Museum Ullen Sentalu

Sejarah Museum
Museum Ullen Sentalu berada di Jalan Boyong Km 25, Kaliurang Barat, Sleman, Yogyakarta. Museum ini merupakan representasi dari kehidupan para bangsawan dinasti Mataram, khususnya hasil-hasil budaya mereka yang bersifat intangible mencakup keseluruhan ekspresi, pengetahuan, praktek, dan keterampilan. Sebagaimana diketahui, Mataram (Islam) merupakan sebuah kerajaan di Pulau Jawa yang didirikan oleh dinasti keturunan Ki Ageng Sela dan Ki Ageng Pemanahan pada sekitar abad ke-17. Awalnya kerajaan ini hanya berupa sebuah kadipaten di bawah Kesultanan Pajang yang berpusat di Bumi Mentaok. Pada tahun 1558 Sultan Pajang menghadiahkan wilayah Bumi Mentaok kepada Ki Ageng Pemanahan atas jasanya mengalahkan Arya Penangsang1.

Mataram pernah mencapai masa kejayaannya pada saat berhasil menyatuhan tanah Jawa dan sekitarnya (Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Madura). Bahkan, saat diperintah oleh Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo, berkoalisi dengan Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon, pernah berusaha memerangi VOC di Batavia yang berusaha memperluas kekuasaannya1. Namun, karena terjadi kekacuan politik yang menyebabkan perpecahan internal, akhirnya VOC dapat menyusup dan bahkan memecah-belah keraton melalui sebuah perjanjian di daerah Giyanti (sebelah timur Karanganyar) pada tanggal 13 Februari 1755. Sesuai dengan lokasinya, perjanjian itu kemudian dinamakan sebagai Perjanjian Giyanti.

Melalui perjanjian Giyanti pihak Mataran yang diwakili oleh Sunan Pakubuwana III dan Pangeran Mangkubumi terpaksa menandatangani kesepakatan dengan VOC. Adapun isi perjanjiannya berupa pembagian wilayah Mataran menjadi dua bagian: sebelah timur Kali Opak dikuasai oleh Sunan Pakubuwana III yang berkedudukan di Surakarta, sedangkan wilayah sebelah barat diserahkan kepada Pangeran Mangkubumi yang diangkat menjadi Sultan Hamengkubuwana I dan berkedudukan di Yogyakarta. Perjanjian ini merupakan penanda berakhirnya Kesultanan Mataram, baik secara de facto maupun de jure menjadi dua buah kerajaan baru, yaitu Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat2.

Seiring dengan waktu kedua kerajaan baru tersebut terjadi perpecahan lagi. Pada tanggal 17 Maret 1757 Kasunanan Surakarta terpaksa membagi wilayah kekuasaannya kepada Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) melalui Perjanjian Salatiga. Raden Mas Said diberi wilayah kekuasaan berstatus kadipaten yang kemudian diberi nama Praja/Kadipaten Mangkunegaran. Berdasarkan perjanjian ini Raden Mas Said yang diberi gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangku Nagara Senopati Ing Ayudha berhak atas 49% wilayah Kasunanan Surakarta atau yang saat ini mencakup bagian utara Kota Surakarta (Kecamatan Banjarsari, Surakarta), seluruh wilayah Kabupaten Karanganyar, seluruh wilayah Kabupaten Wonogiri, dan sebagian dari wilayah Kecamatan Ngawen dan Semin di Kabupaten Gunung Kidul3.

Sementara perpecahan di Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat bermula ketika Pangeran Notokusumo (putera dari Sultan Hamengkubuwono I dengan Selir Srenggorowati) dinobatkan sebagai Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam I oleh Gubernur-Jenderal Sir Thomas Raffles pada tanggal 17 Maret 18134. Konsekuensinya, Notokusumo dapat mengepalai sebuah principality bernama Kadipaten Paku Alaman, terlepas dari Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Statusnya mirip Praja Mangkunegaran yang dilengkapi pula dengan sebuah legiun sebagai pengawal pejabat kadipaten.

Keempat kesatuan teritorial pecahan Kerajaan Mataram tersebut merupakan pendukung kebudayaan Jawa yang sebenarnya telah diwariskan oleh para nenek moyang jauh sebelum Mataram berdiri. Museum Ullen Sentalu didirikan sebagai bentuk perhatian terhadap warisan budaya para bangsawan keturunan dinasti Mataram tadi agar tidak hilang atau memudar tergerus oleh zaman dalam era globalisasi sekarang ini. Nama Ullen Sentalu sendiri merupakan akronim dari "ULating bLENcong SEjatiNe TAtaraning Lumaku" yang berarti "Nyala lampu blencong merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan"5. Blencong adalah lampu minyak yang dipergunakan dalam pertunjukan wayang kulit yang diibaratkan sebagai cahaya pengarah dan penerang perjalanan hidup manusia dalam meniti kehidupan6.

Awal mula pendirian museum diprakarsai oleh keluarga Haryono pada sekitar 1994 dan baru diresmikan pada tanggal 1 Maret 1997 oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta waktu itu, KGPAA Paku Alam VIII. Adapun lokasinya berada di lereng Gunung Merapi di sebuah tempat bernama nDalem Kaswargan atau Rumah Surga seluas sekitar 11.990 m2.

Untuk dapat mencapai lokasi museum relatif mudah karena hanya berjarak sekitar 25 kilometer arah utara dari pusat Kota Yogyakarta. Adapun rutenya - apabila menggunakan kendaraan umum Bus Transjogja rute 2B atau 3B - begitu turun dari Shelter Ring Road Utara-Kentungan, maka harus dilanjut dengan angkutan kora rute Yogyakarta-Pakem hingga ke Pasar Pakem dan berganti angkutan kota lagi rute Pakem-Kaliurang hingga ke Taman Kanak-kanak Kaliurang atau pertigaan dekat Vogels Hostel. Dari pertigaan disambung lagi dengan berjalan kaki ke arah barat sejauh kurang lebih 300 meter7. Sementara bila menggunakan kendaraan pribadi dapat melalui Jalan Kaliurang sejauh 18 kilometer dan dapat pula dari Jalan Palagan Tentara Pelajar sejauh 19,5 kilometer8.

Komplek nDalem Kaswargan
Seperti dikatakan di atas, Museum Ullen Sentalu berada dalam areal Ndalem Kaswargan milik Keluarga Haryono. Di dalam areal nDalem Kaswargan seluas 1,2 hektar, selain terdapat museum, ada pula butik dan toko suvenir Muse yang menjual berbagai macam batik khas Jogja dan Solo serta barang kerajinan lainnya, restoran Beukenhof yang menyajikan beragam makanan dan minuman dalam ruangan bernuansa Eropa, pagelaran Sekar Djagad, dan rumah peristirahatan keluarga Haryono.

Sementara untuk bangunan museumnya sendiri mengambil bentuk rancang-bangun istana di Eropa abad pertengahan bergaya gothic berupa kastil yang disusun sedemikian rupa dengan tumpukan bebatuan gunung berwarna gelap dan dihiasi tumbuhan merambat6. Di dalam museum terdapat beberapa ruangan yang disesuaikan dengan tema pamerannya. Pada ruangan pertama berupa ruang tamu yang di dalamnya terdapat banner latar belakang pendirian museum serta sebuah arca Dewi Sri sebagai simbol kesuburan. Beranjak dari ruang tamu, menyusuri gang sempit berlabirin menuju ke ruang Seni Tari dan Gamelan yang berisi lukisan tari beserta seperangkat gamelan hibah dari seorang Pangeran di Kesultanan Yogyakarta8.

Keluar dari ruang Seni Tari dan Gamelan ada sebuah lorong panjang menuju ke ruang Guwo Selo Giri (Goa Batu Gunung) yang berada sekitar tiga meter di bawah permukaan tanah. Di dalam ruangan yang didominasi oleh material Gunung Merapi dan dibuat menyerupai goa masa silam atau bunker dengan struktur seluruhnya mirip bangunan candi ini terdapat lobby dan hall utama. Bagian lobby diisi oleh beragam lukisan berbagai ukuran dengan tema tari dan musik trdisional Jawa serta seperangkat alat musik gamelan yang merupakan simbol kebesaran kebudayaan Jawa. Sementara pada bagian hall utama terpampang deretan foto dokumenter serta lukisan para raja, ratu, dan puteri bangsawan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Surakarta Hadiningrat, Pura Mangkunegara, dan Pura Paku Alaman.

Tidak berapa jauh dari Guwo Sela Giri ada sebuah tangga berstruktur punden berundak menuju Kampung Kambang yang letaknya berada di atas sebuah kolam. Di Kampung Kambang terdapat beberapa ruangan pamer koleksi museum, yaitu: (a) Ruang Syair untuk Tineke, berisi syair-syair yang diambil dari buku kecil GRAJ Koes Sapariyam (akrab disapa Tineke), puteri Sunan Pakubuwana XI. Syair-syair itu ditulis dari tahun 1939-1947 oleh para kerabat dan teman-teman Tineke untuk menggambarkan suasana Sang Puteri yang sedang jatuh hati pada seorang pangeran dari kerajaan lain6; (b) Royal Room Ratoe Mas, adalah ruang pamer khusus dipersembahkan bagi Ratu Mas, Permaisuri Sunan Pakubuwono X. Di dalamnya terdapat lukisan Ratu Mas bersama dengan Sunan dan puterinya serta pernak-pernik yang biasa dikenakannya, seperti topi, kain batik, dodot pengantin, dodot putri dan lain sebagainya; (c) Ruang Batik Vorstendlanden, menampilkan sejumlah koleksi batik dari era Sultan Hamengkubwono VII-Sultan Hamengkubuwono VIII serta Sunan Pakubuwono X hingga Sunan Pakubuwono XII; (d) Ruang Batik Pesisiran, menampilkan sejumlah koleksi batik kaya warna serta sejumlah kebaya bordiran tangan yang umum dikenakan oleh kaum perempuan peranakan pada zaman Sultan Hamengkubuwono VII; dan (e) Ruang Putri Dambaan yang khusus memamerkan dokumentasi foto-foto GRAy Siti Nurul Kusumawardhani, puteri tunggal Mangkunegara VII.

Di bagian luar dari Kampung Kambang ada sebuah koridor bernama Retja Landa. Di koridor yang juga berfungsi sebagai museum luar ruangan ini dipamerkan berbagai macam arca dewa dan dewi dari abad ke-8 masehi atau pada masa agama Hindu dan Budha masih berkembang di Kerajaan Mataram kuna. Dan terakhir, adalah Sasana Sekar Bawana yang memamerkan beberapa lukisan raja Mataram serta patung dengan tata rias pengantin gaya Yogyakarta dan Surakarta.

Bagaimana? Anda berminat mengunjungi dan menikmati seluruh koleksi Museum Ullen Sentalu? Sebagai catatan, museum ini dibuka untuk umum dari hari Selasa-Minggu pukul 09.00-15.30 WIB. Adapun biaya masuknya sebesar US$ 5.00 untuk wisatawan mancanegara, Rp. 25.000,00 bagi pelajar atau mahasiswa mancanegara dan wisatawan nusantara, serta Rp. 15.000,00 bagi pelajar dan mahasiswa lokal. Kunjungan ke museum dapat dilakukan secara mandiri (free tour) atau dapat pula menggunakan jasa pemandu (guided tour) yang fasih berbahasa Perancis, Inggris, dan Jepang. (ali gufron)

Foto: http://www.goodnewsfromindonesia.org/2015/07/10/siapa-sangka-inilah-museum-terbaik-di-indonesia/
Sumber:
1. "Kesultanan Mataran", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Mataram, tanggal 16 Oktober 2015.
2. "Perjanjian Giyanti", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Perjanjian_Giyanti, tanggal 16 Oktober 2015.
3. "Praja Mangkunegaran", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Praja_Mangkunegaran, tanggal 17 Oktober 2015.
4. "Kadipaten Paku Alaman", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Kadipaten_Paku _Alaman, tanggal 17 Oktober 2015.
5. "Museum Ullen Sentalu, Kaliurang", diakses dari http://liburanjogja.co.id/blog/museum-ull en-sentalu/, tanggal 17 Oktober 2015.
6. "Harga Tiket Masuk Museum Ullen Sentalu", diakses dari http://jogjaholidays.com/ article/110645/harga-tiket-masuk-museum-ullen-sentalu.html, tanggal 18 Oktober 2018.
7. Museum Ullen Sentalu Yogyakarta", diakses dari http://www.indonesia.travel/id/ destination/550/museum-ullen-sentalu-yogyakarta, tanggal 18 Oktober 2015.
8. "Terpikat Daya Magis Museum Ullen Sentalu", diakses dari http://travel.detik.com/ read/2012/03/02/162100/1856630/1025/terpikat-daya-magis-museum-ullen-sentalu, tanggal 19 Oktober 2015.

Desa Cibogo

Letak dan Keadaan Alam
Cibogo merupakan salah satu dari 4 desa yang ada di Kecamatan Darmaraja, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Desa ini diperkirakan seluruh wilayahnya akan tergenang dan menjadi bagian dari Waduk Jatigede. Secara geografis Desa Cibogo sebelah barat berbatasan dengan Desa Tarunajaya; sebelah timur berbatasan dengan Desa Sukakersa; sebelah selatan berbatasan dengan Desa Leuwihideung; dan sebelah utara berbatasan dengan Desa Cipaku. Wilayahnya berada pada dataran yang berketinggian antara 120-261 meter di atas permukaan air laut, dengan kemiringan antara 20°-45°.

Secara keseluruhan, luas Desa Cibogo mencapai 335,57 ha yang digunakan untuk: perumahan, sarana peribadatan (masjid, mushola), sarana pendidikan (PAUD, Sekolah Dasar, Madrasah Tsanawiyah), kantor pemerintahan, persawahan, perkebunan, peternakan dan lain sebagainya. Pada tahun 2006 sebagian besar wilayah desa ini (hanya menyisakan sekitar 8,2 ha), telah diambil alih oleh pemerintah sebagai bagian dari Waduk Jatigede. Namun, karena proses pembangunan waduk tersendat-sendat, membuat banyak diantara warganya yang tetap bertahan dan belum pindah.

Sebagaimana daerah Jawa Barat pada umumnya, Desa Cibogo beriklim tropis yang ditandai oleh adanya dua musim, kemarau dan penghujan. Musim kemarau biasanya dimulai pada bulan April sampai September. Sedangkan, musim penghujan biasanya dimulai pada bulan Oktober sampai dengan Maret. Curah hujannya rata-rata 2.242 milimeter per tahun dengan suhu udara berkisar antara 22,5° Celcius sampai dengan 30° Celcius.

Kependudukan
Penduduk Desa Cibogo berjumlah 1.722 jiwa, dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) 605. Jika dilihat berdasarkan jenis kelaminnya, jumlah perempuannya mencapai 915 jiwa (53,14%) dan penduduk berjenis kelamin laki-laki 807 jiwa (46.86%).

Mata Pencaharian
Jenis-jenis mata pencaharian yang digeluti oleh warga masyarakat Desa Cibogo cukup beragam tetapi sebagian besar bertumpu pada sektor pertanian, sebagaimana lazimnya sebuah desa. Selebihnya, ada yang bekerja sebagai pegawai negeri di berbagai instansi pemerintah seperti: kelurahan, kecamatan, pemerintah daerah, dan lain sebagainya. Kemudian, ada juga yang menjadi pedagang kelontong, buruh, home industry, peternak, montir, tukang kayu, tukang ojeg, dan lain sebagainya.

Sektor pertanian yang digeluti oleh warga masyarakat Cibogo sebagian besar berupa pertanian tanah basah (sawah) seluas sekitar 128,13 ha dengan hasil produksi sekitar 6-7 ton/ha. Sisanya, berupa pertanian tanah kering (ladang) berupa palawija, buah-buahan, dan sayuran. Salah satu tanaman ladang yang ditanam oleh kelompok tani Desa Cibogo (cabai), dalam seminggu dapat dipanen dua kali. Setiap panen yang seminggu dua kali itu, rata-rata menghasilkan sekitar 60 kilogram. Sedangkan, harga perkilonya berkisar Rp10.000.

Selain bertani, ada pula penduduk yang bergerak dalam sektor home industry (pembuatan opak dan tas). Usaha opak sudah berjalan cukup lama, namun pemasarannya baru sampai wilayah Darmaraja saja, dengan harga Rp3.000 per-plastik (berisi 20 keping opak). Sedangkan, usaha pembuatan tas sudah berhasil menembus pasar ITC Manggadua di Jakarta. Akan tetapi, karena keterbatasan modal untuk membeli bahan baku dari Jakarta serta kurangnya jumlah tenaga kerja, tas yang berhasil diproduksi pun hanya terbatas.

Pendidikan dan Kesehatan
Sarana pendidikan yang terdapat di Desa Cibogo meliputi: Taman Kanak-kanak (TK)/PAUD sejumlah 2 buah, Sekolah Dasar (SD) sejumlah 3 buah (SD Tanjungwangi, SD Cibogo 2, SD Sukahaji), dan Madrasah Tsanawiyah (MTS) sejumlah 2 Buah. Taman Kanak-kanak/PAUD yang ada di desa ini menampung 21 siswa dengan jumlah guru sebanyak 4 orang. Kemudian, Sekolah Dasar menampung 138 siswa dengan jumlah guru sebanyak 16 orang. Sedangkan, Madrasah (MTS) memiliki guru sejumlah 3 orang dan siswa sebanyak 95 orang.

Gambaran di atas menujukkan bahwa sarana pendidikan yang dimiliki oleh Desa Cibogo hanya sampai Sekolah Dasar dn Madrasah. Ini artinya, jika seseorang ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, mesti keluar dari desanya. Meskipun demikian, sesungguhnya tidak perlu keluar dari Kecamatan Darmaraja, karena tidak jauh dari desa tersebut terdapat beberapa buah Sekolah Menengah Atas atau SMA.

Sementara, untuk sarana kesehatan hanya ada tiga buah Posyandu dan sebuah Poslindes dengan tenaga medis 17 orang, terdiri atas: seorang bidan, seorang kades kesehatan, dan 15 orang kader Posyandu. Mengingat bahwa tidak semua warga memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada di desa, terutama yang berkenaan dengan kelahiran, maka di sana ada dua orang dukun bayi yang telah dibekali pengetahuan medis. Dukun tersebut oleh masyarakat setempat disebut sebagai paraji.

Agama dan Kepercayaan
Agama yang dianut oleh warga masyarakat Desa Cibogo hanyalah Islam. Ada korelasi positif antara jumlah pemeluk agama ini dengan jumlah sarana peribadatannya. Hal itu tercermin dari banyaknya sarana peribadatan yang berkaitan dengan agama Islam, yaitu 6 buah mesjid dan 6 buah mushola. Namun demikian, kehidupan beragama warga masyarakat desa ini masih ada yang dipengaruhi oleh kepercayaan-kepercayaan berbau animisme, dinamisme, dan kekuatan magis lainnya yang tercermin dari berbagai kepercayaan terhadap makhluk-makhluk halus dan upacara yang berkenaan dengan roh nenek moyang (para leluhur atau karuhun).

Kepercayaan terhadap roh nenek moyang tercermin dalam perilaku jaroh dan nyekar atau ziarah ke makam yang dianggap keramat. Tujuannya adalah untuk mendoakan roh yang ada di makam tersebut. Perilaku nyekar ke makam yang dianggap keramat Desa Cibogo terletak di Dusun Ciwangi berupa makam keramat Embah H. Dalem Santapura Wikarta, Demang Patih Mangkupraja (Patih Sumedang semasa Pangeran Kornel), Mbah Buyut Mandor Sura Tanu, dan Buyut Bongkok Juanda.

Organisasi Pemerintahan dan Kemasyarakatan
Secara administratif dan teritorial, Desa Cibogo terbagi ke dalam 4 dusun dan 11 kampung terdiri atas 7 Rukun Warga dan 25 Rukun tetangga. Dusun-dusun di Desa Cibogo adalah Dusun Ciwangi, Cibogo 1, Cibogo 2, dan Tanjungwangi. Sedangkan struktur organisasi pemerintahannya dipegang oleh seorang kepala desa (Kades) yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai “kuwu”. Dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh seorang sekretaris desa yang lebih dikenal sebagai “juru tulis” dan sering disingkat menjadi “ulis”. Ia bertugas mengkoordinir pemerintahan, kesejahteraan rakyat, perekonomian dan pembangunan, keuangan, serta kemasyarakatan (umum). Untuk melaksanakan tugas itu ia dibantu oleh seorang: Kaur (kepala Urusan) Kesejahteraan Rakyat, Perekonomian dan Pembangunan, kemasyarakatan, dan trantib. Dengan demikian, perangkat Desa Cibogo, termasuk dengan kepala desanya, berjumlah 12 orang.

Selain perangkat desa, ada juga yang disebut sebagai Badan Perwakilan Desa (BPD). Lembaga ini berfungsi sebagai badan legislatif dalam organisasi pemerintahan desa. Anggotanya diambil dari para tokoh masyarakat desa yang bersangkutan. Jumlahnya ada 13 orang, dengan rincian: 1 orang ketua (Ade Komarudin), 1 orang wakil ketua (Kosasih), 1 orang sekretaris (M. Dede A. S.Kom), dan 5 orang anggota (Yeyet C. S.IP, Mulyadi, Lili Canta, Dede Jubaedi, dan Wahyu). Tugasnya adalah mengadakan musyawarah tingkat desa untuk mengevaluasi dan atau menetapkan suatu keputusan pemerintah desa, serta membantu kepala desa dalam merencanakan dan menggerakkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan di wilayahnya.

Desa Cibogo juga memiliki Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD) sebagai wadah yang dibentuk atas prakarsa masyarakat yang difasilitasi pemerintah sebagai mitra desa dalam menampung dan mewujudkan aspirasi serta kebutuhan masyarakat di bidang pembangunan. Adapun susunan pengurusnya adalah: Sudarman (Ketua), H. Otto Tahya (Wakil Ketua Bidang Pembangunan Lingkungan Hidup dan Kesejahteraan Sosial), Samirin S. (Wakil Ketua Bidang Pemuda, Olahraga, dan Seni Budaya), Darwiah S.M. (Wakil Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Ekonomi Kerakyatan), Rahmat Hidayat, S.Ag (Wakil Ketua Bidang Agama, Pendidikan, dan Keterampilan), dan Siti Maesaroh (Wakil Ketua Bidang Organisasi Kemitraan, Kesehatan, dan Kependudukan).

Organisasi kemasyarakatan lainnya adalah organisasi kepemudaan yang bernama “Karang Taruna” dan organisasi para ibu rumah tangga bernama “Pendidikan Kesejahteraan Keluarga” (PKK) yang secara rutin mengadakan pengajian serta pemeriksaan terhadap kesehatan ibu hamil dan balita di Posyandu. Posyandu dilaksanakan satu bulan sekali dengan biaya sebesar Rp2.000,00 bagi bayi yang akan ditimbang atau diobati. (gufron)

Desa Ciranggem

Letak dan Keadaan Alam
Desa Ciranggem secara administratif berada dalam wilayah Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang. Secara geografis, desa ini sebelah utara berbatasan dengan Desa Jemah; selatan berbatasan dengan Desa Mekarasih, timur berbatasan dengan Desa Cisampih, dan sebelah barat berbatasan dengan Desa Sukakersa. Topografinya berada pada dataran rendah, berkentinggian antara 200-300 meter di atas permukaan air laut, dengan kemiringan antara 25°-40°.

Jarak Desa Ciranggem dengan pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat (Gedung Sate) kurang lebih 68 kilometer. Sedangkan, dengan pusat pemerintahan Kabupaten Sumedang kurang lebih 48 kilometer. Kemudian, dengan pusat pemerintahan Kecamatan Jatigede kurang lebih 12 kilometer ke arah selatan.

Secara keseluruhan, Luas Desa Ciranggem mencapai 1.200 ha, dengan rincian: pemukiman penduduk (106 ha), pekarangan (20 ha), perkantoran pemerintah (3 ha), pekuburan 2 ha, sawah irigasi ½ teknis (125 ha), sawah tadah hujan (175 ha), tegalan (150 ha), tanah kas desa (179 ha), perkebunan (40 ha), fasilitas olahraga (1 ha), hutan lindung (100 ha), hutan produksi (80 ha), dan lain-lain (220 ha) (Profil Desa Ciranggem 2013).

Kependudukan
Penduduk Desa Ciranggem berjumlah 2.822 jiwa dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) 943. Jika dilihat berdasarkan jenis kelaminnya, jumlah perempuannya mencapai 1.453 jiwa (51,49%) dan penduduk berjenis kelamin laki-laki 1.369 jiwa (48,51%) (Profil Desa Ciranggem 2013).

Pola Pemukiman
Pemukiman penduduk Desa Ciranggem umumnya berjajar dan menghadap ke jalan. Arah rumah yang berada bukan di pinggir jalan pun mengikuti yang ada di pinggir jalan. Jumlah rumah yang ada di desa tersebut 941 unit. Dari ke-941 unit rumah tersebut, 621 unit diantaranya berbentuk rumah permanen (berdinding tembok, beratap genteng, dan berlantai semen atau keramik). Sisanya, ada yang hanya sebagian berdinding tembok, kayu/papan, dan bambu (321 rumah). Jarak antarrumah bergantung daerah pemukimannya. Di daerah yang dekat dengan kantor desa umumnya jarak antarrumah berdekatan. Namun, semakin ke arah persawahan dan perladangan jarak itu semakin renggang atau jauh.

Mata Pencaharian
Jenis-jenis mata pencaharian yang digeluti oleh warga masyarakat Desa Ciranggem cukup beragam, tetapi sebagian besar bertumpu pada sektor pertanian, sebagaimana lazimnya sebuah desa. Selebihnya, ada yang bekerja sebagai pegawai negeri di berbagai instansi pemerintah, seperti: kelurahan, kecamatan, pemerintah daerah, dan lain sebagainya. Kemudian, ada juga yang menjadi pedagang keliling, montir, dukun kampung, dan lain sebagainya.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Profil Desa Ciranggem tahun 2013 menunjukkan bahwa sebagian besar warga masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani, baik petani pemilik sawah/ladang (668 orang) maupun buruh (245 orang). Urutan ketiga adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) serta pensiunan PNS/TNI/Polri sejumlah 30 orang. Selanjutnya, adalah tukang kayu (40 orang), tukang batu (10 orang), pedagang keliling sejumlah 9 orang, penjahit sejumlah 6 orang, pembuat kue sejumlah 4 orang, montir dan dukun kampung terlatih masing-masing sejumlah 3 orang, seorang tukang rias, dan seorang anggota TNI aktif.

Pendidikan dan Kesehatan
Sarana pendidikan yang terdapat di Desa Ciranggem hanya berupa satu buah Taman Kanak-kanak, 3 buah Sekolah Dasar, 1 buah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, dan satu buah Madrasah (MDA). Taman kanak-kanak di desa ini menampung 13 siswa dengan jumlah pengajar sebanyak 2 orang, Sekolah Dasar menampung 261 siswa dengan jumlah tenaga pengajar sebanyak 24 orang, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama menampung 243 siswa dengan jumlah tenaga pengajar sebanyak 19 orang, dan MDA menampung 23 siswa dengan tenaga pengajar berjumlah 3 orang.

Gambaran di atas menujukkan bahwa sarana pendidikan yang dimiliki oleh Desa Ciranggem hanya sampai Sekolah Menengah Tingkat Pertama (SLTP). Adapun tingkat pendidikan yang dicapai oleh warga masyarakat Ciranggem sebagian besar SD/sederajat (1.031 orang). Sebagian lainnya yang jumlahnya cukup besar adalah tamatan SLTP/sederajat (229 orang) dan tamatan SLTA/sederajat (236 orang). Sedangkan, yang menamatkan Akademi/Perguruan Tinggi hanya 58 orang.

Sementara untuk sarana kesehatan hanya ada satu unit Puskesmas Pembantu, 28 unit Dasawisma, dan tiga unit Posyandu dengan tenaga medis sebanyak 2 orang (seorang bidan dan seorang perawat), 15 orang kader Posyandu aktif, 65 orang kader Dasawisma aktif, dan 15 orang kader kesehatan lainnya. Selain itu, ada juga tiga orang dukun bersalin terlatih atau paraji yang siap membantu kaum perempuan dalam proses melahirkan.

Agama dan Kepercayaan
Seluruh penduduk Desa Ciranggem menganut agama Islam. Ada korelasi positif antara jumlah pemeluk agama ini dengan jumlah sarana peribadatannya. Hal itu tercermin dari banyaknya sarana peribadatan yang berkaitan dengan agama Islam, yaitu 3 buah mesjid dan 12 buah mushola.

Organisasi Pemerintahan dan Kemasyarakatan
Pemerintahan Desa Ciranggem terdiri dari Pemerintah Desa dan BPD. Pemerintah Desa yang mencakup tiga dusun serta 6 Rukun Warga dan 28 Rukun Tetangga ini dipimpin oleh seorang Kepala Desa (kuwu) dan perangkat desa (sekretaris desa/juru tulis/ulis, Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat, Kepala Urusan Pemerintahan, Kepala Urusan Keuangan, dan Kepala Urusan Umum). Sementara, BPD atau Badan Permusyawaratan Desa adalah perwakilan penduduk yang dipilih berdasarkan musyawaraf-mufakat yang terdiri dari Ketua Rukun Warga, pemangku adat, golongan profesi, pemuka agama, atau pemuka masyarakat lainnya. BPD adalah sebuah lembaga yang merupakan perwujudan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa sebagai unsur penyelenggara pemerintah desa. Adapun susunan pengurusnya adalah: Karta (Ketua), Wisman (Wakil Ketua), Yaya (Sekretaria), dan anggota (Akur, Kardin S., Wasma, Carta, Casman, Lili Rahmat).

Selain kedua oraganisasi pemerintahan tersebut, terdapat juga organisasi kemasyarakatan seperti: Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) sebanyak 15 orang kader, Karang Taruna berpengurus 9 orang, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD) berpengurus 9 orang, 3 unit kelompok tani berpengurus 9 orang, 3 unit lembaga adat berpengurus 9 orang, 6 unit organisasi keagamaan berpengurus 18 orang, 28 kelompok gotong royong beranggotakan 84 orang, satu kelompok BUMDES, dan sebuah Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD). (Ali Gufron)

Pantai Krakal

Wisata alam, khususnya wisata pantai di Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, banyak sekali jumlahnya. Selain pantai-pantai yang sudah tenar, seperti Baron, Kukup, Sundak, Gesing, Ngobaran, Sepanjang, Wediombo, Drini, Ngandong dan Ngrenehan, terdapat sebuah pantai lain dengan panorama yang tak kalah indahnya. Pantai itu adalah Pantai Krakal yang terletak di Desa Ngestiharjo, Kecamatan Tanjungsari. Untuk mencapai pantai ini dari Kota Yogyakarta maupun Wonosari relatif mudah karena jalannya telah beraspal dan disertai dengan rambu-rambu petunjuk, sehingga tidak menyulitkan bagi para wisatawan yang hendak berkunjung.

Sesuai dengan namanya, di sepanjang pantai ini dipenuhi oleh krakal atau bebatuan karang baik berukuran kecil, sedang, maupun besar. Bebatuan karang tersebut dahulu konon berada di dasar laut dan menjadi "rumah" bagi hewan laut. Namun karena ada proses fenomena alam yang sangat panjang, terjadilah pengangkatan kerak bumi yang membuatnya timbul ke permukaan dan menjadi daratan berbatu karang. Pada bagian dari daratan baru itu yang berbatasan langsung dengan laut diberi nama sebagai Pantai Krakal.

Lepas dari masalah penamaan, yang jelas Pantai Krakal dapat dijadikan sebagai obyek wisata alternatif yang tidak kalah indahnya dibanding dengan pantai-pantai lain yang ada di wilayah Kabupaten Gunung Kidul. Di pantai yang berpasir putih ini pengunjung dapat menyaksikan bebatuan karang indah sambil menikmati hembusan angin laut yang menyegarkan. Di antara bebatuan itu (yang bagian bawahnya berada di laut) terdapat berbagai macam ikan, diantaranya umbal, damselfish kuning beraksen biru pada bagian punggungnya dan ikan kepe-kepe atau butterflyfish bergaris biru muda dan tua. Khusus untuk umbal yang hidup menempel di bebatuan karang, banyak dicari oleh para nelayan setempat sebagai bahan olahan untuk dibuat rempeyek.

Bagi yang tidak puas hanya berada di bibir pantai, Krakal juga menawarkan ombak yang cocok untuk berselancar, khususnya pada bulan Maret hingga September. Kualitasnya berating lima tipe reef break dengan arah gelombang dari kiri dan kanan. Namun, untuk dapat menikmati gulungan ombak di atas papan selancar haruslah berhati-hati karena dasar lautnya didominasi oleh karang dan juga terdapat hewan-hewan laut berbahaya seperti landak laut serta ubur-ubur.

Dan, sebagaimana tempat-tempat wisata lainnya di Indonesia. Pantai Krakal dilengkapi pula dengan fasilitas khas tempat rekreasi, seperti kamar mandi untuk bilas, rumah ibadah, panggung hiburan, rumah makan, gardu pandang, penginapan, hotel, hingga areal parkir kendaraan bermotor yang cukup luas. (gufron)

Foto:
http://www.ragamtempatwisata.com/2014/06/keindahan-alam-pantai-krakal-di-gunung-kidul-yogyakarta.html

Desa Jemah

Letak dan Keadaan Alam
Jemah merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang yang sebagian wilayahnya terkena proyek pembangunan Waduk Jatigede. Secara Geografis Desa Jemah sebelah utara berbatasan dengan Desa Cipicung; sebelah selatan berbatasan dengan Desa Ciranggem; sebelah barat berbatasan dengan Desa Cisitu; dan sebelah timur berbatasan dengan Desa Cisampih. Desa yang luasnya 1.386 ha ini berada di antara 120-350 meter dari permukaan air laut.

Kependudukan
Penduduk Desa Jemah berjumlah 1.445 jiwa dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) 497 jiwa. Jika dilihat berdasarkan jenis kelaminnya, jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari pada jumlah penduduk laki-laki. Jumlah penduduk perempuan mencapai 727 jiwa (50,31%). Sementara, jumlah penduduk yang berjenis kelamin laki-laki 718 jiwa (49,69%) (Monografi Desa Jemah Bulan Desember 2008).

Agama dan Kepercayaan
Agama yang dianut oleh warga masyarakat Desa Jemah adalah Islam. Namun demikian, masih mempercayai adanya tempat-tempat atau makam-makam yang dianggap keramat. Tempat-tempat yang dianggap keramat itu antara lain: Situs Tanjakan Embah. Di situs ini ada makam-makam yang dianggap keramat, yaitu makam Embah Jagadiwangsa dan makam Embah Sadaya Pralaya. Tempat lainnya yang dianggap keramat adalah Situs Sukagalih. Di situs ini terdapat lima makam bercungkup. Selain itu, ada makam pendiri desa (Eyang Akun bersama isterinya), Aki Gading, dan dua makam lagi yang tidak diketahui namanya.

Organisasi Pemerintahan
Desa Jemah terbagi dalam 4 dusun, 4 Rukun Warga, dan 12 Rukun Tetangga. Ke-4 dusun itu adalah: Dusun Jemah, Lontong, Burujul, dan Bakom. Sedangkan, struktur organisasi pemerintahannya dipimpin oleh seorang kepala desa (Kades) yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai “kuwu”. Dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh seorang sekretaris desa yang lebih dikenal sebagai “juru tulis” dan sering disingkat menjadi “ulis” dan PTL. Mereka bertugas mengkoordinir pemerintahan, kesejahteraan rakyat, perekonomian dan pembangunan. Untuk melaksanakan tugas itu mereka dibantu oleh seorang: Kaur (kepala Urusan) Kesejahteraan Rakyat, Perekonomian dan Pembangunan, dan pemerintahan. Dengan demikian, perangkat Desa Jemah, termasuk dengan kepala desanya, berjumlah 11 orang. (gufron)

Air Terjun Sipiso-piso

Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara, memiliki banyak sekali potensi yang dapat dijadikan sebagai obyek wisata alam. Salah satunya adalah Air Terjun Sipiso-piso yang terletak tidak jauh dari Desa Tongging, Kecamatan Merek, sekitar 24 Kilometer dari Kota Kabanjahe, Ibukota Kabupetan Karo. Penamaan air terjun ini berkaitan dengan jatuhnya air melalui tebing yang dari kejauhan tampak seperti bilah-bilah pisau tajam. Nama Sipiso-piso diambil dari kata "piso" yang dalam bahasa Indonesia berarti pisau.

Untuk dapat mencapai obyek wisata ini dapat menggunakan kendaraan umum maupun pribadi dari Kota Medan menuju Kabanjahe dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Apabila menggunakan angkutan umum, sesampai di Kabanjahe perjalanan dilanjutkan ke arah utara menggunakan angkutan pedesaan melintasi Merek hingga sampai pertigaan jalan utama. Selanjutnya, dari pertigaan dapat memakai jasa becak motor hingga sampai ke Desa Tongging. Dan, apabila hendak melihat air terjun, dapat menuju gardu pandang di desa tersebut atau berjalan kaki menuruni bukit untuk melihat kolam tumpahan airnya.

Kondisi Air Terjun
Air terjun Sipiso-piso berada pada ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan air laut. Air terjun yang tingginya kurang lebih 120 meter ini terbentuk dari aliran sungai bawah tanah di plato Karo yang mengalir melalui gua sebuah di sisi kawah Danau Toba. Sementara untuk kondisi air terjunnya sendiri dari kejauhan tergolong indah dan menawan. Bila dilihat dari gardu pandang akan tampak menjulang tinggi tebing berwarna kehijauan di antara lintasan air terjun dan juga panorama indah Danau Toba yang menjadi muaranya. Sayangnya, walau relatif luas fasilitas yang ada di gardu pandang belumlah memadai karena hanya ada toilet dan beberapa buah warung saja.

Sedangkan bila berada dekat dengan kolam curahan air terjun, selain dapat mendengarkan gemuruh air terjun, berenang atau hanya sekadar bermain air, juga akan menikmati pemandangan berupa rimbunan pepohonan (didominasi oleh pohon pinus) yang membuat udara terasa sejuk. Di kaki air terjun juga ada beberapa bangunan yang mungkin dahulu difungsikan sebagai kantin dan tempat beristirahat. Namun, untuk dapat mendekati kolam curahannya haruslah mengeluarkan tenaga ekstra dengan menuruni jalan setapak berbentuk anak tangga yang cukup terjal dan berliku.

Jika masih belum puas dengan air terjun, dapat pula mengunjungi desa terdekat yaitu Desa Tongging. Di desa yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani dan nelayan ini dapat menyaksikan bagaimana mereka menanam padi dan bawang atau berlayar mencari ikan di sekitar kawasan Danau Toba. Di desa ini pula dapat melakukan berbagai macam aktivitas, seperti bersepeda santai, berenang di danau, paragliding di puncak Gunung Sipiso-piso, trekking di hutan, atau mengunjungi air terjun kecil bernama Sidompak. Dan, bila berkeinginan untuk bermalam, di Jalan Silalahi, Tongging, terdapat beberapa buah penginapan, yaitu Wisma Sibayak, Roman Sinasi Bungalows, dan Wisma Parultop. (pepeng)

Foto: https://www.flickr.com/photos/90223232@N04/8197920903

Popular Posts

-