem yang berada pada rumah kopling utama; (4) tuas persnileng mesin rotary, berfungsi sebagai pengatur kecepatan putar poros POT; (5) tuas kemudi, berfungsi untuk mengoperasikan kopling kemudi kiri dan kanan sebagai pengendali roda. Ada dua buah tuas kemudi pada setiap traktor tangan yang letaknya di bawah persnileng. Apabila tuas kemudi kanan ditekan, maka putaran gigi persnileng tidak tersambung dengan poros roda bagian kanan sehingga roda kanan berhenti dan traktor akan berbelok ke kiri. Demikian pula sebaliknya, apabila kopling kemudi kanan ditekan, maka putaran gigi persnileng tidak tersambung dengan poros roda bagian kiri sehingga roda kiri berhenti dan traktor akan berbelok ke kanan; (6) stang kemudi dan kemudi pembantu, berfungsi membantu tuas kopling saat traktor berbelok, mengangkat implemen saat pengoperasian, dan tempat bertumpu bahu operator agar menambah beban bagian belakang traktor, sehingga hasil pengolahan tanah bisa lebih dalam; (7) tuas gas, berfungsi untuk mengubah kecepatan putaran poros motor penggerak yang sesuai dengan tenaga yang dibutuhkan. Selain itu, tugas gas juga berfungsi untuk mematikan mesin apabila ditempatkan pada posisi “stop”; dan (8) tuas penyangga depan yang apabila didorong akan menjadi penyangga traktor yang hanya memiliki dua roda.

Agar traktor dapat berjalan, tentu saja harus ada komponen lain yaitu roda, baik berupa roda pneumatik (ban karet), roda besi (besar atau kecil), dan roda apung atau roda sangkar (cage wheel). Roda pneumatik biasanya digunakan pada lahan kering atau sebagai sarana pengangkutan. Menurut Frans Jusuf Daywin, dkk (2008), bentuk permukaan roda pneumatik beralur (sirip silang) agak dalam untuk mencegah slip dan dapat meredam getaran sehingga tidak merusak jalan. Jenis selanjutnya adalah roda besi ukuran besar digunakan pada lahan basah atau berlumpur dan roda besi ukuran kecil pada lahan lembab atau areal perkebunan. Roda besi ini mempunyai alur berbentuk sirip melintang yang akan menancap di tanah sehingga akan mengurangi terjadinya slip pada saat menarik beban berat. Sedangkan jenis roda terakhir disebut roda apung atau roda sangkar untuk digunakan pada lahan basah agar traktor tidak tenggelam dalam lumur.

Komponen terakhir adalah unit implemen atau alat yang dapat dipasang dan dilepaskan untuk pekerjaan tertentu. Kegunaan implemen dapat bermacam-macam, seperti: mempercepat waktu penanganan pra-panen, menjamin kenaikan kualitas dan kuantitas serta kapasitas produksi, mengurangi tenaga masusia, dan dapat melakukan perluasan areal pertanian. Implemen-implemen tersebut diantaranya adalah: gelebeg (alat pengolah tanah yang dipasang pada penggandeng/hitch traktor), transplanter (alat untuk menanam bibit padi), ridger (alat untuk membuat guludan di lahan kering yang telah diolah), seed drill (alat untuk membuat alur agar benih padi yang ditebar menjadi teratur), trailer (gerbong atau gerobak yang berkapasitas sekitar 500 kilogram) dan bajak/plow.

Khusus untuk bajak dapat dibagi lagi menjadi 5 macam atau jenis, menurut bentuk dan kegunaannya. Jenis pertama disebut bajak singkal (moldboard plow), merupakan jenis bajak tertua yang digunakan untuk membuat alur (furrow) dengan memotong dan membalik berbagai macam jenis tanah secara satu arah (biasanya arah kanan) atau dua arah (reversible plow). Bagian-bagian dari sebuah bajak singkal terdiri dari singkal (mold board) untuk melempar tanah, pisau (share) untuk memotong tanah, dan penahan samping (landside) sebagai penyeimbang serta penahan bajak.

Jenis kedua disebut pajak piringan (disc plow) yang fungsinya sama dengan bajak singkal, hanya singkalnya saja yang bentuknya menyerupai piringan bulat seperti parabola. Kelebihan dari bajak piringan ini dapat bekerja di tanah yang keras dan kering, lengket, berbatu dan berakar. Sementara kekurangannya, tidak dapat menutup sisa tanaman/rumput yang telah terpotong, bekas pembajakan tidak dapat benar-benar rata, dan hasil pengolahan tanahnya masih berupa bongkahan-bongkahan besar.

Jenis ketiga disebut bajak rotari/pisau berputar (rotary plow), berfungsi hanya untuk memotong tanah saja menggunakan pisau-pisau yang terpasang pada poros yang berputar karena digerakkan oleh motor. Selanjutnya, bajak pahat (chisel plow), berbentuk tajak yang disusun pada suatu rangka dan digunakan untuk memecah tanah keras dan kering hingga kedalaman sekitar 18 inci, mengolah tanah berjerami dan memotong sisa-sisa akar padi dalam tanah, serta memperbaiki inflitrasi air pada tanah. Dan, jenis terakhir adalah bajak tanah (subsoil plow) dengan kegunaan hampir sama dengan bajak pahat, namun dapat mencacah tanah hingga kedalaman antara 50-90 centimeter.

Selain komponen-komponen utama tersebut, terdapat komponen lain yang menunjang bekerjanya sebuah traktor tangan. Komponen-komponen tersebut adalah: tombol lampu dan bel, kumparan arus listrik untuk menghidupkan lampu dan bel, standar depan dan samping (khusus untuk pemasangan roda), instrumen kendali dan instrumen alat ukur, pengunci diferensial (gardan) untuk merubah sudut putaran mesin menjadi 90ยบ agar traktor tidak slip, dan pemberat (ballast) agar roda depan tidak terangkat apabila menarik beban berat. (ali gufron)

Sumber:
Daywin, Frans Jusuf, dkk. 2008. Mesin-mesin Budidaya Pertanian di Lahan Kering. Jakarta: Graha Ilmu.

Hardjosentono, dkk. 2002. Mesin-mesin Pertanian. Jakarta: Bumi Aksara

Putri, Amalia Rochimah. 2011. “Mengenal Traktor Mini dan Hand Traktor Beserta Komponennya”. http://manumeng.blogspot.com/. Diakses 10 Juli 2012

Smith H. P dan Lambert H. W, 1990. Mesin dan Peralatan Usaha Tani. Gajah Mada Unversity Press, Yogyakarta.

Zulfahrizal dan Purwana Satriyo. 2007. Daya di Bidang Pertanian. Banda Aceh: Universitas Syiah Kuala.

"Traktor", diakses dari http://kbbi.web.id/traktor, tanggal 16 Mei 2016.
Foto: http://www.spiegel.de/fotostrecke/hightech-traktor-new-holland-t7-automatisch-pfluegen-saeen-ernten-fotostrecke-91099.html
____________________________
1. Pada tipe truk tractor umumnya dipasang lengan penggaruk, dozer blade, backhoe, dan lain sebagainya dengan penggerak mirip konveyor.
2. Sistem hidrolik adalah suatu sistem penerusan daya dengan menggunakan aliran fluida tak mampat (minyak peluas/oli). Minyak pelumas tersebut dipompakan dari bak penampung (reservoir) untuk selanjutnya disalurkan ke silinder penekan hidrolik pada power steering, pengereman, pengunci diferensial, sistem pengangkatan dan penggandengan (Putri: 2011).
3. PTO atau Power Take Off adalah daya dari mesin yang berupa putaran untuk menggerakkan peralatan lain. Menurut Smith H.P dan Lambert H.W (1990) standar mengenai bentuk, posisi dan putaran sumbut PTO bergantung pada implement yang digerakkannya. Misalnya, PTO buatan Japan Industrial Standards mempunyai standar kecepatan pada putaran rendah sekitar 540 +10 rpm, sedangkan pada kecepatan yang lebih tinggi adalah 1000 +25 rpm.
4. Jenis transmisi dapat bermacam-macam, seperti: pully, belt, kopling, gigi persneling, rantai dan lain sebagainya.

Upacara Mongkariang pada Orang Pamona

Pamona merupakan salah satu etnik yang berdiam di Provinsi Sulawesi Tengah. Di kalangan mereka ada sebuah tradisi berupa upacara tradisional yang sangat erat kaitannya dengan daur hidup (lingkaran hidup individu), khususnya upacara masa peralihan bagi seseorang dari kehidupan di dunia menuju ke alam yang lain. Upacara ini disebut sebagai “Mongkariang” yang dalam bahasa Indonesianya adalah “menjaga mayat”. Maksud diadakannya upacara mongkariang adalah sebagai penghormatan terakhir kepada si mati sebelum dilakukan upacara penguburan. Selain itu, juga untuk memberi dukungan moril kepada keluarga yang ditinggalkannya agar tabah dalam menjalani kehidupan selanjutnya.

Waktu, Pemimpin dan Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara
Sebagaimana upacara pada umumnya, upacara mongkariang juga dilakukan secara bertahap. Tahap-tahap yang harus dilalui dalam upacara ini adalah sebagai berikut: (1) tahap penempatan jenazah ke dalam bilik; (2) tahap mongkariang atau menjaga mayat sekaligus menghibur keluarganya yang ditinggalkan; dan (3) tahap montambe (membuat peti jenazah). Sebagai catatan, tahap penempatan jenazah ke dalam bilik dilakukan sesaat setelah meninggal. Tahap mongkariang dilakukan pada hari ketiga, ketujuh, atau 40 malam secara berturut-turut. Dalam konteks ini bergantung dari kesanggupan pihak keluarga dan status sosial si mati. Sedangkan, tahap pembuatan peti jenazah dilakukan berbarengan dengan tahap mongkariang, namun waktunya siang hari.

Seluruh rentetan upacara ini dipimpin oleh vurake, yaitu seorang dukun perempuan yang mempunyai keahlian khusus dalam berhubungan dengan makhluk gaib. Keahlian dalam berhubungan dengan makhluk gaib yang dimiliki oleh seorang vurake biasanya diperoleh secara turun-temurun. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam upacara mongkariang adalah para tetua adat, anggota kerabat dari orang yang diupacarakan (si mati), dan para tetangga terdekat.

Peralatan
Peralatan yang perlu dipersiapkan dalam upacara mongkariang ini adalah: (1) seperangkat peralatan makan dan minum seperti: tabopangkoni (mangkuk), tabo (piring adat), dan tabopangi-nung (gelas); (2) peralatan perang seperti: penai (pedang) dan tawala (tombak). Peralatan perang ini berfungsi sebagai pengusir roh-roh jahat yang dapat mengganggu si mati dalam perjalanannya ke alam yang lain; (3) peralatan menginang yang terdiri dari: laumbe (sirih), mamongo (pinang), tembakau, kapur, gambir, dan pombajumamango (tempat menumbuk sirih); (4) renko (pakaian adat); (5) binatang ternak seperti babi, baula (kerbau), dan manu (ayam), yang jumlahnya antara puluhan hingga ratusan ekor, tergantung dari kesanggupan keluarga si mati; dan (6) bingka (bakul yang terbuat dari bambu), boru (tikar yang terbuat dari daun pandan), dan puya (kain yang terbuat dari kulit kayu); dan (7) peti jenazah yang berbentuk perahu. Peti ini dilambangkan sebagai alat atau kendaraan yang nantinya akan dipakai oleh si mati ketika mengarungi alam lain yang sama sekali belum dikenalnya.

Jalannya Upacara
Ketika vurake dan para tetua adat telah menganggap bahwa seseorang yang sedang sakit telah meninggal, maka anggota keluarganya mengadakan rapat dengan para kerabat terdekat untuk menentukan penyelenggaraan upacara mongkariang. Jika telah ada kesepakatan, mereka lalu mengundang para tetangga untuk menghadiri sekaligus membantu pelaksanaan upacara. Para tetangga yang diundang tersebut umumnya akan datang sambil membawa makanan, minuman dan atau binatang ternak yang akan diberikan kepada pihak keluarga yang sedang mengalami kemalangan. Setelah itu, jenazah akan dibawa ke suatu bilik lalu diletakkan di atas tikar dan di tutup dengan puya. Di sekitar jenazah itu kemudian diletakkan beberapa peralatan upacara, seperti: renko (pakaian adat), tabopangkoni (mangkuk), tabo (piring adat), tabopangi-nung (gelas), penai (pedang), tawala (tombak), laumbe (sirih), mamongo (pinang), tembakau, kapur, gambir, dan pombajumamango (tempat menumbuk sirih). Pengaturan peralatan-peralatan upacara tersebut tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang, melainkan oleh vurake yang dianggap sakti dan dapat menjadi penghubung antara dunia nyata dengan dunia gaib.

Selanjutnya, vurake akan mempersilahkan keluarga untuk duduk di sisi kiri dan kanan si mati. Posisi duduk para keluarga maupun kaum kerabat si mati ini bergantung dari status seseorang di dalam keluarga itu. Untuk isteri atau suami akan duduk di dekat kepala si mati, sementara anak-anaknya dan kerabat lainnya akan duduk sisi kiri dan kanan dari badan dan kaki si mati. Sebagai catatan, posisi duduk dari keluarga dan sanak kerabat si mati ini telah diatur sedemikian rupa oleh vurake agar seluruhnya mendapat giliran untuk duduk dan menjaga jenazah.

Penjagaan di sekitar jenazah ini dilakukan secara terus-menerus antara tiga, tujuh, hingga 40 hari, bergantung dari kesanggupan pihak keluarga maupun status sosialnya di dalam masyarakatnya. Tujuan dari penjagaan jenazah secara bergiliran adalah agar selama masa mongkariang jasadnya tidak diganggu oleh binatang seperti babi dan anjing. Selain itu, penjagaan juga dilakukan agar tanoana (roh orang yang mati tersebut) menjadi tenteram dan tidak diganggu oleh roh-roh jahat yang ada di sekitarnya.

Malam harinya diadakan acara untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan. Acara yang dipimpin oleh vurake ini diadakan di dalam rumah yang mempunyai ruangan cukup luas sehingga dapat diikuti oleh seluruh anggota keluarga dari si mati, para tetua adat, dan juga para tetangga. Di dalam ruangan itu mereka membentuk sebuah lingkaran mengelilingi vurake yang akan menceritakan riwayat hidup si mati dan memberikan nasihat kepada orang-orang yang ditinggalkannya. Nasihat yang diberikan adalah berupa pantun yang dinyanyikan yang disebut mondobi dan monjoava. Oleh karena nasihat yang diberikan berupa pantun, maka para peserta yang hadir akan membalas pantun tersebut dan atau menambahkan pantun-pantun lainnya yang berisi petuah atau nasihat kepada keluarga yang ditinggalkan. Sebagai catatan, selama acara mongkariang yang berlangsung hingga menjelang pagi, seluruh peserta upacara dilarang tidur dengan maksud selain untuk menghormati pihak keluarga si mati, juga agar jenazah tidak diganggu oleh binatang dan roh-roh jahat yang berkeliaran di sekitar rumah.

Siang harinya pihak keluarga bersama para tetangga mulai mempersiapkan bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat peti jenazah, tandu, ruangan tempat menyimpan peti jenazah, memperluas halaman rumah, dan memotong hewan ternak. Sebagai catatan, pemotongan hewan dilakukan pada hari pertama upacara mongkariang. Pada kesempatan itu darah hewan dioleskan pada dahi atau muka si mati sebagai simbol bahwa segala dosanya telah dilepasakan atau dihapuskan. Upacara mongkariang ini berlangsung terus-menerus selama 3, 7 atau 40 hari hingga tiba masanya dilakukan upacara penguburan.

Nilai Budaya
Upacara mongkariang, jika dicermati secara mendalam, mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain adalah: kebersamaan, ketelitian, gotong royong, dan keselamatan. Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian besar anggota masyarakat dalam suatu tempat, makan bersama dan doa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan. Dalam hal ini, kebersamaan sebagai komunitas yang mempunyai wilayah, adat-istiadat dan budaya yang sama.

Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian.

Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, menjadi pemimpin upacara, membantu pemimpin upacara, dan lain sebagainya.

Nilai keselamatan tercermin dalam adanya kepercayaan bahwa peralihan kehidupan seorang individu dari satu masa ke masa yang lain penuh dengan ancaman (bahaya) dan tantangan. Untuk mengatasi krisis dalam daur kehidupan seorang manusia itu, maka perlu diadakan suatu upacara. mongkariang merupakan salah satu upacara yang bertujuan untuk mencari keselamatan pada tahap peralihan dari masa kehidupan di dunia menuju ke kehidupan di alam yang lain. (ali gufron)

Sumber:
http://www.infokom-sulteng.go.id
http://www.disnakerpalu.com
http://www.beritapalu.com

Popular Posts

-