K.H. Muhammad Arief Mahya

K.H. M. Arief Mahya adalah seorang tokoh pejuang, penulis, mubalig sekaligus ulama asal, Liwa, Lampung Barat. Laki-laki yang akrab disapa Buya ini lahir pada tanggal 6 Juni 1926 di Gedung Asin, Liwa, dari pasangan Mahya dan Fatimah. Buya adalah putera ketiga dari lima bersaudara H. Mursyid Mahya, Zainab, Drs. H. Muslim Mahya, Hj. Rotinam, dan Rofi'ah (paratokohlampung.blogspot.co.id).

Walau lahir di Gedung Asin, masa kecil Buya di tempat ini hanya dilalui selama sekitar tiga tahun. Pada akhir tahun 1929 keluarganya pindah ke Kampung Talangparis, Kecamatan Abung Tinggi, sekitar enam kilometer dari Bukit Kemuning. Di tempat inilah Buya menempuh pendidikan formalnya pada usia sekitar 7 tahun di volkschool Ulakrengas. Sepulang dari sekolah dia kemudian belajar mengaji dan ilmu agama pada saudara sepupunya, Sulaiman bin H.M. Saleh bin H.M. Nuh yang pernah nyantri di Kedah, Malaysia.

Lulus dari volkschool, Buya melanjutkan ke Madrasah Diniyah Al-Islamiyah di Tanjungmenang guna mempelajari ilmu-ilmu Islam seperti tauhid, fikih, tasawuf, akhlak, hadis, tajwid, tarikh Islam, dan bahasa Arab. Setamat Madrasah, Buya kemudian ke Standardschool Wustho Zu'ama (sekolah pemimpin menengah) dan Wustho Mu'allimin (sekolah guru menengah atau Onderbouw Kweekschool) (nu-lampung.or.id). Namun karena terjadi Perang Dunia II, setamat Wustho Mu'allimin dia tidak melanjutkan sekolah tetapi memilih terjun ke medan perang merebut kemerdekaan Indonesia.

Di sela-sela perjuangannya itu, menurut Wardoyo, dkk (2008), sekitar tahun 1942 Buya sempat ikut rombongan Darwys Manan yang terdiri dari A. Halim dan Idris Mu'in berdakwah ke beberapa kampung di Way Tenong, Belalau, dan Liwa. Untuk menjalankan misi dakwahnya itu mereka harus berjalan kaki selama tiga hari tiga malam sejauh sekitar 100 kilometer. Selain berdakwah, dari tahun 1942-1943 Buya sempat mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Talangparis, Bukit Kemuning Lampung Utara dan Madrasah Muhammadiyah di Pekon Karangagung, Way Tenong, Lampung Barat.

Namun, ketika penjajahan beralih dari bangsa Belanda ke bangsa Jepang keluarga besar Buya terpaksa hidup berpindah-pindah. Adapun tujuannya adalah agar terhindar dari sistem kerja paksa BPP (Badan Pembantu Perang) yang diterapkan oleh pemerintah pendudukan Jepang guna membantu mereka berperang melawan sekutu. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka berdagang dengan sistem cingkau atau menjual dan membeli berbagai macam barang dari satu daerah ke daerah lainnya hingga akhirnya menetap di Hadimulyo, Metro pada tahun 1943.

Pada awal kepidahan keluarga besarnya ke Metro, Buya masih memilih tinggal di Liwa. Dia baru menyusul ke Metro pada akhir tahun 1944. Waktu itu Buya langsung disambut oleh tokoh setempat karena di sana masih jarang ada orang yang berpendidikan tinggi. Oleh karena itu, sejak Februari 1945 hingga Desember 1948 Buya pun didaulat menjadi Kepala Perguruan Islam menggantikan Ustaz M. Jailani yang mengundurkan diri.

Beberapa tahun menjabat sebagai Kepala Perguruan Islam, pada tanggal 1 September 1945 Buya mengabdikan diri kepada negara menjadi Pegawai Negeri Sipil dengan menjadi guru agama di Sekolah Rakyat Negeri (SRN) 1 dan 2 Metro. Satu tahun kemudian, dia diangkat oleh Partai Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) menjadi pemeriksa pelajaran agama pada sekolah-sekolah pemerintah di Metro, lalu juga menjadi sekretaris Masyumi, dan Ketua Lasykar Huzbullah/Sabilillah cabang Metro. Selanjutnya, tahun 1946 menjadi Ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Metro. Sederet aktivitas inilah yang akhirnya membuat Buya aktif pada jalur pendidikan, politik, dan bahkan militer di daerah Lampung.

Saat Belanda mendarat di Pelabuhan Panjang pada tanggal 1 Januari 1949 misalnya, Buya dan para pemuda turun ke desa-desa memberi penjelasan ihwal perjuangan mempertahankan kemerdekaan dana mengobarkan semangat anti-penjajahan kepada masyarakat Lampung. Pengobaran semangat anti-penjajahan pada masyarakat Lampung ini merupakan hasil dari rapat kilat yang diadakan di kantor PU Metro dengan tujuan untuk mengantisipasi kedatangan kembali bangsa Belanda.

Sebelas bulan kemudian, tepatnya Desember 1949 Buya bersama Makmun Nawawi diutus menghadiri Kongres Masyumi dan Badan Kongres Muslim Indonesia (BKMI) di Yogyakarta. Oleh karena waktu itu Belanda masih menduduki beberapa wilayah penting di Indonesia, maka mereka harus membawa machteging atau surat kuasa jalan selaku delegasi RI untuk perdamaian dengan Belanda dari Residen Lampung Mr. Gele Harun. Sesampai di Yogyakarta mereka tidak hanya dapat menghadiri Kongres Masyumi, tetapi juga sempat menyaksikan pelantikan Ir. Soekarno menjadi Presiden Republik Indonesia Serikat di Sitihinggil Keraton Yogyakarta, pidato kedua negara (RIS dan Belanda), serta penurunan bendera Belanda dan penaikan Sang Saka Merah Putih (Wardoyo, dkk: 2008).

Sepulang dari Yogyakarta, sekitar bulan Januari 1950 Buya diangkat menjadi Kepala Sekretariat KUA Lampung Tengah di Metro. Selain itu dia juga mendapat tugas dari Kepala Djawatan Agama Lampung, K.H. A.Razak Arsyad untuk membantu menyusun dan mengisi formasi pegawai Kantor Urusan Agama (KUA) mulai tingkat kabupaten hingga kecamatan di seluruh Lampung Tengah. Dan, pada tahun ini pula Buya terpikat oleh seorang gadis bernama Mas Amah yang merupakan sesama aktivis di GPII. Mereka pun akhirnya menikah pada 26 Agustus 1950 dan dikaruniai delapan orang anak, yaitu: Hilyati, Istamar Arief, Erna Pilih, Prisrita Rita, Edy Irawan Arief, Neli Aida, Septi Aprilia, dan Andi Arief.

Pada pertengahan tahun 1952 hingga 1956 Buya sempat nonaktif menjadi Pegawai Negeri Sipil karena terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara (DPRDS) wilayah Lampung Tengah. Setelah tidak menjabat sebagai anggota Dewan, Buya kembali lagi menjadi Pegawai Negeri dan menjabat sebagai Kepala Staf Penerangan Agama pada KUA Ogan Komering Ulu. Setelah Lampung menjadi sebuah provinsi tahun 1964, Buya dimutasikan menjadi Kepala Kantor Penerangan Agama Provinsi Lampung di Telukbetung. Satu tahun kemudian masuk dalam Tim Screening PNS dengan tugas menyelidiki seluruh PNS yang ada di Provinsi Lampung yang diduga terlibat dalam Gerakan 30 September atau Partai Komunis Indonesia.

Selesai menjalankan tugas sebagai Tim Screening PNS, tahun 1966 Buya beralih menjadi Sekretaris Yayasan Perguruan Tinggi Islam (Yaperti) Lampung yang kini menjadi Institut Agama Islam Negeri Raden Intan Lampung. Tiga tahun sesudahnya dia diangkat menjadi Kepala Jawatan Penerangan Agama Provinsi Lampung hingga tahun 1973 dan tahun 1975 Buya menjadi pengurus sekaligus penasihat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lampung.

Satu tahun menjelang pensiun sebagai PNS, Buya menunaikan ibadah Haji. Setelah pensiun, Buya tetap aktif dalam dunia pendidikan, dakwah, dan politik. Hari-harinya selalu diisi dengan memberi pelajaran mengaji pada anak-anak di sekitar rumahnya. Dedikasinya terhadap dunia dahwah pun semakin meningkat dengan rutin mengisi ceramah agama untuk menyebarluaskan syiar Islam, meningkatkan kualitas keimanan masyarakat Lampung, dan memperkokoh nilai-nilai sosial-budaya masyarakat dengan rumusan amar makruf nahi mungkar; mengadakan aksi sosial bersama PWNU Lampung; mengisi kuliah subuh di RRI Tanjungkarang; menjadi wakil ketua Pengurus Masjid Al Furqon; pengurus Forum Komunikasi Umat Beragama bentukan Gubernur Lampung; dan menulis berbagai artikel keislaman di media massa lokal.

Sumber:
"M. Arief Mahya: Warga NU Selalu Enggan Mengawal Hasil Konferensi", diaksesd dari http://nu-lampung.or.id/blog/m-arief-mahya-warga-nu-selalu-enggan-mengawal-hasil-konferensi.html, tanggal 2 Agustus 2016. (Foto)

"K.H.M. Arief Mahya (1926-...): Jejak Langkah Kiai Pejuang", diakses dari http:// paratokohlampung.blogspot.co.id/2008/11/kh-m-arief-mahya-1926-jejak-langkah.html, tanggal 24 Juli 2016.

Heri Wardoyo, dkk. 2008. 100 Tokoh Terkemuka Lampung, 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Bandar Lampung: Lampung Post. Hlm. 63-67.
hal
Dilihat: