Golok Ciomas

Bila mendengar kata Banten tentu yang terlintas di benak sebagian kita adalah tanah para jawara. Dalam aktivitas kesehariannya, para jawara itu tentu tidak akan lepas dari atribut-atribut yang mereka sandang. Salah satunya adalah golok yang menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia diartikan sebagai benda sejenis parang atau pedang yang berukuran pendek (http://kbbi.web.id/). Adapun fungsinya, menurut satupedang.blogspot.co.id, ialah sebagai alat pertahanan diri sekaligus juga sebagai lambang kehormatan seorang jawara.

Di Banten terdapat beberapa daerah penghasil golok. Salah satunya adalah golok dari daerah Ciomas, sebuah kecamatan yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Kota Serang. Golok buatan Ciomas sangat tenar di kalangan masyarakat Banten dan bahkan hingga ke mancanegara. Ketenarannya bukan hanya dari keindahan bentuk, ukuran serta ketajamannya, tetapi juga karena dipercaya memiliki daya magis kuat (dimensilain.com).

Ada bermacam daya magis yang dimiliki oleh golok buatan Ciomas, di antaranya adalah: dapat meredakan suasana hati (marah, jengkel, dan lain sebagainya) (Ridho, 2015); menambah kesaktian karena mengandung sima (wisatabanten.com); mampu menaklukkan musuh tanpa harus mencabutnya dari warangka serta meredakan perselisihan (dimensilain.com), dan lain sebagainya.

Kemagisan golok Ciomas tersebut berkaitan erat dengan proses pembuatannya. Menurut wisatabanten.com, walau dari segi bentuk relatif sama dengan sejumlah golok produksi daerah lain, golok yang mengacu pada empat desain (Mamancungan, Kembang Kacang, Salam Nunggal, dan Candung) ini memiliki keunikan tersendiri. Ia dibuat melalui suatu tata cara khusus yang sakral dan telah diwariskan secara turun-temurun di Ciomas.

Proses Pembuatan
Pembuatan golok Ciomas hanya dilakukan pada bulan Mulud dalam kalender Jawa atau bulan Rabi'ul Awwal dalam kalender Hijriah. Tujuannya adalah sebagai penghormatan warga masyarakat Ciomas, khususnya warga Pondok Kaharu kepada Nabi Muhammad yang lahir pada tanggal 12 bulan Rabi'ul Awwal (dimensilain.com). Pada bulan ini proses pembuatan golok diawali dengan pengambilan air sepuh dari sembilan mata air yang ada di sekitar wilayah Pondok Kaharu. Selain itu, diadakan juga ritual khusus berupa puasa dan pembacaan doa atau tawasulaan. Si pembuatnya (pandai besi) pun terlebih dahulu harus berziarah ke para tokoh spiritual dan pendekar Banten (Ridho, 2015).

Proses penempaan goloknya sendiri dimulai pada tanggal 12 bulan Mulud menggunakan alat tempa khusus berupa godam keramat yang diberi nama Si Denok. Konon, godam Si Denok merupakan hadiah dari Sultan Banten yang diberikan kepada Ki Cenguk, orang pertama yang membuat golok di daerah Ciomas pada masa kerajaan Islam di Banten (wisatabanten.com). Ada beberapa versi mengenai keberadaan dan pengguna godam ini. Versi pertama dari dimensilain.com, menyatakan bahwa godam Si Denok digunakan oleh Ki Sidik Santani yang berada di Kampung Cibopong, Desa Citaman (kampung pemekaran di Desa Pondok Kaharu). Versi kedua dari wisatabanten.com yang menyatakan bahwa dahulu godam Si Denok berjumlah tujuh buah, namun saat ini hanya tersisa satu buah di Kampung Seuat. Sedangkan versi lainnya lagi dari okpganespa.blogspot.co.id,menyatakan bahwa godam Si Denok dimiliki oleh Jamsari, salah seorang kuturunan Ki Cengkuk. Jamsari hanya meminjamkan godamnya bagi siapa saja yang membutuhkan karena dia hanyalah petani dan bukan pandai besi.

Lepas dari keberadaan serta siapa pemakainya, yang jelas oleh masyarakat Ciomas Si Denok digunakan untuk menempa bakalan golok (setengah jadi) yang bahanya berupa besi khusus yang diambil dari Desa Pondok Kahuru dan Bojong Honje yang ditambah dengan lima atau tujuh campuran yang sifatnya rahasia. Konon, besi kusus ini telah ada sejak zaman Kesultanan Banten yang cara pengambilannya harus melalui riyadhoh atau wiridan dan puasa terlebih dahulu (Ridho, 2015).

Bila penempaan telah selesai, proses selanjutnya adalah membuat gagang golok. Bentuk gagang ada yang disebut wawayangan atau menyerupai wayang, belimbing (menyerupai buah belimbing), mamanukan (menyerupai burung), dan jebug sepasi yang menyerupai buah pinang dibelah. Adapun bahan pembuatnya dari akar kayu jawar karena dipercaya memiliki kekuatan yang baik. Dan terakhir, adalah pembuatan sarangka atau sarung golok yang diberi nama sendiri-sendiri, seperti sompal, simut meuting, dan peper. Sarung golok dilengkapi dengan cincin berjumlah ganjil yang terbuat dari tanduk binatang.

Berikut adalah demonstrasi pembuatan golok Ciomas yang ditampilkan dalam acara "Golok Day" pada event Bulan Wisata Kota Cilegon. Foto diambil akhir bulan April 2016.
Foto: Gufron
Sumber:
Ridho, Rasyid. 2015. "Misteri Keistimewaan Golok Ciomas (Bagian 1)", diakses dari http://daerah. sindonews.com/read/954898/29/misteri-keistimewaan-golok-ciomas-bagian-1-1422015688/30, tanggal 25 November 2016.

"Senjata Golok Ciomas, Pusaka Legendaris dari Banten", diakses dari http://dimensilain.com/senjata-golok-ciomas-pusaka-legendaris-dari-banten/, tanggal 25 November 2016.

"Sejarah dan Jenis Golok Jawara Banten", diakses dari http://satupedang.blogspot.co.id/2015/08/sejarah-dan-jenis-golok-jawara-banten.html, tanggal 25 November 2016.

"Golok", diakses dari http://kbbi.web.id/golok, tanggal 25 November 2016.

"Golok Ciomas: Produk Khas & Asli Banten", diakses dari https://wisatabanten.com/golok-ciomas-banten/, tanggal 26 November 2016.

"Golok Ciomas: Budaya Tradisi dan Warisan Religi Banten", diakses dari https://okpganespa.blogspot.co.id/2011/04/golok-ciomas-budaya-tradisi-dan-warisan.html, tanggal 26 November 2016.
hal
Dilihat: