Permainan Tradisional Anak-Anak Jawa Barat

Oleh: Eulis Hendrayani

Di era milenium ini permainan tradisional anak-anak di daerah Jawa Barat, mulai nampak mengalami pergeseran. Adanya persinggungan budaya modern terhadap budaya tradisional berdampak pula pada jenis permainan tradisional anak. Perubahan ini identik dengan adaptasi terhadap perkembangan jaman. Keterbuakaan informasi dan komunikasi, teknologi modern yang menyediakan aneka jenis permainan baru dengan peralatan yang modern pula, perkembangan pendidikan formal dan nonformal menjadi faktor pendukung adanya perubahan-perubahan ini. Saling keterkaitan antarmasing-masing dimensi memiliki peran krusial yang sama dan saling bergantung serta mempengaruhi. Satu sama lain memiliki hubungan sebab akibat, jadi apabila yang satu mengalami perubahan, maka yang lain pun ikut berubah.

Dari aspek-aspek dalam permainan yang menunjukkan perubahan ini, yaitu jumlah pemain, jenis kelamin pemain, peralatan yang dipergunakan dalam permainan, tempat bermain, serta waktu berlangsungnya permainan. Perubahan yang terjadi memang tidak mengubah fungsi permainan itu sendiri, yaitu bermain.

Pada dasarnya permainan tradisional anak-anak Jawa Barat, yang masih berlangsung, seperti halnya; oray-orayan, sorgetok, alung sarung, jajampanaan, ucing sumput, maen karet, maen kaleci, jeblag panto, hahayaman, bebentengan, jajangkungan / egrang, merupakan permainan yang sangat dinamis. Permainan-permainan tersebut mengandung unsur-unsur keterampilan yang menjadi satu kesatuan yang terpadu antara irama, gerakan, serta sikap yang sifatnya positif. Ditinjau dari segi kesehatan irama-irama lelaguan atau tetabuhan, peralatannya dapat melatih kepekaan pendengaran, serta berdampak pada kepekaan psikomotorik. Gerakan-gerakan permainan dapat melatih motorik anak menjadi terampil. Selain itu, permainan-permainan itu menguras energi seperti layaknya olah raga. Gerakan badan dan sistem syaraf akan lebih terkoordinasi dengan baik. Ini akan membuat anak lebih sehat.

Ditinjau dari segi sosialisasi, di balik permainan itu ada pula unsur-unsur sosial yang secara tidak langsung dilatihkan. Sikap-sikap itu merupakan sikap yang membentuk kepribadian seseorang, sikap sportif, setia kawan, tekun, ulet, gotong royong, saling menolong, saling menghargai, dan melatih berpikir cerdas dan kreatif.

Oray-orayan merupakan permainan yang dialakukan oleh anak laki-laki, perempuan atau campuran. Peserta permainan ini biasanya sekitar 7 orang, lebih banyak tentunya akan lebih menarik. Permainan ini tidak memerlukan alat bantu dari benda, hanya memakai kata-kata yang merupakan tanya jawab atau bernyanyi yang dilakukan sendiri oleh anak-anak yang bermain.

Adapun kata-kata / kalimat itu sebagai berikut :
+ Oray - orayan.....
- Oray naon ?
+ Oray bungka.....
- Bungka naon ?
+ Bungka laut…
- Laut naon ?
+ Laut dipa….
- Dipa naon ?
+ Dipandeuri….
Kok…kok…kok…

Ada lagi kata-katanya yang berbentuk nyanyian sebagai berikut :
- Oray-orayan luar leor mapay sawah,
- Entong ka sawah parena keur sedeng beukah,
- Oray-orayan luar leor mapay sawah,
- Entong ka sawah parena keur sedeng beukah,
- Mending ge teuleum,
- Di leuwi loba nu mandi,
- Anu mandina pandeuri,
- Kok....kok....kok....

Jalannya permainan, anak-anak membuat barisan berjejer ke belakang, tangan di bahu teman yang ada di depan. Adapun yang menjadi kepala, tangannya bebas. Yang menjadi ekor harus anak yang lincah, karena harus lincah pula menghindari tangkapan si kepala ular. Kegiatan ini dilakukan sambil berjalan diiringi nyanyian / tanya jawab, meliuk-liuk, si ekor harus siap-siap menghindar, jangan tertangkap oleh si kepala. Si kepala harus berusaha menangkap ekor, sedangkan si ekor pun berusaha menghindarinya. Hal itu berlangsung sesukanya, sampai si ekor tertangkap dan permainan ini boleh diteruskan kembali dengan pergantian pemain yang menjadi kepala atau ekor ularnya.

Sargetok
Sargetok, seperti halnya oray-orayan, permainan ini dilakukan oleh sekelompok anak. Pesertanya bisa anak laki-laki, perempuan ataupun campuran. Permainan ini tidak memerlukan alat bantu benda. Empat atau lima orang anak berjalan dalam sikap berjongkok, berjejer ke belakang. Kedua tangan memegang pundak teman yang ada di depannya. Melakukan gerakan berjalan maju beringsut-ingsut, meliuk-liuk sambil bernyanyi bersama.

Nyanyian itu adalah :
Sorgetok peupeundeuyan
Anu montok diheureuyan
Sorgetok peupeundeuyan
Anu montok diheureuyan
Alung sarung

Alung sarung, biasanya yang melakukan permainan ini adalah anak laki-laki. Beberapa anak membawa kain sarung. Lobang sarung disangkutkan di pundak sebelah kanan, digulung seperti lingkaran. Lalu lingkaran itu dipegang dengan tangan terpusat di tangan itu, kemudian sarung dilemparkan lepas ke angkasa. Sarung itu akan berputar mengembang. Beberapa anak memburu berusaha memasukkan kepalanya ke lingkaran sarung yang berputar merendah ke tanah, jangan sampai sarung mendahului menyentuh tanah. Putaran sarung di atas itu akan tampak indah dipandang dari arah yang jauh. Lebih-lebih kain sarungnya yang warna-warni dan akan terlihat meriah dengan sorakan-sorakan anak yang bermain. Permainan ini dilakukan sesuka hati, tidak terikat waktu, dan biasanya dilaksanakan di tempat yang agak leluasa dan terbuka.

Jajampanaan
Jajampanaan adalah tiruan dari jampana. Jampana maksudnya adalah kendaraan jaman dahulu yang digotong atau ditandu. Jampana pada masa sekarang sering disertakan dalam pesta arak-arakan sebagai wadah yang terbuat dari bambu berupa tandu dan dihias untuk membawa berbagai makanan tradisional, atau nasi tumpeng. Jajampanaan merupakan permainan kelompok, pesertanya lebih dari tiga orang. Yang bermain jajampanaan ini bisa anak laki-laki, perempuan, atau campuran, tapi biasanya anak laki-laki yang tangannya kuat. Pada pelaksanaan atau prakteknya adalah dua orang anak saling berhadapan. Posisi tangan setiap anak, tangan kiri lurus ke depan dan tangan kanan ditekuk, telapak tangan memegang bagian persendian sikut tangan sebelah kiri. Begitu pula anak yang satu lagi, posisi kedua anak tersebut saling berhadapan, dan tangan yang lurus memegang palang tangan teman di hadapannya, sehingga membentuk dua batang tangan lurus dan dua palang. Tempat inilah yang yang menjadi tempat duduk atau tandunya. Anak yang lain naik untuk ditandu. Sikap duduk bisa memancal seperti naik sepeda, atau duduk menghadap ke satu arah. Hal ini dilakukan sambil berjalan berkeliling diiringi sorak sorai anak-anak yang bermain. Permainan ini akan mengasyikkan dan meriah. Setiap anak bergiliran ditandu jangan sampai terjatuh, kalau jatuh bergantian harus menandu.

Ucing sumput
Ucing sumput adalah jenis permainan yang bersifat olah raga. Ucing sumput dimainkan anak laki-laki dan perempuan secara berkelompok, dan permainan ini tidak memerlukan alat bantu benda. Sebelum dimulai, memilih siapa yang menjadi kucing, untuk menentukan yang menjadi kucing diawali dengan cingciripit (dengan cara, yang seorang menamprakkan atau membalikkan tangan bagian punggung di bawah, telap[ak tangan di atas, yang lain menempelkan telunjuk di telapak tangan tersebut sambil bernyanyi : Cingciripit tulang bajing kacapit, kacapit ku bulu pare, bulu pare seuseukeutna, jol pa dalang mawa wayang jekjeknong! Lalu telapak tangan dikepalkan, siapa yang terjepit, itu yang menjadi kucing. Yang menjadi kucing menutup mata dengan kedua telapak tangan sambil bersandar di tiang, lalu berhitung sesuai kesepakatan dari bilangan satu sampai sepuluh atau dua puluh lima. Maksudnya, memberi kesempatan yang lain untuk bersembunyi. Apabila ada yang ketahuan persembunyiannya, maka yang pertama kali ketahuan sekarang dialah yang menjadi kucingnya. Ketika si kucing sedang mencari-cari persembunyiannya, yang lain boleh keluar dari persembunyiannya, asal tidak ketahuan, cepat-cepat memukul tiang sambil berkata ”Hong” maka bebaslah dia dari pencarian. Begitu seterusnya.

Maen Karet
Permainan ini bersifat olah raga yang biasa dilakukan hanya oleh anak perempuan. Jumlah pemain minimal tiga orang. Alat bantu yang dipergunakan adalah karet gelang yang dianyam menjadi tali panjang. Ada beberapa jenis permainan; seperti (1) Permainan loncat tinggi pemainnya minimal empat orang. Yang memegang ujung tali karet dua orang, yang lainnya melompati batas letak karet, mulai dari mata kaki. Apabila bisa melompati sambil tidak menyentuh karetnya maka lompatan dinaikan sebatas lutut, terus pinggang, dada, bahu, telinga, kepala, bahkan sampai melewati batas kepala, caranya dengan mengacungkan tangan. Apabila karet tersentuh maka permainan terhenti dan giliran jaga, memegang karet. Begitu seterusnya (2) Permainan sapintrong, sama seperti loncat tinggi harus ada yang memegang kedua ujung karet, dua orang. Lalu karet diayun diputar sehingga membentuk lingkaran elips ke atas, yang lain melompat masuk dalam lingkaran sambil meloncat-loncat di tempat, tidak boleh menginjak karet. Kalau karet terinjak artinya dia kalah, maka sekarang giliran dia yang jaga mengayun karetnya. Begitu seterusnya

Maen Kaleci
Permainan ini bersifat olah raga. Yang bermain hanya anak laki-laki, minimal dua orang. Alat bantu yang dipakai adalah beberapa butir kelereng. Masing-masing anak mengumpulkan beberapa kelereng untuk ditembak oleh kelereng induk. Permainan diawali dengan gambreng dahulu untuk menentukan yang akan bermain pertama. Lalu kelereng dibidik satu persatu. Apabila kelereng incaran tidak terkena bidikan, maka gantian pemain lain yang bermain. Saat bermain, pemain harus mendapatkan kelereng bidikan sebanyak mungkin, dan kelereng tersebut akan menjadi miliknya. Begitu seterusnya sampai kelereng bidikan habis. Permainan bisa diulang-ulang lagi.

Alung Sarung
Permainan ini beersifat olah raga. Alung sarung biasanya dilakukan oleh anak laki-laki, yang dahulu dilakukan oleh anak-anak sehabis pulang mengaji. Cara bermainnya harus menggunakan alat bantu berupa sarung. Lubang sarung disangkutkan pada pundak sebelah kanan, digulung seperti lingkaran itu dipegang dengan tangan sebelah kanan, mengambil ancang-ancang. Dengan konsentrasi penuh dan tenaga terpusat di tangan, kemudian sarung dilemparkan ke angkasa. Sarung itu akan berputar mengembang. Beberapa anak berusaha memburu untuk memasukkan kepalanya ke lingkaran sarung yang berputar merendah ke arah tanah, jangan sampai sarung mendahului menyentuh tanah. Putaran sarung di atas itu akan tampak indah dipandang dari jauh, lebih-lebih kalau kain sarungnya warna-warni, dan akan meriah dengan sorakan-sorakan anak yang bermain. Permainan ini dilakukan dengan suka hati.

Jeblag Panto
Permainan ini bersifat olah raga, dan tidak memerlukan alat Bantu benda. Permainan dilakukan oleh sekelompok anak, berjumlah minimal lima orang, bisa anak perempuan, laki-laki atau campuran. Cara bermainnya diawali dengan hompimpah atau gambreng untuk menentukan dua orang yang akan menjaga menjadi pintu. Kalau sudah didapat siapa yang menjadi penjaga pintu, maka dia harus berdiri bersebelahan. Posisi kaki dibuka lebar, kaki kiri menyentuh kaki kanan lawan disebelahnya, posisi tangan bebas, dan harus bisa menggapai atau menyentuh badan anak yang akan melewati pintu tersebut. Anak yang menang harus bisa melewati pintu jaga yang terbuka dan jangan sampai tersentuh oleh penjaga pintu. Jadi, harus lincah dan pandai mengelabui atau mengalihkan perhatian si penjaga pintu. Kalau tersentuh tangan penjaga pintu, maka giliran dia yang menjadi penjaga pintunya, Begitu seterusnya.

Hahayaman
Hahayaman adalah permainan yang bersifat olah raga. Permainan ini tidak memerlukan alat bantu, dan pemainnya bisa sekelompok anak perempuan, laki-laki atau campuran. Permainan diawali dengan hompimpah atau gambreng untuk menentukan siapa yang menjadi ayam dan siapa yang menjadi kucing. Setelah didapat, maka permainan pun bisa dimulai. Caranya, anak-anak berdiri melingkar sambil saling berpegangan tangan. Yang menjadi ayam berada di dalam lingkaran, dan yang menjadi kucing berada di luar lingkaran. Kemudian, kucing bertanya pada yang melingkar sambil berkata : ”Ada ayam?” yang menjaga berkata ”Tidak ada!” Beberapa anak ditanya sampai ada yang menjawab ”Ada!” sambil melepas pegangan tangan dan menyuruh ayam lari ke luar lingkaran, sementara itu kucing harus mengejarnya. Si ayam jangan sampai tertangkap kucing, dan harus bisa masuk kembali ke lingkaran sebagai kandangnya. Kalau tertangkap, maka kalahlah dia. Permainan ini memerlukan kelincahan, begitu seterusnya, pemain lainnya bergiliran menjadi kucing atau ayam.

Bebentengan
Bebentengan adalah permainan yang bersifat olah raga, yang dimainkan oleh sekelompok anak laki-laki, perempuan atau campuran. Alat bantu yang diperlukan hanya batu bata sebagai tanda untuk membuat benteng. Pemain dibagi menjadi dua regu. Setiap regu masing-masing menginjak batu bata yang menjadi benteng miliknya tersebut. Anggota regu yang lain berlari ke depan memancing regu lawan keluar untuk bisa saling mendahului menepuk lawan. Kalau terkena tepukan anggota regu lawan, maka harus pindah tempat berbaris berpegangan tangan sampai bisa melepaskan diri dari penjagaan regu lawan yang menepuk tadi. Begitu seterusnya dilakukan sampai regu masing-masing ke luar dan batu bata yang dijaga tidak ada yang menjaga. Kalau bentengnya diinjak regu lawan, maka harus cepat teriak ”Pris”, artinya satu kosong.

Jajangkungan/Egrang
Jajangkungan atau egrang adalah permainan yang bersifat olah raga. Biasanya yang bermain anak laki-laki. Alat Bantu yang dipakai adalah dua bilah bambu yang dibuat masing-masing seperti tangga, tetapi anak tangganya hanya satu untuk menapak saja. Permainan egrang ini agak susah dan memerlukan keterampilan dan keseimbangan. Cara bermainnya, setiap bilah tangga bambu tersebut dipegang kiri kanan, dan yang main harus bisa berdiri dan berjalan di atas bilah bambu yang menjadi tangga tersebut. Jangan sampai terjatuh. Biasanya yang bermain beberapa anak, dan diperlombakan, siapa yang cepat mencapai garis finish, maka dia yang menang.

Begitulah, permainan ini dilakukan dengan gembira, dan saling menjaga kekompakan. Secara tidak langsung, pemainan ini melatih sikap positif yang dapat membentuk kepribadian seseorang, seperti, setia kawan, tekun, ulet, gotong royong, saling menolong, saling menghargai, serta melatih berpikir cerdas serta kreatif. Anak-anak pun pulang dengan membawa hati yang gembira, dan wajah yang ceria!!!

Sumber:
Makalah disampaikan dalam kegiatan "Festifal Permainan Anak-anak", yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Bandung, 18 November 2007.
http://bpsnt-bandung.blogspot.com
Dibaca: