Kasuari dan Dara Mahkota

Pada zaman dahulu kala burung Kasuari memiliki sayap yang lebih lebar dan kuat jika dibandingkan dengan saat sekarang ini. Hal ini membuatnya menjadi seekor burung yang sombong. Selain sombong, ia pun seringkali juga berbuat curang saat memperebutkan makanan dengan teman-temannya. Sayapnya yang lebar biasa digunakannya untuk menyembunyikan buah-buahan ranum di atas pohon, sehingga burung-burung lainnya tidak bisa melihatnya. “Biar saja!” pikirnya, “Salah sendiri kenapa tidak mempunyai sayap yang lebar dan kuat seperti diriku.”

Kesombongan dan kecurangan Kasuari tersebut tak ayal membuat burung-burung lain membencinya. Mereka menganggap Kasuari sudah keterlaluan dan harus segera dibuat jera. Para burung kemudian berkumpul untuk mendiskusikan langkah apa yang harus ditempuh agar burung Kasuari menjadi jera dan menghormati mereka. Dan, dalam diskusi tersebut akhirnya disepakati untuk mengadakan perlombaan terbang. Para burung menunjuk burung Dara Mahkota untuk berlomba dengan Kasuari.

Selanjutnya, mereka mengutus burung pipit untuk menyampaikan tantangan tersebut kepada Kasuari. Setelah bertemu dan Kasuari pun menyanggupi karena merasa lebih hebat ketimbang Dara Mahkota, maka burung Pipit berkata, “Perlombaannya akan diadakan minggu depan dan akan disaksikan oleh semua burung. Pemenangnya adalah burung yang paling jauh dan lama terbangnya.”

“Wah, kalau begitu pastilah aku yang akan menang. Setahuku di hutan ini tidak ada burung lain yang memiliki sayap selebar dan sekuat punyaku,” kata Kasuari dengan pongahnya.

“Tapi ada ketentuannya,” kata burung Pipit. “Sebelum bertanding, peserta boleh saling mematahkan sayap lawannya. Bagaimana?”

“Baik. Tidak masalah bagiku.” Jawab burung Kasuari dengan sombong.

Singkat cerita, seminggu kemudian sebagian besar burung telah berkumpul untuk menyaksikan perlombaan terbang antara Kasuari dengan Dara Mahkota. Meski tidak terlalu yakin, mereka semua berharap agar Dara Mahkota dapat memenangkan perlombaan tersebut.

Sementara itu, Kasuari yang melihat lawannya hanyalah seekor burung Dara Mahkota segera berkata sambil mengejek, “Hei...burung kecil, sadarlah. Engkau tidak akan mungkin menang melawanku.”

Selanjutnya, Kasuari melangkah mendekati Dara Mahkota untuk mematahkan sayap-sayapnya. Krek! Terdengar bunyi sayap Dara Mahkota patah. Dara Mahkota pun menjerit kesakitan yang membuat seluruh burung menjadi miris hatinya, Kecuali si Kasuari. Padahal, sebenarnya Dara Mahkota hanya pura-pura kesakitan sebab sebelumnya ia telah menyelipkan dua bilah ranting di balik sayap-sayapnya. Jadi, yang terdengar seperti sayap patah tersebut sebenarnya adalah suara ranting yang patah.

Setelah itu, tibalah giliran Dara Mahkota yang akan mematahkan sayap Kasuari. Dengan sekuat tenaga ia menekuk sayap Kasuari hingga terdengar bunyi krekk yang keras sekali. Kasuari menjerit kesakitan. Sayapnya yang patah tergantung lemas. Namun kasuari yang pongah tetap yakin bahwa dirinya akan menang.

Sekarang mereka sudah siap untuk bertanding. Ketika aba-aba dibunyikan, Dara Mahkota dengan ringan melesat ke udara. Sayapnya mengepak dengan mudah membawa tubuhnya yang mungil terbang ke angkasa. Kasuari terkejut dan heran karena tadi dia mengira sayap Dara Mahkota telah patah. Dengan panik dia mencoba mengepakan sayapnya dan mencoba mengangkat tubuhnya ke atas. Tapi bukannya terbang tinggi, tubuhnya malah meluncur ke bawah dan jatuh terjerembab ke tanah.

Semua burung bersorak senang sementara Kasuari terkulai lemas. Dengan perasaan malu dia meninggalkan tempat itu. Dan, sejak saat itu Kasuari tidak pernah bisa terbang. Sayapnya yang dulu lebar dan kuat kini memendek karena sudah patah. Kini meski dia disebut burung namun dia hanya bisa berjalan dan mencari makan di tanah seperti binatang lain yang tidak memiliki sayap.

Diceritakan kembali oleh gufron
hal
Dilihat: