Humaidi Abas

Riwayat Singkat
Humaidi abas adalah salah satu seniman asli Lampung yang saat ini masih eksis dalam dunia kesenian, terutama seni sastra dan musik. Humaidi, begitu dia akrab di sapa, lahir di Kedondong, Kabupaten Lampung Selatan (sekarang menjadi wilayah Kabupaten Pesawaran), pada tanggal 15 Agustus 1957. Masa kecil anak kedua dari delapan bersaudara ini dihabiskan di Kedondong dengan mengikuti pendidikan Sekolah Rakyat saat usianya baru 5 tahun. Ketika Sekolah Rakyat diganti namanya

menjadi Sekolah Dasar pada tahun 1966, Hum-aidi tetap bersekolah hingga lulus dan mendapat ijazah. Selama duduk di bangku Sekolah Dasar prestasi Humaidi tergolong baik karena pernah menjadi juara pertama lomba deklamasi tingkat Provinsi Lampung.

Bekal menjadi juara deklamasi inilah yang membuat Humaidi Abas berniat ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang Sekolah Menengah Pertama. Alasan lainnya, banyak diantara gurunya yang menyarankan agar Humaidi melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Tetapi niat itu terpaksa diurungkan karena orang tuanya menghendaki agar dia menempuh pendidikan keagamaan dengan menjadi santri di pondok pesantren.

Agar tidak mengecewakan kedua orang tuanya, Humaidi pun pergi dari Lampung menuju Menes di daerah Banten untuk mencari pondok pesantren. Di Manes dia kemudian nyantri pada sebuah pondok pesantren partikelir (bersifat non pemerintah). Tetapi, karena tidak sesuai dengan hati nuraninya, dia hanya sanggup bertahan sebagai santri selama 3 tahun saja. Humaidi memutuskan keluar dari pesantren dan mencari pekerjaan di Serang.

Tidak lama bekerja di Serang, Humaidi berkenalan dengan seorang gadis bernama Lilis Rosita. Sang gadis yang ayahnya berasal dari daerah Cicalengka dan ibunya dari Bogor ini ternyata dapat memikat hati Humaidi, sehingga setelah menjalin hubungan selama beberapa bulan mereka memutuskan untuk menikah pada sekitar tahun 1979.

Namun perkawinan keduanya hanya berlangsung singkat, sekitar 4 tahun saja. Pada tahun 1982 Lilis Rosita menderita sakit dan akhirnya meninggal dunia. Dia meninggalkan seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Anak laki-lakinya kini tinggal di Serang dan telah menikah dengan dikaruniai tiga orang anak. Sedangkan anak perempuannya telah meninggal dunia karena sakit.

Sepeninggal Lilis Rosita, Humaidi memutuskan pulang ke kampung halamannya di Kedondong. Untuk menyambung hidupnya, dia bekerja pada seorang penjahit asal Minangkabau bernama Uda Anwar. Mula-mula pekerjaan Humaidi hanyalah sebagai pemasang kancing atau penyeterika baju. Lama-kelamaan, karena melihat Humaidi memiliki bakat menjahit, Uda Anwar mulai mengajarinya cara memotong dan menjahit kain menjadi sebuah celana dan atau kemeja.

Setelah kira-kira satu tahun bekerja sambil belajar menjahit, Humaidi diperbolehkan “melepaskan diri” dari Uda Anwar. Kesempatan itu dia pergunakan untuk kembali lagi ke Banten mencari pekerjaan yang lebih baik. Hasilnya, dengan mudah dia dapat diterima pada sebuah pabrik konveksi bernama CV. Perdana yang saat itu bergerak dalam bidang produksi baju dan celana seragam untuk tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menangah Atas serta pemasok tetap pakaian kerja PT. Krakatau Steel di Cilegon.

Di sela-sela pekerjaannya membuat seragam, Humaidi masih menyempatkan diri secara rutin pulang ke kampung halaman untuk menjenguk orang tuanya. Di kampung halaman inilah dia bertemu lagi dengan seorang gadis yang akhirnya dinikahi pada pertengahan tahun 1986. Dari pernikahan tersebut, Humaidi dikaruniai tiga orang anak lelaki dan tiga orang anak perempuan. Anak sulung dan anak keduanya saat ini telah menikah dan masing-masing dikaruniai seorang anak, anak ketiga masih kuliah di IAIN Bandar Lampung, anak keempat bekerja sebagai tenaga honorer di Pemda Kabupaten Pesawaran, anak kelima masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, dan anak bungsunya masih duduk di kelas 6 Sekolah Dasar.

Oleh karena Humaidi bekerja di Serang sementara isteri dan anak-anaknya berada di Kedondong, maka terpaksa dia harus bolak-balik Serang-Kedondong setiap satu atau dua bulan sekali. Melihat hal tersebut, sang kakak angkat yang bekerja sebagai kepala Bank Rakyat Indonesia (BRI) cabang Kampung Seni Teluk menyarankan agar dia bekerja di Lampung.

Tetapi, karena latar belakang pendidikan Humaidi hanya sampai Sekolah Dasar, sang kakak angkat tidak dapat memasukkannya menjadi pegawai di kantor yang dipimpinnya. Sebab, untuk menjadi pegawai Bank Rakyat Indonesia dengan posisi yang paling rendah pun, harus berpendidikan minimal setingkat SLTA. Untuk itu, sang kakak angkat menyarankan agar Humaidi mendaftar di kantor Taman Budaya Lampung yang sedang membuka lowongan kerja sebagai Pegawai Negeri Sipil. Segala keperluan Humaidi yang berkenaan dengan proses pendaftaran di Taman Budaya Lampung ditanggung oleh Sang Kakak Ipar.

Waktu itu, formasi yang dibutuhkan Taman Budaya Lampung bagi pendidikan setingkat Sekolah Dasar atau sederajat hanyalah sebagai sopir, sehingga Humaidi terpaksa mendaftarkan diri sebagai sopir. Padahal, Humaidi pernah mendapat pengalaman buruk dengan kata “sopir” tersebut. Dia pernah mengalami kecelakaan hingga masuk ke jurang di daerah Lampung Selatan ketika sedang mengendarai mobil menuju Bandarlampung pada sekitar pertengahan tahun 1985-an.

Setelah berhasil masuk dan menjadi Pegawai Negeri Sipil di Taman Budaya Lampung, pekerjaan Humaidi tidak hanya menjadi sopir, melainkan juga sebagai Pramu Kantor dengan tugas menjaga kebersihan kantor dan merawat serta memperbaiki kerusakan-kerusakan peralatan kantor. Salah satu pekerjaan yang membuatnya tertarik dalam bidang kesenian adalah ketika mempersiapkan segala peralatan dan perlengkapan bagi para seniman yang ingin berlatih atau pentas di Taman Budaya Lampung.

Latihan maupun pementasan dari para seniman drama, musik, dan tari yang disaksikan Humaidi di Taman Budaya secara perlahan namun pasti membuatnya tertarik untuk menggeluti bidang kesenian. Upaya pertama yang dia lakukan adalah meminta izin pada para seniman drama untuk ikut bergabung. Di luar dugaan, ternyata dia disambut dengan baik oleh para seniman, terutama oleh seorang penari profesional bernama Imas Sobariah.

Oleh Imas Sobariah, Humaidi diajari segala macam teknik menguasai panggung seni tradisi dan modern, seperti: cara berakting, berkomunikasi dengan penonton, cara mengatasi demam panggung, dan lain sebagainya. Selain diajari, Humaidi juga diikutsertakan ke Bandung dan Bali untuk mementaskan sebuah teater modern berjudul “Selihara”.

Dalam perkembangan selanjutnya, Humaidi malah lebih tertarik pada seni tutur tradisional ketimbang teater modern, khususnya sastra lisan Lampung yang disebut wawancan. Wawancan adalah semacam pantun khas Lampung yang berisi salam sembah pembuka, penyampaian silsilah atau khiwayat khukhek, pengebakhan adok, dan ijah tawai ne si tuha. Menurut kegunaannya, wawancan dibagi menjadi tiga, yaitu: wawancan ngepubetik sanak, wawancan sanak bukecah, dan wawancan angkat nama.

Wawancan ngepubetik sanak umumnya digunakan pada saat upacara perkawinan. Wawancan ini juga terbagi lagi menjadi tiga, yaitu: (a) wawancan ngepubetik sanak tutukan pekon, dilantunkan bila yang menikah anak dari kepala adat tiyuh atau kepala adat marga; (b) wawancan ngepubetik sanak tutukan memuakhian, dilantunkan bila yang menikah anak tertua laki-laki dalam sebuah keluarga bangsawan atau anak tertua dari pimpinan bagian suku dalam sebuah kepenyimbangan; dan wawancan ngepubetik sanak-sanak, dilantunkan bila yang menikah anak tertua laki dari orang kebanyakan.

Agar dapat menguasai seluruh wawancan dengan baik, Humaidi melakukan penggalian seni tersebut hingga ke pelosok Lampung. Tetapi, pendukung tradisi berwawancan ini sudah tinggal sedikit karena banyak orang Lampung berbudaya Pepadun maupun Saibatin sudak tidak lagi menggunakannya ketika akan menikahkan putera-puterinya. Penjelasan lengkap tentang wawancan akhirnya diperoleh Humaidi di sebuah daerah agak pelosok bernama Putidoh. Di sana dia mendapat penjelasan tentang apa itu wawancan, bentuk-bentuk wawancan, cara mengucapkan wawancan, dan bagaimana penggunaan wawancan dalam acara perkawinan, pemberian gelar adat (adop), pembacaan silsilah seseorang, atau menceritakan asal-usul suatu tempat.

Salah satu wawancan yang dikarangnya adalah wawancan untuk membacakan silsilah seseorang yang akan menikah. Sebelum perkawinan dilaksanakan, di depan hadirin Humaidi akan membacakan silsilah dari mempelai laki-laki/perempuan agar semua orang mengetahui, terutama orang-orang dari keluarga calon mempelai laki-laki/perempuan. Pembacaan wawancan dimulai dengan nama si calon mempelai, tempat dan tanggal lahir, nama kedua orang tuanya, dan nama-nama sanak kerabatnya yang dirasa perlu diceritakan. Apabila selesai berwawancan, Humaidi akan mengucapkan kata anadaya poon dan akan dijawab poon pula olah hadirin sebagai tanda persetujuan.

Tidak puas dengan hanya menguasai satu jenis kesenian, pada sekitar tahun 2006 Humaidi “melebarkan sayap” ke dunia seni musik dengan membeli sebuah alat musik gambus kluning bersenar dua seperti mandolin seharga Rp.750.000,00. Padahal, secara teknis dia tidak bisa membaca notasi musik dan memainkan alat musik gambus. Untuk mengatasi keterbatasannya itu, pada tahap awal belajar bermain gambus, Humaidi secara rutin mendengarkan para seniman berlatih dan bermain gambus di Taman Budaya Lampung. Permainan mereka kemudian direkam guna dipelajari lagi secara otodidak di rumah. Selain itu, dia juga membeli puluhan rekaman cakram padat (compact disc) dari para pemain gambus dalam dan luar negeri agar pengetahuannya semakin banyak. Begitu seterusnya hingga akhirnya Humaidi pandai bermain gambus.

Gambus kluning yang dipelajari Humaidi sebenarnya bukan “barang baru” bagi masyarakat Lampung. Alat musik berbentuk mirip seperti gambus timur tengah ini dahulu sering dimainkan oleh para bujang Lampung ketika nganjang ke rumah gadis yang mereka taksir. Biasanya sang bujang akan bermain gambus dibawah jendela rumah panggung sang gadis. Apabila sang gadis tertarik dengan penampilan fisik dan petikan gambus sang bujang, dia akan menyambutnya dengan senang hati. Bila berjodoh, dari perkenalan akan berlanjut ke jenjang pernikahan.

Dengan gambus inilah Humaidi berhasil menciptakan berbagai macam lagu yang diinspirasi dari pengalaman hidupnya. Tetapi, lagu-lagu yang diciptakannya tersebut tidak pernah direkam dan dijual kepasaran. Bahkan, dia rela berbagi dengan kakak misannya yang juga seorang seniman gambus kluning. Bila sang kakak misan didaulat mengisi sebuah acara sementara lagu yang akan dibawakan belum diciptakan, maka Humaidi bersedia memberikan lagu ciptaannya untuk dibawakan dalam acara tersebut. Begitu juga sebaliknya, Humaidi pun akan membawakan lagu milik kakak misannya bila “kehabisan stok lagu” dalam sebuah pementasan.

Dalam perkembangan selanjutnya, Humaidi tidak hanya berwawancan dan atau bernyanyi saja. Dia mulai mencoba menggabungkan kedua jenis kesenian itu menjadi satu kesatuan. Jadi, dia berwawancan sambil memainkan gambus kluning. Diluar dugaan, kreasi baru Humaidi tersebut disambut baik oleh masyarakat Lampung.

Alhasil, Humaidi semakin sering diundang ke berbagai event besar, baik untuk berpentas atau berlomba di daerah Lampung sendiri hingga ke daerah lain di Indonesia. Sejumlah penghargaan tak urung didapatnya dari berbagai instansi baik pemerintah maupun swasta dengan jumlah total sekitar 70 penghargaan berupa piagam dan trofi.

Dari seluruh penghargaan yang dia terima, ada sebuah penghargaan yang paling berkesan, yaitu ketika berhasil menjadi juara pertama pada festival seni tradisi yang diikuti oleh sejumlah negara di benua Asia pada tahun 2010. Dalam festival yang bertempat di Monumen Mandala Makassar, Sulawesi Selatan itu Humaidi membawakan wawancan berjudul “Anak Durhaka” dengan setting seorang kakek bercerita kepada cucunya. Kisah anak durhaka diawali dengan sepasang suami-isteri yang telah lama menikah tetapi belum memiliki keturunan. Mereka tinggal di sebuah kampung bernama Gunug Balak. Suatu hari sang suami yang bernama Mangku Batin mendapat wangsit melalui mimpi bahwa dia akan mempunyai keturunan.

Singkat cerita, tidak lama kemudian sang isteri hamil dan akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki. Sang bayi dipelihara dengan baik, sehingga tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan. Sayangnya, ketampanan dan kegagahan itu tidak dibarengi oleh sifat dan kelakuannya. Sang anak memiliki perangai yang sangat buruk dan ketika dewasa menjadi anak yang durhaka pada orang tua.

Selain “Anak Durhaka” Humaidi juga menciptakan puluhan wawancan dan lagu-lagu berirama gambus, diantaranya: (1) Suya (kecewa), bercerita tentang seorang pemuda yang sudah sangat mantap dengan pilihan hidupnya karena sewaktu berpacaran sang gadis tidak memperlihatkan “kecacatan/kelemahan/kekurangan” dirinya. Setelah menjadi isteri, baru terkuaklah segala kekurangannya yang membuat suami menjadi kecewa. Tetapi, karena dalam kebudayaan Lampung Pepadun dan Saibatin membutuhkan banyak sekali biaya untuk sebuah perkawinan, maka sang suami memilih memperbaiki keadaan tersebut daripada menceraikan isterinya; (2) Sanak Lupa Dipekon, bercerita tenang seseorang yang telah berhasil di perantauan, tetapi lupa pada kampung halamannya; (3) Jalan Mulang, bercerita tentang perantau yang mau pulang dan membangun kampung halamannya; (4) Pecoh Dalam Lusinan, bercerita tentang perselisihan antarsaudara kandung dalam sebuah keluarga laksana piring-piring bergesekan dalam sebuah kardus; (5) Anak Ngukha, berkisah tentang anak-anak yang selalu dinomor-duakan oleh orang tua dibandingkan dengan anak sulung. Pada kebudayaan Lampung yang patrilineal, anak pertama, apalagi kalau laki-laki, dianggap sebagai penerus keturunan. Oleh karena itu, akan memperoleh perlakuan lebih ketimbang anak-anak yang lahir sesudahnya. Tetapi, karena terlalu dimanja oleh orang tua, umumnya anak sulung kurang berhasil dibandingkan adik-adik kandungnya; dan (5) Bubiti, berkisah tentang ratapan seseorang yang ditinggal mati oleh orang yang dikasihinya atau penyesalan atas apa yang telah dipilihnya. (Ali Gufron)

Sumber: 
Masduki, Aam. dkk. 2014. Tokoh Sejarah dan Budaya di Bandarlampung. Bandung: BPNB Bandung
hal
Dilihat: