Museum Perjuangan Yogyakarta

Sejarah
Museum Perjuangan berada di Jalan Kolonel Sugiyono No. 24, Yogyakarta. Keberadaan museum ini di Kota Yogyakarta bermula dari gagasan Sri Sultan Hamengkubuwana IX untuk mendirikan sebuah monumen saat memperingati setengah abad Kebangkitan Nasional pada bulan Mei 1958. Adapun tujuannya adalah agar dapat mengenang perjuangan bangsa Indonesia dalam sebuah bangunan monumental yang memuat sejarah perjuangan anak negeri dalam memperjuangkan kemerdekaan1.

Agar bangunan monumen cepat terealisasi, dibentuklah Panitia Monumen Setengah Abad Kebangkitan Nasional, terdiri dari: Sri Sultan Hamengkubuwana IX (ketua), Sri Paku Alam VIII (wakil ketua), Moh. Djamhari (wakil ketua II), Letkol Joesmin (wakil ketua III), Mayor R.M. Hardjokoesoemo (wakil ketua IV), Mr. Soedarisman Poerwokoesoemo (wakil ketua), R. Soetardjo (sekretaris), dan anggota (R. Soemarsono, K.R.T. Kertoprodjo, R. Rio Darmoprodjo, R. Mangoenwastio, Prodjosudono, Lets. Soejoedi, Soesila Prawirosoesanto, Bismo Wignyoamidjojo, S. Mangoenpuspito, R.W. Pronosoeprojo, Winoto, Ds. SP. Poerbpwijogo, Ibnoe Moekmin, Daljoeni, Prodjokaskojo, Ny. Sahir Nitihardjo, K.R.T. Labaningrat, Prof. Ir. Soewandi, R.M. Srihandojokoesoemo, dan Soedharso Pringgobroto)2.

Panitia Monumen Setengah Abad Kebangkitan Nasional membentuk lagi sebuah panitia khusus yang akan membahas tentang apa dan bagaimana monumen itu kelak. Kepanitiaan khusus ini beranggotakan sembilan orang sehingga sering disebut juga sebagai Panitia Sembilan, terdiri atas: Soenaryo Mangoenpoepito (ketua), Soetardjo (sekretaris), dan anggora (Mr. Soedarisman Poerwokoesoemo, Soenito Dojosoegito, Ny. Sahir Nitihardjo, Daljoeni, Fadlan AGN, Mangoenwarsito, Bismo Wignjoamidjojo, dan R.W. Probosoeprodjo)2.

Selain membentuk Panitia Sembilan, Panitia Monumen Setengah Abad Kebangkitan Nasional juga membentuk seksi Pembangunan Gedung Museum, seksi Pengumpulan Barang-barang dari Pihak Sipil, seksi Pengumpul Barang-barang dari Pihak Militer, seksi usaha sesudah museum jadi dan dibuka, seksi relief, seksi administrasi keuangan, serta seksi penerangan dan propaganda. Seksi-seksi tersebut mulai bekerja hingga pemasangan patok pertama pada tanggal 17 Agustus 1959 oleh Sri Paku Alam VIII sebagai tanda tempat akan dibangunnya museum di halaman nDalem Brontokusuman, pencangkulan pertama tanggal 5 Oktober 1959 oleh Sri Paku Alam VIII sebagai tanda dimulainya pembangunan museum, pemasangan batu terakhir tanggal 29 Juni 1961 oleh Sri Sultan Hamengkubuwana IX sebagai tanda berakhirnya pembangunan museum, dan upacara pembukaan museum tanggal 17 November 1961 oleh Sri Paku Alam VIII sebagai tanda dibukanya museum untuk umum.

Setelah dibuka untuk umum, pengelolaan museum dilakukan oleh Panitia Setengah Abad Kebangkitan Nasional Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun, karena ditangani oleh sebuah panitia dan bukan organisasi khusus, kegiatan museum mengalami pasang surut dan bahkan sempat tutup dari tahun 1963 hingga 1969. Bangunan dan perawatan koleksi yang berada di dalamnya dilimpahkan kepada pihak Museum Angkatan Darat yang waktu itu juga berkedudukan di nDalem Brontokusuman (di bagian belakang Museum Perjuangan).

Pada tahun 1970, walau masih tertutup untuk umum, pengelolaan museum beralih ke Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta c.q Inspeksi Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Empat tahun kemudian, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta menyerahkan pengelolaan museum kepada Bidang Permuseuman Sejarah dan Kepurbakalaan Kanwil Depdikbud Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai bagian dari Museum Sonobudoyo.

Ketika menjadi bagian dari Museum Sonobudoyo yang saat itu menjadi UPT pada Direktorat Permuseuman Dirjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan inilah pada tanggal 30 Juni 1980 Museum Perjuangan dibuka lagi untuk umum. Dan, pada tanggal 5 September 1997 pihak Museum Sonobudoyo yang telah beralih menjadi UPT Daerah Istimewa Yogyakarta melimpahkan pengelolaan Museum Perjuangan kepada Museum Benteng Vredeburg sesuai dengan keputusan Direktur Pendidikan dan Kebudayaan No: 386/FLIV/E/97 tanggal 22 Agustus 1997 serta Berita Acara Penyerahan No: 14/F4.113/D2.19971.

Oleh pihak Museum Benteng Vredeburg, pada tahun 2007 Museum Perjuangan direnovasi (akibat gempa) dan tahun berikutnya ditambahkan koleksi-koleksi sejarah persandian Indonesia di lantai bawah bangunan yang pengelolaannya diserahkan pada Lembaga Sandi Negara. Koleksi-koleksi sejarah persandian tersebut selanjutnya dikenal sebagai Museum Sandi yang pada pertengahan bulan Juli 2013 dipindahkan ke bekas Gedung Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Istimewa Yogyakarta3.

Sedangkan dalam hal pengoperasiannya, Museum Perjuangan dijadikan sebagai Unit II Museum Benteng Vredeburg yang pengelolanya ditunjuk dari karyawan-karyawan Museum Benteng Vredeburg oleh Kepala Museum berdasarkan surat tugas. Adapun susunannya terdiri dari seorang Kordinator Unit yang bertugas menyusun dan melaksanakan program kerja administrasi maupun teknis museum. Dalam melaksanakan tugasnya, Kordinator Unit dibantu oleh petugas persuratan/perlengkapan, petugas penyajian, petugas konservasi, petugas bimbingan edukasi, dan petugas keamanan.

Bangunan Museum
Bangunan Museum Perjuangan yang berada dalam areal nDalem Brontokusuman ini berbentuk bulat silinder menyerupai perpaduan antara bentuk bangunan model Romawi kuno dengan model Timur yang dinamai sebagai ronde temple. Adapun idenya berasal dari Sri Sultan Hamengkubuwana IX yang diutarakan oleh ketua panitia teknik Prof. Ir. Soewandi saat memberikan penjelasan tentang rencana dan bangunan pada rapat pleno keempat tanggal 19 Juni 1959.

Pembangunan museum disokong oleh dana bantuan pemerintah pusat sebesar Rp.8.000.000,00 yang terbagi dalam tiga termin. Termin pertama sebesar Rp.3.500.000,00 pada tahun 1959, termin kedua sebesar Rp.2.500.000,00 pada tahun 1960, dan termin terakhir pada tahun 1961 sebesar Rp.2.000.000,002. Sedangkan pengerjaannya dilakukan oleh E.I.C (Indonesian Engineering Corporation) yang menjadi pemenang lelang dengan penawaran paling mendekati budget pemerintah.

Khusus untuk pengerjaan patung dan hiasan puncak gedung, melalui sidang pleno ke sembilan tanggal 7 April 1960 Panitia Monumen Setengah Abad Kebangkitan Nasional membuat dua macam sayembara, yaitu: sayembara hiasan puncak gedung museum dan sayembara kesatuan patung di muka gedung museum. Oleh karena tidak ada rancangan hiasan puncak museum yang memenuhi kriteria, panitia terpaksa memilih salah satu dari 44 rancang bangun museum yang telah dikirimkan peserta sayembara. Rancang bangun puncak museum yang memenangi sayembara tersebut diberi judul "Purana Swaraj". Pemenangnya yaitu F.A. Sutjipto diberi penghargaan serta hadiah sejumlah Rp.20.000,00. Sedangkan untuk pemanang sayembara kesatuan patung di muka gedung museum berjudul "Mara Hanung" diberi hadiah sebesar Rp.5.000,00.

Setelah seluruh persiapan matang, pendirian bangunan museum pun dimulai dengan dipimpin oleh Soerodjo dari NV I.E.C. Soerodjo membangun museum sesuai dengan yang diinginkan oleh panitia, yaitu berbentuk bulat dengan diameter 30 meter dan tinggi 17 meter. Pada bagian puncaknya berukuran dasar 3 meter, tinggi 7 meter dan berat sekitar 15 ton. Pengerjaan bagian puncak bangunan dibagi menjadi 3 bagian. Pertama, membuat cetakan menggunakan tanah liat sebanyak 11 ton. Kemudian cetakan itu dibalut gibs sejumlah 6 ton, dan terakhir memasang cetakan gibs di atas gedung museum untuk dicor dengan beton.

Selesai pembuatan puncak dilanjutkan dengan pengerjaan hiasan dan relief pada beberapa bagian museum. Adapun relief dan hiasan tersebut, diantaranya adalah: (1) makara berbentuk binatang laut pada bagian kiri dan kanan pintu masuk museum; (2) lima buah bambu runcing di bagian atap gedung yang berbentuk mirip ropi baja model Amerika; (3) bulatan dunia yang terletak di atas lima buah trap; (4) bintang bersudut delapan dengan peta kepulauan Indonesia di tengah-tengahnya yang dibuat di bagian atas pintu masuk museum; (5) pada bagian bawah bintang bersudut delapan dihias candrasengkala berbunyi ciptaan R.M. Kuswaji Kawindro Susanto berbunyi "Anggatra Pirantining Kusuma Negara"; (6) relief pada sekeliling gedung yang menceritakan riwayat perjuangan bangsa dari berdirinya Boedhi Utomo hingga terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia; dan (7) ukiran lung-lungan berbentuk menyerupai lidah api pada 45 buah pilar.

Koleksi Museum Perjuangan
Sesuai dengan namanya, museum ini mengkoleksi benda-benda yang berhubungan dengan perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Benda-benda bersejarah tersebut dibagi dalam dua tata pameran. Tata pameran pertama disajikan secara outdoor dan tata pameran kedua disajikan indoor4.

Koleksi tata pameran outdoor meliputi: bangunan museum sendiri; patung kepala pahlawan nasional (Sultan Hasanuddin, Kapitan Pattimura, Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, Raden Ajeng Kartini, Dr. Wahidin Soedirohoesodo, Ki Hadjar Dewantara, Mohammad Husni Thamrin, dan Jenderal Soedirman); dan relief peristiwa sejarah berupa lahirnya Boedhi Oetomo, Sarekat Islam, Indische Partij, Muhammadiyah, Taman Siswa, Partai Nasional Indonesia, lahirnya Gabungan Politik Indonesia (GAPI), perlawanan rakyat terhadap penjajah Belanda, pemufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia, Kongres Pemuda II, Kongres Wanita Indonesia, Perang Dunia II, Penindasan Jepang, penyerahan Jepang pada Sekutu, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, gema proklamasi dalam peristiwa Ikada (Ikatan Atletik Djakarta), konsolidari kekuatan Jepang oleh rakyat Indonesia, insiden bendera Tunjungan di Surabaya, pemberontakan Tentara Keamanan Rakyat, Kongres Pemuda I, Sidang I Bdan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat, Perpindahan Ibukota RI ke Yogyakarta, Perang Puputan di Bali, Berdirinya Universitas Gadjah Mada, peristiwa Bandung Lautan Api; Politik diplomasi tahun 1948; pengangkutan eks tahanan warganegara Belanda dan eks tentara Jepang; Agresi Militer Belanda I; Pekan Olahraga Nasional di Solo, Agresi Militer Belanda II; Serangan Umum 1 Maret 1949; penarikan tentara Belanda dari Yogyakarta; para pemimpin negara kembali ke Yogyakarta tanggal 6 Juli 1949; Konferensi Meja Bundar; pengakuan Kedaulatan RI oleh Belanda 27 Desember 1949; dan terbentuknya Republik Indonesia Serikat.

Sedangkan koleksi tata pameran indoor meliputi: replika meriam yang ditemukan di dalam komplek Museum Benteng Vredeburg; miniatur kalap armada laut Belanda; sepeda Armed yang pernah digunakan oleh para anggota BKR pada masa Perang Kemerdekaan; meja dan kursi tamu kapten Widodo; replika senjata serdadu VOC; buku ilmu kedokteran dari Stovia; benda-benda milik R.M. Soerjopranoto yang berujud udheng (penutup kepala), mesin ketik, dan peralatan makan (piring dan centong); miniatur kepanduan (miniatur Pandu Hizbul Wathan (HW), Pandu Rakyat, dan Pramuka); Tugu Kepanduan Bangsa Indonesia; pakaian perempuan Pandu Mataram; keranjang rumput yang dipakai oleh para pejuang di Bali; matang uang VOC, klise mata uang ORI, dan uang ORI; meja guru Militer Akademi Yogyakarta; perlengkapan milik Tjilik Riwut berupa tongkat, bumbung, perples, cangkir bambu, pinggang rotan, dan dokumen perjuangan; perlengkapan Soekarno ketika berada di Rengasdengklok berupa tempat tidur, meja, kursi, dan peralatan milik Djiaw Kie Slong; perlengkapan milik Soekimin (salah seorang Tentara Pelajar) berupa arsip surat-surat penting, buku catatan harian, topi-pakaian Tentara Pelajar, dan bendera Merah-Putih; perlengkapan SPN (Sekolah Polisi Negara) berupa meja, kentongan, dan lampu senthir; tas kayu; bambu runding; samurai; radio perjuangan dari PPT Bandung; pedang dan kenop milik Suto Darmo, anggota polisi Pamong Praja Desa Gerbosari, Kulonprogo; lumpang batu yang pernah digunakan untuk menyiapkan logistik bagi Tentara Ganie Pelajar saat berada di rumah Mulyo Sewoyo5; perlengkapan kedokteran yang pernah digunakan di Rumah Sakit Boro, Kulonprogo, pada masa Perang Kemerdekaan; plakat-plakat perjuangan; kentongan kesekretariatan MBKD (Markas Besar Komando Djawa); perlengkapan kepolisian yang dipakai Kepolisian Gunungkidul sebelum tahun 1958; tas kulit milih Mohammad Hatta; peralatan minum Jenderal Soedirman; perlengkapan Kolonel Zulkifli Lubis dan Letkol Suhano; replika patung Nyi Ageng Serang, Dewi Sartika, Dr. Soetomo, Tirto Koesoemo, K.H.A. Dahlan, R.M. Soerjopranoto, Adi Sutjipto, Ir. Soekarno, Oerip Soemohardjo, dan Moh. Hatta; serta lukisan-lukisan peristiwa sejarah seperti Pernyataan Negeri Ngayogyakarta, pengibaran Bendera Merah Putih di Gedung Agung, pertempuran Kotabaru, penawanan Tentara Pelajar di daerah Prambanan, Serangan Umum 1 Maret 1949, dan dapur umum di daerah gerilya di Kulonprogo; serta patung replika polisi Hindi Belanda (Dutch East Indies Politie) yang mulai dipamerkan pata 6 Januari 20156.

Fasilitas Museum
Selain ruang pamer indoor dan aoutdoor, Museum Perjuangan juga dilengkapi dengan fasilitas penunjang bagi pengunjung, seperti: areal parkir, taman bermain, hotspot area, toilet, mushola, perpustakaan, dan auditorium. Bagaimana, Anda berminat menyaksikan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia? Apabila ingin berkunjung, museum ini dibuka secara umum dari hari Senin-Jumat (kecuali hari Sabtu, Minggu, dan hari besar nasional) dengan perincian: Senin-Kamis pukul 08.00-16.00 WIB dan Jumat pukul 08.00-16.30 WIB7. Adapun tiket masuknya dibagi dalam beberapa kategori, yaitu: pengunjung dewasa perorangan sebesar Rp. 2.000,00, dewasa rombongan sebesar Rp. 1.000,00, anak-anak perorangan sebesar Rp. 1.000,00, anak-anak rombongan sebesar Rp. 500,00, dan wisatawan mancanegara (dewasa maupun anak-anak) sebesar Rp. 10.000,008. (ali gufron)

Foto: http://pariwisata.jogjakota.go.id/index/extra.detail/1993/museum-perjuangan.html
Sumber:
1. "Sekilas tentang Museum Perjuangan (Museum Benteng Vredeburg Unit II)", diakses dari http://museumvredeburg.blogspot.co.id/2011/04/sekilas-tentang-museum-perjuangan.html, tanggal 8 November 2015.
2. "Museum Perjuangan Yogyakarta", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Perjuangan_ Yogyakarta, tanggal 8November 2015.
3. "Museum Sandi", diakses dari https://gudeg.net/direktori/5215/museum-sandi.html, tang gal 2 November 2015.
4. "Tentang Museum", diakses dari http://perjuangan.museumjogja.org/id/page/8-Tentang-Museum, tanggal 10 November 2015.
5. "Koleksi", diakses dari http://perjuangan.museumjogja.org/id/collection, tanggal 9 Novem ber 2015.
6. "Penambahan Patung Polisi Jaman Hindia Belanda", diakses dari http://perjuangan. museumjogja.org/id/news/7-penambahan-patung-polisi-jaman-hindia-belanda, tanggal 9 November 2015.
7. "Tentang Museum", diakses dari http://perjuangan.museumjogja.org/id/page/8-Tentang-Museum, tanggal 27 November 2015.
8. "Museum Perjuangan Yogyakarta", diakses dari https://gudeg.net/direktori/1652/museum-perjuangan-yogyakarta.html, tanggal 10 November 2015.
hal
Dilihat: