Kemidi Rudat

Kemidi Rudat merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional yang ada di daerah Nusa Tenggara Barat (NTB). Ada beberapa versi mengenai asal usul nama kesenian ini. Ada yang mengatakan bahwa rudat berasal dari kata “raudah” yang berarti “baris-berbaris”. Selain itu, ada pula yang mengatakan bahwa kata “rudat” berasal dari kata “soldat” (bahasa Belanda) yang berarti “serdadu” atau “tentara”.

Sebagai seni pertunjukkan, pementasan kemidi rudat dilakukan dalam bentuk tarian, nyanyian, dan dialog (pelakonan). Dialog sering berupa syair dan atau pantun. Dari cerita-cerita yang disajikan menunjukkan bahwa kesenian ini bernafaskan Islam. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika musik, nyanyian, dan tarian dalam kemidi rudat berbeda kesenian tradisi masyarakat NTB pada umumnya. Dalam konteks ini, jika pada umumnya kesenian tradisional masyarakat NTB dipengaruhi oleh unsur budaya Bali yang Hindu, maka untuk kesenian kemidi rudat dipengaruhi oleh budaya Timur Tengah dan Melayu yang Islam.

Peralatan
Peralatan musik yang digunakan dalam seni pertujukkan kemidi rudat meliputi: seperangkat gamelan dalam format kecil, rebana, tambur (jidur) dan biola. Sedangkan, irama musik yang dikumandangkan berbentuk “stambulan” dan “Melayuan”.

Pemain dan Busana yang Dikenakan
Pemain kemidi rudat terdiri atas 11 orang dengan rincian: seorang yang berperan sebagai raja, seorang yang berperan sebagai putera raja, seorang yang berperan sebagai puteri (sering disebut “nyonya”), dua orang yang berperan sebagai wazir, dua orang yang berperan sebagai khadam (pelawak), seorang yang berperan sebagai raja jin, dan seorang yang berperan sebagai kepala perampok. Jadi, sama dengan Teater Bangsawan (Kepulauan Riau), Teater Mamanda (Kalimantan Selatan), dan Dul Muluk (Sumatera Selatan). Sebagai catatan, pemain kemidi rudat semuanya laki-laki. Jadi, yang berperan sebagai nyonya pun juga laki-laki.

Adapun busana (pakaian) yang dikenakan oleh peran utama dan komandan adalah tarbus (tutup kepala), epolet berjumbai, baju dengan lengan panjang, celana yang kiri-kanannya bergaris, dan berpedang. Sementara, pemain pembantu lainnya: pakaian seragam, baju lengan panjang, bercelana panjang, berselempang, dan ber-tarbus. Sedangkan, peran khadam, nyonya dan Raja Jin/perampok berpakaian khas/tersendiri.

Tempat Pementasan
Sebagaimana seni pertunjukkan pada umumnya, kemidi rudat dapat dipentaskan di mana saja yang memiliki area cukup luas. Pengaruh Teater Bangsawan, pada gilirannya membuat pementasan kemidi rudat menggunakan panggung lengkap, disertai dengan dekor. Panggung tersebut dapat menggunakan atap atau terbuka. Dekor merupakan layar yang menggambarkan “lokasi” kejadian. Jadi, bisa lukisan istana, taman, hutan belantara, gua dan sebagainya.

Jalannya Pementasan
Pementasan kemidi rudat biasanya diawali dengan nyanyian-nyanyian kemudian dilanjutkan dengan cerita yang diselingi dengan banyolan-banyolan. Cerita-cerita yang dihidangkan bersumber dari cerita sastra Melayu lama atau cerita Seribu Satu Malam; biasanya menggunakan bahasa Melayu Lama. Cerita yang dibawakan bersifat “roman kehidupan” dan cerita-cerita kerajaan Melayu, dengan judul antara lain: “Siti Jubaedah”, Jula Juli Bintang Tujuh”, “Indera Bangsawan”, dan “Rohaya Rohani”. (Pepeng)

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1992. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara III. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
http://64.203.71.11/kompas-cetak/0411/26/tanahair/1371672.htm
http://www.suarantb.com
http://www.cybertokoh.com
hal
Dilihat: