Arsitektur Tradisional Masyarakat Sasak

Sasak1 adalah salah satu suku bangsa yang ada di Pulau Lombok2, yang secara administratif termasuk dalam wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat (id.wikipedia.org). Masyarakatnya mengembangkan desain rumah yang diwariskan dari nenek moyang mereka. Rumah bagi masyarakat Sasak, tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung dari dinginnya udara malam, teriknya sinar matahari, dan derasnya air hujan, tetapi juga memiliki fungsi lain yang sangat erat kaitannya dengan kondisi sosial-budaya mereka. Oleh karena itu, selaras dengan fungsinya, mereka mengenal dan mengembangkan berbagai jenis rumah. Tulisan ini mencoba mengetengahkan arsitektur tradisional yang ditumbuh-kembangkan oleh mereka, khususnya yang berdiam di di Pulau Lombok.

Jenis-jenis Rumah Tradisional Orang Sasak di Lombok
Jenis-jenis rumah tradisional orang Sasak yang ada di Pulau Lombok, di antaranya adalah: rumah tempat tinggal, bangunan tempat menyimpan, dan rumah ibadah. Berikut ini akan diuraikan ketiga jenis rumah tradisional tersebut.

a. Rumah Tempat Tinggal
Rumah tradisional orang Sasak pada umumnya berbentuk rumah panggung (bale-bale) atau menggunakan bataran3 rumah yang tinggi dengan atap dan bubungan yang terbuat dari alang-alang (jerami). Bentuk atapnya menyerupai bentuk rumah limasan, namun ditambah emper sebagai atap serambi. Sedangkan, dinding rumah terbuat dari anyaman bambu (gedek) dan tanpa jendela.

Bagian depan rumah (serambi/sesangkok) dibuat terbuka atau tanpa dinding dan dibagi menjadi dua bagian, yaitu bataran lantar (panjang) dan bataran kontek (pendek). Bagian serambi rumah ini kadang juga digunakan untuk menerima tamu. Sebagai catatan, sebagian rumah tradisional masyarakat Sasak juga memiliki ruang tamu khusus yang letaknya di depan serambi rumah. Ruang tamu khusus ini dapat dibagi menjadi tiga bentuk, yaitu: (1) sekepat (ruang tamu yang bertiang empat dan beratap piramid). Di ruangan ini dipasang lasah atau tempat duduk yang terbuat dari bambu yang tingginga sekitar 75 cm; (2) beruga atau sekenam (ruang tamu yang bertiang enam buah dan atapnya berbentuk limasan); dan (3) bale jajar yang bentuknya menyerupai beruga namun dibawahnya memiliki bataran tanah.

Pada bagian dalam rumah terdapat ruang tidur yang dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu: dalem bale (ruang tidur biasa) dan kudok bale yang dibagi lagi menjadi amben pengalu (kamar pengantin atau sering juga dipakai sebagai kamar gadis) dan amben pengak (tempat melahirkan). Di ruang tidur ini terkadang juga terdapat para-para (sempara) yang digunakan sebagai tempat menyimpan barang-barang.

b. Rumah Tempat Penyimpanan
Di daerah Lombok, rumah tempat menyimpan tidak hanya dipergunakan sebagai lumbung padi saja, tetapi juga dapat dipakai sebagai tempat untuk menerima tamu. Rumah tempat penyimpanan ini dapat berada di muka atau belakang rumah tinggal dan dapat pula berada pada tempat khusus di luar kampung, bersama dengan lumbung-lumbung padi milik warga kampung lainnya.

Bentuk rumah tempat penyimpanan padi di daerah Lombok dapat dibagi menjadi tiga tipe, yaitu: (1) lumbung padi yang atapnya terbuat dari alang-alang yang dibuat sedemikian rupa hingga melengkung ke atas dan tiangnya berbentuk silinder dengan ujung yang dibuat mirip seperti cakram yang berfungsi sebagai penghalang tikus. Lumbung padi seperti ini banyak terdapat di Lombok bagian selatan; (2) lumbung padi yang atapnya terbuat dari alang-alang atau daun kelapa yang dibuat sedemikian rupa sehingga membentuk seperti rumah kodong, sementara tiangnya sama seperti tiang lumbung tipe pertama namun bagian tengahnya agak besar. Lumbung padi seperti ini banyak terdapat di daerah Lombok bagian timur dan biasa disebut sambi atau pantek; dan (3) dan lumbung padi yang atapnya terbuat dari alang-alang atau daun kepala dan tiangnya berbentuk silinder yang panjangnya hanya sekitar 1 meter. Lumbung padi seperti ini banyak terdapat di bagian utara Pulau Lombok dan biasa disebut sambi.

d. Rumah Ibadah
Jenis rumah ibadah orang Sasak di Pulau Lombok adalah masjid dan santren (langgar) (Hilman, 2008). Bangunan masjid tradisional, terutama yang berada di wilayah Lombok utara dan selatan, sebagian masih mendapat pengaruh dari Hindu (Meru) yang memiliki ciri-ciri: (1) atap bertopang tua atau tiga; (2) pintu masjid hanya satu yang terdapat di bagian depan; dan (3) berdinding gedek (anyaman bambu) dan tanpa jendela. Sedangkan, tiang penyangga masjid atau sake guru berada di tengah-tengah bangunan, sebanyak satu hingga empat buah. (ali gufron)

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1992. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara III. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

"Suku Sasak", diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Sasak, tanggal 25 November 2014.

Hilman, Agus, "Kearifan Religi Masyarakat Lombok", diakses dari https://agushilman.wordpress.com/2008/03/17/kearifan-religi-masyarakat-lombok/, tanggal 25 November 2014.
____________________________________________________________
1. Menurut para arkeolog, sukubangsa Sasak ini telah ada di Pulau Lombok pada masa akhir zaman perunggu. Dahulu mereka hanyalah sebuah kelompok kecil yang kebudayaannya mirip dengan penduduk yang ada di wilayah Vietnam Selatan, Philipina Tengah (Pulau Pallawan), Bali (wilayah Gilimanuk), dan Sumba (wilayah Malolo). Waktu itu, kelompok tersebut hidup dan bermukim di daerah yang sekarang bernama Gunung Piring, Desa Trowai, Kecamatan Lombok Tengah.
2. Sampai akhir abad ke-19, Lombok lebih dikenal dengan nama Selaparang, menurut nama sebuah kerajaan yang terletak di Lombok Timur. Kerajaan ini semula bernama Watu Parang, kemudian berubah menjadi Selaparang yang berasal dari kata “sela” yang berarti “batu” dan “parang” yang berarti “parang”.
3. Bataran adalah alas rumah yang terbuat dari batu yang kemudian ditutup dengan tanah. Kemudian permukaannya diratakan dengan campuran tanah, sekam sebagai plester, dan setelah itu dilumuri dengan kotoran sapi atau kerbau (Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan, 1992).

Bir Pletok

Bila mendengar kata "bir" tentu bayangan kita akan tertuju pada sebuah minuman beralkohol rendah yang apabila dikonsumsi berlebihan dapat memabukkan. Namun beda dengan bir yang satu ini, yaitu bir pletok. Bir pletok adalah minuman khas orang Betawi yang bebas alkohol serta dipercaya dapat menyehatkan tubuh karena berbahan rempah-rempah.

Menurut foblog.psikomedia.com, asal usul kata "bir" dalam "bir pletok" memiliki beberapa versi. Versi pertama menyatakan bahwa kata "bir" memang merupakan adopsi dari "beer" yang biasa diminum oleh orang-orang Belanda. Keduanya sama-sama membuat perut dan tubuh menjadi hangat, tetapi "beer" dapat membuat orang menjadi mabuk sedangkan "bir" malah menyehatkan. Versi lainnya lagi menyatakan bahwa "bir" berasal dari kata "birun" yang merupakan sebuah sumber mata air di daerah Betawi.

Sementara untuk asal usul kata "pletok" - sama seperti "bir" - foblog.psikomedia.com juga menyebutkan memiliki beberapa versi. Pertama, berasal dari bunyi yang dikeluarkan oleh wadah bambu ketika bir dibuka untuk diminum. Kedua, berasal dari bunyi kocokan bir dan es batu di dalam teko berbahan aluminium. Dan terakhir, masih berupa onomatope (peniruan bunyi), "pletok" berasal dari bunyi buah secang tua yang dipukul untuk dijadikan sebagai bahan pembuat bir.

Namun, lepas dari berbagai versi mengenai asal usul nama bir pletok tersebut, yang jelas minuman ini sampai sekarang masih diminati banyak orang. Peminat umumnya menkonsumsi bir pletok sebagai penghangat tubuh sekaligus memperlancar aliran darah. Menurut id.wikipedia.org, pada salah satu bahan pembuat bir pletok yaitu jahe, memiliki berbagai macam khasiat bagi tubuh, diantaranya: (1) meredakan nyeri lambung dan memulihkan radang sendi; (2) merangsang keluarnya gas dari perut penyebab masuk angin; (3) mengurangi rasa mual, batuk, dan gejalla flu ringan; (4) kandungan enzim protease dan lipasenya dapat memecah protein dan lemak; (5) melindungi sistem pencernaan dengan menurunkan keasaman lambung, menghambat terjadinya iritasi pada saluran pencernaan, dan menghambat produksi prostaglandin yang dapat memicu peradangan; (6) merangsang pelepasan hormon adrenalin yang dapat memperlebar pembuluh darah sehingga tumuh menjadi hangat, darah mengalir lebih lancar dan tekanan darah menurun; (7) mengobati kanker indung telur; (8) memperlambat pertumbuhan sel-sel kanker kolorektal; (9) meredakan migraine dengan cara menghentikan kerja prostaglandin; (10) meredakan kram akibat menstruasi; dan (11) mengandung senyawa cineole dan arginine yang mampu mengatasi ejakulasi dini, merangsang ereksi, mencegah kemandulan serta memperkuat daya tahan sperma.

Bahan dan Proses Pembuatan Bir Pletok
Saat ini pembuatan bir pletok bukan hanya dilakukan oleh perseorangan, melainkan juga oleh home industri. Keduanya menggunakan bahan-bahan yang relatif sama hanya jumlah takarannya saja yang berbeda. Jumlah takaran buatan perseorangan umumnya lebih sedikit bila dibandingkan dengan produksi masal dalam home industri yang memang ditujukan untuk dijual dan dikonsumsi orang ramai.

Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat bir pletok tersebut diantaranya adalah: jahe, air, gula pasir atau gula batu, kayu secang, batang serai, daun pandan, kayu manis, merica hitam, dan sari bunga selasih (femina.co.id). Sementara wikibooks.org menambahkan dua bahan lagi sebagai pelengkap bir pletok, yaitu garam dan kopi bubuk.

Sedangkan proses pembuatannya adalah sebagai berikut. Pertama, air direbus hingga mendidih. Selama menunggu air mendidih, jahe dibakar hingga harum lalu dimemarkan. Bila telah mendidih, jahe yang telah pipih/memar dimasukkan ke dalam air dan ditambah dengan gula pasir atau gula batu, garam, kayu manis, serai, serta kopi bubuk. Setelah bahan tercampur merata, masukkan lagi sejumlah serutan tipis kayu secang sebagai bahan pewarna alaminya. Dan, bila air telah berwarna merah, saring dan diamkan hingga hangat atau dingin sebelum siap diminum.

Sebagai catatan, oleh karena tingkat keragaman pembuatan bir pletok yang cukup tinggi di wilayah DKI Jakarta, maka atas arahan Dinas/Pemda DKI Jakarta disusunlah suatu standarisasi pembuatan bir pletok sebagai acuan jaminan kualitas bagi produsen berbasis home industri (jakarta.litbang.pertanian.go.id). Adapun Standar Prosedur Operasional mengenai komposisi bahan rempah-rempah untuk membuat 50 botol bir pletok ukuran 250 ml adalah: 1 kilo jahe, 2-3 buah pala, 10-15 butir lada hitam, 2 batang (3x10 cm) kayu mosohi, 15-20 butir kapulaga, 5-10 buah cabe jawa, 10 buah cengkeh, 5-10 gram kayu manis, 10 batang sereh, 10 lembar daun pandan, 05 ons kayu secang, 10-12 liter air, 1-2 kg gula pasir, dan 1 sendok makan garam.

Sementara untuk proses pembuatan bir pletok menurut standar prosedur operasional diawali dengan pencucian dan pembersihan bahan rempah-rempah dari kotoran, pengecilan ukuran rempah, penimbangan bahan rempah sesuai dengan takaran (formula), ekstraksi dengan perebusan bersuhu antara 95-100 derajat celcius selama 30 menit, ekstraksi kayu secang dalam rebusan selama 3-5 menit agar warna air menjadi merah, penyaringan air rebusan menggunakan kain saring ukuran 10 mesh, penambahan gula pasir ke dalam air rebusan yang tlah disaring, perebusan kembali selama 3-5 menit lalu saring lagi menggunakan saringan berukuran 150 mesh, pendinginan, dan pembotolan atau langsung disajikan sebagai minuman. (gufron)

Foto: Uun Halimah
Sumber:
"Standarisasi Mutu Bir Pletok", diakses dari http://jakarta.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=29:standarisasi-mutu-bir-pletok&catid=43:bir-pletok&Itemid=43, tanggal 19 November 2014.

"Sejarah dan Resep Bir Pletok Khas Betawi", diakses dari http://foblog.psikomedia.com/read/Lounge/16673/sejarah-dan-resep-bir-pletok-khas-betawi/, tanggal 19 November 2014.

"Bir Pletok", diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Bir_pletok, tanggal 20 November 2014

"Bir Pletok", diakses dari http://www.femina.co.id/kuliner/resep/minuman/bir.pletok/004/001/532/06, tanggal 20 November 2014.

"Resep: Bir Pletok", diakses dari http://id.wikibooks.org/wiki/Resep:Bir_pletok, tanggal 20 November 2014.

Legenda Batu Kuwung

(Cerita Rakyat Daerah Banten)

Alkisah, pada zaman dahulu kala ada seorang saudagar kaya raya. Konon, dia memiliki hubungan sangat erat dalam struktur pemerintahan Sultan Haji, anak dari Sultan Ageng Tirtayasa. Berkat keeratan hubungan tersebut membuat Sang Saudagar berhasil mendapatkan hak khusus berupa monopoli dalam perdagangan beras dan lada dari daerah Lampung.

Kekayaan Sang Saudagar dari hasil monopoli beras dan lada digunakan untuk memperluas usahanya dengan cara membeli tanah pertanian milik warga dengan harga yang sangat rendah. Adapun caranya adalah dengan memberi pinjaman uang kepada para petani dengan bunga yang relatif tinggi. Apabila setelah jatuh tempo tidak dapat melunasi pinjaman, maka Sang Saudagar memaksa untuk membeli tanah milik petani yang berhutang dengah harga yang sangat rendah. Biasanya, karena terdesak sekaligus takut pada para "debt collector" merangkap tukang pukul upahan Sang Saudagar, para petani terpaksa menyerahkan tanahnya walau harus merugi.

Agar lebih berkuasa di daerahnya sendiri, Sang Saudagar berhasil menjadi kepala desa di tempat tinggalnya. Sewaktu bursa pencalonan kepala desa dilakukan, Sang Saudagar berbuat kecurangan dengan menerjunkan para tukang pukulnya untuk mengintimidasi warga masyarakat sehingga tidak ada seorang pun yang berani mencalonkan diri sebagai kepala desa. Walhasil, ketika proses pemilihan berlangsung, hanya Sang Saudagarlah yang muncul menjadi calon tunggal penguasa desa.

Selama menjabat sebagai kelapa desa Sang Saudagar memanfaatkan kekuasaannya untuk memungut pajak secara berlebihan. Hasil pajak hanya sebagian kecil saja diserahkan pada Sultan Haji, selebihnya dia gunakan untuk menumpuk kekayaan dengan membeli hampir seluruh tanah pertanian milik warga desanya. Apabila ada yang membangkang dengan tidak mau menjual tanah, maka orang itu akan diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh para tukang pukul Sang Saudagar.

Selain memiliki sifat licik, tamak, dan sewenang-wenang, Sang Saudagar juga dikenal sebagai seorang yang sangat kikir. Ia tidak mau mengeluarkan sepeser pun uang guna membantu warga desa, walau untuk keperluan desanya. Bahkan, saking pelitnya Sang Saudagar yang umurnya sudah kepala empat tidak juga mau menikah serta memiliki anak karena dianggap hanya sebagai suatu pemborosan saja.

Cerita mengenai perangai buruk Sang Saudagar rupanya telah tersebar hingga ke mana-mana. Tetapi orang-orang yang mendengarnya hanya dapat mengelus dada karena tidak ada yang berani melawannya hingga suatu hari ada seorang pengelana sakti mandraguna datang ke desa. Sang Pengelana sakti yang mendengar obrolan warga masyarakat tentang perangai Sang Saudagar, secara spontan berniat membeli pelajaran sekaligus menyadarkannya.

Adapun cara yang dilakukannya adalah dengan menyamar menjadi seorang pengemis. Setelah berpakaian layaknya seorang pengemis, dengan langkah dibuat layaknya orang pincang Sang Pengelana sakti mendatangi kediaman Sang Saudagar. Di sana dia meminta belas kasihan Sang Saudagar agar memberinya sedikit uang untuk membeli makanan pengganjal perut dan sebagai modal usaha kecil-kecilan.

"Hei pengemis pincang, memangnya aku ini bapakmu! Apa kau kira hartaku turun dari langit? Pergi sana dan jangan ganggu lagi!" hardik Sang Saudagar seraya mendorong tubuh Sang pengemis hingga jatuh tersungkur di tanah.

"Ternyata memang benar kata orang, engkau ini seorang yang tamak dan kikir. Mulai sekarang engkau harus merasakan lapar dan penderitaan seorang pengemis!" kata Si "pengemis pincang" sambil berlalu pergi.

Sang Saudagar yang telah sering menemui peminta-minta di rumahnya menganggap ancaman Si pengemis pincang hanyalah sebagai luapan kekesalan karena tidak diberi uang. Oleh karena itu, dia segera masuk kembali ke dalam rumah dan seakan telah melupakan pertemuannya dengan Si Pengemis Pincang. Dia tetap melakukan aktivitas sebagaimana biasanya, yaitu menghitung pundi-pundi uang dari hasil upeti serta monopoli perdagangan beras dan lada hingga larut malam.

Tetapi keesokan harinya, ketika bangun dari tidur secara tiba-tiba Sang Saudagar tidak dapat menggerakkan kedua kakinya. Dia pun panik dan berteriak-teriak histeris memanggil pengawal pribadinya. Beberapa pengawal yang datang ke kamar tidurnya segera memberika pertolongan berupa pijatan pada bagian paha dan kaki, namun tidak juga ada perubahan. Sang Saudagar telah menderita kelumpuhan tanpa sebab yang jelas.

Agar penyakitnya sembuh, Sang Saudagar memerintahkan pengawalnya mencari tabib-tabib sakti yang biasa mengobati kelumpuhan. Namun, segala usaha yang dilakukan oleh para tabib hanyalah sia-sia belaka karena kelumpuhan Sang Saudagar seakan telah permanen dan tidak dapat disembuhkan lagi. Sang Saudagar akhirnya putus asa dan memerintahkan pengawal pribadinya membuat sayembara. Isi sayembara adalah: "Barang siapa yang dapat menyembuhkan kelumpuhan Sang Saudagar, maka dia akan mendapat setengah dari harta kekayaannya."

Mendengar sayembara tersebut, Sang Pengemis Pincang yang belum meninggalkan desa mendatangi lagi kediaman Sang Saudagar. Sesampainya di hadapan Sang Saudagar dia berkata,"Kelumpuhan yang kau alami adalah akibat dari sifat kikir dan sombongmu. Apabila ingin sembuh seperti sediakala ada tiga hal yang harus dilaksanakan. Apakah engkau bersedia melakukannya?"

"Aku akan melakukan apapun agar dapat berjalan lagi," jawab Sang Saudagar putus asa.

"Baiklah. Hal pertama yang harus kau lakukan adalah menghilangkan sifat sombong, kikir, dan semena-menamu. Selanjutnya, carilah sebuah batu kuwung (batu cekung) di daerah Gunung Karang. Bila telah ketemu, bertapalah selama tujuh hari tujuh malam tanpa makan dan minum. Apa pun yang terjadi, jangan sampai engkau membatalkan tapamu itu. Dan terakhir, bila lumpuhmu sembuh, kau harus menepati janjimu untuk memberikan setengah dari kekayaanmu kepada orang-orang miskin di sekitarmu," kata Sang Pengemis Pincang.

Setelah berkata demikian, dalam sekejap mata Sang Pengemis Pincang tiba-tiba raib dari pandangan. Hal ini membuat Sang Saudagar kaget bukan kepalang. Dia akhirnya sadar kalau sang pengemis sejatinya adalah seorang sakti yang hendak menyadarkannya. Oleh karena itu, dia lalu memerintahkan para pengawalnya membuat sebuah tandu untuk menggotongnya ke Gunung Karang.

Setelah tandu selesai dibuat, keesokan harinya Sang Saudagar bersama dua orang pengawalnya mulai melakukan perjalan menuju Gunung Karang. Namun, karena jalur yang ditempuh masih berupa jalan setapak berliku yang dikelilingi oleh semak beluar dan pepohonan rindang, maka setelah berhari-hari kemudian barulah mereka sampai di sebuah batuan kuwung (cekung) dekat dengan kaki Gunung Karang.

Ketika beberapa puluh langkah lagi mencapai batu kuwung, tiba-tiba kedua pengawal jatuh pingsan karena kelehanan setelah menempuh perjalanan selama berhari-hari tanpa istirahat. Oleh karena itu, Sang Saudagar terpaksa bersusah payah menyerat tubuhnya dengan hanya menggunakan tangan hingga mencapai batu kuwung. Di tempat itu dia langsung bersemedi selama tujuh hari tujuh malam dan berhasil melalui berbagai macam rintangan dan godaan, seperti dikelilingi oleh binatang buas dan makhluk-makhluk halus penunggu gunung.

Pada akhir pertapaannya, terjadilah suatu keajaiban berupa semburan mata air panas di pusat batu kuwung. Saat Sang Saudagar mengambil air tersebut untuk minum dan membasuh diri karena selama beberapa hari tidak menyentuh air, tiba-tiba terjadi suatu keajaiban lagi. Air yang dipakainya untuk membasih kedua kaki ternyata dapat menyembuhkan kelumpuhannya. Sang Saudagar akhirnya dapat berjalan kembali.

Singkat cerita, dia pun kembali ke rumahnya. Sesampainya di rumah, sesuai dengan janjinya, Sang Saudagar membagikan separuh dari harta kekayaannya kepada orang-orang miskin di sekitar tempat tinggalnya. Selain itu, apabila ada orang yang datang ke rumahnya, akan selalu diberi uang atau makanan sehingga akhirnya dia dikenal sebagai saudagar yang dermawan.

Apabila ada orang yang bertanya mengapa dirinya berubah drastis dari kikir jadi dermawan, maka dijawab bahwa itu adalah berkat penyesalannya selama ini serta khasiat dari air batu kuwung yang menyembuhkan kelumpuhannya. Lama-kelamaan tersebarlah cerita mengenai air di batu kuwung. Akibatnya, banyak orang yang tertarik mendatanginya dengan tujuan agar dapat sembuh dari berbagai macam penyakit, seperti yang diderita oleh Sang Saudagar.

Sekarang Batu Kuwung telah menjadi sebuah obyek wisata air panas yang berlokasi di wilayah Kecamatan Padarincang, Serang, Banten. Obyek wisata yang belum secara profesional dikelola oleh pemerintah ini masih dipercaya oleh masyarakat sekitar dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Diceritakan kembali oleh Gufron

Honda NC700X (2014)

Technical Specifications
2014 Honda NC700X
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Liquid cooled, twin cylinders, four-stroke, SOHC
73.0 x 80.0 mm (2.9 x 3.1 inches)
670.00 ccm (40.88 cubic inches)
4 valves per cylinder
10.7:1


Injection. PGM-FI, 36mm throttle body
6-speed
Chain

Digital transistorized with electronic advance
Electric starter




1st:
2nd:
3rd:
4th:
5th:
6th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)


27.0°



1539 mm (60.6 inches)
831 mm (32.7 inches)

214.1 kg
14.00 litres (3.70 gallons)
Black, red
41mm telescopic fork, 5.4 inches travel
Pro-Link single shock; 5.9 inches travel
120/70-ZR17
160/60-ZR17
Single disc 320mm with two-piston caliper
Single disc 240mm with single-piston caliper

Image: https://motorsportsnewswire.wordpress.com/tag/nc700x/

Honda Gold Wing F6B (2014)

Technical Specifications
2014 Honda Gold Wing F6B
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Liquid cooled, six cylinder boxer, four-stroke, SOHC
74.0 x 71.0 mm (2.9 x 2.8 inches)
1832.00 ccm (111.79 cubic inches)
2 valves per cylinder
9.8:1


Injection. PGM-FI
5-speed
Shaft drive (cardan)
Wet multiplate
Computer-controlled digital with 3-D mapping
Electric starter




1st:
2nd:
3rd:
4th:
5th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)

Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)


29.2°



1689 mm (66.5 inches)
739 mm (29.1 inches)

381.9 kg
25.36 litres (6.70 gallons)
Black, pearl yellow
45mm cartridge fork with anti-dive system
Pro arm single-side swingarm with Pro-Link single shock with remote-
controlled spring preload adjustment, 4.1 inches travel
130/70-R18
180/60-R16
Double floatingc disc 296mm with two-piston caliper
Single floating disc 316mm with single-piston caliper

Image: https://motorsportsnewswire.wordpress.com/tag/gold-wing-f6b/

Honda Dream Yuga (2014)

Technical Specifications
2014 Honda Dream Yuga
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air cooled, single cylinders, four-stroke, OHC
50.0 x 55.6 mm (2.0 x 2.2 inches)
109.00 ccm (6.65 cubic inches)
2 valves per cylinder
9.0:1

8.91 Nm (0.9 kgf-m or 6.6 ft.lbs) @ 5500 rpm
Carburettor
4-speed
Chain
Wet multiplate

Electric & kick starter
Forced pressure and wet sump


12V-6AH
1st:
2nd:
3rd:
4th:
5th:
6th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

Diamond
25.0°
2022 mm (79.6 inches)
733 mm (28.9 inches)
1095 mm (43.1 inches)
1285 mm (50.6 inches)
785 mm (30.9 inches)
161 mm (6.3 inches)
108 kg
8.00 litres (2.11 gallons)
Black, brown, silver, gray, red, black
Telescopic Forks
Tube Type Both Slide Operation
80/100-R18
80/100-R18
Expanding brake (drum brake) 130mm
Expanding brake (drum brake) 130mm

Image: http://www.indiancarsbikes.in/motorcycles/2013-dream-yuga-launched-with-het-honda-eco-technology-at-rs-45101-ex-showroom-delhi-71488/

Honda Dream Neo (2014)

Technical Specifications
2014 Honda Dream Neo
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air cooled, single cylinders, four-stroke, OHC
50.0 x 55.6 mm (2.0 x 2.2 inches)
109.00 ccm (6.65 cubic inches)
2 valves per cylinder
9.9:1

8.63 Nm (0.9 kgf-m or 6.4 ft.lbs) @ 5500 rpm
Carburettor
4-speed
Chain
Wet multiplate

Electric starter



12V 3 Ah (MF) battery
1st:
2nd:
3rd:
4th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

Diamond
25.0°
2009 mm (79.1 inches)
737 mm (29.0 inches)
1074 mm (42.3 inches)
1285 mm (50.6 inches)
785 mm (30.9 inches)
145 mm (5.7 inches)
105 kg
8.00 litres (2.11 gallons)
Blue/black, white/red
Telescopic fork
5 step spring loaded suspension
80/100-R18
90/100-R18
Expanding brake (drum brake)
Expanding brake (drum brake)

Image: http://www.indiancarsbikes.in/motorcycles/honda-dream-neo-110cc-commuter-bike-paint-scheme-98375/

Lastik

Lastik adalah sebutan orang Melayu di Malaysia bagi sejenis alat untuk berburu burung dan sekaligus juga berfungsi sebagai alat mempertahankan diri. Oleh anak-anak atau kaum remaja, lastik yang dalam Bahasa Indonesia biasa disebut ketapel biasanya digunakan sebagai alat permainan untuk “menembak” burung atau buah-buahan yang ada di atas pohon.

Lastik umumnya dibuat atau diproduksi sendiri karena bahan baku yang digunakan relatif mudah didapat, seperti: ranting pohon berbentuk huruf “Y”, karet yang berasal dari ban dalam sepeda, dan kalep atau kulit binatang yang berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan batu peluru. Sedangkan cara membuatnya adalah sebagai berikut: pertama-tama ranting yang berbentuk huruf “Y” dibuang kulitnya lalu dihaluskan. Setelah itu bagian pangkal kayu dibalut dengan potongan karet bekas ban dalam sepeda atau sepeda motor agar tidak licin ketika digunakan. Dan terakhir, karet ban dalam dipotong lagi menjadi dua bagian dengan panjang masing-masing sekitar satu kaki dan lebar setengah inci. Salah satu ujung dari karet-karet tersebut diikatkan pada ujung lastik, sedangkan lainnya diikat pada kalep yang telah dilubangi.

Kaveba

Kaveba atau biasa disebut juga tipasa adalah istilah orang Sulawesi Tengah untuk menyebut sebuah benda yang bentuknya menyerupai kipas. Peralatan yang umumnya digunakan untuk menari ini dapat memiliki berbagai macam fungsi, bergantung dari jenis tarian yang dibawakan. Misalnya, pada Tari Pajoge Maradika kaveba digunakan oleh para dayang untuk mengipasi para putera dan puteri yang sedang menari. Pada Tari Kaveba, sesuai dengan namanya, para penarinya mempertunjukkan kebolehan memainkan kaveba. Pada pertunjukan Tari Rego kaveba berfungsi untuk mengipasi penari wanita yang selama menari berada dalam pelukan penari pria. Dan, pada tari sebagai pengiring upacara penyembuhan, kaveba berfungsi sebagai penghalau roh-roh jahat yang menghalangi proses penyembuhan.

Sebagai sebuah benda yang didesain untuk "menangkap" dan menghembuskan angin, kaveba dibuat sedemikian rupa agar ringan ketika digunakan. Adapun bahan pembuatnya terdiri atas kain, manik-manik, rotan dan daun silar atau pelepah sagu. Sedangkan cara membuatnya diawali dengan menghilangkan lidi atau tulang daun silar. Setelah itu daun diiris selebar sekitar 1/2 centimeter dan dijemur hingga kering. Dan, bila telah kering daun dibersihkan lalu dianyam sedemikian rupa membentuk menyerupai kipas dengan rotan sebagai tulangnya. Selanjutnya, anyaman dibungkus dengan kain berwarna kuning serta dihias dengan manik-manik yang bentuknya disesuaikan dengan selera si pembuat.

Honda CTX 700 (2014)

Technical Specifications
2014 Honda CTX 700
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Liquid Cooled, twin cylinders, four-stroke, SOHC
73.0 x 80.0 mm (2.9 x 3.1 inches)
670.00 ccm (40.88 cubic inches)
4 valves per cylinder
10.7:1


Injection. PGM-FI with 36mm throttle body
6-speed
Chain

Digital transistorized with electronic advance
Electric starter




1st:
2nd:
3rd:
4th:
5th:
6th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)


27.7°
2255 mm (88.8 inches)
840 mm (33.1 inches)
1165 mm (45.9 inches)
1529 mm (60.2 inches)
719 mm (28.3 inches)
130 mm (5.1 inches)
164 kg
12.00 litres (3.17 gallons)
Cool candy red, pearl white
41mm telescopic fork, 4.2 inches travel
Pro-Link single shock, 4.3 inches travel
120/70-R17
160/60-R17
Single disc 320mm with two-piston caliper
Single disc 240mm with single-piston caliper

Image: http://www.honda-geneve.com/catalog/CTX700.php

Honda CRF125F (2014)

Technical Specifications
2014 Honda CRF125F
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air cooled, single cylinders, four-stroke, SOHC
52.4 x 57.9 mm (2.1 x 2.3 inches)
124.90 ccm (7.62 cubic inches)
4 valves per cylinder
9.0:1

14.10 Nm (1.4 kgf-m or 10.4 ft.lbs) @ 11000 rpm
Carburettor. 20mm piston-valve carburetor
4-speed
Chain
Wet multiplate
DC-CDI
Kick starter




1st:
2nd:
3rd:
4th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)


27.0°
1900 mm (74.8 inches)
770 mm (30.3 inches)
1171 mm (46.1 inches)
1255 mm (49.4 inches)
785 mm (30.9 inches)
264 mm (10.4 inches)
88 kg
4.30 litres (1.14 gallons)

31mm telescopicfork
Pro-Link single-shock
70/100-R19
90/100-R16
Single hydraulic disc 220mm with two-piston caliper
Expanding brake (drum brake)

Image: http://www.lerepairedesmotards.com/actualites/2013/actu_130709-motocross-honda-crf125f-2014.php

Honda CBR650F (2014)

Technical Specifications
2014 Honda CBR650F
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Liquid Cooled, in-line four cylinders, four-stroke, DOHC
67.0 x 46.0 mm (2.6 x 1.8 inches)
649.00 ccm (39.60 cubic inches)
4 valves per cylinder
11.4:1

64.00 Nm (6.5 kgf-m or 47.2 ft.lbs) @ 10500 rpm
PGM-FI Programmed automatic circuit, with 32mm throttle bodies
6-speed
Chain
Wet, multiple discs. Mechanical, cable-actuated
Digital transistorized with electronic advance
Electric starter
Wet sump


12V/8.6AH battery
1st:
2nd:
3rd:
4th:
5th:
6th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)


25.3°
2150 mm (84.6 inches)
740 mm (29.1 inches)
1150 mm (45.3 inches)
1448 mm (57.0 inches)
800 mm (31.5 inches)
135 mm (5.3 inches)
199 kg
19.00 litres (3.43 gallons)
White/black/red/blue
Telescopic fork
Single shock with spring-preload adjustability, 128mm travel
120/70-ZR17
180/55-ZR17
Double disc 320mm with two-piston calipers
Single disc 240mm with single-piston caliper

Image: http://www.twobros.com/sku/005-40201/exhaust/Hon-CBR650F_FULL_14.html

Honda CRF250M (2014)

Technical Specifications
2014 Honda CRF250M
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Liquid Cooled, single cylinders, four-stroke, DOHC
76.0 x 55.0 mm (3.0 x 2.2 inches)
250.00 ccm (15.26 cubic inches)
2 valves per cylinder
10.7:1

22.00 Nm (2.2 kgf-m or 16.2 ft.lbs) @ 7000 rpm
Carburettor
6-speed
Chain
Wet multiplate with coil springs
Full transistor with electronic advance
Electric starter



12V 6Ah (10HR) battery
1st:
2nd:
3rd:
4th:
5th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)


27.0°
2127 mm (83.7 inches)
815 mm (32.1 inches)
1147 mm (45.2 inches)
1446 mm (56.9 inches)
855 mm (33.7 inches)
226 mm (8.9 inches)
145 kg
7.70 litres (2.03 gallons)
Black
48mm inverted Showa cartridge fork with 16-position rebound
Pro-Link single shock with spring; 9.4 inches travel
110/70-M17
130/70-M17
Dual disc 256mm with two-piston caliper
Single disc 220mm with single-piston caliper

Image: http://blog.motorcycle.com/2013/01/16/manufacturers/honda/2013-honda-crf250m-launched-in-thailand-the-supermoto-version-of-the-crf250l/

Honda CBR600RR ABS (2014)

Technical Specifications
2014 Honda CBR600RR ABS
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system

Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Liquid Cooled, in-line four cylinders, four-stroke, DOHC
67.0 x 42.5 mm (2.6 x 1.7 inches)
599.00 ccm (36.55 cubic inches)
4 valves per cylinder
12.2:1


Injection. Dual Stage Fuel Injection (DSFI) with
40mm throttle bodies, Denso 12-hole injectors
6-speed
Chain
Wet multiplate
Computer-controlled digital transistorized with 3-D mapping
Electric starter




1st:
2nd:
3rd:
4th:
5th:
6th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)

Suspension (rear)

Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)


23.5°



1369 mm (53.9 inches)
820 mm (32.3 inches)


18.17 litres (4.80 gallons)
White/black/red/blue
41mm inverted Big Piston Fork with spring preload, rebound and
compression damping adjustability,
Unit Pro-Link HMAS single shock with spring preload, rebound and
compression damping adjustability, 130 mm (5.1 inches)
120/70-ZR17
180/55-ZR17
Double floating disc ABS 310mm four-piston calipers. Radially mounted.
Single hydraulic disc ABS 220mm with single-piston caliper

Image: https://motorsportsnewswire.wordpress.com/tag/cbr600rr/

Honda Crossrunner (2014)

Technical Specifications
2014 Honda Crossrunner
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Liquid Cooled, four cylinders, four-stroke, DOHC
36.0 x 72.0 mm (1.4 x 2.8 inches)
782.00 ccm (47.72 cubic inches)
4 valves per cylinder
11.6:1

72.80 Nm (7.4 kgf-m or 53.7 ft.lbs) @ 9500 rpm
Injection. PGM-FI electronic fuel injection
6-speed
Chain (O-ring sealed chain)
Hydraulic
Computer-controlled digital transistorised with electronic advance
Electric starter
Forced pressure and wet sump


12V/11AH (YTZ-12S) battery
1st:
2nd:
3rd:
4th:
5th:
6th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)

Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

Diamond; aluminium twin-spar; pivotless
25.0°
2130 mm (83.9 inches)
799 mm (31.5 inches)
1243 mm (48.9 inches)
1464 mm (57.6 inches)
816 mm (32.1 inches)
140 mm (5.5 inches)
240.4 kg
21.50 litres (5.68 gallons)

43mm cartridge-type telescopic fork with stepless preload adjustment
Pro-Link with gas-charged HMAS damper, 7-step preload and
stepless rebound damping adjustment
120/70-R17
180/55-R17
Dual floating hydraulic disc with 3-piston calipers, C-ABC metal pads
Single 256mm hydraulic disc with 2-piston caliper, C-ABS metal pads

Image: http://www.sc-project.com/honda_crossrunner_800_e.htm

Honda CRF250L (2014)

Technical Specifications
2014 Honda CRF250L
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Liquid Cooled, single cylinders, four-stroke, DOHC
76.0 x 55.0 mm (3.0 x 2.2 inches)
249.60 ccm (15.23 cubic inches)
2 valves per cylinder
10.7:1

22.00 Nm (2.2 kgf-m or 16.2 ft.lbs) @ 7000 rpm
Injection. PGM-FI, 36mm throttle body
6-speed
Chain
Wet multiplate with coil springs
Computer-controlled digital transistorized with electronic advance
Electric starter



12V 6Ah (10HR) battery
1st:
2nd:
3rd:
4th:
5th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)


27.0°
2195 mm (86.4 inches)
815 mm (32.1 inches)
1195 mm (47.0 inches)
1445 mm (56.9 inches)
881 mm (34.7 inches)
254 mm (10.0 inches)
145.2 kg
7.57 litres (2.00 gallons)
Red
43mm inverted fork
Pro-Link single shock with spring; 9.4 inches travel
3.00-R21
120/80-R18
Dual disc 256mm with two-piston caliper
Single disc 220mm with single-piston caliper

Image: http://dirtaction.com.au/bike-test-2013-honda-crf-250l/

Honda CRF150R (2014)

Technical Specifications
2014 Honda CRF150R
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Liquid Cooled, single cylinders, four-stroke, SOHC
66.0 x 43.7 mm (2.6 x 1.7 inches)
149.00 ccm (9.09 cubic inches)
2 valves per cylinder
11.7:1

27.00 Nm (2.8 kgf-m or 19.9 ft.lbs) @ 7250 rpm
Carburettor. Keihin32mm flat slide with Throttle Position Sensor (TPS)
5-speed
Chain
Wet multiplate
Solid-state CD with electronic advance
Electric starter
Forced pressure and wet sump


12V-6AH
1st:
2nd:
3rd:
4th:
5th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)


27.0°



1260 mm (49.6 inches)
833 mm (32.8 inches)
302 mm (11.9 inches)
83.9 kg
4.20 litres (1.11 gallons)
Red
37mm fully adjustable leading-axle inverted Showa cartridge fork
Pro-Link fully adjustable Showa single shock; 10.7 inches travel
70/100-R17
90/100-R14
Single disc 220mm with two-piston caliper
Single disc 190mm with single-piston caliper

Image: http://www.hondanews.com/channels/powersports-motorcycles-motocross-crf150r/photos/2014-honda-crf150r

Asal Mula Singaraja

(Cerita Rakyat Daerah Bali)

Pada zaman dahulu kala di daerah Klungkung ada seorang raja bergelar Sri Sagening. Sri Sagening memiliki banyak isteri, salah satunya bernama Ni Luh Pasek yang berasal dari keturunan Kyai Pasek Gobleng di Desa Panji. Dia adalah isteri yang paling muda dan berkasta rendah, yaitu sudra. Tetapi entah kenapa, ketika Ni Luh Pasek mengandung, dia dibuang secara halus dari istana dengan cara dikawinkan dengan Kyai Jelantik Bogol.

Hal ini tentu saja membuat Ni Luh Pasek sangat bersedih hati. Dia tidak tahu mengapa dirinya disingkirkan dari istana, padahal kelakuannya dianggap tidak ada yang ganjil atau menyimpang. Untungnya kesedihan itu agak berkurang karena suami yang baru, yaitu Kyai Jelantik Bogol amat menyayanginya. Padahal, dia tahu bahwa Ni Luh Pasek sudah dalam keadaan telah mengandung ketika dikawini.

Beberapa bulan setelah perkawinan, bayi pun lahir dengan jenis kelamin laki-laki. Oleh orang tuanya ia dinamai I Gusti Gede Pasekan. Anak ini tumbuh normal seperti anak-anak lainnya. Namun, mungkin karena memiliki darah bangsawan dari ayah kandungnya, I Gusti Gede Pasekan tumbuh menjadi seorang pemuda yang sangat berwibawa dan disegani oleh banyak orang.

Saat usianya telah mencapai dua puluh tahun, Kyai Jelantik Bogol menyuruhnya pergi ke Den Bukit di daerah Panji. "Pergi dan menetaplah engkau bersama ibumu ke Den Bukit, anakku," kata Kyai Jelantik Bogol.

"Mengapa harus kesana, Ayah?" tanya I Gusti Gede Pasekan.

"Daerah itu adalah tempat kelahiran ibumu," jawab ayahnya. "Nanti bila engkau telah berkemas, aku akan memberimu dua buah senjata bertuah, yaitu sebilah keris bernama Ki Baru Semang dan tombak bernama Ki Tunjung Tutur," sambungnya lagi.

"Baiklah, Ayah."

Keesokan harinya, I Gusti Gede Pasekan memohon pamit pada Kyai Jelantik Bogol. Setelah mendapat restu, bersama ibu dan empat puluh orang pengawal di bawah pimpinan Ki Dumplung dan Ki Kadosot mereka berangkat menuju Den Bukit. Empat hari kemudian, tibalah mereka di suatu tempat bernama Batu Menyan. Oleh karena hari telah menjelang malam, mereka memutuskan untuk bermalam di sana.

Di saat mereka tertidur lelap karena kelelahan, pada tengah malam tiba-tiba datanglah sesosok makhluk gaib bertubuh tinggi besar. Si makhluk gaib langsung mengangkat I Gusti Gede Pasekan di atas pundak dan membawanya pergi ke suatu tempat. Ketika dia terbangun, makhluk gaib itu segera menuruankannya dan lenyap seketika. I Gusti Gede Pasekan yang kebingungan berusaha mencari kembali rombongannya, tetapi yang dilihatnya hanyalah lautan di bagian timur dan barat laut yang di depannya tampak sebuah gugusan pulau, serta pegunungan di arah selatannya.

Dalam kebingungan tersebut, tiba-tiba terdengarlah sebuah suara gaib, "Gusti, apa yang engkau saksikan ini kelak akan menjadi wilayah kekuasaanmu."

Suara itu membuatnya terkejut sekaligus senang karena akan menjadi seorang penguasa yang mempunyai kedudukan mulia. Dia lalu berlari ke arah utara yang diyakininya adalah letak dari Batu Menyan, karena arah lainnya hanyalah berupa lautan dan pegunungan. Tidak berapa lama kemudian sampailah dia di Batu Menyan dan langsung menceritakannya pada Sang Ibu. Dan, sama seperti dirinya, Sang Ibu memperkirakan dia akan menjadi orang besar yang menguasai wilayah luas.

Untuk mempersingkat waktu, keesokan harinya rombongan berangkat lagi menyusuri medan terjal dan berliku hingga akhirnya berhasil mencapai Den Bukit dengan selamat. Di sana mereka kemudian membangun pondok-pondok tempat bermukim dan juga membuka ladang serta kebun sebagai penghidupannya.

Tidak berapa lama mereka bermukim, suatu hari terjadilah peristiwa menggemparkan berupa terdamparnya sebuah perahu milik orang-orang Bugis di Pantai Panimbangan. Nahkoda perahu itu sudah putus asa karena para nelayan Pantai Panimbangan yang mencoba membantu ternyata tidak dapat menyeret perahu ke laut lepas sebab ukurannya terlalu besar.

Salah seorang pengikut I Gusti Gede Pasekan yang melihat kejadian tersebut segera mendekati Sang Nahkoda dan berkata, "Saya rasa hanya ada satu orang yang dapat mengeluarkan perahu anda, Tuan."

"Siapakah namanya dan di manakah tempat tinggalnya," kata Sang Nahkoda.

"I Gusti Gede Pasekan. Dia tinggal tidak jauh dari sini," jawab Si Pengikut.

"Baiklah. Aku akan menemuinya," kata Sang Nahkoda sambil berjalan ke arah yang ditunjukkan oleh Si Pengikut.

Sesampainya di rumah I Gusti Gede Pasekan, Sang Nahkoda langsung mengutarakan niatnya agar I Gusti mau menolong menyeret perahunya ke tengah laut. Apabila berhasil, dia menjanjikan akan memberi I Gusti Gede Pasekan sebagian dari muatan perahunya.

"Saya akan mencobanya. Mari, Tuan," kata I Gusti Gede Pasekan sambil berjalan menuju pantai.

Tidak berapa lama berjalan, mereka sampai di depan perahu yang kandas. Selanjutnya, sambil bermeditasi I Gusti Gede Pasekan mengeluarkan dua buah senjata pusaka warisan Kyai Jelantik Bogol. Dari kedua senjata pusaka tersebut tiba-tiba keluarlah dua mahkluk halus bertubuh amat besar.

"Apa yang harus saya kerjakan, Tuan," kata salah satu makhluk halus.

"Bantu aku menyeret perahu itu ke laut lepas!" perintah I Gusti Gede Pasekan.

"Baik, Tuan," jawab kedua makhluk halus hampir serempak lalu berjalan menuju perahu. Dan, hanya dalam waktu singkat mereka telah menyeret perahu hingga ke tengah laut.

Masyarakat nelayan yang melihat perahu bergerak sendiri menjadi takjub. Mereka mengira I Gusti Gede Pasekan memiliki ilmu sangat tinggi yang dapat menggerakkan sebuah perahu tanpa harus menyentuhnya. Mereka tidak dapat melihat kalau yang menarik perahu sebenarnya adalah dua mahkluk halus jelmaan keris dan tombak warisan Kyai Jelantik Bogol.

Sementara Sang Nahkoda yang juga merasa takjub sekaligus gembira karena dapat berlayar lagi, segera menepati janji dengan memberikan sebagian muatan kapalnya berupa dua buah gong besar yang sangat mahal harganya. Walhasil, I Gusti Gede Pasekan pun sontak menjadi orang kaya baru. Kekayaan dan kesaktian inilah yang membuat dia semakin disegani dan akhirnya mendapat julukan baru, yaitu I Gusti Panji Sakti. Bahkan, saking kayanya I Gusti Gede Pasekan mampu membangun sebuah kerajaan baru di daerah Den Bukit dengan ibukotanya yang bernama Sukadasa.

Oleh karena semakin hari kondisi kerajaan bertambah luas dan berkembang pesat, maka I Gusti Gede Pasekan memindahkan kerajaannya ke tempat yang lebih luas di arah utara dari Sukadasa. Daerah baru itu masih berupa hutan yang mayoritas ditumbuhi oleh pohon buleleng, sehingga ketika istana didirikan daerahnya diberi nama Buleleng. Sedangkan, istananya sendiri diberi nama Singaraja yang menunjukkan bahwa pemiliknya adalah raja yang gagah perkasa laksana singa penguasa hutan belantara. Namun, ada pula yang mengatakan bahwa Singaraja berasal dari kata "singgah raja" karena ketika masih dalam proses pembangunan I Gusti Gede Pasekan sering bolak-balik dari istana lamanya untuk untuk singgah sekejap sambil memeriksa proses kemajuan pembangunan istana barunya.

Diceritakan kembali oleh gufron

Honda CBR600RR (2013)

Technical Specifications
2013 Honda CBR600RR
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system

Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Liquid Cooled, in-line four cylinders, four-stroke, DOHC
67.0 x 42.5 mm (2.6 x 1.7 inches)
599.00 ccm (36.55 cubic inches)
4 valves per cylinder
12.2:1


Injection. Dual Stage Fuel Injection (DSFI) with
40mm throttle bodies, Denso 12-hole injectors
6-speed
Chain
Wet multiplate
Computer-controlled digital transistorized with 3-D mapping
Electric starter




1st:
2nd:
3rd:
4th:
5th:
6th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)

Suspension (rear)

Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)


23.5°



1369 mm (53.9 inches)
820 mm (32.3 inches)


18.17 litres (4.80 gallons)
White/black/red/blue
41mm inverted Big Piston Fork with spring preload, rebound and
compression damping adjustability,
Unit Pro-Link HMAS single shock with spring preload, rebound and
compression damping adjustability, 130 mm (5.1 inches)
120/70-ZR17
180/55-ZR17
Double floating disc 310mm four-piston calipers. Radially mounted.
Single hydraulic disc 220mm with single-piston caliper

Image: http://www.motorcycle-usa.com/115/15955/motorcycle-article/2013-honda-cbr600rr-first-ride.aspx

Honda CBR1000RR (2014)

Technical Specifications
2014 Honda CBR1000RR
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system

Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Liquid Cooled, in-line four cylinders, four-stroke, DOHC
76.0 x 55.1 mm (3.0 x 2.2 inches)
999.00 ccm (60.96 cubic inches)
4 valves per cylinder
12.3:1


Injection. Programmed Dual Stage Fuel Injection (PGM-DSFI) with
46mm throttle bodies, Denso 12-hole injectors
6-speed
Chain
Wet multiplate
Computer-controlled digital transistorized with 3-D mapping
Electric starter




1st:
2nd:
3rd:
4th:
5th:
6th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)

Suspension (rear)

Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)


23.0°




818 mm (32.2 inches)


17.79 litres (4.70 gallons)
White/black/red/blue
43mm inverted Big Piston fork with spring preload, rebound and
compression damping adjustability, 109 mm (4.3 inches) travel
Unit Pro-Link Balance Free Rear Shock with spring preload, rebound
and compression-damping adjustability, 137 mm (5.4 inches) travel
120/70-ZR17
190/50-ZR17
Double floating discs 320mm four-piston calipers. Radially mounted.
Single hydraulic disc 220mm with single-piston caliper

Image: http://www.roadracingworld.com/news/honda-to-offer-sharpened-cbr1000rr-sp-in-2014/

Tali Tandu

Sesuai dengan namanya tali tandu adalah untaian beberapa utas tali yang dibuat sedemikian rupa hingga menyerupai tandu (tanduk) sapi. Tali ini biasa digunakan oleh para penari di daerah Sulawesi Tengah sebagai hiasan sekaligus simbol keberanian ketika mempertunjukkan tari penyembuhan atau keselamatan. Cara memakainya diletakkan di atas kepala sehingga menyerupai sebuah tanduk. Bahan pembuatnya terdiri atas pelepah pohon enau atau kulit gaba-gaba, kapuk, kain berwarna kuning atau merah, serta manik-manik atau pecahan batu banggai/mitra.

Adapun proses pembuatan sebuah tali tandu diawali dengan memotong pelepah pohon enau atau kulit gaba-gaba menjadi beberapa bagian dengan panjang sekitar 25 centimeter. Kemudian, pelepah dibersihkan dan dipipihkan setebal 1/4 centimeter dengan lebar sekitar 5 centimeter. Bila telah pipih, pelepah enau dibungkus menggunakan kain berwarna kuning atau merah. Selanjutnya, sisa kain pembungkus pelepah digulung sedemikian rupa hingga membentuk serupa tanduk yang di dalamnya diisi dengan kapuk (kapas). Dan, setelah tanduk dipasang pada setiap ujung pelepah enau, proses terakhir adalah memberi hiasan berupa manik-manik atau pecahan batu banggai/batu mitra dengan cara dijahit atau diikat dengan benang jahit tangan agar tidak lepas ketika dibawa menari.

Honda CRF110F (2014)

Technical Specifications
2014 Honda CRF110F
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air cooled, single cylinders, four-stroke, SOHC
50.0 x 55.6 mm (2.0 x 2.2 inches)
109.00 ccm (6.65 cubic inches)
4 valves per cylinder
9.0:1

8.85 Nm (0.9 kgf-m or 6.5 ft.lbs) @ 3500 rpm
Carburettor. 13mm piston-valve carburetor
4-speed
Chain


Electric & kick starter
Forced pressure and wet sump


12V-6AH
1st:
2nd:
3rd:
4th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)


24.0°
1560 mm (61.4 inches)
668 mm (26.3 inches)
912 mm (35.9 inches)
1064 mm (41.9 inches)
668 mm (26.3 inches)
175 mm (6.9 inches)
73.9 kg (163.0 pounds)
4.16 litres (1.10 gallons)
Red
31.0mm telescopic fork
Mono-shock
70/100-R14
80/100-R12
Expanding brake (drum brake)
Expanding brake (drum brake)

Image: http://www.topspeed.com/motorcycles/motorcycle-reviews/honda/2014-honda-crf110f-ar159899.html

Popular Posts

-