Kelentangan

Kebudayaan memiliki tujuh buah unsur yang bersifat universal, yaitu: (1) bahasa; (2) sistem pengetahuan; (3) organisasi sosial; (4) sistem peralatan hidup dan teknologi; (5) sistem mata pencaharian hidup; (6) sistem religi; dan (7) kesenian (Koentjaraningrat 1990:204). Ini artinya, di setiap masyarakat (dari yang masih sederhana hingga modern), selalu menumbuhkembangkan suatu kebudayaan yang mengandung ketujuh unsur tersebut.

Masyarakat Dayak di Pulau Kalimantan, sebagaimana masyarakat lain di seluruh dunia, juga menumbuhkembangkan kebudayaan yang salah satu unsurnya berupa kesenian sebagai luapan ekspresi jiwa akan keindahan dalam bentuk suara, musik, lukisan, drama dan lain sebagainya. Dalam berkesenian tersebut, mereka menciptakan sebuah alat musik yang diberi nama kelentangan (bahasa Dayak Bulungan), kelentang-an (bahasa Dayak Kutai), atau gluning (bahasa Dayak Benuaq dan Tunjung).

Alat musik tradisional ini terbuat dari bilahan kayu belembong atau pelantan yang ditata sedemikian rupa hingga berjajar berdasarkan nada yang dihasilkan di atas sebuah tempat berbentuk perahu atau kotak. Adapun cara membunyikannya adalah dengan dipukul menggunakan sepotong kayu sesuai dengan notasi balok sehingga menimbulkan alunan musik yang indah.

Sejatinya, kelentangan dahulu hanya digunakan sebagai alat untuk mengusir burung di sawah. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, kelentangan beralih fungsi menjadi sebuah alat musik pengiring berbagai macam upacara adat, seperti: menerima tamu, upacara erau, atau mengobati orang sakit. Suara magis yang keluar dari keletangan diyakini dapat menyembuhkan orang yang sedang sakit (Karim dkk, 1993: 53).

Struktur Kelentangan
1. Bilah-bilah kayu
Unsur utama pembentuk bebunyian sebuah kelentangan adalah bilah-bilah kayu belembong atau pelantan. Pemilihan kedua jenis kayu tersebut didasarkan atas ciri-ciri fisiknya, seperti: kuat, ringan, serta urat-uratnya lurus sehingga relatif mudah untuk diraut. Apabila hendak dijadikan sebagai bahan pembentuk bilah kelentangan, terlebih dahulu kayu dijemur sampai kering. Tujuannya, agar ketika telah menjadi bilah-bilah kelentengan dapat menghasilkan bunyi yang enak didengar.

Selanjutnya kayu dibelah menjadi potongan kecil-kecil sejumlah 6-8 buah dengan panjang 20-22 centimeter dan tebal sekitar 2-3 centimeter bergantung pada nada yang dikehendaki pembuat atau pemesannya. Dan, proses terakhir sebelum dipasang pada tatakannya adalah pelubangan kedua ujung bilah menggunakan paku agar ketika dipukul tidak bergeser dari tempatnya.

Penggunaan kayu belempong atau pelantan untuk membuat kelentangan saat ini sudah mulai jarang dilakukan karena kedua jenis kayu itu sulit didapat. Sebagai gantinya, sebagian perajin mulai beralih menggunakan besi maupun kuningan. Jadi, ada kelentengan berbahan kayu dan ada pula yang berbahan besi atau kuningan. Bedanya, kelentangan kayu berbentuk bilah persegi empat, sedangkan kelentangan logam berbentuk bulat seperti bonang dalam gamelan Jawa. Kelentangan berbahan besi atau kuningan ini oleh masyarakat Dayak Tunjung dan Bulungan dinamakan sebagai serunai.

2. Tempat atau tatakan bilah-bilah kayu
Agar tertata rapi sesuai dengan nada yang dihasilkan, bilah-bilah kayu ditempatkan pada sebuah kotak kayu belembong atau pelantan berbentuk perahu yang bagian tengahnya berlubang (diberi ruang). Adapun penyusunannya didasarkan pada tinggi-rendah nada yang dihasilkan. Nada rendah diletakkan pada sisi kiri dan nada tinggi di kanan. Sebagai catatan, ada pula tatakan yang dibuat agak melengkung serta diampelas, diukir, dan diberi cat agar terlihat indah dan bernuansa seni.

3. Alat pemukul
Alat pemukul kelentangan dibuat kayu belembong atau pelantan. Kayu belembong atau pelantan tersebut dibentuk sedemikian rupa hingga ujungnya menjadi bulat dengan panjang sekitar 20 centimeter. Pada bagian ujung yang dibuat bulat itu ada yang dibiarkan bagitu saja dan ada pula yang dibalut lagi dengan karet agar ketika dipukulkan pada bilah kayu dapat menghasilkan suara jernih tanpa ada bunyi kayu beradu.

Nilai Budaya
Pembuatan alat musik kelentangan jika dicermati secara seksama, di dalamnya mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu antara lain: keindahan (seni), ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Nilai keindahan tercermin dari bentuk kelentangan yang dibuat sedemikian rupa, sehingga menimbulkan suara yang memancarkan keindahan. Sedangkan, nilai ketekunan, ketelitian, dan kesabaran tercermin dari proses pembuatannya yang memerlukan ketekukan, ketelitian, dan kesabaran. Tanpa nilai-nilai tersebut tidak mungkin akan terwujud sebuah kelentangan yang indah dan sarat makna. (gufron)

Sumber:
- Said Karim, dkk,. 1993. Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Daerah Kalimantan Timur. Kalimantan Timur: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Kebudayaan. Proyek Penelitian, Pengkajian, dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya.
- Tim Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. 1982. NaskahSejarah Seni Budaya Kalimantan Timur. Samarinda: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
- “Remaja 17 Tahun Keliling 6 Negara Mainkan Alat Musik Tradisional”. (http://www.kaltimpost.co.id/berita/detail/12366/remaja-17-tahun-keliling-6-negara-mainkan-alat-musik-tradisional.html. Diakses 2 Mei 2013).
hal
Dilihat: