Datu Langko

(Cerita Rakyat Daerah Nusa Tenggara Barat)

Alkisah, pada zaman dahulu kala di daerah Langko (sekarang termasuk dalam Kecamatan Janapria, Kabupaten Lombok Tengah) terdapat sebuah kerajaan. Orang yang mendirikannya adalah Raden/Pangeran Mas Panji Tilar Negara yang berasal dari Kerajaan Selaparang di Lombok Timur. Kisahnya berawal ketika Raden Mas Panji Tilar Negara diperintahkan oleh Raja Selaparang (ayahandanya) untuk berdiam di Pulau Sumbawa. Mungkin karena kesal dia tidak pernah pulang lagi ke Selaparang. Oleh karena itu, Raja Selaparang kemudian menitah Patih Wirabakti bersama pengawalnya untuk menjemputnya.

Ketika telah berada di daerah Labuhan Haji, mereka disambut oleh Patih Singarepa dan Mas Pekan, adik Mas Panji. Waktu itu Mas Panji langsung berkata pada Sang adik, "Aku tidak akan kembali ke Selaparang karena ayahanda sudah tidak senang lagi padaku. Lebih baik aku menetap di Perwa saja."

Setelah berkata demikian, Mas Panji memerintahkan Patih Wirabakti dan Singarepa bersama dengan para pengawalnya membuat sebuah perkampungan di Perwa. Mas Pekan yang tidak dapat membantah Sang Kakak ikut membantu. Dia juga tidak ingin kembali ke Selaparang karena pasti akan dijadikan putera mahkota pengganti Mas Panji. Selain itu, rakyat Selaparang pun pasti tidak akan setuju jika kelak dia menjadi raja.

Beberapa bulan setelah menetap di Perwa Patih Singarepa menawarinya untuk singgah di Wanasaba. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan sekaligus menawarkan puterinya yang bernama Dewi Sinta untuk dipersunting Mas Panji Tilar Negara. Apabila Mas Panji mau menjadikan Dewi Sinta sebagai isteri, Patih Dingarepa sudah menyiapkan segala macam keperluan untuk pesta perkawinan mereka, seperti: sapi, kerbau, beras, hingga kayu bakar.

Penasaran dengan "tawaran" Pating Singarepa, Mas Panji segera menyanggupinya. Dan benar saja, ketika bertemu dengan Dewi Sinta dia langsung jatuh hati dan setuju untuk menikahinya. "Tapi, bagaimana pungkin saya dapat menyediakan segala sesuatu untuk acara pernikahan, Paman? Saya baru beberapa bulan di Perwa dan belum memiliki apa-apa," tanya Mas Panji.

"Ananda Mas Panji tidak perlu repot. Paman telah menyediakan segala sesuatunya, termasuk juga bekal hidup kelak ketika telah berumah tangga," jawab Patih Singarepa.

"Bila sanggup menderita serta tidak akan menyesal di kemudian hari, maka ananda sanggup menikahi Dewi Sinta," kata Mas Panji.

"Apa pun yang akan terjadi kelak, Paman telah siap Ananda," jawab Patih Singarepa.

Kata-kata Patih Singarepa itu menandai berakhirnya pembicaraan tentang pernikahan. Selanjutnya, pada hari yang telah ditentukan diadakanlah sebuah pesta pernikahan besar selama tujuh hari tujuh malam berturut-turut. Raden Mas Panji Tilar Negara pun akhirnya resmi menjadi suami Dewi Sinta. Mereka menetap di Wanasaba.

Tidak berapa lama tinggal di Wanasaba, Mas Panji datang menemui Sang mertua untuk menyampaikan keinginannya. "Paman, saya kira sudah waktunya kita semua meninggalkan desa ini. Kita harus mencari tempat lain untuk dijadikan tempat tinggal baru."

"Paman akan mengikuti keinginanmu, Ananda," jawab Patih Singarepa singkat.

Keesokan harinya, Patih Singarepa mengumpulkan seluruh ahli nujum beserta dengan ahli palak desa. Mereka dimintai pendapat tentang lokasi yang tepat untuk membuka sebuah pemukiman baru. Dari hasil perundingan para ahli tersebut tercapailah kesepakatan bahwa lokasi yang baik berada di arah baratdaya dari Wanasaba.

Untuk mempersingkat waktu Patih Singarepa menitah para prajuritnya memberi tahu rakyat agar mengemasi sebagian harta benda mereka yang dianggap bermanfaat. Ketika mereka sudah berkemas dan berkumpul, Sang Patih menyerukan seluruhnya berangkat ke arah baratdaya melalui Gunung Tembeng, sesuai dengan petunjuk para ahli nujum dan palak. Sesampainya di kaki Gunung Tembeng Patih Singarepa memerintahkan agar mereka membuat tenda karena matahari akan segera tenggelam.

Ketika hari telah malam dan rombongan tertidur lelap karena kelelahan, Mas Panji Tilar Negara keluar dari tendanya. Untuk beberapa saat dia duduk di suatu gundukan tanah yang agak tinggi sambil mengarahkan pandangan ke baratdaya, arah yang akan menjadi tujuannya. Pada saat itu tiba-tiba dia melihat cahaya tegak lurus yang memancar dari suatu tempat di tengah Hutan Lengkukun.

Hari berikutnya, pagi-pagi sekali Mas Panji telah mengumpulkan rombongan untuk memberitahukan bahwa tujuan mereka adalah ke Hutan Lengkukun di baratdaya. Namun karena hutan itu dianggap angker dan tidak ada yang berani menjamah, maka mereka terpaksa harus membuka jalan agar dapat mencapainya. Walhasil, perjalanan pun otomatis menjadi sangat lambat dan baru mencapai suatu daerah yang bernama Saba saat hari telah menjelang malam. Rombongan memutuskan untuk berkemah di sana.

Dan, sama seperti malam sebelumnya, saat orang lain tertidur lelap Mas Panji keluar dari tendanya guna mengamati sumber cahaya yang memancar dari arah Hutan Lengkukun. Tak ada seorang pun melihat cahaya itu, kecuali dirinya dan ayam jantan kesayangan yang selalu dibawanya pergi. Sang ayam terus saja berkokok sepanjang malam tatkala melihat cahaya itu. Tingkahnya persis seperti ayam yang sedang birahi melihat penampakan lawan jenisnya.

Pagi harinya rombongan Mas Panji kembali melanjutkan perjalanan panjang hingga mencapai daerah yang sekarang bernama Montong Sawur. Daerah itu dahulu belum memiliki nama, sehingga ketika mereka tiba diberilah nama Dasan Siwi yang berasal dari kata sewu (seribu), sesuai dengan jumlah rombongan yang mengiringi Mas Panji. Di tempat itu sebagian besar pengiring diperintahkan untuk berkemah, sementara Mas Panji dan beberapa orang pengawal kepercayaannya tetap melanjutkan perjalanan.

Menjelang petang mereka tiba di suatu daerah bernama Lingkoq Beleq (lingkoq=sumur, beleq=besar). Oleh karena dari kejauhan tampak ada asap yang membumbung, Mas Panji lalu mengutus dua orang pengawalnya mencarinya. Tetapi ketika telah berada dekat dengan sumber asap di suatu daerah bernama Lendang Batu Bulan, tiba-tiba kedua orang itu merasa takut bukan kepalang. Di hadapan mereka sudah ada makhluk sebangsa jin berwujud tinggi besar, berambut gondrong menyapu tanah, dan matanya besar bersinar layaknya lampu petromaks. Makhluk ini biasa disebut sebagai Datuq Jabut, penunggu Hutan Lengkukun.

"Baru kali ini ada orang yang berani datang ke Lengkukun. Aku ingin tahu maksud kedatangan kalian sebelum kujadikan santapan? Hahahahaha," tanya Datuq Jabut menciutkan nyali.

"Ma..ma..maafkan kelancangan kami, Tuan. Kami hanya....hanya menjalankan perintah dari...dari Pa..Pangeran Mas Panji Ti..Tilar Negara," kata salah seorang diantara mereka terbata-bata karena ketakutan.

"Kalau memang benar Pangeran Mas Panji yang menyuruh kalian, katakan pada beliau bahwa aku telah siap menyambutnya. Namun apabila hanya mengarang cerita, dengan senang hati aku akan mencicipi daging kalian. Kalian lihat, air liurku sudah mulai menetes? Hahahah," kata Datuq Jabut menggelegar.

"Pangeran Mas Panji berada tidak jauh dari sini, Tuan. Apabila diizinkan, kami akan segera memberitahu beliau," kata salah seorang pengawal agak sedikit tenang.

"Baiklah, aku tunggu. Tapi Awas, apabila bohong anak buahku akan segera menyeret kalian kemari!" bentak Datuq Jabut.

Tanpa menunggu lebih lama lagi kedua pengawal itu berlari menuruni bukit menemui Mas Panji. Setelah sampai, mereka langsung menceritakan seluruh kejadian yang dialami dan sekaligus menyampaikan pesan bahwa Datuq Jabut telah siap untuk menyambut kedatangan Mas Panji.

Setelah merenung beberapa saat, akhirnya Mas Panji menyanggupi undangan Datuq Jabut. Pikirnya, mereka telah berada jauh di dalam Hutan Lengkukun yang menjadi wilayah kekuasaan Datuq Jabut. Kalaupun - dengan kesaktiannya - dia dapat meloloskan diri dari Sang Penguasa Lengkukun, kemungkinan besar rombongannya yang sebagian besar terdiri dari anak-anak dan kaum perempuan akan tertangkap dengan mudah.

Oleh karena itu, bersama dengan sebagian pengawalnya Mas Panji pergi menemui Datuq Jabut. Ketika mereka bertemu, tanpa dinyana Datuq Jabut langsung menghaturkan sembah dan berkata dengan khidmat, "Hamba menghaturkan sembah kepada Pangeran Mas Panji Tilar Negara. Apabila berkenan, bolehkah hamba mengetahui apa gerangan maksud kedatangan Pangeran ke tempat yang terpencil ini?"

"Wahai Datuk Jabut, maksud dan kedatanganku dan rombongan adalah untuk mencari tempat bermukim baru. Dapatkah Datuk membantu kami?" kata Mas Panji lembut.

"Tempat kita bertemu ini memang sangat cocok dijadikan sebagai perkampungan. Apabila Pangeran menghendaki, akan hamba kerahkan seluruh anak buah yang ada di Gunung Rinjani dan Hutan Lengkukun ini untuk membantu," Kata Datuq Jabut.

"Baiklah bila Datuk bersedia membantu. Aku ucapkan terima kasih," kata Mas Panji sambil tersenyum.

Mendengar persetujuan dari Mas Panji, malam itu juga Datuq Jabut langsung mengerahkan seluruh anak buahnya membuat perkampungan. Oleh karena mereka berasal dari bangsa jin, tentu saja pekerjaan itu sangat mudah dilakukan. Deretan pepohonan besar yang tadinya tumbuh rapat, dalam sekejap dapat disulap menjadi sebuah perkampungan berisi rumah-rumah yang berjajar rapi. Kampung baru itu diberi nama Langko dan didiami oleh Mas Panji bersama dengan rombongannya. Seiring waktu, jumlah penduduknya semakin bertambah dan akhirnya menjadi sebuah kerajaan. Raden Mas Panji Tilar Negara kemudian diangkat menjadi raja dengan gelar Datu Langko. Setelah meninggal Datu Langko dikebumikan di Bila Tawah. Makamnya sampai hari ini masih tetap dikunjungi orang dari segenap Penjuru Pulau Lombok.

Diceritakan kembali oleh Gufron
hal
Dilihat: