Desa Jatibungur

Letak dan Keadaan Alam
Desa Jatibungur secara administratif berada dalam wilayah Kecamatan Darmaraja, Kabupaten Sumedang. Desa yang kemungkinan wilayahnya akan tergenang penuh dalam proyek pembangunan Waduk Jatigede ini secara geografis terbagi ke dalam dua dusun yang dipisahkan oleh jalan raya yang menuju Kecamatan Wado, yaitu: Dusun Jatisari yang berada di bagian selatan dan Dusun Cibungur di bagian utara. Dusun Jatisari sebelah barat berbatasan dengan Desa Darmajaya; sebelah barat daya berbatasan dengan Desa Rangon; sebelah selatan berbatasan dengan Desa Neglasari. Sementara, Dusun Cibungur sebelah barat hingga utara berbatasan dengan Desa Sukaratu; sebelah timur berbatasan dengan Desa Leuwihideung; sebelah tenggara berbatasan dengan Desa Sukamenak; dan sebelah selatan berbatasan dengan Desa Neglasari.

Desa Jatibungur berdiri sejak tanggal 22 Januari 1983, akibat dari pemekaran Desa Sukaratu. Nama Jatibungur sendiri diambil dari dua nama dusun yang ada di dalamnya, yaitu Dusun Jatiroko (sekarang Jatisari) dan Dusun Cibungur. Perpaduan dua nama desa tersebut memunculkan nama Jati(roke)(ci)bungur (baca: Jatibungur). Adapun nama-nama kepala desa yang pernah menjabat adalah: Taan Suryadi Sastra, Tasik, D. Sukarna, Rais Kusmana BP., M. Suherman, Wahidin I.H., dan Sahya Sukarya Putra (Chapucino, 1012).

Secara keseluruhan, luas Desa Jatibungur 118 ha, dengan rincian: sawah irigasi ½ teknis (90 ha), pemukiman penduduk (21 ha), pekarangan (0,05 ha), perkebunan (2,5 ha), tanah bengkok (0,57 ha), sawah desa (0,491 ha), lapangan olahraga (0,05), perkantoran pemerintah (0,14 ha), pemakaman (2 ha), sekolah (0,01 ha), terminal (0,31 ha), dan balong (1 ha). Sebagian besar wilayah desa ini (hanya menyisakan sekitar 2,5 ha), telah diambil alih pemerintah sebagai bagian dari Waduk Jatigede. Namun, karena proses pembangunan waduk tersendat-sendat, membuat banyak diantara warganya yang tetap bertahan dan belum pindah hingga sekarang.

Kependudukan
Penduduk Desa Jatibungur berjumlah 1858 orang, atau 617 Kepala Keluarga. Jumlah tersebut, jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, penduduk laki-laki berjumlah 924 orang laki-laki (50,3%), sedangkan penduduk perempuan berjumlah 934 orang (49,7%). Jika dilihat berdasarkan golongan usia, penduduk berusia 0-14 tahun ada 382 jiwa (20,56%), kemudian berusia 15-54 tahun ada 1.032 jiwa (55,54%), dan yang berusia 55 tahun ke atas 444 jiwa (23,90%). Ini menunjukkan bahwa penduduk Desa Jatibungur sebagian besar berusia produktif.

Mata Pencaharian
Jenis-jenis mata pencaharian yang digeluti oleh warga masyarakat Desa Jatibungur cukup beragam, tetapi sebagian besar bertumpu pada sektor pertanian (65,62%). Selebihnya, ada yang bekerja sebagai pegawai negeri di berbagai instansi pemerintah, seperti: kelurahan, kecamatan, pemerintah daerah, dan lain sebagainya _0.09%). Kemudian, ada juga yang menjadi pedagang kelontong, perajin, seniman, peternak (17,19%), karyawan swasta (13,77%), montir (0,44%), dan lain sebagainya. Untuk lebih jelasnya lihat tabel di bawah ini

Organisasi Pemerintahan dan Kemasyarakatan
Secara administratif dan teritorial, pemerintahan Desa Jatibungur terdiri dari Pemerintah Desa dan BPD. Pemerintah Desa terdiri dari Kepala Desa (kuwu) dan perangkat desa (sekretaris desa/juru tulis/ulis, Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat, Kepala Urusan Pemerintahan, Kepala Urusan Keuangan, dan Kepala Urusan Umum). Sementara BPD atau Badan Permusyawaratan Desa adalah perwakilan penduduk yang dipilih berdasarkan musyawaraf-mufakat yang terdiri dari Ketua Rukun Warga, pemangku adat, golongan profesi, pemuka agama, atau pemuka masyarakat lainnya. BPD adalah sebuah lembaga yang merupakan perwujudan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa sebagai unsur penyelenggara pemerintah desa.

Selain kedua oraganisasi pemerintahan tersebut, terdapat juga organisasi kemasyarakatan seperti Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Karang Taruna, dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD). LPMD merupakan perwujudan dari PP No.72 tahun 2005 pasal 89 yang mempunyai tugas: (a) menyusun rencana pembangunan secara partisipatif; (b) melaksanakan, mengendalikan, memanfaatkan, memelihara dan mengembangkan pembangunan secara partisipatif; (c) menggerakkan dan mengembangkan partisipasi, gotong royong dan swadaya masyarakat; dan (d) menumbuhkembangkan kondisi dinamis masyarakat dalam rangka pemberdayaan masyarakat. (Ali Gufron)

Sumber:
Charm Chapucino. 2012. “Asal Mula Desa Jatibungur (Sumedang)”. http://adf.ly/4174091/http:// charmcct.blogspot.com/2012/12/desa-jatibungur-berdiri-sejak-tanggal.html. Diakses 20 Agustus 2013.

Permainan Dentuman Lamban

Di daerah Abung Timur, Lampung Utara, terdapat sebuah permainan anak yang disebut dentuman lamban. Kapan dan dari mana permainan ini bermula sulit diketahui secara pasti. Namun, menurut informan permainan ini sudah dimainkan oleh anak-anak di sana sejak zaman penjajahan Belanda.

Permainan dentuman lamban dapat dimainkan oleh anak-anak dan orang dewasa laki-laki maupun perempuan. Namun, saat ini, secara umum dentuman lamban dimainkan oleh kaum perempuan terutama anak-anak yang berusia 6-12 tahun yang jumlah pemainnya bergantung dari jumlah papan permainan yang tersedia. Untuk satu papan permainan hanya dapat dimainkan oleh dua orang.

Papan permainan dentuman lamban terbuat dari kayu yang tebalnya kurang lebih 10 cm, lebar 20 cm, dan panjang 50 cm. Kayu tersebut diberi lubang-lubang (bundar) dengan kedalaman kurang lebih 5 cm. Jumlah lubang seluruhnya adalah 12 buah, dengan rincian 10 lubang dibuat dua jejer (masing-masing jejer 5 lubang), kemudian dua lubang yang agak besar di setiap ujungnya. Selain papan kayu, yang saat ini mulai tergantikan dengan plasik, permainan ini juga menggunakan cangkang-cangkang kerang yang jumlahnya antara 50-70 biji untuk mengisi lubang yang tersedia. Kerang-kerang tersebut nantinya akan dibagi dua untuk masing-masing pemain.

Adapun proses permainannya adalah sebagai berikut. Permainan dimulai dengan memasukan biji-biji ke dalam lubang-lubang yang ada di dalam papan permainan, kecuali dua buah lubang besar saja yang berada di ujung papan. Kedua lubang ini tidak boleh diisi. Jumlah biji pada setiap lubang adalah sama. Jika jumlah seluruh biji yang disepakati adalah 70 biji, maka setiap lubang akan diisi oleh 7 biji cangkang kerang. Kemudian salah satu pemain yang mendapat kesempatan pertama akan mengambil semua biji dari lubang paling ujung yang ada di daerahnya sendiri. Biji-biji tersebut kemudian akan diedarkan satu persatu dengan arah yang berlawanan jarum jam ke setiap lubang yang ada di papan perminan, kecuali satu lubang besar (miliknya sendiri), maka biji tersebut merupakan nilai bagi pemain yang bersangkutan. Namun, jika bini yang terakhir jatuh ke lubang yang masih ada bijinya, maka pemain mengambil biji-biji tersebut untuk diedarkan kembali. Dengan demikian seterusnya hingga suatu saat biji terakhir jatuh pada lubang yang kosong. Jika itu terjadi, maka pemain yang lain (lawan mainnya) akan menggantikannya. Permainan akan berlangsung terus hingga biji-biji yang berada di lubang-lubang kecil seluruhnya masih ke dua buah lubang besar di ujung papan permainan milik kedua pemain. Bagi pemain yang mendapatkan biji terbanyak akan menjadi pemenangnya. (ali gufron)

Sumber:
Hindun (54 Tahun)
Desa Peraduan Waras, Kecamatan Abung Timur, Kabupaten Lampung Utara

Cambay

Cambay adalah sebutan masyarakat Lampung Utara bagi sejenis tanaman merambat yang dapat mencapai panjang hingga 15 meter. Tanaman berakar tunggang ini memiliki batang berwarna cokelat kehijauan berbentuk bulat, dan beruas. Daunnya berbentuk jantung, berujung runcing dengan panjang antara 5-8 centimeter dan belas 2-5 centimeter. Bungannya berbentuk bulir dengan panjang antara 1,5-3 centimeter untuk bulir jantan dan 1,5-6 centimeter untuk bulir betina. Sementara buahnya berbentuk bulat dan berwarna hijau keabu-abuan.

Sebelum ada obat-obatan modern buatan pabrik yang lebih praktis dan dapat dibeli dengan harga relatif murah, ibu-ibu di daerah Lampung Utara memanfaatkan tanaman cambay untuk mengobati berbagai macam penyakit. Adapun caranya adalah dengan menumbuk, meremas, memanggang, dan merebus daun cambay untuk dioleskan pada bagian tubuah dan atau dijadikan sebagai minuman.

Tanaman cambay dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit, diantaranya: (1) Kemian atau borok dengan cara menggiling satu atau dua lembar daun cambay lalu ditempelkan pada bagian borok; (2) jawak (jerawat) atau munculnya benjolan merah di wajah akibat peradangan yang akhirnya mengeluarkan nanah. Jawak diobati dengan menumbuk halus sejumlah 7-10 lembar daun cambay lalu seduh dalam dua gelas air panas. Air seduhannya gunakan untuk mencuci muka 2-3 kali sehari; (3) mimisan atau keluar darah dari lubang hidung. Mimisan diobati dengan mememarkan dan menggulung selembar daun cambay muda lalu disumbatkan pada hidung yang berdarah; (4) haiyek atau masuknya sesuatu ke dalam saluran pernapasan yang dapat berupa lendir, debu, maupun benda lainnya. Pengobatan haiyek dilakukan dengan merebus beberapa lembar daun cambay hingga mendidih dan setelah dingin diminum sebanyak dua gelas dalam satu hari; (5) Bagi ibu yang baru melahirkan dan memiliki ASI berlebih dapat mengkonsumsi cambay agar volume airnya berkurang. Adapun caranya dengan mencuci bersih beberapa helai daun cambay lelu mengolesi permukaannya dengan minyak kelapa. Kemudian hangatkan dekat perapian sampai layu dan tempelkan di seputar payudara; (6) bau badan, dengan merendam beberapa lembar daun cambay dalam satu gelas air panas. Setelah hangat campur dengan satu sendok teh gula lalu diminum; (7) bau ketiak karena adanya bakteri bercampur dengan keringat. Pengobatannya dengan mencampur daun cambay bersama kapur lalu remas-remas dan olehkan pada bagian ketiak; (8) menghilangkan bau mulut dengan mencuci bersih daun cambay lalu remas-remas dan kemudian celup dalam air hangat untuk berkumur; (8) luka bakar yang menimbulkan panas, nyeri, kulit berwarna kemerahan atau hitam hingga melepuh dapat diobati dengan menumbuk beberapa helai daun cambay lalu ditempelkan bada bagian yang terkena trauma panas; (9) sariawan atau luka pada mulut berbentuk bercak putih kekuningan dengan permukaan agak cekung akibat tergigit, benturan dengan sikat gigi, atau infeksi bakteri. Sariawan dapat diobati dengan dengan mencuci bersih daun cambay lalu mengunyahnya hingga lumat; (10) meredakan mata gatal dan merah dengan mencuci bersih 5-6 helai daun cambay muda lalu rebus dalam dua gelas air sampai mendidih. Selanjutnya, diamkan hingga dingin dan gunakan mencuci mata sejumlah tiga kali dalam satu hari pada pagi, sore, dan malam hari; (11) menghilangkan keputihan dengan cara merebus daun cambay sejumlah 10-15 helai dalam 2,5 liter air hingga mendidih. Apabila telah hangat, air rebusannya gunakan untuk mencuci vagina; dan (12) merapatkan daerah kewanitaan dengan cara merebus beberapa helai daun cambay dengan 2-4 gelas air hingga tinggal 1,5 gelas saja. Setelah agak hangat, saring rebusan cambay tersebut dan minum pada pagi hari sebelum sarapan. (ali gufron)

Sumber:
Hindun (54 Tahun)
Desa Peraduan Waras, Kecamatan Abung Timur, Kabupaten Lampung Utara

Permainan Pecey

Pecey adalah sebutan anak-anak di Desa Peraduan Waras, Lampung Utara, bagi benda yang dalam bahasa Indonesia berarti kelereng. Jadi, permainan pecey sama dengan bermain buah kelereng. Dalam permainan ini pecey yang dijadikan sebagai gacu akan dilontarkan ke dalam sebuah lingkaran yang di dalamnya terdapat pecey-pecey lain sebagai taruhannya. Permainan pecey dapat dikategorikan sebagai permainan anak-anak yang pada umumnya dilakukan oleh anak lelaki berusia 7-15 tahun dengan jumlah antara 2-6 orang.

Untuk dapat bermain pecey tidak membutuhkan tempat (lapangan) khusus. Ia dapat dimainkan di mana saja, asalkan di atas tanah. Jadi, dapat di tanah lapang atau di pekarangan rumah karena arena permainannya hanya sebuah lingkaran berdiameter 7-10 cm dengan jarak garis batas lemparan sekitar 6-10 meter. Aturan permainannya pun juga tergolong sederhana, yaitu pemain akan dinyatakan menang apabila gacunya dapat mengeluarkan pecey taruhan di dalam lingkaran lebih banyak daripada lawan mainnya.

Adapun proses permainannya sendiri dibagi menjadi tiga tahap. Pertama, tahap pengundian sebelum permainan dimulai dengan cara melontarkan pecey ke arah lingkaran. Pemain yang dapat memasukkan becey-nya ke dalam lingkaran akan memulai permainan. Namun, apabila tidak ada seorang yang dapat memasukkan becey-nya ke dalam lingkaran, maka pecey yang paling dekat dengan lingkaran akan memulai bermainan. Tahap kedua, pemain yang mendapat kesempatan memulai permainan akan mengumpulkan becey taruhan dari setiap pemain untuk ditaruh di dalam lingkaran. Tahap ketiga, pemain akan melontarkan peceynya untuk mengenai pecey-pecey yang berada dalam lingkaran. Apabila dapat mengeluarkan pecey taruhan dari dalam lingkaran, maka pecey tersebut menjadi milik si pelontar dan selanjutkan akan melontarkan kembali pecey gacoannya. Begitu seterusnya, hingga seluruh pecey dalam lingkaran habis. Namun, apabila tidak ada satu pecey pun yang dapat dikeluarkan dari lingkaran, pelontar harus digantikan oleh pemain lain. Dan, pemenangnya adalah pemain yang baling banyak mendapatkan pecey taruhan. (gufron)

Sumber:
Hindun (54 Tahun)
Desa Peraduan Waras, Kecamatan Abung Timur, Kabupaten Lampung Utara.

Museum Sandi

Sejarah
Museum Sandi berada di Jalan Faridan Muridan Noto Nomor 21, Kotabaru, Yogyakarta. Sesuai dengan namanya, museum yang konon merupakan satu-satunya di dunia ini menyimpan atau mengkoleksi benda-benda yang berhubungan dengan penerimaan dan atau pengiriman pesan-pesan rahasia berbentuk sandi sejak zaman perang kemerdekaan Indonesia hingga sekarang.

Pendirian museum ini berawal dari gagasan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X yang berkeinginan untuk menempatkan koleksi persandian di Museum Perjuangan Yogyakarta. Keinginan tersebut disampaikan pada bulan Maret tahun 2006 saat menerima kunjungan Widyakarya Mahasiswa Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN)1. Oleh Mayjen TNI Nachrowi Ramli yang saat itu menjabat sebagai Kepala Lembaga Sandi Negara, gagasan Sultan langsung ditindaklanjuti dengan membentuk Tim Persiapan Pembangunan Monumen Sandi dan Mengisi Koleksi Persandian di Museum Perjuangan yang kemudian dikenal dengan nama Tim Museum Sandi2.

Tim Museum Sandi dibentuk pada tanggal 24 Maret 2006 melalui Surat Keputusan Kepala Lembaga Sandi Negara RI No.KP.601/SP.373/2006, terdiri atas 2 orang penasihat, 1 orang koordinator, dan 5 orang anggota2. Adapun tugasnya secara garis besar adalah: (a) mengumpulkan data dan informasi untuk koleksi Museum Sandi melalui wawancara dengan para pelaku sejarah persandian, studi pustaka, studi banding ke berbagai museum dan penyelenggaraan Seminar Sejarah Persandian; (b) mengumpulkan dan memilih koleksi Museum Sandi; (c) membuat sarana dan prasarana pameran Museum Sandi; (d) membuat perjanjian kerjasama antara Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar); (e) menyusun dan menata koleksi Museum Sandi di ruang pamer; dan (f) Meresmikan Museum Sandi.

Kemudian, susunan tim bertambah lagi menjadi 9 orang berdasarkan Surat Keputusan Kepala Lembaga Sandi Negara RI No.KP601/SP.554/2006. Namun, karena padatnya kegiatan, maka susunan tim ditambah lagi menjadi 13 orang (termasuk 1 orang penanggung jawab dan 1 orang koordinator) melalui Surat Keputusan Kepala Lembaga Sandi Negara RI No.KP.601/KEP.116.A/2007 dengan masa kerja hingga bulan Desember 2007. Dan terakhir, untuk menyesuaikan situasi dan kondisi di lapangan, dikeluarkanlah Surat Keputusan oleh Kepala Lembaga Sandi Negara RI No.KP.601/SP.740/2008 tentang penerusan pekerjaan anggota tim sampai dengan peresmian museum serta pembentukan tim khusus menangani pembuatan aplikasi Multimedia dan Game Museum Sandi (Amigamusa).

Setelah tim menyelesaikan tugasnya, pada tanggal 29 Juli 2008 Museum Sandi akhirnya diresmikan. Lokasinya berada di lantai dasar Museum Perjuangan (yang telah direnovasi akibat gempa 27 Mei 2006) di Jalan Kolonel Sugiyono No. 24, Kecamatan Brontokusuman. Peresmiannya dilakukan langsung oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Kepala Lembaga Sandi Negara. Sedangkan pengelolaan dan pengembangannya diserahkan kepada Bagian Humas dan Kerjasama (Humajas), Biro Perencanaan, Hukum, Kepegawaian dan Hubungan Masyarakat (Biro PHKH), Sekretariat Utama, Lembaga Sandi Negara.

Agar tidak menginduk lagi pada Museum Perjuangan, pada pertengahan bulan Juli 2013 pihak Lembaga Sandi Negara melakukan kerjasama dengan Pemerintah Daerah Yogyakarta dalam bentuk peminjaman Gedung Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah guna dimanfaatkan sebagai ruang pamer Museum Sandi. Peminjaman gedung di Jalan Faridan Muridan Noto No. 21 ini diperkuat oleh Surat Keputusan Gubernur DIY No.51/Kep/2013 tentang persetujuan pinjam pakai barang milik daerah kepada Lembaga Sandi Negara. Surat Keputusan Gubernur tersebut kemudian diatur lebih lanjut dalam sebuah perjanjian antara Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Lembaga Sandi Negara No.3/PERJ/SEKDA/IV/2013 dan PERJ.074/SU/HK.08.01/04/2013 tentang pinjam pakai barang Pemerintah Daerah1.

Koleksi Museum Sandi
Museum Sandi didirikan dengan tiga tujuan luhur, yaitu: (a) untuk menampilkan dan memelihara koleksi sandi yang bernilai sejarah guna menambah pengetahuan dan wawasan pengunjung tentang dunia persandian; (b) sebagai wanaha dan media pembelajaran bagi masyarakat, khususnya generasi muda mengenai peranan sandi dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan negara kesatuan Republik Indonesia, dan (c) sebagai sarana sosialisasi persandian kepada masyarakat luas1.

Sesuai dengan tujuannya, maka museum didominasi oleh benda-benda bersejarah yang berhubungan dengan dunia persandian. Benda-benda tersebut di bagi ke dalam beberapa alur yang ditentukan oleh pihak pengelola museum, yaitu: (a) sejarah persandian dalam lingkup sejarah Indonesia (termasuk pada masa merebut dan mempertahankan Kemerdekaan RI) dan sejarah persandian dunia; (b) sejarah perkembangan ilmu persandian yang dibagi menjadi dua yaitu Sistem Kriptografi Klasik (Caesar Cipher, Albert Disc, Cardan Grille, Vigenere) dan Sistem Kriptografi Modern (Algoritma DES, Pertukaran Kunci Diffie Hellman, RSA dan Rijndael (AES)); dan (c) alur evolusi peralatan sandi buatan Indonesia dan luar negeri yang pernah digunakan dalam kegiatan persandian3.

Adapun penempatan koleksinya (berdasarkan alur) dibagi ke dalam beberapa ruang, yaitu: ruang intriduksi, ruang Agresi Militer I, replika kamar sandi, ruang Agresi Militer II, ruang Nusantara, ruang tokoh (Halla of Fame), ruang sandi global, ruang edukasi, dan perpustakaan4. Di dalam setiap ruang diisi oleh benda-benda yang berkaitan dengan penamaan ruangannya, seperti: (a) audio visual berisi pengantar ilmu tentang sandi dari masa Mesir kuni hingga sekarang di ruang introduski; (b) barang asli asli atau replika mesin/peralatan sandi, meubeler, tag, sepeda, patung/manekin, etalase (barang keseharian pelaku sejarah sandi), slide system; (c) dokumen berupa buku kode dan lembaran kertas bersandi; (d) foto, peta, dan lukisan kegiatan sandi di dalam perundingan; (e) diorama di Pedukuhan Dukuh dan kegiatan kurir sandi; (e) foto orang-orang yang pernah berjasa dalam persandian Indonesia; dan (f) fasilitas multimedia berteknologi touchscreen.

Sebagai catatan, apabila berminat mengunjungi dan menyaksikan peralatan persandian yang pernah digunakan oleh bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaannya, Museum Sandi dibuka secara gratis untuk umum dari hari Senin-Minggu (kecuali hari besar nasional) dengan perincian: Senin-Kamis pukul 08.30-15.30 WIB, Jumat pukul 08.30-16.00 WIB, sedangkan Sabtu dan Minggu pukul 09.00-12.00 WIB. (ali gufron)

Foto: http://jogja.tribunnews.com/2015/05/28/menilik-bagian-perjalanan-sejarah-bangsa-di-museum-sandi-yogyakarta
Sumber:
1. "Museum Sandi", diakses dari https://gudeg.net/direktori/5215/museum-sandi.html, tanggal 2 November 2015.
2. "Sejarah", diakses dari http://museumsandi.blogspot.co.id/2013/04/sejarah.html, tanggal 2 November 2015.
3. "Museum Sandi", diakses dari http://www.lemsaneg.go.id/?page_id=131, tanggal 2 November 2015.
4. "Museum Sandi", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Sandi, tanggal 3 November 2015.

Museum Jamu Nyonya Meneer

Sejarah
Bila mendengar nama Nyonya Meneer bayangan kita akan tertuju pada bahan-bahan tradisional yang diramu sedemikian rupa hingga menjadi obat yang disebut sebagai jamu. Hal ini tidaklah salah karena Nyonya Meneer memang merupakan salah satu produsen jamu di tanah air yang sudah ada sejak tahun 1919. Pendirinya adalah Nyonya Meneer sendiri alias Lauw Ping Nio yang lahir di Sidoarjo, Jawa Timur pada tahun 18951.

Awal pendirian perusahaan jamu ini bermula ketika suami Nyonya Meneer sakit keras. Oleh karena waktu itu kehidupan sedang memasuki masa sulit akibat pendudukan Belanda, Nyonya Meneer mencoba meramu sendiri bahan-bahan tradisional dari rempah maupun tumbuhan guna mengobati Sang suami. Tanpa dinyana, ramuan tradisional warisan orang tua Nyonya Meneer yang biasa disebut sebagai jamu tersebut dapat menyembuhkannya2. Dan, sejak saat itu dia tidak hanya membuat jamu bagi suaminya saja, tetapi juga bagi orang-orang di sekitarnya (keluarga, tetangga, dan kerabat) yang terserang demam, sakit kepala, masuk angin, dan berbagai penyakit ringan lainnya.

Oleh karena orang yang ingin merasakan khasiat jamunya semakin hari bertambah banyak, maka atas dorongan keluarga Nyonya Meneer kemudian mengemas jamu buatannya untuk dipasarkan secara luas. Jamu kemasan itu selanjutnya dicantumkan nama serta cap foto Nyonya Meneer sendiri sebagai merek dagangnya. Adapun pemasarannya melalui toko perdananya di Jalan Pedamaran 92, Semarang. Kemudian, pada tahun 1940 cabang baru pun dibuka di Jalan Juanda, Pasar Baru, Jakarta. Dan, seiring dengan waktu bisnis keluarga dengan merek dagang Jamu Cap Nyonya Meneer mulai berkembang dan sekaligus menjadi cikal bakal industri jamu di Indonesia.

Sebagai apresiasi bagi jasa Nyonya Meneer, atas gagasan Ibu Tien Soeharto yang saat itu masih menjadi ibu negara, maka pada 18 Januari 1984 dibangunlah Museum Jamu Nyonya Meneer di Jalan Kaligawe Km 4, Semarang, Jawa Tengah. Tujuan lainnya adalah sebagai wahana rekreasi sekaligus edukasi bagi generasi muda agar dapat lebih mengenal serta mempelajari warisan budaya bangsa yang telah diturunkan dari generasi ke generasi.

Koleksi dan Kondisi Museum Jamu Nyonya Meneer
Berada di musem ini serasa menapak-tilasi perjalanan karier Nyonya Meneer sebagai produsen jamu tradisional. Dengan bentuk bangunan museum berupa joglo dua tingkat seluas sekitar 150 meter persegi pengunjung akan diajak menyaksikan "sejarah" bagaimana proses pembuatan jamu yang dilakukan oleh Nyonya Meneer sendiri hingga akhirnya menjadi sebuah perusahaan jamu terbesar di Indonesia.

Pada lantai dasar museum difungsikan sebagai ruang serbaguna dan penerima tamu dalam bentuk rombongan. Di tempat inilah rombongan yang datang akan diberi penjelasan singkat mengenai kisah berdirinya perusahaan jamu cap Nyonya Meneer3. Sementara lantai di atasnya difungsikan sebagai tempat pameran koleksi seputar proses produksi jamu dari mulai zaman Nyonya Meneer hingga ke generasi penerusnya saat ini, berupa: buku yang digunakan untuk mencatat racikan jamu; baju yang pernah dikenakan oleh Nyonya Meneer; foto-foto Nyonya Meneer; patung tiruan tiga orang perempuan berpakaian tradisional tengah menumbuk bahan-bahan pembuat jamu; perabot rumah tangga (meja, kursi, lemari, botekan/laci untuk menyimpan resep, dacin/alat timbang tradisional, dan tempat jamu dari kuningan); dan peralatan tradisional pembuat jamu (lumpang, alu, pepesan, serta cuwo).

Selain gedung penyimpanan koleksi, Museum Nyonya Meneer juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang sebagaimana layaknya tempat wisata lainnya di Indonesia, seperti: restoran, spa, gazebo, areal parkir, toilet, mushola, dan sebuah taman seluas dua hektar berisi sekitar 600 jenis tanaman sebagai bahan racikan jamu. Di taman ini, selain dapat menikmati udara segar sambil meminum air jahe gratis, kadang juga dapat menyaksikan demonstrasi yang telah disiapkan pihak museum mengenai hal-hal yang terkait dengan bahab-bahan pembuatan jamu.

Bagaimana? Anda berminat mengunjungi dan menikmati seluruh koleksi Museum Jamu Nyonya Meneer? Sebagai catatan, museum ini dibuka untuk umum tanpa tiket alias gratis dari hari Senin-Jumat pukul 09.00-16.00 WIB. Tetapi apabila ingin berada di areal taman, barulah dikenakan biaya sebesar Rp. 7.500,00 dan tambahan Rp. 15.000,00 bila ingin menyaksikan demontrasi dari pengelola taman museum. (ali gufron)

Foto: http://www.jalansanasini.com/mengunjungi-7-obyek-wisata-semarang.html
Sumber:
1. "Nyonya Meneer", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Nyonya_Meneer, tanggal 1 November 2015.

2. "Profile", diakses dari http://njonjameneer.com/index.php/profile, tanggal 1 November 2015.

3. "Wisata Semarang Museum Jamu Nyonya Meneer", diakses dari http://wisatadisemarang. com/wisata-semarang-museum-jamu-nyonya-meneer/, tanggal 2 November 2015.

Desa Leuwihideung

Letak dan Keadaan Alam
Desa Leuwihideung secara administratif berada dalam wilayah Kecamatan Darmaraja, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, yang seluruh wilayahnya diperkirakan bakal tergenang dan menjadi bagian dari Waduk Jatigede. Secara geografis sebelah utara desa ini berbatasan dengan Desa Cibogo, selatan dengan Desa Sukamenak, timur dengan Desa Padajaya Kecamatan Wado, dan sebelah baratnya dengan Desa Jatibungur. Wilayahnya berada pada dataran rendah berkentinggian antara 120-261 meter di atas permukaan air laut dengan kemiringan antara 25°-45°.

Jarak Desa Leuwihideung dengan pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat (Gedung Sate) kurang lebih 54 kilometer. Sedangkan, dengan pusat pemerintahan Kabupaten Sumedang kurang lebih 29 kilometer dan dengan pusat pemerintahan Kecamatan Darmaraja kurang lebih 3 kilometer ke arah selatan. Meskipun letak desa berada tidak begitu jauh dengan pusat pemerintahan Kabupaten Sumedang, tetapi untuk mencapainya relatif sulit karena sarana jalan yang harus dilalui tidak layak (rusak). Tidak adanya perbaikan jalan di desa ini adalah akibat rencana pembangunan Waduk Jatigede. Gubernur Jawa Barat waktu itu pernah mengeluarkan Surat Keputusan No.181.1/Pem/UM/1981 tentang pelarangan membangun sarana fisik di areal rencana genangan. Akibatnya, infrastruktur di daerah-daerah rencana genangan tidak pernah diperbaiki sampai sekarang (Sutisna, 2011).

Secara keseluruhan, Luas Desa Leuwihideung mencapai 350 ha, dengan rincian: pemukiman penduduk (30,30 ha), sawah irigasi teknis dan setengah teknis (128 ha), (tegalan (80 ha), kas desa (39,175 ha), tanah bengkok (1,665 ha), perkantoran pemerintah (8,0 ha), pemakaman (2 ha), sarana peribadatan (mesjid dan mushola) (0,042 ha), sarana pendidikan (Sekolah Dasar) (0,365 ha), sarana kesehatan (posyandu) (0,03 ha), dan sarana olahraga (0,07 ha) (KKNM Unpad Leuwihideung, 2013).

Kependudukan
Penduduk Desa Leuwihideung berjumlah 1.582 orang, atau 528 KK. Jika dilihat berdasarkan jenis kelaminnya, jumlah perempuannya mencapai 784 orang, sedangkan penduduk berjenis kelamin laki-laki berjumlah 798 orang. Jika dilihat berdasarkan angkataan kerja, penduduk yang berusia antara 18-56 tahun sebanyak 1.263 orang. Dari jumlah tersebut yang masih sekolah dan tidak bekerja ada 27 orang (2,14%), menjadi ibu rumah tangga sebanyak 217 orang (17,18%), bekerja penuh sebanyak 21 orang (1,66%), tidak mempunyai pekerjaan tetap sejumlah 1.0215 orang (80,35%), dan tidak dapat bekerja karena menderita cacat sejumlah 2 orang (0,16%).

Pola Pemukiman
Pemukiman penduduk Desa Leuwihideung umumnya berjajar dan menghadap ke jalan. Arah rumah yang berada bukan di pinggir jalan pun arahnya mengikuti yang ada di pinggir jalan. Jumlah rumah yang ada di desa tersebut ada 501 buah. Dari ke-501 buah rumah tersebut, 409 buah diantaranya berbentuk rumah permanen (berdinding tembok, beratap genteng, dan berlantai semen atau keramik). Sisanya, ada yang hanya sebagian berdinding tembok, kayu/papan, dan bambu (92 rumah). Jarak antarrumah bergantung daerah pemukimannya, pada daerah yang berdekatan dengan kantor desa umumnya jarak antarrumah berdekatan. Namun, semakin ke arah persawahan dan perladang jarak itu semakin renggang atau jauh.

Mata Pencaharian
Jenis-jenis mata pencaharian yang digeluti oleh warga masyarakat Desa Leuwihideung cukup beragam, tetapi sebagian besar tidak mempunyai matapencaharian tetap (67,54%). Urutan kedua adalah bertani, terdiri dari buruh tani (12,23%) dan petani pemilik sawah/ladang (16,51%). Urutan ketiga adalah tukang ojeg (1,45%), disusul oleh Pegawai Negeri Sipil (0,78%), tukang kayu (0,61%), Polri (0,33%), pedagang (0,28%), pembantu rumah tengga (0,11%), dan penjahit (0,11%).

Pendidikan dan Kesehatan
Sarana pendidikan yang terdapat di Desa Leuwihideung hanya berupa 2 buah Sekolah Dasar (SDN Leuwihideung dan SDN Cihideung) serta sebuah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). PAUD di desa ini menampung 35 siswa dengan jumlah pengajar sebanyak 3 orang. Sedangkan Sekolah Dasar menampung 162 siswa dengan jumlah tenaga pengajar sebanyak 12 orang. Gambaran tersebut menujukkan bahwa sarana pendidikan yang dimiliki oleh Desa Leuwihideung hanya sampai Sekolah Dasar.

Sementara untuk sarana kesehatan hanya ada tiga buah Posyandu dan dua buah dasawisma dengan tenaga medis sebanyak 42 orang, terdiri atas: seorang bidan, 15 orang kader posyandu aktif, dan 26 orang pengurus Dasawisma aktif. Selain itu, ada juga seorang dukun beranak atau paraji yang siap membantu kaum perempuan melahirkan.

Agama dan Kepercayaan
Agama yang dianut oleh warga masyarakat Desa Leuwihideung adalah Islam. Aktivitas keagamaan yang rutin mereka lakukan adalah pengajian dan qasidahan. Untuk pengajian, kaum perempuan Leuwihideung telah memiliki jadwal rutin, yaitu: pada hari Selasa di Dusun Nangkod, Rabu di Dusun Nangewer, Kamis di Dusun Lemata, Jumat di Dusun Leuwiloa, Sabtu di Dusun Citapen, dan Minggu di Dusun Cihideung. Sedangkan qasidahan yang juga diikuti oleh kaum perempuan sifatnya tidak rutin, hanya saat ada event tertentu saja seperti memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Namun demikian, kehidupan beragama warga masyarakat desa ini masih ada yang dipengaruhi oleh kepercayaan-kepercayaan berbau animisme, dinamisme, dan kekuatan magis lainnya yang tercermin dari berbagai kepercayaan terhadap makhluk-makhluk halus, upacara yang berkenaan dengan roh nenek moyang (para leluhur atau karuhun), upacara di lingkaran hidup individu, dan perilaku tertentu untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan.

Kepercayaan terhadap roh nenek moyang tercermin dalam perilaku jaroh dan nyekar atau ziarah ke makam yang dianggap keramat. Tujuannya adalah untuk mendoakan roh yang ada di makam tersebut. Menurut Lubis (2010), Makam keramat berupa situs-situs yang ada di Leuwihideung sebagian merupakan peninggalan masa prasejarah (terlihat dari tradisi megalit yang ada), masa Kerajaan Tembong Agung/Sumedanglarang, dan sebagian lagi makam leluhur pendiri desa. Situs-situs tersebut diantaranya adalah: (1) Situs Nangewer, berupa makam kuna (keramat) Embah Mohammad Abrul Saka di Dusun Nangewer; (2) Situs Leuwiloa, berupa makam keramat Embah Wacana di Dusun Leuwiloa; (3) Situs Tembongagung, berupa patilasan Kerajaan Tembongagung yang sudah sulit dikenali dan hanya ditemukan sebaran keramik Cina dari masa Dinasti Ming, berlokasi di Dusun Muhara; (4) Situs Muhara, berupa makam keramat Eyang Marapati dan Eyang Martapati; (5) Situs Marongpong, berupa makam keramat Embah Sutadiangga dan Embah Jayadiningrat, pendiri Dusun Cihideung; (6) Situs Nangkod, berupa makam keramat Embah Janggot Jaya Prakosa di Dusun Nangkod; (7) Situs Sawah Jambe di Dusun Sawah Jambe berupa tiga buah batu berdiri; (8) Situs Lameta di Dusun Lameta berupa makam keramat Embah Dira dan Embah Toa, pendatang dari Betawi yang membedah aliran Cihaliwung dan Cisadane. Ketua tokoh ini juga diceritakan sebagai laladong (tempat berobat) Prabu Siliwangi; dan (9) Situs Betok, berupa komplek makam di Dusun Betok.

Organisasi Pemerintahan dan Kemasyarakatan
Secara administratif dan teritorial, Desa Leuwihideung terbagi ke dalam 3 dusun (Lemata, Cihideung, dan Leuwiloa) serta 5 kampung, yaitu: Nangewer, Nangkod, Citapen, Betok, Muhara, dan Sawah Jambe. Tampuk pimpinan tertinggi desa dipegang oleh seorang kepala desa (Kades) yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai “kuwu”. Dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh seorang sekretaris desa yang lebih dikenal sebagai “juru tulis” dan sering disingkat menjadi “ulis”. Ia bertugas mengkoordinir pemerintahan, kesejahteraan rakyat, perekonomian dan pembangunan, keuangan, serta kemasyarakatan (umum). Untuk melaksanakan tugas itu ia dibantu oleh seorang: Kaur (kepala Urusan) Kesejahteraan Rakyat, Perekonomian dan Pembangunan, kemasyarakatan, dan trantib. Dengan demikian, perangkat Desa Cihideung, termasuk dengan kepala desanya, berjumlah 10 orang.

Selain perangkat desa, Leuwihideung juga memunyai organisasi kemasyarakatan lainnya yaitu: Badan Perwakilan Desa (BPD) beranggotakan 7 orang, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD) beranggotakan 7 orang, Karang Taruna beranggotakan 15 orang, Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) beranggotakan 15 orang, 4 unit kelompok usaha tani dengan jumlah pengurus sebanyak 45 orang, dan 4 unit organisasi perempuan dengan jumlah pengurus sebanyak 68 orang. (ali gufron)

Sumber:
Nanang Sutisna. 2011. “Menanti Rampung Megaproyek Jatigede” http://www.kabar-priangan .com/news/detail/2080. Diakses 18 Agustus 2013.

KKNM Unpad Desa Leuwihideung 2013. http://kknm.unpad.ac.id/leuwihideung/. Diakses 19 Agustus 2013.

Nina Herlina Lubis. 2010. “Mengenal Situs Jatigede”. http://wadosumedang.wordpress.com /2010/02/13/situs-jadi-gede/. diakses 23 Agustus 2013.

Popular Posts

-