Museum Affandi

Sejarah
Affandi adalah satu dari segelintir maestro seni lukis Indonesia beraliran ekspresionismeyang hasil karyanya pernah dipamerkan ke berbagai negara di dunia, baik di benua Asia, Eropa, Amerika, maupun Australia. Semasa hidupnya, pria yang lahir di Cirebon sekitar tahun 1907 ini telah menghasilkan lebih dari 2.000 buah karya lukis yang 300 buah diantaranya kini disimpan di museum sekaligus kediamannya (tokohindonesia.com). Letak museum berada di tepi Sungai Gajahwong atau tepatnya di Jalan Laksda Adisucipto No. 167 Yogyakarta dengan titik koordinat 7,7827°LS 110,3963°BT. Untuk mencapai lokasinya, apabila menggunakan angkutan umum relatif mudah karena masih berada di dalam kota dan tidak jauh dari bandara, terminal bus, dan stasiun kereta api. Jadi, dapat menggunakan taxi, bus Trans-Jogja, bus kota, becak atau bahkan andong.

Museum yang diberi nama Affandi ini dirancang oleh sang empunya nama sendiri pada sekitar tahun 1962 dengan biaya dari hasil penjualan lukisan-lukisannya. Menempati lahan di sekitar kediamannya, Affandi mulai membangun galeri pertamanya seluas 314,6 meter persegi sebagai ruang pamer. Namun, setelah digunakan selama beberapa tahun barulah galeri diresmikan pada sekitar tahun 1974 oleh Prof. Ida Bagus Mantra yang waktu itu menjabat sebagai Direktur Kebudayaan Umum (id.wikipedia.org).

Sekitar 13 tahun kemudian, dibangun lagi sebuah galeri seluas 351,5 meter persegi atas bantuan pemerintah melalui Presiden Soeharto yang kemudian diresmikan pada tanggal 9 Juni 1988 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Prof. Dr. Fuad Hasan (id.wikipedia.org). Setelah Affandi wafat2, Yayasan Affandi mendirikan sebuah galeri lagi yang peresmiannya dilakukan oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, pada bulan Mei tahun 2000. Galeri ini didirikan untuk memenuhi permintaan Sang Maestro yang ingin memiliki sebuah ruang penyimpanan (storage) untuk seluruh hasil karyanya maupun karya pelukis lain yang menjadi koleksinya. Dan, galeri terakhir dibangun sekitar tahun 2002 guna memamerkan lukisan-lukisan hasil karya keluarga Affandi.

Selanjutnya, agar lebih berperan aktif dalam mempromosikan seni dan budaya Indonesia serta sebagai bentuk perhatian terhadap dunia pendidikan dan pariwisata, pihak Yayasan Affandi selaku pengelola museum kemudian bergabung dalam oganisasi Barahmus (Badan Musyawarah Museum) Daerah Istimewa Yogyakarta dan menjadi anggota BMMI (Badan Musyawarah Museum Indonesia). Konsekuensi logis dari peran aktif tersebut tentu saja membuat museum harus memiliki visi dan misi sebagai pedoman untuk mencapai tujuan agar masyarakat dapat menikmati karya seni dan terinspirasi oleh sosok Affandi.

Adapun visi dan misi Museum Affandi menurut affandi.org adalah: (1) menjaga dan melestarikan (konservasi) dari Museum Affandi dan koleksinya; (2) mempromosikan nilai pendidikan dan rekreasi; (3) memberikan pelayanan yang terbaik kepada seluruh lapisan masyarakat; (4) berkomunikasi dan menginformasikan koleksi Museum Affandi sebagai bukti sejarah yang kaya seni dan budaya Indonesia; (5) mengembangkan Museum Affandi menuju standardisasi internasional, dan (6) membuat Museum Affandi sebagai pusat penelitian dan pengetahuan tentang koleksi karya Affandi.

Komplek Museum Affandi
Komplek Museum Affandi menempati lahan seluas 3.500 meter persegi, terdiri atas: menara pandang, bangunan tempat tinggal Affandi semasa hidup, sebuah gerobak, makam Affandi dan isterinya, empat buah galeri, dan dua buah studio. Menara pandang berada dalam posisi yang strategis sehingga apabila berada di bagian puncaknya dapat melihat seluruh komplek museum, Sungai Gajahwong, hingga hiruk pikuk di Jalan Laksda Adisucipto.

Agak ke barat dari menara pandang terdapat sebuah bangunan tempat tinggal Affandi berbentuk panggung dua lantai dengan tiang utama terbuat dari beton dan sebagian dari kayu berukir serta beratap menyerupai daun pisang. Bangunan yang sekarang difungsikan sebagai cafe bernama Loteng ini dahulu lantai atasnya adalah kamar tidur Afandi dan keluarganya sedangkan lantai bawah untuk ruang tamu dan garasi.

Di sebelah kiri bangunan rumah terdapat sebuah gerobak yang kini difungsikan sebagai mushola. Dahulu gerobak tersebut merupakan salah satu elemen pelengkap sebagai tempat beristirahat siang isteri Affandi, Maryati. Di dalamnya telah dimodifikasi menjadi sebuah ruangan lengkap dengan dapur dan toilet. Gerobak modifikasi ini adalah ide Affandi untuk mewujudkan permintaan Maryati yang menginginkan adanya sebuah tempat tinggal berpindah mirip seperti caravan di Amerika.

Beralih dari gerobak, terdapat galeri pertama yang menjadi cikal bakal Museum Affandi. Di dalamnya terdapat tempat pembelian tiket dan pusat informasi; beberapa buah patung terbuat dari perunggu, tanah liat, dan semen berbentuk wajah Affandi beserta puterinya (Kartika) buatan tahun 1943 dan 1954; lukisan-lukisan karya Affandi dalam media kanvas maupun sketsa menggunakan cat air, cat minyak, atau pastel; sebuah mobil Mitsubishi Colt Gallant buatan tahun 1976 berwarna kuning kehijauan yang dimodifikasi hingga menyerupai seekor ikan; sepeda onthel merk The Raleigh buatan tahun 1975; foto-foto kenangan Affandi; kliping berita koran; piagam penghargaan yang pernah diterima Affandi; seri perangko bergambar Affandi keluaran PT. Pos Indonesia; serta beberapa barang yang sehari-hari biasa dikenakan Affandi (sandal jepit, sarung bermotif kota-kotak, kuas, ember, kain, dan pipa cangklong kesayangannya).

Beberapa meter dari galeri pertama ada galeri kedua berukuran sekitar 315,5 meter persegi dan berlantai dua. Lantai pertama digunakan sebagai ruang pamer lukisan-lukisan yang bersifat abstrak, sementara lantai kedua untuk sejumlah lukisan yang lebih bercorak realis namun memiliki ketegasan (yogyes.com). Lukisan-lukisan tersebut berasal atau dibuat oleh para seniman kondang, seperti: Sudjojono, Barli, Basuki Abdullah, Hendra Gunawan, Fajar Sidik, Rusli, Popo Iskandar, Mochtar Apin, Wahdi S., Bagong Kussudiarjo, dan lain sebagainya.

Selanjutnya, ada galeri ketiga (tidak berapa jauh dari menara pandang) yang bangunannya mirip dengan galeri pertama dan kedua, yaitu berbentuk garis melengkung dengan atap menyerupai daun pisang. Galeri ketiga ini terdiri dari dua lantai plus satu lantai berada di bawah tanah. Lantai kedua dipergunakan sebagai ruang perawatan lukisan (restorasi), lantai dasar (ruang bawah tanah) sebagai tempat penyimpanan koleksi, sedangkan lantai pertama dipergunakan sebagai ruang pamer sejumlah karya seni keluarga Affandi, di antaranya: lukisan karya Rukmini Yusuf (puteri Affandi dari isteri keduanya); lukisan-lukisan Kartika Affandi (puteri Maryati) yang diberi judul "Apa yang Harus Kuperbuat" (Januari 1999), "Apa Salahku? Mengapa ini Harus Terjadi" (Februari 1999), "Tidak Adil" (Juni 1999), "Kembali pada Realita Kehidupan", dan Semua Kuserahkan Kepada-Nya" (Juli 1999); lukisan Juki Affandi; dan lukisan serta sulaman Maryati (isteri pertama Affandi).

Terakhir, ada sebuah galeri lagi dengan atap terbuat dari anyaman bambu yang difungsikan sebagai ruang pamer bagi berbagai lukisan karya Didit, cucu Affandi. Selain itu, ada pula dua buah studio yang dibangun pada tahun 2004 dan 2010. Studio yang namanya diambil dari sungai yang mengalir di sebelahnya ini dipergunakan sebagai ruang pameran, lokakarya, dan tempat bagi anak-anak maupun orang dewasa belajar, mengembangkan inovasi, kreativitas, dan bakatnya dalam bidang seni rupa.

Bagaimana? Anda berminat mengunjungi dan menikmati seluruh hasil karya para seniman yang ada di Museum Affandi? Sebagai catatan, Museum Affandi dibuka untuk umum dari hari Senin-Minggu dengan perincian: Senin-Sabtu pukul 09.00-16.00 WIB, sedangkan Minggu pukul 09.00-13.00 WIB. Khusus untuk hari Minggu terlebih dahulu harus menghubungi pengelola museum karena kemungkinan tidak buka. Adapun biaya masuknya hanya sebesar Rp. 20.000,00 (sudah termasuk bonus pensil dan kupon soft drink di Cafe Loteng), serta tambahan Rp.10.000,00 apabila ingin memotret di dalam galeri (sekarang tidak diperkenankan lagi memotret). (Ali Gufron)

Foto: http://asiaforvisitors.com/indonesia/java/central/yogya/museum-affandi/index.php
Sumber:
"Mission and Vission", diakses dari http://www.affandi.org/museum/organization/mission-and-vission, tanggal 11 Desember 2014.

"Pengertian dan Sejarah Seni Rupa Aliran Ekspressionisme", diakses dari http://www.g-excess.com/pengertian-dan-sejarah-seni-rupa-aliran-ekspressionisme.html, tanggal 11 Desember 2014.

"Affandi, Maestro Seni Lukis Indonesia", diakses dari http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/285-ensiklopedi/564-maestro-seni-lukis-indonesia, tanggal 12 Desember 2014.

"Museum Affandi, Mengunjungi Istana Sang Maestro", diakses dari http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/museum-and-monument/affandi/, tanggal 12 Desember 2014.

"Museum Affandi", diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Affandi, tanggal 13 Desember 2014.
__________________________________________________________________
[1] Menurut g-excess.com, ekspresionisme adalah kecenderungan untuk mendistorsi kenyataan dengan efek-efek emosional yang dituangkan oleh seorang seniman dalam bentuk karya lukis, sastra, film, arsitektur, atau musik. Selain itu, ekspresionisme juga didefinisikan sebagai kebebasan distorsi bentuk dan warna untuk melahirkan emosi ataupun sensasi dari dalam yang biasanya dihubungkan dengan kekerasan atau tragedi.
[2] Affandi wafat pada tanggal 23 Mei 1990 dan dimakamkan di antara galeri I dan II, berdampingan dengan isteri dan dikelilingi oleh seluruh hasil karya seninya.

Museum Batara Guru

Museum Batara Guru berada di Jalan Andi Jemma No.1, Kelurahan Batu Pasi, Kecamatan Wara Utara, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Untuk mencapainya, apabila menggunakan angkutan umum relatif mudah karena hanya berjarak sekitar 1,5 kilometer dari Pelabuhan Tanjungringgit dan 3 kilometer dari Terminal Dangerakko.

Museum ini dahulu merupakan istana Raja Luwu yang dibangun sekitar tahun 1920. Setelah tidak ditempati lagi, bangunan dijadikan museum dan diberi nama Museum Batara Guru pada tanggal 26 Juli 1971. Adapun peresmiannya dilakukan oleh Andi Achmad, salah seorang ahli waris Raja Luwu yang saat itu menjabat sebagai Bupati Luwu. Tujuan pendiriannya, adalah untuk melestarikan budaya Kerajaan Luwu agar dapat diwariskan pada generasi berikutnya.

Museum Batara Guru memiliki luas tanah sekitar 10.000 meter persegi yang di dalamnya terdapat sebuah bangunan berukuran sekitar 968 meter persegi. Di dalam bangunan itu terdapat sebuah ruang pamer seluas 120 meter persegi, ruang administrasi, ruang perpustakaan, mushola dan juga toilet. Ruang pamer museum menyimpan sekitar 831 buah koleksi, terdiri atas koleksi prasejarah, keramik, heraldika, etnografi, naskah, numismatik, dan foto-foto. Sebagai catatan, apabila berniat menyaksikan ke-831 koleksi tersebut Museum Batara Guru dapat dikunjungi pada hari Selasa, Rabu, Kamis, Jumat dan Minggu dengan perincian: Selasa-Kamis dan Minggu pukul 08.00-16.00 WITA, sedangkan Jumat pukul 08.00-10.30 WITA. Khusus untuk hari Senin dan Sabtu museum ditutup untuk umum.

Foto: http://www.sulsel.go.id/content/museum-batara-guru

Pantai Jogan

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki garis pantai sepanjang 113 kilometer yang terbagi dalam tiga kabupaten, yaitu: Gunungkidul (71 kilometer), Bantul (17 kilometer), dan Kulon Progo sepanjang 25 kilometer (ppejawa.com). Di sepanjang alur pantai tersebut terdapat puluhan obyek wisata bahari yang sering dikunjungi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Salah satu diantaranya adalah Pantai Jogan yang terletak di Desa Purwodadi, Kecamatan Tapus, Kabupaten Gunung Kidul.

Untuk mencapai lokasi pantai yang berkoordinat di S8°10'49" E110°40'33" ini, dari Yogyakarta berjarak sekitar 70 kilometer atau sekitar 2 jam perjalanan. Adapun rutenya menurut wisataku.net dan kedaisusu01.blogspot.com adalah sebagai berikut: dari Kota Yogya menuju Piyungan, Patuk, Sambipitu, rest area Hutan Bunder, Gading, Bundaran Siyono, Alun-alun Wonosari, Baleharjo, Jalan Wonosari Semanu, Jembatan Jirak Semanu, Pasar Semanu, Panggul, Jalan Girisubo Wonosari, Purwodadi, hingga Jalan Raya Pantai Siung. Dan, apabila telah berada di dekat pos retribusi Pantai Siung, perjalanan dilanjutkan melalui jalan bercor semen ke arah barat sejauh kurang lebih 200 meter menuju Pantai Jogan.

Kondisi Pantai Jogan
Pantai Jogan berada diantara tebing-tebing tinggi pegunungan kapur yang langsung berhadapan dengan laut sehingga nyaris tidak berpasir. Di pantai yang relatif masih sepi ini pengunjung dapat melihat keindahan alam berupa garis horizon panjang yang mempertemukan langit dan lautan sambil menikmati deburan ombak khas laut selatan yang tinggi, besar, dan konstan. Selain itu, dapat pula dapat pula melihat sebuah air terjun yang hanya berjarak sekitar 10 meter dari bibir pantai. Air terjun yang juga diberi nama Jogan ini berketinggian sekitar 10 meter dengan debit air bergantung musim. Apabila musim penghujan, air yang berasal dari pegunungan (kapur) karst di sekitar Kecamatan Tapus akan mengalir deras melalui dua buah sungai kecil menuju ke air terjun. Namun bila musim kemarau tiba, debit airnya sangat kecil dan bahkan nyaris kering.

Sebagai catatan, apabila tidak puas dengan hanya menyaksikan keindahan air terjun dari kejauhan dan ingin berada tepat di bawah curahan airnya haruslah bersusah payah terlebih dahulu dengan cara menuruni jalan berbatu karang yang agak licin dan tajam hanya dengan bantuan kayu-kayu pegangan sebagai penopang tubuh serta melewati karang-karang yang dihuni oleh ribuan bayi kepiting berwarna transparan berukuran 5 milimeter. (gufron)

Foto: http://ayongetrip.com/wisata-gunung-kidul-air-terjun-di-pantai-jogan/
Sumber:
"Peta Pantai Jogan Air Terjun Jogan Gunungkidul", diakses dari http://kedaisusu01.blogspot.com/2012/11/peta-pantai-jogan-air-terjun-jogan.html, tanggal 5 Desember 2014.

"Cantiknya Air Terjun Jogan di Gunungkidul", diakses dari http://wisataku.net/cantiknya-air-terjun-jogan-di-gunungkidul.html, tanggal 5 Desember 2014.

"Ekoregion Provinsi D.I. Yogyakarta, diakses dari http://ppejawa.com/16_ekoregion_provinsi_di_yogyakarta.html, tanggal 6 Desember 2014.

Air Terjun Jogan

Air terjun Jogan terletak di Desa Purwodadi, Kecamatan Tapus, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Untuk mencapai lokasi air terjun yang berkoordinat di S8°10'49" E110°40'33" ini, dari Yogyakarta berjarak sekitar 70 kilometer atau sekitar 2 jam perjalanan. Adapun rutenya menurut wisataku.net dan kedaisusu01.blogspot.com adalah sebagai berikut: dari Kota Yogya menuju Piyungan, Patuk, Sambipitu, rest area Hutan Bunder, Gading, Bundaran Siyono, Alun-alun Wonosari, Baleharjo, Jalan Wonosari Semanu, Jembatan Jirak Semanu, Pasar Semanu, Panggul, Jalan Girisubo Wonosari, Purwodadi, hingga Jalan Raya Pantai Siung. Dan, apabila telah berada di dekat pos retribusi Pantai Siung, perjalanan dilanjutkan melalui jalan bercor semen ke arah barat sejauh kurang lebih 200 meter menuju Pantai Jogan.

Setelah sampai di Pantai Jogan pengunjung akan melihat sebuah air terjun yang hanya berjarak sekitar 10 meter dari bibir pantai. Air terjun ini berketinggian sekitar 10 meter dengan debit air bergantung musim. Apabila musim penghujan, air yang berasal dari perbukitan (kapur) karst di sekitar Kecamatan Tapus akan mengalir deras melalui sungai-sungai kecil menuju ke air terjun. Namun bila musim kemarau tiba, debit airnya sangat kecil dan bahkan nyaris kering.

Sebagai catatan, apabila tidak puas dengan hanya menyaksikan keindahan air terjun dari kejauhan dan ingin berada tepat di bawah curahan airnya haruslah bersusah payah terlebih dahulu dengan cara menuruni jalan berbatu karang yang agak licin dan tajam hanya dengan bantuan kayu-kayu pegangan sebagai penopang tubuh serta melewati karang-karang yang dihuni oleh ribuan bayi kepiting berwarna transparan berukuran 5 milimeter.

Foto: http://yogyakarta.panduanwisata.id/daerah-istimewa-yogyakarta/gunung-kidul/air-terjun-pantai-jogan-kesegaran-mata-air-bukit-karst/
Sumber:
"Peta Pantai Jogan Air Terjun Jogan Gunungkidul", diakses dari http://kedaisusu01.blogspot.com/2012/11/peta-pantai-jogan-air-terjun-jogan.html, tanggal 5 Desember 2014.

"Cantiknya Air Terjun Jogan di Gunungkidul", diakses dari http://wisataku.net/cantiknya-air-terjun-jogan-di-gunungkidul.html, tanggal 5 Desember 2014.

Air Terjun Gedangan

Bila mendengar nama Giriloyo pikiran kita mungkin akan tertuju pada sebuah daerah di Yogyakarta yang terkenal akan sentra produksi batik-tulisnya. Batik tulis yang diproduksi penduduk Giriloyo konon berawal bersamaan dengan berdirinya makam raja-raja di Imogiri yang terletak di Bukit Merak pada sekitar tahun 1654. Sejalan dengan berdirinya makam raja-raja itu maka perlu tenaga yang bertanggung jawab untuk memelihara dan menjaganya. Untuk itu, keraton menugaskan sebagian abdi dalemnya yang dikepalai oleh seorang berpangkat bupati. Para abdi dalem itulah yang menularkan kepandaian membatik dengan motif batik halus keraton di wilayah Bukit Merak, khususnya di Dusun Pajimatan. Dari Pajimatan, keterampilan membatik akhirnya menular ke daerah lain di sekitarnya, termasuk ke Giriloyo.

Selain mendapat predikat sebagai sentra batik-tulis, Giriloyo ternyata juga menyimpan sebuah daya tarik lain yang juga dapat menyedot wisatawan untuk datang berkunjung. Daya tarik itu berupa beberapa air terjun yang salah satunya bernama Gedangan. Untuk mencapai air terjun ini, menurut wizid.blogspot.com dan jogjaholidays.com, dapat ditempuh melalui dua rute. Rute pertama, melewati salah satu dusun di Kelurahan Wukirsari dengan kondisi jalan telah beraspal. Dan, rute kedua, melalui jalan tanah selebar 30-50 centimeter sejauh 1,5 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 45 menit.

Kondisi Air Terjun Gedangan
Air Terjun Gedangan memiliki ketinggian sekitar delapan meter dengan curahan membentuk sebuah kolam berkedalaman sekitar satu meter. Oleh masyarakat setempat air terjun ini juga dinamakan sebagai air terjun Seribu Batu karena lokasinya dikelilingi oleh ribuan bebatuan yang berasal dari gunung api tua Ngelanggran (www.ragamtempatwisata.com.com, 2014). Adapun aliran airnya berasal dari sebuah sumber mata air di puncak pegunungan Mabul yang berhilir di Sungai Oya dan akhirnya bermuara di Pantai Parang Wedang. Bagi sebagian masyarakat, air dari pegunungan Mabul yang berdekatan dengan komplek makam raja-raja Mataram dan terjun bebas di Gedangan ini dipercaya memiliki khasiat tersendiri, yaitu dapat membuat seseorang yang menadi menjadi terlihat awet muda dan juga dapat mempererat hubungan antara suami-isteri. (gufron)

Foto: http://yogyakarta.panduanwisata.id/daerah-istimewa-yogyakarta/bantul/air-terjun-cengkehanseribu-batu/
Sumber:
"Objek Wisata Air Terjun Seribu Batu (Gedangan) Imogiri Bantul Yogyakarta". 2014. Diakses dari http://wizid.blogspot.co.uk/2014/03/objek-wisata-air-terjun-seribu-batu-gedangan-imogiri-bantul-yogyakarta.html, tanggal 1 Desember 2014.

"Air Terjun Gedangan", diakses dari http://jogjaholidays.com/article/130394/air-terjun-gedangan.html, tanggal 2 Desember 2014.

"Wisata Alam Air Terjun Gedangan - Bantul". 2014. Diakses dari http://www.ragamtempatwisata.com/2014/01/wisata-alam-air-terjun-gedangan-bantul.html, tanggal 2 Desember 2014.

Honda Ape 100 (2013)

Technical Specifications
2013 Honda Ape 100
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air cooled, single cylinder, four-stroke, OHC
53.0 x 45.0 mm (2.1 x 1.8 inches)
99.00 ccm (6.04 cubic inches)
2 valves per cylinder


6.60 Nm (0.7 kgf-m or 4.9 ft.lbs) @ 6000 rpm
Carburettor
5-speed
Chain
Wet, multiplate
DC-CDI (Capacitor Discharge Ignition)
Kick Starter




1st:
2nd:
3rd:
4th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

Diamond

1715 mm (67.5 inches)
770 mm (30.3 inches)
1155 mm (45.5 inches)
1190 mm (46.9 inches)
715 mm (28.1 inches)
140 mm (5.5 inches)
90 kg
5.50 litres (1.45 gallons)
Silver, grey
Telescopic Fork
Swing arm (Pro-link)
120/80-R12
120/80-R12
Expanding brake (drum brake)
Expanding brake (drum brake)

Image: http://www.ibike.com.hk/02_market/ahlam/web/04_exhaustsystem/yoshimura/2007/1_exhaust/honda/ape100/1.htm

Honda RS 125

Technical Specifications
Honda RS 125
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air cooled, single cylinder, four-stroke, OHC
52.4 mm x 57.9 mm
124.8 cc
2 valves per cylinder

6.9 (9.4) @ 7,500 rpm
10.4 @ 5,000 rpm
Carburetor
Constant Mesh, 4-Speed rotary type / N-1-2-3-4
Chain

DC-CDI (Capacitor Discharge Ignition)
Electric & Kick Starter




1st:
2nd:
3rd:
4th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)



1909mm
800mm
1068mm
1237 mm
776 mm
132 mm
96.3 kg
3.8 litres
Magnetite silver, sahara blue metallic, victory red
Telescopic Fork
Twin shocks
2.25 - R17 M/C 33L
2.50 - R17 M/C 38L
Hydraulic ventilated disk
Mechanical leading trailing

Image: http://www.hondaph.com/showcase/rs-125

Honda XRM125 DSX

Technical Specifications
Honda XRM125 DSX
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air cooled, single cylinder, four-stroke, OHC
52.4 mm x 57.9 mm
124.8 cc
2 valves per cylinder

6.9 (9.4) @ 7,500 rpm
10.4 @ 5,000 rpm
Carburetor
Constant Mesh, 4-Speed rotary type / N-1-2-3-4
Chain

DC-CDI (Capacitor Discharge Ignition)
Electric & Kick Starter




1st:
2nd:
3rd:
4th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)



1902mm
805mm
1072mm
1239 mm
776 mm
136 mm
99 kg
3.8 litres
Black
Telescopic Fork
Twin shocks
2.50 - R17 M/C 33L
2.50 - R17 M/C 38L
Hydraulic ventilated disk
Hydraulic ventilated disk

Image: http://www.hondaph.com/showcase/xrm125-dsx

Honda Wave Dash 110

Technical Specifications
Honda Wave Dash 110
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air cooled, single cylinder, four-stroke, OHC
50.0 mm x 55.6 mm
110.1 cc
2 valves per cylinder

6.22 (8.46) @ 7,500 rpm
8.59 @ 5,500 rpm
Carburetor
Constant Mesh, 4-Speed rotary type / N-1-2-3-4
Chain

DC-CDI (Capacitor Discharge Ignition)
Electric & Kick Starter




1st:
2nd:
3rd:
4th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)



1885mm
709mm
1071mm
1221 mm
669mm
147mm
94 kg
3.7 litres
Blue, red, silver
Telescopic Fork
Twin shocks
70/90 - R17 M/C 38P
80/90 - R17 M/C 50P
Hydraulic ventilated disk
Mechanical leading trailing

Image: http://www.hondaph.com/showcase/wave-dash-110

Honda NC750X (2014)

Technical Specifications
2014 Honda NC750X
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Liquid cooled, twin cylinders, four-stroke, SOHC
77.0 x 80.0 mm (3.0 x 3.1 inches)
745.00 ccm (45.46 cubic inches)
4 valves per cylinder
10.7:1
68.00 Nm (6.9 kgf-m or 50.2 ft.lbs) @ 4750 rpm

Injection. PGM-FI, 36mm throttle body
6-speed
Chain
Wet multiplate hydraulic clutch (DCT:Wet multiplate hydraulic 2-clutch)
Computer-controlled digital transistorised with electronic advance
Electric starter



12V-11.2AH battery
1st:
2nd:
3rd:
4th:
5th:
6th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

Diamond
27.0°
2210 mm (87.0 inches)
840 mm (33.1 inches)
1285 mm (50.6 inches)
1540 mm (60.6 inches)
830 mm (32.7 inches
165 mm (6.5 inches)
219 kg
14.10 litres (3.73 gallons)
Red, white, black
41mm telescopic fork
Monoshock damper, Pro-Link swingarm, 150mm travel
120/70-ZR17
160/60-ZR17
Single disc 320mm with two-piston calipers
Single disc 240mm with two-piston calipers

Image: http://www.pro-bike.ro/forums/topic/114433-honda-nc750x-abs-anul-fabricatiei-2014/

Honda XRM125 Dual Sport

Technical Specifications
Honda XRM125 Dual Sport
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air cooled, single cylinder, four-stroke, OHC
52.4 mm x 57.9 mm
124.8 cc
2 valves per cylinder

6.9 (9.4) @ 7,500 rpm
10.4 @ 5,000 rpm
Carburetor
Constant Mesh, 4-Speed rotary type / N-1-2-3-4
Chain

DC-CDI (Capacitor Discharge Ignition)
Electric & Kick Starter




1st:
2nd:
3rd:
4th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)



1902mm
805mm
1072mm
1239 mm
7756mm
136 mm
99 kg
3.8 litres
River side blue, black, fighting red
Telescopic Fork
Twin shocks
2.50 - 17 M/C 33L
2.50 - 17 M/C 38L
Hydraulic ventilated disk
Mechanical leading trailing

Image: http://www.hondaph.com/showcase/xrm125-dual-sport

Honda XRM125 Motard

Technical Specifications
Honda XRM125 Motard
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air cooled, single cylinder, four-stroke, OHC
52.4 mm x 57.9 mm
124.8 cc
2 valves per cylinder

6.9 (9.4) @ 7,500 rpm
10.4 @ 5,000 rpm
Carburetor
Constant Mesh, 4-Speed rotary type / N-1-2-3-4
Chain

DC-CDI (Capacitor Discharge Ignition)
Electric & Kick Starter




1st:
2nd:
3rd:
4th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)



1893mm
796mm
1028mm
1239 mm
775 mm
134 mm
101 kg
3.8 litres
Red, white, black
Telescopic Fork
Twin shocks
2.50 - 17 M/C 33L
2.50 - 17 M/C 38L
Hydraulic ventilated disk
Hydraulic ventilated disk

Image: http://www.hondaph.com/showcase/xrm125-motard

Honda Wave 125 Alpha

Technical Specifications
Honda Wave 125 Alpha
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air cooled, single cylinder, four-stroke, OHC
52.4 mm x 57.9 mm
124.8cc
2 valves per cylinder

68.00 Nm (6.9 kgf-m or 50.2 ft.lbs) @ 4750 rpm

Carburetor
Constant Mesh, 4-Speed rotary type / N-1-2-3-4
Chain

DC-CDI
Electric & Kick Starter



12V-11.2AH battery
1st:
2nd:
3rd:
4th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)



1889 mm
725 mm
1113 mm
1253 mm
778 mm
157 mm
100 kg
3.7 litres
Red, white, black
Telescopic Fork
Twin shocks
2.50 - R17 38L
2.75 - R17 47P
Single hydraulic disc
Mechanical leading trailing

Image: https://ph.news.yahoo.com/leader-pack-hpi-launches-wave-084106674.html

Honda TMX Supremo

Technical Specifications
Honda TMX Supremo
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air cooled, single cylinder, four-stroke, OHC
57.3mm x 57.8mm
149.2 cc
2 valves per cylinder

7.85 (10.7)(10.5hp) @ 7,000 rpm
11.58 (1.18kgfm) @ 5,000rpm
Carburetor
Constant Mesh 5-Speed, manual / 1-2-3-4-5
Chain

DC-CDI
Electric & Kick Starter



12V-11.2AH battery
1st:
2nd:
3rd:
4th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)



2037 mm
778 mm
1068 mm
1306 mm
771 mm
163 mm
120 kg
14.3 litres
Candy ruby red, black, blue metallic
Telescopic Fork
Twin shocks
80/100 - 18M/C 47P
90/90 - 18M/C 51P
Mechanical leading trailing
Mechanical leading trailing

Image: http://www.hondaph.com/showcase/tmx-supremo

Honda Wave 100R (2014)

Technical Specifications
2014 Honda Wave 100R
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air cooled, singlecylinders, four-stroke, OHC
50.0 x 49.5 mm (2.0 x 1.9 inches)
97.10 ccm (5.93 cubic inches)
2 valves per cylinder

7.34 Nm (0.7 kgf-m or 5.4 ft.lbs) @ 5500 rpm

Carburettor
4-speed
Chain

AC-CDI (Capacitor Discharge Ignition)
Electric & kick starter




1st:
2nd:
3rd:
4th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

Steel
27.0°
1898 mm (74.7 inches)
705 mm (27.8 inches)
1057 mm (41.6 inches)
1234 mm (48.6 inches)
751 mm (29.6 inches)
133 mm (5.2 inches)
91.5 kg (201.7 pounds)
3.70 litres (0.98 gallons)
Blue, red, white, silver
Telescopic fork
Twin shocks
2.25 - 17 M/C 33L
2.50 - 17 M/C 38L
Single disc. Hydraulic, ventilated
Expanding brake (drum brake)

Image: http://www.hondaph.com/showcase/wave-100r

Honda NC750S (2014)

Technical Specifications
2014 Honda NC750S
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Liquid cooled, twin cylinders, four-stroke, SOHC
77.0 x 80.0 mm (3.0 x 3.1 inches)
745.00 ccm (45.46 cubic inches)
4 valves per cylinder
10.7:1
68.00 Nm (6.9 kgf-m or 50.2 ft.lbs) @ 4750 rpm

Injection. PGM-FI, 36mm throttle body
6-speed
Chain
Hydraulic wet multi-plate clutch/clutches (DCT)
Computer-controlled digital transistorised with electronic advance
Electric starter



12V-11.2AH battery
1st:
2nd:
3rd:
4th:
5th:
6th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

Diamond
27.0°
2195 mm (86.4 inches)
780 mm (30.7 inches)
1130 mm (44.5 inches)
1525 mm (60.0 inches)
790 mm (31.1 inches)
140 mm (5.5 inches)
216 kg
14.00 litres (3.70 gallons)
Red, white, black
41mm telescopic fork
Monoshock damper, Pro-Link swingarm
120/70-ZR17
160/60-ZR17
Single disc 320mm with two-piston calipers
Single disc 240mm with two-piston calipers

Image: http://tuningpp.com/shad-nc750s-2-jpg/

Honda NC750D Integra (2014)

Technical Specifications
2014 Honda NC750D Integra
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Liquid Cooled, in-line twin cylinders, four-stroke, SOHC
77.0 x 80.0 mm (3.0 x 3.1 inches)
745.00 ccm (45.46 cubic inches)
4 valves per cylinder
10.7:1

68.00 Nm (6.9 kgf-m or 50.2 ft.lbs) @ 4750 rpm
Injection. PGM-FI electronic fuel injection

Chain
Hydraulic wet multi-plate clutch
Computer-controlled digital transistorised with electronic advance
Electric starter
Forced pressure and wet sump


12V-6AH
1st:
2nd:
3rd:
4th:
5th:
6th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

Diamond steel

2195 mm (86.4 inches)
810 mm (31.9 inches)
1440 mm (56.7 inches)
1525 mm (60.0 inches)
790 mm (31.1 inches)
135 mm (5.3 inches)
219.8 kg
14.10 litres
White/black/red/blue
41mm telescopic fork
Monoshock damper, Pro-Link swingarm
120/70-ZR17
160/60-ZR17
Single hydraulic disc 320mm with two-piston caliper
Single hydraulic disc 240mm with single-piston caliper

Image: http://www.honda-geneve.com/catalog/NC750D_Integra.php

Curug Cikaso

Provinsi Jawa Barat memiliki banyak obyek wisata yang dapat dijadikan sebagai "ladang" pendapatan daerahnya. Salah satu dari sekian banyak obyek wisata tersebut adalah Curug Cikaso. Curug Cikaso adalah sebuah obyek wisata alam berupa air terjun (curug) yang terletak di Kampung Ciniti, Desa Cibitung, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Obyek wisata ini sebenarnya bernama Curug Luhur, namun karena aliran airnya berasal dari anak Sungai Cikaso, maka kebanyakan orang menyebutnya Curug Cikaso (disparbud.jabarprov.go.id).

Untuk mencapai obyek wisata Curug Cikaso yang mempunyai titik koordinat 7° 21' 40.13" S 106° 37' 3.88" E dapat ditempuh melalui beberapa rute (menggunakan kendaraan pribadi atau umum) karena hanya berjarak sekitar 8 kilometer dari Surade, 15 kilometer dari Jampang Kulon, 30 kilometer dari Ujunggenteng, 70 kilometer dari Pelabuhanratu, dan 110 kilometer dari Kota Sukabumi. Rute pertama, menurut id.wikipedia.org, dapat ditempuh dari Kota Sukabumi ke selatan menuju arah Pantai Ujung Genteng selama kurang lebih empat jam perjalanan. Bila telah sampai di pertigaan Cinagean, Jampang Kulon, dapat menuju arah Cikaso sejauh lima kilometer. Namun bila sampainya di pertigaan Cibarehong arah SMAN 1 Surade, maka perjalanan menuju curug hanya tinggal sejauh tiga kilometer lagi.

Sedangkan rute lainnya, menurut utiket.com, dari Surade yang hanya berjarak sekitar delapan kilometer menuju pertigaan Jalan Cikaso menggunakan angkutan umum trayek Surade - Cikaso dengan tarif tarif Rp.6.000,00 per orang (sebelum BBM naik). Setelah tiba di pertigaan Jalan Cikaso perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh beberapa kilometer melewati lahan persawahan dan perladangan milik penduduk. Namun apabila malas berjalan kaki terlalu jauh, dapat pula menggunakan jasa sampan yang banyak "ngetem" di sekitar jembatan Cikaso dekat pertigaan. Ongkosnya antara Rp.70.000,00-Rp.80.000,00 per sampan berisi 10-12 orang penumpang. Kemudian, baru dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 100 meter menuju lokasi Curug Cikaso.

Kondisi Curug Cikaso dan Fasilitas yang Tersedia
Curug Cikaso merupakan bentukan dari tiga curug (air terjun) berketinggian sekitar 80 meter, yaitu: Curug Asepan di bagian kiri, Curug Meong di bagian tengah, dan Curug Aki yang letaknya agak tersembunyi di bagian kanan (timur). Ketiganya bertemu dan membentuk sebuah kolam besar dengan warna airnya yang hijau kebiru-biruan. Di kolam ini pengunjung dapat mandi, berenang, atau hanya sekadar bermain air sambil bercengkerama bersama keluarga. Namun, bila tidak ingin berenang atau bermain air, pengunjung masih dapat menikmati pemandangan alam yang sangat indah di sekitar curug, terutama pada pagi hari, saat limpahan air terjun membentuk butiran-butiran halus akibat terkena bias terpaan sinar matahari yang baru terbit.

Dan, apabila merasa lapar karena telah puas bermain, di sekitar curug terdapat warung-warung sederhana yang menjual berbagai macam makanan dan minuman. Selain warung, pihak pengelola obyek wisata Curug Cikaso juga menyediakan kios-kios penjual cinderamata, jasa penyewaan pelampung, dan dua buah MCK sebagai tempat membilas tubuh atau buang hajat. Sebagai catatan, untuk dapat menikmati keindahan Curug Cikaso, pengunjung hanya dikenakan biaya sebesar Rp.2.000,00 untuk tiket masuknya. (gufron)

Foto: http://www.anjieya.com/2012/06/beauty-of-cikaso-waterfall-sukabumi.html
Sumber:
"Curug Cikaso", diakses dari http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=278&lang=, tanggal 25 November 2014.

"Air Terjun Cikaso - Sukabumi", diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Air_terjun_Cikaso_-_Sukabumi, tanggal 25 November 2014.

"Curug Cikaso Bandung, Indonesia", diakses dari http://www.utiket.com/id/obyek-wisata/bandung/306-curug_cikaso.html, tanggal 26 November 2014.

Popular Posts

-