Museum Affandi

Sejarah
Affandi adalah satu dari segelintir maestro seni lukis Indonesia beraliran ekspresionismeyang hasil karyanya pernah dipamerkan ke berbagai negara di dunia, baik di benua Asia, Eropa, Amerika, maupun Australia. Semasa hidupnya, pria yang lahir di Cirebon sekitar tahun 1907 ini telah menghasilkan lebih dari 2.000 buah karya lukis yang 300 buah diantaranya kini disimpan di museum sekaligus kediamannya (tokohindonesia.com). Letak museum berada di tepi Sungai Gajahwong atau tepatnya di Jalan Laksda Adisucipto No. 167 Yogyakarta dengan titik koordinat 7,7827°LS 110,3963°BT. Untuk mencapai lokasinya, apabila menggunakan angkutan umum relatif mudah karena masih berada di dalam kota dan tidak jauh dari bandara, terminal bus, dan stasiun kereta api. Jadi, dapat menggunakan taxi, bus Trans-Jogja, bus kota, becak atau bahkan andong.

Museum yang diberi nama Affandi ini dirancang oleh sang empunya nama sendiri pada sekitar tahun 1962 dengan biaya dari hasil penjualan lukisan-lukisannya. Menempati lahan di sekitar kediamannya, Affandi mulai membangun galeri pertamanya seluas 314,6 meter persegi sebagai ruang pamer. Namun, setelah digunakan selama beberapa tahun barulah galeri diresmikan pada sekitar tahun 1974 oleh Prof. Ida Bagus Mantra yang waktu itu menjabat sebagai Direktur Kebudayaan Umum (id.wikipedia.org).

Sekitar 13 tahun kemudian, dibangun lagi sebuah galeri seluas 351,5 meter persegi atas bantuan pemerintah melalui Presiden Soeharto yang kemudian diresmikan pada tanggal 9 Juni 1988 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Prof. Dr. Fuad Hasan (id.wikipedia.org). Setelah Affandi wafat2, Yayasan Affandi mendirikan sebuah galeri lagi yang peresmiannya dilakukan oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, pada bulan Mei tahun 2000. Galeri ini didirikan untuk memenuhi permintaan Sang Maestro yang ingin memiliki sebuah ruang penyimpanan (storage) untuk seluruh hasil karyanya maupun karya pelukis lain yang menjadi koleksinya. Dan, galeri terakhir dibangun sekitar tahun 2002 guna memamerkan lukisan-lukisan hasil karya keluarga Affandi.

Selanjutnya, agar lebih berperan aktif dalam mempromosikan seni dan budaya Indonesia serta sebagai bentuk perhatian terhadap dunia pendidikan dan pariwisata, pihak Yayasan Affandi selaku pengelola museum kemudian bergabung dalam oganisasi Barahmus (Badan Musyawarah Museum) Daerah Istimewa Yogyakarta dan menjadi anggota BMMI (Badan Musyawarah Museum Indonesia). Konsekuensi logis dari peran aktif tersebut tentu saja membuat museum harus memiliki visi dan misi sebagai pedoman untuk mencapai tujuan agar masyarakat dapat menikmati karya seni dan terinspirasi oleh sosok Affandi.

Adapun visi dan misi Museum Affandi menurut affandi.org adalah: (1) menjaga dan melestarikan (konservasi) dari Museum Affandi dan koleksinya; (2) mempromosikan nilai pendidikan dan rekreasi; (3) memberikan pelayanan yang terbaik kepada seluruh lapisan masyarakat; (4) berkomunikasi dan menginformasikan koleksi Museum Affandi sebagai bukti sejarah yang kaya seni dan budaya Indonesia; (5) mengembangkan Museum Affandi menuju standardisasi internasional, dan (6) membuat Museum Affandi sebagai pusat penelitian dan pengetahuan tentang koleksi karya Affandi.

Komplek Museum Affandi
Komplek Museum Affandi menempati lahan seluas 3.500 meter persegi, terdiri atas: menara pandang, bangunan tempat tinggal Affandi semasa hidup, sebuah gerobak, makam Affandi dan isterinya, empat buah galeri, dan dua buah studio. Menara pandang berada dalam posisi yang strategis sehingga apabila berada di bagian puncaknya dapat melihat seluruh komplek museum, Sungai Gajahwong, hingga hiruk pikuk di Jalan Laksda Adisucipto.

Agak ke barat dari menara pandang terdapat sebuah bangunan tempat tinggal Affandi berbentuk panggung dua lantai dengan tiang utama terbuat dari beton dan sebagian dari kayu berukir serta beratap menyerupai daun pisang. Bangunan yang sekarang difungsikan sebagai cafe bernama Loteng ini dahulu lantai atasnya adalah kamar tidur Afandi dan keluarganya sedangkan lantai bawah untuk ruang tamu dan garasi.

Di sebelah kiri bangunan rumah terdapat sebuah gerobak yang kini difungsikan sebagai mushola. Dahulu gerobak tersebut merupakan salah satu elemen pelengkap sebagai tempat beristirahat siang isteri Affandi, Maryati. Di dalamnya telah dimodifikasi menjadi sebuah ruangan lengkap dengan dapur dan toilet. Gerobak modifikasi ini adalah ide Affandi untuk mewujudkan permintaan Maryati yang menginginkan adanya sebuah tempat tinggal berpindah mirip seperti caravan di Amerika.

Beralih dari gerobak, terdapat galeri pertama yang menjadi cikal bakal Museum Affandi. Di dalamnya terdapat tempat pembelian tiket dan pusat informasi; beberapa buah patung terbuat dari perunggu, tanah liat, dan semen berbentuk wajah Affandi beserta puterinya (Kartika) buatan tahun 1943 dan 1954; lukisan-lukisan karya Affandi dalam media kanvas maupun sketsa menggunakan cat air, cat minyak, atau pastel; sebuah mobil Mitsubishi Colt Gallant buatan tahun 1976 berwarna kuning kehijauan yang dimodifikasi hingga menyerupai seekor ikan; sepeda onthel merk The Raleigh buatan tahun 1975; foto-foto kenangan Affandi; kliping berita koran; piagam penghargaan yang pernah diterima Affandi; seri perangko bergambar Affandi keluaran PT. Pos Indonesia; serta beberapa barang yang sehari-hari biasa dikenakan Affandi (sandal jepit, sarung bermotif kota-kotak, kuas, ember, kain, dan pipa cangklong kesayangannya).

Beberapa meter dari galeri pertama ada galeri kedua berukuran sekitar 315,5 meter persegi dan berlantai dua. Lantai pertama digunakan sebagai ruang pamer lukisan-lukisan yang bersifat abstrak, sementara lantai kedua untuk sejumlah lukisan yang lebih bercorak realis namun memiliki ketegasan (yogyes.com). Lukisan-lukisan tersebut berasal atau dibuat oleh para seniman kondang, seperti: Sudjojono, Barli, Basuki Abdullah, Hendra Gunawan, Fajar Sidik, Rusli, Popo Iskandar, Mochtar Apin, Wahdi S., Bagong Kussudiarjo, dan lain sebagainya.

Selanjutnya, ada galeri ketiga (tidak berapa jauh dari menara pandang) yang bangunannya mirip dengan galeri pertama dan kedua, yaitu berbentuk garis melengkung dengan atap menyerupai daun pisang. Galeri ketiga ini terdiri dari dua lantai plus satu lantai berada di bawah tanah. Lantai kedua dipergunakan sebagai ruang perawatan lukisan (restorasi), lantai dasar (ruang bawah tanah) sebagai tempat penyimpanan koleksi, sedangkan lantai pertama dipergunakan sebagai ruang pamer sejumlah karya seni keluarga Affandi, di antaranya: lukisan karya Rukmini Yusuf (puteri Affandi dari isteri keduanya); lukisan-lukisan Kartika Affandi (puteri Maryati) yang diberi judul "Apa yang Harus Kuperbuat" (Januari 1999), "Apa Salahku? Mengapa ini Harus Terjadi" (Februari 1999), "Tidak Adil" (Juni 1999), "Kembali pada Realita Kehidupan", dan Semua Kuserahkan Kepada-Nya" (Juli 1999); lukisan Juki Affandi; dan lukisan serta sulaman Maryati (isteri pertama Affandi).

Terakhir, ada sebuah galeri lagi dengan atap terbuat dari anyaman bambu yang difungsikan sebagai ruang pamer bagi berbagai lukisan karya Didit, cucu Affandi. Selain itu, ada pula dua buah studio yang dibangun pada tahun 2004 dan 2010. Studio yang namanya diambil dari sungai yang mengalir di sebelahnya ini dipergunakan sebagai ruang pameran, lokakarya, dan tempat bagi anak-anak maupun orang dewasa belajar, mengembangkan inovasi, kreativitas, dan bakatnya dalam bidang seni rupa.

Bagaimana? Anda berminat mengunjungi dan menikmati seluruh hasil karya para seniman yang ada di Museum Affandi? Sebagai catatan, Museum Affandi dibuka untuk umum dari hari Senin-Minggu dengan perincian: Senin-Sabtu pukul 09.00-16.00 WIB, sedangkan Minggu pukul 09.00-13.00 WIB. Khusus untuk hari Minggu terlebih dahulu harus menghubungi pengelola museum karena kemungkinan tidak buka. Adapun biaya masuknya hanya sebesar Rp. 20.000,00 (sudah termasuk bonus pensil dan kupon soft drink di Cafe Loteng), serta tambahan Rp.10.000,00 apabila ingin memotret di dalam galeri (sekarang tidak diperkenankan lagi memotret). (Ali Gufron)

Foto: http://asiaforvisitors.com/indonesia/java/central/yogya/museum-affandi/index.php
Sumber:
"Mission and Vission", diakses dari http://www.affandi.org/museum/organization/mission-and-vission, tanggal 11 Desember 2014.

"Pengertian dan Sejarah Seni Rupa Aliran Ekspressionisme", diakses dari http://www.g-excess.com/pengertian-dan-sejarah-seni-rupa-aliran-ekspressionisme.html, tanggal 11 Desember 2014.

"Affandi, Maestro Seni Lukis Indonesia", diakses dari http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/285-ensiklopedi/564-maestro-seni-lukis-indonesia, tanggal 12 Desember 2014.

"Museum Affandi, Mengunjungi Istana Sang Maestro", diakses dari http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/museum-and-monument/affandi/, tanggal 12 Desember 2014.

"Museum Affandi", diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Affandi, tanggal 13 Desember 2014.
__________________________________________________________________
[1] Menurut g-excess.com, ekspresionisme adalah kecenderungan untuk mendistorsi kenyataan dengan efek-efek emosional yang dituangkan oleh seorang seniman dalam bentuk karya lukis, sastra, film, arsitektur, atau musik. Selain itu, ekspresionisme juga didefinisikan sebagai kebebasan distorsi bentuk dan warna untuk melahirkan emosi ataupun sensasi dari dalam yang biasanya dihubungkan dengan kekerasan atau tragedi.
[2] Affandi wafat pada tanggal 23 Mei 1990 dan dimakamkan di antara galeri I dan II, berdampingan dengan isteri dan dikelilingi oleh seluruh hasil karya seninya.

Museum Batara Guru

Museum Batara Guru berada di Jalan Andi Jemma No.1, Kelurahan Batu Pasi, Kecamatan Wara Utara, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Untuk mencapainya, apabila menggunakan angkutan umum relatif mudah karena hanya berjarak sekitar 1,5 kilometer dari Pelabuhan Tanjungringgit dan 3 kilometer dari Terminal Dangerakko.

Museum ini dahulu merupakan istana Raja Luwu yang dibangun sekitar tahun 1920. Setelah tidak ditempati lagi, bangunan dijadikan museum dan diberi nama Museum Batara Guru pada tanggal 26 Juli 1971. Adapun peresmiannya dilakukan oleh Andi Achmad, salah seorang ahli waris Raja Luwu yang saat itu menjabat sebagai Bupati Luwu. Tujuan pendiriannya, adalah untuk melestarikan budaya Kerajaan Luwu agar dapat diwariskan pada generasi berikutnya.

Museum Batara Guru memiliki luas tanah sekitar 10.000 meter persegi yang di dalamnya terdapat sebuah bangunan berukuran sekitar 968 meter persegi. Di dalam bangunan itu terdapat sebuah ruang pamer seluas 120 meter persegi, ruang administrasi, ruang perpustakaan, mushola dan juga toilet. Ruang pamer museum menyimpan sekitar 831 buah koleksi, terdiri atas koleksi prasejarah, keramik, heraldika, etnografi, naskah, numismatik, dan foto-foto. Sebagai catatan, apabila berniat menyaksikan ke-831 koleksi tersebut Museum Batara Guru dapat dikunjungi pada hari Selasa, Rabu, Kamis, Jumat dan Minggu dengan perincian: Selasa-Kamis dan Minggu pukul 08.00-16.00 WITA, sedangkan Jumat pukul 08.00-10.30 WITA. Khusus untuk hari Senin dan Sabtu museum ditutup untuk umum.

Foto: http://www.sulsel.go.id/content/museum-batara-guru

Pantai Jogan

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki garis pantai sepanjang 113 kilometer yang terbagi dalam tiga kabupaten, yaitu: Gunungkidul (71 kilometer), Bantul (17 kilometer), dan Kulon Progo sepanjang 25 kilometer (ppejawa.com). Di sepanjang alur pantai tersebut terdapat puluhan obyek wisata bahari yang sering dikunjungi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Salah satu diantaranya adalah Pantai Jogan yang terletak di Desa Purwodadi, Kecamatan Tapus, Kabupaten Gunung Kidul.

Untuk mencapai lokasi pantai yang berkoordinat di S8°10'49" E110°40'33" ini, dari Yogyakarta berjarak sekitar 70 kilometer atau sekitar 2 jam perjalanan. Adapun rutenya menurut wisataku.net dan kedaisusu01.blogspot.com adalah sebagai berikut: dari Kota Yogya menuju Piyungan, Patuk, Sambipitu, rest area Hutan Bunder, Gading, Bundaran Siyono, Alun-alun Wonosari, Baleharjo, Jalan Wonosari Semanu, Jembatan Jirak Semanu, Pasar Semanu, Panggul, Jalan Girisubo Wonosari, Purwodadi, hingga Jalan Raya Pantai Siung. Dan, apabila telah berada di dekat pos retribusi Pantai Siung, perjalanan dilanjutkan melalui jalan bercor semen ke arah barat sejauh kurang lebih 200 meter menuju Pantai Jogan.

Kondisi Pantai Jogan
Pantai Jogan berada diantara tebing-tebing tinggi pegunungan kapur yang langsung berhadapan dengan laut sehingga nyaris tidak berpasir. Di pantai yang relatif masih sepi ini pengunjung dapat melihat keindahan alam berupa garis horizon panjang yang mempertemukan langit dan lautan sambil menikmati deburan ombak khas laut selatan yang tinggi, besar, dan konstan. Selain itu, dapat pula dapat pula melihat sebuah air terjun yang hanya berjarak sekitar 10 meter dari bibir pantai. Air terjun yang juga diberi nama Jogan ini berketinggian sekitar 10 meter dengan debit air bergantung musim. Apabila musim penghujan, air yang berasal dari pegunungan (kapur) karst di sekitar Kecamatan Tapus akan mengalir deras melalui dua buah sungai kecil menuju ke air terjun. Namun bila musim kemarau tiba, debit airnya sangat kecil dan bahkan nyaris kering.

Sebagai catatan, apabila tidak puas dengan hanya menyaksikan keindahan air terjun dari kejauhan dan ingin berada tepat di bawah curahan airnya haruslah bersusah payah terlebih dahulu dengan cara menuruni jalan berbatu karang yang agak licin dan tajam hanya dengan bantuan kayu-kayu pegangan sebagai penopang tubuh serta melewati karang-karang yang dihuni oleh ribuan bayi kepiting berwarna transparan berukuran 5 milimeter. (gufron)

Foto: http://ayongetrip.com/wisata-gunung-kidul-air-terjun-di-pantai-jogan/
Sumber:
"Peta Pantai Jogan Air Terjun Jogan Gunungkidul", diakses dari http://kedaisusu01.blogspot.com/2012/11/peta-pantai-jogan-air-terjun-jogan.html, tanggal 5 Desember 2014.

"Cantiknya Air Terjun Jogan di Gunungkidul", diakses dari http://wisataku.net/cantiknya-air-terjun-jogan-di-gunungkidul.html, tanggal 5 Desember 2014.

"Ekoregion Provinsi D.I. Yogyakarta, diakses dari http://ppejawa.com/16_ekoregion_provinsi_di_yogyakarta.html, tanggal 6 Desember 2014.

Air Terjun Jogan

Air terjun Jogan terletak di Desa Purwodadi, Kecamatan Tapus, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Untuk mencapai lokasi air terjun yang berkoordinat di S8°10'49" E110°40'33" ini, dari Yogyakarta berjarak sekitar 70 kilometer atau sekitar 2 jam perjalanan. Adapun rutenya menurut wisataku.net dan kedaisusu01.blogspot.com adalah sebagai berikut: dari Kota Yogya menuju Piyungan, Patuk, Sambipitu, rest area Hutan Bunder, Gading, Bundaran Siyono, Alun-alun Wonosari, Baleharjo, Jalan Wonosari Semanu, Jembatan Jirak Semanu, Pasar Semanu, Panggul, Jalan Girisubo Wonosari, Purwodadi, hingga Jalan Raya Pantai Siung. Dan, apabila telah berada di dekat pos retribusi Pantai Siung, perjalanan dilanjutkan melalui jalan bercor semen ke arah barat sejauh kurang lebih 200 meter menuju Pantai Jogan.

Setelah sampai di Pantai Jogan pengunjung akan melihat sebuah air terjun yang hanya berjarak sekitar 10 meter dari bibir pantai. Air terjun ini berketinggian sekitar 10 meter dengan debit air bergantung musim. Apabila musim penghujan, air yang berasal dari perbukitan (kapur) karst di sekitar Kecamatan Tapus akan mengalir deras melalui sungai-sungai kecil menuju ke air terjun. Namun bila musim kemarau tiba, debit airnya sangat kecil dan bahkan nyaris kering.

Sebagai catatan, apabila tidak puas dengan hanya menyaksikan keindahan air terjun dari kejauhan dan ingin berada tepat di bawah curahan airnya haruslah bersusah payah terlebih dahulu dengan cara menuruni jalan berbatu karang yang agak licin dan tajam hanya dengan bantuan kayu-kayu pegangan sebagai penopang tubuh serta melewati karang-karang yang dihuni oleh ribuan bayi kepiting berwarna transparan berukuran 5 milimeter.

Foto: http://yogyakarta.panduanwisata.id/daerah-istimewa-yogyakarta/gunung-kidul/air-terjun-pantai-jogan-kesegaran-mata-air-bukit-karst/
Sumber:
"Peta Pantai Jogan Air Terjun Jogan Gunungkidul", diakses dari http://kedaisusu01.blogspot.com/2012/11/peta-pantai-jogan-air-terjun-jogan.html, tanggal 5 Desember 2014.

"Cantiknya Air Terjun Jogan di Gunungkidul", diakses dari http://wisataku.net/cantiknya-air-terjun-jogan-di-gunungkidul.html, tanggal 5 Desember 2014.

Air Terjun Gedangan

Bila mendengar nama Giriloyo pikiran kita mungkin akan tertuju pada sebuah daerah di Yogyakarta yang terkenal akan sentra produksi batik-tulisnya. Batik tulis yang diproduksi penduduk Giriloyo konon berawal bersamaan dengan berdirinya makam raja-raja di Imogiri yang terletak di Bukit Merak pada sekitar tahun 1654. Sejalan dengan berdirinya makam raja-raja itu maka perlu tenaga yang bertanggung jawab untuk memelihara dan menjaganya. Untuk itu, keraton menugaskan sebagian abdi dalemnya yang dikepalai oleh seorang berpangkat bupati. Para abdi dalem itulah yang menularkan kepandaian membatik dengan motif batik halus keraton di wilayah Bukit Merak, khususnya di Dusun Pajimatan. Dari Pajimatan, keterampilan membatik akhirnya menular ke daerah lain di sekitarnya, termasuk ke Giriloyo.

Selain mendapat predikat sebagai sentra batik-tulis, Giriloyo ternyata juga menyimpan sebuah daya tarik lain yang juga dapat menyedot wisatawan untuk datang berkunjung. Daya tarik itu berupa beberapa air terjun yang salah satunya bernama Gedangan. Untuk mencapai air terjun ini, menurut wizid.blogspot.com dan jogjaholidays.com, dapat ditempuh melalui dua rute. Rute pertama, melewati salah satu dusun di Kelurahan Wukirsari dengan kondisi jalan telah beraspal. Dan, rute kedua, melalui jalan tanah selebar 30-50 centimeter sejauh 1,5 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 45 menit.

Kondisi Air Terjun Gedangan
Air Terjun Gedangan memiliki ketinggian sekitar delapan meter dengan curahan membentuk sebuah kolam berkedalaman sekitar satu meter. Oleh masyarakat setempat air terjun ini juga dinamakan sebagai air terjun Seribu Batu karena lokasinya dikelilingi oleh ribuan bebatuan yang berasal dari gunung api tua Ngelanggran (www.ragamtempatwisata.com.com, 2014). Adapun aliran airnya berasal dari sebuah sumber mata air di puncak pegunungan Mabul yang berhilir di Sungai Oya dan akhirnya bermuara di Pantai Parang Wedang. Bagi sebagian masyarakat, air dari pegunungan Mabul yang berdekatan dengan komplek makam raja-raja Mataram dan terjun bebas di Gedangan ini dipercaya memiliki khasiat tersendiri, yaitu dapat membuat seseorang yang menadi menjadi terlihat awet muda dan juga dapat mempererat hubungan antara suami-isteri. (gufron)

Foto: http://yogyakarta.panduanwisata.id/daerah-istimewa-yogyakarta/bantul/air-terjun-cengkehanseribu-batu/
Sumber:
"Objek Wisata Air Terjun Seribu Batu (Gedangan) Imogiri Bantul Yogyakarta". 2014. Diakses dari http://wizid.blogspot.co.uk/2014/03/objek-wisata-air-terjun-seribu-batu-gedangan-imogiri-bantul-yogyakarta.html, tanggal 1 Desember 2014.

"Air Terjun Gedangan", diakses dari http://jogjaholidays.com/article/130394/air-terjun-gedangan.html, tanggal 2 Desember 2014.

"Wisata Alam Air Terjun Gedangan - Bantul". 2014. Diakses dari http://www.ragamtempatwisata.com/2014/01/wisata-alam-air-terjun-gedangan-bantul.html, tanggal 2 Desember 2014.

Honda Ape 100 (2013)

Technical Specifications
2013 Honda Ape 100
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air cooled, single cylinder, four-stroke, OHC
53.0 x 45.0 mm (2.1 x 1.8 inches)
99.00 ccm (6.04 cubic inches)
2 valves per cylinder


6.60 Nm (0.7 kgf-m or 4.9 ft.lbs) @ 6000 rpm
Carburettor
5-speed
Chain
Wet, multiplate
DC-CDI (Capacitor Discharge Ignition)
Kick Starter




1st:
2nd:
3rd:
4th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

Diamond

1715 mm (67.5 inches)
770 mm (30.3 inches)
1155 mm (45.5 inches)
1190 mm (46.9 inches)
715 mm (28.1 inches)
140 mm (5.5 inches)
90 kg
5.50 litres (1.45 gallons)
Silver, grey
Telescopic Fork
Swing arm (Pro-link)
120/80-R12
120/80-R12
Expanding brake (drum brake)
Expanding brake (drum brake)

Image: http://www.ibike.com.hk/02_market/ahlam/web/04_exhaustsystem/yoshimura/2007/1_exhaust/honda/ape100/1.htm

Honda RS 125

Technical Specifications
Honda RS 125
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air cooled, single cylinder, four-stroke, OHC
52.4 mm x 57.9 mm
124.8 cc
2 valves per cylinder

6.9 (9.4) @ 7,500 rpm
10.4 @ 5,000 rpm
Carburetor
Constant Mesh, 4-Speed rotary type / N-1-2-3-4
Chain

DC-CDI (Capacitor Discharge Ignition)
Electric & Kick Starter




1st:
2nd:
3rd:
4th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)



1909mm
800mm
1068mm
1237 mm
776 mm
132 mm
96.3 kg
3.8 litres
Magnetite silver, sahara blue metallic, victory red
Telescopic Fork
Twin shocks
2.25 - R17 M/C 33L
2.50 - R17 M/C 38L
Hydraulic ventilated disk
Mechanical leading trailing

Image: http://www.hondaph.com/showcase/rs-125

Honda XRM125 DSX

Technical Specifications
Honda XRM125 DSX
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air cooled, single cylinder, four-stroke, OHC
52.4 mm x 57.9 mm
124.8 cc
2 valves per cylinder

6.9 (9.4) @ 7,500 rpm
10.4 @ 5,000 rpm
Carburetor
Constant Mesh, 4-Speed rotary type / N-1-2-3-4
Chain

DC-CDI (Capacitor Discharge Ignition)
Electric & Kick Starter




1st:
2nd:
3rd:
4th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)



1902mm
805mm
1072mm
1239 mm
776 mm
136 mm
99 kg
3.8 litres
Black
Telescopic Fork
Twin shocks
2.50 - R17 M/C 33L
2.50 - R17 M/C 38L
Hydraulic ventilated disk
Hydraulic ventilated disk

Image: http://www.hondaph.com/showcase/xrm125-dsx

Honda Wave Dash 110

Technical Specifications
Honda Wave Dash 110
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air cooled, single cylinder, four-stroke, OHC
50.0 mm x 55.6 mm
110.1 cc
2 valves per cylinder

6.22 (8.46) @ 7,500 rpm
8.59 @ 5,500 rpm
Carburetor
Constant Mesh, 4-Speed rotary type / N-1-2-3-4
Chain

DC-CDI (Capacitor Discharge Ignition)
Electric & Kick Starter




1st:
2nd:
3rd:
4th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)



1885mm
709mm
1071mm
1221 mm
669mm
147mm
94 kg
3.7 litres
Blue, red, silver
Telescopic Fork
Twin shocks
70/90 - R17 M/C 38P
80/90 - R17 M/C 50P
Hydraulic ventilated disk
Mechanical leading trailing

Image: http://www.hondaph.com/showcase/wave-dash-110

Honda NC750X (2014)

Technical Specifications
2014 Honda NC750X
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Liquid cooled, twin cylinders, four-stroke, SOHC
77.0 x 80.0 mm (3.0 x 3.1 inches)
745.00 ccm (45.46 cubic inches)
4 valves per cylinder
10.7:1
68.00 Nm (6.9 kgf-m or 50.2 ft.lbs) @ 4750 rpm

Injection. PGM-FI, 36mm throttle body
6-speed
Chain
Wet multiplate hydraulic clutch (DCT:Wet multiplate hydraulic 2-clutch)
Computer-controlled digital transistorised with electronic advance
Electric starter



12V-11.2AH battery
1st:
2nd:
3rd:
4th:
5th:
6th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

Diamond
27.0°
2210 mm (87.0 inches)
840 mm (33.1 inches)
1285 mm (50.6 inches)
1540 mm (60.6 inches)
830 mm (32.7 inches
165 mm (6.5 inches)
219 kg
14.10 litres (3.73 gallons)
Red, white, black
41mm telescopic fork
Monoshock damper, Pro-Link swingarm, 150mm travel
120/70-ZR17
160/60-ZR17
Single disc 320mm with two-piston calipers
Single disc 240mm with two-piston calipers

Image: http://www.pro-bike.ro/forums/topic/114433-honda-nc750x-abs-anul-fabricatiei-2014/

Honda XRM125 Dual Sport

Technical Specifications
Honda XRM125 Dual Sport
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air cooled, single cylinder, four-stroke, OHC
52.4 mm x 57.9 mm
124.8 cc
2 valves per cylinder

6.9 (9.4) @ 7,500 rpm
10.4 @ 5,000 rpm
Carburetor
Constant Mesh, 4-Speed rotary type / N-1-2-3-4
Chain

DC-CDI (Capacitor Discharge Ignition)
Electric & Kick Starter




1st:
2nd:
3rd:
4th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)



1902mm
805mm
1072mm
1239 mm
7756mm
136 mm
99 kg
3.8 litres
River side blue, black, fighting red
Telescopic Fork
Twin shocks
2.50 - 17 M/C 33L
2.50 - 17 M/C 38L
Hydraulic ventilated disk
Mechanical leading trailing

Image: http://www.hondaph.com/showcase/xrm125-dual-sport

Honda XRM125 Motard

Technical Specifications
Honda XRM125 Motard
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air cooled, single cylinder, four-stroke, OHC
52.4 mm x 57.9 mm
124.8 cc
2 valves per cylinder

6.9 (9.4) @ 7,500 rpm
10.4 @ 5,000 rpm
Carburetor
Constant Mesh, 4-Speed rotary type / N-1-2-3-4
Chain

DC-CDI (Capacitor Discharge Ignition)
Electric & Kick Starter




1st:
2nd:
3rd:
4th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)



1893mm
796mm
1028mm
1239 mm
775 mm
134 mm
101 kg
3.8 litres
Red, white, black
Telescopic Fork
Twin shocks
2.50 - 17 M/C 33L
2.50 - 17 M/C 38L
Hydraulic ventilated disk
Hydraulic ventilated disk

Image: http://www.hondaph.com/showcase/xrm125-motard

Honda Wave 125 Alpha

Technical Specifications
Honda Wave 125 Alpha
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air cooled, single cylinder, four-stroke, OHC
52.4 mm x 57.9 mm
124.8cc
2 valves per cylinder

68.00 Nm (6.9 kgf-m or 50.2 ft.lbs) @ 4750 rpm

Carburetor
Constant Mesh, 4-Speed rotary type / N-1-2-3-4
Chain

DC-CDI
Electric & Kick Starter



12V-11.2AH battery
1st:
2nd:
3rd:
4th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)



1889 mm
725 mm
1113 mm
1253 mm
778 mm
157 mm
100 kg
3.7 litres
Red, white, black
Telescopic Fork
Twin shocks
2.50 - R17 38L
2.75 - R17 47P
Single hydraulic disc
Mechanical leading trailing

Image: https://ph.news.yahoo.com/leader-pack-hpi-launches-wave-084106674.html

Honda TMX Supremo

Technical Specifications
Honda TMX Supremo
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air cooled, single cylinder, four-stroke, OHC
57.3mm x 57.8mm
149.2 cc
2 valves per cylinder

7.85 (10.7)(10.5hp) @ 7,000 rpm
11.58 (1.18kgfm) @ 5,000rpm
Carburetor
Constant Mesh 5-Speed, manual / 1-2-3-4-5
Chain

DC-CDI
Electric & Kick Starter



12V-11.2AH battery
1st:
2nd:
3rd:
4th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)



2037 mm
778 mm
1068 mm
1306 mm
771 mm
163 mm
120 kg
14.3 litres
Candy ruby red, black, blue metallic
Telescopic Fork
Twin shocks
80/100 - 18M/C 47P
90/90 - 18M/C 51P
Mechanical leading trailing
Mechanical leading trailing

Image: http://www.hondaph.com/showcase/tmx-supremo

Honda Wave 100R (2014)

Technical Specifications
2014 Honda Wave 100R
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air cooled, singlecylinders, four-stroke, OHC
50.0 x 49.5 mm (2.0 x 1.9 inches)
97.10 ccm (5.93 cubic inches)
2 valves per cylinder

7.34 Nm (0.7 kgf-m or 5.4 ft.lbs) @ 5500 rpm

Carburettor
4-speed
Chain

AC-CDI (Capacitor Discharge Ignition)
Electric & kick starter




1st:
2nd:
3rd:
4th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

Steel
27.0°
1898 mm (74.7 inches)
705 mm (27.8 inches)
1057 mm (41.6 inches)
1234 mm (48.6 inches)
751 mm (29.6 inches)
133 mm (5.2 inches)
91.5 kg (201.7 pounds)
3.70 litres (0.98 gallons)
Blue, red, white, silver
Telescopic fork
Twin shocks
2.25 - 17 M/C 33L
2.50 - 17 M/C 38L
Single disc. Hydraulic, ventilated
Expanding brake (drum brake)

Image: http://www.hondaph.com/showcase/wave-100r

Honda NC750S (2014)

Technical Specifications
2014 Honda NC750S
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Liquid cooled, twin cylinders, four-stroke, SOHC
77.0 x 80.0 mm (3.0 x 3.1 inches)
745.00 ccm (45.46 cubic inches)
4 valves per cylinder
10.7:1
68.00 Nm (6.9 kgf-m or 50.2 ft.lbs) @ 4750 rpm

Injection. PGM-FI, 36mm throttle body
6-speed
Chain
Hydraulic wet multi-plate clutch/clutches (DCT)
Computer-controlled digital transistorised with electronic advance
Electric starter



12V-11.2AH battery
1st:
2nd:
3rd:
4th:
5th:
6th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

Diamond
27.0°
2195 mm (86.4 inches)
780 mm (30.7 inches)
1130 mm (44.5 inches)
1525 mm (60.0 inches)
790 mm (31.1 inches)
140 mm (5.5 inches)
216 kg
14.00 litres (3.70 gallons)
Red, white, black
41mm telescopic fork
Monoshock damper, Pro-Link swingarm
120/70-ZR17
160/60-ZR17
Single disc 320mm with two-piston calipers
Single disc 240mm with two-piston calipers

Image: http://tuningpp.com/shad-nc750s-2-jpg/

Honda NC750D Integra (2014)

Technical Specifications
2014 Honda NC750D Integra
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Liquid Cooled, in-line twin cylinders, four-stroke, SOHC
77.0 x 80.0 mm (3.0 x 3.1 inches)
745.00 ccm (45.46 cubic inches)
4 valves per cylinder
10.7:1

68.00 Nm (6.9 kgf-m or 50.2 ft.lbs) @ 4750 rpm
Injection. PGM-FI electronic fuel injection

Chain
Hydraulic wet multi-plate clutch
Computer-controlled digital transistorised with electronic advance
Electric starter
Forced pressure and wet sump


12V-6AH
1st:
2nd:
3rd:
4th:
5th:
6th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

Diamond steel

2195 mm (86.4 inches)
810 mm (31.9 inches)
1440 mm (56.7 inches)
1525 mm (60.0 inches)
790 mm (31.1 inches)
135 mm (5.3 inches)
219.8 kg
14.10 litres
White/black/red/blue
41mm telescopic fork
Monoshock damper, Pro-Link swingarm
120/70-ZR17
160/60-ZR17
Single hydraulic disc 320mm with two-piston caliper
Single hydraulic disc 240mm with single-piston caliper

Image: http://www.honda-geneve.com/catalog/NC750D_Integra.php

Curug Cikaso

Provinsi Jawa Barat memiliki banyak obyek wisata yang dapat dijadikan sebagai "ladang" pendapatan daerahnya. Salah satu dari sekian banyak obyek wisata tersebut adalah Curug Cikaso. Curug Cikaso adalah sebuah obyek wisata alam berupa air terjun (curug) yang terletak di Kampung Ciniti, Desa Cibitung, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Obyek wisata ini sebenarnya bernama Curug Luhur, namun karena aliran airnya berasal dari anak Sungai Cikaso, maka kebanyakan orang menyebutnya Curug Cikaso (disparbud.jabarprov.go.id).

Untuk mencapai obyek wisata Curug Cikaso yang mempunyai titik koordinat 7° 21' 40.13" S 106° 37' 3.88" E dapat ditempuh melalui beberapa rute (menggunakan kendaraan pribadi atau umum) karena hanya berjarak sekitar 8 kilometer dari Surade, 15 kilometer dari Jampang Kulon, 30 kilometer dari Ujunggenteng, 70 kilometer dari Pelabuhanratu, dan 110 kilometer dari Kota Sukabumi. Rute pertama, menurut id.wikipedia.org, dapat ditempuh dari Kota Sukabumi ke selatan menuju arah Pantai Ujung Genteng selama kurang lebih empat jam perjalanan. Bila telah sampai di pertigaan Cinagean, Jampang Kulon, dapat menuju arah Cikaso sejauh lima kilometer. Namun bila sampainya di pertigaan Cibarehong arah SMAN 1 Surade, maka perjalanan menuju curug hanya tinggal sejauh tiga kilometer lagi.

Sedangkan rute lainnya, menurut utiket.com, dari Surade yang hanya berjarak sekitar delapan kilometer menuju pertigaan Jalan Cikaso menggunakan angkutan umum trayek Surade - Cikaso dengan tarif tarif Rp.6.000,00 per orang (sebelum BBM naik). Setelah tiba di pertigaan Jalan Cikaso perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh beberapa kilometer melewati lahan persawahan dan perladangan milik penduduk. Namun apabila malas berjalan kaki terlalu jauh, dapat pula menggunakan jasa sampan yang banyak "ngetem" di sekitar jembatan Cikaso dekat pertigaan. Ongkosnya antara Rp.70.000,00-Rp.80.000,00 per sampan berisi 10-12 orang penumpang. Kemudian, baru dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 100 meter menuju lokasi Curug Cikaso.

Kondisi Curug Cikaso dan Fasilitas yang Tersedia
Curug Cikaso merupakan bentukan dari tiga curug (air terjun) berketinggian sekitar 80 meter, yaitu: Curug Asepan di bagian kiri, Curug Meong di bagian tengah, dan Curug Aki yang letaknya agak tersembunyi di bagian kanan (timur). Ketiganya bertemu dan membentuk sebuah kolam besar dengan warna airnya yang hijau kebiru-biruan. Di kolam ini pengunjung dapat mandi, berenang, atau hanya sekadar bermain air sambil bercengkerama bersama keluarga. Namun, bila tidak ingin berenang atau bermain air, pengunjung masih dapat menikmati pemandangan alam yang sangat indah di sekitar curug, terutama pada pagi hari, saat limpahan air terjun membentuk butiran-butiran halus akibat terkena bias terpaan sinar matahari yang baru terbit.

Dan, apabila merasa lapar karena telah puas bermain, di sekitar curug terdapat warung-warung sederhana yang menjual berbagai macam makanan dan minuman. Selain warung, pihak pengelola obyek wisata Curug Cikaso juga menyediakan kios-kios penjual cinderamata, jasa penyewaan pelampung, dan dua buah MCK sebagai tempat membilas tubuh atau buang hajat. Sebagai catatan, untuk dapat menikmati keindahan Curug Cikaso, pengunjung hanya dikenakan biaya sebesar Rp.2.000,00 untuk tiket masuknya. (gufron)

Foto: http://www.anjieya.com/2012/06/beauty-of-cikaso-waterfall-sukabumi.html
Sumber:
"Curug Cikaso", diakses dari http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=278&lang=, tanggal 25 November 2014.

"Air Terjun Cikaso - Sukabumi", diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Air_terjun_Cikaso_-_Sukabumi, tanggal 25 November 2014.

"Curug Cikaso Bandung, Indonesia", diakses dari http://www.utiket.com/id/obyek-wisata/bandung/306-curug_cikaso.html, tanggal 26 November 2014.

Arsitektur Tradisional Masyarakat Sasak

Sasak1 adalah salah satu suku bangsa yang ada di Pulau Lombok2, yang secara administratif termasuk dalam wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat (id.wikipedia.org). Masyarakatnya mengembangkan desain rumah yang diwariskan dari nenek moyang mereka. Rumah bagi masyarakat Sasak, tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung dari dinginnya udara malam, teriknya sinar matahari, dan derasnya air hujan, tetapi juga memiliki fungsi lain yang sangat erat kaitannya dengan kondisi sosial-budaya mereka. Oleh karena itu, selaras dengan fungsinya, mereka mengenal dan mengembangkan berbagai jenis rumah. Tulisan ini mencoba mengetengahkan arsitektur tradisional yang ditumbuh-kembangkan oleh mereka, khususnya yang berdiam di di Pulau Lombok.

Jenis-jenis Rumah Tradisional Orang Sasak di Lombok
Jenis-jenis rumah tradisional orang Sasak yang ada di Pulau Lombok, di antaranya adalah: rumah tempat tinggal, bangunan tempat menyimpan, dan rumah ibadah. Berikut ini akan diuraikan ketiga jenis rumah tradisional tersebut.

a. Rumah Tempat Tinggal
Rumah tradisional orang Sasak pada umumnya berbentuk rumah panggung (bale-bale) atau menggunakan bataran3 rumah yang tinggi dengan atap dan bubungan yang terbuat dari alang-alang (jerami). Bentuk atapnya menyerupai bentuk rumah limasan, namun ditambah emper sebagai atap serambi. Sedangkan, dinding rumah terbuat dari anyaman bambu (gedek) dan tanpa jendela.

Bagian depan rumah (serambi/sesangkok) dibuat terbuka atau tanpa dinding dan dibagi menjadi dua bagian, yaitu bataran lantar (panjang) dan bataran kontek (pendek). Bagian serambi rumah ini kadang juga digunakan untuk menerima tamu. Sebagai catatan, sebagian rumah tradisional masyarakat Sasak juga memiliki ruang tamu khusus yang letaknya di depan serambi rumah. Ruang tamu khusus ini dapat dibagi menjadi tiga bentuk, yaitu: (1) sekepat (ruang tamu yang bertiang empat dan beratap piramid). Di ruangan ini dipasang lasah atau tempat duduk yang terbuat dari bambu yang tingginga sekitar 75 cm; (2) beruga atau sekenam (ruang tamu yang bertiang enam buah dan atapnya berbentuk limasan); dan (3) bale jajar yang bentuknya menyerupai beruga namun dibawahnya memiliki bataran tanah.

Pada bagian dalam rumah terdapat ruang tidur yang dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu: dalem bale (ruang tidur biasa) dan kudok bale yang dibagi lagi menjadi amben pengalu (kamar pengantin atau sering juga dipakai sebagai kamar gadis) dan amben pengak (tempat melahirkan). Di ruang tidur ini terkadang juga terdapat para-para (sempara) yang digunakan sebagai tempat menyimpan barang-barang.

b. Rumah Tempat Penyimpanan
Di daerah Lombok, rumah tempat menyimpan tidak hanya dipergunakan sebagai lumbung padi saja, tetapi juga dapat dipakai sebagai tempat untuk menerima tamu. Rumah tempat penyimpanan ini dapat berada di muka atau belakang rumah tinggal dan dapat pula berada pada tempat khusus di luar kampung, bersama dengan lumbung-lumbung padi milik warga kampung lainnya.

Bentuk rumah tempat penyimpanan padi di daerah Lombok dapat dibagi menjadi tiga tipe, yaitu: (1) lumbung padi yang atapnya terbuat dari alang-alang yang dibuat sedemikian rupa hingga melengkung ke atas dan tiangnya berbentuk silinder dengan ujung yang dibuat mirip seperti cakram yang berfungsi sebagai penghalang tikus. Lumbung padi seperti ini banyak terdapat di Lombok bagian selatan; (2) lumbung padi yang atapnya terbuat dari alang-alang atau daun kelapa yang dibuat sedemikian rupa sehingga membentuk seperti rumah kodong, sementara tiangnya sama seperti tiang lumbung tipe pertama namun bagian tengahnya agak besar. Lumbung padi seperti ini banyak terdapat di daerah Lombok bagian timur dan biasa disebut sambi atau pantek; dan (3) dan lumbung padi yang atapnya terbuat dari alang-alang atau daun kepala dan tiangnya berbentuk silinder yang panjangnya hanya sekitar 1 meter. Lumbung padi seperti ini banyak terdapat di bagian utara Pulau Lombok dan biasa disebut sambi.

d. Rumah Ibadah
Jenis rumah ibadah orang Sasak di Pulau Lombok adalah masjid dan santren (langgar) (Hilman, 2008). Bangunan masjid tradisional, terutama yang berada di wilayah Lombok utara dan selatan, sebagian masih mendapat pengaruh dari Hindu (Meru) yang memiliki ciri-ciri: (1) atap bertopang tua atau tiga; (2) pintu masjid hanya satu yang terdapat di bagian depan; dan (3) berdinding gedek (anyaman bambu) dan tanpa jendela. Sedangkan, tiang penyangga masjid atau sake guru berada di tengah-tengah bangunan, sebanyak satu hingga empat buah. (ali gufron)

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1992. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara III. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

"Suku Sasak", diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Sasak, tanggal 25 November 2014.

Hilman, Agus, "Kearifan Religi Masyarakat Lombok", diakses dari https://agushilman.wordpress.com/2008/03/17/kearifan-religi-masyarakat-lombok/, tanggal 25 November 2014.
____________________________________________________________
1. Menurut para arkeolog, sukubangsa Sasak ini telah ada di Pulau Lombok pada masa akhir zaman perunggu. Dahulu mereka hanyalah sebuah kelompok kecil yang kebudayaannya mirip dengan penduduk yang ada di wilayah Vietnam Selatan, Philipina Tengah (Pulau Pallawan), Bali (wilayah Gilimanuk), dan Sumba (wilayah Malolo). Waktu itu, kelompok tersebut hidup dan bermukim di daerah yang sekarang bernama Gunung Piring, Desa Trowai, Kecamatan Lombok Tengah.
2. Sampai akhir abad ke-19, Lombok lebih dikenal dengan nama Selaparang, menurut nama sebuah kerajaan yang terletak di Lombok Timur. Kerajaan ini semula bernama Watu Parang, kemudian berubah menjadi Selaparang yang berasal dari kata “sela” yang berarti “batu” dan “parang” yang berarti “parang”.
3. Bataran adalah alas rumah yang terbuat dari batu yang kemudian ditutup dengan tanah. Kemudian permukaannya diratakan dengan campuran tanah, sekam sebagai plester, dan setelah itu dilumuri dengan kotoran sapi atau kerbau (Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan, 1992).

Bir Pletok

Bila mendengar kata "bir" tentu bayangan kita akan tertuju pada sebuah minuman beralkohol rendah yang apabila dikonsumsi berlebihan dapat memabukkan. Namun beda dengan bir yang satu ini, yaitu bir pletok. Bir pletok adalah minuman khas orang Betawi yang bebas alkohol serta dipercaya dapat menyehatkan tubuh karena berbahan rempah-rempah.

Menurut foblog.psikomedia.com, asal usul kata "bir" dalam "bir pletok" memiliki beberapa versi. Versi pertama menyatakan bahwa kata "bir" memang merupakan adopsi dari "beer" yang biasa diminum oleh orang-orang Belanda. Keduanya sama-sama membuat perut dan tubuh menjadi hangat, tetapi "beer" dapat membuat orang menjadi mabuk sedangkan "bir" malah menyehatkan. Versi lainnya lagi menyatakan bahwa "bir" berasal dari kata "birun" yang merupakan sebuah sumber mata air di daerah Betawi.

Sementara untuk asal usul kata "pletok" - sama seperti "bir" - foblog.psikomedia.com juga menyebutkan memiliki beberapa versi. Pertama, berasal dari bunyi yang dikeluarkan oleh wadah bambu ketika bir dibuka untuk diminum. Kedua, berasal dari bunyi kocokan bir dan es batu di dalam teko berbahan aluminium. Dan terakhir, masih berupa onomatope (peniruan bunyi), "pletok" berasal dari bunyi buah secang tua yang dipukul untuk dijadikan sebagai bahan pembuat bir.

Namun, lepas dari berbagai versi mengenai asal usul nama bir pletok tersebut, yang jelas minuman ini sampai sekarang masih diminati banyak orang. Peminat umumnya menkonsumsi bir pletok sebagai penghangat tubuh sekaligus memperlancar aliran darah. Menurut id.wikipedia.org, pada salah satu bahan pembuat bir pletok yaitu jahe, memiliki berbagai macam khasiat bagi tubuh, diantaranya: (1) meredakan nyeri lambung dan memulihkan radang sendi; (2) merangsang keluarnya gas dari perut penyebab masuk angin; (3) mengurangi rasa mual, batuk, dan gejalla flu ringan; (4) kandungan enzim protease dan lipasenya dapat memecah protein dan lemak; (5) melindungi sistem pencernaan dengan menurunkan keasaman lambung, menghambat terjadinya iritasi pada saluran pencernaan, dan menghambat produksi prostaglandin yang dapat memicu peradangan; (6) merangsang pelepasan hormon adrenalin yang dapat memperlebar pembuluh darah sehingga tumuh menjadi hangat, darah mengalir lebih lancar dan tekanan darah menurun; (7) mengobati kanker indung telur; (8) memperlambat pertumbuhan sel-sel kanker kolorektal; (9) meredakan migraine dengan cara menghentikan kerja prostaglandin; (10) meredakan kram akibat menstruasi; dan (11) mengandung senyawa cineole dan arginine yang mampu mengatasi ejakulasi dini, merangsang ereksi, mencegah kemandulan serta memperkuat daya tahan sperma.

Bahan dan Proses Pembuatan Bir Pletok
Saat ini pembuatan bir pletok bukan hanya dilakukan oleh perseorangan, melainkan juga oleh home industri. Keduanya menggunakan bahan-bahan yang relatif sama hanya jumlah takarannya saja yang berbeda. Jumlah takaran buatan perseorangan umumnya lebih sedikit bila dibandingkan dengan produksi masal dalam home industri yang memang ditujukan untuk dijual dan dikonsumsi orang ramai.

Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat bir pletok tersebut diantaranya adalah: jahe, air, gula pasir atau gula batu, kayu secang, batang serai, daun pandan, kayu manis, merica hitam, dan sari bunga selasih (femina.co.id). Sementara wikibooks.org menambahkan dua bahan lagi sebagai pelengkap bir pletok, yaitu garam dan kopi bubuk.

Sedangkan proses pembuatannya adalah sebagai berikut. Pertama, air direbus hingga mendidih. Selama menunggu air mendidih, jahe dibakar hingga harum lalu dimemarkan. Bila telah mendidih, jahe yang telah pipih/memar dimasukkan ke dalam air dan ditambah dengan gula pasir atau gula batu, garam, kayu manis, serai, serta kopi bubuk. Setelah bahan tercampur merata, masukkan lagi sejumlah serutan tipis kayu secang sebagai bahan pewarna alaminya. Dan, bila air telah berwarna merah, saring dan diamkan hingga hangat atau dingin sebelum siap diminum.

Sebagai catatan, oleh karena tingkat keragaman pembuatan bir pletok yang cukup tinggi di wilayah DKI Jakarta, maka atas arahan Dinas/Pemda DKI Jakarta disusunlah suatu standarisasi pembuatan bir pletok sebagai acuan jaminan kualitas bagi produsen berbasis home industri (jakarta.litbang.pertanian.go.id). Adapun Standar Prosedur Operasional mengenai komposisi bahan rempah-rempah untuk membuat 50 botol bir pletok ukuran 250 ml adalah: 1 kilo jahe, 2-3 buah pala, 10-15 butir lada hitam, 2 batang (3x10 cm) kayu mosohi, 15-20 butir kapulaga, 5-10 buah cabe jawa, 10 buah cengkeh, 5-10 gram kayu manis, 10 batang sereh, 10 lembar daun pandan, 05 ons kayu secang, 10-12 liter air, 1-2 kg gula pasir, dan 1 sendok makan garam.

Sementara untuk proses pembuatan bir pletok menurut standar prosedur operasional diawali dengan pencucian dan pembersihan bahan rempah-rempah dari kotoran, pengecilan ukuran rempah, penimbangan bahan rempah sesuai dengan takaran (formula), ekstraksi dengan perebusan bersuhu antara 95-100 derajat celcius selama 30 menit, ekstraksi kayu secang dalam rebusan selama 3-5 menit agar warna air menjadi merah, penyaringan air rebusan menggunakan kain saring ukuran 10 mesh, penambahan gula pasir ke dalam air rebusan yang tlah disaring, perebusan kembali selama 3-5 menit lalu saring lagi menggunakan saringan berukuran 150 mesh, pendinginan, dan pembotolan atau langsung disajikan sebagai minuman. (gufron)

Foto: Uun Halimah
Sumber:
"Standarisasi Mutu Bir Pletok", diakses dari http://jakarta.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=29:standarisasi-mutu-bir-pletok&catid=43:bir-pletok&Itemid=43, tanggal 19 November 2014.

"Sejarah dan Resep Bir Pletok Khas Betawi", diakses dari http://foblog.psikomedia.com/read/Lounge/16673/sejarah-dan-resep-bir-pletok-khas-betawi/, tanggal 19 November 2014.

"Bir Pletok", diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Bir_pletok, tanggal 20 November 2014

"Bir Pletok", diakses dari http://www.femina.co.id/kuliner/resep/minuman/bir.pletok/004/001/532/06, tanggal 20 November 2014.

"Resep: Bir Pletok", diakses dari http://id.wikibooks.org/wiki/Resep:Bir_pletok, tanggal 20 November 2014.

Legenda Batu Kuwung

(Cerita Rakyat Daerah Banten)

Alkisah, pada zaman dahulu kala ada seorang saudagar kaya raya. Konon, dia memiliki hubungan sangat erat dalam struktur pemerintahan Sultan Haji, anak dari Sultan Ageng Tirtayasa. Berkat keeratan hubungan tersebut membuat Sang Saudagar berhasil mendapatkan hak khusus berupa monopoli dalam perdagangan beras dan lada dari daerah Lampung.

Kekayaan Sang Saudagar dari hasil monopoli beras dan lada digunakan untuk memperluas usahanya dengan cara membeli tanah pertanian milik warga dengan harga yang sangat rendah. Adapun caranya adalah dengan memberi pinjaman uang kepada para petani dengan bunga yang relatif tinggi. Apabila setelah jatuh tempo tidak dapat melunasi pinjaman, maka Sang Saudagar memaksa untuk membeli tanah milik petani yang berhutang dengah harga yang sangat rendah. Biasanya, karena terdesak sekaligus takut pada para "debt collector" merangkap tukang pukul upahan Sang Saudagar, para petani terpaksa menyerahkan tanahnya walau harus merugi.

Agar lebih berkuasa di daerahnya sendiri, Sang Saudagar berhasil menjadi kepala desa di tempat tinggalnya. Sewaktu bursa pencalonan kepala desa dilakukan, Sang Saudagar berbuat kecurangan dengan menerjunkan para tukang pukulnya untuk mengintimidasi warga masyarakat sehingga tidak ada seorang pun yang berani mencalonkan diri sebagai kepala desa. Walhasil, ketika proses pemilihan berlangsung, hanya Sang Saudagarlah yang muncul menjadi calon tunggal penguasa desa.

Selama menjabat sebagai kelapa desa Sang Saudagar memanfaatkan kekuasaannya untuk memungut pajak secara berlebihan. Hasil pajak hanya sebagian kecil saja diserahkan pada Sultan Haji, selebihnya dia gunakan untuk menumpuk kekayaan dengan membeli hampir seluruh tanah pertanian milik warga desanya. Apabila ada yang membangkang dengan tidak mau menjual tanah, maka orang itu akan diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh para tukang pukul Sang Saudagar.

Selain memiliki sifat licik, tamak, dan sewenang-wenang, Sang Saudagar juga dikenal sebagai seorang yang sangat kikir. Ia tidak mau mengeluarkan sepeser pun uang guna membantu warga desa, walau untuk keperluan desanya. Bahkan, saking pelitnya Sang Saudagar yang umurnya sudah kepala empat tidak juga mau menikah serta memiliki anak karena dianggap hanya sebagai suatu pemborosan saja.

Cerita mengenai perangai buruk Sang Saudagar rupanya telah tersebar hingga ke mana-mana. Tetapi orang-orang yang mendengarnya hanya dapat mengelus dada karena tidak ada yang berani melawannya hingga suatu hari ada seorang pengelana sakti mandraguna datang ke desa. Sang Pengelana sakti yang mendengar obrolan warga masyarakat tentang perangai Sang Saudagar, secara spontan berniat membeli pelajaran sekaligus menyadarkannya.

Adapun cara yang dilakukannya adalah dengan menyamar menjadi seorang pengemis. Setelah berpakaian layaknya seorang pengemis, dengan langkah dibuat layaknya orang pincang Sang Pengelana sakti mendatangi kediaman Sang Saudagar. Di sana dia meminta belas kasihan Sang Saudagar agar memberinya sedikit uang untuk membeli makanan pengganjal perut dan sebagai modal usaha kecil-kecilan.

"Hei pengemis pincang, memangnya aku ini bapakmu! Apa kau kira hartaku turun dari langit? Pergi sana dan jangan ganggu lagi!" hardik Sang Saudagar seraya mendorong tubuh Sang pengemis hingga jatuh tersungkur di tanah.

"Ternyata memang benar kata orang, engkau ini seorang yang tamak dan kikir. Mulai sekarang engkau harus merasakan lapar dan penderitaan seorang pengemis!" kata Si "pengemis pincang" sambil berlalu pergi.

Sang Saudagar yang telah sering menemui peminta-minta di rumahnya menganggap ancaman Si pengemis pincang hanyalah sebagai luapan kekesalan karena tidak diberi uang. Oleh karena itu, dia segera masuk kembali ke dalam rumah dan seakan telah melupakan pertemuannya dengan Si Pengemis Pincang. Dia tetap melakukan aktivitas sebagaimana biasanya, yaitu menghitung pundi-pundi uang dari hasil upeti serta monopoli perdagangan beras dan lada hingga larut malam.

Tetapi keesokan harinya, ketika bangun dari tidur secara tiba-tiba Sang Saudagar tidak dapat menggerakkan kedua kakinya. Dia pun panik dan berteriak-teriak histeris memanggil pengawal pribadinya. Beberapa pengawal yang datang ke kamar tidurnya segera memberika pertolongan berupa pijatan pada bagian paha dan kaki, namun tidak juga ada perubahan. Sang Saudagar telah menderita kelumpuhan tanpa sebab yang jelas.

Agar penyakitnya sembuh, Sang Saudagar memerintahkan pengawalnya mencari tabib-tabib sakti yang biasa mengobati kelumpuhan. Namun, segala usaha yang dilakukan oleh para tabib hanyalah sia-sia belaka karena kelumpuhan Sang Saudagar seakan telah permanen dan tidak dapat disembuhkan lagi. Sang Saudagar akhirnya putus asa dan memerintahkan pengawal pribadinya membuat sayembara. Isi sayembara adalah: "Barang siapa yang dapat menyembuhkan kelumpuhan Sang Saudagar, maka dia akan mendapat setengah dari harta kekayaannya."

Mendengar sayembara tersebut, Sang Pengemis Pincang yang belum meninggalkan desa mendatangi lagi kediaman Sang Saudagar. Sesampainya di hadapan Sang Saudagar dia berkata,"Kelumpuhan yang kau alami adalah akibat dari sifat kikir dan sombongmu. Apabila ingin sembuh seperti sediakala ada tiga hal yang harus dilaksanakan. Apakah engkau bersedia melakukannya?"

"Aku akan melakukan apapun agar dapat berjalan lagi," jawab Sang Saudagar putus asa.

"Baiklah. Hal pertama yang harus kau lakukan adalah menghilangkan sifat sombong, kikir, dan semena-menamu. Selanjutnya, carilah sebuah batu kuwung (batu cekung) di daerah Gunung Karang. Bila telah ketemu, bertapalah selama tujuh hari tujuh malam tanpa makan dan minum. Apa pun yang terjadi, jangan sampai engkau membatalkan tapamu itu. Dan terakhir, bila lumpuhmu sembuh, kau harus menepati janjimu untuk memberikan setengah dari kekayaanmu kepada orang-orang miskin di sekitarmu," kata Sang Pengemis Pincang.

Setelah berkata demikian, dalam sekejap mata Sang Pengemis Pincang tiba-tiba raib dari pandangan. Hal ini membuat Sang Saudagar kaget bukan kepalang. Dia akhirnya sadar kalau sang pengemis sejatinya adalah seorang sakti yang hendak menyadarkannya. Oleh karena itu, dia lalu memerintahkan para pengawalnya membuat sebuah tandu untuk menggotongnya ke Gunung Karang.

Setelah tandu selesai dibuat, keesokan harinya Sang Saudagar bersama dua orang pengawalnya mulai melakukan perjalan menuju Gunung Karang. Namun, karena jalur yang ditempuh masih berupa jalan setapak berliku yang dikelilingi oleh semak beluar dan pepohonan rindang, maka setelah berhari-hari kemudian barulah mereka sampai di sebuah batuan kuwung (cekung) dekat dengan kaki Gunung Karang.

Ketika beberapa puluh langkah lagi mencapai batu kuwung, tiba-tiba kedua pengawal jatuh pingsan karena kelehanan setelah menempuh perjalanan selama berhari-hari tanpa istirahat. Oleh karena itu, Sang Saudagar terpaksa bersusah payah menyerat tubuhnya dengan hanya menggunakan tangan hingga mencapai batu kuwung. Di tempat itu dia langsung bersemedi selama tujuh hari tujuh malam dan berhasil melalui berbagai macam rintangan dan godaan, seperti dikelilingi oleh binatang buas dan makhluk-makhluk halus penunggu gunung.

Pada akhir pertapaannya, terjadilah suatu keajaiban berupa semburan mata air panas di pusat batu kuwung. Saat Sang Saudagar mengambil air tersebut untuk minum dan membasuh diri karena selama beberapa hari tidak menyentuh air, tiba-tiba terjadi suatu keajaiban lagi. Air yang dipakainya untuk membasih kedua kaki ternyata dapat menyembuhkan kelumpuhannya. Sang Saudagar akhirnya dapat berjalan kembali.

Singkat cerita, dia pun kembali ke rumahnya. Sesampainya di rumah, sesuai dengan janjinya, Sang Saudagar membagikan separuh dari harta kekayaannya kepada orang-orang miskin di sekitar tempat tinggalnya. Selain itu, apabila ada orang yang datang ke rumahnya, akan selalu diberi uang atau makanan sehingga akhirnya dia dikenal sebagai saudagar yang dermawan.

Apabila ada orang yang bertanya mengapa dirinya berubah drastis dari kikir jadi dermawan, maka dijawab bahwa itu adalah berkat penyesalannya selama ini serta khasiat dari air batu kuwung yang menyembuhkan kelumpuhannya. Lama-kelamaan tersebarlah cerita mengenai air di batu kuwung. Akibatnya, banyak orang yang tertarik mendatanginya dengan tujuan agar dapat sembuh dari berbagai macam penyakit, seperti yang diderita oleh Sang Saudagar.

Sekarang Batu Kuwung telah menjadi sebuah obyek wisata air panas yang berlokasi di wilayah Kecamatan Padarincang, Serang, Banten. Obyek wisata yang belum secara profesional dikelola oleh pemerintah ini masih dipercaya oleh masyarakat sekitar dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Diceritakan kembali oleh Gufron

Honda NC700X (2014)

Technical Specifications
2014 Honda NC700X
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Liquid cooled, twin cylinders, four-stroke, SOHC
73.0 x 80.0 mm (2.9 x 3.1 inches)
670.00 ccm (40.88 cubic inches)
4 valves per cylinder
10.7:1


Injection. PGM-FI, 36mm throttle body
6-speed
Chain

Digital transistorized with electronic advance
Electric starter




1st:
2nd:
3rd:
4th:
5th:
6th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)


27.0°



1539 mm (60.6 inches)
831 mm (32.7 inches)

214.1 kg
14.00 litres (3.70 gallons)
Black, red
41mm telescopic fork, 5.4 inches travel
Pro-Link single shock; 5.9 inches travel
120/70-ZR17
160/60-ZR17
Single disc 320mm with two-piston caliper
Single disc 240mm with single-piston caliper

Image: https://motorsportsnewswire.wordpress.com/tag/nc700x/

Honda Gold Wing F6B (2014)

Technical Specifications
2014 Honda Gold Wing F6B
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Liquid cooled, six cylinder boxer, four-stroke, SOHC
74.0 x 71.0 mm (2.9 x 2.8 inches)
1832.00 ccm (111.79 cubic inches)
2 valves per cylinder
9.8:1


Injection. PGM-FI
5-speed
Shaft drive (cardan)
Wet multiplate
Computer-controlled digital with 3-D mapping
Electric starter




1st:
2nd:
3rd:
4th:
5th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)

Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)


29.2°



1689 mm (66.5 inches)
739 mm (29.1 inches)

381.9 kg
25.36 litres (6.70 gallons)
Black, pearl yellow
45mm cartridge fork with anti-dive system
Pro arm single-side swingarm with Pro-Link single shock with remote-
controlled spring preload adjustment, 4.1 inches travel
130/70-R18
180/60-R16
Double floatingc disc 296mm with two-piston caliper
Single floating disc 316mm with single-piston caliper

Image: https://motorsportsnewswire.wordpress.com/tag/gold-wing-f6b/

Honda Dream Yuga (2014)

Technical Specifications
2014 Honda Dream Yuga
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air cooled, single cylinders, four-stroke, OHC
50.0 x 55.6 mm (2.0 x 2.2 inches)
109.00 ccm (6.65 cubic inches)
2 valves per cylinder
9.0:1

8.91 Nm (0.9 kgf-m or 6.6 ft.lbs) @ 5500 rpm
Carburettor
4-speed
Chain
Wet multiplate

Electric & kick starter
Forced pressure and wet sump


12V-6AH
1st:
2nd:
3rd:
4th:
5th:
6th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

Diamond
25.0°
2022 mm (79.6 inches)
733 mm (28.9 inches)
1095 mm (43.1 inches)
1285 mm (50.6 inches)
785 mm (30.9 inches)
161 mm (6.3 inches)
108 kg
8.00 litres (2.11 gallons)
Black, brown, silver, gray, red, black
Telescopic Forks
Tube Type Both Slide Operation
80/100-R18
80/100-R18
Expanding brake (drum brake) 130mm
Expanding brake (drum brake) 130mm

Image: http://www.indiancarsbikes.in/motorcycles/2013-dream-yuga-launched-with-het-honda-eco-technology-at-rs-45101-ex-showroom-delhi-71488/

Honda Dream Neo (2014)

Technical Specifications
2014 Honda Dream Neo
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air cooled, single cylinders, four-stroke, OHC
50.0 x 55.6 mm (2.0 x 2.2 inches)
109.00 ccm (6.65 cubic inches)
2 valves per cylinder
9.9:1

8.63 Nm (0.9 kgf-m or 6.4 ft.lbs) @ 5500 rpm
Carburettor
4-speed
Chain
Wet multiplate

Electric starter



12V 3 Ah (MF) battery
1st:
2nd:
3rd:
4th:
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

Diamond
25.0°
2009 mm (79.1 inches)
737 mm (29.0 inches)
1074 mm (42.3 inches)
1285 mm (50.6 inches)
785 mm (30.9 inches)
145 mm (5.7 inches)
105 kg
8.00 litres (2.11 gallons)
Blue/black, white/red
Telescopic fork
5 step spring loaded suspension
80/100-R18
90/100-R18
Expanding brake (drum brake)
Expanding brake (drum brake)

Image: http://www.indiancarsbikes.in/motorcycles/honda-dream-neo-110cc-commuter-bike-paint-scheme-98375/

Lastik

Lastik adalah sebutan orang Melayu di Malaysia bagi sejenis alat untuk berburu burung dan sekaligus juga berfungsi sebagai alat mempertahankan diri. Oleh anak-anak atau kaum remaja, lastik yang dalam Bahasa Indonesia biasa disebut ketapel biasanya digunakan sebagai alat permainan untuk “menembak” burung atau buah-buahan yang ada di atas pohon.

Lastik umumnya dibuat atau diproduksi sendiri karena bahan baku yang digunakan relatif mudah didapat, seperti: ranting pohon berbentuk huruf “Y”, karet yang berasal dari ban dalam sepeda, dan kalep atau kulit binatang yang berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan batu peluru. Sedangkan cara membuatnya adalah sebagai berikut: pertama-tama ranting yang berbentuk huruf “Y” dibuang kulitnya lalu dihaluskan. Setelah itu bagian pangkal kayu dibalut dengan potongan karet bekas ban dalam sepeda atau sepeda motor agar tidak licin ketika digunakan. Dan terakhir, karet ban dalam dipotong lagi menjadi dua bagian dengan panjang masing-masing sekitar satu kaki dan lebar setengah inci. Salah satu ujung dari karet-karet tersebut diikatkan pada ujung lastik, sedangkan lainnya diikat pada kalep yang telah dilubangi.

Kaveba

Kaveba atau biasa disebut juga tipasa adalah istilah orang Sulawesi Tengah untuk menyebut sebuah benda yang bentuknya menyerupai kipas. Peralatan yang umumnya digunakan untuk menari ini dapat memiliki berbagai macam fungsi, bergantung dari jenis tarian yang dibawakan. Misalnya, pada Tari Pajoge Maradika kaveba digunakan oleh para dayang untuk mengipasi para putera dan puteri yang sedang menari. Pada Tari Kaveba, sesuai dengan namanya, para penarinya mempertunjukkan kebolehan memainkan kaveba. Pada pertunjukan Tari Rego kaveba berfungsi untuk mengipasi penari wanita yang selama menari berada dalam pelukan penari pria. Dan, pada tari sebagai pengiring upacara penyembuhan, kaveba berfungsi sebagai penghalau roh-roh jahat yang menghalangi proses penyembuhan.

Sebagai sebuah benda yang didesain untuk "menangkap" dan menghembuskan angin, kaveba dibuat sedemikian rupa agar ringan ketika digunakan. Adapun bahan pembuatnya terdiri atas kain, manik-manik, rotan dan daun silar atau pelepah sagu. Sedangkan cara membuatnya diawali dengan menghilangkan lidi atau tulang daun silar. Setelah itu daun diiris selebar sekitar 1/2 centimeter dan dijemur hingga kering. Dan, bila telah kering daun dibersihkan lalu dianyam sedemikian rupa membentuk menyerupai kipas dengan rotan sebagai tulangnya. Selanjutnya, anyaman dibungkus dengan kain berwarna kuning serta dihias dengan manik-manik yang bentuknya disesuaikan dengan selera si pembuat.

Popular Posts

-