Legenda Pendekar Darah Putih

(Cerita Rakyat Kepulauan Seribu)

Pada zaman dahulu kala di Pulau Panggang yang luasnya sekitar 62,10 hektar hidup seorang sakti mandraguna yang diberi julukan Pendekar Darah Putih. Pendekar yang gagah berani ini sangat dihormati dan disegani oleh warga Pulau Panggang karena telah berhasil menghalau gerombolan perompak yang ingin menguasai harta benda mereka.

Ada dua versi cerita mengenai asal usul dan julukan Pendekar Darah Putih. Versi pertama menceritakan bahwa Pendekar Darah Putih adalah seorang dari negeri antah berantah yang hanyut dan terapung-apung di sekitar perairan Pulau Panggang. Mungkin karena telah beberapa hari terkatung-katung di tengah laut, sekujur tubuh orang itu dipenuhi oleh teritip (semacam kerang yang hidupnya menempel pada benda-benda yang ada di laut). Oleh para nelayan yang kebetulan melihatnya, ia kemudian diangkat ke geladak dan dibawa ke Pulau Panggang.

Sesampainya di darat, ada beberapa nelayan yang merasa iba dan mulai mencabuti teritip-teritip di sekujur tubuhnya. Namun saat teritip mulai tercabut, keluarlah cairan putih dari pori-pori tubuhnya yang oleh penduduk diyakini sebagai darah. Oleh karena ia tetap selamat ketika terombang-ambing di tengah lautan dan darahnya pun berwarna putih, maka penduduk di Pulau Panggang pun menganggapnya sakti dan memanggilnya dengan sebutan Pendekar Darah Putih.

Sedangkan versi yang kedua menceritakan bahwa Pendekar Darah Putih berasal dari daerah Mandar, Sulawesi Selatan. Kedatangannya adalah hendak mencari sanak kerabatnya yang telah lama menetap di Pulau Panggang yang waktu itu belum memiliki nama. Setelah berjumpa dengan sanak kerabatnya, mungkin karena cocok dengan situasi kehidupan di tempat itu, sang pendekar yang digambarkan sebagai sosok lelaki gagah dan memiliki ilmu kanuragan tinggi lantas berniat untuk menetap.

Suatu hari datanglah gerombolan perompak yang ingin menguasai harta benda milik penduduk. Karena tidak ada yang berani melawan, Sang Pendekar yang merasa kasihan melihat penderitaan penduduk segera bertindak untuk menghalau kawanan itu. Walhasil, terjadilah pertarungan yang sangat sengit antara Sang Pendekar melawan belasan perompak. Dalam pertarungan yang tidak seimbang itu, ada seorang perompak yang berhasil melukai lengannya. Namun terjadi keanehan, luka pada lengan Sang Pendekar akibat sabetan parang perompak bukannya melengeluarkan darah yang berwarna merah, melainkan putih seperti susu. Keanehan inilah yang akhirnya membuat Sang Pendekar dijuliki sebagai Pendekar Darah Putih.

Melihat darah yang keluar dari tubuh Sang Pendekar berwarna putih, nyali kawanan perompak menjadi ciut. Sebagian dari mereka langsung berlari tunggang-langgang menyelamatkan diri menuju kapal untuk segera pergi meninggalkan pulau. Sementara sebagian lainnya berhasil ditangkap dan ditawan.

Agar gerombolan perompak tidak kembali, Sang Pendekar bermaksud untuk mengelabui para perompak yang berhasil ditawan. Caranya adalah dengan membuat pemanggangan (perapian) yang sangat besar. Api yang berkobar dari pemanggangan itu ternyata dapat menciutkan nyali perompak karena mengira akan dipanggang hidup-hidup.

Untuk lebih meyakinkan, para tawanan kemudian ditutup matanya dan dibawa ke dekat pemanggangan. Suasana semakin mencekam ketika salah seorang penduduk (tentu saja atas perintah Sang Pendekar) berteriak-teriak seperti sedang terbakar dan meregang nyawa. Mendengar teriakan itu, tawanan yang diliputi kepasrahan semakin ciut nyalinya. Mereka menganggap salah satu rekan telah meregang nyawa di atas bara api. Pasalnya, disamping teriakan kepanasan, juga bau daging yang terbakar. Padahal bau itu berasal dari daging seekor kambing yang sengaja dibakar oleh Pendekar Darah Putih.

Selesai acara pemanggangan, dua orang perompak dilepas dan yang lainnya tetap ditawan di suatu tempat yang dirahasiakan. Sebelum dilepas, Pendekar Darah Putih mengatakan kepada mereka agar jangan pernah kembali lagi atau akan mengalami nasib seperti teman mereka yang “dipanggang hidup-hidup”.

Singkat cerita, sejak saat itu pulau menjadi aman dari kawanan perompak. Pendekar Darah Putih dianggap sebagai pahlawan karena telah berhasil mengusir dan membuat jera para perompak. Dan untuk mengenang peristiwa “siasat pemanggangan” yang dicetuskan oleh Pendekar Darah Putih, pulau yang mereka diami kemudian dianamakan Pulau Pemanggang atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama Pulau Panggang.

Sebagai catatan, sampai saat ini penduduk masih mempercayai cerita tentang Pendekar Darah Putih yang konon makamnya juga berada di Pulau Panggang. Kepercayaan inilah yang membuat mereka pantang untuk melaut pada hari-hari tertentu di Bulan Maulud karena pada hari-hari tersebut dahulu Pendekar Darah Putih selalu mensucikan diri di tengah laut. Selain itu, diantara penduduk juga percaya kalau keturunan dari Pendekar Darah Putih masih ada di Pulau Panggang, namun mereka tidak berani menyatakan diri karena dikhawatirkan akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Diceritakan kembali oleh Gufron
hal
Dilihat: