Tukkeu/tukkuw

Tukkeu atau tukkuw adalah istilah orang Pepadun di Lampung Utara untuk menyebut alat atau wadah untuk memasak (membakar, merebus, menggoreng) sesuatu dengan memakai bahan bakar kayu. Tukkeu dapat berbentuk sederhana terdiri dari susunan batu atau batu bata yang diatur sedemikian rupa sehingga bahan bakar kayu terlindung dari angin dan panas yang dihasilkan dapat diarahkan. Selain itu, tukkeu juga dapat dibuat dari tanah liat dengan bentuk yang lebih tertutup sehingga panas yang dihasilkan lebih merata. Tukkeu jenis ini mulai marak lagi di daerah Lampung Utara dengan istilah baru, yaitu Tungku SBY.

Pemberian nama baru tersebut konon disebabkan oleh adanya beberapa kali kenaikan harga bahan bakar minyak pada masa periode pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Sebagian masyarakat yang merasa terbebani dengan kenaikan harga BBM, ada yang beralih lagi menggunakan alat masak tradisional tukkeu dan ada pula yang menggunakannya secara bergantian dengan alat masak (kompor) berbahan bakar gas sebagai penghematan biaya.

Tungku SBY sebenarnya dapat dibuat sendiri karena bahannya hanya berupa tanah liat. Tetapi karena proses pembuatannya yang memakan waktu cukup lama, mayoritas rumah tangga di Lampung Utara membelinya di pasar tradisional terdekat dengan harga berkisar antara Rp.20-50 ribu rupiah. Adapun proses pembuatannya adalah sebagai berikut.

Pertama, adalah tahap pengumpulan bahan berupa tanah liat. Tanah liat dapat diambil dari tempat-tempat tertentu di pekarangan rumah atau perladangan yang tidak banyak mengandung batu atau kerikil dengan menggunakan tembilang dan atau belibay (cangkul). Setelah terkumpul, tanah liat dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari. Bila telah kering, tanah ditumbuk lalu diayak untuk memperoleh butiran-butiran tanah yang agak halus.

Tahap selanjutnya adalah mencampur tanah yang telah diayak tadi dengan air untuk dijadikan adonan pembentuk tukkeu. Bila telah liat barulah tanah dibentuk sedemikian rupa menjadi sebuah tukkeu berbentuk bulat-lonjong dengan lubang pada bagian tengah dan atasnya. Lubang bagian atas berguna sebagai tempat menaruh peralatan masak (panci, wajan, oven bakar), sedangkan lubang tengah sebagai tempat menaruh bahan bakar (kayu, ranting kering, sabut kelapa, arang). Dan, sebelum dapat digunakan, tukkeu atau tungku SBY dikeringkan dengan cara diangin-anginkan untuk menghindari keretakan akibat penyerapan dan penguapan kadar air yang tidak merata. Setelah agak kering baru dilanjutkan dengan menjemurnya pada terik sinar matahari selama sekitar 10 hari. (Ali Gufron)


Sumber:
Ibu Hindun (54 Tahun)
Desa Peraduan Waras, Kecamatan Abung Timur, Kabupaten Lampung Utara
hal
Dilihat: