Lesung

Bercocok tanam adalah teknologi untuk menggarap tanah sampai menghasilkan panen tanaman untuk keperluan hidup (Koentjaraningrat, dkk, 2003:25). Apabila diklasifikasikan, bercocok tanam dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu di ladang (tanah kering) dan di sawah (tanah basah). Keduanya memiliki tahap yang bila digeneralisasikan terdiri atas: pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan tanaman, dan pemungutan hasil (panen).

Apabila jenis tanaman yang diusahakan adalah padi, apabila seluruh hasil panen terkumpul, dijemur sampai kering dan baru kemudian disimpan. Di daerah Jawa Barat penjemuran padi biasanya beralaskan giribig (semacam tikar terbuat dari anyaman bambu dengan ukuran 2x3 meter), kain terpal atau lantai yang di plester. Bila jenisnya pare leutik (padi kecil), cara menjemurnya adalah dengan menebarkannya di atas giribig. Agar kering merata padi perlu dibolak-balikkan dengan alat yang dinamakan sosorong. Sementara bila jenisnya pare gede (padi besar), cara menjemurnya adalah dengan dijebrakeun, yaitu ikatan padi berada di bawah dan tertutupi oleh untaian-untaian butir padi, sehingga hampir seluruh butir padi akan tersinari panas matahari. Setelah itu dijemur dengan posisi yang berlawanan dari arah sebelumnya sehingga ikatan padi berada di atas. Demikianlah seterusnya sampai padi kering secara merata.

Pare leutik yang telah kering dan tidak lagi panas kena sinar matahari, dapat langsung dimasukkan ke dalam karung atau wadah untuk kemudian disimpan. Sedangkan pare gede terlebih dahulu harus melalui tahap mangkek (mengikat padi). Caranya dimulai dengan diguar (ikatan padi dibuka) lalu dibalikkan supaya bagian dalam menjadi di luar. Setelah itu nyabutan salakop atau mencabuti tangkai padi atau jerami yang terlepas supaya bersih dan rapi. Selanjutnya dipapakeun (tangkai padi diratakan dengan cara dipukul-pukul ujungnya), lalu diikat dengan tali bambu yang telah diolesi tanah liat agar lentur. Untuk memperkuat ikatan, dibantu dengan alat yang disebut pahul, yaitu tongkat kayu atau bambu yang panjangnya dua jengkal dan garis tengahnya kurang lebih 2 centimeter. Cara mengencangkannya, ujung tali diikatkan pada pahul, sementara itu ujung yang lain diikatkan pada batang-batang padi, kemudian pahul diputar sehingga ikatan menjadi kencang.

Dahulu, padi yang telah kering akan disimpan di dalam leuit (lumbung) yang letaknya di samping atau belakang, terpisah dari rumah utama. Jika ingin dijadikan beras, padi akan diambil secukupnya lalu diinjak-injak hingga menjadi gabah, kemudian dimasukkan ke dalam lisung (lesung) untuk ditumbuk agar lepas kulitnya menggunakan halu atau alu. Lesung adalah lumpang kayu panjang yang digunakan untuk menumbuk padi dan sebagainya (kbbi.web.id). Menurut id.wikipedia.org, lesung umumnya terbuat dari kayu berbentuk menyerupai perahu kecil dengan panjang sekitar 2 meter, lebar 0,5 meter, dan berkedalaman sekitar 40 centimeter. Adapun alat penumbuknya yang disebut sebagai alu atau halu berbentuk tongkat setinggi sekitar 1,5 meter.

Selanjutnya, agar beras tersebut menjadi bersih (putih), maka perlu ditumbuk lagi dan ditampi dengan alat yang disebut nyiru atau niru. Dengan cara sedemikian rupa, kulit ari padi akan terbang jatuh terpisah dari beras yang akan tertinggal pada nyiru tersebut. Kulit ari tersebut dapat dimakfaatkan sebagai pakan ayam dan bebek. Sedangkan berasnya dapat langsung ditanak atau disimpan dalam gentong atau padaringan (tempayan gerabah). Namun, dewasa ini para petani tidak perlu memberaskan dengan cara “tradisional” sebagaimana yang diuraikan di atas. Mereka dapat memberaskan ke penggilingan-penggilingan padi yang ada di Desanya. (ali gufron)
Sumber:
Koentjaraningrat, Parsudi Suparlan, dkk. 2003. Kamus Istilah Antropologi, Jakarta: Progres
"Lesung", diakses dari http://kbbi.web.id/lesung, tanggal 26 Agustus 2016.
"Lesung", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Lesung, tanggal 26 Agustus 2016.
hal
Dilihat: