Asal Usul Batu Punggul

(Cerita Rakyat Daerah Sabah, Malaysia)

Alkisah, pada zaman dahulu kala ada dua buah rumah panjang yang dipisahkan oleh sebatang sungai bernama Sungai Sepulut. Para penghuni rumah panjang tersebut berasal dari suku bangsa Murut yang merupakan penduduk asli atau pertama menetap di pedalaman Sepulut. Mereka masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme, seperti: kepercayaan terhadap roh, sihir, takhayul, dan lain sebagainya. Untuk berhubungan dengan dunia gaib tersebut, mereka membuat semacam berhala yang dipercaya dapat menciptakan malapetaka apabila tidak mematuhi pantangan atau larangan yang telah dibuat oleh nenek moyang terdahulu.

Suatu ketika, ada salah seorang penghuni rumah panjang mengadakan Tinauh, suatu upacara pemberian hantaran secara besar-besaran dari pihak laki-laki pada pihak perempuan calon mempelainya. Namun, saat upacara sedang berjalan tiba-tiba api yang digunakan sebagai penghangat padam. Sialnya lagi, persediaan kayu bahar di rumah tersebut juga sudah habis.

Sang penyelenggara Tinuah bersama para penghuni rumah panjang lainnya lalu bermusyawarah untuk mencari jalan keluarnya. Dalam musyawarah itu akhirnya keluarlah keputusan bahwa mereka akan meminta kayu bakar pada tetangganya yang berada di rumah panjang di seberang sungai. Kemudian, salah seorang dari mereka diutus untuk menyampaikan permintaan itu dengan cara berteriak di tepi sungai.

Sayangnya, waktu itu sedang terjadi banjir besar sehingga tidak ada yang berani menyeberang karena sangat berbahaya. Walhasil, walau terus menerus berteriak, bantun tidak kunjung datang. Para penghuni rumah panjang di seberang sungai tidak berani langsung menyeberang sambil membawa kayu bakar. Mereka bermusyawarah dahulu untuk menentukan cara yang tepat dalam memberikan bantuan pada tetangga mereka yang ada di seberang sungai.

Dalam musyawarah itu dicapailah kesepakatan menggunakan anjing untuk membawa kayu bakar ke seberang. Mereka lalu mencari seekor anjing yang dianggap kuat, gagah, dan mampu menyeberang sungai. Setelah menemukan anjing yang dimaksud, di kepalanya diikatkan seutas tali yang pada bagian ujungnya diikatkan beberapa batang kayu bakar. Tetapi, ketika baru berenang beberapa meter dari tepi sungai, sang anjing hanyut karena tidak mampu melawan derasnya arus. Untungnya, dia dapat menepi kembali dan tidak hanyut ke hilir sungai.

Kejadian ini ternyata dianggap lucu sehingga sebagian penghuni rumah panjang tertawa terbahak-bahak hingga lupa akan permasalahan yang sedang dihadapi oleh tetangga di seberang. Sementara para tetangga yang membutuhkan kayu bakar hanya diam tanpa merasa ada hal yang patut ditertawakan. Mereka takut kalau ikut mentertawakan akan terjadi hal-hal buruk yang akan menimpa karena dianggap tidak mengindahkan pantangan dan larangan nenek moyang.

Setelah percobaan dengan anjing gagal, mereka bermusyawarah lagi dan sepakat untuk menggunakan seekor ayam jantan. Caranya adalah dengan mengikatkan tali pada kaki ayam yang ujungnya telah dipasang kayu bakar. Sang ayam lalu disuruh terbang menyeberangi sungai sambil membawa kayu bakar. Tetapi karena terlalu banyak membawa beban, ketika sampai di tengah sungai dia jatuh dan terbawa arus. Kejadian itu juga dianggap lucu sehingga menjadi bahan tertawaan lagi.

Dan karena sudah tidak mempunyai ide lagi, mereka pun meneruskan pekerjaannya lagi tanpa mempedulikan tetangganya yang ada di seberang. Ada yang mulai memasak untuk makan keluarga, memberi makan hewan ternaknya, dan ada pula yang duduk-duduk di teras rumah panjang sambil mempermainkan seekor pacat. Kelakuan pacat yang dipaksa minum air tapai itu dianggap lucu sehingga mereka tertawa terbahak-bahak. Mereka tidak menyadari kalau perbuatan ini sudah menyalahi pantangan dan dapat menimbulkan malapetaka.

Tidak berapa lama kemudian muncullah angin ribut, hujan lebat, dan petir yang sambar-menyambar seolah-olah sedang terjadi sebuah peperangan. Semua penghuni rumah panjang menjadi resah karena akhirnya sadar kalau telah melanggar pantangan dan larangan nenek moyang.

Dalam suasana yang mencekam tersebut, dari arah langit tiba-tiba muncullah sesuatu yang berwarna hitam dan jatuh tepat di atas bumbung rumah panjang mereka. Seketika itu pula para penghuni beserta rumah mereka beralih ujud menjadi sebongkah batu yang sangat tinggi. Hal serupa juga terjadi pada ayam dan anjing yang digunakan sebagai alat untuk membawa kayu bakar. Mereka beralih ujud menjadi batu di sekitar tebing Sungai Sepulut.

Keesokan harinya suasana menjadi tenang kembali dan air Sungai Sepulut tidak banjir lagi. Namun, karena tingginya batu yang berasal dari rumah yang dikutuk oleh nenek moyang, maka sinar matahari tidak dapat menyinari rumah panjang yang ada di seberang sungai. Oleh karena itu diutuslah 7 orang adik beradik untuk memapras batu tersebut agar sinar matahari dapat masuk. Orang pertama hingga keenam ternyata tidak dapat memapras karena batu sangat keras. Hanya si bungsu saja yang dapat memapras batu hingga tinggal punggulnya saja. Dan, karena hanya menampakkan punggulnya saja, maka batu itu selanjutnya dinamakan Batu Punggul.

Diceritakan kembali oleh Pepeng

Sumber: Diadaptasi bebas dari http://www.sabah.gov.my
hal
Dilihat: