Besi Cabang

Di kalangan para pesilat di daerah Sumatera Selatan terdapat satu alat atau senjata yang sering digunakan karena sangat efektif untuk menyerang maupun mempertahan diri dari serangan lawan. Senjata itu diberi nama Besi Cabang yang bentuknya mirip dengan trisula yang dipakai oleh para pendekar bela diri di negeri Tiongkok.

Konon, tidak sembarang pesilat dapat menggunakan alat ini karena apabila tidak mahir dapat menyulitkan dirinya sendiri. Orang yang mahir atau terlatih dapat menggunakan Besi Cabang untuk menyerang, menangkis dan atau merebut senjata lawan yang sedang dihadapinya. Lengkungan yang terletak dekat dengan gagang besi berfungsi untuk menahan dan memilin senjata lawan hingga terlepas dari genggamannya. Selain itu, lawan yang senjatanya berhasil dipilin secara otomatis tangannya juga akan terpilin dan akhirnya tidak dapat menyerang lagi.

Bentuk, Ukuran dan Cara Pembuatan
Seperti dikatakan di atas, besi cabang berbentuk mirip trisula berbahan kuningan atau besi biasa dengan ukuran panjang sekitar 45 hingga 60 sentimeter, luas penampang lintang batangnya kira-kira 3 sentimeter, dan jarak diantara kedua besi penahannya antara 16 hingga 18 sentimeter. Sebagai catatan, adanya ukuran yang bervariasi tersebut karena ada anggapan bahwa besi cabang yang ideal adalah sepanjang hasta si pemakai agar dapat dengan mudah melakukan gerakan-gerakan untuk menyerang maupun menangkis serangan lawan.

Sedangkan cara membuatnya adalah sebagai berikut: pertama, membuat cetakan besi cabang dari tanah liat. Selanjutnya, melebur kuningan atau besi biasa hingga cair lalu menuangkannya ke dalam cetakan dan didinginkan. Apabila telah mengeras, kuningan yang telah terbentuk dikeluarkan dari cetakan lalu ditempa, dikikir, diampelas, dan bagian gagangnya diberi alur untuk memasukkan besi lengkung penahannya. Setelah besi lengkung terpasang pada gagang besi cabang, maka keduanya dibakar dan ditempa lagi agar menyatu. Dan, dengan menyatunya dua bagian tersebut maka proses pembuatan besi cabang pun selesai.

Nilai Budaya
Besi Cabang sebagai hasil budaya anak negeri, jika dicermati secara seksama, di dalamnya mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu antara lain: ketekunan, ketelitian, dan kesabaran yang tercermin dari proses pembuatannya yang memerlukan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Tanpa nilai-nilai tersebut tidak mungkin akan terwujud sebuah senjata yang indah dan sarat makna.

Sumber:
Indones, Noor, dkk,. 1992. Senjata Tradisional Daerah Sumatera Selatan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
hal
Dilihat: