Curug Cilengkrang

Di antara Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Bandung terdapat sebuah gunung yang puncaknya berketinggian sekitar 1.818 meter di atas permukaan air laut. Oleh masyarakat setempat gunung itu disebut sebagai Manglayang. Gunung Manglayang, walau berukuran relatif kecil di antara jejeran gunung di sekitarnya (Tangkuban Perahu, Burangrang, dan Bukit Tunggal), tetapi cukup menarik untuk dijadikan sebagai jalur pendakian, bumi perkemahan, maupun wisata alam.

Jalur pendakian di Gunung Manglayang dapat dibagi menjadi empat, yaitu: melalui Bumi Perkemahan atau Wanawisata Situs Batu Kuda di Kabupaten Bandung; Palintang di Ujungberung, Kota Bandung; Baru Beureum atau Manyeuh Beureum; dan Jatinangor di Kabupaten Sumedang. Sementara untuk wisata alam, salah satunya adalah Curug Cilengkrang yang terletak di Desa Cilengkrang, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung.

Untuk mencapai lokasi Curug Cilengkrang dari Kota Bandung relatif mudah karena berjarak hanya sekitar 10-15 kilometer hingga ke daerah Ujungberung, Cibiru maupun Cileunyi. Dari Ketiga daerah ini terdapat jalan-jalan kecil berukuran lebar 3-4 meter menuju curug dengan jarak antara 10 hingga 12 kilometer hingga ke lokasi curug, yaitu: Jalan Cilengkrang I, Jalan Desa Cipadung, Jalan Manisi, Jalan Sindangreret, Jalan Sadang, hingga Jalan Villa Bandung Indah. Jalan-jalan tersebut telah beraspal atau cor beton, sehingga walau tidak ada angkutan umum (kecuali ojeg) dapat dilalui relatif cepat. Namun apabila hendak ke lokasi, sebaiknya menggunakan kendaraan berkondisi prima karena medannya selalu menanjak.

Setelah sampai di pintu gerbang kawasan wisata Curug Cilengkrang, petugas setempat akan meminta bayaran sebesar Rp.5.000,00 per orang sebagai tiket masuk dan apabila membawa kendaraan ditambah biaya lagi sebesar Rp.2.000,00 per kendaraan. Selanjutnya, dari areal parkir diteruskan dengan berjalan kaki sekitar 100 meter hingga akhirnya sampai ke lokasi air terjun. Di sepanjang perjalanan menuju curug ini hanya ditemui sebuah warung yang menjual makanan dan minuman.

Kondisi Curug Cilengkrang dan Fasilitas yang Tersedia
Curug Cilengkrang berada dalam kawasan hutan lindung milik negara, sehingga sejak dibuka untuk umum tahun 2001 pengelolaannya dilakukan oleh Perhutani KPH Unit 3 Bandung Utara. Curug Cilengkrang sebenarnya merupakan rangkaian enam buah curug dalam rentang sekitar 2 kilometer pada aliran Sungai Cihampelas yang berhulu di puncak Gunung Manglayang. Curug-curug tersebut adalah: Batupeti, Papak, Panganten, Kacapi, Dampit, dan Leknan.

Curug Batupeti berada hanya sekitar 100 meter dari gerbang masuk Curug Cilengkrang. Penamaan curug ini berasal dari bongkahan batu disamping curug yang bagian sisinya menyerupai sebuah peti tertutup. Konon, apabila disangkutkan dengan legenda Sangkuriang, batu berbentuk peti itu dahulu merupakan perkakas Sangkuriang kala membuat perahu pesanan Dayang Sumbi. Namun, lepas dari penamaan tersebut, yang jelas Batupeti merupakan curug yang paling mudah dijangkau dibandingkan dengan curug-curug lain yang menjadi bagian dari Curug Cilengkrang. Di sekitar areal curug ini pengunjung dapat dengan mudah memanfaatkan segala fasilitas yang disediakan oleh pihak pengelola, yaitu: mushola, toilet, camping ground, dan warung yang menjual makanan dan minuman.

Tidak jauh dari Curug Batupeti, menyusuri aliran sungai ada Curug Papak. Penamaannya berkaitan dengan salah satu batu di puncak curug yang permukaannya datar atau dalam bahasa Sunda disebut papak. Selanjutnya ada Curug Panganten dengan formasi batuan menyerupai kursi pelaminan (panganten) yang membentuk kolam berundak dan dapat digunakan untuk berendam hingga tiga orang. Kemudian, Curug Kacapi dengan ketinggian mencapai sekitar 10 meter. Adapun penamaannya konon berasal dari suara jatuhnya air yang khusus pada setiap malam Senin terdengar mirip seperti dentingan kecapi. Curug ini letaknya agak jauh dari gerbang masuk Curug Cilengkrang dan untuk mencapainya relatif sukar karena harus melewati beraneka ragam tumbuhan hutan, seperti: perdu, pinus, pisang hutan, cangkring, bambu, jati, talas, caruluk, dan lain sebagainya.

Curug selanjutnya adalah Curug Dampit. Sesuai dengan namanya, Curug Dampit terdiri dari dua buah air terjun yang saling berhimpitan (dampit) dan mengalir pada dinding batu setinggi beberapa puluh meter. Tidak jauh dari Curug Dampit ada sebuah curug lagi yang diberi nama Leknan. Penamaan curug ini berkaitan dengan kejadian pada sekitar tahun 1953. Waktu itu, ada sebuah pesawat terbang yang mengalami kecelakaan di sekitar legokan curug. Oleh karena sang pilot yang mengalami kecelakaan tersebut berpangkat letnan, lambat laut tempat itu diberi nama Curug Leknan, sesuai dengan pelafalan masyarakat setempat.

Sebagai catatan, keenam curug tadi masih bersifat alami dan belum dimodifikasi sedemikian rupa agar menarik wisatawan. Oleh karena itu, kecuali Curug Batupeti, untuk dapat menikmatinya diperlukan usaha yang relatif keras karena harus menyusuri jalan setapak menanjak yang diapit tebing dan jurang menuju puncak Gunung Manglayang. Selain itu, ada pula pantangan yang harus diindahkan, yaitu tidak boleh membunyikan alat musik pukul kecuali pada saat ada ritual Mapag Hujan yang diselenggarakan oleh masyarakat sekitar tatkala musim kemarau panjang melanda. Konon, apabila dilanggar akan menyebabkan hujan lebat secara tiba-tiba.
Foto: Ali Gufron

Curug Beret

Curug Beret adalah sebuah obyek wisata alam berupa air terjun (curug) yang terletak di Kampung Lemah Neundeut, Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Obyek wisata yang berada dekat dengan Bumi Perkemahan Baru Bolang di kawasan Taman Nasional Gede Pangrango ini berketinggian sekitar 20-30 meter dengan debit airnya yang tidak terlalu besar.

Untuk dapat mencapai lokasi Curug Beret dari pintu keluar tol Jagorawi hanya berjarak sekitar 11 kilometer. Apabila mengambil rute melewati tanjakan Gadog akan menemui jalan beraspal yang cukup baik, namun sekitar 4 kilometer menjelang lokasi curug jalan menjadi terjal dan berbatu di sekitar perkebunan teh. Setelah itu dilanjutkan lagi dengan berjalan kaki sekitar 20 menit menyusuri jalan setapak yang relatif curam.

Begitu pula bila mengambil rute Pasir Muncang menuju Megamendung, sebab setelah melewati desa terdekat (Desa Sukagalih), jalanan akan berubah menjadi terjal dan berbatu. Oleh karena itu, lebih baik menggunakan angkutan sepeda motor (ojeg) agar relatif mudah melewati jalanan tidak bersahabat. Adapun tarif sewanya hanya sebesar Rp.50.000,00 untuk waktu setengah hari.

Sesampai di lokasi curug, pengunjung dapat menikmati indahnya curahan air yang terjun dan membentuk sebuah kolam kecil pada bagian bawah. Selain itu, di sekitar kolam dapat juga dijadikan sebagai tempat berkemah, berpetualang, atau hanya sekadar menikmati keindahan alam. Namun, karena lokasi curug yang cukup terpencil dan relatif sulit diakses, fasilitas penunjangnya pun tidak terawat lagi. Jagi, apabila belum merasa puas, tidak jauh dari Curug Beret ada sebuah curug lagi bernama Jambe dengan ketinggian sekitar 100 meter serta Bumi Perkemahan Baru Bolang.

Foto: https://www.youtube.com/watch?v=vv86cllTGX8

Sus Jagung

Bahan
3 buah jagung muda
15 gram terigu
1 butir telur ayam
1 sendok makan mentega
½ sendok teh garam
¼ gelas air

Bahan untuk Isi Sus
50 gram daging ayam dipotong
1 buah wortel potong kecil
1 sendok makan minyak sayur
2 siung bawang merah
1 siung bawang putih
1 sendok teh merica
(semua bumbu digiling dan ditumis kemudian tambahkan daging ayam lalu diaduk rata)

Cara membuat
Rebus air sampai mendidih di tambah mentega, setelah cair masukkan jagung parut. Tambahkan terigu dan kecilkan api aduk terus sampai tidak lengket di panci. Setelah dingin kocok telur dalam adonan, letakkan adonan dalam loyang yang sudah dilumur mentega. Kemudian panggang sampai masak setelah masak gunting tengahnya, masukkan ragut tadi dan siap untuk dihidangkan.

Dugderan, Tradisi Warga Semarang Sambut Ramadhan

Asal Usul
Di daerah Semarang, Provinsi Jawa Tengah, ada suatu tradisi berupa upacara tradisional yang disebut sebagai Dugderan. Konon, asal usul nama upacara ini merupakan perpaduan dari bunyi "dug" saat bedug dipukul yang diikuti oleh suara "der" ketika meriam disulut sebagai penanda akan datangnya bulan Ramadhan1. Selain ditandai oleh pukulan bedug dan dentuman meriam, tradisi Dugderan juga dilengkapi dengan pasar malam dan arak-arakan atau kirab budaya yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat2.

Kisah dibalik tradisi Dugderan berawal ketika adanya perbedaan pendapat antarulama dalam menentukan hari dimulainya bulan puasa. Untuk mengatasi perbedaan pendapat tersebut, pada sekitar tahun 1881 Bupati Semarang waktu itu, Adipati Kyai Raden Mas Tumenggung (KRMT) Purbaningrat, memutuskan untuk ikut menentukan awal bulan puasa. Adapun caranya adalah mengadakan upacara khusus bersama para ulama di kabupaten dan diakhiri dengan membunyikan bedug Masjid Besar Semarang di Kauman serta meletuskan meriam di halaman Kabupaten (alun-alun Kota Semarang), masing-masing sejumlah tiga kali sebagai pemberitahuan kepada khalayak ramai1.

Suara bedug serta dentuman meriam itu tentu saja menarik perhatian warga masyarakat sekitarnya. Mereka pun berbondong-bondong mendatangi asal suara untuk mengetahui kejadian apa yang sedang terjadi. Setelah masyarakat berkumpul, keluarlah Kanjeng Adipati dan Imam Masjid Besar (Kyai Tafsir Anom) memberikan sambutan dan pengumuman. Isi pengumuman diantaranya adalah informasi yang pasti tentang penentuan awal bulan puasa dan ajakan untuk selalu meningkatkan tali silaturrahim atau persatuan dan senantiasa meningkatkan kulitas ibadah3.

Lambat laun, mungkin setelah menjadi acara berulang, kerumunan orang di halaman kabupaten yang menyaksikan tanda awal bulan puasa juga dimanfaatkan oleh para pedagang "tiban" dari berbagai daerah untuk mencari keuntungan. Mereka menjual berbagai macam makanan, minuman, serta mainan anak-anak terbuat dari tanah liat, bambu, maupun kertas. Salah satu mainan yang mereka jajakan disebut sebagai Warak Ngendhog/Ngendok, berbentuk hewan berkaki empat dengan kepala mirip seekor naga4.

Dalam perkembangan selanjutnya, para pedagang tidak hanya berdagang pada saat masyarakat berkumpul mendengarkan pengumuman awal puasa. Mereka bahkan telah menggelar dagangannya jauh hari sebelum upacara dilaksanakan dalam bentuk pasar malam. Selain itu, juga ditambah dengan acara arak-arakan yang melibatkan berbagai macam kelompok. Dugderan tidak hanya sebagai sarana guna menginformasikan umat Islam mengenai waktu memulai ibadah puasa Ramadhannya, tetapi juga sebagai sarana hiburan dan ajang pentas budaya bagi warga masyarakat Kota Semarang.

Waktu, Tempat, Pemimpin dan Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara
Sebagaimana upacara pada umumnya, Dugderan juga dilakukan secara bertahap. Tahap-tahap yang harus dilalui dalam upacara ini adalah sebagai berikut: (1) pengadaan pasar malam; (2) tahap upacara untuk menentukan awal puasa; (3) tahap pemukulan beduk dan penyulutan meriam, serta (4) tahap arak-arakan atau karnaval. Sebagai catatan, dahulu penyelenggaraan Dugderan dilakukan satu hari menjelang bulan puasa dan hanya berupa upacara untuk menentukan awa puasa lalu diakhiri dengan pemukulan bedug dan dentuman meriam sebagai pemberitahuan kepada masyarakat luas. Namun saat ini, setelah dikemas untuk kepentingan kepariwisataan, Dugderan diawali dengan pengadaan pasar malam satu minggu menjelang puasa demi untuk menarik minat wisatawan baik asing maupun domestik.

Tempat pelaksanaan Dugderan bergantung pada tahapan-tahapan yang harus dilalui. Untuk pergelaran pasar malam berlokasi di Pasar Johar yang konon dahulu merupakan pusat kota Semarang5. Untuk prosesi pengambilan keputusan mengenai waktu pelaksanaan puasa diadakan di Balaikota Semarang. Untuk prosesi pemukulan bedug dilakukan di Mesjid Besar Kauman6. Sedangkan untuk prosesi arak-arakan diawali dari halaman Balaikota Semarang menuju Mesjid Besar Kauman (Mesjid Agung Semarang), Mesjid Agung Jawa Tengah (MAJT) atau ke Lapangan Simpang Lima Semarang7.

Pemimpin Dugderan juga bergantung pada kegiatan atau tahap yang harus dilakukan. Pada tahap musyawarah menentukan waktu pelaksanaan puasa, yang bertindak sebagai pemimpin adalah imam Masjid Besar Kauman. Pada tahap pengumuman hasil keputusan pada ulama tentang waktu dimulainya puasa dipimpin atau dilakukan oleh Walikota Semarang. Sedangkan yang bertindak sebagai koordinator kegiatan pasar malam maupun arak-arakan atau karnaval budaya adalah pihak Pemerintah Kota Semarang, melalui beberapa dinas yang biasa menangani bidang-bidang tersebut.

Selain pemimpin, ada pula pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Dugderan, yaitu: (1) para ulama penentu awal puasa; (2) petugas yang membunyikan bedug dan meriam; (3) pengrawit; (4) pembawa bendera; (5) beberapa kelompok kesenian yang ada di wilayah Semarang; dan (6) warga masyarakat lainnya yang membantu menyiapkan perlengkapan upacara maupun menyaksikan jalannya upacara.

Perlengkapan Upacara
Sebagai sebuah upacara yang dilaksanakan secara berurutan, tentu saja memerlukan peralatan dan perlengkapan untuk menunjang kelancaran prosesinya. Adapun peralatan dan perlengkapan tersebut, diantaranya: (1) Bendera; (2) seperangkat gamelan; (3) mesiu (obat Inggris) dan kertas koran sebagai "peluru" meriam; (4) untaian bunga untuk dikalungkan pada dua buah meriam8; (5) bom udara; dan (6) sirine.

Jalannya Upacara
Apabila Ramadhan hampir tiba, satu minggu sebelumnya diadakan pasar malam bertempat di Pasar Johar atau sekitar Masjid Besar Kauman. Di areal pasar malam yang bertujuan untuk menarik minat wisatawan ini dijual berbagai macam barang dagangan, berupa: makanan, minuman, sandang, sepatu, dan mainan anak-anak (seruling bambu, kembang api, gasing, peluit, kapal-kapalan, mainan dari gerabah, boneka plastik/karet, dan lain sebagainya termasuk sebuah mainan yang diberi nama warak ngendok).

Warak konon merupakan binatang rekaan kreasi Kyai Saleh Darat dan atau Bupati KRMT Purbaningrat. Tujuan pembuatannya adalah sebagai ikon yang dapat menarik perhatian masyarakat luas dengan fungsi setara dengan pengumuman awal puasa. Adapun bentuknya dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu: klasik, modifikasi, dan kontemporer4. Warak klasik bergigi tajam, mata melotot, telinga tegak dan berjanggut lebat. Pada bagian badan, leher, dan keempat kakinya ditutupi bulu dengan warna berselang seling (merah, kuning, putih, hijau, dan biru). Sedangkan ekornya melengkung kaku berbulu serupa dengan badan dan berujung surai. Warak modifikasi berbentuk mirip kepala naga dengan moncong mirip buaya bergigi tajam, lidah bercabangm nata melotot, berkumis, berjanggut, bertanduk cabang, kulit bersisik, berambut surai di belakang kepala, dan kepala memakai mahkota. Sedangkan warak kontemporer secara struktur mirip dengan warak klasik, namun detail kepala dan bulu tidak sesuai. Ketiga tipe ini, sama-sama bisa "ngendok" (bertelur) karena di bagian perutnya dimasukkan sebuah telur rebus.

Selain barang dagangan, pasar malam juga menyajikan permainan-permainan khusus bagi anak-anak maupun orang dewasa, seperti: komidi putar, ombak asmaran, bianglala, rollercoaster mini, rumah hantu, tong setan, pemancingan ikan plastik, dan lain sebagainya. Untuk dapat menikmatinya, pengunjung hanya dikenakan biaya sebesar lima ribu rupah untuk satu kali bermain.

Sehari menjelang Ramadhan, barulah dimulai prosesi dugderan. Dahulu dugderan diawali musyawarah antara Bupati dan para ulama di Masjid Besar Kauman pada malam hari dengan melihat bulan (metode hilal) untuk menentukan awal puasa1. Namun, saat ini dugderan diselenggarakan sore hari sekitar pukul 15.30 WIB ketika bulan belum begitu tampak. Penentuan awal bulan Ramadhan telah berpedoman pada Kebutusan Kementerian Agama RI melalui Sidang Isbat.

Dalam prosesi ini Walikota (selaku umara) yang memerankan tokoh Adipati beserta isteri dan rombongan berjalan dari Balaikota menuju Masjid Besar Kauman. Mereka dikawal oleh prajurit patang puluh dan arak-arakan Warang Ngendok melewati rute Jalan Pemuda. Sesampainya di Masjid, mereka disambut oleh para ulama dan habaib terkemuka di Semarang yang sebelumnya telah bermusyawarah menentukan awal puasa. Keputusan tersebut ditulis dalam secarik kertas (sukuf holakoh) untuk diberikan kepada walikota.

Selanjutnya, usai beramah-tamah sejenak, Walikota berdiri dan membacakan teks (dalam bahasa Jawa) surat keputusan ulama tentang dimulainya ibadah puasa di bulan Ramadhan. Usai pembacaan surat keputusan, dilanjutkan doa bersama dan diakhiri dengan pemukulan bedug Masjid Besar Kauman yang langsung diikuti oleh suara dentuman sebagai penanda dimulainya dugderan. Sebagai catatan, dahulu suara dentuman berasal dari meriam yang berada di kawasan Kanjengan. Namun seiring perkembangan zaman, dentuman meriam digantikan oleh bom udara, mercon, sirine, dan bahkan bleduran terbuat dari bongkahan batang pohon yang bagian tengahnya dilubangi kemudian diisi karbit.

Setelah meriam/mercon berhenti berdentum, acara dilanjutkan dengan pembagian ganjelril dan air khataman Al Quran kepada masyarakat. Prosesi dugderan kemudian ditutup dengan acara arak-arakan atau karnaval/kirab yang diikuti oleh pasukan Merah Putih, prajurit berkuda, kereta kencana, pasukan berpakaian adat Bhinneka Tunggal Ika, drumband dari akpol, barongsai, rombongan bendi yang dikendarai para camat dan pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), rombongan sepeda onthel mobil-mobil hias berbagai tema, dan kesenian tradisional yang ada di Kota Semarang. Dan, dengan berakhirnya tahap arak-arakan ini, berakhirlah seluruh rentetan dalam upacara dugderan sebagai penanda bahwa esok hari telah memasuki bulan Ramadhan.

Nilai Budaya
Upacara dugderan, jika dicermati secara mendalam, mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain adalah kebersamaan, ketelitian, goto royong, dan religius. Nilai kebersamaan tercermn dari berkumpulnya sebagian anggota masyarakat dalam satu tempat untuk mengikuti prosesi dugderan sambil berdoa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan. Dalam hal ini, kebersamaan sebagai komunitas yang mempunyai wilayah, adat-istiadat dan budaya yang sama.

Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian.

Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, membuat rangkaian bunga, menjadi pemimpin upacara, dan lain sebagainya.

Nilai religius tercermin dalam doa bersama yang ditujukan kepada Tuhan agar mendapat perlindungan, keselataman dan kesejahteraan dalam menjalani kehidupan. (gufron)

Sumber:
1. Wibowo, Galih. "Kebijakan Penyelenggaraan Dugderan Tradisi Kota Semarang Menyambut Bulan Ramadhan", diakses dari http://www.academia.edu/11716792/ KEBIJAKAN_PENYELENGGARAAN_DUGDERAN, tanggal 26 Desember 2015.

2. "Sejarah Dugderan", diakses dari https://wisatasemarang.wordpress.com/2010/04/11/se jarah-dugderan/, tanggal 24 Desember 2015.

3. Mawahib,Muhamad Zainal. 2015. "Kebudayaan Masyarakat Kota Semarang: Warak Ngendok sebagai Simbol Akulturasi dalam Dugderan", dalam http://jurnal.elsaonline. com/?p=75, diakses 26 Desember 2016.

4. "Dugderan", diakses dari http://semarangkota.go.id/main/menu/26/seni-dan-budaya/du gderan, tanggal 25 Desember 2015.

5. "Dugderan", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Dugderan, tanggal 26 Agustus 2015.

6. "Dugderan - Sebuah Potret Budaya Semarang", diakses dari http://seputarsemarang.com/ dugderan-sebuah-potret-budaya-semarang/Dugderan, tanggal 26 Desember 2015.

7. "Semarang Sambut Ramadhan dengan Dugderan", diakses dari http://www.antaranews. com/berita/383313/semarang-sambut-ramadhan-dengan-dugderan, tanggal 26 Desember 2015.

8. Nigitha Joszy. 2013. "Prosesi Acara Kirab Budaya "Dugderan"". Diakses dari http:// nigitha16joszy.blogspot.co.id/2013/07/makalah-budaya-dugderan.html, tanggal 25 Desember 2015.

Desa Paku Alam

Letak dan Keadaan Alam
Desa Paku Alam berada sekitar 5 kilometer sebelah barat Ibukota Kecamatan Darmaraja atau sekitar 26 kilometer dari Kota Sumedang dengan titik koordinat 6°53'7"S 108°4'43"E. Secara geografis batas-batas desa ini adalah: sebelah utara berbatasan dengan Desa Cigintung dan Desa Pejagan, sebelah timur berbatasan dengan Desa Cipaku, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Cipaku, dan sebelah barat berbatasan dengan Desa Karangpakuan. Luas wilayahnya sekitar 477 ha, dengan rincian: lahan pekarangan (39 ha), persawahan (150 ha), pengangonan (27 ha), tegalan (99 ha), pemakaman sekitar 2 ha, dan tanah milik negara seluas sekitar 160 ha sebagai bagian dari daerah genangan Waduk Jatigede.

Topografinya berupa dataran rendah dan perbukitan berkemiringan tanah antara 20°-45° dengan ketinggian antara 130-280 meter di atas permukaan air laut. Iklim yang menyelimutinya sama seperti daerah lain di Kabupaten Sumedang, yaitu tropis yang ditandai oleh adanya dua musim (penghujan dan kemarau). Musim penghujan biasanya dimulai pada bulan Oktober-Maret sekitar 93-123 hari dan bercurah rata-rata 2242 mm, sedangkan musim kemarau biasanya dimulai pada bulan April-September dengan lama penyinaran matahari rata-rata sekitar 62,4%. Sedangkan temperaturnya rata-rata berkisar 22,5-23,3 Celcius dan berkelembaban 78,9%.

Kependudukan
Penduduk Desa Paku Alam berjumlah 1867 jiwa atau 728 Kepala Keluarga yang terdiri atas 898 jiwa laki-laki dan 945 jiwa perempuan. Jika dilihat berdasarkan golongan usia, penduduk berusia 0-4 tahun ada 52 jiwa (2,78%), 15-54 tahun ada 59 jiwa (3,16%), 7-12 tahun ada 187 jiwa (10,01%), 13-15 tahun ada 80 jiwa (4,30%), 16-18 tahun ada 58 jiwa (3,10%), 19-25 tahun ada 186 jiwa (9,96%), 26-64 tahun ada 960 jiwa (50,88%), dan 65 tahun ke atas ada 295 jiwa atau (15,80%).

Pendidikan dan Kesehatan
Sarana pendidikan yang terdapat di Desa Paku Alam hanya berupa 1 buah Taman Kanak-kanak (TK Tunas Alam), 2 buah Sekolah Dasar (SDN Kebonkopi dan SDN Cisema) serta sebuah 2 buah MDA (MDA Miftahul alam dan MDA Nurul Alam). Taman Kanak-kanak di desa ini menampung 41 siswa dengan jumlah pengajar sebanyak 4 orang. Sedangkan Sekolah Dasar menampung 131 siswa dengan jumlah tenaga pengajar sebanyak 18 orang dan MDA menampung 110 siswa dengan jumlah tenaga pengajar sebanyak 6 orang.

Adapun tingkat pendidikan yang dicapai oleh penduduk Desa Paku Alam sebagian besar SD/sederajat (721 orang). Sebagian lainnya yang jumlahnya cukup besar adalah tamatan SLTA/sederajat (388 orang) dan tamatan SLTP/sederajat (286 orang). Sedangkan, yang menamatkan Akademi/Perguruan Tinggi hanya 65 orang. Sementara untuk sarana kesehatan hanya ada 4 buah Posyandu dan 1 buah Polindes (Pos Bersalin Desa) dengan tenaga medis sebanyak 42 orang, terdiri atas: seorang bidan, 12 orang kader posyandu aktif, dan 26 orang pengurus Dasawisma aktif. Selain itu ada juga seorang dukun beranak atau paraji yang siap membantu kaum perempuan melahirkan.

Agama dan Kepercayaan
Seluruh penduduk Desa Paku Alam beragama Islam. Aktivitas keagamaan yang mereka lakukan adalah pengajian dan qasidahan. Pengajian dilakukan secara rutin pada sore hari bagi anak-anak, malam hari bagi kaum remaja, dan minggu malam bagi kelompok orang tua. Sedangkan qasidahan yang diikuti oleh kaum perempuan bersifat tidak rutin, hanya saat ada event tertentu saja seperti memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Organisasi Pemerintahan dan Kemasyarakatan
Secara administratif dan teritorial, pemerintahan Desa Paku Alam terdiri dari Pemerintah Desa dan BPD. Pemerintah Desa mencakup 2 dusun (Dusun Cilembu dan Dusun Cisema), 4 kampung, 8 Rukun Warga dan 24 Rukun Tetangga. Pemerintahan desa dipimpin oleh seorang Kepala Desa (kuwu) dan perangkat desa (sekretaris desa/juru tulis/ulis, Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat, Kepala Urusan Pemerintahan, Bendahara, Kepala Urusan Pembangunan). Sementara BPD atau Badan Permusyawaratan Desa adalah perwakilan penduduk yang dipilih berdasarkan musyawaraf-mufakat yang terdiri dari Ketua Rukun Warga, pemangku adat, golongan profesi, pemuka agama, atau pemuka masyarakat lainnya.

Selain kedua organisasi pemerintahan tersebut, terdapat juga organisasi kemasyarakatan seperti: Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) beranggotakan 55 orang, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD) beranggotakan 5 orang, Linmas beranggotakan 5 orang, Asosiasi Rukun Warga dan Rukun Tetangga (ARWT) beranggotakan 96 orang, 5 unit Kelompok Tani (Poktan), Karang Taruna, organisasi kesenian, dan 2 unit organisasi olahraga.

Popular Posts

-