Si Mirah dari Marunda

(Cerita Rakyat Daerah DKI Jakarta)

Alkisah, pada suatu malam di zaman kumpeni di rumah Babah Yong terjadi suatu perampokan. Para centeng kaki tangan Babah Yong ada yang terkapar tidak sadarkan diri dan ada pula yang merintih kesakitan karena tulang kaki dan atau tangannya patah. Sementara Babah Yong sendiri terikat pada sebuah tiang di ruang tengah. Sebagian besar perabot dalam rumah yang terletak di daerah Kemayoran itu hancur dan berserakan, sedangkan barang-barang berharganya telah dibawa kabur oleh kawanan perampok.

Setelah mendapat laporan warga, malam itu juga penguasa daerah Kemayoran yang bernama Tuan Ruys bergegas datang bersama Nadir Bek Kemayoran dan para opasnya untuk mencari petunjuk dari bekas-bekas perampokan. Dari hasil olah tempat kejadian perkara, Tuan Ruys menyimpulkan bahwa perampokan itu adalah ulas Asni sehingga dia memerintahkan Bek Kemayoran untuk menangkapnya.

Keesokan harinya, Bek Kemayoran datang ke kantor Tuan Ruys dengan membawa seorang pemuda tampan dan gagah. Pemuda itu berjalan dengan tangan terborgol di belakang. "Saya sudah tangkap orang yang tuan cari," kata Bek Kemayoran.

"Langsung masukkan dia ke penjara, Saeyan!" perintah Tuan Ruys pada Bek Kemayoran.

Oleh karena merasa tidak bersalah, Asni keberatan apabila harus dimasukkan ke penjara. Dia pun menjelaskan pada Tuan Ruys kalau malam itu dia ada di rumah dan tidak pergi kemana-mana. Alibinya didukung oleh beberapa saksi yang menyatakan bahwa Asni memang tidak pergi kemana-mana. Ternyata alibi Asni sangat kuat sehingga Tuan Ruys tidak dapat begitu saja menjebloskannya ke penjara.

Agar tidak kehilangan muka di masyarakat karena telah salah tangkap, maka Tuan Ruys memberi syarat pada Asni kalau tidak ingin masuk penjara. Syarat tersebut adalah Asni harus dapat menangkap kepala perampok yang sebenarnya. Apabila tidak berhasil, sebagai gantinya dia akan dijebloskan ke penjara. Tanpa pikir panjang Asni mensetujui syarat itu.

Di lain tempat, yaitu di daerah Marunda, ada seorang gadis cantik bernama Mirah. Dia tinggal bersama ayahnya yang bernama Bang Bodong, sementara ibunya telah meninggal ketika dirinya baru berusia tiga tahun. Oleh Bang Bodong, Mirah sangat disayangi dan dirawat dengan penuh kesabaran dengan tujuan agar menjadi seorang wanita utuh yang dapat dibanggakan. Tetapi anehnya, Mirah malah lebih suka bermain dengan anak laki-laki ketimbang anak perempuan. Mereka sering bermain dayung dan berenang di muara Sungai Blencong, sehingga tidak aneh bila Mirah dapat berenang dengan cepat walaupun harus melawan arus sungai.

Selain berenang, Mirah juga tertarik pada ilmu silat. Sebagai penyalurannya, dia turut bergabung bersama teman-temannya berlatih silat pada malam hari. Melihat bakat dan ketekunan Mirah dalam berlatih silat, Bang Bodong jadi berubah pikiran dan malah ingin membuatnya menjadi jagoan silat. Untuk itu, dia pun secara rutin melatih Mirah bersilat. Dan, dalam waktu yang tidak terlalu lama dia sudah menjadi ahli silat. Ketika dipertarungkan, Mirah selalu dapat mengalahkan lawan tandingnya hingga dia sangat disegani di daerah Marunda.

Setelah puterinya menjadi jagoan, Bang Bodong bukannya senang. Dia malah khawatir akan masa depan Mirah. Bagaimanapun juga Mirah adalah seorang perempuan yang kelak akan menjadi seorang pendamping suami. Apabila saat ini seluruh lelaki ditolak karena tidak dapat mengalahkannya dalam beradu silat, maka kemungkinan besar dia sulit menikah dan menjadi perawan tuan.

Pada saat Bang Bodong sedang gundah gulana karena tidak ada lelaki yang dapat mengalahkan puterinya, datanglah Azni ke Marunda untuk mencari jejak kawanan perampok rumah Babah Yong. Tetapi ketika akan masuk perkampungan, dia ditegur oleh penjaga gardu karena tidak meminta izin terlebih dahulu.

"Kenapa saya harus meminta izin? Ini kan masih siang," kata Asni polos.

Pertanyaan Asni itu ternyata membuat penjaga kampung Marunda tersinggung. Dia langsung melotot dan berusaha menendang Asni. Namun, tendangannya dapat dihindari oleh Asni hingga membuat si penjaga hilang keseimbangan dan terjerembab ke tanah. Begitu juga dengan temannya yang turun dan ikut menyerang, dapat dipelintir sedemikian rupa hingga mengaduh kesakitan.

Keduanya langsung kabur dari gardu yang dijaganya dan pergi ke rumah Bang Bodong. Sesampainya di sana mereka melaporkan bahwa telah diserang oleh seorang perusuh yang sedang mabuk. Kontan saja Bang Bodong menjadi marah dan berlari menuju gardu mencari si perusuh. Ketika bertemu si perusuh, tanpa bertanya lagi Bang Bodong langsung menyerang menggunakan jurus-jurus silat yang mematikan. Tetapi sama saja seperti kedua penjaga gardu, Bang Bodong tersungkur dengan sendirinya, walau Azni terpaksa harus meloncat, bersalto ke belakang, dan berguling-guling untuk menghindari serangannya.

Kekalahan Bang Bodong dari seorang pemuda tanggung akhirnya menyebar ke seluruh wilayah Marunda. Hal ini membuat Mirah "gerah" dan ingin menantang Asni bertarung untuk mengembalikan martabat sang ayah. Untuk itu, dia pun mendatangi Asni yang masih berada di Marunda. Ketika telah berhadapan, tanpa basa-basi Mirah langsung menyerang menggunakan tongkat dan jurus-jurus yang sangat mematikan. Tetapi, seperti halnya Bang Bodong dan kedua penjaga gardu, seluruh serangan Mirah dapat dielakkan dan bahkan membuatnya terlempar sendiri ke dalam kolam.

Dengen tubuh penuh lumpur kolam Mirah bangkit lagi lalu meraih pedang yang sejak tadi hanya disarungkan dekat pinggangnya. Tetapi entah bagaimana, dalam beberapa serangan pedang tersebut terlepas dan Mirah malah terpelanting ke pohon yang banyak cabangnya. Ketika jatuh, tubuhnya langsung ditangkap oleh Asni sambil tersenyum-senyum. Mirah menjadi semakin marah dan hendak mencekik Asmi. Untungnya, Bang Bodong yang dari tadi mengikuti jalannya pertarungan itu segera berteriak, "Berhenti! Kamu harus mengakuinya sebagai pemenang, Mirah. Dan sesuai dengan janjimu, pemuda ini berhak menjadi suamimu!"

Singkat cerita, Asni diterima sebagai menantu oleh Bang Bodong. Dan dengan demikian, segala perselisihan diantara mereka pun dapat diselesaikan. Bang Bodong akhirnya tahu bahwa Asni bukanlah pemuda mabok pembuat onar. Di datang ke Marunda karena ingin mencari pimpinan kawanan perampok yang telah menyatroni rumah Babah Yong. Bang Bodong tahu bahwa pimpinan kawanan perampok tersebut tidak lain adalah Tirta. Untuk dapat menangkapnya, Bang Bodong memberi usul agar Tirta bersama Bek Kemayoran dan Tuan Ruys diundang dalam perkawinan Asni dan Mirah.

Setelah undangan disebar secara besar-besaran, pada hari pelaksanaan perkawinan para tamu pun berdatangan dari berbagai pelosok. Saat Tirta datang, dia menjadi kaget bukan kepalang karena melihat Bek Kemayoran dan Tuan Ruys bersama para opasnya juga ada di sana. Begitu juga ketika Tirta duduk, mereka juga ikut duduk dengan posisi seolah-olah mengelilingi dan mengepungnya. Tirta menjadi gusar lalu mengeluarkan pistolnya untuk menembak Bek Kemayoran sekaligus menakuti opas-opas Tuan Ruys. Tetapi tembakan Tirta meleset dan malah membuat panik para tamu. Ketika dia hendak melepaskan tembakan kedua, Bang Bodong yang berusaha menghalangi malah tertembak dadanya hingga tidak sadarkan diri.

Sejurus setelah itu Tirta kabur dari acara pernikahan. Para opas, centeng serta kedua pengantin segera mengejarnya. Namun, dari seluruh pengejarnya hanya Mirah yang paling cepat dan dapat menyusul Tirta. Terjadilah pergumulan di antara mereka yang berakhir dengan sebuah letusan senjata. Wajah tirta seketika pucat dan ambruk ke tanah.

"Aku sudah lega dapat berjumpa dengamu, Mirah. Ambilah benda ini sebagai hadiah pernikahanmu," kata Tirta meringis kesakitan sambil menyerahkan sebuah bungkusan.

Ketika Asni menyusul, Mirah lalu membuka bungkusan itu yang ternyata berisi pending emas. Dengan rasa haru Mirah memperkenalkan Asni pada Tirta, "Ini suami saya, Bang."

"Kamu sebenarnya adalah adikku, Asni. Kita satu ayah, namun ibuku dari Karawang, sedangkan ibumu dari Banten," kata Tirta terbata-bata sambil memegang lengan Asni sebelum fisiknya melemah dan akhirnya tewas kehabisan darah.

Asni dan Mirah lalu pulang ke rumah untuk merawat Bang Bodong yang terkena peluru Tirta. Setelah Bang Bodong sembuh, beberapa minggu kemudian pasangan pengantin baru itu pindah ke Kemayoran. Di sana mereka hidup berbahagia hingga akhir hayat.

Diceritakan kembali oleh Gufron
hal
Dilihat: