Kelurahan Mulyoharjo

Letak dan Keadaan Alam
Mulyoharjo adalah sebuah kelurahan yang secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Pemalang, Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah. Kelurahan yang berada di ketinggian 1,25 meter dari permukaan air laut dan bercurah hujan rata-rata 200—300 milimeter (Monografi Kelurahan Mulyoharjo, 2011) ini sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Pelutan; sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Bojongbata; sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Wanarejan Kidul; dan sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Kebondalem. Dari kantor pemerintahan kecamatan kurang lebih 3 kilometer ke arah utara, sedangkan dari kantor kabupaten kurang lebih 1,5 kilometer ke arah barat. Kelurahan ini mudah dicapai dengan transportasi perkotaan, seperti: Koperanda (Koperasi Angkutan AntarDaerah) dan becak. Selain itu, dapat juga menggunakan jasa ojek.

Secara keseluruhan Kelurahan Muyoharjo memiliki luas 383,985 hektar. Dari luas tersebut sebagian besar (145 hektar atau ..%) dipergunakan untuk bangunan, baik perumahan/pemukiman, pertokoan, maupun perkantoran (Monografi Kelurahan Mulyoharjo, 2012). Ini dapat dimengerti karena kelurahan tersebut berada di tengah kota.

Kependudukan  
Kelurahan Mulyoharjo berpenduduk 23.279 jiwa, dengan rincian laki-laki sejumlah 11.606 jiwa dan perempuan sejumlah 11.664 jiwa. Mereka tersebar di 105 RT yang tergabung dalam 24 RW. Wilayah yang padat penduduknya adalah Rw 01, 02, 03, 04, dan 05, karena kelima wilayah RW tersebut dilalui oleh jalan protokol/utama yang menghubungkan antara Kota Pemalang dan kota-kota lain di sekitarnya. Selain itu, berada dekat dengan pusat-pusat perdangan dan pusat pemerintahan kabupaten. Orang Tionghoa kebanyakan berada atau bertempat tinggal di sekitar jalan Sudirman (jalan yang menghubungkan antara kota Pemalang dengan kota Tegal dan Pekalongan, sedangkan orang Arab kebanyakan tinggal di sekitar jalan Ahmad Yani (jalan yang menghubungkan antara kota Pemalang dengan kota Purwokerto). Sementara, orang Jawa kebanyakan berada atau tinggal di “pedalaman” dan “pinggiran” kota.

Kelurahan Mulyoharjo sebagian besar penduduknya bekerja di sektor swasta, baik sebagai karyawan (swasta) maupun pedagang (wirausaha)(6.832 atau ..%) dan sebagian (1.081 jiwa atau ..%) sebagai abdi negara (PNS dan TNI/POLRI). Sebagian lainnya (2.600 jiwa atau ..%) di sektor pertanian (tani dan buruh tani). Sebagian lainnya lagi adalah penduduk yang bekerja di sektor jasa (1.756 jiwa atau ..%), pertukangan (571 jiwa atau ..%), pensiunan (665 jiwa atau ..%), nelayan (60 jiwa atau ..%), dan pemulung (30 jiwa atau ..%). Untuk lebih jelasnya lihat tabel I.1 di bawah ini.

Tabel I
Penduduk Berdasarkan Matapencaharian

No.

Jenis Matapencaharian

Jumlah
1.
Pedagang/wiraswasta
3.475
2.
Karyawan swasta
3.357
3.
Petani
1.280
4.
Buruh tani
1.325
5.
Jasa
1.756
6.
Pertukangan
571
7.
Nelayan
60
8.
Pemulung
30
9.
PNS
983
10.
TNI/POLRI
98
11.
Pensiunan
665

Jumlah

Sumber: Monografi Kelurahan Mulyoharjo, 2011.

Tabel di atas menunjukkan bahwa matapencaharian yang digeluti oleh penduduk Kelurahan Mulyoharjo cukup kompleks (bervariasi), mulai dari karyawan swasta, pedagang/wiraswasta, PNS, petani, sampai ke pemulung. Tabel di atas juga menunjukkan bahwa penduduk sebagian besar (…%) bekerja di luar sektor pertanian. Salah satu faktor penyebabnya adalah lahan pertanian semakin menyepit karena pembangunan fisik, baik yang berupa perumahan/pemukiman, perkantoran, maupun sekolahan. Selain itu, sebagain generasi muda enggan bekerja di sawah, sehingga penduduk yang bekerja di sektor pertanian semakin tahun semakin berkurang.

Dari segi etnik, orang Tionghoa tidak ada yang bekerja di sektor pemerintahan, baik itu sebagai PNS maupun TNI/POLRI. Mereka semuanya bekerja di sektor swasta (berwiraswasta/berdagang). Orang Arab pada mulanya juga demikian, namun dewasa ini ada yang bekerja sebagai PNS, walaupun hanya seorang. Sementara, orang Jawa bekerja di semua jenis pekerjaan yang ada di Kelurahan Mulyoharjo.

Tingkat pendidikan yang dicapai oleh penduduk Kelurahan Mulyoharjo dapat dilihat pada tabel I.2 berikut.

Tabel I.2
Penduduk Berdasarkan Pendidikan

No.

Jenjang Pendidikan

Jumlah
1.
Taman Kanak-Kanak
700
2.
Sekolah Dasar
3.425
3.
SMP/SLTP
3.851
4.
SMA/SLTA
8.785
5.
Akademi (D1-D3)
721
6.
Sarjana (S1)
515
7.
Pasca Sarjana (S2-S3)
76
8.
Lain-lain


Jumlah

 Sumber: Monografi Kelurahan Mulyoharjo, 2011.  

Tabel di atas menunjukkan bahwa tingkat pendidikan dicapai oleh sebagian besar penduduknya (8.785 orang atau ..%) SMS/SLTA.Kemudian, penduduk yang berpendidikan SMP/SLTP ada 3.851 orang atau ..%), dan penduduk yang berpendidikan SD ada 3.425 orang atau ..%). Sedangkan, penduduk yang tingkat pendidikannya di atas SMA/SLTA ada ….atau ..% dengan rincian: Akademi (D1-D3) ada 721 orang atau ..%; Sarjana (S1) ada 515 orang atau ..%; dan Pasca Sarjana (S2-S3) ada 76 orang atau ..%). Berdasarkan data-data tersebut, maka dapat dikatakan tingkat pendidikan penduduk Kelurahan Mulyoharjo relatif tinggi.

Lima agama besar di Indonesia (Islam, Kristen, Katholik, Hindu, dan Budha), masing-masing ada pemeluknya.Hal itu dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 3
Penduduk Berdasarkan Agama

No.

Agama

Jumlah
1.
Islam
21.938
2.
Krsiten
691
3.
Katholik
482
4.
Hindu
89
5.
Budha
87
6
Penghayat Kepercayaan thd Tuhan YME
50

Jumlah

Sumber: Monografi Kelurahan Mulyoharjo, 2011.

Tabel di atas menunjukkan bahwa agama yang dianut oleh sebagian besar penduduk Kelurahan Mulyoharjo adalah agama Islam (21.938 orang atau ..%). Kemudian, disusul oleh Kristen (691 orang atau ..%), Katholik (482 orang atau ..%), Hindu (98 orang atau ..%), dan Budha (87 orang atau ..%). Sedangkan, yang menganut Kepercayaan terhadap Tuhan YME ada 50 orang (..%). Dari segi etnik penganut agama Islam pada umunya orang Jawa dan Arab. Lalu, penganut agama Kristen dan Katholik pada umumnya orang Tionghoa dan sedikit orang Jawa. Sedangkan, pengangut agama Hindu dan Budha semuanya orang Tionghoa. Sementara, penganut Kepercayaan terhadap Tuhan YME pada umumnya orang Jawa.
           
Sosial-Budaya dan Ekonomi
Masyarakat Kelurahan Mulyoharjo adalah majemuk. Kemajemukan itu tidak hanya ditandai oleh berbagai macam etnik (Jawa, Tionghoa, dan Arab), tetapi juga adanya berbagai macam agama (Islam, Kristen, Katholik, Hindu, dan Budha) dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Setiap etnik mempunyai mempunyai budaya sendiri yang satu dengan lainnya berbeda. Orang Jawa menumbuh-kembangkan budaya dan tradisi yang diwariskan dari nenek moyangnya. Demikian juga, orang Tionghoa dan Arab. Mereka juga tidak melupakan budaya dan tradisi dari tanah leluhurnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, berbagai macam etnik yang menempati satu wilayah (Kelurahan Mulyoharjo) itu, tentu saja tidak hanya berhubungan dengan sesama etniknya (Orang Jawa hanya dengan orang Jawa, orang Tionghoa hanya dengan orang Tionghoa, dan oran Arab hanya dengan orang Arab), tetapi juga dengan etnik lainnya. Dalam berhubungan (berinteraksi), sadar atau tidak, mereka mengacu pada alat komunikasi (bahasa) yang “disepakati” oleh bersama (“bahasa pasar”atau bahasa umum lokal) Sebab, jika masing-masing mengacu pada bahasa etniknya, tidak akan terjadi interaksi, karena satu dengan lainnya tidak mengerti atau memahami apa yang dikomunikasikan (pesan-pesan komunikasi).

Bahasa umum lokal yang mendominasi kehidupan sehari-hari masyarakat Kelurahan Mulyoharjo adalah bahasa etnik yang mayoritas di kelurahan tersebut, yaitu bahasa Jawa dengan dialek banyumasan (ngapak) khas Pemalang. Namun demikian, bahasa Jawa yang dijadikan alat kumonikasi dalam berinerakasi antaretnik tidak seluruhnya (100%) bahasa Jawa, tetapi ada unsur bahasa etnik lainnya (Tionghoa dan Arab). Beberapa kosa kata dari bahasa Arab antara lain: ente (kamu), harim, (wanita), fulus (uang), bahil (pelit), dan bahlul (bodoh). Sedangkan, beberapa kota kata dari bahasa Tionghoa antara lain cepek (seratus) dan nopek (dua ratus). Jadi, dalam masyarakat Kelurahan Mulyoharjo yang majemuk itu telah terjadi adanya akulturasi2

Akulturasi tidak hanya tercermin dari unsur bahasa, tetapi juga unsur-unsur lainnya, seperti kuliner dan kesenian. Dalam hal ini kue khas orang Arab yang disebut “khamir”  (ada yang menyebutnya samir) tidak hanya menjadi “milik” orang Arab semata, tetapi juga milik orang Jawa. Malahan, ada orang Tionghoa yang mengusahakannya (membuat dan menjualnya). Selain itu, kesenian yang bernuansa Arab, seperti gambus dan samproh, tidak hanya menjadi “milik” orang Arab semata, tetapi orang Jawa.

Dalam bidang ekonomi, orang Arab di Kelurahan Mulyoharjo pada umumnya memilih bekerja di sektor non-pemerintah, yaitu sebagai pedagang, baik yang berkaitan dengan mebelair, seperti: meja, kursi, dan lemari) maupun yang sangat kaitannya dengan agama mereka (Islam)s seperti: Al Quran dan buku-buku tentang Islam, pakaian muslim, dan minyak wangi. Sebab, barang-barang kebutuhan pokok sehari-hari sudah banyak dilakukan oleh orang Jawa, dan terutama orang Tionghoa. 
           
Sumber:
Galba, Sindu. 2012. Kampung Ereb: Sebuah Komunitas Orang Arab di Kota Pemalang (Laporan Penelitian). Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta.


1 Menurut kepercayaan masyarakat setempat (Pemalang) gunung ini sampai kapan pun tidak akan meletus. Oleh karena itu, diberi nama Gunung Slamet (selamat). Dan, penulis pikir kepercayaan itu cukup beralasan karena gunung tersebut termasuk dalam kategori gunung yang mati. Sebenarnya Pemalang tidak hanya memilki sebuah gunung, tetapi masih ada satu gunung lagi, yaitu Gunung Gajah yang dari jauh bentuknya menyerupai seekor gajah.
2 Akulturasi adalah  proses di mana para individu warga suatu masyarakat dihadapkan dengan pengaruh kebudayaan lain dan asing. Dalam proses itu sebagian mengambil alhi secara selektif sedikit atau banyak unsur kebudayaan asing itu, dan sebagian berusaha menolak pengaruh itu (Koentjaraningrat,dkk,1984: 6).
hal
Dilihat: