Legenda Rawa Pening

(Cerita Rakyat Jawa Tengah)

Alkisah, pada zaman dahulu kala di suatu lembah antara Gunung Merbabu dan Telomoyo ada sebuah desa bernama Ngasem. Di desa ini hidup sepasang suami-isteri bernama Nyai Selakanta dan Ki Hajar. Mereka telah lama berumah tangga, namun belum juga dikaruniai momongan.

Suatu hari, menjelang senja Nyai Selakanta duduk termenung seorang diri di teras rumahnya. Entah apa yang sedang dipikirkannya, ketika sang suami datang dan menghampiri pun dia tidak menyadarinya.

"Kamu sedang memikirkan apa, Nyai?" tanya Ki Hajar ketika berada di samping isterinya.

"Aku merasa kesepian, Kang," jawab Nyai Selakanta. "Seandainya saja kita dikaruniai anak, hidup pasti akan lebih berwarna. Aku tidak akan merasa kesepian walau kamu tinggal pergi bekerja," lanjutnya.

"Kita sudah mencoba bermacam cara, mungkin belum waktunya. Kalau kamu mengizinkan, aku akan pergi bersemedi memohon petunjuk Yang Maha Kuasa," kata Ki Hajar.

Nyai Selakanta tidak berkata apa-apa. Dia hanya mengangguk pelan sambil menitikkan air mata sebagai tanda persetujuannya. Dan, tanpa membuang waktu lagi, keesokan harinya Ki Hajar berangkat menuju ke suatu tempat yang dianggap masih sunyi, yaitu di lereng Gunung Telomoyo.

Kepergian Ki Hajar ternyata bukan hanya selama satu atau beberapa minggu saja, melainkan berbulan-bulan sehingga membuat hati Nyai Selakanta menjadi gundah gulana. Dia khawatir kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan atas keselamatan Sang Suami. Namun, dia tidak dapat berbuat apa-apa karena tidak mengetahui lokasi keberadaan Ki Hajar. Yang dapat dia lakukan hanyalah berdoa dan memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar suaminya dapat segera kembali dengan selamat.

Alih-alih mendapatkan suaminya kembali, Nyai Selakanta malah mulai merasakan perubahan di dalam dirinya. Tiap pagi dia merasa mual dan muntah-muntah layaknya orang yang sedang hamil. Hal ini diikuti dengan semakin membesarnya perut hingga sembilan bulan setelahnya keluarlah bayi dari dalam rahimnya. Anehnya, Sang bayi bukanlah berwujud anak manusia, melainkan seekor naga.

Walau sangat terkejut, Nyai Selakanta juga bahagia karena dikaruniai momongan. Bayi naga itu dinamainya Baru Klinthing, sesuai dengan nama tombak milik suaminya yang ditinggalkan sebagai "penjaga rumah". Kata Baru Klinthing berasal dari "bra" yang berarti Brahmana dan "klinthing" yang berarti lonceng. Jadi Baru Klinthing dapat diartikan sebagai lonceng Sang Brahmana.

Oleh karena Baru Klinthing tergolong sebagai "bayi ajaib", begitu lahir dia langsung dapat berbicara layaknya manusia. Hal ini membuat suasana hati Nyai Selakanta bercampur-aduk (bahagia, haru, malu, sekaligus juga kecewa). Dia bahagia dan terharu dapat memiliki momongan sebagaimana layaknya keluarga lain. Tetapi di sisi lain dia juga kecewa sekaligus malu memiliki "bayi ajaib" yang penampilan fisiknya sangat berbeda dari orang kebanyakan.

Belasan tahun kemudian, setelah Baru Klinthing tumbuh remaja, dia bertanya kepada ibunya, "Bu, mengapa kita hanya hidup berdua? Apakah aku tidak memiliki ayah?"

"A..a..ayahmu?" jawab Nyai Selakanta tergagap. "Ayahmu bernama Ki Hajar, Anakku. Dia sedang bertapa di suatu tempat sekitar lereng Gunung Telomoyo," lanjutnya setelah dapat menguasai diri.

"Apakah aku boleh menemuinya, Bu?" tanya Baru Klinthing.

"Tentu saja boleh, Anakku. Tapi kamu harus membawa tombak pusaka milik ayahmu sebagai bukti bahwa kamu adalah anaknya," jawab Nyai Selakanta.

Setelah mempersiapkan segala perbekalan termasuk tombak pusaka, Baru Klinthing meminta izin pada Nyai Selakanta untuk mencari Sang Ayah. Setibanya di sekitar Gunung Telomoyo dia melihat sebuah goa besar yang bagian dalamnya sangat gelap dan menyeramkan. Karena beranggapan bahwa tempat itu sangat cocok sebagai pertapaan, dia pun segera memasukinya.

Sesampai di dalam goa Baru Klinthing mendapati seorang lelaki tua yang sedang bersemedi sambil duduk bersila. "Maaf bila mengganggu, apakah Bapak Ki Hajar?" tanya Baru Klinthing setelah berada di dekatnya.

Sang lelaki tua yang tengah khusuk bersemedi itu agak terkejut hingga membuka matanya. Dia lebih terkejut lagi ketika yang dilihatnya bukanlah manusia melainkan seekor naga yang menyeramkan. "Aku Ki Hajar. Siapa kamu?" tanya Ki Hajar dengan suara keras karena merasa terganggu.

"Saya Baru Klinthing, anakmu. Sebagai buktinya, saya dibekali oleh ibu untuk membawa tombak ini," jawab Baru Klinting sambil menghantarkan tombak dan bersujud di kaki Ki Hajar.

"Ini memang tombak pusakaku," kata Ki Hajar. "Tapi aku belum yakin kalau kamu adalah anakku. Bukti ini belum cukup. Melihat bentuk tubuhmu yang tidak seperti diriku, aku ingin kamu melingkarkan tubuhmu itu ke gunung ini. Apabila berhasil, kamu akan kuaku sebagai anak," lanjutnya.

Oleh karena Baru Klinthing adalah "anak ajaib", maka persyaratan yang diberikan oleh Ki Hajar bukanlah hal yang mustahil baginya. Dengan sangat mudah dia dapat melingkarkan tubuhnya pada Gunung Telomoyo. Ki Hajar akhirnya mengakui Baru Klinthing sebagai anak. Selanjutnya, dia memerintahkan Baru Klinthing untuk bertapa di suatu tempat di Bukit Tugur agar beralih ujud menjadi manusia normal.

Saat Baru Klinthing menjalankan perintah Sang Ayah, di lain tempat di sebuah dusun bernama Pathok penduduknya hendak mengadakan merti dusun selepas panen raya. Kehidupan penduduk Pathok relatif makmur, sehingga banyak diantaranya yang menjadi over acting dan angkuh. Untuk prosesi merti dusun yang sebenarnya sebagai ungkapan rasa syukur setelah panen misalnya, akan mereka adakan dengan sangat mewah demi membuat para undangan dari desa lain di sekitarnya terkesan.

Untuk menyediakan berbagai hidangan lezat bagi tamu tersebut, selain hasil panen juga dari hutan di sekitarnya, terutama kebutuhan akan daging. Mereka beramai-ramai berburu hewan di hutan-hutan sekitar Dusun Pathok, termasuk hutan di Bukit Tugur. Sesampai di Bukit Tugur mereka bertemu dengan Baru Klinthing yang sedang bersemedi. Tanpa perpikir panjang mereka langsung membunuh Baru Klinthing yang masih berujud naga dan memotong-motong dagingnya untuk dijadikan hidangan dalam merti dusun.

Beberapa hari kemudian ketika diadakan merti dusun yang dihadiri oleh segenap warga masyarakat dari Dusun Pathok dan dusun-dusun lain di sekitarnya, datanglah seorang laki-laki muda dengan sekujur tubuh penuh luka dan menimbulkan bau amis. Lelaki muda itu tidak lain adalah Baru Klinthing. Sewaktu tubuhnya yang masih berupa seekor naga dipotong-potong, ternyata sukmanya masih tetap ada dan beralih ujud menjadi seorang manusia.

Baru Klinthing berusaha ingin bergabung dengan orang-orang yang sedang melakukan prosesi merti dusun tersebut. Tujuannya adalah ingin mendapatkan barang sesuap nasi karena sudah berhar-hari tidak makan. Namun sambutan yang didapatnya hanyalah berupa caci-maki, umpatan, cemoohan, hardikan, dan bahkan pengusiran. Semua orang yang dihampirinya selalu menutup hidung karena bau amis menyengat dari kulitnya yang penuh luka.

Tidak tahan dengan segala "sambutan hangat" itu, Baru Klinthing memilih meninggalkan Dusun Pathok, walau perutnya sangat lapar selepas bersemedi berhari-hari. Sesampainya di perbatasan dusun dia bertemu seorang janda tua bernama Nyi Latung. Oleh Nyi Latung yang ternyata baik hati, Baru Klinthing malah diajak kerumahnya untuk diberi makan. Ternyata Sang janda tua tadi juga senasib dengan Baru Klinthing. Dia tidak diundang dalam acara merti dusun karena dianggap terlalu miskin dan berpenampilan sangat buruk.

Mendengar penuturan Nyi Latung yang tidak boleh ikut merti dusun, Baru Klinthing yang tadinya menganggap sepele terhadap pengusiran dirinya menjadi sangat murka. Selesai makan, dia bermaksud kembali lagi ke acara keramaian tadi. Sebelum berangkat dia sempat berpesan pada Nyi Latung agar menyiapkan lesung apabila nanti mendengar suara air bergemuruh dari tengah dusun.

Setibanya di keramaian, Baru Klinthing langsung menancapkan sebatang lidi di tengah-tengah kerumunan massa. Sambil berteriak dia menantang warga untuk mencabut lidi yang telah ditancapkannya. Agar cepat menyulut emosi warga, Baru Klinthing mengejek dan merendahkan mereka dengan kata-kata yang tidak enak didengar.

Walhasil, warga pun marah. Mereka menyuruh anak-anak kecil untuk mencabutnya karena dianggap remah. Bila berhasil, rencana berikutnya adalah menghajar si pengejek hingga babak belur. Namun usaha anak-anak mencabut lidi ternyata tidak berhasil. Lidi itu bahkan semakin kuat menancap di tanah. Selanjutnya, satu-persatu warga pun mencoba untuk mencabutnya. Dan, karena tetap tidak berhasil mereka akhirnya beramai-ramai mencoba mencabutnya tetapi tetap tidak berhasil.

"Apa kataku, kalian memang benar-benar payah, kan?" kata Baru Klinthing sambil berjalan menghampiri tancapan lidi.

Selanjutnya, dicabutlah lidi itu sehingga mengeluarkan air. Ketika orang-orang tertegun dan heran melihat ada aliran air yang keluar dari lubang bekas tancapan lidi, secara diam-diam dia pergi meninggalkan keramaian menuju rumah Nyi Latung. Sesampai di rumah, bersama Nyi Latung dia menaiki lesung yang difungsikan sebagai perahu karena air semakin lama makin deras sehingga menenggelamkan seluruh desa beserta isinya. Dan, desa itu akhirnya menjadi sebuah danau yang diberi nama Rawa Pening. Untuk menjaga agar tetap menjadi danau, Baru Klinthing meubah lagi dirinya menjadi naga dan berdiam di suatu tempat di tengah danau yang luasnya sekitar 2.670 hektar. Letak Rawa Pening saat ini berada antara Gunung Merbabu, Telomoyo, dan Ungaran. Tepatnya di Kecamatan Ambarawa, Bawen, Tuntang, dan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Diceritakan kembali oleh gufron
hal
Dilihat: