Sambiloto

Setiap kelompok manusia, baik itu sukubangsa mupun ras pasti mengembangkan suatu sistem pengetahuan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengetahuan tentang alam flora misalnya, bukan hanya tentang tetumbuhan yang dapat dijadikan sebagai bahan bangunan dan sayuran saja, tetapi juga sebagai penyembuh penyakit tertentu pada manusia. Salah satu contohnya adalah sambiloto. Tumbuhan yang bernama latin Andrographis paniculata ini berasal dari kingdom plantae, ordo lamiales, famili acanthaceae, genus andrographis, dan spesies paniculata (id.wikipedia.org). Tanaman ini mempunyai nama atau sebutan yang berbeda di setiap tempat, seperti: ki oray/ki peurat/takilo di Jawa Barat; ampadu tanah di Sumatera Barat; bidara/sadilata/sambilata/dakila di Jawa; pepaitan di Madura; cong cong di Vietnam; kirata/mahatitka di India dan Pakistan; chuan xin lian/yi jian xi/lan he lian di China; dan creat/green chiretta/halviva/kariyat di Inggris (www.iptek.net.id/ind).

Ciri Fisik
Menurut id.wikipedia.org, tanaman sambiloto diduga berasal dari kawasan Asia tropika yang penyebarannya berawal dari daratan India dan Sri Lanka menuju ke arah selatan melewati Siam kemudian ke arah timur hingga semenanjung Malaya dan akhirnya ke Indonesia. Tanaman yang tumbuh pada ketinggian hingga 700 meter di atas permukaan air laut dengan curah hujan antara 2.000-3.000 mm/tahun dan suhu udara 25-32 derajat Celcius ini memiliki batang bercabang banyak berbentuk segi empat dengan nodus membesar dan tinggi antara 50-90 centimeter. Daunnya berbentuk tunggal bertangkai pendek dengan permukaan bagian atas berwarna hijau tua sedangkan bawahnya hijau muda. Panjang daun antara 2-8 centimeter, lebar 1-3 centimeter dengan bagian ujung meruncing dan tepian rata. Bunganya berbentuk tabung kecil berwarna putih bernoda ungu, sedangkan buahnya berbentuk silindris berwarna hijau kekuningan dengan panjang sekitar 1,5 centimeter dan lebar 0,5 centimeter. Apabila telah masak, buah sambiloto akan pecah membujur menjadi 4 keping biji gepeng berwarna cokelat muda.

Kandungan Kimia
Berdasarkan penelitian para ahli, tanaman sambiloto mengandung banyak sekali zat kimia yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Zat-zat kimia tersebut diantaranya adalah: laktone berupa deoxyandrographolide, andrographolide (zat pahit), neoandrographolide, 14-deoxy-11, 12 didehydroandrographolide, dan hormonandropholide pada daun dan batangnya; sementara bagian akarnya mengandung flavonoid berupa polymethoxyflavone, andrigraphin, panicolin, mono-o methilwithin, apigenin-7, 4-dimetol eter, alkane, keton, aldehid, anrodrafoliida 15, kelmegin, hablur kuning, kalium, kalsium, natrium serta asam kersik (sambiloto.org).

Zat-zat kimia tersebut memiliki fungsi masing-masing. Misalnya, kalium berfungsi untuk meningkatkan sekaligus membantu mengeluarkan urin dalam tubuh; laktone yang mengandung neoandrographolid, anrographolid, deoksiandrographolid, 14-deoksi-11, dan 12-dehidroandrographolid berfungsi sebagai antiradang dan antipiretik; andrografolid berfungsi menurunkan demam yang ditimbulkan oleh pemberian vaksi yang menyebabkan panas serta melindungi sel hati dari zat toksik; flavonoid berfungsi mencegah dan menghancurkan penggumpalan darah; dan berbagai macam fungsi lainnya yaitu menghambat pertumbuhan sel kanker hati, trofit placenta, meningkatkan aliran empedu, merangsang daya tahan selular (fagositosis), meningkatkan antibody (immunostimulant), menghambat penyebaran HIV (Human Immunodeficiency Virus), merangsang dayatahansel (fagositosis) darah putih, antiracun (detoksikasi), penghambat reaksi imunitas (imunosupresi), dan penghilang rasa nyeri (analgesic).

Khasiat Sambiloto
Lepas dari banyaknya jumlah senyawa kimia yang bermanfaat bagi kesehatan tersebut, sejak dahulu kala sambiloto sebenarnya telah digunakan sebagai bahan pengobatan. Tanaman ini, baik daun, batang, maupun akarnya, dapat digunakan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit, seperti: hepatitis, disentri basiler, influenza, infeksi saluran empedu, malaria, abses paru, radang amandel (tosilitis), radang paru (pneumonia), radang ginjal akut (pielonefritis), radang saluran napas (bronkhitis), radang telinga tengah (OMA), radang usus buntu, sakit gigi, kencing manis (diebetes melitus), kencing nanah (gonore), TB paru, batuk rejan (pertusis), sesak napas (asma), darah tinggi (hipertensi) kusta (morbus hansen), keracunan makanan, kanker, kehamilan anggur (mola hidatidosa), trofoblas ganas, tumor paru, dan lain sebagainya.

Adapun cara pengobatannya secara umum adalah dengan dikeringkan, direbus lalu diminum air rebusannya atau ditumbuk hingga halus kemudian dioleskan pada anggota tubuh yang terluka (sakit). Berikut ini adalah beberapa cara pengolahan sambiloto untuk mengobati suatu penyakit.

1. Disentri dan Diare
Daun sambiloto dikeringkan lalu ditumbuk hingga halus atau langsung direbus dengan 4-5 gelas air hingga tersisa 2-3 gelas. Air rebusan tersebut kemudian didinginkan dan diminum selama 2 hari, masing-masing sebanyak 1 gelas. Apabila perlu, tambahkan 1 sendok madu sebelum memulai perebusan.

2. Demam dan Sakit Kepala
Segenggam daun sambiloto dikeringkan lalu ditumbuk hingga halus dan kemudian di rebus dengan satu gelas air. Setelah dingin, air rebusan tersebut dapat diminumkan sementara ampasnya dijadikan sebagai tapal badan yang panas.

3. Kencing Nanah
Sejumlah tiga batang sambiloto berikut daunnya yang masih menempel dicuci, dikeringkan, lalu direbus dalam 4 gelas air. Setelah tersisa kira-kira 2,25 gelas, disaring lalu ditambah madu secukupnya untuk dijadikan minuman.

4. Kencing Manis
Setengah genggam daun sambiloto dicuci lalu direbus dalam 3 gelas air hingga tersisa sekitar 2 gelas. Setelah dingin, disaring dan diminum sebanyak 3/4 gelas tiap selesai makan.

5. TB Paru
Gilingan daun sambiloto yang telah menjadi bubuk dicampur madu lalu dibentuk menjadi bulatan-bulatan kecil berukuran sekitar 0,5 centimeter. Untuk mengobati penyakit TB paru, bulatan kecil sambiloto itu diminum 2-3 kali sehari sejumlah 15-30 buah per sekali minum.

6. Darah Tinggi
Tujuh buah daun sambiloto dicuci dan dipotong kecil kecil lalu direbus dengan satu gelas air hingga mendidih. Setelah didinginkan, tambahkan satu sendok makan madu dan diminum minimal tiga kali sehari.

7. Tipus
Sejumlah 10-15 lembar daun sambiloto dicuci dan direbus dengan dua gelas air hingga mendidih dan hanya menyisakan satu gelas saja. Setelah didinginkan ditambah dengan satu sendok makan madu agar tidak terlalu pahit ketika diminum.

8. Tifoid
Sebanyak 10-15 lembar daun sambiloto diremus dalam 2 gelas air hinggga tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring dan ditambahkan madu secukupnya dengan dosis tiga kali minum dalam sehari.

9. Batuk Rejan (Pertusis)
Daun sambiloto sejumlah 5-7 lembar dipotong kecil-kecil lalu direbus hingga menyisakan sekitar 1/2 gelas. Apabila telah dingin dan hendak diminum, sebaiknya dicampur dengan madu secukupnya agar tidak terlalu pahit. (gufron)

Foto: http://www.sambiloto.com/
Sumber:
"Sambiloto", dalam http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?id=152, diakses tanggal 4 Juni 2014.
"Sambiloto", dalam http://sambiloto.org/sambiloto/, diakses tanggal 4 Juni 2014.
"Sambiloto", dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Sambiloto, diakses tanggal 4 Juni 2014.
hal
Dilihat: