Pakokh Balak

Pertanian tanah basah atau sawah umumnya memiliki sebuah saluran air utama yang akan mengalirkan air ke saluran sekunder dan tersier untuk menggenangi lahan. Agar setiap saluran mendapatkan jatah air secara merata tentu diperlukan suatu peralatan tertentu untuk mengatur aliran airnya. Di daerah Lampung, peralatan untuk mengatur aliran itu disebut pakokh balak.

Pakokh balak merupakan sebuah susunan kayu atau bambu untuk membendung hilian way (jalur air) di saluran utama. Tujuannya agar dapat mensuplai kebutuhan air pada seluruh saluran sekunder secara merata sehingga tidak terjadi penggenangan pada satu atau beberapa areal lahan saja. Alat ini dibuat oleh para petani pemakai air secara begotong-royong dengan jumlah antara 6-10 orang untuk setiap satu saluran sekunder.

Adapun pembuatannya diawali dengan menancapkan kayu-kayu penyangga pada saluran utama dalam jarak sekitar 30 centimeter. Pada kayu-kayu penyangga tersebut kemudian dipasangi bambu atau papan sebagai pembendung sekaligus pengarah aliran air menuju ke saluran sekunder yang dikehendaki. Dan, dari saluran sekunder dibuat lagi pembendung air serupa di saluran tersier dengan ukuran lebih yang lebih kecil atau bergantung dari lebar siring (sikhing). Pembendung kecil ini disebut sebagai pakokh lunik.

Agus Djaya

Agus Djaya atau Raden Agoes Djajasoeminta adalah seorang pelukis asal Banten yang namanya terkenal hingga ke mancanegara. Agus Djaya lahir di Pandeglang pada tanggal 1 April 1913. Ayahnya adalah seorang keturunan bangsawan Banten yang pernah menjadi kepala agen sebuah bank1. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila dia mampu memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anaknya. Agus Djaya misalnya, semasa kecil dapat bersekolah di H.I.S Pandeglang. Waktu itu cita-citanya adalah menjadi seorang dokter karena banyak dari anggota keluarga yang berprofesi sebagai dokter. Namun, karena ada darah seni kuat yang diturunkan dari Sang Ibu dan ditambah dengan pengarahan dari guru gambarnya, Suwanda Mihardja, maka secara perlahan Agus Djaya mulai meminati dunia seni, khususnya seni rupa2.

Setelah lulus dari H.I.S Pandeglang Agus Djaya melanjutkan ke MULO di Bandung hingga lulus pada tahun 1923. Kemudian, hijrah ke Bogor untuk melanjutkan pendidikan di MLS (Middelbare Landbouw School/Sekolah Menengah Pertanian) (1923-1924), namun tidak sampai tamat. Selanjutnya, hijrah lagi ke daerah Lembang, Bandung, untuk bersekolah H.I.K pada tahun 1927. Dan, sesuai dengan minatnya di bidang seni rupa, Agus Djaya pun pergi ke Jakarta untuk mengikuti pendidikan seni lalu ke Amsterdam, Belanda, untuk belajar di Akademi Rijks (Academy of Fine Arts)3. Selama berada di daratan Eropa tersebut Agus Djaya sempat berkenalan dengan beberapa seniman besar dunia, di antaranya: Pablo Picaso di Vallauris, Perancis Selatan; Salvador Dali di Madrid, Spayol; dan Ossip Zadkine, pematung Perancis asal Polandia.

Sekembalinya dari Belanda, Agus Djaya mulai menularkan ilmunya dengan memberi pelajaran menggambar serta beberapa mata pelajaran lain pada murid sekolah hingga tahun 1934. Empat tahun kemudian, bersama dengan Sudjojono, Otto Djaja, Harijadi, Hendra Gunawan, Basoeki Resobowo, Affandi, dan beberapa seniman lain, Agus Djaya mendirikan Persagi atau (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia). Adapun tujuannya adalah untuk mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda melalui karya seni rupa dari para seniman terdidik dan kritis. Selain itu, menurut Gito Waluyo4, pendirian Persagi juga merupakan sarana untuk melawan berkembangnya aliran "Mooi Indie", sebuah ejekan ala Sudjojono bagi karya seni rupa bertema gambaran keindahan alam Negeri Belanda yang mulai mendominasi sejak mereka menduduki negeri ini.

Ketika pemerintahan Belanda diganti oleh Jepang, Persagi akhirnya dibubarkan pada tahun 1942. Namun karir Agus Djaya sebagai seorang pelukis bukannya menurun, tetapi malah semakin meningkat. Dia menjadi terkenal karena sering ikut berpameran bersama dengan Affandi, Hendra, Kartono, dan pelukis lainnya. Bahkan, atas rekomendasi Bung Karno, dia sempat mendapat jabatan sebagai Kepala Bagian Kesenian pada Keimin Bunka Sidosho, Pusat Kebudayaan Jepang di Jakarta dari tahun 1942-1945.

Setelah Jepang menyerah pada Perang Dunia II dan menarik kembali pasukannya, Belanda rupanya ingin kembali lagi menguasai Indonesia sehingga terjadilah Perang Kemerdekaan (1945-1949). Pada masa itu Agus Djaya masuk ke dalam kesatuan Tentara Nasional Indonesia untuk ikut mempertahankan kemerdekaan. Pangkat tertingginya adalah Kolonel dengan tugas sebagai intel dan F.P (Perispan Lapangan).

Usai Perang Kemerdekaan, bersama sang adik yang juga seorang pelukis Agus Djaya kembali aktif di dunia seni rupa dengan mengadakan sejumlah pameran di luar negeri (Belanda, Perancis, dan Monaco) selama sekitar dua tahun. Sekembalinya dari luar negeri, Agus Djaya mencoba peruntungannya di Jakarta dengan membuka sebuah art shop dan galeri. Tetapi, entah mengapa, popularitasnya malah menjadi meredup sehingga dia memutuskan untuk hijrah bersama sang isteri ke Kuta, Bali. Di sana dia mendirikan sebuah studio sekaligus galeri lukisan di tepi Pantai Kuta.

Sekitar sebelas tahun kemudian atau tepatnya pada tahun 1981 Agus Djaya kembali pulang ke Jakarta. Dan, setelah beberapa waktu menjalani masa tuanya, ia pun akhirnya tutup usia di Pamulang, Banten, pada tanggal 24 April 1994. Agus Djaya meninggalkan segudang karya yang didokumentasikan dalam sebuah buku berjudul "Agus Djaya dan Sejarah Seni Lukis Indonesia" serta berbagai macam tanda jasa baik dalam bidang seni maupun kemiliteran. Karya-karya lukisannya di antaranya adalah: Man Playing Flute (1942), Krishna & Radha (1948), Portrait of Balinese Beauty (1952), Dancers (1953), Gadis Bali (1955), Wiwaha (1965), Kuda Lumping (1965), Dancer (1958-1959), Balinese Girl (1962), Medicijnman (1971), Tarung 1971, Melasti (1971), Wanita (1971), A Cock Fight (1972), Sesembah (1973), Man with Cockerel (1974), Kuda Kepang (1975), Tari Bali (1976), Dogs in Full Moon (1976), Wanita Dusun (1983), Traditional Dance Performance (1984), dan lain sebagainya5. (gufron)

Foto: https://pandjipainting.files.wordpress.com/2011/07/agusjaya1.jpg
Sumber:
1. "Agus Djaja", diakses dari http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/708/Agus-Djaja, tanggal 20 Juni 2015.
2. "Mengenal Agus Djaja Suminta", diakses dari https://senirupasmasa.wordpress.com/2012/ 09/19/mengenal-agus-djaja-suminta/, tanggal 21 Juni 2015.
3. "Agus Djaja Suminta", diakses dari http://mikkesusanto.jogjanews.com/agus-djaja-suminta.html, tanggal 21 Juni 2015.
4. Gito Waluyo. 2009. "Banten, Agus Djaja-Toto Djaja, dan Perupa urban. Diakses dari https://sahabatgallery.wordpress.com/2009/07/27/banten-agus-djaja-toto-djaja-dan-perupa-urban/, tanggal 22 Juni 2015.
5. "Agus Djaya (Indonesian 1913-1990)", diakses dari http://www.artnet.com/artists/agus-djaya/past-auction-results, tanggal 22 Juni 2015.

Permainan Bleduran

Bleduran atau meriam sundut konon sudah dimainkan oleh orang Betawi sejak zaman penjajahan karena terinspirasi oleh meriam-meriam tempur milik Belanda. Permainan ini umumnya dilakukan oleh kaum laki-laki remaja hingga dewasa karena memiliki tingkat risiko yang relatif tinggi. Sedangkan waktu bermainnya biasanya malam hari (antara magrib hingga menjelang subuh) pada saat bulan puasa. Namun dalam perkembangannya saat ini, keberadaan bleduran atau meriam sundut sudah mulai tergeser oleh permainan petasan yang dianggap lebih praktis.

Untuk dapat bermain bleduran diperlukan beberapa peralatan, yaitu: (1) sebatang bambo petung tua berdiameter 10--17 sentimenter dan panjang sekitar 1 meter dengan beberapa ruas. Ruas pertama sengaja tidak dibuat lubang, sedangkan ruas kedua dan ketiga diberi dua lubang berbentuk laras selebar 10 sentimeter dan 1 sentimeter sebagai tempat untuk menyundut; dan (2) bahan peledak berupa campuran karbit dan air atau minyak tanah.

Sedangkan cara bermainnya diawali dengan memasukan bahan peledak ke pangkal bleduran yang dipasang miring sekitar 10--20 sentimeter di atas tanah. Setelah itu ujung laras bleduran ditutup dengan kain basah agar uap karbit atau minyak tanah tidak keluar. Dan, agar bunyinya nyaring, lubang sundut ditutup dengan jari atau alat penutup lain selama satu hingga lima menit sebelum disundut dengan api. (gufron)

Permainan Wak wak kung

Asal usul permainan yang disebut sebagai Wak wak kung sudah sulit diketahui. Namun, yang jelas permainan wak wak kung telah dikenal oleh masyarakat Betawi sejak zaman penjajahan Belanda. Di dalam permainan yang juga disebut sebagai Ular naga ini terdapat dua orang penjaga berhadapan dan saling berpegangan tangan yang kemudian diangkat ke atas membentuk kerucut, sehingga jika diturunkan akan memerangkap pemain di dalamnya. Kedua orang penjaga itu diibaratkan sebagai bulan dan matahari.

Pemain
Permainan Wak wak kung pada umumnya dilakukan oleh anak-anak yang berusia 6--12 tahun, baik laki-laki maupun perempuan. Jumlah pemainnya 10--40 orang. Dari sekian banyak pemain tersebut, hanya dua orang yang menjadi induk ayam atau ulung, sedangkan sisanya akan dibagi dua grup setelah dalam permainan terjaring dan memilik salah satu induk ayam.

Tempat dan Peralatan Permainan
Luas arena permainan yang diperlukan bergantung dari banyak sedikitnya pemain. Jika pemain kurang dari 40 orang, maka luas arena hanya berukuran 5 x 5 meter persegi. Namun, jika pemain sekitar 40 orang maka luasnya diperlebar menjadi 8 x 8 meter persegi. Di tengah-tengah arena akan dibuat sebuah garis batas yang nantinya akan dipergunakan sebagai batas kalah atau menang saat kedua regu saling tarik-menarik. Dengan luas yang maksimal hanya 16 meter persegi, maka pekarangan rumah atau tanah yang agak lapang pun dapat dijadikan arena permainan.

Permainan wak wak kung tidak mempergunakan alat apapun, kecuali sebuah lagu sebagai pengiring nyanyian. Syair untuk lagu tersebut adalah sebagai berikut:
Wak wak kung nasinye nasi jagung
Lalapnye daon utan
Sarang gaok dipohon jagung
Gang…ging…gung

Tam-tambuku
Seleret daon delime
Pato klembing pate paku
Tarik belimbing
Tangkep satu
Pit ala’ipit
Kuda lari kejepit-sipit

Aturan dan Proses Permainan
Aturan permainan Wak wak kung tergolong mudah, yaitu setelah grup atau regu terbagi dua, maka kedua regu tersebut akan saling tarik-menarik hingga melewati garis batas permainan untuk menentukan menang atau kalahnya sebuah grup.

Sedangkan proses permainan dimulai dengan penentuan pemain (dengan cara aklamasi) yang akan menjadi ulung atau induk ayam. Setelah itu, kedua induk ayam akan saling berhadapan dan berpegangan tangan, kemudian diangkat ke atas membentuk sebuah kerucut (jika diturunkan akan memerangkap pemain di dalamnya). Sementara itu, para pemain lain akan berbaris memanjang, sambil berpegangan pada pundak pemain yang ada di depannya untuk mulai berjalan memutar, melalui “lorong” yang dibuat oleh rentangan tangan induk ayam. Saat berjalan mengitari dan memasuki “lorong” tersebut, biasanya para pemain akan bernyanyi. Di akhir nyanyian tangan pemain yang berperan sebagai induk ayam akan turun dan memerangkap salah seorang dari barisan pemain yang mengelilinginya. Kemudian, mereka akan bertanya kepada pemain yang terperangkap tersebut untuk memilih secara sukarela. Jika pemain memilih salah seorang induk, ia akan berdiri di belakangnya. Demikian seterusnya hingga tidak ada lagi pemain yang mengitari induk ayam. Dengan cara seperti itu, otomatis dua buah grup terbentuk.

Selanjutnya, kedua induk ayam akan berdiri berjajar dan saling berpegangan (hanya satu tangan) lagi tepat di atas garis batas permainan. Sementara tangan yang satunya lagi akan memegang salah satu tangan pemain lain (yang tadi telah memilih). Pemain tersebut akan memegang tangan pemain lainnya sehingga nantinya akan terbentuk barisan melebar dengan kedua induk ayam dan garis batas di antara keduanya sebagai pusatnya. Kemudian, kedua grup tersebut akan saling tarik-menarik hingga salah satu regu melewati garis batas yang telah ditentukan. Regu yang dapat menarik regu lain melewati garis batas maka regu tersebut dinyatakan sebagai pemenangnya. Jika pemain masih ingin bermain maka permainan dimulai lagi seperti semula.

Nilai Budaya
Nilai yang terkandung dalam permainan wak wak kung ini adalah kerja sama, kerja keras, demokrasi, dan sportivitas. Nilai kerja sama dan sekaligus kerja keras tercermin dari para pemain yang tergabung dalam satu grup akan bahu membahu menarik grup lain melewati batas yang telah ditentukan. Sedangkan nilai demokrasi tercermin dari kebebasan para pemain untuk sesuka hati memilih menjadi anggota grup bulan atau matahari. Nilai sportivitas tercermin dari sikap dan tingkah laku anggota grup yang kalah, mengakui kekalahannya dengan lapang dada, karena ada kesadaran bahwa dalam suatu permainan pasti akan ada pihak yang kalah dan pihak yang menang. (ali gufron)

Misbach Yusa Biran

Misbach Yusa Biran adalah salah seorang seniman yang namanya melegenda di belantika perfilman Indonesia. Misbah lahir di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, pada tanggal 11 September 1933 dari pasangan Ayun Sabiran (Minangkabau) dan Yumenah (Banten). Nama yang diberikan oleh sang ayah sebenarnya hanyalah Misbach, yang diambil dari tokoh pergerakan Indonesia Haji Misbach. Sedangkan Yusa Biran, ditambahkan sendiri oleh Misbach yang diambil dari nama pena sang Ayah "Jose Beron" (id.wikipedia.org).

Karir Misbach di dunia perfilman diawali dengan bekerja di Studio Perfini pimpinan Usmar Ismail setelah lulus dari Taman Madya Bagian B, Perguruan Taman Siswa di Kemayoran. Pekerjaan pertamanya adalah sebagai pencatat skrip untuk film Puteri dan Medan yang diproduksi pada tahun 1954. Kemudian, dia diangkat menjadi asisten sutradara dan sekaligus anggota Sidang Pengarang. Dari pengalaman menjadi asisten sutradara dan anggota Sidang Pengarang inilah, satu tahun kemudian Misbach berhasil membuat skenario pertamanya yang merupakan adaptasi cerpen Sjuman Djaya berjudul Kerontjong Kemajoran dan ketika difilmkan diberi judul Saodah (1956) (filmindonesia.or.id).

Selanjutnya, semenjak tahun 1957 hingga 1960 kreativitasnya terus meningkat dengan menulis skenario untuk beberapa film, yaitu: Pradjurit Teladan 1959, Satu Budjang Lima Dara (1960), Pesta Musik La Bana (1960), Mendung Sendja Hari (1960), dan Istana yang hilang (1960). Selain itu, dia juga mensutradarai sejumlah film pendek dan dokumenter sebagai bekal untuk melangkah ke film berdurasi panjang. Hasilnya, dia berhasil menyulap skenario Pesta Musik La Bana yang ditulisnya menjadi sebuah film layar lebar berdurasi panjang pertamanya.

Sukses dengan Pesta Musik La Bana, Misbach menjadi semakin bertambah giat dalam menulis skenario film, diantaranya adalah: Djumpa Diperjalanan (1961), Bing Slamet Merantau (1962), Bintang Ketjil (1963), Pilihan Hati (1964), Panggilan Nabi Ibrahim (1964), Matjan Kemayoran (1965), Langkah-langkah Dipersimpangan (1965), Apa jang Kautangisi (1965), Dibalik Tjahaja Gemerlapan (1967), Cheque AA (1966), Menyusuri Djedjak Berdarah (1967), Operasi X (1968), Honey, Money dan Djakarta Fair (1970), Dan Bunga-bunga Berguguran (1970), dan Samiun dan Dasima (1970) (www.indonesianfilmcenter.com). Di antara skenario tersebut beberapa diantaranya ada yang disutradarai sendiri, yaitu: Holiday in Bali (1962), Bintang Ketjil (1963), Panggilan Nabi Ibrahim (1964), Apa jang Kautangisi (1965), Matjan Kamajoran (1965), Dibalik Tjahaja Gemerlapan (1967), Operasi X (1968), dan Honey, Money dan Djakarta Fair (1970).

Honey, Money, dan Djakarta merupakan film terakhir Misbach karena dia memutuskan untuk berhenti menjadi sutradara. Alasannya, film yang diproduksi pada zaman itu telah terlalu banyak diwarnai oleh bumbu seks untuk menarik minat penonton. Namun, keputusan tersebut tidak serta merta membuat kontribusinya di dunia perfilman menjadi terhenti. Misbah masih tetap menulis skenario, diantaranya: Biarlah Aku Pergi (1971), Lingkaran Setan (1972), Hanya Satu Jalan (1972), Angkara Murka (1972), Lagu Untukmu (1973), Bandung Lautan Api (1974), Naga Merah (1976), Krakatau (1977), Menjusuri Djedjak Berdarah (1979), Karena Dia (1979), Ayahku (1987), Irisan-irisan Hati (1988), Fatahillah (1997), dan Cinta Suci Zahara (2012).

Bahkan, dia ikut menjadi perumus pendirian asosiasi Karyawan Film dan Televisi (KFT), salah satu perancang berdirinya Akademi Sinematografi (kini menjadi Juruan Film IKJ), mendirikan Yayasan Citra (badan pendidikan film), dan merintis berdirinya Arsip Film (Sinematek Indonesia) yang bergerak di bidang dokumentasi sejarah perfilman Indonesia. Sinematek merupakan lembaga arsip film pertama di Asia Tenggara yang mengumpulkan dan melestarikan berbagai artefak terkait perfilman nasional, mulai dari film, buku, skenario, majalah, kliping, biografi, data organisasi dan perusahaan film, peralatan, hingga undang-undang perfilman dan peraturan pemerintah (filmindonesia.or.id).

Di luar dunia perfilman, Misbach Yusa Biran juga aktif sebagai wartawan dan penulis cerpen. Dia pernah bekerja sebagai pimpinan redaktur di Minggu Abadi (1958-1960), redaktur Majalah Purnama (1962-1963), redaktur Duta Masyarakat (1965-1966), redaktur Ahad Muslimin (1966), dan redaktur Gelanggang (1967). Sementara karya-karyanya sebagai penulis sastra diantaranya adalah: Bung Besar (drama 1958), Komedi Klasik Modern (sketsa di Mingguan Abadi, 1960), Setengah Djam Mendjelang Maut (drama 1968), Menjusuri Djedjak Berdarah (novel 1969), Keajaiban di Pasar Senen (kumpulan cerpen, 1971) serta Oh Film (kumpulan cerpen, 1973) yang kemudian disatukan di bawah judul Keajaiban di Pasar Senen (cetak ulang 1996), dan Teknik Menulis Skenario Film Cerita (buku, 2007).

Berkat segudang karya tersebut, pria yang menikah dengan aktris Nani Widjaya pada tahun 1969 dan dikaruniai enam orang anak (Nina Kartika, Tita Fitrah Soraya, Cahya Kamila, Firdausi, Farry Hanief, dan Sukma Ayu) ini, berhasil mendapatkan berbagai macam penghargaan. Penghargaan pertama yang didapatnya adalah juara kedua pada Sayembara Penulisan Naskah Drama yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melalui karya berjudul Bung Besar. Selanjutnya, pada tahun 1967 mendapat penghargaan sebagai sutradara terbaik dalam ajang Pekan Apresiasi Film Nasional melalui film Dibalik Tjahaja Gemerlapan, skenario terbaik untuk film Menjusuri Djedjak Berdarah (1967), skenario terbaik pada Pekan Apresiasi Film Nasional untuk film Karena Dia (1980), skenario terbaik untuk film Ayahku (1988), Lifetime Achievemenet Award dari SEAPAVAA (South-East Asia and Pacific Film and Audio-Visual Archive Association), dan penghargaan khusus dari Forum Film Bandung atas dedikasi dan kontribusinya di dunia film.

Bagi Misbach, seluruh hasil karya beserta penghargaan yang didapatnya merupakan alat perjuangan sekaligus media berekspresi intelektual. Selain itu, film juga dijadikannya sebagai alat dakwah untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, khususnya manusia Indonesia. Dan, dakwah inilah yang ditekuni Misbach Yusa Biran hingga akhir hayatnya pada tanggal 11 April 2012 di Eka Hospital, Bumi Serpong Damai, Tangerang, karena mengalami gangguan pernafasan. (gufron)

Foto: http://kedaifilmnusantara.blogspot.com/2010/07/diperlukan-kesungguhan-untuk-membangun.html
Sumber:
"Misbach Jusa Biran: Sejarah adalah Ilmu", diakses dari http://filmindonesia.or.id/article/misbach-jusa-biran-sejarah-adalah-ilmu#.VU4T6fmqqkq, tanggal 5 Juni 2015.

"Misbach Jusa Biran", diakses dari http://www.indonesianfilmcenter.com/pages/profile/profile.php?pid=5fde17bf6aad, tanggal 6 Juni 2015.

"Misbach Yusa Biran", diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Misbach_Yusa_Biran, tanggal 6 Juni 2015.

Toto St Radik

Toto St Radik lahir di Singarajan, Serang, pada tanggal 30 Juni 1965 dari pasangan H. Mohamad Suhud dan Hj. Ratu Tuchaeni. Semasa kecil, penyair yang juga budayawan ini menempuh pendidikan dasar dan menengahnya di Kota Serang (academia.edu). kemudian, dia melanjutkan ke IKIP Bandung dan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung, namun tidak sampai lulus. Dia baru memperoleh gelar kesarjanaannya di Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten Pada tahun 1992 (www.angelfire.com).

Pria yang menikah dengan Babay Herlina dan dikaruniai dua orang anak (Radika Dzikru Bungapadi dan Rara) ini sudah mulai meminati dunia sastra secara otodidak selepas menamatkan Sekolah Menangah Atas di Serang. Sementara bidang keteateran dikenalnya ketika mengikuti acting course di Studiklub Teater Bandung (STB) semasa kuliah di Bandung. "Kehausan" akan dunia sastra dan teater inilah yang membuatnya rajin mengikuti pertemuan sastra di berbagai kota. Hasilnya, dia pun akhirnya menjadi seorang penyair terkenal dengan puluhan hasil karya berikut sejumlah penghargaan dari berbagai institusi, diantaranya adalah KSI Awards atas kumpulan puisinya berjudul Indonesia Setengah Tiang (2000).

Selain sebagai penyair, Toto juga menerjuni dunia jurnalistik. Pada tahun 1987 hingga 1998 dia pernah menjadi wartawan di Harian Sinar Pagi Jakarta. Kemudian, menjadi pendiri sekaligus pemimpin redaksi tabloid pelajar/mahasiswa Bantenpos (1993-1994). Dan, menjadi pendiri sekaligus pemimpin redaksi Jurnal Sastra dan Budaya Lingkaran (1997-1998). Selanjutnya, dia mengabdikan dirinya kepada negara dengan menjadi Pegawai Negeri Sipil di BKKBN lalu pindah ke Dinas Pariwisata Kota Serang hingga sekarang.

Di sela-sela kesibukannya sebagai Pegawai Negeri Sipil tersebut, Toto aktif mengajar puisi secara sukarela di Sanggar Sastra Serang yang bekerjasama dengan Majalah Horison dan Majlis Puisi Rumah Dunia serta menjadi anggota Komunitas Sastra Indonesia. Selain itu, dia juga tetap menulis puisi yang dipublikasikan pada berbagai media cetak di Jakarta, Bandung, Surabaya, Lampung, maupun Banten. Adapun judulnya, diantaranya adalah: Jejak Tiga (Serang: Azeta, 1998), Ode Kampung Cermin (Serang: Lingkar Sastra dan Teater, 1995), Negeri Bayang-Bayang (Surabaya: Yayasan Seni Surabaya, 1996), Mencari dan Kehilangan (Serag: Lingkaran Sastra dan Teater, 1996), Dari Bumi Lada (Lampung: Dewan Kesenian Lampung, 1996), Cermin Alam (Bandung: Forum Sastra Bandung dan Taman Jawa Barat, 1996), Antologi 10 Penyair Jawa Barat (1996), Antologi Puisi Indonesia 1997 (Bandung: Angkasa, 1997), Bebegig (Serang: Lingkaran Sastra dan Teater, 1998), Indonesia Setengah Tiang (Tangerang: Komunitas Sastra Indonesia, 1999), Resonansi Indonesia (Tangerang: Komunitas Sastra Indonesia, 2000), Datang dari Masa Depan (Tasikmalaya: Sanggar Sastra Tasik, 2000), Puisi (Jakarta: Yayasan Puisi, 2001), Sajadah Kata (Bandung: Syaamil Cipta Media, 2001), Konser Ujung Pulau (Lampung: Dewan Kesenian Lampung, 2002), Jus Tomat Rasa Pedas (Serang: Sanggar Sastra Serang dan Suhud Sentrautama, 2003), dan Pangeran [Lelaki yang Tak Menginginkan Sorga] (Serang: Rumah Dunia, 2004) (id.wikipedia.org).

Foto:
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=3889943369557&set=a.1388234668403.2052820.1308159193&type=3&theater
Sumber:
"Toto ST Radik (Budayawan), diakses dari http://www.academia.edu/8291246/TOTO_ST_RADIK_BUDAYAWAN, tanggal 17 Juni 2015.

"Toto ST Radik", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Toto_ST_Radik, tanggal 17 Juni 2015.

"Toto", diakses dari http://www.angelfire.com/tx/amirakram/toto.html, tanggal 18 Juni 2015.

Sungai Jodoh

(Cerita Rakyat Daerah Kepulauan Riau)

Alkisah, pada zaman dahulu kala di Pulau Batam, Kepulauan Riau, hidup seorang gadis yatim piatu bernama Mah Bongsu. Dia tinggal di sebuah kampung kecil yang letaknya berada di tengah pulau. Untuk menghidupi diri Mah Bongsu bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah Mak Piah. Sang majikan mempunyai seorang puteri bernama Siti Mayang.

Suatu hari, ketika sedang mencuci pakaian majikannya di tepi sungai, Mah Bongsu dikejutkan oleh seekor ular yang datang mendekat. Tetapi karena sang ular hanya berputar-putar saja sambil menunjukkan luka menganga di bagian punggung, dia menjadi iba dan memberanikan diri untuk memegangnya. Selanjutnya, sang ular diletakkan dalam keranjang bersama dengan pakaian yang telah selesai dicuci.

Sesampai di rumah, sang ular ditempatkan dalam sebuah kotak kayu untuk dirawat lukanya. Beberapa hari kemudian luka membaik dan akhirnya sembuh total, namun Mah Bongsu tetap memeliharanya hingga menjadi besar. Dan, seperti semua jenis ular, sang ular peliharaan Mah Bongsu juga berganti kulit secara teratur. Agar tidak berserakan kemana-mana, Mah Bongsu mengumpulkannya untuk dibakar di belakang gubuknya.

Tetapi suatu keanehan terjadi. Ketika kulit itu dibakar asapnya mengepul sangat besar. Pada saat tertiup angin ke arah negeri Singapura, dari dalam kepulan asap tersibaklah tumpukan uang, emas, dan berlian. Bulan berikutnya (ketika sang ular berganti kulit lagi), kepulan asap dari kulitnya yang dibakar mengarah ke negeri Jepang, sehingga ketika tersibak muncullah peralatan kebutuhan sehari-hari yang berasal dari Jepang. Begitu juga ketika asap mengarah ke Lampung, maka yang tersibak berupa gulungan kain tapis dengan berbagai macam corak dan motif. Kejadian ini berlangsung berulang kali hingga akhirnya Mah Bongsu menjadi orang kaya baru di kampungnya.

Oleh karena sifat Mah Bongsu yang baik hati dan tidak begitu silau dengan kekayaan, maka sebagian dari harta yang didapatnya disumbangkan untuk membantu sesama. Walhasil, namanya pun menjadi harum dan terkenal sebagai seorang dermawati. Namun, namanya juga manusia, selalu saja ada orang yang tidak suka dengan kesuksesan orang lain. Mak Piah misalnya, mantan majikannya ini menuduh bahwa Mah Bongsu pasti memelihara tuyul atau bahkan bersekutu dengan bangsa jin untuk memperoleh kekayaan secara mendadak. Tidak kalah usil dengan Mak Piah, sang suami (Pak Buntal) malah menuduhnya melakukan pencurian selama bekerja di rumahnya. Oleh karena penasaran, kedua orang ini bersama dengan beberapa orang warga kampung yang juga tidak suka melakukan penyelidikan di rumah Mah Bongsu.

Namun, walau telah dilakukan penyelidikan selama berhari-hari tetapi mereka tetap tidak dapat mengetahui rahasia dibalik kesuksesan Mah Bongsu dalam mencari kekayaan. Hanya Mak Piah seoranglah yang merasa ada keganjilan di dalam rumah Mah Bongsu. Dia melihat ada seekor ular besar yang bebas berkeliaran di dalam rumah. "Manalah mungkin ade betina berani tinggal kat rumah bersame ular?" tanyanya dalam hati.

Keberadaan ular sebesar betis itu tentu saja membuat Mak Piah menjadi tambah penasaran. Hampir setiap sore dia dan anaknya (Siti Mayang) mengintip aktivitas Mah Bongsu bersama ular peliharaannya hingga akhirnya mengetahui bahwa kulit ular yang mengelupaslah yang membuat Mah Bongsu menjadi kaya raya. "Kita harus mencari ular sebesar itu di hutan," bisiknya pada Siti Mayang.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka sudah pergi ke hutan mencari ular. Di tengah hutan anak-beranak ini menemukan seekor ular besar dengan warna kulit yang indah sekali namun sangat berbisa. Tanpa berpikir panjang mereka pun membawanya pulang dengan menggunakan karung beras. Sesampai di rumah, sang ular berbisa tidak ditempatkan dalam sebuah kotak tersediri, tetapi malah di tempat tidur Siti Mayang. Jadi, Mak Piah menghendaki sang anak tidur dengan ular itu. Harapannya, agar si ular menjadi senang dan bermurah hati memberikan harta yang berlimpah. Namun, baru beberapa menit berada di samping Siti Mayang sang ular tiba-tiba terusik dan langsung menggigit lengannya. Tidak berapa lama kemudian Siti Mayang pun terkapar dan meninggal dengan mulut berbuih.

Di lain tempat, selepas magrib tiba-tiba ular peliharaan Mah Bongsu berbicara. "Bongsu, dapatkah engkau mengantarku ke tempat kita bertemu dahulu?"

"Mengapa engkau hendak kesana?" tanya Mah Bongsu agak terkejut karena ternyata Sang Ular dapat berbicara.

"Nanti akan aku jelaskan," jawab Sang Ular.

Singkat cerita, sesampainya di tepi sungai Sang Ular langsung mengutarakan niatnya untuk mempersunting Mah Bongsu. Sebelum Mah Bongsu menjawab karena bingung, Sang Ular langsung saja menanggalkan kulitnya dan seketika itu juga beralih ujud menjadi orang pemuda tampan dan gagah perkasa. Sementara kulitnya terlempar jauh hingga ke halaman rumah Mah Bongsu dan menjadi sebuah gedung megah.

Melihat Sang Ular telah menjadi seorang pemuda tampan gagah perkasa, tentu saja membuat hati Mah Bongsu berbunga-bunga dan langsung menerima pinangannya. Mereka pun akhirnya menikah dengan pesta yang sangat meriah di dalam bangunan megah yang tadinya merupakan kulit sang ular. Dan, sungai tempat pasangan itu bertemu kemudian berjodoh menjadi suami-isteri, oleh masyarakat setempat kemudian dinamakan sebagai "Sungai Jodoh".

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Popular Posts

-