Desa Asemdoyong

Letak dan Keadaan Alam
Asemdoyong adalah sebuah desa yang ada di wilayah Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. wilayahnya memiliki luas sekitar 578.356 hektar yang sebagian besar (345.826 hektar) berupa sawah dengan sistem irigasi teknis. Persawahan tersebut berada di bagian selatan desa. Sedangkan, di bagian utara berupa pantai yang membujur dari arah barat-timur. Di kawasan inilah para nelayan bertempat tinggal. Konon, berdasarkan penuturan masyarakat setempat, dahulu ada sebuah pohon asem (asam) yang besar dan doyong (posisinya miring). Oleh karena itu, daerah tersebut disebut “Asemdoyong”1

Desa Asemdoyong yang berada di ketinggian kurang lebih dua meter dari permukaan air laut ini sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa; sebelah selatan berbatasan dengan Desa Kabunan; sebelah barat berbatasan dengan Desa Bungin (dibatasi oleh sungai Elon); dan sebelah timur berbatasan dengan Desa Nyampungsari. Curah hujannya rata-rata 500 milimeter pertahun, sedangkan suhu rata-ratanya 30 derajat Celcius (Monografi Desa Asemdoyong, 2009).

Letak desa dari pusat pemerintahan kecamatan (Taman) jaraknya kurang lebih 10 kilometer ke arah utara. Sedangkan, dari pusat pemerintahan kabupaten (Kota Pemalang) jaraknya kurang lebih 15 kilometer ke arah timur-utara (timur laut). Sementara, dari ibukota Provinsi Jawa Tengah (Semarang) jaraknya kurang lebih 130 kilometer ke arah barat. Salah satu akses untuk menuju desa adalah dengan menggunakan jasa transportasi umum yang dikelola oleh Koperasi Angkutan Darat (Koperanda). Koperasi angkutan ini sejak tahun 1995 telah menjangkau Desa Asemdoyong, dengan route: Pemalang-Asemdoyong-Kloning (PP). Saat penelitian ini dilakukan jumlah armadanya ada 13 buah dalam bentuk “station”2. Armada tersebut beroperasi dari pukul 06.00-17.00 WIB.

Kependudukan
Desa Asemdoyong berpenduduk 14.780 jiwa dengan rincian: 7.541 jiwa laki-laki dan 7.239 jiwa perempuan. Semuanya beragama Islam. Meskipun demikian, mereka mempercayai bahwa tempat-tempat tertentu, termasuk laut, ada “penunggunya”. Pantang-larang ketika berada di laut dan adanya upacara tradisional baritan adalah wujud dari kepercayaan tersebut. Dalam melaksanakan ibadatnya, mereka dapat pergi ke mesjid dan atau langgar (surau). Jumlah mesjid yang ada di sana ada 5 buah, sedangkan suraunya ada 26 buah (Monografi Desa Asemdoyong, 2009).

Tingkat pendidikan yang dicapai oleh penduduknya dapat dikatakan rendah karena sebagian besar hanya tamat Sekolah Dasar (SD). Hanya 21 orang yang tamat akademi dan 18 orang yang berpredikat sarjana (S1). Penduduk yang hanya tamat SD atau tidak tamat SD kebanyakan adalah nelayan. Hal itu sangat erat kaitannya dengan proses untuk menjadi nelayan. Selain itu, di tahun 1960-an sekolah SD (ketika itu Sekolah Rakyat) yang ada di Desa Asemdoyong hanya sampai kelas tiga. Ini artinya, jika seseorang ingin menamatkan SD-nya, maka yang bersangkutan harus keluar dari desanya. Pada umumnya ke SD yang ada di Desa Beji (sekarang kelurahan), Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang. Di masa kini pun jika seseorang ingin melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi, yang bersangkutan harus ke luar desa, karena sarana pendidikan yang ada di Desa Asemdoyong hanya setingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP).

Jenis matapencaharian yang digeluti oleh penduduk Desa Asemdoyong cukup kompleks, mulai dari Pegawai Negeri Sipil, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Polisi Republik Indonesia (Polri), pedagang, pertukangan, petani sampai nelayan. Namun demikian, sebagian besar adalah petani dan nelayan.

Keadaan Ekonomi
Perumahan yang ada di Desa Asemdoyong sebagian besar (1.912 buah) berdinding tembok (batu bata dan atau batako), beralaskan keramik, dan beratap genteng. Selebihnya adalah rumah model “kutangan”3   dan rumah yang semua dindingnya berupa pager4. Hampir setiap rumah ada antena televisinya. Data yang tercantum dalam Monografi Desa Asemdoyong tahun 2009 menyebutkan bahwa pesawat televisi yang ada di sana berjumlah 2.210 buah. Ini artinya sebagian besar penduduknya memiliki televisi. Selain itu, di sana juga relatif banyak yang memiliki pesawat telepon (39 orang) dan pesawat radio (311 orang).

Sampai saat ini, Desa Asemdoyong belum memiliki pasar. Namun demikian, berdasarkan data Monografi Desa (2009), di sana ada toko (104 buah), warung (39 buah), dan pedagang kaki lima (8 orang) yang menyediakan berbagai macam kebutuhan sehari-hari masyarakat setempat. Malahan, di desa tersebut ada Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Dengan demikian, dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, khususnya kebutuhan primer, masyarakat setempat tidak perlu keluar desa karena di dalam desa dapat dikatakan segalanya telah tersedia.

Sumber:
Galba, Sindu. 2010. “Sistem Pengetahuan Tradisional Masyarakat Nelayan Desa Asemdoyong” (Laporan Penelitian). Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta.
___________________________________
1. Toponimi (nama asal atau tempat) di daerah Pemalang tidak hanya Asemdoyong, tetapi masih banyak lainnya, antara lain: Penggarit (pang atau cabang pohon bergarit), Paduraksa (tempat bertempurnya dua raksasa), dan Kali Rambut (sungai yang konon banyak rambut raksasanya).
2.  Bentuknya lebih kecil dari Metro Mini yang ada di Jakarta dan bis kota yang ada di Yogyakarta.
3. Kutangan adalah rumah yang sebagian dindingnya berupa tembok (kurang lebih satu meter dari permukaan tanah) dan selebihnya berupa pager.
4.  Pager adalah bambu yang dianyam sedemikian rupa sehingga membentuk empat persegi panjang yang cukup rapat dan kuat. Di Yogyakarta disebut gedhek.
hal
Dilihat: