Telu Pak

(Cerita Rakyat Daerah Lampung)

Alkisah, di suatu daerah di Lampung hidup sebuah keluarga kaya raya. Mereka hanya memiliki seorang anak yang diberi nama Buyung. Oleh karena menjadi anak semata wayang, Buyung sangat dimanja kedua orang tuanya. Apapun yang diinginkan selalu saja dituruti, sehingga dia tumbuh menjadi anak pemalas dan manja. Sifat ini terus dibawanya hingga dewasa, dan bahkan hingga dia kawin. Buyung masih selalu bergantung pada kedua orang tuanya.

Namun, seperti kata pepatah, hidup bagaikan roda yang berputar. Terkadang ada di atas dan suatu saat di bawah. Begitu pula dengan hidup Si Buyung. Suatu saat orang tuanya terserang penyakit aneh yang membuat mereka meninggal hampir bersamaan waktunya. Kejadian ini tidak berimbas sama sekali pada perilaku Buyung. Pikirnya, sebagai anak tunggal pewaris seluruh harta kekayaan, tentu dia tidak akan kelaparan hingga tujuh turunan.

Oleh karena tidak ada lagi orang yang melarang, dihamburkanlah harta warisan orang tuanya itu. Dia tetap tidak mau melakukan pekerjaan apapun untuk menambah atau setidaknya mempertahankan harta warisannya. Walhasil, dalam beberapa tahun saja harta warisan ludes dan nyaris tanpa sisa. Si Buyung menjadi bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Sepanjang hidup dia selalu bermalasan dan tidak mau bekerja sehingga tidak memiliki keahlian tertentu untuk dijadikan sebagai sandaran hidup.

Agar tidak berlarut-larut Sang Isteri menyarankan pada Buyung supaya merantau dan berguru pada orang-orang pandai. Siapa tahu dengan bimbingan orang-orang pandai Buyung dapat menemukan jalan keluar bagi masalah hidupnya. Selain itu, Sang Isteri juga memiliki maksud lain yaitu agar Buyung tidak lagi manja dan menjadi seorang lelaki sejati yang bertanggung jawab.

Merasa usul Sang Isteri masuk di akal, tanpa banyak berpikir Buyung langsung setuju. Keesokan harinya dia pergi merantau mencari guru yang mampu menolongnya keluar dari kesulitan hidup. Setelah bertanya kesana-kemari, beberapa hari kemudian sampailah dia di rumah seorang guru yang konon sangat arif dan bijaksana. Kepada Sang Guru Buyung langsung mengutarakan permasalahan hidup yang tengah membelitnya.

"Apabila mengerjakan sesuatu yang baik, meskipun enggan, engkau harus memaksakan diri melakukannya. Bila engkau turuti kata-kataku ini, niscaya dalam waktu tiga bulan nasibmu akan berubah," nasihat Sang Guru usai mendengarkan keluh kesah Buyung.

Pencerahan Sang Guru tadi segera dipraktikkan setibanya di Kampung halaman. Tetapi setelah tiga bulan berlalu hidup Buyung tak kunjung membaik sehingga dia mencari lagi orang yang dianggap lebih mumpuni dari guru pertama. Ketika bertemu Guru yang lain dia diberi nasihat berupa kata-kata "Angon tilansu sepak cutik" yang artinya janganlah terlalu berangan-angan pada sesuatu yang sekiranya tidak masuk akal. Nasihat ini ternyata juga tidak manjur walau sudah dipraktikkan selama tiga bulan.

Begitu juga dengan guru ketiga, Buyung diberi nasihat "Cawani babai mak dapok titukhutkan, bila ditukhut kon cadang pendirianmu". Artinya, perkataan kaum perempuan sebaiknya jangan dituruti, sebab akan merusak pendirianmu. Sementara pada guru yang keempat Buyung diberi nasihat "Kiwat kilu tulung tengah bingi semawas mak dapok tulak" yang artinya kira-kira "apabila ada orang yang meminta pertolongan pada tengah malam atau dini hari sekali pun, janganlah ditolak".

"Tetapi apabila engkau mau mengamalkannya, janganlah berguru lagi pada orang lain. Walaupun akan memakan waktu lama, tetapi bila engkau bersungguh-sungguh niscara hidupmu akan bahagia," pesan Sang Guru.

Yakin dengan perkataan Sang Guru tadi, dengan hati gembira Buyung langsung memohon diri. Sesampai di rumah dia memutuskan untuk mengganti namanya menjadi Telu Pak. "Telu" berarti tiga dan "Pak" berarti empat. Jadi, Telu Pak dapat diartikan sebagai "orang yang telah belajar pada tiga hingga empat orang guru." Harapannya, nama Telu Pak dapat lebih membawa berkah ketimbang Buyung.

Tidak berapa lama setelah berganti nama, pada suatu malam datanglah seorang prajurit menggendong jenazah temannya dan meminta tolong pada Telu Pak agar menguburkannya dengan layak, sementara dia kembali ke istana. Awalnya Telu Pak enggan karena dirinya baru saja ingin beranjak ke peraduan. Namun karena teringat akan wejangan guru keempat, walau sambil menggerutu dia mencari tanah lapang hendak menguburkan jenazah.

Ketika Telu Pak mulai menggali tanah, tiba-tiba cangkulnya membentur suatu benda yang terang-benderang. Setelah diperhatikan secara seksama ternyata benda itu adalah seonggok intan. Usai menguburkan jenazah Telu Pak membawa intan tadi ke rumah. Pikirnya, bila benda itu dijual tentu beban hidupnya akan terasa lebih ringan.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Telu Pak dan isteri pergi ke pasar menjumpai pedagang batu mulia. Setelah diperiksa, tanpa dinyana Sang Pedagang langsung menawarkan tokonya untuk ditukarkan dengan batu permata milik Telu Pak. Namun, karena jenis barang yang dibarterkan tersebut nominalnya sangat besar, maka sesuai dengan peraturan yang berlaku Telu Pak dan Sang Pedagang harus menghadap Sang Raja. Apabila Sang Raja setuju, pertukaran baru boleh dilaksanakan.

Saat mereka menghadap, ternyata Paduka Raja juga tertarik pada batu intan milik Telu Pak. Bahkan, dia mengklaim bahwa batu itu adalah anak dari batu intan yang telah dimilikinya sehingga Telu Pak harus mengembalikannya. Tidak hilang akal, Telu Pak memberi usul agar batu intan milik raja diletakkan sejajar dengan batu intan miliknya. Apabila intan miliknya bergeser mendekati intan milik Raja, maka Raja boleh memilikinya. Sebaliknya, bila intan miliknya tidak bergeser sama sekali, maka Raja harus memberikan persetujuannya agar dapat ditukarkan dengan toko milik Sang Pedagang.

Singkat cerita, Sang Raja setuju untuk meletakkan intannya sejajar dengan intan Telu Pak di altar istana. Tetapi setelah ditunggu sekian lama ternyata kedua batu intan itu tetap berada di posisinya alias tidak bergeser sedikit pun. Raja pun mengurungkan niat memiliki intan Telu Pak dan terpaksa memberikan restunya. Dan, akhirnya Telu Pak dapat memiliki toko Si Pedagang. Dia mengelola toko itu hingga menjadi maju dan sangat besar.

Diceritakan kembali oleh Gufron

Kopi Durian

Kopi durian adalah salah satu minuman khas daerah Lampung Barat yang umumnya disajikan hanya pada saat musim durian. Bahan pembuatnya cukup sederhana, yaitu: dua sendok makan kopi arabica atau robusta, beberapa sendok makan gula pasir, dan satu butir durian. Cara membuatnya, kopi arabica atau robusta dimasukkan ke dalam sebuah panci kecil berisi 400 ml air dimasak hingga mendidih. Setelah mendidih dimasukkan lagi satu butir durian dan didiamkan selama sekitar lima menit. Terakhir, larutan kopi bersama durian tersebut disaring ke dalam gelas dan diberi gula secukupnya.

Si Panjang

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Pada sekitar abad ke-18 VOC Belanda yang waktu itu telah menguasai Batavia mulai menghadapi masalah dalam perdagangan karena kalah bersaing dengan para pedagang keturunan Tionghoa. Para tauke berhasil mengatasi monopoli Belanda karena organisasi mereka sangat rapih dan solid sehingga dapat menyusup ke daerah-daerah yang sebelumnya telah dikuasai oleh Belanda.

Mengantisipasi agar tidak diganggu oleh Belanda yang bila tersaingi biasanya akan menurunkan antek-anteknya, para tauke sepakat mendatangkan seorang guru silat dari seberang lautan. Setelah sang guru silat datang, mereka memintanya mengajari ilmu silat dengan alasan kebugaran jasmani. Mereka berlatih secara sembunyi-sembunyi di Gading Melati pada malam hari agar tidak dicurigai. Apabila ada prajurit kompeni berpatroli, mereka langsung berpura-pura berlatih barongsai sebagai kamuflase.

Kegiatan ini tentu saja tidak disukai oleh para pejabat Kumpeni. Mereka curiga kalau latihan barongsai hanyalah akal-akalan para tauke agar lebih memperkuat barisan. Oleh karena itu, mereka pun mengadakan rapat agar dapat menghadapi para "pemain" barongsai bila sewaktu-waktu beralih ujud menjadi "pasukan" para tauke. Hasil rapat memutuskan bahwa selain para antek, mereka juga akan mengerahkan ribuan budak belian yang akan dilatih menjadi pengawal handal dan siap mati.

Namun, dalam kenyataannya bukan para tauke yang memicu keributan melainkan para budak belian. Mereka yang mayoritas didatangkan dari tempat jauh tidak berlaku sebagaimana mestinya. Di hadapan para tauke, mereka menyombongkan diri dan bahkan lebih semena-mena ketimbang tuannya. Hal ini menimbulkan ketegangan hingga sempat terjadi keributan antara para budak belian dengan pedagang kelontong di beberapa tempat. Anehnya, ketika dibawa ke pengadilan mereka dibela dan akhirnya dibebaskan begitu saja.

Melihat para budak dibebaskan, ada salah seorang tauke yang merasa tidak puas. Dia bernama Si Panjang. Si Panjang adalah tauke muda berusia sekitar 30 tahun yang sangat rajin berlatih silat di Gading Melati, dekat Gandaria. Oleh karena itu, dia cepat sekali mengusai jurus-jurus yang diberikan oleh guru silat dari seberang lautan. Dan, ketika sang guru kembali lagi ke seberang lautan, secara aklamasi Si Panjang kemudian diangkat untuk menggantikannya.

Ketika sedang berkumpul bersama teman-temannya Si Panjang menyatakan bahwa perlakuan orang-orang Belanda yang membela para budaknya itu sangat tidak adil. Si Panjang berpendapat apabila lebih giat berlatih dengan memperdalam penyerangan menggunakan tangan kosong, niscaya mereka dapat melumpuhkan lawan hanya dengan sedikit tenaga. Dengan demikian, orang lain akan menjadi segan dan tidak berani berbuat semena-mena.

Di lain pihak, Penguasa Batavia waktu itu Gubernur Jenderal Baron van Imhoff yang sangat ahli dalam membaca gerak-gerik lawan, segera memerintahkan ageng-agennya berbaur dengan masyarakat sekitar untuk mencari informasi tentang kegiatan para tauke selain berdagang. Dia sadar benar bahwa dengan dimenangkannya para budak pasti akan menimbulkan rasa ketidakpuasan pada pihak tauke. Dua diantara para agen van Imhoff yang paling diandalkan adalah Jacob dan orang Tionghoa sendiri bernama Liu Chu. Bersama dengan Jacob, Liu Chu dapat masuk dan berkumpul dengan orang-orang Tionghoa di Gading Melati.

Dari laporan mereka diketahui bahwa Gading Melati dijadikan sebagai tempat menimbun candu yang ditutupi rempah-rempah agar tidak terlihat. Selain itu, juga digunakan sebagai tempat menimbun senjata dan berlatih barongsai. Tetapi suasana latihannya tidak banyak menunjukkan gerakan-gerakan guna mengangkat barongsai, melainkan seperti gerakan-gerakan yang sering diperagakan oleh para pesilat ketika mereka sedang berlaga.

Setelah Liu Chu memberikan laporan, Gubernur Jenderal Baron van Imhoff langsung mengadakan rapat yang mmbicarakan peningkatan keamanan. Salah satu hasil rapat menyatakan bahwa apabila para tauke tetap berlatih di Gading Melati dan tidak dapat lagi dikendalikan, maka mereka akan dibuang ke Ceylon (sekarang Sri Lanka). Van Imhoff lalu memerintahkan anteknya bernama Kapten Swa Beng Kong menyampaikan hasil keputusan VOC pada para tauke.

Keputusan yang dikeluarkan VOC itu tentu saja membuat Si Panjang dan kawan-kawannya gerah. Lebih-lebih ketika Kapten Cina Swa Beng Kong terus-menerus meminta Si Panjang dan kawan-kawannya membubarkan diri dan tidak lagi berlatih silat, barongsai atau kegiatan lain yang dapat menyulut keributan. Si Panjang menjadi sangat marah dan dengan terang-terangan menentang Swa Beng Kong di depan umum.

Agar "masalah" cepat teratasi, atas usul Jacob orang-orang yang berpakaian pangsi hitam atau biru sebaiknya ditangkap. Selanjutnya, mereka digiring ke balai kota lalu diangkut menuju muara Sungai Ciliwung. Sesampai di muara mereka digiring lagi masuk ke dalam kapal perang untuk dibawa ke Ceylon. Dari ratusan orang yang diangkut ke kapal, beberapa diantaranya ada yang berhasil lolos dengan cara menceburkan diri ke laut.

Sesampai di pantai, mereka langsung berlari ke arah Gading Melati menemui Si Panjang. Singkat cerita, Si Panjang pun marah lalu mengumpulkan teman-teman sesama pesilat Gading Melati. Berbekal senjata selundupan yang telah lama disimpan mereka menuju balai kota. Tetapi karena pasukan Baron van Imhoff lebih terlatih dalam mempergunakan senjata api, kelompok Si Panjang terpaksa mundur sampai ke Peninggaran. Di daerah itu Si Panjang akhirnya tewas terkena peluru salah seorang serdadu Belanda.

Diceritakan kembali oleh gufron

Muni Cader

Riwayat Singkat
Muni Cader adalah salah seorang aktor kawakan yang telah malang melintang di dunia sinematografi Indonesia sejak awal tahun 1950-an. Aktor yang bernama asli Muny Abdul Kadir ini lahir di Serang, Banten, pada tanggal 2 Februari 19321. Semenjak duduk di bangku SMA Muni Cader sudah mulai menunjukkan bakatnya sebagai aktor dengan ikut aktif dalam dunia sandiwara. Muni Cader baru menjejakkan kakinya ke layar lebar pada sekitar tahun 1950 dengan menjadi pemain figuran dalam film Dewa-dewi. Tiga tahun kemudian, dia baru mendapat peran sebagai pemain pembantu dalam film Djelita (1953) dan akhirnya menjadi pemeran utama dalam film Uang Palsu (1954)2.

Tetapi setelah membintangi film Mr. X yang diproduksi tahun 1955, dia memutuskan untuk menarik diri dari dunia film karena kesibukannya sebagai pengusaha eksportir teh. Dia baru mulai berakting lagi setelah 16 tahun vakum dengan bermain dalam film Ibuku Kekasihku tahun 1971. Selanjutnya, rutin setiap tahun Muni bermain dalam satu hingga beberapa buah film. Bahkan, dia juga sempat beralih menjadi Pemimpin Unit, Pembantu Sutradara dalam beberapa produksi film, serta bermain dalam beberapa sinetron (Mahkota Brama Kumbara, Bukan Sekedar Sandiwara (1997), dan Perawan Lembah Wilis (1997))3.

Adapun film-film yang pernah dilakoninya, antara lain: Djelita (1953), Putri Gunung (1954), Mr. X (Uang Palsu) (1955), Lorong Hitam (1971), Tjinta di Batas Peron (1971), Wajah Seorang Pembunuh (1972), Takkan Kulepaskan (1972), Selamat Tinggal Kekasih (1972), Ratu Ular (1972), Hanya Satu jalan (1972), Bila Cinta Bersemi (1972), Angkara Murka (1972), Cincin Berdarah (1973), Rindu (1973), Bulan di Atas Kuburan (1973), Si Comel (1973), Bapak Kawin Lagi (1973), Prahara (Betinanya Seorang Perempuan) (1974), Sarah (1974), Susana (1974), Rahasia Gadis (1975), Lupa Daratan (1975), Benyamin Koboi Ngungsi (1975), Tarsan Pensiunan (1976), Anak Emas (1976), Ingin Cepat Kaya (Babi Jadi-jadian) (1976), Hippies Lokal (1976), Gadis Panggilan (1976), Tiga Janggo (1976), Cinta Rahasia (1976), Gaun Hitam (1977), Pembalasan Si Pitung (Jiih) (1977), Mana yang Benar (1977), Bandit Pungli (1977), Macan Terbang (1977), Krakatau (1977), Tuyul (1978), Kau dan Aku Sayang (You and I My Love) (1979), Penangkal Ilmu Teluh (1979), Nostalgia di SMA (1980), Khana (1980), Karena Lirikan (1980), Bawalah Aku Pergi (1981), Badai di Awal Bahagia (1991), Bayi Ajaib (1982), Ajian Macan Putih (1982), Nenek Grondong (1982), Budak Nafsu (Fatima) (1983), Terjebak dalam Dosa (1983), Gadis Berwajah Seribu (1984), Gadis Berdarah Dingin (1984), Elang Laut (1984), Putri Ular (1984), Sunan Kalijaga dan Syech Siti Jenar (1985), Komedi Lawak 88 (1986), Mandala dari Sungai Ular (1987), Jaringan Terlarang (1987), Siluman Srigala Putih (1987), Misteri Sumur Tua (1987), Ngipri Monyet (1988), Bunga Desa (1988), Noesa Penida (Pelangi Kasih Pandansari) (1988), Brahma Manggala (1988), Nyi Mas Gandasari (1989), Langkah-langkah Pasti (1989), Kemesraan (1989), Cinta yang Berlabuh (1989), Titisan Dewi Ular (1990), Dorce Ketemu Jodoh (1990), Cinta Anak Muda (1990), Makhluk dari Kubur (1991), Plong (Naik Daun) (1991), Penumpas Ajaran Sesat (1993), dan Perempuan di Persimpangan Jalan (1993).

Berkat kiprahnya di dunia perfilman tersebut, Muni Cader pernah mendapat nominasi Piala Citra sebagai pemeran pembantu pria terbaik dalam film Noesa Penida (Pelangi Kasih Pandansari) pada Festival Film Indonesia tahun 1989 dan penghargaan atas Kesetian Profesi dari Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) pada tahun 1997. Muni Cader meninggal dalam usia 69 tahun pada tanggal 6 September 2001 di Jakarta. (gufron)

Foto: https://id.wikipedia.org/wiki/Muni_Cader
Sumber:
1. "Muni Cader", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Muni_Cader, tanggal 3 September 2015.
2. "Muni Abdul Kadir", diakses dari http://filmindonesia.or.id/movie/name/nmp4bcd710f3f 8d0_muni-cader #.VesrJBGqqko, tanggal 3 September 2015.
3. "Muni Cader", diakses dari http://www.tamanismailmarzuki.co.id/tokoh/muni.html, tanggal 6 September 2015.

Permainan Melucak Karet

Melucak karet adalah istilah masyarakat Lampung Utara bagi sebuah sebuah permainan melompati tali karet yang direntangkan oleh dua orang pemain dengan berbagai macam ketinggian. Kapan dan dari mana permainan ini bermula sudah sulit diketahui secara pasti. Namun, menurut masyarakat setempat permainan melucak karet sudah dimainkan oleh anak-anak Lampung Utara sejak bangsa Indonesia belum merdeka.

Pemain
Permainan melucak karet dimainkan oleh 3-7 orang anak (umumnya perempuan) berusia antara 7-15 tahun. Pemain dibagi dalam dua kelompok, yaitu pemegang karet dan pelompat karet. Permainan ini tidak membutuhkan tempat yang luas dan dapat dimainkan di mana saja dan kapan saja, seperti di halaman sekolah (pada waktu istirahat) atau di halaman rumah.

Peralatan Permainan
Peralatan yang digunakan dalam permainan berupa karet-karet gelang yang dianyam memanjang. Cara menganyamnya adalah dengan menyambungkan dua buah karet pada dua buah karet lainnya hingga memanjang dengan ukuran sekitar 3-4 meter. Karet-karet tersebut tidak dijual perbuah, melainkan dalam bentuk satuan berat (gram, ons, dan kilo). Fungsi karet pada umumnya adalah sebagai pengikat plastik pembungkus makanan, pengikat rambut dan barang-barang lainnya yang tidak membutuhkan pengikat yang kuat, karena karet akan mudah putus jika dipakai untuk mengikat terlalu kuat pada suatu benda.

Aturan Permainan
Permainan melucak karet dapat dimainkan dalam tiga macam cara. Cara pertama hanya melompati anyaman karet dengan ketinggian tertentu. Jika pemain dapat melompati tali-karet tersebut, maka ia akan tetap menjadi pelompat hingga merasa lelah atau berhenti bermain. Namun, apabila gagal sewaktu melompat, pemain tersebut harus menggantikan posisi pemegang tali hingga ada pemain lain yang juga gagal dan menggantikan posisinya. Ada beberapa ukuran ketinggian tali karet yang harus dilompati, yaitu: (1) tali berada pada batas lutut pemegang tali; (2) tali berada sebatas (di) pinggang (sewaktu melompat pemain tidak boleh mengenai tali karet sebab jika mengenainya, maka ia akan menggantikan posisi pemegang tali); (3) posisi tali berada di dada pemegang tali (pada posisi yang dianggap cukup tinggi ini pemain boleh mengenai tali sewaktu melompat, asalkan lompatannya berada di atas tali dan tidak terjerat); (4) posisi tali sebatas telinga; (5) posisi tali sebatas kepala; (6) posisi tali satu jengkal dari kepala; (7) posisi tali dua jengkal dari kepala; dan (8) posisi tali seacungan atau hasta pemegang tali.

Cara kedua dilakukan dengan memutar-mutar anyaman karet. Dalam permainan ini pemain harus melompat mengikuti irama putaran anyaman karet. Dan, apabila gagal mengikuti irama putaran dengan jumlah yang telah ditentukan, maka sang pemain dinyatakan kalah dan harus menggantikan posisi pemegang karet.

Cara terakhir adalah dengan melompat sambil melilitkan untaian karet dan kemudian melepas kembali lilitan tersebut. Apabila pemain tidak dapat melilitkan kakinya pada untaian karet atau sebaliknya tidak dapat melepaskan lilitan, maka ia dinyatakan kalah dan harus mengganti posisi pemegang karet.

Jalannya Permainan
Proses permainan melucak karet diawali dengan pemilihan dua orang pemain yang akan menjadi pemegang tali dengan jalan gambreng dan suit. Gambreng dilakukan dengan menumpuk telapak tangan masing-masing peserta yang berdiri dan membentuk sebuah lingkaran. Kemudian, secara serentak tangan-tangan tersebut akan diangkat dan diturunkan. Pada saat diturunkan, posisi tangan akan berbeda-beda (ada yang membuka telapak tangannya dan ada pula yang menutupnya). Apabila yang terbanyak adalah posisi telapak terbuka, maka yang memperlihatkan punggung tangannya dinyatakan menang dan gambreng akan diulangi lagi hingga nantinya yang tersisa hanya tinggal dua orang peserta yang akan menjadi pemegang tali. Kedua orang tersebut nantinya akan melakukan suit, untuk menentukan siapa yang terlebih dahulu akan menggantikan pemain yang gagal ketika melompat. Suit adalah adu ketangkasan menggunakan jari-jemari tangan, khususnya ibu jari, jari telunjuk dan jari kelingking. Ibu jari dilambangkan sebagai gajah, jari telunjuk sebagai manusia dan jari kelingking sebagai semut. Apabila ibu jari beradu dengan jari telunjuk, maka ibu jari akan menang, karena gajah akan menang jika bertarung dengan seorang manusia. Namun apabila ibu jari beradu dengan jari kelingking, maka ibu jari akan kalah, sebab semut dapat dengan mudah memasuki telinga gajah, sehingga gajah akan kalah. Sedangkan apabila jari kelingking beradu dengan jari telunjuk, maka jari kelingking akan kalah, sebab semut akan kalah dengan manusia yang mempunyai banyak akal.

Setelah semuanya siap, maka satu-persatu pemain akan melompati tali dengan berbagai macam tahap ketinggian yang telah disebutkan di atas. Pada ketinggian-ketinggian yang sebatas lutut dan pinggang, umumnya para pemain dapat melompatinya, walaupun pada ketinggian tersebut tali tidak boleh tersentuh tubuh pemain. Pada tahap ketinggian yang sebatas dada hingga satu jengkal di atas kepala, mulai ada pemain yang merasa kesulitan untuk melompatinya. Pergantian pemegang tali mulai banyak terjadi pada saat ketinggian tali sebatas hingga dua jengkal di atas kepala. Tahap yang paling sulit adalah ketika tali berada seacungan hasta pemegangnya. Pada tahap ketinggian seperti ini, pada umumnya hanya pemain-pemain yang memiliki postur tubuh yang tinggi dan atau sering bermain tali merdeka saja yang dapat melompatinya. Agar mempermudah lompatan, pemain juga boleh melakukan gerakan berputar menyamping, yang jika diamati akan nampak seperti perputaran baling-baling. Gerakan berputar pada umumnya dilakukan oleh anak laki-laki. Selain berputar, pemain juga boleh memegang dan menurunkan tali terlebih dahulu sebelum melompat. Cara ini biasanya dilakukan oleh anak-anak perempuan. Pemain yang telah berhasil melompati tali yang setinggi acungan tangan, akan menunggu pemain lain selesai melompat. Dan, setelah seluruh pemain berhasil melompat, maka tali akan diturunkan kembali sebatas lutut. Begitu seterusnya, hingga pemain merasa lelah dan berhenti bermain.

Nilai Budaya
Permainan yang disebut sebagai melucak karet ini mengandung nilai kerja keras, ketangkasan, kecermatan dan sportivitas. Nilai kerja keras tercermin dari semangat pemain yang berusaha agar dapat melompati tali dengan berbagai macam ketinggian. Nilai ketangkasan dan kecermatan tercermin dari usaha pemain untuk memperkirakan antara tingginya tali dengan lompatan yang akan dilakukannya. Ketangkasan dan kecermatan dalam bermain hanya dapat dimiliki, apabila seseorang sering bermain dan atau berlatih melompati karet yang direntangkan dengan berbagai macam ukuran ketinggian. Sedangkan nilai sportivitas tercermin dari sikap pemain yang tidak berbuat curang dan bersedia menggantikan pemegang tali jika melanggar peraturan yang telah ditetapkan dalam permainan. (Ali Gufron)

Sumber:
Hindun (54 Tahun)
Desa Peraduan Waras, Kecamatan Abung Timur, Kabupaten Lampung Utara

Slamet Rahardjo Djarot

Slamet Rahadjo Djarot atau Slamet Rahadjo adalah aktor dan sutradara kawakan yang telah malang melintang di dunia sinematografi Indonesia. Pria yang masa kecilnya akrab di disapa Memet ini lahir di Serang, Banten, pada 21 Januari 1949 dari pasangan Djarot Djojoprawiro dan Ennie Tanudireja1. Semasa kecil, Memet yang pernah bersekolah di SMPN VIII Yogyakarta memang bercita-cita ingin menjadi artis. Oleh sebab itu, setamat penempuh pendidikan di SMAN Tanjungpandan, Memet meneruskannya ke Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI). Walau tidak sampai tamat, di ATNI dia sempat bergabung dalam Teater Populer bersama Teguh Karya. Dia kemudian pindah ke Akademi Teater Nasional Indonesia - Art Directing/Akademi Film Nasional Jayabaya pada tahun 19692.

Slamet memulai kariernya di dunia perfilman pada tahun 1971 dengan menjadi pemeran utama pada film Wajah Seorang Laki-laki berpasangan dengan Laila Sari. Sukses membintangi film itu, nama Slamet Rahadjo semakin bersinar. Selanjutnya, hampir setiap tahun dia selalu saja terlibat dalam penggarapan sebuah film, baik sebagai pemeran utama, supporting cast, cast, scriptwriter (penulis skenario), komposer, post productin supervisor, maupun sturadara. Adapun film-film yang dibintanginya adalah: Cinta Pertama (1973); Ranjang Pengantin (1974); Perkawinan dalam Semusim (1976); Badai Pasti Berlalu (1977); November 1828 (1978); Di Balik Kelambu (1982); Tjoet Nja Dhien (1986); Kodrat (1986); Ruang (2006); dan Gending Sriwijaya (2013)3.

Sementara pada film lain dia hanya berperan sebagai sebagai cast atau supproting cast (aktor pendukung). Film-film itu diantaranya adalah: Kawin Lari (1974); Bukit Perawan (1976); Ponirah Terpidana (1983); Terang Bulan di Tengah Hari (1988); Pasir Berbisik (2000); Kutunggu di Sudut Semanggi (2004); Banyu Biru (2004); Badai Pasti Berlalu (2007); Cinta Setaman (2008); Namaku Dick (2008); Laskar Pelangi (2008); Lastri (2009); Ketika Cinta Bertasbih (2009); Sang Pencerah (2010); Kabayan Jadi Milyuner (2010); Bahwa Cinta itu Ada (Gading-gading Ganesha) (2010); Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (2010); Babak Belur (2010); Sang Penari (2011); Dilema (2011); Jakarta Hati (2012); Sang Pialang (2013); Pendekar Tongkat Emas (2014); Filosofi Kopi (2015), Hijab (2015); dan Garuda Superhero (2015)3.

Selain sebagai pemeran utama atau supporting cast, Slamet kadang juga merangkap sebagai post production supervisor, art director, penulis skenario, dan atau sutradara. Pada film Rembulan dan Matahari (1979), Seputih Hatinya Semerah Bibirnya (1980), Ponirah Terpidana (1983), Kodrat (1986), Kasmaran (1987), Langitku Rumahku (1989), Telegram (1997), dan Marsinah (2000) misalnya, Slamet juga bertindak penulis skenario sekaligus sutradara. Sementara untuk film Di Balik Kelambu (1982), Melintas Badai (1985), dan Batas (2011) sebagai penulis skenario. Film Kembang Kertas (1984) sebagai Sutradara, November 1828 (1978) sebagai komposer sekaligus art director, dan film Nada untuk Asa (2015) sebagai post production supervisor.

Berkat kiprahnya secara total di dunia sinematografi tersebut Slamet kerap dinominasikan dan bahkan mendapat penghargaan pada Festival Film Indonesia (FFI) maupun Festival Film Bandung. Nominasi pertama diperolehnya lewat film Rembulan dan Matahari pada FFI tahun 1980 sebagai Sutradara dan Skenario Terbaik. Nominasi selanjutnya, sebagai Penulis Skenario, Pemeran Pembantu Pria, dan Sutradara Terbaik pada FFI tahun 1984 dalam film Ponirah Terpidana; nominasi sebagai Cerita Terbaik pada FFI tahun 1985 dalam film Kembang Kertas; nominasi sebagai Sutradara, Skenario, Cerita, dan Pemeran Utama Pria Terbaik pada FFI tahun 1987 dalam film Kodrat; nominasi sebagai Sutradara dan Skenario Terbaik pada FFI tahun 1988 dalam film Kasmaran dan nominasi Pemeran Pembantu Pria Terbaik dalam film Tjoet Nja Dhien; nominasi sebagai Penulis Skenari dan Sutradara Terbaik pada FFI tahun 1990 dalam film Langitku Rumahku; nominasi sebagai Aktor Pendukung Terbaik pada FFI 2004 dalam film Pasir Berbisik dan nominasi Skenario serta Penyutradaraan Terbaik dalam film Marsinah; dan nominasi sebagai Pemeran Pembantu Pria Terpuji pada Festifal Film Bandung 2011 dalam film Sang Pencerah.

Sedangkan penghargaan pertamanya diperoleh dari PWI sebagai Runner Up IV Aktor/aktris Terbaik PWI 1972-1974 dalam film Cinta Pertama. Selanjutnya, sebagai Runner Up II Aktor-aktris terbaik PWI 1974-1975 dalam film Ranjang Pengantin, Pemeran Utama Pria Terbaik (piala Citra) pada Festival Film Indonesia 1975 dalam film Ranjang Pengantin, Penata Musik dan Artistik Terbaik pada Festival Film Indonesia 1979 dalam film November 1828, Sutradara Terbaik II (Piala FKT) pada Festival Film Indonesia 1980 dalam film Rembulan dan Matahari, Pemeran Utama Pria Terbaik pada Festival Film Indonesia 1983 dalam film Di Balik Kelambu, Sutradara Terbaik pada Festival Film Indonesia 1985 dalam film Kembang Kertas, Sutradara Terpuji pada Festival Film Bandung 1988 dalam film Kasmaran, Sutradara Terpuji pada Festival Film Bandung 1991 dalam film Langitku Rumahku, Sutradara Terpuji pada Festival Film Bandung 2003 dalam film Marsinah, Pemeran dengan Pengabdian Seumur Hidup Terpuji pada Festival Film Bandung tahun 20124, dan penghargaan pada Anugerah Federasi Teater Indonesia (FTI) tahun 2009 atas kontribusinya bagi eksistensi teater Indonesia2.

Sukses lewat film, Slamet berhasrat lagi untuk kembali menerjuni dunia teater dengan ikut mementaskan lakon Rambut Palsu, It Should Happen to a Dog, Laddy Aoi, Perempuan Pilihan Dewa, Dag Dig Dug, Pakaian dan Kepalsuan, dan Jolalilo. Lakon Jolalilo dipentaskan bersama Teater Populer pada tahun 2007 dalam Festival Seni Surabaya di Balai Pemuda Surabaya5. Jolalilo merupakan ungkapan sikap Slamet atas kondisi masyarakat dewasa ini yang mengidap penyakit mudah lupa pada musibah dan berkah yang dialami sehingga tidak mampu untuk mengambil hikmahnya. Kebiasaan "lupa" itu selalu terulang sehingga bencana yang datang dihadapi dengan tingkah polah lucu yang akhirnya melahirkan sebuah kisah komedi pahit tentang kehidupan anak-anak manusia.

Tidak hanya film dan teater, Slamet juga merambah dunia sinema elektronik (sinetron). Suami dari Mira Surianegara dan ayah dari Laras serta Kasih ini ikut pula membintangi sinetron Istri Pilihan (1977), Suro Buldog (1994), Demi Cinta dan Anakku (1995), Oh Ibu dan Ayah Selamat Pagi (1997), Kau Masih Kekasihku (2006), dan Para Pencari Tuhan (2012)6. Selain itu, dia juga aktif mengajar sebagai dosen Penyutradaraan FFTV-IKJ, Ketua Umum Karyawan Film dan Televisi (1995-1999), Ketua Komisi Badan Pertimbangan Film Nasional/BP2N (1985-1998), Ketua Yayasan Teater Populer, Direktur Utama PT Ekapraya Tatacipta Film, dan President of CAPA (Cilect Asia-Pasific Association).

Bagi Slamet, keberhasilannya selama ini hanya bisa diraih dengan ketekunan yang luar biasa. Oleh karena itu dia selalu mengingatkan kepada anak-anaknya agar menggeluti sebuah profesi dengan tekun agar cita-cita dan keinginan mudah dicapai4. Namun, dibalik keberhasilan itu dia juga menyayangkan akan budaya industri film Indonesia saat ini yang berbeda dengan industri film di Eropa atau Amerika. Menurutnya, di kedua benua tersebut aktor-aktor tua berpengalaman memiliki tempat yang istimewa dan masih beraksi sebagai bintang utama7. (gufron)

Foto: http://peoplecheck.de/s/rahardjo
Sumber:
1. "Jadi Profil: Slamet Rahardji, Si Seniman Serba Bisa", diakses dari http://jadiberita.com/21379/jadiprofil-slamet-rahardjo-si-seniman-serba-bisa.html, tanggal 29 Agustus 2015.
2. "Profil Slamet Raharjo", diakses dari http://blog-ganefo.blogspot.com/2010/02/profil-slamet-raharjo.html, tanggal 20 Agustus 2015.
3. "Slamet Rahadjo Djarot", diakses dari http://www.indonesianfilmcenter.com/cc/slamet-rahardjo-djarot. html, tanggal 3 September 2015.
4. "Slamet Rahardjo Djarot", diakses dari http://profil.merdeka.com/indonesia/s/slamet-rahardjo-djarot/, tanggal 1 September 2015.
5. "Slamet Rahardjo Djarot Sembahkan Jolalilo untuk FSS 2007", diakses dari http://www.antara news.com/berita/65213/slamet-rahardjo-djarot-sembahkan-jolalilo-untuk-fss-2007, tanggal 2 September 2015.
6. "Slamet Rahardjo", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Slamet_Rahardjo, tanggal 30 Agustus 2015.
7. "Slamet Rahardjo", diakses dari festival.indonesianyouth.org/2013/slamet-rahardjo/, tanggal 2 September 2015.

Permainan Jemamok

Jemamok adalah sebutan anak-anak di Desa Peraduan Waras, Lampung Utara, bagi sebuah permainan mencari tempat persembunyian pemain sambil menjaga "benteng" pertahanan agar tidak disentuh atau dipegang oleh pemain lain. Dalam konteks ini, "benteng" adalah sebuah batang pohon - disebut asinan - yang harus dijaga oleh seorang pemain dari "serangan" (sentuhan) pemain lain. Kapan dan dari mana permainan ini berasal sudah tidak diketahui lagi, namun menurut penuturan penduduk setempat, sejak zaman penjajahan Jepang jemamok sudah dimainkan oleh anak-anak Desa Peraduan Waras.

Permainan jemamok dapat dimainkan secara bersama-sama oleh 5-20 orang laki-laki dan perempuan berusia antara 7-13 tahun. Dari sekian banyak pemain tersebut, nantinya hanya satu orang yang menjadi penjaga asinan, sedangkan sisanya akan bersembunyi sambil menunggu waktu tepat untuk "menyerang" asinan yang dapat berada di halaman rumah, halaman rumah adat, halaman sekolah, atau di kebun.

Aturan permainan jemamok tergolong sederhana, yaitu seorang pemain yang kebetulan mendapat giliran menjaga asinan harus mencari pemain lain yang sedang bersembunyi. Apabila dia dapat menemukan seluruh pemain yang bersembunyi, maka pemain pertama yang diketahui pesembunyiannya akan menggantikannya menjaga asinan. Namun, apabila di tengah-tengah permainan asinan berhasil disentuh atau dipegang oleh pemain yang belum tertangkap, maka pemain yang telah tertangkap akan bebas kembali dan si penjaga asinan harus mengulangi lagi mencari seluruh pemain.

Adapun proses permainannya diawali dengan memilih satu orang pemain yang akan menjaga asinan dengan jalan gambreng dan suit. Gambreng dilakukan dengan menumpuk telapak tangan masng-masing peserta yang berdiri membentuk sebuah lingkaran. Kemudian, secara serentak tangan-tangan tersebut akan diangkat dan diturunkan. Pada saat diturunkan, posisi tangan akan berbeda-beda (ada yang membuka telapak tangannya dan ada pula yang menutupnya). Apabila yang terbanyak adalah posisi telapak terbuka, maka yang memperlihatkan punggung tangannya dinyatakan menang dan gambreng diulangi lagi hingga nantinya tinggal tersisa hanya dua orang peserta. Kedua orang tersebut akan melakukan suit untuk menentukan siapa yang menjaga asinan.

Setelah semua siap, penjaga asinan harus menghadap ke asinan sambil berhitung dengan mata tertutup sebelum pemain lainnya bersembunyi. Selesai hitungan, penjaga asinan baru diperbolehkan untuk mencari tempat persembunyian pemain lain. Selama pencarian tersebut, dia akan berlarian ke tempat-tempat yang dirasa ada pemain yang sedang bersembunyi. Apabila berhasil menemukannya, maka penjaga asinan dan pemain yang dikenai tadi akan berlari secepatnya menuju asinan. Jika penjaga berhasil menyentuh asinan terlebih dahulu, berarti pemain berhasil tertangkap. Begitu seterusnya hingga seluruh pemain yang bersembunyi tertangkap. Selanjutnya, pemain pertama yang tertangkap harus menggantikan pemain penjaga asinan. Namun, apabila asinan berhasil diserang, maka seluruh pemain yang telah tertangkap dapat "lepas" kembali dan menjaga harus mencarinya lagi. Permainan jemamok akan berakhir apabila para pemainnya telah merasa lelah atau puas bermain. (ali gufron)

Sumber:
Hindun (54 Tahun)
Desa Peraduan Waras, Kecamatan Abung Timur, Kabupaten Lampung Utara

More

Popular Posts

-