Bolampa

Pada zaman dahulu kala, di Desa Pulu Mempa hidup seorang anak bernama Bolampa. Ia adalah anak Raja Pulu sedangkan ibunya adalah puteri dari raja yang berada di kerajaan seberang lautan. Oleh karena Raja Bulu adalah seorang yang amat sakti, maka Bolampa pun secara tidak disadarinya, diberi ilmu kesaktian oleh ayahandanya. Ia menjadi kebal terhadap senjata apa pun dan mempunyai tenaga dalam yang sangat tinggi.

Pada saat Bolampa baru berumur beberapa bulan, Raja Pulu merasa tertarik dan jatuh cinta kepada salah seorang pembantu yang ada di istananya. Ia pun lantas mengawini pembantu tersebut hingga akhirnya mempunyai seorang anak laki-laki lagi yang diberinya nama Paralu.
Semenjak Raja Pulu berpoligami dan menempatkan kedua isterinya dalam satu rumah, maka kehidupan keluarganya menjadi tidak harmonis. Kedua isterinya saling bersaing untuk memperebutkan kasih sayang dari Raja Pulu. Hal ini membuat Raja Palu menjadi tertekan jiwanya dan beberapa tahun kemudian akhirnya meninggal dunia. Waktu raja mangkat tersebut sebenarnya ibu Bolampa sedang mengandung anaknya yang kedua.

Sepeninggal raja, kedua jandanya tetap saja bersaing. Namun persaingannya bukanlah untuk memperebutkan kasih sayang Raja Pulu, melainkan untuk memamerkan keunggulan anak masing-masing dengan tujuan agar salah seorang diantaranya dapat menggantikan ayahnya menjadi raja. Dalam persaingan tersebut ibu Paralu-lah yang berusaha mati-matian agar anaknya dapat menggungguli Bolampa. Hal ini dilakukannya karena ia merasa khawatir sebab kedudukannya hanyalah sebagai isteri muda yang hanya berasal dari golongan rakyat jelata. Di samping itu, ia juga khawatir apabila tidak sedari dini memenangkan persaingan, nantinya Bolampa akan mengungguli anaknya sebab ia akan dibantu oleh adiknya yang saat itu masih berada di dalam kandungan.

Usaha pertama yang dilakukan oleh ibu Paralu adalah dengan membelikan anaknya barang-barang perhiasan yang mahal harganya agar penampilannya terlihat gagah perkasa. Melihat saudara tirinya dibelikan perhiasan mahal, Bolampa menjadi iri dan segera meminta kepada ibunya, “Bu, belikan saya perhiasan yang sama seperti Paralu itu!”

“Anakku, janganlah kau samakan dirimu dengan Paralu. Ia hanyalah anak seorang hamba. Sedangkan dirimu adalah keturunan bangsawan. Jadi, walau tidak memakai perhiasan yang mewah, engkau tetap akan dinilai gagah dan dihormati oleh masyarakat,” jawab ibunya.

Namun, karena masih kecil dan tidak terlalu memahami makna kata bangsawan dan hamba, maka ia pun tetap merengek pada ibunya. Waktu itu yang terlintas di pikirannya hanyalah bagaimana caranya agar ia dapat memperoleh perhiasan yang mewah, sehingga dapat tampil gagah seperti Paralu. Selama tiga hari berturut-turut ia merengek pada ibunya untuk segera membelikan perhiasan yang sama seperti Paralu.

Pada hari keempat, sekali lagi ia meminta pada ibunya untuk dibelikan perhiasan. Oleh ibunya, permintaan itu ditolak mentah-mentah sehingga membuat Bolampa menjadi jengkel dan sekaligus marah. Tanpa berkata-kata lagi Bolampa langsung pergi meninggalkan istana menuju ke Desa Sidiru di daerah Sibolga.

Selama berada di Siduru, kemarahan pada ibunya tersebut ditimpakan kepada teman-temannya. Ketika sedang bermain bersama teman-temannya dan terjadi suatu perselisihan, Bolampa cepat naik darah dan langsung memukul hingga banyak temannya yang tewas. Hal ini terus berlangsung selama beberapa minggu sehingga banyak anak di daerah Sidiru yang mati di tangan Bolampa. Penduduk Sidiru tidak bisa berbuat banyak untuk menghadapi Bolamba, sebab ternyata ia sangat sakti dan kebal terhadap senjata apapun, sama seperti ayahnya.

Melihat kawan-kawannya banyak yang mati dan sekaligus heran kenapa dirinya tidak dapat mati walau ditusuk oleh senjata tajam, maka Bolampa pun ingin merasakan kematian seperti yang dialami oleh teman-temannya. Ia lalu mendatangi segerombolan balaki (wanita yang kelaki-lakian) yang sedang berkumpul di rumah agat (baruga). Kepada kaum balaki yang berjumlah sekitar 70 orang itu, Bolampa berkata, “Hai kaum balaki, sanggupkah kalian membunuhku? Aku sudah ingin mati sekarang!”

Mendengar perkataan Bolampa tersebut, para balaki yang seluruhnya berasal dari Sidiru menjadi gembira. Orang yang selama ini mereka anggap sebagai pengganggu dan telah menewaskan banyak orang di Sidiru akhirnya berkeinginan untuk mati. Salah seorang diantara mereka kemudian bertanya pada Bolampa, “Lalu bagaimana caranya kami dapat membunuhmu? Engkau sangat sakti dan kebal terhadap senjata apapun.”

“Sekarang sediakanlah beberapa puluh buah kelapa dan letakkan di bawah pohon itu. Nanti aku akan meloncat dari atas pohon, dan setelah tubuhku mengenai buah-buah kepala itu kalian dapat langsung membunuhku,” jawab Bolampa.

Setelah buah kelapa disiapkan, maka Bolampa segera memanjat pohon dan melompat ke arah buah-buah kelapa tersebut. Pada saat tubuhnya mengenai buah-buah kelapa, para balaki segera membunuhnya dengan mudah. Setelah itu mayat Bolampa mereka bawa ke istana Raja Sidiru. Raja Sidiru kemudian memerintahkan pada para pengawalnya untuk memotong leher Bolampa dan menggantung kepalanya di tiang baruga (rumah adat). Sebelum digantung di baruga, kepala Bolampa diberi tanduk yang terbuat dari emas.

Pada saat Bolampa sedang meregang nyawa, hati ibunya bergetar hebat. Naluri keibuannya merasakan bahwa telah terjadi sesuatu terhadap anaknya. Oleh karena itu, ia segera menyuruh seorang penjaga istana menyiapkan seekor kerbau yang akan digunakannya sebagai kendaraan untuk mencari Bolampa. Hari itu juga, walau sedang hamil tua, ia berangkat meninggalkan Pulu menuju ke Sidiru.

Setibanya di wilayah Sidiru ia langsung menuju ke rumah Raja Sidiru. Saat melewati baruga yang letaknya tidak jauh dari rumah raja, ia melihat kepala anaknya tergantung di tiang baruga. Seketika itu juga hatinya menjadi hancur dan sangat marah terhadap penduduk Sidiru atas perlakuan mereka terhadap anaknya.

Sesampainya di depan rumah raja, ia langsung berteriak, “Mana Raja Sidiru?”

Mendengar teriakan orang di bawah rumahnya, Raja Sidiru segera turun dan berkata, “Saya Raja Sidiru.”

“Sampai hati kamu membunuh anak saya,” kata ibu Bolampa sambil menahan tangis.

“Anakmu sudah membunuh puluhan orang penduduk Sidiru,” jawab Raja singkat.

“Kurang ajar kamu semua di Sidiru ini. Termasuk kamu rajanya!” kata ibu Bolampa sambil menunjuk muka Raja Sidiru.

Ucapan itu diulanginya hingga tiga kali sehingga Raja Sidiru tersinggung dan mengancam akan membunuhnya. Namun, ancaman itu tidak membuat ibu Bolampa takut, ia malah semakin menjadi-jadi dan tetap mengulangi ucapannya hingga beberapa kali lagi. Raja pun menjadi benar-benar marah hingga akhirnya membunuhnya.

Setelah mati, raja memanggil penjaga baruga untuk menyimpan mayat perempuan yang sedang hamil tua itu dalam sebuah peti yang terbuat dari kayu yang keras. Beberapa hari kemudian, lahirlah bayi laki-laki yang sangat sehat dari rahim mayat tersebut. Bayi itu kemudian dibawa oleh beberapa orang penjaga baruga ke rumah Raja Sidiru.

Oleh Raja Sidiru bayi itu diberi nama Tuvunjagu lalu diserahkan kepada sepasang suami isteri warga Sidiru yang kebetulan sudah tua namun tidak mempunyai anak. Seakan mendapat durian runtuh, sepasang suami-isteri tersebut menerimanya dengan hati yang gembira. Dan, mulai sejak itu Tuvunjagu dirawat dan dibesarkan oleh kedua suami-isteri itu.

Saat usianya 10 tahun Tuvunjagu telah tumbuh menjadi anak yang kuat dan sehat. Dan tanpa disadarinya, ia pun juga mewarisi kesaktian yang dimiliki oleh ayahnya. Selain itu, ia mewarisi pula sifat Bolampa yang mudah sekali marah dan ringan tangan. Ia tidak segan-segan untuk memukul temanya sendiri hingga mati apabila terjadi suatu perselisihan.

Suatu hari, selesai membunuh temannya Tuvunjagu pulang dengan tangan yang berlumuran darah. Ia langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Melihat hal itu orang tua angkatnya diam saja karena sudah maklum apabila sifat Tuvunjagu mirip seperti sifat kakaknya. Saat Tuvunjagu mandi, mereka berbincang sejenak mengenai kelakuan anak angkatnya itu dan akhirnya bersepakat untuk mengungkapkan jati diri Tuvunjagu yang sebenarnya setelah makan malam.

Malam harinya, selesai makan malam ibu angkatnya bertanya, “Anakku, pernahkah engkau pergi ke baruga?”

“Ya. Saya sering bermain di sana, Bu,” jawab Tuvunjagu.

“Pernahkah engkau melihat sebuah tengkorak kepala yang digantung di sana?” tanya ibu angkatnya lagi.

“Ya,” jawab Tuvunjagu singkat.

Lalu ibu angkatnya mulai bercerita mengenai asal usul tengkorak kepala yang digantung di baruga itu. Ia bercerita mulai dari kisah Bolampa sampai Tuvunjagu lahir.

“Oh, jadi itu sebenarnya asal usulku, Bu,” jawab Tuvunjagu singkat. Namun, sejak saat itu hatinya dipenuhi rasa dendam yang sangat besar terhadap Raja Sidiru. Ia ingin membalas kematian ibu dan kakaknya yang telah dibunuh oleh Raja Sidiru. Dendam itu lama sekali dipendamnya hingga ia berumur 19 tahun dan telah menjadi pemuda yang gagah perkasa.
Suatu hari Raja Sidiru mengadakan pesta besar. Di dalam pesta itu diadakan tarian secara berpasangan yang dinamakan raego. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Tuvunjagu untuk balas dendam terhadap Raja Sidiru. Ia lalu meminta izin pada Raja Sidiru untuk mengajak puteri sematawayangnya menari raego. Karena raja tidak tahu kalau Tuvunjagu akan berencana membalas dendam, maka ia pun mengizinkan puterinya untuk menari bersama Tuvunjagu.
Setelah itu, mereka pun segera menuju ke arena untuk menari raego bersama-sama penduduk Sidiru lainnya. Pada waktu sebagian orang sedang asyik menari dan sebagian lagi sibuk menikmati hidangan pesta, tiba-tiba Tuvunjagu menghunus pedangnya lalu memotong leher puteri raja itu hingga putus. Kemudian, ia berlari secepat kilat menuju Pulu, desa tempat orang tuanya. Sesampai di Pulu ia segera menuju ke baruga dan menancapkan kepala puteri raja Sidiru di tiang baruga Desa Pulu.

Beberapa saat setelah terjadi pembunuhan, suasana gembira ria berubah menjadi duka cita di kalangan penduduk Sidiru. Pesta pun segera dihentikan. Raja Sidiru langsung mengadakan pertemuan dengan pemuka masyarakat untuk merundingkan peristiwa pembunuhan itu. Dalam perundingan itu ada yang berpendapat bahwa Pulu harus diserang dan dihancurkan. Tetapi pendapat itu ditolak oleh sebagian besar pemuka masyarakat, sebab ketika Bolampa dan ibunya dibunuh, rakyat di Pulu tidak pernah datang dan menyerang Sidiru. Lalu timbul sebuah usul yang baik dan bijaksana agar Sidiru dan Pulu tidak saling berperang dan Tuvunjagu tidak datang lagi ke Sidiru. Usul tersebut adalah menyatukan Sungai Gumbasa dan Sungai Mio yang merupakan daerah perbatasan kedua desa sehingga menjadi lebar. Usulan itu ternyata diterima dengan baik oleh seluruh pemuka masyarakat, sehingga pada pagi harinya seluruh penduduk Sidiru dikerahkan untuk menyatukan aliran Sungai Gumbasa dan Sungai Mio. Dengan begitu, maka orang-orang di kedua desa tersebut akan sulit untuk saling bertemu dan sejak saat itu Tuvunjagu tidak pernah lagi datang ke Sidiru.

Sumber:
Diadaptasi bebas dari
Proyek Penerbitan dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. 1981. Cerita Rakyat Sulawesi Tengah. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
hal
Dilihat: