Anjing dan Rusa

(Cerita Rakyat Sulawesi)

Alkisah, pada zaman dahulu kala di sebuah hutan sedang mengalami musim kemarau panjang yang membuat sebagian besar sumber mata air mengering. Akibatnya, banyak binatang kehausan atau bahkan mati kelaparan karena rerumputan tidak lagi tumbuh. Untuk dapat bertahan hidup, para binatang beramai-ramai mencari sumber mata air atau sungai yang diperkirakan masih ada airnya. Diantara kawanan binatang tersebut ada sepasang rusa yang ikut mencari air menyusuri bukit dan lereng gunung, hingga akhirnya menemukan sebuah sungai yang masih berair.

Sesampainya di tepi sungai, kedua binatang yang dikisahkan tidak memiliki tanduk itu turut bersama ratusan binatang lain menghilangkan rasa dahaga mereka. Tidak berapa lama kemudian, rusa betina melihat seekor binatang bertanduk cabang datang dan hendak ikut minum bersama binatang lainnya. "Lihatlah, betapa gagahnya dia dengan tanduk itu!" kata rusa betina pada pasangannya.

"Oh, dia Si Anjing. Dia adalah sahabatku, tetapi kami sudah lama tidak bertemu," jawab Rusa jantan.

Ketika Si Anjing berada tidak jauh dan melihat sahabatnya, dia segera berteriak, "Hai, Rusa! Ternyata engkau juga ada di sini!"

"Hanya di sinilah satu-satunya sumber air yang masih ada. Makanya aku dan pasanganku datang kemari," jawab rusa jantan.

Selesai minum kedua sahabat ini berpisah. Si Anjing berjalan ke arah sebuah pohon rindang untuk beristirahat melepas lelah setelah berjalan jauh mencari air. Sementara rusa jantan dan pasangannya berjalan dengan arah berlawanan menuju pohon lain yang juga sama rindangnya.

Baru saja mereka mengistirahatkan tubuh, tiba-tiba rusa betina tertanya, "Kemana Si Anjing tadi?"

"Ada di pohon sana," jawab rusa jantan agak acuh.

"Bagaimana kalau kita juga beristirahat di sana saja?"tanya rusa betina.

"Di sini saja," jawab rusa jantan.

"Ayolah kita kesana," pinta rusa betina.

"Kenapa?" tanya rusa jantan.

"Aku ingin melihat lagi tanduk anjing yang indah itu. Dia terlihat sangat jantan dan gagah," jawab rusa betina.

"Apakah dia lebih gagah dariku?" tanya rusa jantan agak sedikit cemburu.

"Tentu saja tidak," kilah rusa betina, "Tetapi, apabila engkau juga memiliki tanduk bercabang seperti itu, pasti akan jauh lebih gagah dari Si Anjing."

"Baiklah kalau itu maumu. Aku akan mengatur siasat agar tanduk itu dapat kumiliki," jawab Rusa jantan sambil berlalu menuju ke tempat Si Anjing beristirahat.

Sesampainya di tempat Si Anjing, Rusa jantan segera berkata, "Wahai saudaraku, isteriku sangat ingin melihat kita berlomba lari."

Agar sahabatnya tidak kecewa, Si Anjing menyetujui saja usul itu. Tidak sempat terpikir olehnya kalau perlombaan lari hanyalah akal-akalan Rusa jantan untuk mengambil tanduknya. Oleh karena itu, dia pun mengikuti Rusa jantan menuju sebuah area terbuka yang dapat digunakan untuk berlomba lari.

Singkat cerita, mereka lalu berlomba adu cepat melintasi padang rumput. Ternyata Si Anjing kalah cepat dan berhasil dikalahkan Rusa jantan. Walhasil, walau hanya untuk menyenangkan Rusa betina, membuat Si Anjing merasa kecewa. Dia tidak habis pikir mengapa dirinya yang mempunyai tubuh langsing dan juga gesit dapat dikalahkan oleh Rusa jantan yang tubuhnya relatif lebih besar.

Kekecewaan Anjing inilah yang ditunggu oleh Rusa jantan. Dia langsung menghampiri Si Anjing sambil berkata, "Sebenarnya engkau jauh lebih cepat ketimbang diriku wahai sahabatku. Aku rasa tanduk di kepala itulah yang membuatmu menjadi lambat. Bagaimana kalau tandukmu dilepas dulu baru kita berlomba lagi? Dan, agar lebih terlihat perbedaanya, bagaimana kalau tandukmu kupakai?"

"Baiklah," jawab Si Anjing tanpa curiga.

Bagi Si Anjing usul Rusa jantan sangat masuk akal karena tanduk itu memang terasa berat dan mengganggu ruang gerak. Apabila dilepas, kemungkinan besar berat tubuhnya akan berkurang sehingga dapat berlari dengan cepat. Apalagi kalau tanduk dipakai Rusa jantan, tentu dirinya akan menang dengan mudah. Oleh karena itu, dia segera melepas tanduknya dan memberikannya pada Rusa Jantan.

Tidak berapa lama kemudian, mereka telah berdiri sejajar untuk mengadakan lomba lagi. Saat perlombaan dimulai, Si Anjing langsung berlari secepat-cepatnya, sementara Rusa jantan hanya diam saja di tempat. Setelah Si Anjing jauh meninggalkannya barulah Rusa Jantan berlari, namun dengan arah berlawanan agar jarak antarkeduanya semakin bertambah jauh.

Di lain pihak, Si Anjing sendiri tetap berlari sekencang mungkin hingga dia merasakan ada suatu kejanggalan kerena tidak mendengar suara langkah kaki yang mengikuti atau mengejarnya. Seketika itu juga dia menghentikan larinya dan menoleh ke belakang untuk melihat posisi Rusa jantan. Ternyata Rusa jantan jauh berada di belakang dan bahkan malah berlari menjauhinya. Sadar kalau telah diperdaya, Si Anjing langsung berbalik arah dan mengejar Rusa jantan. Tetapi karena jaraknya terlampau jauh serta stamina Anjing yang sudah berkurang drastis, maka dia tidak dapat menyusul Rusa jantan. Akhirnya, Si Anjing hanya bisa pasrah dan tidak dapat berbuat apa-apa. Dan semenjak itu, Anjing dan keturunannya tidak bertanduk, sedangkan rusa dan keturunannya memiliki tanduk panjang dan bercabang.

Diceritakan kembali oleh gufron
hal
Dilihat: